Hibriditas estetik jaranan: Strategi survival dalam ruang transformatif desa

IKWAN SETIAWAN

 

Pendahuluan

Jaranan menurut Claire Holt (2000: 125-128) merupakan jenis tari klasik Indonesia yang mengandung relasi magis dengan alam ruh (spirit) dalam bentuk kesurupan (trance). Dalam estetika pertunjukan yang terkesan monoton, ternyata jaranan mengandung nilai-nilai filosofis sebagai penanda dari kebudayaan agraris desa. Secara estetik kesenian jaranan sebenarnya mengambil inspirasi dari gerak dinamis komunitas kuda yang hidup di alam bebas yang mana pada zaman dulu dijadikan alat transportasi utama bagi masyarakat. Jaranan merupakan salah satu tari peninggalan zaman pra-kerajaan atau pra-Hindu yang mengedepankan refleksi dari satu kebulatan tekad kehidupan masyaakat yang berkaitan erat dengan adat-istiadat, kepercayaan, dan norma kehidupan secara turun-temurun.

Selama berabad-abad jaranan telah menjadi ikon seni rakyat yang terbukti mampu bertahan di tengah-tengah arus besar perubahan masyarakat, meskipun harus dengan tertatih-tatih. Ketika kesenian tradisional lainnya perlahan-lahan mati karena semakin ditinggalkan oleh partisipan pendukungnya, jaranan masih mampu bermain dalam ruang publik. Paling tidak ada beberapa alasan mengapa jaranan masih mampu survive dan eksis hingga saat ini. Pertama, adanya kedekatan antara gerak tari dan nilai-nilai yang ada dalam jaranan dengan kehidupan masyarakat (terutama masyarakat di pedesaan yang rata-rata masih ngugemi nilai-nilai tradisional). Kedua, adanya penambahan atau perubahan pada model estetika pertunjukan demi menyesuaikan dan menyiasati perubahan selera estetik publik desa yang semakin berkembang dewasa ini.

Di Kabupaten Jember, jaranan mampu berkembang menjadi salah satu bentuk kesenian yang turut menghidupkan nuansa multikultural masyarakat yang bercorak pandalungan. Sebagai kesenian yang berasal dari tradisi budaya Jawa, jaranan di Jember lebih banyak hidup dan berkembang di wilayah selatan, seperti Ambulu, Wuluhan, Balung, Puger, dan Umbulsari, tempat di mana komunitas etnik Jawa berdomisili. Di wilayah-wilayah ini, setiap ada pertunjukan jaranan, penonton selalu memenuhi sekitar lokasi pentas.

Tentu saja bukan sebuah pekerjaan mudah untuk menjadikan jaranan sebagai salah satu tontonan yang masih akan tetap digemari oleh masyarakat desa. Dalam jagat yang sudah sedemikian campuraduknya, desa sebagai basis kesenian jaranan juga mengalami transformasi nilai-nilai sosio-kultural yang cukup signifikan, terutama dalam hal selera estetik. Warga desa saat ini sudah terbiasa dengan budaya baru yang biasa disebut budaya audio-visual, dengan semaraknya televisi maupun persebaran VCD yang cukup murah untuk ukuran saat ini. Para pemegang modal melakukan infiltrasi budaya yang cukup intens di tengah-tengah kehidupan mereka sehingga. Beberapa kesenian tradisional terbukti punah dengan adanya perubahan selera estetik masyarakat desa tersebut. Untuk bisa survive dalam atmosfer yang sedemikian ketatnya para pegiat jaranan juga telah melakukan penambahan-penambahan dari segi estetik pada setiap pertunjukannya. Kalau di daerah lain muncul jaranan senterewe maupun jaranan campursari, ternyata, para pegiat jaranan di Jember juga melakukan hal serupa, namun dalam bingkai yang berbeda.

Image result for Jaranan Jember

Tulisan berikut merupakan hasil pengembangan analitis dari sebuah penelitian lapangan yang mengkaji penyiasatan-penyiasatan pakem yang dilakukan oleh para seniman jaranan Jember di tengah-tengah perubahan selera estetik masyarakat. Sebagai penelitian kualitatif, penelitian lapangan yang dilakukan penulis mengambil setting Kelompok Jaranan Turonggo Mulyo yang berlokasi di Desa Balung Wetan Kali Kecamatan Balung Kabupaten Jember. Sementara untuk pencarian informasi yang lebih komperhensif, penulis juga melakukan observasi dan wawancara di lokasi-lokasi pertunjukan, antara lain di beberapa desa di Kecamatan Rambipuji, Wuluhan, dan Balung sendiri. Sedangkan Turonggo Mulyo dipilih sebagai subjek kajian karena kelompok ini merupakan salah satu kelompok yang paling aktif menggelar pertunjukan jika dibandingkan kelompok jaranan lainnya.

Globalisasi, wong ndeso, dan transformasi selera estetik

Dalam jagat hari ini, desa merupakan ruang sosio-kultural yang tidak luput dari implikasi besar arus globalisasi.  Sebagai sebuah proses multidimensi, globalisasi diciptakan bagi terciptanya sebuah tatanan dunia yang tanpa batas (borderless), apakah itu batas ekonomi, sosial, politik, ataupun budaya/media, yang diwarnai dengan proses kesalinghubungan (interconnectedness) antarnegara dan antarbangsa di seluruh dunia. Dalam proses globalisasi, paling tidak akan muncul beberapa kecenderungan sebagai implikasi logis dari proses keterhubungan tersebut, yakni: (1) homogenisasi produk dan bentuk kultur sebagai bagian dari budaya global, (2) hegemoni budaya Barat terhadap budaya lokal yang ada di negara berkembang, (3) berlangsungnya imperialisme budaya yang menjadi praktik neo-kolonialisme oleh Barat, (4) berlangsungnya keberagaman praktik dan produk kultural di level lokal sebagai respons kreatif terhadap budaya global, semisal dalam bentuk budaya glokal yang memadukan budaya global dan lokal, dan praktik-praktik tersebut juga bisa berlangsung pada sistem dan praktik sosial, politik, dan ekonomi yang dalam negara berkembang (Edwards, 2007: 262-263; Stallings, 2007: 214; Kien, 2004: 473-477; Gills, 2002: 164-171; Banerjee, 2002: 519-520; Sparks, 2007: 145-147; Schuerkens, 2003: 218).

Alih-alih memperlihatkan keragaman dunia dengan tidak memberi batas, sejatinya, globalisasi tetap berpulang pada satu kepentingan poros kapitalisme pasar yang merasuk bukan hanya lewat pintu ekonomi, tetapi juga politik maupun sosio-kultural. Melalui tangan-tangan kreatif yang dipercepat oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, para pemilik kapital berusaha menciptakan ikon-ikon peradaban  yang direpresentasikan melalui media. Media dalam beragam bentuknya berhasil mengembangkan sebuah citra baru masyarakat dunia yang sepertinya sangat sempit. Berita-berita politik dari Palestina dan Israel setiap detik bisa diakses dari Indonesia, begitupula dengan konser-konser para diva pop dunia. Media dan industri budaya populer (popular culture) setali dua uang dalam menciptakan proses hegemoni  budaya terhadap negara-negara yang kurang memiliki kemampuan teknologi dan komunikasi, atau yang biasa disebut negara sedang berkembang. Hegemoni tersebut dalam perkembangannya tengah menjadi imperalisme budaya yang direpresentasikan oleh imperalisme media. Masuknya muatan asing dalam industri media dan industri budaya pop telah menjadikan apa-apa yang ada di negara sedang berkembang sebagai subordinat.

