Masih me-rupa-kan eksotisme dan tubuh

IKWAN SETIAWAN

 

Download versi PDF

Sang lokal yang tidak tunggal

Dalam analisisnya tentang pengaruh globalisasi Schuerkens (2003: 218) memunculkan istilah lokalisme baru untuk menjelaskan bahwa banyak elemen budaya global yang masuk dan ditransformasikan dalam lingkungan lokal. Elemen-telemen itu diinterpretasikan dalam hubungannya dengan budaya dan pengalaman partikular masyarakat lokal. Mereka disesuaikan dengan kondisi-kondisi lokal dan dipenuhi dengan muatan dan fungsi yang saling berkaitan. Masyarakat lokal menggunakan waktunya untuk membentuk kembali budaya metropolitan yang memenuhi spesifikasinya sendiri. Namun, proses penyesuaian dan transformasi tersebut juga memberi peluang kemunculan—percampuran elemen budaya lokal dan luar—sesuatu yang baru dan unik. Benturan di ruang lokal terhadap elemen budaya yang berbeda mendorong lahirnya kreasi bentuk kultural, gaya hidup, dan representasi baru.

Mengikuti pemikiran Bhabha (1994: 1-2), wilayah lokal merupakan “ruang antara” yang menghadirkan keberantaraan kultural bagi masyarakatnya, sehingga mereka bisa melintasi serta melampaui budaya lokal dan budaya modern/global sembari berkontestasi untuk memunculkan pemaknaan-pemaknaan kultural baru dalam kehidupan komunal. Proses peniruan yang bersiasat menyebabkan ambivalensi dan hibriditas kultural sebagai akibat dari proses dekonstruksi.[1] Masyarakat lokal memang berperilaku ambivalen; membenci pengaruh-pengaruh politis-kultural dari luar, tetapi mereka juga tidak bisa menolak endapan-endapan untuk meniru pengaruh tersebut. Dalam proses itulah hibriditas lahir sebagai tanda-tanda baru identitas dan subjektivitas mereka di tengah-tengah hasrat untuk meniru budaya global/modern sembar tetap menjalankan sebagian budaya lokal. Kesadaran itulah yang menjadikan budaya lokal bersifat dinamis dan terbuka, sehingga kreativitas-kreativitas kultural baru muncul dan menjadikan lokalitas mereka selalu bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman.

Selain itu, apa yang tidak bisa dinegasikan dari ruang lokal adalah kompleksitas permasalahan sosial, ekonomi, politik, kultural, jender, agama, dan lain-lain. Menguatnya budaya ekonomi kapilitalistik di tengah-tengah masyarakat, berkembangnya sentimen-sentimen politik identitas, masih kuatnya cengkraman patriarki dan dogma religi, masih timpangnya jarak sosial si kaya dan si miskin, semakin parahnya krisis ekologis, masalah pendidikan, dan permasalahan-permasalahan lain menjadikan lokalitas sebuah kompleks yang menuntut kejelian, kekritisan, dan kreativitas untuk memaknainya. Sebagai subjek yang hidup di tengah-tengah kompleksitas kultural berwarna hibrid tersebut, para perupa yang terlibat dalam LV-JVAE tentu menyaksikan bermacam permasalahan dan dinamika dalam masyarakat tempat mereka tinggal. Kemampuan kreatif rupa yang mereka dapatkan dari budaya Barat, baik dari bangku kuliah maupun otodidak, tidak harus menjadikan mereka menegasikan keberantaraan dan hibriditas kultural serta permasalahan-permasalahan dalam masyarakat. Dengan kreativitas itulah mereka bisa menjadi agen esktetik dan diskursif untuk menghadirkan bermacam warna kultural, sosial, ekonomi, dan politik dalam masyarakat lokal yang tidak mungkin lagi dikerangkai dalam ketunggalan.

Pemikiran di atas, paling tidak, bisa memberikan sebuah hantaran perspektif untuk memahami ‘kerangka besar’ yang melandasi LOCAL VISUAL Jember Visual Art Exhibition (selanjutnya disingkat LV-JVAE), 27 Pebruari – 1 Maret 2017, di Gedung Soetardjo Universitas Jember. Acara yang diselenggarakan Dewan Kesenian Kampus Fakultas Ilmu Budaya UNEJ ini menghadirkan lebih dari 200 karya para perupa dari Yogyakarta, Solo, Bandung, Surabayan, Samarinda, Padang, Jember, dan kota-kota lain di Indonesia. Tema “Local Visual” yang dipilih oleh panitia menarik untuk ditelisik lebih jauh. Bukan karena ikon ikan salmon yang dipakai untuk promosi, tetapi karena kepentingan dan keragaman rupa sang lokal dalam pameran ini. Permasalahan tersebut bisa menjadi dasar untuk membaca pameran yang penuh warna ini. Tulisan ini merupakan usaha untuk menguraikan dan mengkritisi konstruksi beragam rupa sang lokal dalam LV-JVAE yang penuh warna, makna, dan wacana.

