Dalam bimbingan aparat negara dan Freeport: Modernitas dan nasionalisme di Papua dalam Denias Senandung Di Atas Awan

IKWAN SETIAWAN

 

Download versi PDF

Pengantar

Salah satu film anak di era 2000-an yang menyajikan ‘menu utama’ berbasis oposisi biner “yang tradisional” dan “yang modern” dalam dunia anak adalah film Denias, Senandung Di Atas Awan (Jhon De Rantau, 2006, selanjutnya disingkat DSDAA). Perjuangan anak untuk mendapatkan pendidikan modern dihadapkan pada otoritas tradisional yang mengikat masyarakat Papua. Sebagai sebuah karya, DSDAA mendapatkan banyak pujian karena dianggap mampu menghadirkan perjuangan untuk memperoleh pendidikan, mengangkat kekayaan budaya, dan menampilkan eksotika alam Papua.[1] Namun, menurut saya, apa yang justru menarik untuk dilihat dari film ini adalah bagaimana sineas DSDAA memproduksi makna modernitas dan nasionalisme Indonesia dalam konstruksi yang ‘menyanjung’ aparat negara dan sebuah institui modal internasional bernama Freeport. Konstruksi ‘menyanjung’ tersebut merupakan usaha untuk menghadirkan rezim kebenaran yang melawan citra negatif aparat negara dan Freeport yang telah puluhan tahun menindas masyarakat dan mengeksploitasi bumi Papua.

Tulisan ini akan menguraikan bagaimana konstruksi-konstruksi penandaan dalam DSDAA mampu secara apik menaturalisasi dan menormalisasi wacana dan pengetahuan ideologis tentang kebaikan aparat negara dan Freeport bagi usaha kemajuan anak-anak Papua. Dengan menggunakan kerangka teoretis semiotika mitos (Barthes) dan poskolonialisme, khususnya hibriditas (Bhabha, 1994), saya akan mengeksplorasi aspek-aspek naratif sebagai bentuk penandaan mitis yang mengusung wacana-wacana partikular terkait modernitas di tengah-tengah ketradisionalan yang tidak bisa dipisahkan dari kepentingan negara dan pemodal internasional. Dengan kerangka demikian, saya juga akan memunculkan posisi ideologis dari sineas DSDAA.

Budaya modern dan kehadiran aparatus negara

Bagi Denias dan kawan-kawannya dalam film Denias Senandung Di Atas Awan (DSDAA) menjadi modern berarti memperoleh pedidikan sebagaimana dirasakan oleh anak-anak di pulau lain, meskipun sangat sulit diwujudkan. Maka, film ini menghadirkan beberapa subjek perantara yang mengantarkan Denias ke dalam “pentingnya makna pendidikan”. Salah satu subjek perantara tersebut adalah Pak Guru yang berasal dari Jawa (selanjutnya disingkat PGJ). Sebagai aparatus negara yang ditugaskan mengajar di pedalaman Papua, PGJ digambarkan penuh dedikasi, meskipun seringkali harus bersikap keras kepada para murid.

Kehadiran PGJ merupakan contoh bagaimana semangat pengabdian untuk me-modern-kan anak-anak pedalaman Papua harus tetap dijaga, meskipun sehari-hari ia harus hidup dengan fasilitas terbatas. Salah satu wujud dedikasi PGJ adalah nasehatnya kepada Denias tentang keutamaan pendidikan. Nasehat itu ia sampaikan, misalnya, dalam sebuah percakapan dengan Denias di depan pintu kamar tidurnya yang menyatu dengan sekolah, setelah Denias berkelahi dengan Noel, anak Kepala Suku Besar (KSB). Ia memuji Denias karena “cepat membaca dan pandai berhitung” serta memprediksinya akan menjadi “ahli matematika”. Pujian itu merupakan persuasi agar ia terus belajar.

Image result for denias senandung diatas awan

PGJ dan Denias (http://www.asiapacificscreenacademy.com/nomsarchive/denias-senandung-di-atas-awan/)

Untuk meyakinkan Denias, PGJ bercerita dongeng Jack dan Kacang Polong. Dengan mimik muka serius dan impresif, PGJ bercerita tentang perjuangan Jack untuk bisa melihat dunia yang luas dengan menanam kacang polong dan memanjatnya sampai di atas awan. PGJ meyakinkan Denias bahwa semangat Jack ada dalam dirinya dengan menunjuk dadanya. Maka, Denias harus menjadikan semangat perjuangan itu semangat hidupnya. Untuk menekankan pentingnya subjek belajar untuk bisa merasakan dunia yang begitu luas sebagai rezim kebenaran yang mempengaruhi Denias. Kemudian PGJ memeluknya; bentuk empati aparatus negara dari Jawa yang dengan penuh kasih sayang mau membimbing anak-anak Papua; sebuah pelukan Indonesia untuk masyarakat Papua.

Dengan nasehat itu, PGJ merupakan subjek perantara yang cukup signifikan kontribusinya dalam meyakinkan anak-anak pedalaman Papua untuk terus menghidupkan semangat dan berjuang guna mendapatkan ilmu modern. Kehadiran PGJ dan institusi sekolah dasar di pedalaman Papua merupakan bentuk kehadiran rezim negara yang direpresentasikan membawa modernitas di tengah-tengah ketradisionalan masyarakat. Orang-orang Jawa bukan lagi direpresentasikan sebagai subjek superior yang menguasai dan menindas, tetapi mendidik dan mengarahkan. Anak-anak pedalaman Papua adalah tabula rasa yang perlu diisi dengan semangat dan impian menjadi terdidik serta diarahkan untuk berjuang mewujudkan modernitas karena dengan cara itulah mereka bisa menjadi generasi penerus yang pandai dan bermartabat, sama seperti anak-anak Indonesia lainnya, meskipun keterbatasan fasilitas tetap menjadi problematika. Dengan pendidikan yang diajarkan PGJ, anak-anak Papua akan bisa “melihat dunia yang lebih luas”, bukan sekedar dunia yang dipenuhi ketelanjangan, keterbelakangan, dan ritual tradisional. Artinya, pada dasarnya, subjek Papua-lah yang membutuhkan kehadiran subjek Jawa. Apa yang harus diingat adalah bahwa PGJ yang membawa pendidikan modern adalah aparatus negara, sehingga ia sekaligus meng-eks-nominasikan kehadiran negara dalam me-modern-kan masyarakat Papua. Dengan kata lain, perjuangan menjadi modern bagi anak-anak Papua melalui pendidikan merupakan proses “menjadi Indonesia”.

Dalam konteks “menjadi modern menjadi Indonesia”, kehadiran Maleo (bernama asli Serma Hartawan, anggota Korps Baret Merah yang ditugaskan di desa Denias) dalam struktur dunia naratif DSDAA,  menarik untuk dicermati. Maleo tidak dihadirkan sebagai tentara yang represif. Maleo adalah sebuah representasi “tentara berwajah manusiawi”: baik hati, perhatian kepada Denias dan kawan-kawannya, serta mau menolong masyarakat yang tengah menghadapi masalah. Sikap manusiawi itu ditunjukkan, misalnya, dalam adegan ketika ia menolong Mama Denias yang tengah sakit dengan memberinya obat. Dia juga suka membagi-bagikan permen kepada Denias dan kawan-kawannya di sekolah. Kebaikan Maleo juga ditunjukkan dengan cara terus memberikan nasehat kepada Denias untuk bersekolah, bukan berkelahi dengan Noel. Penggambaran-penggambaran tersebut sekaligus merupakan usaha dari sineas DSDAA untuk mengurangi persepsi negatif di masyarakat Papua terhadap kehadiran militer; bahwa tentara dan operasi militer merekalah yang menyebabkan terjadinya tragedi kemanusiaan di Papua, utamanya yang melibatkan Kopassus. Artinya, penggambaran tersebut menegosiasikan gagasan bahwa tentara yang bertugas di bumi Papua juga bisa menjalankan misi-misi kemanusiaan yang amat berguna bagi masyarakat.

Selain semua kebaikan-kebaikan tersebut, Maleo—sebagai subjek perantara yang lain—juga mengajarkan pengetahuan geografis tentang pulau-pulau besar Indonesia kepada Denias. Dia menggunakan medium kertas-kardus-bekas untuk membuat replika pulau-pulau besar tersebut, di mana Papua menjadi salah satu bagiannya. Menjadikan anak Papua sadar akan keindonesiaan tidak harus dengan tindakan represif. Kesadaran untuk menjadi bagian integral Indonesia bisa dilakukan dengan cara sederhana; membuat replika pulau berbahan kertas-kardus-bekas. Dengan gaya layaknya seorang guru geografi, Maleo menjelaskan satu per satu pulau-pulau besar yang ada di Indonesia, dari Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, hingga Papua. sembari diiringi ilustrasi musik lagu Dari Sabang Sampai Merauke—sebuah penegasan semangat kesatuan dalam wadah NKRI. Setelah itu, Maleo menyusun pulau-pulau itu satu per satu, mengacak, dan meminta Denias menyusun mereka kembali sebagai satu kesatuan. Awalnya, Denias merasa kesulitan untuk menyusun ‘pulau-pulau nusantara’ tersebut sampai harus menggaruk-garuk kepalanya. Namun, setelah mencoba dan berusaha lagi, akhirnya ia bisa tersenyum dan berkata, “Indonesia” setelah berhasil ‘menyusun nusantara’ sebagai satu kesatuan integral—sebuah kesadaran wilayah yang menasional dan melampaui batas geografis kesukuan.

