BOLO SREWU JARANAN BARONG: Gotong royong budaya dalam semangat Jemberan

IKWAN SETIAWAN

 

Download file versi PDF

Menghapus kekhawatiran

Sebuah gelaran yang melibatkan para seniman rakyat dalam jumlah banyak dan berasal dari jenis kesenian berbeda selalu membuat saya khawatir. Mengapa? Berdasarkan pengalaman ketika menangani pertunjukan multi-seniman, saya melihat adanya karakteristik masing-masing individu seniman dengan latar kesenian yang mereka geluti. Keunikan-keunikan itulah yang seringkali menjadi batasan atau penghalang untuk melakukan pertunjukan bersama. Alasan berikutnya adalah bayang-bayang sulitnya melakukan koordinasi antarseniman dan antarkelompok yang bisa menjadikan gelaran yang menyuguhkan sebuah formalitas tanpa kekuatan kreativitas. Maka, ketika kawan-kawan pengurus Dewan Kesenian Jember (DKJ) akan menggelar pertunjukan BOLO SREWU JARANAN BARONG (BSJB) dengan melibatkan seniman jaranan, barongsai, ta’-butha’an, musik patrol, dan tari sanggar, saya termasuk orang yang merasa “was-was”. Dengan ratusan seniman berlatar belakang berbeda, saya langsung dihampiri bayang-bayang kesulitan.yang akan mendera kawan-kawan DKJ. Apalagi persiapan dari gelaran ini hanya kurang lebih 3 minggu.

Namun, semua kekhawatiran tersebut sirna ketika saya menyaksikan atraksi-atraksi memukau dari para seniman jaranan, barongsai, can-macanan kaduk, musik patrol, ta’-butha’an, mamaca dan tari garapan sanggar. Diringi “deburan santun ombak” Pantai Payangan, para seniman mempersembahkan tenaga dan kemampuan kreatif mereka disaksikan penonton yang berjubel. Entah berapa ribu atau berapa ratus jumlah mereka. Tampilan demi tampilan para seniman mampu menyuguhkan atraksi kesenian rakyat yang masih ada di tengah-tengah masyarakat diasporik Jember. Meskipun menggunakan pasir pantai sebagai “panggung terbuka” yang tentu saja cukup membatasi kelincahan gerak, para penampil masih tetap menunjukkan kelincahan dan ketrengginasan dalam menyajikan kemampuan seni mereka.

Kolaborasi dalam makna yang lain

Secara estetika pertunjukan, memang konsep “kolaborasi” yang disuguhkan masih mengesankan “prinsip saling bergantian”. Ketika para pembarong selesai menampilkan atraksi, misalnya, segera disusul dengan para seniman barongsai. Tidak lama kemudian, para jathil perempuan menyuguhkan atraksi yang rancak. Artinya, konsep kolaborasi yang disuguhkan dalam BSJB memang bukan dalam bentuk formasi gerakan-gerakan tari baru yang berasal dari persinggungan dan pertemuan bermacam kesenian di Jember. Sederhananya, kolaborasi yang dihadirkan hanya ingin menunjukkan bahwa perbedaan di antara kesenian yang tampil tidak menghalangi mereka untuk bekerjasama dalam menyuguhkan keunggulan estetik masing-masing dalam satu rangkaian acara. Apakah memang sulit memformulasi sebuah garapan kolosal yang menghubungkan dan memadukan bermacam gerak tari dan musik? Tentu tidak. Kalau ada waktu yang cukup untuk mempertemukan para seniman dari bermacam latar kesenian, dengan arahan koreografer, sangat mungkin mereka bisa membaurkan beberapa gerakan tanpa kehilangan gerakan kesenian asal.

BS 20

Gambar 1. Para penampil dilihat dari Bukit Domba

Selain itu, semangat awal yang diusung oleh DKJ memang untuk menghadirkan keragaman kesenian Jember, khususnya jaranan dan barongsai yang dilengkapi dengan can-macanan kaduk, ta’-butha’an, patrol, mamaca, dan tari garapan. Bahwa sudah puluhan tahun kesenian-kesenian rakyat—baik yang berbasis etnis Jawa, Madura, maupun China—tidak disentuh oleh Dinas terkait. Bahkan, orang-orang luar Jember tahunya di kota lembah ini hanya ada Jember Fashion Carnival. Seorang teman FB saya, asli Jember dan sekarang bermukim di Bali, bahkan mengatakan, “Apa itu kesenian Jember, Mas? Kok aku nggak pernah lihat ya?” Ini menunjukkan bahwa meskipun ada, kesenian –kesenian tersebut lebih banyak bermain dalam wilayah komunitas pendukung masing-masing. Sementara, untuk kegiatan yang bertujuan memperkenalkan kepada publik Jember ataupun kepada masyarakat di luar kabupaten ini, nyaris tidak ada. Kalaupun ada, biasanya dinas terkait akan menunjuk sanggar-sanggar tertentu langganan mereka, bukan kelompok seni rakyat yang sebenarnya.

