Laki-laki ‘cantik’ di mata perempuan: Konstruksi tubuh superhero dalam sastra cyber

IRANA ASTUTININGSIH

 

Pengantar

Terkait dengan pesatnya perkembangan teknologi berbasis media komputer yang lebih lazim disebut sebagai ruang maya atau ruang cyber, sastra yang kini kian marak didalamnya tak lagi harus dipandang dan dikaji secara eksklusif. Di era sekarang ketika internet telah merambah ke berbagai lini dan menjadi semacam ‘gaya hidup’, dapat dikatakan bahwa sastra dan media internet telah menjalin satu kelindan sehingga menjadi menarik untuk dikaji secara utuh dalam bingkai teoritis.  Dalam Basis, Brahmnanto menyinggung tentang komentar Umar Kayam bahwa sesudah tahun 2000 sastra Indonesia akan memiliki corak lain, yang berangkali akan menjadi satra komputer. Namun dia belum mendeskripsikan seperti apa bentuk sastra kita pada abad komputer tersebut (B.Brahmanto, 1986: 24). Apa yang diprediksi Umar Kayam tersebut nampaknya kini telah makin marak dijumpai di ruang cyber. ‘Corak lain’ yang dikatakannya sejatinya memang merupakan keunikan tersendiri yang membedakan sastra cyber dengan sastra di ‘dunia rill’. Salah satu keunikan dari sastra cyber adalah sifatnya yang anonim sesuai dengan karakteristik ruang cyber yang mewadahinya. Hal unik lainnya adalah sifatnya yang ‘interaktif’. Ruang cyber memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara penulis dan pembaca. Pembaca bahkan dapat memberi komentar atau kritik secara langsung terkait dengan apa yang mereka baca. Lebih jauh tentang keunikan sastra cyber serta keterkaitannya dengan internet akan dijelaskan dalam tinjauan teoritis berikut.

Sekilas sastra cyber dan perempuan di ruang cyber

Piret Viires, seorang kritikus sastra Estonia yang menaruh perhatian terhadap perkembangan sastra posmodern mengungkapkan bahwa pada dasarnya definisi sastra cyber berawal dari konsep sastra digital, yakni segala bentuk kesastraan yang diciptakan dan difasilitasi oleh media komputer. Sastra cyber dapat dipakai sebagai istilah payung yang meliputi: 1) semua teks yang terdapat di internet (www) yang mencakup teks prosa maupun puisi yang dijumpai di homepage para penulis profesional, koleksi teks sastra klasik di web-web khusus, maupun majalah online; 2) teks kesastraan yang ditulis penulis nonprofessional yang tersebar di penjuru dunia maya. Teks kesastraan ini memungkinkan satu bentuk analisis yang berbeda daripada analisis teks sastra tradisional. Teks ini meliputi pula fanfiction[i] dan berbagai tulisan harian di blog-blog, sehingga internet disini berfungsi sebagai wadah publikasi yang bersifat independen; 3) Sastra hypertext dan cybertext: yaitu teks kesastraan dengan struktur yang lebih kompleks dengan melibatkan visualisasi serta teks multimedia (Viires: 2005). Dalam artikel ini, diantara tiga cakupan definisi istilah sastra cyber seperti disebutkan di atas, definisi yang kedualah yang menjadi pijakan dalam menganalisis beberapa karya fiksi yang ditulis dan diunggah di internet oleh beberapa perempuan penulis non profesional yang menulis fanfiction dan bergabung dalam situs www.fanfiction.net[ii]