“Wacana peta” (cartographic discourse) dalam film ini terhubung dengan mekanisme menyerupai kolonialisme yang dijalankan aparat militer Indonesia dalam membangun kesadaran nasionalisme di benak rakyat Papua. Subjek ke-peta-an, menurut Huggan (2008: 23),  merupakan narasi yang secara produktif menyebar dan mengikat para subjek dalam prinsip keutuhan geografis. Peta merupakan sebuah proporsi terhadap jagat yang seolah-olah nyata yang darinya subjek akan lebih mudah dikendalikan karena ia merasakan diri menjadi bagian integral dari sebuah wilayah; sebuah fungsi kekuasaan. Menurut Barrington (2006: 6-8), dalam konteks bangsa dan nasionalisme kesadaran wilayah merupakan salah satu elemen penting yang mutlak ada. Setiap subjek dalam bingkai bangsa harus diberi pengetahuan kewilayahan karena dengan cara itulah ia akan merasa menjadi bagian dari sebuah bangsa yang terdiri dari bermacam etnis dan suku yang mendiami kesatuan wilayah yang lebih luas. Hal itulah yang membedakan bangsa dengan suku yang lebih sempit cakupan geografisnya.

Maka, “sesulit” apapun, proses “menjadi Indonesia” harus dijalani dan dilakoni oleh anak-anak Papua agar mereka bisa menyatu dengan keindonesiaan. Dan, Maleo, dengan penuh kesabaran mendampingi proses tersebut. Meskipun para aktivis gerakan resistensi selalu menggunakan keberbedaan geografis sebagai salah satu rasionalisasi mereka, toh, realitas politik Papua adalah bagian sah dari NKRI. Apa yang dibutuhkan adalah “sebuah senyuman kecil” dan keyakinan untuk mengatakan “Indonesia”, seperti yang dilakukan Denias, karena tentara Kopassus seperti Maleo tidak lagi menakutkan, meskipun dalam kenyataannya masih banyak terjadi kekerasan yang melibatkan aparat tentara. Memang setelah peristiwa pembunuhan tokoh Papua Theys Eulay pada tahun 2001, berita tentang tindak kekerasan yang dilakukan Kopassus jarang terdengar di media nasional. Meskipun demikian, hal itu bukan berarti tindakan keji mereka terhadap warga Papua berhenti. Sebuah laporan dari Human Right Watch berjudul “What Did I Do Wrong?”: Papuans in Merauke Face Abuses by Indonesian Special Forces (2009) membeberkan enam kasus kekejaman pasukan elit Angkatan Darat ini yang berlangsung dari tahun 2007-2009 berupa penyiksaan secara sadis terhadap warga Merauke. Laporan ini tentu berkebalikan dengan representasi filmis yang dihadirkan melalui sosok Maleo. Hal itu semakin menegaskan bahwa DSDAA berusaha mengaburkan realitas kekejaman Kopassus dengan makna-makna terkait kebaikan dan kepedulian terhadap pendidikan anak-anak Papua.

Sebagai subjek perantara dari aparat militer, kehadiran Maleo dan tindakan-tindakan empati dan impresifnya merupakan idealisasi sekaligus naturalisasi dari proses menjadi Indonesia yang berlangsung dalam kehidupan anak-anak Papua melalui peran tentara berwajah manusiawi. Sebagai idealisasi dan naturalisasi, penghadiran Maleo dalam film ini juga berusaha menegosiasikan militerisme yang bisa menuntun dan mengarahkan anak-anak Papua dalam bingkai Indonesia modern yang tetap mengedepankan integrasi nasional—sebuah diktum militeristik yang dimobilisasi secara besar-besaran pada masa Orde Baru. Mengapa harus anak-anak yang dijadikan subjek diskursif dari wacana keindonesiaan? Mereka adalah representasi dari kemurnian perjuangan nasionalisme Indonesia di Papua yang belum ‘terinfeksi’ oleh kepentingan-kepentingan politik gerakan perlawanan. Dengan negosiasi tersebut, anak-anak Papua diharapkan menjadi subjek yang terus meyakini dan menyebarkan makna-makna keindonesiaan dalam kehidupan mereka, baik di masa kini ataupun masa mendatang—sebuah mobilisasi untuk menyebarkan dan memperkuat nasionalisme Indonesia. Dengan negosiasi “militerisme manusiawi”, terjadi proses pengaburan terhadap semua kejahatan dan kekerasan militer sebagai kemasalampauan yang tak perlu lagi diingat dan dimobilisasi untuk memperkuat perlawanan, karena tentara seperti Maleo adalah “sahabat” dan “guru” yang bisa memahami permasalahan anak-anak dan masyarakat Papua, termasuk masalah berintegrasi ke dalam Indonesia modern.

Related image

Denia mengajari anggota keluarnya “menjadi Indonesia” (http://www.asiapacificscreenacademy.com/nomsarchive/denias-senandung-di-atas-awan/)

Sebagai subjek lokal-hibrid yang sudah mendapatkan ajaran tentang pentingnya pendidikan dan keindonesiaan di tengah-tengah kehidupan tradisional sukunya, Denias digambarkan sebagai pengemban misi menjadi Indonesia yang harus disebarluaskan agar bisa menjadi kesadaran bagi masyarakat. Seperti yang dilakukan Denias dengan menempel pulau-pulau nusantara di dinding honainya sembari menyanyikan Indonesia Raya dan menghormat, disaksikan Bapak dan anggota keluarga lainnya. Munculnyan kesadaran nasionalisme Indonesia jelas digambarkan melalui adegan ini, apalagi dengan ilustrasi lagu wajib tersebut. Bahwa Indonesia adalah sebuah kesatuan yang harus terus dijaga dan dihidupkan dalam benak setiap warga negara, termasuk masyarakat pedalaman Papua, bukannya dilawan. Hanya dengan menjadi bagian Indonesia-lah, mereka akan menikmati kemajuan pembangunan, termasuk lewat pendidikan. Dan, rupa-rupanya, sineas DSDAA mengidealisasi itu sebagai kebenaran yang memang harus diterima, seperti senyum Bapak dan kerabatnya yang senang melihat Denias bisa menyanyikan Indonesia Raya sambil menghormat kepada gugusan pulau-kardus-bekas itu.

Menguatnya impian untuk berpendidikan dan menjadi Indonesia modern dalam benak Denias memang sudah ditanamkan oleh Mama dan PGJ. Namun, meninggalnya Mama dan kepulangan PGJ karena istrinya sakit, menghadirkan subjek Maleo sebagai tokoh dominan dalam proyek tersebut. Bagi Denias sendiri, kehadiran Maleo semakin penting setelah Mamanya meninggal akibat kebakaran yang secara tidak langsung disebabkan keteledorannya menaruh kaos seragam Persipura di atas perapian di dalam honai. Maleo-lah yang berhasil menumbuhkan kembali keyakinan Denias untuk terus belajar dan meyakinkannya bahwa ia tidak harus terus memendam perasaan bersalah. Ia harus bangkit karena Mamanya sudah berpesan agar Denias terus bersekolah. Sebagai ganti kaosnya yang terbakar, Maleo memberikan kaos berwarna coklat dengan gambar logo Superman, tokoh superhero Amerika Serikat. Lebih dari sekedar tentara Baret Merah, Maleo segera menjadi sosok guru bagi Denias dan kawan-kawannya setelah kepulangan PGJ. Berbeda dengan Pak Guru yang mengajarkan anak-anak membaca dan berhitung, Denias kembali mengajarkan pengetahuan geografis tentang pulau-pulau besar di Indonesia, sama seperti yang ia ajarkan kepada Denias. Sekali lagi, mobilisasi tentang keindonesiaan menemukan bentuknya melalui praktik pendidikan.

Melalui praktik mengajar itu pula, Maleo mengetahui betapa anak-anak didiknya sangat berhasrat untuk benar-benar “menjadi anak-anak Indonesia modern” yang bersekolah dengan mengenakan “seragam SD”, putih-merah, bukan lagi dengan kaos dan celana pendek ala kadarnya. Mengetahui hal itu, Maleo berinisiatif meminta bantuan seragam—tidak jelas kepada siapa ia meminta bantuan tersebut. Namun, dari proses kedatangan paket seragam SD yang diangkut oleh helikopter militer, saya menginterpretasi Maleo meminta bantuan tersebut kepada atasannya. Denias dan kawan-kawannya sangat senang menyambut kedatangan seragam yang sudah lama mereka impikan.

