Ambiguitas dan Kebebasan: Mengaktifkan Ruh Kritik Feminis Eksistensial

Tulisan ini hendak berselisih dengan bentuk analisa sastra feminis yang secara model hanya berhenti dalam ikhtiar pemaknaan, dan kategorisasi opresi pada perempuan yang secara tidak langsung justru menonaktifkan ruh perjuangan. Semangat feminisme eksistensial menjadi reduktif karena pada bagian temuan ataupun simpulan terkadang hanya diperlihatkan bentuk-bentuk opresi yang dialami tokoh perempuan. Problem tersebut sering kali hadir karena peneliti terkadang hanya ingin membuktikan secara deskriptif, definitif dan kategoris opresi apa saja yang berlangsung pada perempuan lalu mengikat hal tersebut dalam pemaknaan secara umum yang seolah menuntaskan tanggung jawab ‘analisis’. Artinya, sering kali analisa menjadi ‘mandul’ karena relasi yang terbangun hanya sampai pada tahap penentuan bentuk represi, tanpa memahami bahwa tujuan dari kritik tersebut adalah praxis atau satu totalitas sistem antara tindakan dan kerangka teoritik untuk melahirkan perjuangan. Kritik feminis dengan begitu baru bisa mendukung terjadinya perubahan sosial dengan cara menunjukan darimana perjuangan tersebut dapat dimulai. Kesetaraan muncul ketika lokus kekuasaan berhasil disubversi dan bukan hanya sekedar dipertontonkan letak luka-luka tersebut menganga. Maka tulisan ini secara epistemologis berusaha memetakan sejauh mana ruh dari kritik sastra feminis mampu menunjukkan celah perjuangan, lebih – lebih menawarkan model yang menerapkan ambiguitas atau cara unik manusia khususnya perempuan untuk merespon segala bentuk definisi the other pada diri agar mampu keluar dari dominasi. Sebagai sebuah ilustrasi, novel Pride and Prejudice (1813) karya Jane Austen akan digunakan sebagai objek material.

 

  • Simone de Beauvoir, Memahami Semangat Eksistensialisme

One is not born, but rather becomes, a woman. No biological, psychological, or economic fate determines the figure that the human female presents in society; it is civilization as a whole that produces this creature, intermediate between male and eunuch, which is described as feminine. Only the intervention of someone else can establish an individual as an Other. (Beauvoir, 1956:273)

Dalil tersebut mungkin adalah aforisma paling terkenal dari Simone de Beauvoir yang ingin memisahkan secara epistemik eksistensi perempuan secara biologis, psikologis dan ekonomi didalam dimensi sosial. Ikhtiar de Beauvoir adalah demi membongkar opresi, determinasi dan definisi kultural yang dijejalkan pada perempuan sebagai makhluk yang seolah secara esensial sudah selalu memiliki predestinasi. Artinya, perempuan sedari lahir sudah dibebani dengan tanggung jawab yang tidak bisa ditolak, seperti melayani laki-laki ataupun hal-hal lainnya. de Beauvoir ingin berselisih dengan katgeori ‘yang esensial’ dengan cara mengoposisikannya dengan ‘yang eksistensial’. Yang dimaksud dengan yang esensial adalah seolah manusia secara esensi memiliki bentuk tetap, deterministik, asli dan tak berubah sehingga kerangka eksistensialisme ingin mengatasi kondisi tersebut agar subjek mampu merebut kembali pilihan-pilihan hidup yang dibatasi secara kultural.

