‘Suara wong cilik’ dalam komedi situasi: Media sebagai instrumen ideologis

IRANA ASTUTININGSIH

 

Perbincangan post-struktural tak lepas dari pemikiran yang percaya bahwa struktur tidak bersifat stabil, sebagaimana yang digagas oleh pemikiran strukturalisme.  Implikasinya adalah pos strukturalisme percaya bahwa tidak ada kebenaran universal atau apa yang disebut sebagai common sense. Karena tidak ada kebenaran universal, alih-alih merupakan hal yang taken for granted, common sense lebih merupakan suatu diskursus yang sengaja dikonstruksi untuk memapankan posisi ideologi dominan. Tulisan ini mencoba membongkar bagaimana media televisi mempunyai kekuatan untuk mengkonstruksi sebuah wacana yang kemudian dipahami sebagai satu kebenaran universal. Dengan menggunakan konsep realisme yang digagas  oleh John Fiske, dapat dilihat bagaimana sebuah ideologi dominan dipertahankan melalui bahasa yang dikemas dalam teks media, dalam konteks ini sebuah tayangan komedi bertajuk Bajaj Bajuri.

Sebagai serial komedi situasi produksi GMM Films yang ditayangkan pertama kali di sebuah stasiun televisi swasta Indonesia di tahun 2002, Bajaj Bajuri berhasil menembus rating tinggi. Lucu dan menghibur;  barangkali itulah kesan yang umum didapatkan ketika menonton tayangan komedi ini. Bajaj Bajuri merupakan serial yang sama sekali tidak berusaha memanjakan mata pemirsa dengan kisah sukses pengusaha muda lengkap dengan kehidupan gemerlapnya. Serial ini juga tidak menjual kisah cinta si cantik dengan kesulitan berantai yang harus dijalaninya demi bersatu dengan kekasihnya, seorang pangeran tampan kaya raya. Apa yang ditampilkan dalam setiap episodenya ‘tak lebih’ dari gambaran kehidupan sehari-hari seorang penarik Bajaj bernama Bajuri yang beristri perempuan cantik dan lugu bernama Oneng, serta seorang mertua nyinyir yang tak pernah bersikap manis padanya. Kisah Bajuri, terasa ‘riil’ dan benar-benar dekat dengan kehidupan orang kebanyakan. Karenanya, banyak pihak mengatakan bahwa Bajaj Bajuri adalah tayangan apik yang mampu memotret realitas keseharian dan tidak membawa pemirsa ke sebuah dunia yang hanya ada di awang-awang. Serial komedi ini seringkali dipuji sebagai tayangan yang mampu mewakili kehidupan wong cilik dengan sangat menarik. Namun benarkah realitas dalam Bajaj Bajuri merupakan realitas yang menyuarakan wong cilik secara empirik? Untuk menjawabnya, perlu ditinjau konsep Fiske tentang realisme media.

bb-1

Menurut Fiske, budaya pop – termasuk televisi– merupakan sebuah medan perang semiotik dimana kekuatan homogenitas yang hegemonik selalu dihadapkan dengan perlawanan terhadap heterogenitas (dalam Storey, 1996: 33). Lebih jauh lagi, Fiske mengatakan bahwa apa yang ditawarkan televisi bukan sekedar program, namun suatu pengalaman semiotik yang memiliki karakteristik keterbukaan dan makna polisemik (2000: 539). Secara umum Fiske membagi the codes of television menjadi tiga level yaitu (1) social codes atau yang disebut sebagai ‘Realitas’; (2) technical codes yang disebut juga sebagai ‘Representasi’, dan (3) ideological codes atau disebut sebagai ‘Ideologi’ (2001: 5). Pada konteks inilah realisme Fiske memosisikan dirinya untuk membongkar ideologi dalam kemasan ‘realitas’ atau dari apa yang dianggap sebagai ‘truth’ atau common sense. Dapat dikatakan bahwa realisme merupakan representasi artistik yang terdapat dalam teks media (dalam konteks ini televisi) sebagai upaya untuk menggambarkan satu objek atau fenomena sehingga seolah-olah tampak riil atau benar secara empiris.