Dalam konteks itulah, dalam wilayah negara sedang berkembang seperti Indonesia, tengah terjadi penurunan kuantitas dan kualitas keragaman budaya yang dulu dimiliki. Di Indonesia proses tersebut, paling tidak, bisa ditelusuri semenjak berkuasanya rezim Orde Baru. Kebijakan untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi telah menyebabkan ketergantungan luar biasa kepada lembaga-lembaga ataupun negara-negara donor.  Ketergantungan inilah yang digunakan oleh negara-negara donor untuk membidik pasar baru bagi industri kapital mereka dengan cara ‘memaksa’ pemerintah Indonesia melunakkan kebijakannya untuk mau menerima produk budaya asing, termasuk film dan musik yang pada rezim Orde Lama dilarang masuk. Infiltrasi budaya yang menumpangi kepentingan investasi secara gradual berlangsung dengan sistematis.

Kondisi tersebut telah menciptakan kompetisi yang kurang berimbang antara budaya pop yang didukung oleh teknologi dan kebijakan yang memihak dengan kesenian rakyat yang hidup tanpa dukungan, baik media ataupun pemerintah. Para pengendali media melihat kesenian rakyat sebagai sesuatu yang kurang bisa menguntungkan secara finansial, sedangkan pemerintah melihat kearifan lokal dalam kesenian rakyat hanya sebagai ritual yang bagus ketika dipentaskan dalam seremoni-seremoni kebangsaan. Hal itulah yang menjadikan kesenian rakyat semakin terpinggirkan dan menjadi subordinat di tengah-tengah kampungnya sendiri.

Masuknya budaya pop yang didukung oleh industri media asing yang berkolaborasi dengan industri nasional dalam model investasi secara tidak langsung dan terus-menerus tengah menggeser keyakinan para warga desa terhadap kehebatan potensi kesenian rakyat yang lahir dari ‘rahim’ mereka sendiri. Televisi, radio, kaset maupun VCD tengah menjadi idola baru bagi wong ndeso untuk mengisi waktu senggang mereka. Dengan cukup duduk manis di depan televisi mereka bisa menikmati lenggokan penyanyi yang sedang berdendang ataupun pertikaian dalam sinetron.

Kenyataan berkurangnya keragaman kesenian rakyat sebagai efek globalisasi yang merembes hingga wilayah estetik wong ndeso. Arus besar budaya pop benar-benar mampu menggusur rancaknya irama tradisi yang sebenarnya merupakan representasi dari kehidupan sehari-hari mereka. Chris Barker (2004: 117) menyoroti dengan kritis proses homogenisasi budaya global yang berakibat hilangnya keragaman budaya di tingkatan masyarakat lokal sebagai berikut.

Tesis homogenisasi budaya menyatakan bahwa globalisasi kapitalisme konsumen menghilangkan keragaman budaya. Tesis ini menekankan pada pertumbuhan ‘kesamaan’ dan dugaan akan hilangnya otonomi budaya yang dikonsepsikan sebagai bentuk imperalisme budaya. Argumen ini berkisar antara dominasi suatu kebudayaan atas kebudayaan lain, yang biasanya disebut dalam konteks nasional.

Kritik Chris tersebut ada benarnya apabila dikomparasikan dengan kondisi tereduksinya keberagaman kesenian dan budaya lokal Indonesia di tengah-tengah masyarakatnya sendiri. Kontinuitas dan keseriusan para pemegang modal untuk masuk ke dalam industri media dan juga pemegang kebijakan telah mengakibatkan berubahnya selera estetik ataupun pola konsumsi wong ndeso terhadap produk mereka sendiri. Budi Sutiono (2003: 205) mengutip Hartley menegaskan:

Imposisi kekuatan media massa berakibat terjadinya penyeragaman pemikiran dan ekspresi, surutnya perbedaan-perbedaan, hilangnya bentuk ekspresi lokal. Bentuk-bentuk seni dan kerajinan dari desa yang dianggap rendah terus mengalami penghilangan akibat serangan gencar media dan barang-barang yang diproduksi massal. Kaum miskin secara ekonomis dan kultural menjadi konsumen ketimbang produsen atas hiburan dan wawasan budaya milik mereka.

Hilangnya ekspresi lokal serta kecenderungan menjadi konsumen atas hiburan dan wawasan budaya merupakan fakta yang tengah berlangsung dalam masyarakat desa saat ini. Wong ndeso cenderung menikmati kesenian industri dalam bentuk kaset atau VCD serta televisi dalam ruang-ruang relaksasi keluarga serta enggan untuk berlatih menghasilkan sebuah karya seni yang mengekspresikan kearifan lokal mereka. Mereka juga enggan untuk menyiapkan ratusan ribu untuk sekedar menanggap kesenian yang ada di lingkungannya. Dengan kata lain pragmatisme dalam selera estetik akibat serbuan budaya global serta bergesernya peran kesenian rakyat benar-benar tengah terjadi dewasa ini. Tentu ini semua tidak untuk disesali, karena wong ndeso memang tengah berada dalam lalu-lintas industri seni global serta lemah dalam hal mempertahankan keragaman budaya mereka.

Ketakutan-ketakutan terhadap dampak negatif globalisasi tidak seharusnya membuat para penggagas seni dan budaya di tingkat lokal untuk selalu berkreativitas serta menciptakan strategi-strategi yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan yang mereka hadapi. Di sinilah bisa dilihat kontekstualitas pemikiran Bhabha (1994) tentang hibriditas kultural yang melibatkan proses peniruan (mimicry) dalam ruang antara (in-between space). Dalam ruang ketiga, para seniman rakyat bisa melakukan proses adaptasi dan peniruan terhadap popularitas budaya pop industrial, tetapi tidak meniru sepenuhnya, melainkan meniru sebagian untuk dipadu dan dimodifikasi dengan kesenian lokal yang sudah ada. Ini merupakan sebuah bentuk strategis kedirian yang mampu melampaui batasan-batasan pakem sekaligus sebagai strategi survival yang memberi kesempatan kepada para seniman rakyat untuk terus menegosiasikan dan mensosialisasikan bentuk dan kekayaan kesenian mereka kepada masyarakat, utamanya masyarakat desa yang selama ini menjadi ruang kultural mereka. Hibriditas estetik (aesthetic hybridity) memang berlangsung, namun tidak sepenuhnya mengubah pakem yang selama ini diyakini sebagai rumus dari sebuah pertunjukan kesenian rakyat, termasuk jaranan. Para seniman rakyat memang sepertinya tidak bisa lagi mengelak dari proses hibriditas ini karena masyarakat desa sebagai penonton mereka selama ini juga sudah mengalami pergeseran orientasi kultural sebagai akibat masuknya budaya pop industrial dalam ruang kultural mereka.