Gairah me-rupa-kan sang lokal

Keragaman dalam memahami sang lokal dinamis, pertama-tama, bisa dilihat dari aliran lukis yang hadir dalam karya-karya yang dipamerkan, seperti realisme, surealisme, naturalisme, hingga ekspresionisme. Ini menunjukkan bahwa peristiwa dan permasalahan dalam masyarakat lokal bisa ‘dirupakan’ dengan aliran-aliran yang secara genealogis berasal dari budaya Barat. Kemahiran estetik untuk melukis dengan aliran Barat tidak menjadikan mereka ‘hamba-hamba diam’ yang hanya terpesona, tetapi mereka memosisikan diri sebagai agen kultural yang bersuara melalui warna dan gambar. Kedua, beberapa pilian moda untuk karya visual yang dipamerkan, seperti lukis, kriya, dan video, juga memperkuat keragaman estetik untuk menawarkan banyak peristiwa di masyarakat. Meskipun tidak semua bisa tercakup, berikut ini beberapa isu lokal dominan yang menarik untuk dicermati dalam gelaran LV-JVAE.

Eksotisme yang masih dijaga

Eksotisme dalam perspektif kolonial adalah tempat yang sangat jauh dari peradaban Eropa yang ditandai dengan keunikan dan keberbedaan lingkungan alam, manusia-manuia non-kulit putih, budaya yang penuh magis dan irasional, serta hal-hal stereotip lain yang menunjukkan inferioritas mereka. Wajar kalau Edward Said (1978) menegaskan bahwa penggambaran-penggambaran stereotip terhadap manusia-manusia non-Eropa merupakan bentuk orientalisme yang dengannya manusia-manusia Eropa mendapatkan pembanding imajiner dan diskursif untuk menegaskan superioritas dalam relasi biner yang tidak seimbang. Dengan superioritas itu pula mereka mendapatkan legitimasi untuk menjajah bangsa Timur/Oriental. Namun, dalam masyarakat pascakolonial, bukan berarti eksotisme hilang dari benak masyarakat Barat. Sebaliknya, industri pariwisata dan industri budaya berskala global tengah berlomba-lomba mengartikulasikan dan mengkomodasi eksotisme dalam bingkai keprimitifan, ketradisional, etnisitas, keindahan alam, dan lain-lain. Kondisi inilah yang menurut Huggan (2001) menghadirkan eksotika pascakolonial di mana hasrat untuk menegosiasikan kekuatan lokal/budaya di tengah-tengah modernitas sebagai kekuatan strategis harus berbenturan dengan hasrat komersil pemodal, rezim negara, dan sebagian aktor-aktor kultural.

Dalam LV-JVAE terdapat beberapa karya yang menghadirkan eksotisme ruang perdesaan yang terlihat masih belum banyak tersentuh oleh gerak cepat pembangunan.

LV 18

Lukisan berjudul Landscape Forest 1 (Imam Syafi’i, 2016) di atas, secara denotatif, me-rupa-kan suasana hutan yang masih tampak alami dengan sungai bening berbatu. Dengan jelas wacana eksotisme ala Mooi Indie dihadirkan dalam karya ini. Wacana eksotisme ini menunjukkan bahwa di Indonesia masih banyak pelukis yang menawarkan keindahan alam, Di Jember, misalnya, kita masih bisa menjumpai keteduhan dan kesejukan ini. Bagi para kolektor atau penikmat pameran yang masih merindukan romantisisme hutan dan sungai, lukisan ini pasti memiliki nilai tersendiri. Dalam LV-JVAE, ada beberapa lukisan yang mengusung tema serupa dengan lukisan ini.