Perempuan, dalam kerangka eksistensial de Beauvoir, harus mampu mengaktifkan being dalam dirinya sebagai subjek yang bebas dan berkehendak tanpa harus selalu membutuhkan pengakuan secara sosial dari the other. Untuk menjelaskan mengapa perempuan seolah memerlukan ‘pengakuan’ dari yang liyan, the other, de Beauvoir kemudian meminjam konsep master-slave milik Hegel yang secara implisit hadir dalam setiap interaksi sosial dimana subjek dituntun secara kultural agar selalu memerlukan pengakuan, atau legitimasi the other supaya dapat menentukan kesadarannya (Tidd, 2004:16). Artinya, budak (slave) secara kesadaran memerlukan pengakuan dari tuannya (master) agar dia dapat diakui keberadaanya sebagai subjek yang ditundukkan, begitu pula tuan memerlukan pengakuan bahwa dirinya adalah tuan melalui relasi dirinya dengan budaknya. Konsep tersebut hendak menjelaskan bahwa terbentuknya kesadaran selalu dalam proses membandingkan antara individu satu dengan yang lain. Alhasil, subjek dan interaksi sosial selalu berjalan secara dialektis, dan konfliktual karena self dan the other sama – sama membutuhkan pengakuan, agar diri menjadi eksis atau ‘ada’ dimata sosial. Konsekuensi dari model tersebut adalah the other akhirnya berkontribusi mendefinisikan self secara esensial. Kerangka yang demikian memaksa subjek untuk selalu menerima dominasi kultural, maka Beauvoir ingin membatalkan kontrak kultural tersebut dengan mengkawinkan semangat feminisme dengan eksistensialisme.

Semangat eksistensialisme berlawanan dengan model tersebut karena subjek eksistensial ingin menolak segala bentuk-bentuk  esensial yang selalu ditawarkan oleh the other. Ditolak, karena hal tersebut akhirnya membungkam segala kemungkinan self untuk berbeda dari dimensi sosial. Semangat eksistensial analog dengan semangat keluar dari keterjebakan sebagai alienated labour[1], atau posisi dimana subjek menjadi akhirnya sadar bahwa dirinya bukanlah alat pemuas kebutuhan ataupun haus akan pengakuan the other. Hanya dengan begitu subjek mampu memahami dirinya dengan cara yang sama sekali baru.

Sebagai sebuah ilustrasi bentuk penolakan secara eksistensial, hal tersebut sangat mungkin bisa digambarkan dalam karya sastra melalui tokoh Elizabeth pada novel Pride and Prejudice (1813) karya Jane Austen. Elizabeth, tokoh sentral dalam novel tersebut, menyangkal bahwa tindakannya menolak lamaran Mr. Collins bertujuan untuk menggoda dan membuat penasaran bangsawan tersebut kepada dirinya. Sebaliknya, penolakan yang dilakukan Elizabeth adalah usaha meredefinisikan ulang bahwa tindakan wanita tidak selalu bisa diartikan menggoda, atau merelakan status sosialnya hanya sebagai objek seksual yang tidak rasional.

Your portion is unhappily so small that it will in all likelihood undo the effects of your loveliness and amiable qualifications. As I must therefore conclude that you are not serious in your rejection of me, I shall choose to attribute it to your wish of increasing my love by suspense, according to the usual practice of elegant females.” “I do assure you, sir, that I have no pretensions whatever to that kind of elegance which consists in tormenting a respect able man. I would rather be paid the compliment of being believed sincere. I thank you again and again for the honour you have done me in your proposals, but to accept them is absolutely impossible. My feelings in every respect forbid it. Can I speak plainer? Do not consider me now as an elegant female, intending to plague you, but as a rational creature, speaking the truth from her heart.” (Austen, 2007: 57)

Klaim yang diberikan oleh Mr. Collins ditolak oleh Elizabeth sebagai sebuah bentuk afirmasi being yang menolak didominasi ataupun dilabeli secara kultural, bahwa akhirnya perempuan seolah-olah ‘normal’ jika direduksi eksistensinya hanya sebagai makhluk penggoda. Dengan kata lain, Elizabeth tidak ingin ditundukkan secara being yang hanya mampu diamati secara seksual, walau nyatanya pernyataan tersebut diperhalus ketika dianalogikan dengan elegant female. Elizabeth kemudian mendefinisikan ulang dirinya sebagai subjek rasional yang berkehendak dengan menyatakan apa yang ada dalam pikirannya secara terbuka. Perempuan dalam kerangka tersebut melakukan tindakan karena dirinya butuh aktualisasi diri dan bukan karena rela didefinisikan secara sosio-kultural. Ilustrasi tersebut dapat dijadikan acuan bahwa tidak ada prastruktur yang mapan dan esensial jika perempuan dan segala tindakannya harus selaludiasumsikan sebagai objek seksual yang menggoda.

