Lompat Pagar: Usaha Melampaui Batas Bahasa dan Eksperimentasi Bunyi

dari Panaka Jaya, Aly Gardy, Oksigen hingga Xamagata

Lompat Pagar (18/2/2017), sebuah acara pertunjukan musik yang digagas oleh Pawon Carklacer, dapat disebut sebagai usaha malampaui ruang dengar para penikmat musik jember yang sudah teramat ‘populer’ karakteristik gendang pendengarannya. Pertunjukan musik kontemplatif oleh Panaka Jaya dan Aly Gardy sebagai iringan pembuka bermain sesuai dengan amanahnya, yaitu membuka dan menyiapkan kesadaran pendengar agar memantapkan dirinya untuk bergegas memutuskan bahwa ini bukanlah pertunjukan musik yang riuh dengan lirik “elegi patah hati atau ode pengusi rindu” di malam minggu. Melompati selera popular tersebut, pertunjukan hendak menawarkan hadirnya masyarakat rasa, atau masyarakat yang mampu berkomunikasi tanpa harus melibatkan kode simbolik bahasa. Xamagata, healing music dari Majalengka, sebagai kelompok musik yang mungkin sadar betul bahwa nada dan ekspemerintasi bunyi sudah lebih dari cukup untuk mengkomunikasikan musik mereka nyatanya mampu menyihir pantat para pendengar agar rela menempel pada lantai dingin sedari pukul 19.30 hingga selesai sekaligus mengaburkan keinginan untuk bergeser pada kursi sofa kafe centil, khas kedai kopi hits kebanyakan di Jember.  Xamagata seolah mengingatkan dan memulihkan (healing) para pendengarnya sebagai subjek yang mampu mengevakuasi diri atau subjek yang tidak lagi harus dibebani pada aturan logika bahasa. Aturan bahasa yang begitu ketat telah disubstitusi dengan sebuah suguhan musik penuh eksperimentasi. Sesekali dalam sela-sela pertunjukan memang masih ada kehadiran teatrikal dan pembacaan puisi namun ini lebih pada strategi atau cara mengkompensasi gendang telinga yang mungkin belum terbiasa ditabuh nada saja. Pertunjukan musik, pada malam itu, dapat disebut sebagai peristiwa bahwa selalu ada ruang alternatif bagi subjek untuk menyapa ruang yang tak terbahasakan, ruang dimana seseorang akhirnya mengerti mengapa beberapa pencinta korea sebenarnya tidak mengerti lirik lagu yang mereka gumamkan tiap hari namun kepuasaan meluluskan “earworm” dan keluasan rasa-lah sebab musabab hadirnya ritus tersebut terjadi.

contemplative music, panaka jaya
contemplative music, panaka jaya

Dapat dipastikan pertunjukan musik yang dibawakan oleh Panaka Jaya hingga Xamagata sangat mungkin divonis miskin lirik bagi para pemuja acara musik pagi kebanyakan, tapi bukankah itu yang ingin diusahakan. Eksperimentasi bunyi, nada, dan rasa yang hendak dikomunikasikan adalah bentuk bagaimana sebenarnya pertunjukan musik malam minggu lalu menjadi contoh betapa kaya bunyi yang dapat diproduksi untuk menggugah rasa sehingga terkadang rezim kata-kata, simbol ataupun tanda cenderung malah bersikap reduksionis tentang apa yang ingin disampaikannya. Dengan kata lain, kata tidak lagi mampu menampung, memberi kerangka, atau merepresentasikan musik yang dihasilkan. Panaka Jaya dengan contemplative musiknya dan Xamagata dengan healing musiknya menjadi sebuah ketakjuban sendiri bagaimana musik mampu mengevakuasi subjek dari cengkeraman simbol-simbol. Iral (Clarinet dan violin), Yudi (Contra Bass), Polem (Kendang), Sams (Gitar), dan Kebo (Vocal) memulihkan kembali kesadaran bahwa ada peristiwa yang tak terbahasakan, sebuah jejak ,trace[1], yang berlalu lalang di kepala ketika ingin memahami musik yang hinggap di kepala namun tidak pernah mampu ‘mencomot’ memori bahasa atau referensi kultural apapun untuk membahasakannya.

Alih-alih mencari makna, tanda ataupun simbol yang ingin dinyatakan oleh Xamagata, pendengar kembali diingatkan pada peristiwa yang akhirnya hanya hadir sebagai jejak, jejak dimana kode-kode simbolik bahasa yang setiap hari mengepung telinga menjadi tak ubahnya serupa angin yang hanya mampu mampir untuk menabuh tanpa makna. Secara historis, hingga tulisan ini dibuat, hanya kecocokan komposer sekelas Richard Wagner (1813) yang dapat dijadikan rujukan pas untuk menganalogikan cara bermusik yang demikian teduh namun sesekali riuh, karena betul -betul mampu mengaduk-ngaduk batin penikmatnya. Masyarakat yang begitu pop dan familiar dengan pertukaran kode lirik banal diubah dan diajak pada bentuk masyarakat (yang memiliki) rasa.

Sebagai sebuah peristiwa politik, pertunjukan musik yang sesekali ditempeli dengan bentuk teatrikal dan puisi dari kawan-kawan oksigen memang dapat dikategorikan apik. Namun sebagai pesan bermusik, acara yang diproduksi teman-teman pawon ini sudah pasti sesuai dengan tema acaranya yaitu keinginan melompati ritus bermusik keseharian yang makin kesini seolah-olah mengisyaratkan tidak ada alternatif referensi bermusik lain. Produksi musik semacam ini, yang telah dikemas dalam bentuk CD, membawa pesan bahwa mencari pembenaran pengalaman (bercinta) lewat lirik dan lagu bisa dengan cara apa saja, namun memanjakan telinga sekaligus menggugah kekayaan rasa  adalah perkara berbeda.

[1] The trace, in its negative aspect, draws the natural sign to a limit at which it becomes evanescent. The distinction between sign and object is quite clear here, since the trace is precisely what the object leaves behind once it has gone off somewhere else…a trace exists even if there is nobody to look at it. When have we passed over into the order of the signifier? The signifier may extend over many of the elements within the domain of the sign. But the signifier is a sign that doesn’t refer to any object, not even to one in the form of a trace, even though the trace nevertheless heralds the signifier’s essential feature. It, too, is the sign of an absence. But insofar as it forms part of language, the signifier is a sign which refers to another sign,(Lacan, seminar iii, p167)

 

Share This:

About Ghanesya Murti 8 Articles
Mahasiswa pascasarjana Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga dan peneliti di Matatimoer Institute

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*