Hal yang mencirikan keunikan fanfiction sebagai salah satu bentuk sastra cyber adalah terbukanya peluang bagi pembaca untuk memberi komentar, masukan serta berinteraksi langsung dengan penulis. Interaksi yang terjalin antara pembaca dan penulis ini bahkan memungkinkan penulis untuk mengubah alur cerita sesuai yang diinginkan pembaca. Relasi setara antara penulis dan pembaca dalam kasus fanfiction ini jelas tidak bisa dipisahkan dari karakteristik media internet yang memungkinkan siapapun untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses kreatif seperti apa yang disebut oleh Fiske sebagai ‘demokrasi semiotik’, yaitu suatu kekuatan media dalam memungkinkan audiens untuk ikut terlibat dalam proses kreatif terhadap pembentukan simbol-simbol kultural, bukannya sebagai pihak konsumen yang pasif  (Fiske, 1997).  Karena hubungan penulis dan pembaca bersifat egaliter, dapat dikatakan bahwa sastra cyber memiliki corak unik dan berbeda dari sastra non cyber di dunia rill. Sastra cyber bersifat fleksibel dan pada umumnya anonim, sesuai dengan karakteristik ruang cyber yang mewadahinya. Istilah cyber pertama kali dikenalkan oleh William Gibson dalam novelnya Neuromancer, yang merupakan bagian pertama dari trilogy Sprawl dan mendapatkan penghargaan The Nebula Award, the Philip K. Dick Award dan the Hugo Award untuk genre novel cyberpunk dan science fiction. Di edisi terjemahannya, cyberspace disebut sebagai dunia maya yang didefinisikan sebagai sebuah  “… halusinasi yang diterima khalayak banyak yang setiap hari dialami oleh miliaran operasi-operasi logis, di setiap negara, dengan anak-anak  yang diajarkan konsep matematis … sebuah perwakilan berbentuk gambaran data yang dibuat abstrak oleh setiap media penyimpanan dari setiap komputer dalam sistem manusia” (Gibson, 2010: 84). Meskipun Gibson sendiri tidak bersinggungan secara teoritis tentang realitas virtual yang tercipta oleh media komputer, pada kenyataannya istilah cyberspace yang disebutnya dalam Neuromancer mengalami perkembangan yang cukup signifikan dan kerap dijadikan acuan dalam studi-studi tentang media cyber.

Terkait dengan fanfiction sebagai salah satu bentuk sastra cyber, hal unik lain yang membedakan fanfiction dari sastra non cyber dapat dilihat dari beberapa genre yang tidak terdapat dalam sastra non cyber di dunia riil, semisal slash[iii], alternate universe[iv] dan crossover[v]. Slash (atau disebut juga slash fiction) yang menjadi objek analisis dalam artikel ini berfokus pada hubungan cinta sesama laki-laki yang dalam teks sumbernya merupakan laki-laki heteroseksual.  Meski berfokus pada kisah cinta laki-laki sesama jenis, slash fiction pada dasarnya tidak sekedar berbicara tentang seksualitas namun mengandung ideologi peran gender (Jenkins, 2001). Perempuan penulis slash fiction pada dasarnya ingin mengungkapkan ekspektasi mereka sebagai subjek penuh yang ‘berbicara’ dalam ruang cyber. Cumberland berpendapat bahwa penulis perempuan menggunakan internet untuk mengekpresikan hal-hal yang masih dianggap tabu untuk dilakukan perempuan, ketika dunia offline mengharuskan mereka untuk melewati proses ‘editing hirarkis’ dan memenuhi ekspektasi publik terkait dengan peran gendernya (2000).  Dalam tataran ideologis, para perempuan ini nampaknya berupaya untuk melampaui sekat-sekat normatif di dunia riil yang patriarkal dan heteronormatif. Alih-alih menjadi objek yang dieksploitasi, para perempuan penulis ini berupaya menjadi subjek melalui karya fiksi mereka. Lebih jauh lagi, mereka berupaya mengeksploitasi tubuh laki-laki melalui karakter utama dalam slash fiction. Dalam artikel ini akan dipaparkan bagaimana dua orang perempuan penulis slash mengkonstruksi fantasi mereka tentang tubuh dan daya tarik seksual laki-laki  dalam teks slash mereka More Than Words dan Hidden Obsession yang diunggah di situs www.fanfiction.net.

Tubuh laki-laki dalam fantasi perempuan

Hinerman dalam satu artikelnya merujuk pada teori Freud tentang fase erotik pada bayi untuk menjelaskan bagaimana fantasi muncul. Pada dasarnya, fantasi merupakan ekspresi keinginan untuk memenuhi hasrat, dimana manusia seringkali terbentur pada aturan dan norma serta larangan-larangan untuk memenuhi keinginan akan kepuasan yang unconscious yang tidak pernah benar-benar hilang (Lewis, 1992: 115). Melalui slash fiction, para perempuan penulis berfantasi tentang tubuh laki-laki yang mereka anggap ideal melalui karakter utama yang terlibat hubungan cinta sesama jenis. More Than Words dan Hidden Obsession masing-masing ditulis oleh dua orang perempuan Indonesia Confeito dan HanariaBlack (nama samaran). Narasi teks More Than Words berfokus pada hubungan Harry Potter dan Tom Riddle sebagai sepasang kekasih, sedangkan Hidden Obsession berfokus pada cinta terpendam Draco Malfoy kepada Harry Potter.