Jaranan di Jember: Bertahan di tengah-tengah masalah yang menghimpit

Jember sebagai sebuah lanskap budaya merupakan wilayah yang mempunyai keragaman potensi seni budaya. Hal itu tidak lain disebabkan oleh ragam etnik yang menempati wilayah ini sejak zaman kolonial. Kepentingan pekebun kolonial Belanda akan tersedianya buruh yang relatif murah mengharuskan mereka untuk “mengimpor” penduduk dari wilayah Madura dan wilayah Jawa Mataraman. Kedatangan para buruh migran pada awal pertengahan abad ke-19 disikapi dengan “politik geografi dan demografi” ala pekebun kolonial. Orang Jawa ditempatkan di wilayah selatan Jember yang merupakan lahan potensial bagi pengembangan tembakau, tebu, padi, dan palawija. Sementara orang Madura menempati wilayah utara dan timur untuk menggarap lahan perkebunan kopi dan kakao. “Segregasi” semacam inilah yang pada akhirnya melahirkan usaha untuk menghidupkan kesenian tradisional yang dibawa dari wilayahnya masing-masing. Kuatnya ikatan dengan tradisi asal menyebabkan mereka membangkitkan kembali memori estetik kolektif tentang kesenian yang dulunya pernah mereka nikmati di kampung halaman.

Kesenian tradisional di Jember, dalam tulisan ini, dibedakan dalam beberapa kategori, yakni: kesenian tradisional Jawa, kesenian tradisional Madura, kesenian tradisional Tionghoa, kesenian tradisional Arab, kesenian tradisional Using, serta kesenian bernuansa religius. Kesenian tradisional Jawa yang berkembang di wilayah selatan Jember antara lain wayang kulit, kethoprak, ludruk, wayang wong (orang), jaranan, reog, macapat, dan campursari. Sedangkan kesenian yang berasal dari budaya Madura antara lain can-macanan kaduk, saronen, musik patrol, mamacah, lengger, dan topeng Madura. Etnis Tionghoa dengan iklim demokrasi yang semakin terbuka mulai mengembangkan barongsai dan liang-liong. Sementara etnis Arab tetap bertahan dengan pakem gambus yang semakin mendapatkan apresiasi dari publik non-Arab. Adapun kesenian Using yang berkembang adalah kendang kempul dan janger.

Kesenian Jawa pada zaman pra dan pasca kemerdekaan menemukan posisi strategisnya di wilayah selatan Jember, mulai dari Ambulu, Wuluhan, Balung, Kencong, Puger, Gumukmas, Kencong, Umbulsari, dan Semboro. Dinamika pertunjukan beragam kesenian Jawa di wilayah ini masih terekam dengan baik oleh Mbah Rahman, salah satu sesepuh jaranan di Balung.

Dulunya, wayang, kethoprak, wayang wong, sampai jaranan sangat ramai tanggapan. Lha wong katanya Bapak saya pada zaman Belanda saja para seniman itu jadi idola. Kalo ada pertunjukan, mesti para warga berbondong-bondong. Kebetulan Bapak saya dulu ya pemain ludruk, ya ketoprak, ya jaranan, istilahnya merangkap. Wong ndeso zaman segitu, sangat senang disuruh nanggap atau nonton ludruk ataupun wayang. Zaman kemerdekan  tambah ramai lagi. Waktu itu saya masih kecil, tapi sudah dilatih njathil oleh Bapak. Bapak ingin saya menjadi jathil lanang. Zaman itu belum ada kesenian yang seperti sekarang, semua serba tradisional. Jadi, rakyatnya senang, senimannya ya makmur soalnya banyak tanggapan, terutama warga yang punya hajat. Nah, mulai tahun 70-an, kesenian tradisional Jawa tergeser. Lha, banyak kesenian modern seperti di tipi-tipi (pen. televisi) itu. Lha wong-wong ndeso sudah mulai berkurang semangatnya untuk nanggap kesenian tradisional. Akhirnya banyak kesenian tradisional sing kukut (pen. gulung tikar).

Keterangan Mbah Rohman di atas, paling tidak, memberi informasi betapa kesenian tradisional Jawa pernah berkembang pesat di wilayah selatan Jember, bahkan ketika zaman kolonial. Dalam rentang waktu pra kemerdekaan hingga pasca kemerdekaan telah terjadi relasi sosiologis yang saling menguntungkan antara seniman (dan tentu karya seninya) dengan masyarakat sebagai penikmat. Masyarakat di satu sisi memperoleh pertunjukan estetis yang mampu memberikan pemahaman terhadap realitas kehidupan, sedangkan di sisi lain, seniman mampu bertahan untuk terus berkreasi dan berekspresi karena tidak ada lagi problem finansial.

Related image

Sementara kesenian Madura yang terkonsentrasi di wilayah utara Jember kemungkinan baru berkembang ketika masa pasca kemerdekaan, karena pada zaman kolonial masyarakat di sana disibukkan dengan kerja di perkebunan. Aktivitas di kebun menyita sebagian besar waktu para buruh, apalagi yang bekerja di kebun kopi ataupun kakao. Mereka cenderung menjadi penikmat. Bahkan semasa Agresi Militer Belanda II dimana wilayah perkebunan masih dikuasai para pekebun kolonial, para buruh kebun masih saja menjadi sekedar penonton dari pertunjukan yang berasal dari luar kebun. Seiring perkembangan masyarakat perkebunan yang serba teratur dan monoton dalam pekerjaannya, ruang-ruang untuk mengekspresikan keseniannya semakin berkurang bahkan hilang sama sekali. Hal tersebut bisa dilihat di wilayah-wilayah perkebunan di Jember sampai saat ini, di mana tidak ada kesenian tradisional khas Jawa dan Madura yang dihasilkan dari masyarakat perkebunan. Kalaupun ada, pasti berasal dari komunitas yang sudah jauh dari wilayah perkebunan.

Pada masa Orde Lama, ketika Bung Karno menerapkan kebijakan anti-budaya asing, maka kesenian rakyat benar-benar menjadi idola masyarakat, termasuk di Jember. Ketidakjelasan nasib kesenian tradisional di Jember, dimulai ketika Orde Baru menerapkan kebijakan pembangunan yang kapitalistik dengan pola ketergantungan pada negara donor. Percepatan pertumbuhan ekonomi serta penciptaan stabilitas keamanan telah mengakibatkan penegasian sektor-sektor kultural. Pemberdayaan kesenian tradisional hanya bersifat “seolah-olah” (pseudo), terutama melalui festival dan acara-acara resmi kenegaraan yang mana faktor senimannya sendiri kurang diberdayakan. Di samping itu, berkembangnya seni industri juga berperan menggusur posisi strategis kesenian tradisional di tengah-tengah komunitasnya sendiri.

Pada masa reformasi, ketidakjelasan nasib kesenian rakyat setali dua uang dengan masa Orba. Meskipun digembar-gemborkan sebagai masa pencerahan bagi segala aspek kehidupan bangsa, ternyata sampai saat ini program-program yang berkaitan dengan pemberdayaan kesenian masih terkesan meneruskan tradisi Orba, tidak ada perubahan yang signifikan. Para elit birokrasi maupun politisi lebih senang memikirkan bagaimana berbagi rezeki melalui keputusan-keputusan politis. Nasib seniman dengan keseniannya masih saja tidak beranjak dari kubangan. Satu yang harus dicatat adalah adanya kebebasan bagi etnis Tionghoa untuk mengekspresikan kekayaan budayannya. Di Jember misalnya, berdiri satu kelompok Barongsai dan Liang liong yang seringkali melakukan pertunjukan baik di wilayah Jember maupun di luar. Mereka tak lagi takut seperti yang mereka alami pada masa Orba.

1. Kompetisi dengan budaya pop industrial

Suasana yang kurang begitu kondusif seperti di atas telah menyebabkan keterpurukan banyak kesenian rakyat. Di Kecamatan Balung, misalnya, ludruk, ketoprak, dan wayang kulit tak bisa lagi ditemui sejak era 80-an. Menurut Heri Susanto, salah seorang praktisi seni di Balung, keterpurukan tersebut sebenarnya mulai tampak pada awal tahun 80-an dimana orang-orang desa sudah mengenal seni pop sebagai akibat popularitas budaya pop industrial yang banyak ditayangkan TVRI dan marak dijual dalam bentuk kaset (Wawancara, 3 September 2005).