Antusiasme anak-anak tampak ketika mereka berebut seragam yang dibagikan Maleo. Bahkan, Denias sangat terharu dan memeluk Maleo sebagai ungkapan terima kasih. Karena terlalu bahagia dengan seragam baru tersebut, Denias dan kawan-kawannya memilih untuk menginap di ‘rumah dinas’ Maleo, sebuah honai di pinggir desa. Beberapa dari mereka tidur di dalam rumah, beberapa yang lain tidur di dekat dan di pangkuan Maleo. Sementara, kawan-kawannya tidur, Denias memilih untuk menemani Maleo, sembari tersenyum kecil. Ketika Denias sudah ngantuk dan tidur di ranjang, Maleo tetap memilih berada di luar, menyulut rokok—menjaga anak-anak Indonesia dari pedalaman Papua yang begitu bahagia dengan seragam baru dan berarti pula menjaga nasionalisme yang dalam jiwa dan pikiran mereka. Penandaan adegan tersebut Maleo menghadirkan sosok lain tentara Baret Merah yang dengan penuh kasih sayang mampu mengayomi anak-anak pedalaman Papua yang baru saja merasakan “integrasi kultural dan politik” dengan anak-anak Indonesia di pulau-pulau lainnya—mengenakan seragam putih-merah.

Image result for denias senandung diatas awan

Maleo dan Denias (http://www.asiapacificscreenacademy.com/nomsarchive/denias-senandung-di-atas-awan/)

Selain itu, untuk menegaskan empati Maleo terhadap pendidikan modern bagi anak-anak Papua, DSDAA juga menghadirkan adegan ketika ia sangat sedih dan terpukul ketika mengetahui honai tempat anak-anak belajar ambruk karena gempa. Namun, kesedihan itu tidak harus berlarut-larut, karena anak-anak membutuhkan bangunan honai baru sebagai ruang belajar, meskipun KSB tidak memberikan izin. Maka, konsep yang dinegosiasikan adalah kesetiaan tentara dalam mengawal pendidikan dan integrasi anak-anak Papua ke dalam pelukan pertiwi. Tentara dengan semangat pengabdiannya mampu mewujudkan impian anak-anak Papua untuk bisa berseragam dan untuk terus menanamkan pentingnya menjadi modern melalui pendidikan dalam arahan dan bimbingan rezim negara. Sekali lagi, representasi tersebut mendistorsi realitas kekejaman dan kekerasan militer di Papua, sekaligus menanamkan nasionalisme Indonesia sejak usia dini melalui mobilisasi simbol-simbol identitas nasional, seperti peta Indonesia berbahan kertas-kardus-bekas, lagu Indonesia Raya, dan seragam putih-merah.

Realitas bahwa KSB tidak mengizinkan pembangunan honai baru dan cerita Maleo—yang sudah pindah tugas—tentang sebuah sekolah berfasilitas lengkap di balik gunung, memperkuat keinginan Denias untuk meninggalkan keluarganya. Apakah kehidupan tradisional harus terus dilakoni ketika menghambat impian individual? Apakah budaya tradisional harus diyakini ketika hanya menghadirkan ketakutan untuk maju? Dua pertanyaan tersebut menjadi kunci berkembang-pesatnya rasionalitas dan sekulerisasi  yang melahirkan modernitas di Eropa. Dua pertanyaan itu pula yang kira-kira dihadirkan sineas dalam benak Denias. Demi memperjuangkan impian yang ditanamkan Mama, diyakinkan oleh Pak Guru, dan dipertegas oleh Maleo, Denias memutuskan untuk meninggalkan keluarga dan masyarakatnya secara diam-diam. Pada sebuah pagi ketika Bapak dan anggota keluarga lelaki lainnya masih tidur, Denias dengan cekatan mengemasi barang-barang pribadinya, termasuk peta kertas-kardus-bekas.

Melalui Denias, sineas film ini menghadirkan subjektivitas lokal yang telah dan tengah menjadi subjektivitas hibrid ketika impian berpendidikan diyakini sebagai kebenaran. Hibriditas pikiran yang berlangsung dalam benak subjek pascakolonial, seperti Denias, memberikan peluang bagi munculnya penguatan hasrat untuk memosisikan “yang lokal” di bagian ‘belakang’ kehidupan mereka—sekedar sebagai Bapak dan anggota keluarga lainnya yang digambarkan secara kabur. Kehidupan dan budaya lokal memang telah menanamkan kepada anak-anak dan generasi muda nilai, aturan, dan ritual yang terterima dalam sebuah sistem sosial, keluarga dan suku. Namun, kehadiran modernitas yang lebih menjanjikan dengan mudah mengubah—meskipun tidak sepenuhnya—cara berpikir dan bertindak seorang individu. Budaya tradisional tidak harus menghentikan langkahnya. Artinya, sebagian besar masyarakat lokal, seperti Denias, sudah menjadi subjek-subjek dalam formasi “yang modern/yang barat” serta memosisikan “yang suku/tradisional” sebagai subjek yang tetap ada, tetapi tidak harus dikejar sebagai impian karena “yang modern”-lah yang pantas diperjuangkan dan diwujudkan melalui komitmen individual.

Bersama Superman menaklukkan hambatan

Kebulatan tekad untuk mewujudkan impian memunculkan keberanian luar biasa dalam diri Denias untuk memulai perjalanan yang cukup berat untuk bisa sampai ke kota. Denias harus berjuang dengan segenap kekuatan fisiknya untuk menaklukkan keliaran alam Papua. Keyakinannya untuk mendapatkan pendidikan dasar yang lebih layak memunculkan energi dalam dirinya untuk terus berlari melewati gunung dan lembah serta menyeberangi sungai, mengalahkan segala batasannya sebagai seorang anak. Perjuangan berat yang dilakoni Denias merupakan representasi dari perjuangan sebagian besar anak-anak Indonesia di wilayah pedalaman yang sampai hari ini masih sulit mendapatkan akses terhadap pendidikan modern. Sesulit apapun rintangan yang mereka hadapi, impian menjadi modern melalui pendidikan yang telah menjadi ideologi kolektif bangsa ini, menjadikan mereka harus terus berjuang untuk mewujudkannya. Hibriditas dalam hal keyakinan ideologis nyatanya cenderung memberikan porsi yang lebih besar bagi perjuangan untuk menjadi modern dibandingkan kembali menjadi tradisional.

Menariknya, perjuangan berat yang dilakoni Denias untuk merasakan modernitas di kota bukan semata-mata menjadi proyek individual, tetapi beriringan dengan proyek menjadi Indonesia—sebuah kelanjutan dari “proyek pertama” yang diarahkan oleh Maleo. Dalam sebuah adegan melintasi sungai, tas Denias yang berisi bola, buku, pakaian, dan peta Indonesia jatuh dan terbawa arus sungai. Dengan bersusah payah ia mengejarnya. Pakaian, buku, bola, dan peta pun bisa diselamatkannya. Setelah menyelamatkan barang-barangnya Denias melanjutkan kembali perjalanan. Sekali lagi, kegigihannya berkorelasi dengan konsep ideologis tentang nasionalisme Indonesia yang harus terus diperjuangkan oleh subjek-subjek Papua agar mereka bisa menjadi bagian integral dari NKRI. Dengan memperjuangkan nasionalisme Indonesia seperti yang diajarkan aparat militer itulah, Denias dan subjek-subjek Papua lainnya akan memperoleh kemajuan hidup, seperti yang dirasakan masyarakat Indonesia di pulau-pulau lain.

Selain persoalan peta kardus, kaos dengan gambar logo Superman merupakan penandaan mitis lain yang menghadirkan kekayaan makna poskolonialitas dalam film ini. Denias mendapatkan hadiah kaos dari Maleo dengan gambar huruf S, Superman, superhero khayali Amerika Serikat. Ada sebuah oposisi biner antara “yang lokal” dan “yang global”, kaos Persipura dan kaos Superman. Kaos Persipura bukan sekedar seragam (jersey) sebuah klub kebanggaan masyarakat Papua. Di dalamnya melekat kekuatan ideologis yang mengikat mereka dalam kebanggaan sebagai masyarakat suku yang bisa berprestasi dalam ranah sepak bola—sebuah olah raga paling populer di Indonesia dan di muka bumi ini. Namun, kehadiran kaos Persipura yang dikenakan Denias, bukanlah rajutan tangan-tangan tekun para perempuan Papua, tetapi produksi perusahaan garmen modern. Sementara, manajemen klub sepak bola seperti Persipura merupakan bentuk modernitas dalam ranah olah raga. Dengan demikian, tampak “pemaknaan apropriatif” dari subjek Papua terhadap unsur-unsur modernitas yang bisa memperkuat perasaan komunal-kolektif sebagai masyarakat suku yang mengalami penindasan oleh rezim negara dan pemodal tambang internasional.