BS 3

Gambar 2. Para pembarong selepas atraksi

Paling tidak, bagi DKJ sendiri, terselenggaranya acara ini akan menunjukkan betapa “olok-olok” pihak tertentu yang mengatakan institusi ini tidak akan bisa berbuat apa-apa bagi pengembangan kesenian dan kebudayaan Jember akhirnya menguap bersama angin. Dengan segala keterbatasan dana dan fasilitas, toh, kawan-kawan DKJ mampu melakukan koordinasi besar lintas-sektoral di mana ratusan seniman terlibat. Tentu ini bukan pekerjaan mudah karena para seniman tersebut memiliki orientasi dan idealisasi yang berbeda satu sama lain. Selain itu koordinasi dengan perangkat desa di Ambulu juga menegaskan betapa kapasitas kelembagaan DKJ berjalan. Itu semua bisa menjadi energi yang harus dilipatgandakan untuk program-program lainnya.

Bolo Srewu: Gotong royong dalam pluralitas budaya Jemberan

Bukan tanpa alasan ketika DKJ mengambil nama Bolo Srewu untuk pagelaran besar pertama lembaga ini. Bolo Srewu merupakan konsep arkaik Jawa untuk menyebut kelompok makhluk yang jumlahnya sangat banyak. Makanya, ada mantra Bolo Srewu yang berisi doa agar “seseorang seperti didampingi ribuan pasukan sehingga orang lain yang ingin menciderainya tidak akan mampu mewujudkan niatnya”. Apakah makna BSJB seperti itu? Menurut saya, dengan beberapa tafsir, DKJ sebenarnya berusaha menghadirkan makna kultural tersebut secara progresif ke dalam gelaran BSJB.

BS 15

Gambar 3. Ta-butha’an

Sebagaimana kita ketahui, Jember adalah sebuah ruang diasporik tempat tinggal bermacam manusia, komunitas etnis, budaya, dan kepentingan; dari zaman kolonial hingga saat ini. Dalam ruang sosio-kultural yang bergerak dinamis—meskipun batasan-batasan etnis/rasial di antara mereka masih bisa dirasakan—warga setiap komunitas mengisi dan menunjukkan eksistensi mereka secara ajeg di tengah-tengah geliat kehidupan modern. Dalam kondisi itulah para seniman mengisi narasi-narasi kehidupan masyarakat yang mengingatkan kembali mereka kepada “budaya ibu” para leluhur di tengah-tengah keberantaraan kultural. Reog, misalnya, mengisi kerinduan kultural warga Ambulu, Wuluhan, dan sekitarnya terhadap Ponorogo sebagai tanah kelahiran leluhur. Jaranan dinikmati oleh komunitas Jawa Mataraman, Panaragan, juga Madura di sekitar kota. Can-macanan kaduk bisa memberikan warna campur-aduk kultural yang dihidupkan oleh komunitas Madura. Mamaca masih ada di komunitas-komunitas Madura sebagai kesenian serapan dari tradisi macapat masyarakat Jawa. Komunitas Jawa Mataraman di Semboro dan sekitarnya juga masih memosisikan wayang kulit sebagai karakteristik kultural mereka, meskipun semakin jarang warga yang nanggap. Adapun barongsai sejak pasca Reformasi 1998 mulai menyemaikan-kembali gairah kultural komunitas China di Jember.

BS 6

Gambar 4. Barongsai

Beragam kesenian tersebut merupakan kekuatan kultural yang “sangat dahsyat” ketika para pelaku dan komunitas pendukungnya bisa mengembangkan keunikan masing-masing sekaligus memperkuat solidaritas intra-komunitas. Tentu ini bukan pekerjaan mudah, karena dominasi kesenian industrial adalah kenyataan yang tidak bisa dielakkan. Selain itu, ego-sektoral antar komunitas juga bukan persoalan sepele. Namun, perjalanan historis membuktikan bahwa manusia-manusia etnis di Jember—terlepas dari ada percikan-percikan konflik di antara mereka—mampu menghidupkan Jember. Begitupula dengan para pelaku seninya. Bahwa di tengah-tengah dominasi budaya modern dan ego-sektoral, para pelaku seni masih berkenan meluangkan waktu dan energi untuk menyampaikan pesan kepada khalayak luas; bahwa kesenian yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat masih hidup dan mau bergandeng tangan dalam kesempatan tertentu. Ketika mereka mau bertemu dan berkolaborasi untuk mempersembahkan sebuah pertunjukan, inilah kekuatan sejati dari bolo srewu; banyak dan tak terkalahkan. Artinya, di tengah-tengah hegemoni budaya pop-industrial, masyarakat Jember masih memiliki kekuatan kultural yang dibangun dari plualitas.