Jaranan merupakan salah satu kesenian yang terkena imbas dari kondisi tersebut. Kala pada awal 90-an di beberapa wilayah selatan Jember, kesenian yang mengeksplorasi gerak dan energi trance ini masih tersebar merata, maka pada akhir 90-an kondisinya berbalik tajam. Jaranan nyaris hanya terkonsentrasi di wilayah kecamatan yang didiami oleh mayoritas etnis Jawa. Sementara di kecamatan lain yang secara demografis dihuni etnis Madura juga berkembang kesenian ini seperti di Panti, Pakusari, Sumbersari, dan Kaliwates. Meskipun intensitas pertunjukan mereka tidak seramai di wilayah selatan.

Sampai saat ini memang belum pernah ditemukan data historis tentang asal-muasal jaranan di wilayah Jember. Menurut Mbah Rohman, di Balung jaranan sudah mulai berkembang sejak migrasi orang tuanya yang berasal dari wilayah Surakarta (Wawancara, 3 September 2005). Pada awalnya kesenian jaranan yang dikembangkan mengambil gaya Jawa Tengah-an, kemudian dalam perkembangannya banyak menyerap unsur jaranan Banyuwangen karena ketua kelompok yang sekarang, Pak Bagong, menimba ilmu langsung dari seniman jaranan di Banyuwangi (Wawancara, 4 September 2005). Hal itu juga terjadi pada kelompok jaranan di Panti, Pakusari, Sumbersari. Dari keterangan beberapa senimannya, jaranan mereka lebih banyak mengambil gaya Banyuwangen yang diperjelas dengan penggunaan unsur gamelan Banyuwangi.

Di Kecamatan Balung, kesenian ini bisa dikatakan masih cukup digemari oleh masyarakat, meskipun dari 4 kelompok yang ada yang aktif tinggal 1 kelompok, yakni Kelompok Jaranan Turonggo Mulyo Desa Balung Wetan Kali Kecamatan Balung. Intensitas pertunjukan yang dilakukan kelompok ini bisa dikatakan cukup stabil, meskipun hanya dalam bulan-bulan tertentu.

 Tabel 1. Bulan Pertunjukan, Keperluan, dan Kuantitas

Bulan Pertunjukan Keperluan Kuantitas Pertunjukan
Mei-Juli Hajatan

(Khitanan dan Pernikahan)

 

4 X per bulan

Agustus-September Agustusan

(Peringatan Kemerdekaan RI)

 

3 x per bulan

Sumber: Diolah dari observasi dan wawancara

Dalam tradisi masyarakat Balung yang ditandai eksistensi kultur agraris dengan sentuhan perubahan akibat modernisasi, Jaranan masih dianggap sebagai sebuah pertunjukan yang patut digelar ketika ada acara hajatan atau selamatan—terutama bagi keluarga yang mampu secara ekonomi. Menurut keterangan Pak Bagong, Ketua Jaranan Turonggo Mulyo ada beberapa alasan kenapa masyarakat di Balung masih gemar nanggap kesenian ini.

Pada dasarnya orang-orang kampung itu masih suka hiburan, tapi ya itu, mereka memang sekarang sudah pintar memilih tontonan apa yang benar-benar bisa menghibur. Di samping itu, mereka juga memperhatikan faktor uang. Kalau terlalu mahal, ya mereka tidak kuat nanggap. Maka dari itu, jaranan masih lumayan digemari, karena di samping biayanya tidak mahal, ya karena benar-benar bisa memberikan hiburan kepada warga sekitar sehingga mereka akan berduyun-duyun untuk nonton. Juga karena mayoritas orang di sini itu Jawa, sehingga mereka masih suka nonton jaranan. Nah, kalau banyak orang yang datang, itu akan “membuat senang” yang punya hajatan, karena acaranya dilihat orang banyak.

Memang tidak bisa dielakkan—seperti dijelaskan dalam subbab sebelumnya—bahwa masyarakat desa saat ini tengah mengalami perubahan selera estetik, namun pertimbangan ekonomi dan akar tradisi juga menjadi alasan kenapa mereka memilih jaranan. Penghasilan dari bertani akan membuat mereka berpikir dua kali untuk nanggap kesenian berbiaya mahal, seperti dang dut, campursari, atau wayang kulit. Untuk mendatangkan pertunjukan campursari, misalnya mereka harus mengeluarkan biaya sebesar 2 juta-3 juta rupiah. Untuk pertunjukan wayang kulit dengan dalang Ki Timbul Lukito[1] dan Ki Eddy Siswanto[2], misalnya, mereka membutuhkan 3,5 – 5 juta rupiah. Sedangkan untuk mendatangkan Turonggo Mulyo, hanya dibutukan biaya antara 1 – 1,5 juta rupiah.  Dengan biaya 1 – 1,5 juta rupiah, shohibul hajat dan warga sekitarnya sudah mendapatkan suguhan yang atraktif dan menarik, mulai pukul 13.00 WIB – Maghrib dan mulai pukul 19.30 – 24.00 WIB.

Ketika kendang, terompet, kenong, dan gong ditabuh, maka sudah bisa dipastikan, anak-anak kecil, ibu-ibu, bapak-bapak, maupun para remaja akan segera berkumpul melingkar di tengah terik panas matahari untuk menyaksikan pertunjukan jaranan. Dengan tertib mereka menyaksikan atraksi yang disajikan para penari jathil, meskipun terkadang berteriak takut ketika para penari ada yang mendekati mereka. Ramainya penonton seirama dengan ramainya aktivitas para pedagang kaki lima yang menjajakan aneka penganan, mainan, dan buah-buahan. Pertunjukan jaranan telah mendatangkan berkah tersendiri bagi mereka. Semakin banyak anak-anak kecil yang menonton jaranan, maka semakin banyak pula rezeki yang akan mereka dapatkan.

Adalah kenyataan yang menarik menyaksikan ramainya penonton dalam pertunjukan jaranan, apalagi dengan hadirnya anak-anak dan remaja yang membaur dengan generasi tua. Sungguh sebuah pemandangan yang kontras tetapi menarik, anak-anak muda dengan pakaian model terkini (celana dan kaos kasual) dengan sesekali tersenyum serta bercanda dengan teman-temannya menikmati pertunjukan jaranan. Meskipun hanya menjadi penikmat pasif, minimal mengetahui bahwa kesenian jaranan masih layak ditonton. Bagi mereka, ketertarikan untuk datang ke pertunjukan jaranan lebih dikarenakan permainan atraktif para penari, terutama ketika adegan trance sehingga tidak membuat bosan dan njlimet. Zaenuri, siswa kelas 2 SMA Negeri 1 Balung, menuturkan kesukaannya terhadap jaranan sebagai berikut.

Kalau kesenian jaranan saya masih bisa menikmatinya, Mas. Karena tidak terlalu sulit dipahami dan tidak njlimet. Apalagi ada adegan kesurupan, wah itu menarik sekali buat saya. Tapi menurut saya harus ada perubahan dalam pertunjukan, kalo bisa harus mengikuti perkembangan zaman, biar tidak ditinggalkan penonton. Kalau hanya monoton sepeeti yang sudah-sudah, pasti akan ditinggalkan penonton. Apalagi kita-kita yang muda ini gampang sekali merasa jenuh.