Masalahnya, apakah kita harus meyakini bahwa hutan di Jember dan di Indonesia masih ada keindahan seperti itu ketika kerakusan manusia menyebabkan deforestrisasi untuk perkebunan dan pertambangan? Masih ada tetapi semakin sedikit. Di wilayah Jember, misalnya, jenis hutan seperti dalam lukisan semakin berkurang. Apa yang mesti dicermati adalah pe-rupa-an eksotisme hutan bisa membekukan persepsi penikmat akan hutan yang masih alami, sementara kenyataannya semakin rusak. Apalagi dalam LV-JVAE juga ada beberapa lukisan dengan tema serupa seperti Kampung Bangli Bali (Heru), Landscape Forest 2 (Imam Syafi’i), Landscape (Ketut Sugama), dan beberapa karya lainnya. Eksotisme yang menawarkan romantisisme, dengan demikian, bisa melayani, di satu sisi, kerinduan para penikmat terhadap keliaran dan kealamiaan hutan. Di sisi lain ia juga bisa menjadi harapan normatif bahwa di tengah-tengah kerakusan ekonomi dan pembangunan, harus ada ruang-ruang ekologis yang bisa menjadi kekuatan bagi keberlangsungan ekologis yang memberikan manfaat kepada masyarakat sekitarnya. Dalam konteks lukisan ini, bapak pencari kayu adalah subjek yang diuntungkan. Bapak pencari kayu juga menjadi penanda keharmonisan relasi antara mamnusia dengan hutan yang semestinya tidak harus merusak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Manusia-manusia yang hidup di pinggir hutan sebenarnya bisa mendapatkan manfaat—seperti ranting kayu dan air yang melimpah—tanpa harus mengeksploitasi dan merusak seperti yang dilakukan para pemodal kebun dan tambang.

Dalam pemahaman tersebut, eksotisme yang dihadirkan dalam lukisan bisa dimaknai sebagai bentuk negosiasi di tengah-tengah masih kuatnya selera masyarakat—termasuk di dalamnya pengunjung ataupun pembeli dan kolektor—terhadap keindahan dan ketentraman alam masa lalu. Di sisi lain, eksotisme tersebut bisa menjadi “politik harapan” yang sekaligus mengkritisi dalam bingkai paradoksal akan realitas semakin rusaknya kondisi ekologis sebagai akibat semakin kuatnya nalar dan tindakan eksploitatif. Saya menamainya ekostisme-kritis di mana para perupa—ataupun para pegiat kultural lainnya—dengan sengaja menghadirkan kemolekan, kemisteriusan, dan ketentraman ruang lokal untuk menegosiasikan kritik terhadap perilaku rakus manusia sebagai sebuah harapan untuk mengidealisasikan dan menegosiasikan eksistensi alam-romantik yang seharusnya dijaga meskipun semakin berat.

Apa yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa trend eksotisme dalam karya lukis juga berjalin-kelindan dengan menguatnya hasrat dan kerinduan terhadap kedamaian dan kesejukan alam semesta nun jauh dari metropolitan. Konsekuensinya apabila pelukis hanya mengikuti kuatnya permintaan topik hutan, sungai, gunung, ataupun masyarakat dusun tanpa mampu menyelipkan penanda yang mengkritisi kerusakan-kerusakan akibat kerakusan manusia, khususnya pemodal dan rezim negara, maka karya mereka hanya akan melayani permintaan pasar semata. Lebih dari itu, rupa-rupa eksotisme, kalau tidak hati-hati, hanya akan menjadi—meminjam istilah Bella Dick (2004)–display culture (budaya pajangan) yang membekukan dan memajang keunikan dan kedamaian yang menarik secara visual, tanpa berkepentingan untuk membuka permasalahan sesungguhnya yang dialami masyarakat lokal serta mengabaikan fakta menguatnya modernitas di pelosok dusun, termasuk wilayah pinggir hutan.

Rupa-rupa perempuan dan lelaki

Tubuh perempuan dan lelaki, sepertinya, menjadi tema yang tidak ada habisnya dalam sejarah seni rupa. Tubuh masih menjadi subjek yang bisa dimaknai sesuai dengan pilihan estetik dan ideologis pelukis serta kondisi zaman dan, tentunya, selera pasar lukisan. Dalam LV-JVAE kita bisa menemui aneka bentuk dan makna tubuh dalam bermacam aliran rupa. Sekali lagi, hal ini menegaskan keberagaman dalam memaknai eksistensi dan kepentingan akan tubuh dalam masyarakat kita hari ini.

Salah satu bentuk tubuh yang dihadirkan adalah tubuh telanjang ala foto dan lukisan era kolonial di Bali. Gadis Bali Mengambil Air (Soeroso, 2017) adalah lukisan yang menghadirkan tubuh eksotis di wilayah pedalaman Bali yang tengah mengambil air dengan kendi besar dari sebuah sumber.