Dalam Fiske disebutkan bahwa realisme didefinisikan berdasarkan konten dan bentuknya. Jika konten lebih terkait dengan ‘what it is’ (tentang apa) maka bentuk lebih terkait dengan ‘what it does’ (apa yang dilakukan) untuk membuatnya nampak masuk akal (2001: 21 – 24). Terkait dengan konten, dalam Bajaj Bajuri, realitas yang dikonstruksi oleh media mewujud dalam pengalaman individu seorang Bajuri sebagai sopir Bajaj sebagai representasi kelas pekerja ditengah-tengah kehidupan masyarakat industri di Jakarta. Dalam episode “Jalani Lebaran dalam Tahanan”, misalnya, masalah sosial kelas pekerja direpresentasikan melalui pengalaman Bajuri yang harus mendekam di sel tahanan sebagai akibat kekeliruan yang diperbuat oleh pihak aparat. Ketidakadilan sosial ini direpresentasikan dari kehidupan pribadi seorang Bajuri, sebagaimana dikatakan Watt bahwa segala gagasan moral, sosial, politik dan agama diekspresikan melalui pengalaman individu. Realisme dalam konteks ini sejalan pula dengan yang dikatakan William bahwa realisme terkait dengan pengalaman hidup orang biasa bukan dari golongan bangsawan atau penguasa (Fiske, 2001: 22). Sementara terkait bentuk, setiap elemen yang ada dalam narasi Bajaj Bajuri bertujuan untuk membentuk commonsense tentang orang kebanyakan. Keluguan Oneng, sikap Emak yang cenderung sarkas kepada si menantu, nasib sial yang dialami Ucup dan Said ketika mereka tidak berhasil mendapatkan opor ayam dihari lebaran bukan semata-mata ditampilkan sebagai elemen dekoratif, namun untuk mengkonstruksi dan menguatkan konsep ‘wong cilik’ dalam narasi. Ini sejalan dengan yang dikatakan Fiske bahwa realisme terkait dengan bagaimana sesuatu yang rill dibuat masuk akal dan mudah dipahami (2001: 24).

bb-2

Dalam teks Bajaj Bajuri, alur cerita yang mengalir beserta konfliknya serta karakterisasi masing-masing tokoh merupakan representasi kehidupan wong cilik yang ‘apa adanya’, tidak banyak menuntut dan tidak bisa berbuat apa-apa ditengah persoalan hidup mereka. Air mata seorang Oneng ketika sang suami harus mendekam dalam penjara tidak membuat narasi teks menjadi terasa ‘berat’, karena lebih menonjolkan unsur komedi yang ditegaskan oleh keluguan sikapnya. Persoalan Bajuri yang dipenjara selama lebaran ditangkap oleh pemirsa sebagai sebuah tontonan yang lucu dan menghibur, alih-alih sebuah kritik tajam tentang ketimpangan sosial. Tidak ada upaya untuk mengangkat heroisme disini. Dan ketika teks bercerita tentang Bajuri yang pada akhirnya bisa ikut berlebaran bersama keluarga, segalanya pun nampak ‘wajar’ dan baik-baik saja. Tidak ada upaya menuntut keadilan akan kesalahan aparat menangkap Bajuri, atau upaya keras seorang Oneng untuk membebaskan suaminya. Sekali lagi, tidak ada yang patut diperjuangkan lebih jauh. Disini teks Bajaj Bajuri menggambarkan karakternya sebagai tokoh-tokoh yang tidak pernah mempertanyakan permasalahan hidup mereka, seolah-olah mereka menjalani hidup tanpa kesadarannya. Tokoh-tokoh dalam teks Bajaj Bajuri merupakan tokoh-tokoh yang diam, pasrah menerima kenyataan hidup dan ironisnya, nampak lucu dan membuat pemirsa tertawa, bahkan mungkin merasa ketagihan untuk selalu ‘mentertawakan’ Bajuri dan tokoh-tokoh lainnya dalam setiap tayangan. Dapat dilihat bagaimana televisi berupaya untuk ‘menyeragamkan berbagai perbedaan sehingga satu acara bisa mencapai sebanyak mungkin audiens yang berbeda’ (2001: 37). Penyeragaman melalui teks Bajaj Bajuri adalah penyeragaman berbagai lapisan permirsa untuk mentertawakan keluguan, kepolosan dan kekocakan karakterisasi tokoh-tokoh dan alur dalam narasi teks. Siapapun yang menonton sinetron ini, mereka meresponnya dengan satu ‘kata kunci’ yang seragam, yaitu tayangan yang kocak dan menghibur. Penggambaran kehidupan wong cilik secara ringan, tanpa dramatisasi dan kocak tidak hanya membuat teks Bajaj Bajuri menjadi masuk akal dan mudah dipahami, namun sekaligus memosisikan audiens dalam kerangka ideologi dominan.