Pendapat Zaenuri tersebut bukan sekedar omong-kosong ala anak muda zaman sekarang. Apa yang ia katakan tentang jaranan, paling tidak, mewakili apa yang ada dibenak generasi muda kampung yang tengah berlabuh dalam arus besar zaman bernama modernitas. Zaenuri dan juga remaja desa lainnya sudah tidak mungkin lagi menolak masuknya kesenian modern dalam ruang imaji dan ekspresif mereka sehingga ketika membicarakan konteks jaranan, yang muncul adalah kedinamisan ekspresif para penari yang tetap melekat dalam ruang bawah sadar. Memang terkesan adanya kebingungan jati diri para remaja desa dalam menentukan orientasi kulturalnya, tradisi atau modern, tetapi kalau diperhatikan lagi dari apa yang dikatakan Zaenuri, akan terlihat jelas bahwa kalaupun mereka masih suka melihat jaranan ada satu syarat mutlak: harus mengikuti  dengan perkembangan zaman.

Harus mengikuti perkembangan zaman menjadi rumus baru yang ‘wajib hukumnya’ bagi para pelaku kesenian tradisi, tidak hanya di Jember tetapi juga di daerah-daerah lain. ‘Dalil’ tersebut seperti sudah menjadi syarat bagi para seniman tradisi ketika mereka ingin keseniannya tetap eksis dalam arena kontestasi besar kebudayaan. Maka tidak heran kalau banyak pertunjukan wayang kulit kini menggunakan teknologi lampu, animasi, maupun penambahan campursari dan dang dut. Jaranan sebagai bagian dari proses perubahan yang tengah berlangsung, mau tidak mau juga harus menyesuaikan dengan gerak dinamis kebudayaan masyarakat.

2. Persaingan tidak sehat antarkelompok dan masalah regenerasi

Semakin tergusurnya ruang bagi pertunjukan kesenian tradisi oleh kesenian berbasis industri juga berimbas pada persaingan antarkelompok jaranan yang ada di Balung. Persaingan tersebut berlatar belakang rasa iri apabila salah satu kelompok sering mendapatkan tanggapan yang berarti semakin banyak rejeki (baca: penghasilan) diperoleh dan pamornya akan semakin meningkat. Hal itu berarti akan sedikit banyak ‘meminggirkan’ kelompok-kelompok jaranan lainnya. Hasrat untuk tetap eksis memang seringkali menghadirkan persaingan, bukan hanya ranah seni, tetapi dalam ranah-ranah kehidupan yang lain.

Jaranan

Memang persaingan merupakan fakta yang wajar dalam kelompok masyarakat dengan bidang garapan yang sama. Namun dalam konteks kesenian tradisi hal tersebut sangat disayangkan karena hanya akan melahirkan suasana yang tidak kondusif bagi perkembangannya. Suasana tidak kondusif lahir dari kompetisi beraroma magis yang cenderung bersifat destruktif dengan menggunakan kekuatan-kekuatan supranatural. Ada unsur adu kesaktian (kemampuan lebih dalam hal supranatural) dengan mengirimkan sesuatu yang bersifat magis serta mengganggu pertunjukan jaranan yang sedang berlangsung. Pengakuan Pak Bagong berikut menarik untuk dicermati.

Dulu pernah waktu pentas di Desa Balung Kulon, waktu para pemain sedang mengenakan kostum di ruang ganti, tiba-tiba ada bola api yang datang. Untungnya diketahui tukang gambuh, setelah berhasil ditangani bola api itu meledak sebelum mengenai sasaran. Lalu, waktu pentas di Desa Balung Lor, ketika penari celengean sedang menginjak-injak bara api, tiba-tiba kakinya terbakar dan melepuh. Padahal sebelumnya tidak pernah terjadi seperti itu. Kemudian waktu pentas di Ambulu, ketika adegan tari jathil putri, tiba-tiba para penarinya pingsan. Setelah diselidiki, ternyata ada seniman jaranan di sana yang merasa sakit hati dan tidak terima kami pentas di sana.

Kejadian di atas hanya sebagian kecil teror magis yang pernah diterima kelompok jaranan Turonggo Mulyo dan tidak menutup kemungkinan kelompok-kelompok lain yang masih aktif menggelar pertunjukan.

Permasalahan lain yang dihadapi oleh kebanyakan kelompok jaranan adalah regenerasi, terutama untuk penari.  Sebagai kesenian rakyat yang tidak pernah menjanjikan keuntungan secara finansial[3], kelompok jaranan saat ini kesulitan untuk merekrut para penari muda. Generasi muda desa rupa-rupanya sudah enggan atau bahkan malu untuk menggeluti kesenian asli nenek moyang ini. Mencari dan mendidik penari muda merupakan pekerjaan yang dirasakan sulit bagi sesepuh kelompok, sebagaimana dikemukakan Pak Tik, wiraswara pertunjukan Turonggo Mulyo berikut:

Anak muda zaman sekarang lebih senang bekerja di kota karena ikut jaranan itu tidak akan menghasilkan uang, cuma dapat senang. Lagipula, anak-anak muda sekarang banyak yang malu untuk ikut jaranan. Mereka lebih senang dengan kesenian jrang-jreng seperti yang di tipi-tipi dan CD itu.

Memang, rasa malu menjadi faktor utama kenapa anak-anak muda desa jarang bergabung dengan kelompok jaranan. Di Turonggo Mulyo, dari 30 anggotanya, hanya 10 anggotanya yang bisa dibilang anak muda, sedangkan 20 lainnya rata berusia di atas 35 tahun, itupun masih terbilang kerabat atau tetangga dekat. Kesenian jaranan dianggap sebagai warisan masa lampau yang cukup untuk ditonton, bukan untuk dilakoni. Kebiasaan untuk menikmati kesenian modern, seperti musik, telah melunturkan keyakinan mereka tentang sesuatu yang bersifat tradisi.

Meng-utak-atik pakem, membaca modernitas: Strategi seniman jaranan menghadapi perubahan selera estetik masyarakat

Pakem bagi para seniman tradisi merupakan sesuatu yang menjadi pedoman dalam beraksi di panggung. Seringkali pakem bagi mereka merupakan sesuatu yang tidak tertulis dan, secara oral, diwarisi secara turun-temurun dari para pendahulunya. Ayu Sutarto (2004: 5-7) menjelaskan:

Pakem dalam kesenian tradisional adalah aturan atau kaidah yang telah dibakukan oleh para pewaris aktifnya sehingga suatu produk kesenian dianggap baik dan benar apabila mengikutinya. Jika keluar dari pakem, maka produk tersebut dianggap sebagai produk yang buruk karena melanggar tatanan atau aturan yang menurut pendukungnya merupakan suatu keharusan. Pakem dianggap inti pertunjukan yang terlahir dari sebuah perjalanan kreatif yang melibatkan pengalaman kultural-historis para kreatornya.