 

  • Ambiguitas dan Kebebasan, Menolak Kategorisasi dan Situasi Objektif

The notion of ambiguity must not be confused with that of absurdity. To declare that existence is absurd is to deny that it can ever be given a meaning; to say that it is ambiguous is to assert that its meaning is never fixed, that it must be constantly won. (Beauvoir, 1948:4)

Ambiguitas menjadi konsep sentral karena dasein, manusia yang menafsir, dapat melakukan tindakan yang beragam dalam merespon fenomena ataupun ketidakberesan sosial. Ambiguitas, seperti pada sitiran diatas, dipertentangkan dengan absurditas, karena yang terakhir memiliki konsekuensi status bahwa seolah eksistensi menolak dan tidak pernah dapat diberi makna apapun, sedangkan yang pertama berarti eksistensi selalu dalam proses ‘menjadi’ dan ‘mengada’. Artinya, makna tersebut masih ada namun tidak bersifat mutlak ataupun tetap karena tidak bisa ditentukan secara pasti. Maka ambiguitas sepatutnya bisa dirayakan karena membuka makna-makna dan pilihan -pilihan baru. Hanya pada semangat ambiguitas maka perempuan menjadi merenungkan ulang posisi serta eksistensinya secara berjarak dengan realitas demi tujuan keluar dari keterjebakan dominasi. Ruang sosio-kultural tersebut kemudian dikonseptualisasi sebagai situasi oleh de Beauvoir.  Namun perlu dijadikan catatan bahwa yang dimaksud dengan situasi tidaklah sinonimus dengan kata konteks, melainkan situasi tertentu dimana subjektifitas kelompok secara historis diproduksi menjadi suatu objektifitas, atau kebenaran yang diyakini.

the situation of the class or the people under consideration is defined. In the present moment of the development of capitalism, the proletariat can not help wanting its elimination as a class. Subjectivity is re-absorbed into the objectivity of the given world. (Beauvoir, 1948:7)

de Beauvoir memberikan contoh bahwa sistem kelas tercipta bukan karena hal tersebut ada tanpa kepentingan, namun hal tersebut lahir karena dikreasikan oleh kumpulan subjektifitas kelompok kapitalis lalu diterima secara luas hingga diterima sebagai sebuah fakta objektif, dengan tujuan sistem kelas kemudian dapat dinyatakan sebagai suatu yang ‘lumrah’. Maka dapat dianalogikan pada contoh kasus perempuan pada umumnya sering kali dipandang sebagai makhluk yang mahir dalam spesifikasi tertentu, khususnya hal domestik, Hal tersebut tak lain adalah produksi kesadaran historis agar tercipta realitas yang ideal dan diterima secara luas sebagai situasi objektif. Padahal pernyataan tersebut sangat mungkin adalah definisi yang disematkan the other secara historis demi mereduksi ruang gerak perempuan menjadi sebatas gerak privat. Perempuan dengan begitu diajak untuk mengaktifkan kebebasan dengan melihat ambiguitas pada diri demi tercipta respon alternatif yang sangat mungkin berbeda dengan dimensi situasi objektifnya. Artinya, perempuan diajak untuk membongkar status privatnya agar mampu merebut ruang gerak yang lebih luas yaitu publik. Pada kondisi memahami situasi objektif tersebut perempuan baru dapat mengetahui bahwa ada ambiguitas pada self sebagai daya untuk menciptakan kemungkinan baru. Ambiguitas dapat dimaknai sebagai hilangnya segala bentuk determinasi kultural pada subjek untuk ditundukkan, atau dalam kerangka eksistensial dikenal sebagai irreducible character (Beauvoir, 1948:3).

Pemaknaan ataupun representasi baru dapat dituliskan secara etis ketika konsep ambiguitas dijadikan perkakas sentral untuk melihat situasi perempuan yang didominasi demi tumbuhnya alternatif perlawanan. Eksistensi menyatakan dirinya dengan mempertanyakan ulang segala dterminasi sosial sehingga segala hal menjadi ambigu. Proses tersebut membuka kemungkinan baru bagi diri untuk mengambil jarak kritis pada situasi objektif yang secara kultural merepresi. Artinya, mengaktifkan ambiguitas adalah cara mencari kebenaran bagi dirinya agar dapat mengaktualisasikan diri dan bukan malah merepresinya karena tidak sesuai dengan kode sosial.