Image result for denias senandung diatas awan

Denias dengan kaos Superman menuju kota (http://jayagoblok.blogspot.co.id/2012/11/resensi-film-denias-senandung-diatas.html)

Meskipun demikian, kebanggan lokal yang dibangun dengan semangat modern tersebut dalam sudut pandang sineas film ini, bukanlah sesuatu yang ideal dalam konteks kekinian karena masih menjebak masyarakat dalam perspektif etnosentrisme yang memosisikan kehadiran orang-orang luar sebagai sebuah ancaman. Maka, tidak mengherankan kalau dalam film ini diceritakan kaos Persipura yang digantungkan di atas api di dekat tempat tidur Mama menjadi penyebab kebakaran hebat yang membunuhnya. Dengan penandaan tersebut, kehadiran dan mobilisasi metafor lokal, meskipun sudah dibingkai dalam cita-rasa modern, ditampilkan tetap bisa menjadi kekuatan destruktif yang membahayakan kehidupan masyarakat itu sendiri ketika mereka tidak dengan cermat dan hati-hati menempatkannya dalam latar kehidupan yang tengah berubah dalam ‘bimbingan’ rezim negara dan pemodal. Ketika “yang lokal-hibrid” diposisikan demikian, maka kehadiran metafor global, seperti kaos Superman, yang bisa memberikan kenyamanan dalam memperjuangkan aspirasi individual menjadi peristiwa yang tak terelakkan. Dan, yang memberikannya adalah Maleo, seorang tentara Kopassus, yang sejak Orde Baru menjadi kawan dan pelindung Freeport Indonesia.

Dengan mengenakan kaos Superman, Denias berjuang menuju kota, melintasi padang rumput, lembah, gunung, pegunungan, hutan, dan sungai. Perjuangannya bukan lagi ditemani kaos Persipura yang selama ini ia kenakan di desa. Dengan kata lain, untuk “sebuah perjalanan panjang antar-peradaban”—suku-tradisional menuju kota-modern, kebanggaan kolektif yang dibangun melalui identitas lokal, tetaplah tidak cukup. Kehadiran kaos Superman memberikan dan memobilisasi makna yang tidak lagi sekedar sebagai bentuk perjuangan. Denias, dengan ekspresi lelah tetap saja melintasi pegunungan dan selanjutnya bernyanyi untuk terus membesarkan semangatnya. Dengan tubuh tegap yang menampakkan lebih jelas kaos Superman-nya dengan latar padang luas dan gunung, ia terus bernyanyi. Perubahan dari adegan transisional—tubuh Denias diselimuti awan—menuju Puncak Jayawijaya yang penuh salju dan awan merupakan nasehat “gunung takut sama anak pintar” sekaligus menunjukkan semangat dan kekuatan dalam diri Denias—ditemani kaos Superman—yang bisa menaklukkan segala rintangan alam untuk menaklukkan dunia yang mahaluas. Bahkan, sungai yang penuh bebatuan tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bergerak dan berlari menuju kota.

Penghadiran kaos Superman merupakan bentuk kehadiran ke-Amerika Serikat-an, pada khususnya, dan ke-global-an, pada umumnya, yang mampu melindungi dan mengawal perjuangan seorang anak Papua untuk mewujudkan cita-cita kemajuan melalui pendidikan di kota. Maka, ke-Amerika Serikat-an tidak lagi harus dipahami sebagai makna ideologis yang menakutkan dan menjajah, seperti kehadiran Freeprot di tanah Papua, tetapi sebagai subjek yang menebar kebaikan, kemanusiaan, dan keperkasaan yang mampu mendorong terwujudnya kemajuan hidup bagi masyarakat lokal. Dengan penandaan tersebut, realitas imperialisme Amerika Serikat yang mengendalikan negara Indonesia di masa Orde Baru dan berlanjut hingga masa Reformasi melalui program-program investasi, pinjaman, maupun hibah, dinegosiasikan sebagai kekuatan yang bisa memberikan keuntungan. Penderitaan rakyat Papua dengan hilangnya gunung-gunung suci yang menjadi sumber kehidupan tidak perlu lagi dipersoalkan karena kehadiran Freeport, misalnya, telah menggantikannya dengan janji kemakmuran berlimpah.

Jalan panjang menuju naungan Freeport

Sesampai di kota, ternyata Denias harus menghadapi beberapa permasalahn pelik. Permasalahan pelik pertama adalah sulitnya anak dari keluarga miskin bersekolah di sebuah sekolah dasar berfasilitas modern. Dari teman yang dijumpainya di Kota Kuala Kencana, Enos, ia tahu bahwa tidak setiap anak bisa bersekolah di SD tersebut. Menurut Enos ketika mereka berada di bawah jembatan, dulu anak-anak dari keluarga miskin boleh sekolah, tetapi sekarang tidak boleh lagi. Karena rasa penasaran dan semangatnya untuk bisa bersekolah, Denias pergi dan memasuki sekolah yang bernama  SD YPJ  Yayasan Pendidikan Jayawijaya Kuala Kencana (selanjutnya disingkat SD YPJ).[2] Sesampai di SD YPJ, Denias begitu kagum melihat bangunan megah sekolah tersebut. Dia menjadi kecewa ketika seorang guru olah raga lelaki yang sedang bermain bola mengatakan bahwa dia tidak bisa menolongnya untuk masuk di SD YPJ. Dari Enos pula ia mendapat penjelasan bahwa dirinya dan Denias tidak bisa masuk ke SD tersebut karena mereka berdua bukan anak kepala suku; sebuah bentuk pe-liyan-an terhadap warga kelas-bawah yang berlangsung di masyarakat Papua.

Karena Denias tetap bersikeras untuk bisa bersekolah di SD YPJ, guru olah raga menyarankannya untuk menemui seorang ibu guru bernama Gembala.  Ketika pada suatu pagi ia dan Enos menemuinya di sekolah, lagi-lagi, Denias harus menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Bu Gembala yang bernama asli Sam Kaibur tidak bisa memberikan kepastian apakah Denias bisa diterima atau tidak, karena dia bukan anak kepala suku dan tidak memiliki buku raport. Bekal peta Indonesia berbahan kertas-kardus-bekas, ternyata belum cukup untuk menjadikannya bisa bersekolah, meskipun Bu Gembala terenyuh ketika melihat peta tersebut. Pada sebuah malam, Denias kembali berkeluh-kesah sembari menyarankan Enos untuk mengambil buku raportnya di desa, karena ada kemungkinan temannya itu bisa diterima di SD YPJ. Maka, bagi Denias dan sebagian besar anak-anak Papua maupun anak-anak Indonesia dari pulau lain yang miskin, menjadi bagian integral Indonesia dan menjaga ‘nasionalisme kesatuan pulau-pulau’ tidak bisa serta-merta menjamin pendidikan dan kebahagiaan mereka.

Segala cerita tentang kemajuan yang dibawa rezim negara pascakolonial dengan proyek-proyek pembangunannya adalah keindahan khayali di dunia antah-berantah yang sangat susah untuk mereka rasakan. Sampai-sampai, Enos harus mencuri roti dari seorang ibu yang habis berbelanja di sebuah mini market. Sampai-sampai, Denias harus menyebut gambar sapi perah di papan reklame dengan sebutan “anjing besar” dan Enos menyangkalnya dengan menyebutnya “babi”. Perkataan Denias yang mengatakan gambar sapi tersebut sebagai “anjing besar” dan sangkalan Enos yang menyebutnya sebagai “babi” merupakan dua makna yang dianggit sineas berdasarkan empiri lokal mereka berdua. Mereka selama ini tidak pernah mengenal sapi, jenis hewan ternak yang tidak lazim dalam kehidupan suku-suku pedalaman Papua. Cara mereka menyebut sapi perah sebagai anjing besar dan babi menandakan bahwa ada “jarak kultural-akademis” yang begitu jauh antara anak-anak Papua dan anak-anak di pulau lain. Adegan tersebut—meskipun bersifat jenaka—juga menunjukkan “kegagapan” anak-anak dan masyarakat Papua ketika harus menanggapi kehadiran metafor modern dalam bentuk yang paling sederhana—gambar sapi perah—dengan pengetahuan lokal mereka.

Semua representasi tersebut, menurut saya, juga menjadi kritik terhadap persoalan Indonesia pascakolonial; dari awal kemerdekaan hingga saat ini. Program pembangunan, nyatanya, belum mampu menyentuh sebagian besar anak-anak miskin yang masih bergelut dengan permasalahan dasar, dari masalah pangan hingga pendidikan. Namun, sineas DSDAA, tidak memaksudkan kritik tersebut sebagai penolakan subjek anak-anak Papua terhadap NKRI. Denias tidak membuang atau membakar peta kardus, tetapi menjadikannya selimut di tengah dinginnya malam. Paling tidak, peta tersebut masih memberinya “rasa nyaman” untuk menjaga harapan, meskipun ia sendiri belum tahu apakah esok harapan itu masih ada. Segala permasalahan yang dialami anak-anak Papua memang menghadirkan ketidakpuasan, namun itu semua tidak harus menjadikan mereka melawan keutuhan NKRI sebagai entitas negara—seperti yang dilakukan, misalnya, oleh gerakan OPM.