Menghadapi kehadiran kesenian modern di wilayah desa para seniman rakyat, suka atau tidak suka, harus memikirkan bagaimana mendefinisikan pakem dalam perspektif perubahan selera estetik masyarakat. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kekakuan terhadap pakem semakin terpinggirkan. Meskipun harus bersikap moderat terhadap pakem, menurut Ayu Sutarto, di dalam mendefinisikannya kembali sesuai dengan selera publik ada dua cara pilihan. Pertama, mempertahankan citra filosofis yang terkait dengan nilai-nilai mulia yang terkandung di dalamnya serta merubah citra fisik yang terkait dengan kostum, tata panggung, dan tata gerak. Kedua, merubah citra filosofis dan menyesuaikannya dengan tema-tema terkini dengan tetap mempertahankan citra fisiknya. Tetapi berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh penulis di lapangan, perlu kiranya ditambahkan satu pilihan lagi yakni tetap mempertahankan pakem dengan menambah elemen-elemen estetik yang berasal dari kesenian lain.

Dalam memaknai pakem ini, kelompok jaranan di Jember bisa dikategorikan ke dalam 2 kelompok, yakni (1) kelompok yang mempertahankan pakem aslinya (kesurupan dengan tetap mengedepankan adegan-adegan yang berbahaya) dan (2) kelompok yang tetap menggunakan pakem (dengan sedikit menyiasatinya) tetapi menambahkan elemen-elemen seni lain yang mungking lebih populer, yaitu campursari, dangdut, ataupun kendang kempul. Sebagian besar kelompok jaranan yang ada di Jember—termasuk Turonggo Mulyo—menggunakan pendekatan yang kedua. Sementara yang menggunakan pendekatan pertama semakin sedikit jumlah dan peminatnya. Secara detil, pakem pertunjukan jaranan sebelum dilakukan penambahan bisa dibagi dalam beberapa adegan—pra dan saat pertunjukan—sebagai berikut:

Ritual Menjelang Pertunjukan. Pertunjukan jaranan biasanya dilakukan mulai pukul 12.30 WIB hingga sebelum maghrib (fase 1) dan pada malam hari mulai 19.30-00.30 WIB (fase 2). Sebelum pementasan fase 1 dimulai, tukang gambuh (pinisepuh yang bertugas sebagai pengendali secara supranatural selama pertunjukan, termasuk memimpin ritual dan menyembuhkan penari yang kesurupan) dalam kelompok melaksanakan ritual untuk meminta perlindungan kepada Yang Maha Kuasa agar pertunjukan yang akan digelar berhasil dan bisa memberikan manfaat bagi tuan rumah, kelompok, dan masyarakat. Ritual tersebut mensyaratkan adanya kelengkapan sesajen yang terdiri atas: bunga tujuh warna, jenang abang dan putih, beras kuning, telur, sendok dan garpu, pisang satu tandan, nasi putih, ayam ingkung, jajan tradisional, ayam, kelapa, bunga kenanga dalam seember air, seember dawet, tembakau, daun sirih, jambe, seutas benang putih, arang, dan sebotol badeg (minuman dari fermentasi tape singkong).[4]

Jaranan

Jathilan. Merupakan adegan pembuka dalam pertunjukan jaranan. Adegan ini berupa tarian yang menyerupai gerakan dari sekawanan kuda yang sedang bermain di padang rumput. Gerakan-gerakan yang lazim dalam adegan ini adalah kejar-kejaran dalam formasi melingkar (ke dalam dan keluar), mberik (menghentakkan kaki ke belakang sambil menggeleng-gelengkan kepala), dan perang-perangan. Tarian ini dimainkan 5-7 jathil wedok (putri) yang rata-rata masih berusia remaja. Pada malam hari yang membuka tarian ini biasanya jathil lanang. Di samping para jathil adegan ini juga dilengkapi dengan kehadiran 1-2 thethek melek (penari laki-laki yang pada awalnya baik tetapi berubah jahat) yang berperan mendampingi tarian para jathil. Pada akhir adegan thethek melek yang mengenakan topeng ini mengalami trance.

Celengan-Kucingan. Adegan ini merupakan kelanjutan dari adegan jathilan. Setelah para jathil keluar dari arena, maka tinggal 2 thethek melek yang mengalami trance. Salah satu penari menggunakan boneka celeng (babi) yang terbuat dari kayu. Sementara penari lainnya tetap mengenakan topeng. Keduanya melakukan atraksi-atraksi yang berbahaya secara akal sehat. Makan padi mentah, kaca, dan bara api ataupu dicambuk merupakan atraksi yang biasa dilakukan oleh keduanya dalam kondisi trance.

Barongan (Rampogan). Adegan ini diawali dengan para penari jathil wedok dan lanang (putra) yang menarikan tarian keakraban. 2 orang pembarong yang mengenakan topeng singo barong (topeng besar berbentu kepala singa) menyusul ke arena pementasan. Ketika melihat atraksi yang diperagakan para jathil, mereka berdua langsung berputar melingkar dengan atraksi caplokan, yakni ketika pembarong menggerak-gerakkan mulut barongan sehingga menghasilkan suara plok-plok berulang-ualan. Para pembarong berusaha untuk menangkap para jathil yang segera menepi, tetapi mereka tetap bisa menghindar. Pada salah satu jathil lanang tertangkap, ia langsung ikut kesurupan sehingga atraksi trance yang disuguhkan semakin menarik.

Buto-butoan (Tari Kiprah). Biasanya adegan ini hanya dilakukan pada pertunjukan malam hari. Adegan tari menuju trance ini dilakukan oleh 2 penari yang mengenakan kostum buto. Kostum buto ini berwarna hitam, dilengkapi dengan taring, kumis, dan jenggot palsu. Penari juga mengenakan kuluk (semacam topi yang dikenakan dalam wayang wong atau kethoprak) dan badong (sayap seperti yang dimiliki Gatotkaca dalam wayang kulit). Pada awalnya mereka menari bersama-sama dalam kekompakan yang tetap terjaga. Gerakan tari yang dilakukan cenderung menggunakan gerakan lebar dan gagah. Atraksi-atraksi akrobatik seringkali diperagakan dalam adegan ini. Setelah menari dalam kebersamaan, akhirnya mereka terlibat perang tanding yang berujung pada trance.

Pakem estetik di atas sampai sekarang juga masih dijalankan oleh para seniman jaranan. Namun, perubahan selera estetik masyarakat desa menimbulkan gagasan untuk memberikan tambahan berupa gending-gending campursari dan kendang kempul serta lagu dang dut dalam pertunjukan jaranan. Adapun alasan utama penambahan ini adalah agar para penonton mau datang dan betah untuk menikmati pertunjukan jaranan, terutama generasi muda. Meskipun terdapat penambahan, tetapi para seniman jaranan di Turonggo Mulyo juga “tidak asal tempel”. Mereka tetap mengedepankan atraksi jaranan sebagai sajian utama pertunjukan.

Tentang penambahan tersebut, sebenarnya ada sedikit perbedaan pendapat di tataran internal kelompok. Hal tersebut lebih berkaitan dengan eksistensi adegan jaranan yang dikawatirkan akan melenceng dari totalitas permainannya. Pak Yanto, seorang pensiunan polisi yang menjadi pembina kelompok ini sudah pernah mengingatkan persoalan tersebut.

Sebenarnya sejak awal saya tidak sepakat dengan masuknya kendang kempul ataupun campursari ke dalam adegan jathilan. Itu kan sama saja dengan merusak tatanan jaranan dan terkesan tidak serius lagi. Kasihan itu para jathil (wedok) yang masih kecil-kecil, mereka terkesan hanya ngikut. Bagi saya kalau mau campursari atau kendang kempul ya nanggap sendiri saja, tanpa harus dicampur dengan jaranan. Tetapi, saya hanya sebatas mengingatkan, semua keputusan tetap saya serahkan ke anggota kelompok. Kalau memang itu baik buat mereka, ya gimana lagi.