Existence asserts itself as an absolute which must seek its justification within itself and not suppress itself, even though it may be lost by preserving itself. To attain his truth, man must not attempt to dispel the ambiguity of his being but, on the contrary, accept the task of realizing it. He rejoins himself only to the extent that he agrees to remain at a distance from himself. (de Beauvoir, 1948:4)

Status subjek perempuan tidaklah definitif secara sosio-kultural. Subjek yang rela didefinisikan secara kultural berarti mengekebiri pilihan – pilihan pada hidup dan merelakan diri untuk merepresi segala kemungkinan bagi dirinya. Menjadi ambigu adalah ketika makna ditangguhkan kebenarannya secara mutlak dan esensial, agar terjadi perjumpaan dengan makna baru dan pilihan-pilihan baru dalam hidup. Pada novel Pride and Prejudice (1813) perempuan dihadapkan pada kondisi bahwa mereka tidak memiliki kebebasan ekonomi maupun seksual dalam memilih pasangan hidup karena dalam situasi objektif yang serba ekonomi-patriarkis cara menyelematkan diri mereka dan keluarga satu-satunya hanyalah menikah dengan pria kaya. Namun nyatanya opresi kultural tidak selalu berjalan tanpa adanya bentuk resistensi, negosiasi dan strategi yang dimunculkan tiap karakter perempuan.

Elizabeth akhirnya lebih memilih Mr Darcy walau harus dengan cara ‘menguji’ cintanya dua kali. Yang menjadi penting akhirnyasecara semangat eksistensial bukanlah apakah Elizabeth akhirnya menikah atau tidak, namun posisi kritis Elizabeth yang sadar betul akan dikebiri pilihan – pilihan hidupnya  jika dia menikah dengan Mr Collins. Lokus kekuasaan secara ekonomi patriarkis dan kerja-kerja domestik dapat dipastikan akan menimpa Elizabeth jika dia memilih Mr. Collins sebagai suaminya. Memilih Mr Collins tentu saja adalah cara termudah menyelamatkan perekonomian keluarga Bennet. Namun konsekuensinya Elizabeth akhirnya harus menukar kebebasaan dirinya sebagai subjek yang berkehendak untuk selalu mau didisiplinkan dalam skema the other yang bukan dirinya. Pilihan yang ia jatuhkan akhirnya lebih kepada Mr. Darcy, bukan karena dia kaya tapi karena Elizabeth akhirnya tidak harus menukar tambahkan kebebasan dirinya untuk didefinisikan secara ekonomi, status sosial, ataupun diperlakukan  semata-mata sebagai objek seksual seperti yang akan dia terima jika dia menikah dengan Mr. Collins

She began now to comprehend that he was exactly the man who, in disposition and talents, would most suit her. His understanding and temper, though unlike her own, would have answered all her wishes. It was an union that must have been to the advantage of both; by her ease and liveliness, his mind might have been softened, his manners improved; and from his judgement, information, and knowledge of the world, she must have received benefit of greater importance.  But no such happy marriage could now teach the admiring multitude what connubial felicity really was. An union of a different tendency, and precluding the possibility of the other, was soon to be formed in their family. (Austen, 2007: 150)