Keesokan harinya, ia datang ke rumah Bu Gembala dengan berpura-pura mencari Enos. Dengan begitu sabar dan penuh kasih sayang Bu Gembala mempersilahkannya masuk. Apa yang ditunjukkan Bu Gembala merupakan bentuk ajaran Kristiani yang menekankan kasih sayang dan pencerahan kepada subjek-subjek yang perlu dicerahkan, sepertihalnya yang ditunjukkan oleh para anggota Misionaris maupun Zending yang masuk ke wilayah pedalaman di zaman kolonial untuk “meng-agama-kan” masyarakat yang dianggap belum beragama. Namun, dalam sosok Bu Gembala, titik-tekannya adalah pada misi pendidikan. Untuk menguji kemampuan akademiknya, ia menyuruh Denias menulis. Denias menulis tentang impiannya untuk berpendidikan, seperti yang pernah disarankan oleh Mama, Pak Guru, dan Maleo sewaktu masih di desa. Bu Gembala begitu kagum membaca tulisan itu. Lalu, ia memintanya mandi. Di kamar mandi inilah, sekali lagi, terjadi adegan lucu yang menampilkan kembali makna ke-primitif-an Denias yang harus memasuki norma modern dalam hal kebersihan. Oleh Bu Gembala, Denias disuruh untuk menggosok gigi.

Yang menarik adalah perbedaan posisi visual  antara Bu Gembala dan Denias. Sebagai subjek modern, ia mengamati tingkah Denias di depan cermin kamar mandi yang hanya memegang sikat gigi dan bingung untuk menggunakannya. Dengan berkacak-pinggang dan bersandar di pintu, meskipun tidak bermaksud memarahi, ia meminta Denias untuk memasukkan sikat dan menggosok giginya. Ketika Denias mulai memasukkan sikat gigi, ia dengan serius mengamatinya. Dia tertawa kecil ketika melihat Denias mengunyah pasta gigi, seperti mengunyah permen. Sebelum meninggalkan Denias sendirian, Bu Gembala, sekali lagi, memberitahu Denias untuk menyikat giginya. Denias berusaha menyikat gigi, meskipun akhirnya ia tetap mengunyahnya sampai tertelan.

Dalam penandaan tersebut, Bu Gembala diposisikan sebagai otoritas yang berhak mengarahkan Denias ke dalam tradisi hidup sehat dengan menggosok gigi. Sebagai subjek yang terlebih dahulu mengenal tradisi sikat gigi, dia mengamati dengan teliti apa-apa yang dilakukan Denias sebagai liyan yang perlu di-disiplin-kan ke dalam praktik hidup sehat. Tertawanya Bu Gembala karena melihat tingkah lucu Denias, menghadirkan repetisi cara berpikir subjek-subjek Indonesia modern dalam memandang kebiasaan warga suku pedalaman sebagai keanehan dan kejenakaan yang harus ditertawakan terlebih dahulu sebelum akhirnya didisiplinkan. Sementara, bagi Denias, sebagai subjek yang dipandang dan diarahkan, adegan tersebut menandakan masuknya ia ke dalam budaya modern di mana kebersihan badan dan gigi menjadi salah satu penandanya. Di sinilah kembali muncul stereotipisasi ke-primitif-an yang dipertentangkan secara biner dengan ke-modern-an. Sepintar apapun Denias dalam hal pendidikan, dia masih belum bisa keluar sepenuhnya dari ke-primitif-annya dan juga belum bisa sepenuhnya memasuki modernitas karena masih bermasalah dengan aspek kebersihan hidup. Oleh karena itu, Denias dan banyak anak-anak Papua lainnya, masih perlu diajari dan dibimbing agar bisa menjalani kebiasaan hidup di ruang modern.

Maka, penghadiran Bu Gembala dalam adegan ini—dengan arahan-arahannya kepada Denias untuk membersihkan badan dan menggosok gigi—adalah rezim kebenaran dari pengetahuan modern yang me-liyan-kan subjek masyarakat pedalaman dan tradisi hidup mereka yang dianggap tidak sehat. Bagi, Denias sendiri, selain sebagai upaya agar bisa diterima di sekolah, kemauannya untuk mandi dan menggosok gigi seperti yang disarankan Bu Gembala merupakan—meminjam terma Foucauldian—sebuah “fase transformatif tubuh”, di mana ia berusaha menyesuaikan ke-tubuh-annya dengan tradisi modern dalam hal kebersihan dan kesehatan agar bisa memasuki pola hidup modern. Hibriditas dalam orientasi pikiran yang selama ini lebih menguatkan impian menjadi modern melalui pendidikan semakin dilengkapi dengan praktik modern dalam hal kebersihan dan kesehatan tubuh.

Setelah melihat hal-hal positif yang diperlihatkan Denias, dari kemampuan menulis dan membaca serta kemauannya untuk membersihkan tubuh, dalam beberapa kali rapat Bu Gembala berusaha meyakinkan pengurus dewan guru dan pengurus yayasan agar mau menerima Denias sebagai murid di SD YPJ. Dalam sebuah percakapan muncul pertentangan antara dua faksi. Faksi pertama menentang diterimanya Denias di SD YPJ. Faksi ini diwakili oleh Bu Guru asli Papua (selanjutnya disingkat BGP) yang beralasan “khawatir terhadap peraturan adat” dan Kepala Sekolah (selanjutnya disingkat KS) yang memosisikan Denias “hanyalah gelandangan yang tidak sengaja ditemukan”. Sementara, faksi kedua diwakili oleh Bu Gembala yang bersikeras agar Denias bisa diterima di SD YPJ. Penghadirkan subjek BGP dengan wacana kekhawatiraanya terhadap peraturan adat menunjukkan bahwa dalam kemodernan pola pikir yang berkembang dalam subjek-subjek lokal-hibrid masih saja mengendap pola pikir tradisional yang bisa menghalangi perkembangan modernitas lebih lanjut dalam masyarakat. Sekilas tampak bahwa otoritas tradisional masih cukup efektif untuk membendung meluasnya pengaruh modern di wilayah lokal dengan adanya kesempatan bersekolah bagi semua anak-anak, tanpa memandang status sosial dan ekonomi mereka.

Namun, apa yang menarik dicermati dari perdebatan di atas adalah posisi ambivalen dalam menanggapi permasalahan Denias. Bagaimanapun juga dewan guru dan KS adalah aparatus pendidikan yang secara institusional berada dalam naungan PT. Freeport Indonesia—sebuah bentuk filantropisme korporasi yang diwujudkan melalui program “tanggung jawab sosial perusahaan”. Untuk mendukung aktivitas pertambangannya, PT. Freeport pada masa Orde Baru dan berlanjut hingga saat ini, tidak hanya mengandalkan dukungan rezim negara, utamannya aparat keamanan, tetapi juga ‘mengambil hati’ para ketua suku di Papua dengan memberikan fasilitas keuangan maupun fasilitas pelayanan umum seperti pendidikan dan kesehatan.[3] SD YPJ adalah salah satu fasilitas yang diberikan oleh perusahaan ini. Dengan pendekatan filantropis kepada para pemuka adat itulah, perusahaan ini bisa mendapatkan jaminan untuk melakukan eksplorasi tembaga dan emas. Namun demikian, keberadaan SD tersebut, sesuai dengan peraturan adat, hanya menerima anak-anak pemuka adat atau anak-anak dari suku setempat, bukan anak-anak dari luar suku seperti Denias dan Enos; proses pe-liyan-an terhadap subjek lokal-hibrid yang berasal dari kelas-bawah dan secara geografis berada jauh di wilayah pedalaman.

Ketika SD YPJ menerima Denias sebagai murid, itu berarti institusi tersebut sudah melanggar peraturan adat yang telah disepakati. Pelanggaran itulah yang dikhawatirkan BGP akan membuat para pemuka adat marah dan bisa mengganggu hubungan baik antara perusahaan dengan para pemuka adat serta akan berimbas pada gangguan terhadap aktivitas pertambangan. Sementara, bagi BGP sendiri, gangguan terhadap perusahaan akan berdampak pada kemapanan ekonomi yang selama ini ia nikmati sebagai pengajar yang digaji oleh perusahaan. Dengan demikian, mobilisasi makna-makna tradisionalisme dalam konteks masyarakat hibrid bisa saja dimanfaatkan untuk memasukkan kepentingan individu atau institusi modal. Lebih jauh lagi, pihak pemodal tidak perlu hadir untuk menjaga kepentingan mereka secara langsung, tetapi cukup melalui subjek-subjek lokal-hibrid yang berada dalam naungan mereka.

Kehadiran Denias sebagai subjek yang ingin berpendidikan ternyata tidak hanya memunculkan perdebatan seputar peraturan adat di kalangan para pendidik, tetapi juga wacana idealisme pendidik yang dimunculkan melalui subjek Bu Gembala. Wacana itu muncul ketika ia meng-counter pendapat KS terkait persoalan Denias sebagai gelandangan dan sekaligus bersebrangan dengan pendapat BGP. Sebagai subjek perantara yang mengetahui sejarah perjuangan Denias agar bisa sampai ke Kuala Kencana dan berharap bisa diterima sebagai murid di SD YPJ, ia sedikit marah dengan pernyataan KS. Semangat sebagai pendidik modern ia tunjukkan dengan mengatakan bahwa kaum gelandangan tidak akan pernah ada ketika ada individu-individu yang berempati—membantu, memberi, dan mengajar—kepada mereka. Dalam idealisasinya, sekolah dan para pendidik mestinya mau dan mampu menampung dan membimbing anak-anak berpotensi namun terbatas secara ekonomi seperti Denias, bukannya melabeli mereka dengan istilah gelandangan yang sekaligus me-liyan-kan mereka dalam formasi pendidikan modern.