Memang, dari observasi selama pertunjukan berlangsung terlihat jelas bahwa ketika ditambahi kendang kempul, campursari, dan dang dut, para penari jathil—terutama jathil wedok—terlihat kurang bisa mengikuti alunan lagu bahkan terlihat tidak mampu menikmati gerakan tari serta terkesan keponthal-ponthal (kesulitan mengikuti).  Kostum yang dikenakan oleh para penyanyi juga terkesan “seksi” dan tidak sesuai dengan atmosfer tarian yang sedang berlangsung.

Bagi para anggota Turonggo Mulyo, penambahan tersebut dianggap sebagai keniscayaan yang tidak bisa dihindari demi melihat selera masyarakat. Mereka hidup di zaman yang sedang bergerak, dan dibutuhkan kesigapan dalam memaknai perubahan yang tengah berlangsung, sebagaimana dituturkan Pak Tik berikut:

Ya, gimana lagi, Mas. Ombak zaman sudah seperti ini. Wong Ndeso sangat gemar campursari, kendang kempul, bahkan dang dut. Makanya, kami menambahkannya dalam pertunjukan jaranan agar mereka mau dan betah menonton. Lagi pula, tambahannya kan tidak pada adegan kesurupan, tetapi pada saat jathilan dan akhir pertunjukan. Jadi tidak terlalu melenceng dari pakem jaranan.

Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, yang pasti kelompok ini dan juga kelompok jaranan lainnya sudah melakukan penambahan dalam konsep estetiknya. Hal itu tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang menyalahi pakem, tetapi sebagai sebuah penyiasatan ala seniman rakyat dalam menyikapi perkembangan zaman. Dalam konteks perkembangan itulah, mereka mencoba membaca sisi modernitas yang terefleksikan dalam selera seni masyarakat desa.

Meskipun memberikan penambahan konsep estetik pertunjukan, apa yang dilakukan oleh kelompok Turonggo Mulyo, bisa dikatakan ”tidak keluar terlalu jauh”dari pakem jaranan yang mereka ugemi. Adegan-adegan pakem seperti di atas tetap dipertahankan. Dalam pertunjukan yang digelar, tambahan campursari, kendang kempul, ataupun dang dut diletakkan pada malam hari sedangkan untuk pertunjukan siang hingga sore tetap sesuai dengan pakem yang ada, tanpa tambahan. Adapun penambahan tersebut bisa dibagi ke dalam dua paket, yakni (1) paket campursari di tengah-tengah pertunjukan dan (2) paket campursari di tengah pertunjukan dan jaipongan di akhir pertunjukan.

Paket campursari di tengah pertunjukan. Penambahan ini dilakukan ketika adegan jathilan wedok dan lanang. Di tengah-tengah adegan jathilan irama kendang berubah menjadi irama campursari, kendang kempul ataupun dang dut. Perubahan tersebut diikuti dengan munculnya musik keyboard. Tidak lama kemudian, para penyanyi[5] muncul dengan dandanan seksi di tengah-tengah para penari jathil. Pada tembang pertama biasanya mereka menyanyi bersama-sama. Setelah itu mereka akan menyanyi secara bergantian sekitar 5-10 lagu. Di tengah-tengah lagu tersebut, para penari jathil menari dengan gerakan-gerakan sederhana yang ”kurang terkonsep” mengikuti irama lagu. Ketika satu lagu berakhir, musik kembali ke irama jaranan, pun para penari kembali menari dalam suasana riang. Adegan seperti itu berulang hingga tembang terakhir. Ketika lagu terakhir selesai, maka adegan jaranan kembali ke pakem semula.

Paket campursari di tengah dan di akhir pertunjukan. Ini merupakan paket lain yang bisa dipesan oleh tuan rumah. Untuk paket di tengah pertunjukan format sama seperti di atas. Sedangkan paket campursari di akhir pertunjukan biasanya berupa format jaipongan (seperti istilah dalam tayuban). Jaipongan ini dilaksanakan ketika semua adegan jaranan sudah usai, biasanya sekitar pukul 11.00 WIB. Pada awal pertunjukan, seorang wiraswara mempersilahkan para penonton yang ingin menari bareng dengan para penyanyi. Penyanyi yang kebagian menyanyi duduk manis di kursi, sedangkan para penyanyi lainnya akan menari dengan para penonton. Para penonton yang hendak penari terlebih dahulu napel (memberikan uang kepada penyanyi dan penari serta tukang kendang). Rata-rata para penari meminta irama kendang kempul karena mereka bisa menari laksana orang yang lagi nggandrung. Pertunjukan ini biasanya selesai pada pukul 01.00 WIB.

Adegan kesurupan (trance) merupakan atraksi yang menjadi penanda dan karakteristik pertunjukan jaranan dari dulu hingga sekarang. Ketika seorang pembarong atau jathil lanang kesurupan, maka atraksi musik yang rancak akan menggiringnya pada kenekatan-kenekatan atraksi yang menurut ukuran orang normal berbahaya, seperti makan kaca (beling), makan buliran padi, makan bara api, memecah kelapa dengan kepala, meminum air comberan, dan masih banyak lagi. Bagi kelompok Turonggo Mulyo yang sudah mengalami kejadian ”kurang mengenakkan” berkaitan dengan penggunaan kekuatan supranatural dalam pertunjukan, adegan keserupan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tidak akan membahayakan para penari di atas pentas.

Pak Tik mengungkapkan”Kesurupan itu, yo beras yo ketan, yo waras yo edan” (Wawancara 2 Agustus 2005). Ketika adegan kesurupan, para penari laki-laki tidak sepenuhnya lupa, tetapi tetap sadar meskipun tetap menampilkan atraksi-atraksi yang menegangkan, seperti mengupas kulit kelapa dan bermain-main dengan bara api. Artinya, tidak seperti penari jaranan senterewe di daerah Trenggalek dan Tulungagung yang benar-benar dirasuki kekuatan ghaib ketika kesurupan, para penari Turonggo Mulyo memang tetap dimasuki kekuatan ghaib, namun tetap bisa dikendalikan agar tidak berbahaya bagi keselamatan si penari. Dengan kata lain, adegan kesurupan tidak sepenuhnya lagi dikuasai oleh kekuatan ghaib, tetapi sudah dicampur dengan kemampuan acting para penari untuk seolah-olah ’menghebohkan’ gerakan dan atraksinya agar tampak seperti benar-benar kesurupan. Siasat ini ternyata berhasil menghindarkan para penari dari kekuatan-kekuatan ghaib yang bisa saja dikirimkan oleh orang lain yang kurang menyukai pertunjukan jaranan kelompok ini, yang memang tergolong sebagai kelompok yang laris dan sering menggelar pertunjukan dalam setiap tahunnya.