BS 8

Gambar 5. Para penari jathil

Semangat dan kerelaan para seniman untuk bertemu dalam sebuah pagelaran inilah yang saya sebut sebagai gotong royong budaya dalam semangat Jemberan. Gotong royong adalah sebuah nilai dan praktik positif dalam masyarakat lokal yang mempertemukan manusia dari bermacam latar-belakang. Dan, dalam hajatan ini para seniman bekerjasama satu sama lain untuk menunjukkan dan mengabarkan kepada khalayak luas—baik di Jember maupun di luar Jember—bahwa di wilayah ini masih ada dan terus mengada kesenian-kesenian berbasis etnisitas masing-masing, tetapi bisa bersama-sama untuk saling mendukung dalam sebuah hajatan. Rancak gerak barongan dan jathil bisa saling ‘sahut-menyahut’ dengan adegan jathilan dan can-macanan kaduk serta ta’-butha’an. Dinamisnya musik patrol bisa bergantian dengan lengkingan penembang mamaca yang mengiringi figur “Dewi” ketika mengiringi arena.

Gotong royong budaya dalam semangat Jemberan inilah yang menjadi salah satu kekuatan sosio-kultural di tengah-tengah keberbedaan etnisitas yang menjadi orientasi komunal masing-masing pelaku seni. Gotong royong budaya model inilah yang sesuai dengan semangat Jemberan di mana bukan hanya satu etnis atau orientasi kultural tertentu yang mendominasi, tetapi semua etnis juga ikut berkontribusi kepada kekayaan budaya di Jember. Budaya Jemberan memberikan kesempatan kepada semua kesenian, ritual, komunitas, sanggar, dan para seniman untuk meng-ada; bukan dikuasai oleh salah satu atau beberapa sanggar, komunitas, dan seniman yang dekat dengan institusi birokrasi.  Gotong royong budaya adalah sebuah kemauan untuk selalu bekerjasama dalam keberbedaan dengan tetap menekankan pada tujuan dan orientasi bersama yang berujung pada keberdayaan kultural, tanpa meninggalkan karakteristik komunitas.

Catatan simpulan

Ke depannya, kita tentu boleh—dan sudah seharusnya—berharap kepada DKJ bersama-sama dengan para seniman agar mampu memformulasi program-program pengembangan komunitas berdimensi komunal dan publik, tanpa mengabaikan keberdayaan komunitas sehingga kekuatan kesenian rakyat bisa terus hidup dan memberdayakan para anggotanya. Keberdayaan para anggota komunitas ini akan menentukan keberlangsungan sebuah kesenian di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, DKJ harus mau terus melakukan turba (turun ke bawah), berkomunikasi dan berdiskusi dengan para seniman, perangkat desa, camat, dan tokoh masyarakat agar program-program yang dilakukan benar-benar berdasarkan permasaahan dan potensi. DKJ sebagai institusi kesenian dan budaya juga harus mampu bernegosiasi dengan dinas atau birokrasi penentu kebijakan agar mau bekerjasama dalam mendesain pengembangan seni dan budaya, baik yang berdimensi pariwisata, industri, maupun penguatan kearifan lokal. Ketika DKJ punya program-program andalan, tetapi tidak bisa mempengaruhi dan meyakinkan dinas-dinas terkait, sangat mungkin kendala finansial akan muncul karena anggaran untuk lembaga ini masih banyak dikelola oleh dinas-dinas pemerintah.

Keberhasilan BSJB 2017 menunjukkan bahwa gotong royong budaya dalam semangat Jemberan sejatinya mampu menjadi energi dan perekat para pelaku kultural dan birokrasi dalam nuansa lentur. DKJ sebagai institusi perlu terus untuk memperkuat medan magnet-nya agar gotong royong budaya tersebut bisa diformulasikan ke dalam program-program yang beorientasi kepada pemberdayaan dan keberdayaan para seniman, komunitas seni, dan komunitas pendukung. Namun, DKJ juga harus mampu mendesain program yang bertujuan mengasah kreativitas pelaku dan memperkuat daya-hidup masing-masing komunitas. Komunitas pendukung, meskipun pasif, perlu terus diedukasi—baik secara formal maupun informal—untuk mau menggemari kesenian-kesenian rakyat yang masih hidup dalam ruang sosial mereka. Tanpa dukungan mereka, kesenian rakyat hanya akan mejadi kesenian-yang-sekedar-dipromosikan, tetapi tidak eksis di tengah-tengah masyarakat. Artinya, komunitas mereka hanya melayani acara-acara birokrat demi memenuhi pertanggungjawaban kepada atasan. Akhirnya, yakinlah bahwa bolo srewu adalah kenyataan yang tak terbantakan ketika para seniman, DKJ, dinas, komunitas pendukung, dan pihak-pihak lain bisa terus bekerjasama dalam semangat Jemberan.

Share This:

About Ikwan Setiawan 123 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*