LV 27

Apakah di pedalaman Bali sekarang masih ada perempuan bertelanjang dada? Permasalahannya bukan ada atau tidak, tetapi konstruksi visual tersebut yang pasti telah menghadirkan perempuan bertelanjang dada. Bisa jadi dia mendapatkan inspirasi dari gambar atau foto kolonial atau mungkin dari imajinasinya ketika berjalan-jalan ke Bali. Namun, dari bentuk tubuh perempuan tersebut kita bisa ‘menikmati’ kehadiran imajinasi visual ala Mooi Indie yang masih belum mau dihilangkan oleh para pelukis Indonesia. Tubuh molek perempuan pribumi, pada masa lalu menjadi daya tarik para pelukis Eropa yang memasarkan hasil karya mereka ke negara-negara luar negeri. Pesona tubuh dan kedamaian alam perdesaan itulah yang dalam mampu menarik minat mereka untuk datang ke Hindia Belanda sekaligus memapankan oposisi biner Barat-Timur.

Lalu, apakah pilihan untuk menghadirkan kemolekan tubuh perempuan Bali itu  dalam lukisan ini sekedar untuk memenuhi masih bercokolnya selera metropolitan atau Barat? Untuk kepentingan ekonomi, sangat mungkin. Namun, saya memiliki pemahaman berbeda. Pertama, visualitas perempuan muda ini menunjukkan masih kuatnya—meminjam istilah Mulvey (1989)—imajinasi  skopopolik yang menempatkan perempuan sebagai objek untuk dinikmati dalam hal hasrat seksual. Ini berjalin-kelindan dengan kuatnya tradisi patriarki dalam masyarakat lokal kita, meskipun keberantaraan kultural telah menumbuhkan hasrat para perempuan untuk mendapatkan kesetaraan posisi dengan lelaki. Namun, pemaknaan itu masih bisa terganggu kalau kita masuk ke pemaknaan kedua. Kalau kita fokus kepada kedua mata perempuan itu, kita akan mendapati “sorot kesedihan”. Artinya, kalau kita posisikan apa yang dilakukan subjek perempuan—mengambil air—sebagai pekerjaan sehari-hari, secara visual dia tidak bisa menikmati pekerjaan itu. Ada rasa capek yang berujung pada kesedihan yang dipancarkan dari kedua matanya. Ada semacam proses semiosis yang menggugat kenyamanan dan kemapanan makna perempuan yang bahagia mengerjakan pekerjaan yang biasa ia lakukan sehari-hari.

Dalam visualitas non-realis, dalam LV-JVAE kita juga bisa menemukan beberapa lukisan yang mengekspose tubuh perempuan yang menarik untuk dibaca, seperti Wet Session (Saiful Yatim). Lukisan ini mengungkapkan sebuah ironi yang mengerikan. Betapa kepala seorang perempuan dicampur dengan ikan, buah-buahan, dan sayuran. Rambutnya bercampur warna emas dan warna hitam. Dia tertawa dengan gigi putih yang tampak bersinar, sementara warna merah darah melumuri mukanya. Sementara di belakang kepala si perempuan tumpukan batu dengan rumah reyot dan sebatang pohon tanpa daun. Di belakang rumah itu, beberapa kendaraan pengeruk tengah bekerja. Untuk memaknai lukisan ini, tentu kita harus memahami terlebih dahulu ironi yang digambarkan oleh Yatim. Bagaimana bisa seorang perempuan tertawa dengan lumuran darah dan air mata di mukanya? Bagaimana mungkin kepala seorang perempuan dihidangkan bersama ikan, buah-buahan, dan sayuran? Kedua pertanyaan tersebut menegaskan ironi-ironi yang bisa menjadi salah satu pintu masuk untuk membincang lukisan ini lebih jauh lagi. Namun, sebelum menuju kompleksitas pembahasan, mari kita masuk ke pintu masuk lain yang bisa membantu pembacaan.