Simpulan: Siasat estetik, strategi Survival, dan refleksi kritis

Sebagai produk kesenian rakyat agraris yang masih ingin terus berkontestasi dalam konteks modernitas masyarakat desa, sangat wajar ketika para seniman jaranan di desa berusaha menyesuaikan dengan kondidi dan tuntutan zaman. Masuknya bentuk musik populer, seperti campursari, kendang kempul, dan dangdut ke dalam pakem pertunjukan jaranan merupakan satu bentuk strategi yang sah untuk dilakukan. Apalagi, masuknya unsur hiburan tersebut memang menjadi sekedar tambahan untuk lebih menarik minat para penonton muda karena apabila tidak ada atraksi tersebut, mereka tentu akan enggan menonton jaranan. Siasat estetik tersebut sekaligus menjadi penanda kemampuan intelektual para seniman rakyat dalam menyikapi transformasi dan pergeseran orientasi kultural, meskipun tidak semua dari mereka mau melakukannya dengan alasan keadiluhungan budaya yang tidak bisa dicampur dengan budaya pop industrial. Proses dan praktik tersebut sekaligus menjadi penanda betapa terbukanya kesenian rakyat terhadap pengaruh-pengaruh luar yang dirasa bisa menguntungkannya. Artinya, yang modern maupun yang global bisa dimaknai kembali dan dimodifikasi untuk kepentingan yang lebih strategis: kepentingan kesenian dan seniman rakyat.

Meskipun demikian, ada hal lain yang perlu mendapatkan perhatian ketika para seniman jaranan mulai melakukan transformasi estetik sebagai bentuk siasat dan strategi survival dalam konteks transformasi sosio-kultural masyarakat. Penambahan musik pop apabila tidak dikerangkai secara sadar sebagai sebuah strategi hanya akan menjadikan atraksi kesenian jaranan sekedar menjadi hiburan yang tidak memberikan apa-apa selain kepuasan sementara para penontonnya. Ke depan, perlu diusahakan kreativitas estetik yang tidak hanya mengandalkan tambahan musik pop, tetapi juga kreativitas-kreativitas gerakan tari yang bisa lebih menarik dan atraktif. Sosialisasi aspek filosofis dari pertunjukan jaranan perlu dilakukan agar para penonton, selain terhibur dengan gerakan atraktif para penari, juga mendapatkan pelajaran-pelajaran berharga dari pertunjukan tersebut. Dengan demikian, jaranan bisa kembali menjadi kekuatan untuk merebut ruang kultural desa dalam konteks yang dinamis, baik dalam hal atraksi maupun pada pembelajaran nilai-nilai filosofis kerakyatan.

Keterangan

Tulisan ini disarikan dari hasil penelitian yang berjudul Menjaga Ritual, Menyiasati Pasar: Strategi Survival Kelompok Jaranan di Jember (Lemlit, Universitas Jember, 2005). Penelitian ini didanai oleh Hibah Internal Universitas Jember Tahun 2005. Saya secara pribadi mengucapkan terimakasih kepada Rektor dan Ketua Lemlit yang telah memberi kepercayaan dan dana serta kepada para seniman rakyat di Kelompok Jaranan Turonggo Mulyo Balung yang sudah memberikan informasi dan menjadi kawan dekat selama penelitian ini berlangsung.

Catatan akhir

[1] Ki Timbul Lukito (alm) adalah salah satu dalang senior di Jember yang berasal dari Desa Andongsari, Kecamatan Ambulu, Jember. Dalang ini digemari karena gaya komedi yang menjadi warna pertunjukannya. Di samping itu, dia juga membuat inovasi dalam bentuk beberapa wayang untuk kepentingan komedi yang cenderung bergaya komik.

[2] Ki Eddy Siswanto merupakan dalang muda dari Desa Karanganyar Kecamatan Ambulu, Jember. Dalang muda ini terkenal dengan sabetan-nya (adegan perang). Di samping itu, dia juga cukup inovatif dalam pertunjukannya, seperti menggunakan LCD Projector untuk menggambarkan adegan-adegan di hutan dan peperangan.

[3] Kalau dilihat dari tenaga dan pikiran yang dicurahkan para seniman jaranan, honor dari setiap pertunjukan sepertinya tidak nyucuk (tidak sepadan). Paling banyak mereka bisa mendapatkan Rp. 1o.000, 00, atau cukup untuk membeli rokok atau sabun.

[4] Menurut Mbah Rohman, kehadiran sesajen tersebut pada dasarnya menggambarkan ritus kehidupan manusia, dari lahir hingga meninggal. Dengan sesajen ini, para penonton sebenarnya diingatkan bahwa kehidupan manusia itu berawal dengan kesucian, meskipun dalam perkembangannya mereka bisa saja melakukan tindakan-tindakan yang menyeleweng dari fitrahnya sebagai manusia. Namun, manusia harus terus berusaha untuk menjadi lebih baik dalam kehidupannya sehingga akan mendapatkan imbalan setimpal setelah kematian atau dalam mengarungi akhirat nantinya. Wawancara, 6 September 2005.

[5] Jumlah penyanyi tergantung permintaan tuan rumah. Biasanya terdiri dari 2-4 orang. Mereka ada yang berasal dari internal kelompok ataupun artis-artis lokal.

 Daftar bacaan

Bhabha, Hommi K,1994. The Location of Culture. London: Routledge.

Barker, Chris.2004. Cultural Studies, Teori dan Praktik. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Sparks, Collin, “What’s wrong with globalization?”, in Journal Global Media and Communication, Vol. 3, No. 2, 2007. London: Sage Publications.

Schuerkens, Ulrike, “The Sociological and Anthropological Study of Globalization and Localization”, in Journal Current Sociology, Vol. 5, No. 3/4, 2003. London: Sage Publications.

Stallings, Barbara, “The Globalization of Capital Flows: Who Benefits?”, in The ANNALS of the American Academy of Political and Social Science, March 2007. New York: Sage Publications.

Gills, Barry K. “Democratizing Globalization and Globalizing Democracy”, in ANNALS of the American Academy of Political and Social Science, May 2002. New York: Sage Publications.

Holt, Claire.2000. Melacak Jejak Perkembangan Seni Pertunjukan di Indonesia. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Edwards, Sebastian, “Capital Mobility, Capital Controls, and Globalization in the Twenty-first Century”, in The ANNALS of the American Academy of Political and Social Science, January 2002. New York: Sage Publications.

Banerjee, Indrajit, “The Local Strikes Back?: Media Globalization and Localization in the New Asian Television Landscape”, in Gazette: The International Journal for Communication Studies, Vol. 64, No. 6, 2002. London: Sage Publications.

Kien, Grant, “Culture, State, Globalization: The Articulation of Global Capitalism”, in Journal Cultural Studies <-> Critical Methodologies, Vol. 4, No. 4, 2004. London: Sage Publications.

Setiono, Budi.2003. “Campursari: Nyanyian Jawa Poskolonial”, dalam Budi Susanto (ed). Identitas dan Poskolonialitas di Indonesia. Yogyakarta: Lembaga Studi Realino bekerjasama dengan Penerbit Kanisius.

Sutarto, Ayu.2005. Menyimak Pergulatan Seni, Politik, dan Agama. Jember: Kompyawisda Jatim.

Daftar Wawancara

Heri Susanto, pelatih teater pelajar di Balung, wawancara: 3 September 2005

Mbah Rohman, tukang gambuh Turonggo Mulyo, wawancara: 2 Agustus 2005, 3 September 2005, 6 September 2005

Pak Tik, MC/wiraswara Turonggo Mulyo, wawancara: 2 Agustus 2005, 6 Agustus 2005, 7 September 2005.

Pak Bagong, pemimpin Turonggo Mulyo, wawancara: 7 Agustus 2005, 4 September 2005.

Pak Yanto, pembina Turonggo Mulyo, wawancara: 2 Agustus 2005

Zaenuri, wawancara: 6 Agustus 2005.

Gambar cover diunduh dari: http://memotimur.co.id/news/index.php/2016/07/14/watu-ulo-penuh-seni-dan-eksotik/2/

Share This:

About Ikwan Setiawan 151 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*