Bahkan, untuk mempertahankan pendapatnya, Bu Gembala berani melampaui batas-batas normatifnya sebagai seorang guru yang harus menghormati KS dan rekan sejawatnya dengan mengatakan bahwa di institusi itu tidak ada invididu yang mau berempati terhadap keinginan berpendidikan seorang anak.  Artinya, para guru telah mengalami disorientasi ideologi pengabdian untuk mendidik dengan tidak mau memberikan perlakuan sama kepada Denias yang benar-benar ingin sekolah hanya karena ia dianggap gelandangan. Perkataan tersebut sekaligus merupakan “pernyataan politis” terkait keburukan sikap dan perilaku tenaga pendidik yang semestinya, dalam kondisi apapun, mau membuka tangan untuk menerima calon murid yang dengan sungguh-sungguh dan penuh perjuangan ingin bersekolah, bukannya takut terhadap peraturan adat atau melabeli mereka sebagai liyan.

Posisi melawan rezim kebenaran yang telah disepakati oleh pihak sekolah dan Yayasan juga ia tunjukkan secara terbuka ketika menghadiri rapat dengan pihak Yayasan. Dalam rapat itu hadir pula Ketua Adat dan pengurus Yayasan lainnya. Sementara, Ketua Adat mengatakan bahwa SD YPJ diperuntukkan hanya untuk anak-anak dari suku-suku di sekitar sekolah itu, Bu Gembala mengharapkan peraturan adat lebih lentur agar bisa bermanfaat bagi banyak orang. Sebagai penandaan mitis, pendapat keras Ketua Adat menunjukkan “eksklusivitas suku-suku di Papua” yang sampai saat ini masih berlangsung. Masing-masing suku di Papua memiliki partikularitas, baik dalam hal budaya maupun kekuasaan politik otonom yang tidak bisa diganggu oleh suku-suku lain. Partikularitas itulah yang memunculkan hak istimewa berdasarkan wilayah geografis kesukuan sehingga ancaman sekecil apapun dari salah satu suku kepada suku lain bisa memunculkan perang antarsuku.[4] Kehadiran Denias yang berasal dari suku di pedalaman yang sangat jauh bagi Ketua Adat dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap konsensus yang telah disepakati para pemuka suku dengan Freeport. Ekslusivitas ini, di satu sisi, bisa menghambat usaha-usaha untuk memajukan masyarakat Papua. Namun, di sisi lain, eksklusivitas tersebut bisa menguntungkan institusi pemodal internasional, seperti PT. Freeport, karena suku-suku tidak bisa bersatu untuk meningkatkan daya-tawar dan perlawanan mereka terhadap perusahaan tersebut.[5]

Menurut cara pandang pendidik modern dari luar Papua, seperti Bu Gembala, eksklusivitas tersebut tidak bisa memajukan kehidupan anak-anak dan masyarakat Papua serta memunculkan ketidakadilan yang disebabkan oleh subjek lokal itu sendiri. Dalam pandangan awalnya, ketika ia baru saja menginjakkan kaki di bumi Papua, ketidakadilan yang dialami oleh masyarakat lebih disebabkan oleh perilaku orang-orang dari luar pulau itu. Namun, setelah mendengar kengototan Ketua Adat, ia mulai menilai ketidakadilan tersebut juga disebabkan oleh warga pribumi sendiri. Meskipun berharap penilaiannya salah, Bu Gembala merupakan representasi subjek pascakolonial non-Papua yang memandang negatif otoritas kesukuan.

Sebagai subjek perantara yang ingin melihat anak-anak bisa mengenyam pendidikan modern, Bu Gembala berani beradu argumen dengan—bahkan  mencemooh—para pemuka adat yang ia anggap telah berbuat tidak adil. Dengan penandaan yang memosisikan Ketua Adat sebagai penghalang kemajuan anak-anak Papua dan Bu Gembala sebagai pejuang yang mendobrak aturan adat, film ini berusaha mengalihkan asumsi umum terkait rezim negara maupun pemodal tambang internasional yang menyebabkan penderitaan hidup dan ketertinggalan masyarakat Papua. Nyatanya, masyarakat Papua sendiri bisa berbuat tidak adil terhadap sesamanya. Lebih dari itu, penandaan tersebut juga merepresentasikan ketidakmampuan subjek-subjek lokal-hibrid Papua di wilayah perkotaan untuk menyelesaikan permasalahan dan mengelola kekuatan yang mereka miliki, sehingga tetap membutuhkan subjek-subjek dari luar yang lebih berpikiran maju.

Apa yang menarik dari perdebatan di atas adalah bahwa dalam hibriditas masyarakat lokal sendiri dengan latar kepentingan individual dan korporasi berlangsung ambivalensi berlapis. Ambivalensi kultural yang oleh Bhabha dikonseptualisasikan bisa menghadirkan subjektivitas hibrid yang bersiasat, ternyata di tangan sineas film ini dimaknai sebagai awal munculnya ambivalensi berlapis yang bertujuan me-liyan-kan sesama subjek lokal dari kelas bawah demi kepentingan elit-elit lokal-hibrid—dewan adat, BGP, dan KS—dan kekuatan modal yang menaungi mereka. Di satu sisi, mereka sangat menyadari pentingnya proses menjadi modern yang sesuai dengan cita-cita NKRI, pada umumnya, dan janji pendidik, pada khususnya. Namun, ketika kepentingan untuk mendidik dan me-modern-kan anak-anak tanpa memandang posisi sosial mereka dianggap bisa mengganggu kepentingan individual mereka dan juga elit-elit feodal, memobilisasi-kembali isu-isu kultural yang mengimplikasikan perbedaan kelas dalam struktur sosial masyarakat—sebuah pola pikir tradisional—merupakan pilihan ideologis. Dan, di balik pilihan itu adalah usaha untuk mengamankan kepentingan yang lebih luas dari para pemodal. Dengan kata lain, ketika subjektivitas lokal-hibrid berorientasi modern dalam hal pendidikan dan kemajuan hidup, tetapi berperilaku tradisional dalam memandang sesama, saat itulah kehadiran subjek non-Papua seperti Bu Gembala dibutuhkan dalam narasi. Dalam pemaknaan demikian, kehadiran subjek Bu Gembala yang membela Denias menunjukkan bahwa untuk memperjuangkan nasib subjek-subjek yang di-liyan-kan oleh elit-elit lokal-hibrid, masyarakat pedalaman masih membutuhkan perjuangan subjek-subjek modern dari luar yang berpandangan lebih demokratis dan manusiawi.

Ketika pihak Yayasan belum membuat keputusan soal nasibnya, Denias harus menghadapi masalah pelik lainnya, yakni kehadiran Noel yang sudah terlebih dahulu di terima di SD YPJ, karena dia anak KSB. Sama seperti di desa, Noel selalu mengganggu Denias dengan tingkah nakalnya. Kenakalan Noel dipicu oleh kedekatan Denias dengan Angel, salah satu murid perempuan di SD YPJ. Pertama-tama, Noel dibantu teman-temannya memukul Denias dan mengurungnya di dalam gudang barang sekolah. Selanjutnya, Noel menendangkan bola ke arah Denias dan membuatnya pingsan. Sebenarnya Denias tidak ikut bermain bola. Ia hanya berdiri di pinggir gawang sembari menyemangati Noel agar bisa memasukkan bola. Karena ketidaksukaannya, Noel menendang bola itu ke arah kepala Denias. Dengan penggambaran itu, kuasa tradisional—yang direpresentasikan melalui Noel—kembali  hadir menghalangi niatan Denias untuk bersekolah, ketika ia tengah berjuang melalui bantuan Bu Gembala untuk bisa diterima di SD YPJ.

Sementara, Angel, seorang anak perempuan dari luar Papua, bagi Denias, adalah seorang bidadari yang sekaligus menjadi subjek perantara karena ia selalu menyemangatinya untuk tetap berusaha menjadi murid di SD YPJ. Ia juga yang memberikan pertolongan ketika Denias dikurung di gudang oleh Noel dan kawan-kawannya. Bahkan, ketika Denias diuji oleh seorang guru sebagai salah satu prasyarat untuk bisa diterima di SD YPJ, dari luar ruang Angel menyemangatinya dengan tersenyum. Perlakuan Angel merupakan bentuk empati subjek murid dari luar Papua—sama seperti PGJ, Maleo, dan Bu Gembala—yang terus menghidupkan semangat dan impian Denias. Sekali lagi, kehadiran Angel, merupakan repetisi dari mobilisasi makna ideologis tentang uluran tangan dan perjuangan orang-orang dari luar Papua yang bisa membantu anak-anak suku pedalaman untuk mewujudkan impian mereka.