Skenario Bajuri dari awal hingga akhir menggambarkan bahwa ditengah kesulitan hidup yang dialami tokoh-tokohnya, segalanya akan berakhir dengan baik-baik saja. Tidak tampak upaya tokoh dalam narasi teks untuk mempertanyakan kembali segala permasalahan yang dialaminya Penggambaran ini menunjukkan suatu upaya untuk menaturalisasi segala ketertindasan yang dialami oleh wong cilik, menganggapnya sebagai sesuatu yang natural, dan nampak sebagai common sense. Televisi sebagai sebuah media dengan orientasi profit tentu tidak bisa keluar dari common sense ini. Melawan common sense berarti melawan arus, dan melawan arus berarti menempuh resiko tinggi terkait dengan profit sebagai orientasi utama. Melawan arus berarti melawan ideologi dominan. Sebagaimana dikatakan oleh Barthes dalam Mythology, “bahasa penindas memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibandingkan bahasa yang tertindas. Jika yang tertindas hanya memiliki satu suara, maka penindas memiliki segalanya karena bahasanya sangat kaya dan mewujud dalam berbagai bentuk. Bahasa penindas sangat luwes dengan segala kemungkinannya untuk mempertahankan posisinya sebagai satu tujuan akhir. Lebih jauh lagi, Barthes menyebut penindas sebagai pihak yang  memiliki hak eksklusif terhadap metalanguage. Yang tertindas hanya memiliki bahasa yang aktif transitif; sementara yang menindas mempertahankannya melalui bahasa yang paripurna, intransitif, gestrual, teatrikal; yaitu Mitos. Bahasa yang tertindas bertujuan mentransformasi, sementara bahasa penindas mengeternalisasinya(1972:150).

bb-3

Dapat dilihat bahwa Bajaj Bajuri memiliki bahasa yang luwes dan cenderung membuat penonton terninabobokkan, sehingga ia tetap menjaga dominasi. Teks Bajaj Bajuri mampu membuat pemirsa jatuh hati sekaligus tertawa terpingkal. Reaksi pemirsa terhadap tayangan ini nyaris merupakan reaksi yang seragam, dimana benak pemirsa telah terpenuhi oleh gambaran ‘wong cilik’ yang dikonstruksi sebagai pihak yang lugu, apes, namun sekaligus nrimo tanpa berupaya mempertanyakan nasibnya. Sosok seorang Bajuri telah dikonstruksi tak lebih dari sekedar stereotyping ‘wong cilik’ yang menggiring pemirsa untuk memercayainya, seiring dengan kekuatan media untuk mengkonstruksi makna dan ekspektasi yang diasosiasikan dengan satu identitas sosial tertentu (Grossberg, 2006: 246-247).  Realitas Bajaj Bajuri diangkat dari kacamata penindas, yang memandang tokoh-tokohnya sebagai wong cilik: orang yang selalu ‘nrimo’, ikhlas, tak berupaya untuk  memberontak atas ketidakadilan dan penindasan yang dialaminya. Bahasa Bajaj Bajuri adalah bahasa sang penindas, sehingga ia berupaya untuk menjaga dominasi, alih-alih  menawarkan suatu upaya untuk melawan struktur dominan. Dapat dikatakan bahwa wong cilik dalam teks media tersebut adalah wong cilik yang diam, atau mungkin lebih tepatnya ‘dibungkam’ lewat media untuk mengukuhkan struktur dominan tersebut.

Sebagai instrumen ideologis, media telah menjalankan fungsinya melalui bahasa dalam teks yang mempertahankan dominasi, karena realitas yang ditampilkan di media televisi bukan sebuah realitas empiris. Dengan kata lain, televisi tidak mencerminkan realitas, namun memproduksinya. Melalui kode-kode televisual, televisi memproduksi atau mereproduksi sebuah realitas media yang bersifat naratif. Hal ini menjadikan realitas media tidak lagi netral atau dapat dikatakan cenderung memapankan kepentingan kelas dominan.

 

Pustaka

Barthes, Roland. 1972. Mythologies. New York: The Noonday Press.

Fiske, John. 2000. “Moments of Television: Neither the Text Nor the Audience”. Media   Studies. Ed Paul Morris & Sue Thornman. New York: New York University Press.

Fiske, John. 2001. Television Culture.  New York: Routledge.

Grossberg, Lawrence. 2006. Media Making: Mass Media in Popular Culture. California: Sage Publication, Inc.

Storey, John. 1996. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.

Share This:

About Irana Astutiningsih 4 Articles
IRANA ASTUTININGSIH adalah peneliti di Matatimoer Institute dan pengajar di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*