LV 30

Keberadaan beberapa kendaraan pengeruk dalam lukisan ini menandakan bahwa sedang ada proyek pembangunan. Kalau kita lihat tumpukan batu, kemungkinan kendaraan itu tengah mengeruk tanah untuk tempat “menampung air”, seperti waduk atau bendungan. Figur perempuan, rumah reyot, dan pohon tanpa daun bisa merepresentasikan kengerian dan kegigihan. Kengerian karena rumah, perempuan, dan pohon itu akan segera lenyap dari tempat mereka pernah mengukir sejarah kehidupan bersama warga lainnya. Perempuan itu, sepertihalnya warga-warga lain korban proyek atas nama pembangunan, akan kehilangan memori personal dan komunal. Mereka harus mau merelakan tanah, kehidupan, dan ingatan demi kesejahteraan yang dijanjikan melimpah dan bisa dinikmati merata oleh semua warga. Kenyataannya, kesejahteraan tidak pernah bisa dinikmati secara merata oleh semua warga. Selalu ada elit-elit tertentu yang bisa menikmati kesejahteraan. Namun, semua kesejahteraan hanya menjadikan luka yang penuh darah, sehingga ibu pertiwi harus menangis dan berurai, meskipun ia diimajinasikan dan digambarkan berambut emas. Maka, perempuan yang tersenyum sekaligus berurai air mata dan berlumuran darah adalah paradoks dari janji kesejahteraan untuk warga dan ibu pertiwi yang senyatanya hanya mengadirkan penderitaan. Selain itu, kalau kita perhatikan lebih detil lagi ada yang menarik terkait penggambaran beberapa ikan yang bergigi tajam, menyeramkan. Bahkan, ada seekor ikan yang menyantap apel. Secara kritis ini bisa dibaca sebagai kehadiran mutan sebagai akibat dari ketidakseimbangan kondisi alam karena kerakusan manusia melalui proyek-proyek modernitas. Kondisi ini tentu juga menjadi ancaman yang cukup serius bagi kehidupan manusia.

LV 28LV 29

Terkait dengan kuatnya pesona lelaki,  dua lukisan di atas, Jago Putih (SR Pujo, 2016) dan Mbah Warok (Sony, 2017). Lukisan Jago Putih menggambarkan lelaki dari perdesaan Bali yang tengah mengelus-elus jago putihnya. Tradisi aduan jago di Bali tidak bisa dipisahkan dari dunia lelaki dan menjadi arena yang menegaskan kekuasaan patriarki, di beragam level status sosial masyarakat. Meskipun si bapak sudah tua, dia masih balum mau beranjak dari aktivitas memelihara ayam jago sebagai simbol dari kekuasaanya. Artinya, dunia lelaki adalah dunia permainan luar-rumah yang tidak mengenal batasan usia; sebuah dunia yang menjadikan mereka leluasa memainkan peran, hasrat, dan keinginan. Sama halnya dengan figur warok tua dalam Mbah Warok. Meskipun kulit mukanya sudah menggambarkan usia yang semakin senja, dia tetap bersemangat untuk hadir dalam pagelaran reog untuk menegaskan eksistensinya. Warok dalam budaya reog adalah subjek kuasa yang tidak hanya disegani ketika pertunjukan, tetapi juga dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Dalam perspektif budaya adiluhung, tentu kita sangat mengapresiasi keteguhan si mbah untuk terus menghidupan spirit reog. Warok adalah contoh sempurna dari kuasa patriarki dalam masyarakat. Artinya, meskipun zaman berubah, tetapi warok masih memiliki kuasa yang masih dihargai dalam masyarakat dan masih menarik untuk di-visualisasi-kan.

Apa yang menarik dalam gambar di atas adalah “kaca mata hitam” yang dikenakan si mbah. Realitas budaya modern dengan santai dikenakan dalam realitas budaya tradisional. Dan, ini bukan peristiwa kultural yang baru saja berlangsung, tetapi sudah lama. Kita tentu biasa dengan para penari jaranan yang juga mengenakan kacamata. Kita juga biasa dengan penari gandrung yang mengenakan kaos kaki. Semua itu adalah bentuk apropriasi yang dilakukan subjek lokal terhadap masuknya budaya modern tanpa harus meninggalkan ekspresi mereka. Dalam lukisan realis yang sangat detil ini, kita bisa menikmati kehadiran hibriditas kultural dalam skala kecil yang sudah menjadi biasa dalam pertunjukan tradisional.