Berbeda dengan adiknya yang bernama Lydia, Lydia akhirnya menikah bukan karena kesasadaran dirinya tengah berada pada posisi mengalami opresi, justru dia larut dalam dominasi kekerasan kultural sembari meyakini bahwa memang benar dirinya adalah objek seksual. Wickham yang menjadi suami Lydia menyadari hal tersebut dan menjadikannya sebuah peluang agar dia dapat menikah dengan Lydia yang cenderung lebih kaya darinya. Artinya, jalan ekonomi politik yang sesuai pada situasi objektif pada novel tersebut menjadi semakin mulus dipraktikan oleh Wickhamsebab Lidya secara tidak langsung mendukung hal tersebut dengan merelakan dirinya sebagai objek seksual, Lydia was Lydia still; untamed, unabashed, wild, noisy, and fearless (Austen, 2007: 152). Berbeda dengan Janet, dia digambarkan sebagai perempuan yang begitu patuh dan taat pada norma. Walaupun dia sempat  dicampakkan pada saat pesta dansa, toh Janet masih bisa menerima Mr Bingley sebagai pilihan hatinya. Sedari awal secara eksistensial, Janet memang selalu takut melawan, norma atau the other sehingga dia selalu pada posisi wanita yang begitu ‘saleh’ secara sosial. Hal ini terlihat ketika dia betul – betul membatinkan bahwa sebagai wanita tidak sepantasnya mengutarakan apa yang dirasakannya secara terbuka kepada Bingley (Austen, 2007: 100), khas gaya perempuan domestik yang begitu penurut.

Epilog, Mengaktifkan Pilihan

Feminisme eksistensial ingin berselisih dengan the other, atau segala sandi sosio kultural yang berusaha memberikan batasan-batasan pada gerak hidup. Subjek dalam kerangka eksistensial ingin menyatakan dirinya sebagai diri yang unik dan beragam dalam merespon situasi sosialnya. Eksistensial dengan begitu ingin mengartikulasikan dirinya dengan cara yang beragam. Dalam novel Pride and Prejudice ditampilkan kemampuan subjek perempuan untuk merespon diri dapat begitu beragam dan kadang tidak terbayangkan sebelumnya walau secara fakta sosial, fenomena kultural yang dihadapi sama. Elizabeth menolak hasrat seksualnya pada lelaki direduksi hanya sebagai pertukaran ekonomi yang dibungkus melalui institusi perkawinan, karena baginya tujuan pernikahan bukanlah hal tersebut melainkan bertemunya union of a different tendency, and precluding the possibility of the other. Sedangkan hal tersebut justru diiyakan oleh Lydia dengan cara membatinkan kode sosial tersbut dan merelakan dirinya sebagai objek seksual. Begitupula Janet, sang saudari paling tua, yang tampil sebagai perempuan penurut nan lugu khas karakter perempuan domestik pada umumnya.  Hal ini membuktikan adanya tindakan eksistensial yang begitu beragam dimana diri ditunjukkan ambiguitas pemaknaan dan tindakannya dalam memahami realitas sosial yang pada dasarnya serupa. Ambiguitas juga sekaligus membuka kemungkinan bahwa ada pilihan-pilihan yang bisa ditempuh agar tidak larut pada situasi yang dikehendaki the other secara mutlak. Artinya, subjek secara eksistensial diajak untuk mampu memahami dirinya lebih baik. Semangat feminisme eksistensial yang hadir pada Elizabeth menyarankan, bukan institusi pernikahan yang menjadi sarang terwujudnya opresi tapi subjek yang secara nyata tidak mampu bernegosiasi dan rela didefinsikan secara kulturallah yang meghambat aktualiasasi diri. Ambiguitas dengan begitu membantu diri untuk selalu mengambil jarak pada realitas seraya terus membuka kemungkinan alternatif atas pilihan-pilihan hidup.

 

DAFTAR PUSTAKA

Austen, Jane. 2007. Pride and Prejudice, The Pennsylvania State: University Sony Connect Inc. All rights reserved

de Beauvoir, Simone. 1956, The Second Sex, Jonathan Cape Thirty Bedford Square London: Great Britain, London

de Beauvoir, Simone. 1948. The Ethics Of Ambiguity, Published by Citadel Press, 120 Enterprise Ave.

Tidd, Ursula, 2004. Simone de Beauvoir, Routlegde: London

[1] Marx developed ideas such as the theory of ‘alienated labour’, whereby the worker loses the object of his/her labour to his/her employer who, in profiting from this labour, makes more capital and gains more power over the worker. (Tidd, 2004:18)

Share This:

About Ghanesya Murti 8 Articles
Mahasiswa pascasarjana Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga dan peneliti di Matatimoer Institute

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*