Di tengah-tengah kehadiran Bu Gembala yang selalu memperjuangkannya dan Angel yang selalu menyemangatinya, Denias harus menghadapi permasalahan yang lebih rumit. Ketika hendak makan di kantin asrama sekolah, Noel menjegal kaki Denias hingga jatuh, sampai makanannya tumpah. Noel kembali menantangnya berkelahi. Denias berusaha untuk tidak menggubrisnya, apalagi ia baru saja diperingatkan oleh Ibu Kepala Asrama untuk tidak berbuat macam-macam karena belum tentu diterima di asrama dan di sekolah. Namun, Noel tetap berusaha memukulnya. Untuk mempertahankan diri, Denias menangkis pukulan itu dengan piring. Akhirnya, beberapa jari Noel patah. Denias ketakutan, ketika Bu Gembala memanggilnya. Ia menduga ia akan mendapat peringatan keras. Padahal, sebenarnya, Bu Gembala akan menyampaikan surat dari pihak Yayasan perihal diterimanya ia di SD YPJ. Dalam keputusasaannya, di tengah hujan, Denias berdiri di lapangan sekolah sembari menghadap tiang bendera. Ia merasa semua harapannya untuk bersekolah sudah pupus.

Denias memandang bendera merah putih sembari bersedih di tengah mendung dan hujan dengan kamera bergerak memutarinya merupakan penandaan mitis yang menggambarkan suasana batinnya sekaligus sebuah bentuk gugatan terhadap keindonesiaan. Segala impiannya untuk berpendidikan modern yang ia yakini—sampai-sampai harus meninggalkan keluarga dan masyarakat sukunya—seakan sudah pupus, seiring dengan “Merah Putih yang tidak berkibar karena terkena hujan”. Mendung dan hujan adalah penggambaran batinnya yang dirundung kesedihan, karena janji-janji pendidikan yang dikampanyekan aparatus rezim, seperti PGJ, Maleo, maupun Bu Gembala, nyatanya tidak berpihak kepada kemiskinan dan ketidakberdayaannya. Merah Putih yang semestinya bisa mengangkat dan mengibarkan semangat hidupnya dalam suasana modern, ternyata tak berdaya dan harus kalah oleh kenakalan Noel dan ketatnya peraturan adat. Ia meninggalkan lapangan sekolah dan Merah Putih, karena ia merasa sudah tak perlu lagi berharap. Di pinggir kota, ia memandang matahari senja berwarna jingga. Sepertinya, ia harus memasuki fase kelabu dan mulai mengubur segala impiannya seperti senja yang sebentar lagi berganti malam.

Sementara Denias mulai mengubur impiannya, Bu Gembala berjuang keras mencarinya ke rumah kakaknya di Banti. Di sana ia tidak menemukannya. Ia menangis di perjalanan. Sekali lagi, repetisi perjuangan subjek dari luar Papua kembali dihadirkan melalui sosok Bu Gembala yang tak kenal lelah, meskipun ia harus menyetir sendiri mobil jeepnya melewati jalan tanah. Sebenarnya, Denias sudah mau memutuskan untuk kembali ke desanya, tetapi di perjalanan ia melihat mobil jeep Bu Gembala. Menjelang malam, ia menemui Bu Gembala yang baru saja datang dari mencari Denias. Denias meminta maaf kepada Bu Gembala karena telah berkelahi dengan Noel. Ia juga mengutarakan keputusannya untuk kembali ke desa. Mungkin itulah takdir yang harus ia hadapi sebagai subjek lokal-hibrid yang secara ekonomi dan kultural tidak berdaya, bahkan keindonesiaan yang ia pelihara dalam batinnya tidak bisa membantunya. Tidak lupa ia meminta maaf kepada, “Mama di surga, Pak Guru, dan Maleo”, karena tidak bisa melanjutkan sekolah. Namun, ketika Denias hendak melangkahkan kaki, Bu Gembala memberitahu kalau ia diterima di SD YPJ. Ia segera berlari dan memeluk Bu Gembala.

Diterimanya Denias sebagai murid menunjukkan adanya perubahan paradigma berpikir pihak Yayasan terkait peraturan adat. Artinya, mereka mau mengubah kekakuan peraturan adat yang selama ini membatasi keinginan bersekolah Denias dan anak-anak dari suku lain, seperti Enos. Dengan perubahan itu, para pengurus Yayasan, utamanya pemuka adat, berarti ikut mendukung cita-cita pendidikan anak-anak suku pedalaman Papua dan tidak mau dituduh sebagai pihak yang menghalangi impian kemajuan yang semestinya bisa dirasakan oleh semua rakyat. Namun, apa yang harus diingat adalah bahwa perubahan paradigma itu terjadi setelah Bu Gembala menuduh para pemuka adat ikut memberikan andil dalam menciptakan ketidakadilan. Bu Gembala, sesuai dengan namanya, merupakan representasi dari perjuangan untuk memberikan cinta-kasih dan pencerahan kepada semua manusia, tanpa memandang ras maupun status kelas. Sesuai dengan konsep Kristiani, Gembala adalah subjek otoritas agama yang mengasuh, mengarahkan, dan menunjukkan jalan terang bagi ‘para domba’, seperti Denias. Moralitas Kristiani, dengan demikian, hadir melalui sosok Bu Gembala yang sangat menyayangi dan memperjuangkan nasib Denias untuk mengenyam pendidikan modern yang layak. Namun, sekali lagi, Bu Gembala adalah salah satu aparatus pendidik yang berada dalam naungan institusi modal internasional.

Image result for denias senandung diatas awan

Denias dan seragam (http://www.indonesianfilmcenter.com/film/denias,-senandung-di-atas-awan.html)

Hari pertama ia akan masuk sekolah, di kamar asrama, Denias mengenakan seragam putih-merah dan topi. Setelah selesai mengenakan seragam, ia bersikap hormat sembari menyanyikan lagu Indonesia Raya. Adegan berlanjut ketika ia dan kawan-kawannya mengikuti upacara bendera, menghormat Merah Putih dan menyanyikan Indonesia Raya. Dengan mengenakan seragam putih-merah dan menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil memberi hormat, segala keraguan Denias untuk menjadi Indonesia hilang. Ia memang sempat mengenakan seragam putih-merah ketika Maleo memberikannya. Namun, ia tidak sempat menjadi Indonesia modern sepenuhnya karena ia dan kawan-kawan di desanya tidak bisa ‘merasakan sekolah’ secara layak. Ketika ia sudah diterima menjadi murid di SD YPJ, maka menjadi Indonesia tidak perlu lagi dipertanyakan dan diganggu-gugat. Ekspresi kegembiraannya ketika mengenakan seragam dan menyanyikan Indonesia Raya memperkuat konsep tersebut. Penegasan tentang nasionalisme Indonesia itu diperkuat lagi dengan ikutnya Denias dalam upacara bendera yang merupakan warisan militerisme untuk memperkuat kesadaran berbangsa dan bernegara dalam naungan NKRI. Maka, adegan-adegan tersebut merupakan proses penguatan-kembali nasionalisme Indonesia dalam pikiran dan batinnya sebagai warga negara yang sudah mendapatkan kesempatan untuk merasakan kemajuan melalui pendidikan; Denias menjadi subjek sepenuhnya dari formasi keindonesiaan modern.

Melalui penandaan di atas, tercapainya impian Denias untuk mengenyam pendidikan memang tidak bisa dilepaskan dari proyek menjadi Indonesia. Proyek-proyek individual yang melekat pada diri Denias bisa terwadahi bukan oleh budaya atau otoritas kesukuan. Sebaliknya, kekuatan suku lebih banyak menjadi penghalang dari impian untuk menjadi modern dari seorang individu. Meskipun tidak bisa melawan kuasa suku, bukan berarti Denias menyerah. Nasehat Mama, PGJ, dan Maleo tentang pentingnya pendidikan menjadi rezim kebenaran yang menggerakkan Denias keluar dari kesukuannya dan berjuang ke kota. NKRI-lah yang memberikan kesempatan untuk mewujudkan impian individualnya—meskipun sebelumnya ia sempat menggugat kebenarannya—dengan diterima sebagai murid di SD YPJ. Sudah sewajarnya kalau kemudian Denias, Enos, dan anak-anak Papua lainnya menghormat kepada bendera Merah Putih sembari menyanyikan Indonesia Raya. Dengan demikian, nasionalisme Indonesia muncul sebagai sebuah kemutlakan yang tidak perlu dipertanyakan lagi apalagi dilawan karena dengan menjadi dan mencintai NKRI itulah anak-anak dan masyarakat Papua bisa mewujudkan impian-impian individual dalam alam modern yang memajukan dan mensejahterakan.