Beberapa catatan simpulan

Eksploitasi hal-hal eksotis dan tubuh dalam beberapa lukisan yang dihadirkan dalam LV-JVAE, paling tidak, bisa dikategorikan dalam beberapa formasi wacana. Pertana, eksotisme yang menghadirkan keindahan, kedamaian, dan kesejukan alam berpotensi untuk membekukan cara pandang terhadap manusia dan masyarakat lokal ketika tidak ‘dibumbui’ dengan penanda-penanda visual yang menggungat kemapakan maknanya. Kedua, tubuh perempuan, di satu sisi, masih di-visualisasi-kan dalam stereotip untuk melayani pandangan skopopolik lelaki, tetapi ada pula yang menggunakan tubu metaforis untuk menggugat ketidakdilan dan kerusakan yang disebabkan oleh proyek pembangunan yang tidak mempedulikan aspek-aspek keberimbangan manusia-alam. Ketiga, lelaki masih menjadi subjek dominan yang mampu melintasi waktu/usia demi menegaskan kuasa patriarki di tengah-tengah masyarakat yang semakin modern saat ini.

Sebagai realitas dalam kehidupan masyarakat lokal, hal-hal eksotis dan tubuh (lelaki dan perempuan) memang selalu menarik untuk dijadikan sumbe kreatif kesenian, termasuk seni rupa. Namun, ketika perupa hanya berusaha memapankan dan membekukan eksotisme dan tubuh tanpa mampu dan berani menawarkan perspektif-perspektif baru yang lebih kritis, lukisan-lukisan mereka hanya akan menarik untuk memuaskan pandangan dan kerinduan posmodern. Lebih dari itu, repetisi eksotisme dan tubuh yang seragam dan serupa dari waktu ke waktu hanya akan memunculkan kemandegan kreativitas yang sekaligus berdampak pada kemiskinan wacana yang disampaikan.

 Catatan akhir

[1] Jacques Derrida menjelaskan bahwa dekonstruksi dibutuhkan untuk membongkar keutuhan struktur dan makna yang ada dalam sebuah teks. Dalam perspektif Derridean, teks adalah situs pertama yang harus diuraihkan secara teliti struktur pembentuknya sehinnga akan ditemukan gangguan, penundaan, dan penghancuran makna tunggal dalam struktur dan bahasa tekstual. Dekonstruksi bukanlah praktik membaca yang menghancurkan semua struktur dan makna, tetapi lebih menekankan pada analisis detil yang memberikan kemungkinan-kemungkinan bagi lahirnya “permainan bebas” pada pusat struktur itu sendiri, karena koherensi saling berkontradiksi satu sama lain. Permainan bebas ini diwarnai oleh “penundaan”, “penghancuran”, dan “perbedaan” terhadap keutuhan. Dekonstruksi itu memungkinkan terjadi bukan oleh kuasa yang ada di luar struktur, tapi oleh kontradiksi-kontradiksi di antara struktur itu sendiri. Lihat, Derrida, 1997, 1989; Borradori, 2000; Leledakis, 2000; Saul, 2001; Cilliers, 2005.

Daftar bacaan

Bhabha, Hommi K. 1994. The Location of Culture. London: Routledge.

Borradori, Giovanna. 2000. “Two versions of continental holism: Derrida and structuralism”, dalam Philosophy and Social Criticism, Vol. 26, No. 4, 2000.

Cilliers, Paul. 2005. “Complexity, Deconstruction, and Relativism”, dalam Jurnal Theory, Culture, and Society, Vol. 22, No. 5.

Derrida, Jacques. 1997. Of Grammatology, Corrected Edition (Terj. Inggris Gayatri C. Spivak). Baltimore (USA): The John Hopkins University Press.

Derrida, Jacques. 1989. “Structure, Sign, and Play in the Discourse of the Human Science”, dalam Davis Robert Con & Ronald Schleifer. Contemporary Literary Criticism: Literary and Cultural Studies. New York: Longman.

Dicks, Bella. 2004. Culture on Display: The Production of Contemporary Visitability. London: Sage Publications.

Huggan, Graham. 2001. The Postcolonial Exotic, Marketing the Margins. London: Routledge.

Leledakis, Kanakis. 2000. “Derrida, deconstruction, and social theory”, in European Journal of Social Theory, Vol. 3, No. 2.

Mulvey, Laura. 1989. “Visual Pleasure and Narrative Cinema”, dalam Visual and Other Pleasure. Houndmills: McMillan.

Saul, Newman. 2001. “Derrida’s deconstruction of authority”, dalam Jurnal Philosophy and Social Criticism, Vol. 27, No. 3.

Said, Edward. 1978. Orientalism. New York: Pantheon Books.

Schuerkens, Ulrike. 2003. “The Sociological and Anthropological Study of Globalization and Localization”. Dalam Jurnal Current Sociology, Vol. 5, No. 3/4.

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 161 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*