Modernitas dan nasionalisme Indonesia di Papua: Kontribusi Freeport

Apa yang perlu dicatat adalah bahwa terwujudnya impian individual Denias untuk menjadi modern dalam semangat keindonesiaan tidak terlepas dari peran  Bu Gembala, KS, Dewan Guru, dan pihak Yayasan yang telah memperjuangkan dan memberikan izin kepadanya untuk bersekolah di SD YPJ. Artinya, semua perjuangan individual untuk berpendidikan modern dan penanaman nilai-nilai keindonesiaan secara ajeg masih membutuhkan bantuan institusi modal internasional. Makna penting institusi tersebut memang tidak dihadirkan dalam unit-unit naratif yang secara verbal menampilkan pihak pemodal, tetapi cukup melalui kehadiran subjek-subjek yang mendapatkan donasi finansial untuk menjalankan proyek-proyek kemanusiaan, modernitas, dan kebangsaan bernama pendidikan bagai anak-anak Papua, seperti Denias dan Enos. Dengan demikian, sineas DSDAA menggambarkan tercapaianya cita-cita menjadi modern subjek anak pedalaman Papua memang tidak bisa dilepaskan dari perjuangan individual untuk melampaui hambatan tradisi dan alam serta dorongan rezim negara, tetapi semua itu tidak akan terwujud ketika institusi modal internasional tidak mengulurkan tangannya. Nasionalisme Indonesia yang dilekatkan ke dalam impian menjadi modern dalam film ini, dengan demikian, bersifat lentur karena institusi modal internasional juga berkontribusi untuk memperkuatnya, sekaligus untuk mengamankan dan memapankan kepentingan-kepentingan strategisnya di wilayah pedalaman Indonesia.

Dari pembahasan di atas, saya melihat ada beberapa cara pandang dalam memosisikan makna-makna modernitas dalam dunia naratif film yang menceritakan subjek pedalaman. Pertama, menjadi modern bagi subjek pedalaman merupakan proses yang membutuhkan “perjalanan panjang” yang di dalamnya berlangsung perjuangan-perjuangan individual. Kedua, ketika makna modernitas menjadi orientasi ideal bagi seorang subjek lokal-hibrid, keberanian dan perjuangan individual akan menjadikannya keluar dari dan melawan otoritas tradisional yang membelenggu kebebasan. Ketiga, makna menjadi modern bagi subjek pedalaman merupakan proses untuk masuk ke dalam makna “menjadi Indonesia” di mana mereka dengan bantuan aparatus rezim negara akan mengalami pencerahan sekaligus keluar dari belenggu otoritas tradisional. Namun, proses menjadi Indonesia bukanlah proses yang mudah karena masih kuatnya otoritas tradisional, terbatasnya fasilitas, dan kuatnya resistensi terhadap proyek-proyek modernitas rezim negara. Keempat, hibriditas kultural di wilayah pedalaman cenderung memberikan keuntungan kepada elit-elit lokal-feudal dan elit-elit terdidik karena mereka bisa melakukan negosiasi dengan kekuatan-kekuatan dominan, sehingga dibutuhkan “pertolongan dan perjuangan” subjek perantara dari luar pedalaman yang bisa mewujudkan kesamarataan kesempatan untuk menjadi modern. Kelima, budaya modern dan makna-makna kebangsaan bisa terwujud ketika institusi modal memberikan kontribusi filantropisnya bagi proses tersebut sehingga masing-masing individu bisa merealisasikan impian modern mereka, asalkan mereka memiliki tekad, kemampuan, dan komitmen individual untuk memperjuangkannya.

Maka, film yang banyak diapresiasi karena menceritakan perjuangan anak-anak Papua untuk berpendidikan modern dan menyebarluaskan gagasan kebangsaan ini secara diskursif telah menghadirkan kontribusi Freeport sebagai institusi modal internasional yang merusak lingkungan ke dalam posisi strategis. Meskipun guru dari Jawa dan tentara pada awalnya ikut berkontribusi, tetapi pada akhirnya kerelaan sekolah yang didanai Freeport untuk menerima Denias adalah bukti diskursif betapa ‘mulia’ institusi AS ini bagi proyek modernitas dan kebangsaan Indonesia. Secara ideologis, sineas—dan juga pemodal—DSDAA jelas lebih memilih menarasikan kebaikan dan kemuliaan hati arapat negara dan Freeport, ketimbang harus mengekspos persoalan penindasan, pelanggaran HAM, marjinalisasi hak adat, dan perusakan lingkungan Papua secara sistematis dan terstruktur. Lebih dari itu, membincang nasionalisme Indonesia di Papua, sineas film ini dengan gamblang memang menjelaskan kontribusi aparat negara, tetapi semua kebanggaan akan bangsa itu tidak akan ada artinya ketika anak-anak bisa sekolah secara layak. Maka, sekolah yang didirikan dan didanai Freeport adalah institusi yang sejatinya ikut menyemaikan dan menumbuhkan nasionalisme Indonesia bagi anak-anak Papua. Inilah normalisasi ideologi yang membawa kepentingan Freeport sekaligus menyembunyikan semua keburukan mereka di tengah-tengah neo-kolonialisme Papua. Di sinilah kita bisa melihat ke mana sebenarnya sineas—dan pemodal—film ini berpihak.

Catatan akhir

[1] Pujian tersebut, misalnya, banyak diungkapkan dalam resensi terhadap film ini. Lihat, “Denias—Senandung di Atas Awan”, tersedia di: http://portal.sarapanpagi.org/entertainment/denias-senandung-di-atas-awan.html, diunduh 15 November 2011 dan “Denias, Senandung Diatas Awan, Ambisi Maju Bocah Papua”, tersedia di: http://www.kapanlagi.com/film/indonesia/denias-senandung-diatas-awan-ambisi-maju-bocah-papua.html, diunduh 21 November 2010.

[2] Saya mengetahui informasi nama SD ini dari seragam olah raga dan seragam putih-merah dari Angel, salah satu murid perempuan yang menjadi teman Denias. Saya melacak di Google tentang SD tersebut. Ternyata, SD YPJ Kuala Kencana merupakan salah satu dari dua sekolah dasar dan menengah pertama yang bernaung di bawah PT. Freeport Indonesia. Sekolah lainnya adalah YPJ Tembagapura. Ari Sihasale, produser film ini dan Janias, yang menginspirasi lahirnya film ini, adalah alumni dari YPJ Tembagapura. Sebagai tambahan, sebagian besar lokasi syuting film ini berada di wilayah kerja PT. Freeport Indonesia. Lihat, “Denias Senandung Di Atas Awan”, tersedia di: http://id.wikipedia.org/wiki/Denias,_Senandung_di_Atas_Awan, diunduh 13 Januari 2012.

[3] Pendekatan filantropis yang dilakukan PT. Freeport dilakukan dengan memberikan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) kepada Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK). Lembaga ini merupakan kumpulan tokoh Papua, pemimpin adat Amungme dan Kamoro, wakil pemerintah lokal, dan perwakilan Freeport. LPMAK bergerak dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Dalam bidang pendidikan, Freeport memberikan fasilitas beasiswa, pembangunan sekolah, maupun pendirian asrama bagi anak-anak Papua. Sementara, dalam bidang pendidikan mereka mendirikan rumah sakit serta melakukan program penanggulangan HIV/AIDS serta peningkatan kesehatan ibu dan anak. Adapun dalam bidang ekonomi titik tekannya pada program pengembangan ekonomi pesisir, pemberian fasilitas kredit lunak, pengembangan ekonomi masyarakat pegunungan, dan ketahanan pangan-gizi. Semua pendanaan program-program tersebut berasal dari dana CSR Freeport. Informasi ini bisa diakses dari situs resmi LPMAK: http://www.lpmak.org/

[4] Menurut Hendrajit, perang antar-suku memang sudah berlangsung secara turun-temurun dalam kehidupan masyarapat Papua dan Papua. Masing-masing suku dikenal sangat kuat dalam mempertahankan identitas kolektif kesukuan mereka, baik dalam konteks batas wilayah maupun urusan-urusan internal suku. Oleh sebab itu, sedikit saja gangguan dari pihak suku lain, bisa memantik terjadinya perang antarsuku. Sebagai contoh, di daerah Kwaki Lima, Timika, yang dekat dengan lokasi PT. Freeport Indonesia, terdapat tujuh suku yang masing-masing dikenal cukup keras dan sulit berkompromi. Dalam berbagai kesempatan mereka perang antar suku, padahal pemicunya selalu masalah-masalah kecil dan sepele, misalnya ketika ada salah satu pemuda dari salah satu suku menantang berkelahi pemuda lain yang berasal dari suku berbeda. Sehingga ketika hal itu terjadi, kemudian diartikan sebagai tantangan untuk salah satu suku untuk mengobarkan perang antar. Lihat, Hendrajit, “Perang Antar-Suku, Skenario Asing Lemahkan Akar Rumput Papua”, tersedia di http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=1707&type=99, diunduh 14 Januari 2011.

[5] Ibid.

Daftar bacaan

Barrington, Lowell W. 2006. “Nationalism & Independence”. Dalam Lowell W. Barrington. After Independence: Making and Protecting the Nation in Postcolonial and Postcommunist States. Michigan: The University of Michigan Press.

Barthes, Roland. 1983. Mythologies. New York: Hill and Wang.

Bhabha, Hommi K. 1994. The Location of Culture. London: Routledge.

Huggan, Graham. 2008. Interdisciplinary Measures: Literature and the Future of Postcolonial Studies. Liverpool: Liverpool University Press.

Human Rights Watch. 2009. “What Did I Do Wrong?”: Papuans in Merauke Face Abuses by Indonesian Special Forces. New York: Human Rights Watch.

Film

De Rantau, John. 2006. Denias, Senandung Di Atas Awan. Jakarta: Alenia Pictures.

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 151 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*