Dalam More Than Words, meskipun narasi teks berfokus pada pasangan Tom dan Harry, deskripsi Confeito tentang penampilan fisik laki-laki lebih bertitik tekan pada karakter Harry. Ia menggambarkan Harry Potter sebagai laki-laki ‘cantik’ dan memikat banyak orang sebagaimana digambarkan dalam kutipan berikut:

“Harry bisa dikatakan sebagai cowok cantik. Bagaimana tidak? Dengan wajah berbentuk hati, iris mata indah hijau zamrud, dan bibir merah merekah yang menantang siapapun untuk menciumnya. Kulit Harry berwarna tan sehat karena kebiasaannya berkebun dan bermain sepak bola. Tubuhnya langsing untuk ukuran anak laki-laki, terbentuk profesional berkat olahraga yang dia lakukan. Rambut hitam warisan ayahnya terperangkap antara acak-acakan dan bergelombang, anehnya membentuk suatu keserasian dalam membingkai wajah manisnya …” (Confeito: 2011)

Dalam kutipan diatas dapat dilihat bahwa Confeito mendeskripsikan daya tarik Harry dengan menonjolkan sisi femininnya. Melalui kata cantik, wajah berbentuk hati, mata indah, bibir merah merekah, dapat dilihat bahwa sosok Harry adalah laki-laki yang memiliki pembawaan seperti perempuan dengan garis wajah yang imut dan manis, alih-alih berwajah sangar atau garang. Dengan kata lain, penampilan fisik seorang Harry Potter terkait dengan wajahnya diidealisasi melalui deksripsi aspek femininnya. Gambaran Confeito tentang Harry juga menjelaskan daya tarik seksualnya sebagai laki-laki feminin, yang ditunjukkannya melalui ungkapan menantang siapapun untuk menciumnya. Lebih jauh lagi, Confeito juga mendeskripsikan penampilan fisik Harry melalui tubuhnya yang langsing. Menarik untuk diperhatikan bahwa kata langsing disandingkan dengan aktivitas fisik berkebun, bermain sepak bola, dan olahraga. Ini menunjukkan bahwa postur tubuh yang langsing tidak sekedar berarti tubuh yang kecil dan tidak kekar namun juga berimplikasi terhadap tubuh yang sehat karena terlatih melalui aktivitas fisik seperti sepak bola atau berkebun. Confeito mendeskripsikan maskulinitas Harry melalui tubuh yang ramping namun sehat.

Deskripsi penampilan fisik Harry yang tampak feminin dalam cuplikan teks slash diatas mirip dengan apa yang disebut oleh Sun Jung sebagai soft masculinity ketika merujuk pada personil boyband Korea yang lebih bertitik tekan pada tampilan fisik yang lembut dan memancarkan aura kecantikan. Menurut Jung, soft masculinity berawal dari karakter Bishounen dalam Manga (komik Jepang) yang memang dibuat dengan menyasar pasar pembaca perempuan. Ilustrasi laki-laki dalam Manga ini biasanya digambarkan bertubuh langsing, berwajah lancip dengan sisi femininnya yang menonjol dan memiliki senyum manis (2009).

Sisi feminin pada penampilan fisik Harry Potter juga terlihat pada deskripsi metaforik dalam Hidden Obsession:

“Ia tidak bisa menyentuh Harry, karena Harry adalah porselen di ujung meja yang dengan mudah bisa pecah, pualam tipis yang mengkilap tak ingin kotor dengan rabaan sidik jari jemari, dan permata yang tidak mungkin diraih karena cahayanya terang menyilaukan mata” (HanariaBlack: 2012)

Sosok Harry Potter dideskripsikan oleh HanariaBlack secara metaforik dengan menggunakan kata porselen yang mudah pecah, pualam tipis yang mengkilap, permata dengan cahaya terang. Penggunaan frase-frase tersebut diatas dapat diinterpretasikan bahwa secara fisik Harry adalah pemuda yang berkulit bersih dan halus (seperti tekstur porselen dan batu pualam) dan berwarna terang (seperti permata bercahaya terang). Ini dipertegas lagi oleh HanariaBlack dengan pilihan kata yang lebih lugas pada kutipan berikut:

“… di ujung sana, di sebuah kasur besar berkelambu hijau dengan aksen merah, terlihat sesosok tubuh mungil yang damai tertidur pulas dengan dada naik-turun yang teratur.

… Draco mengatur nafasnya, lalu menyeret pandangannya terus turun dengan perlahan ke leher, lengan, sikunya yang tenggelam di balik selimut merah-emasnya, pergelangan tangannya dengan  urat nadi biru dan hijau mencuat di kulitnya yang memucat karena jarang terkena sinar matahari, lalu berhenti ke tangan berjemari lentiknya yang memiliki kuku-kuku bersih dan pucat”(HanariaBlack: 2012)

Sisi feminin dalam sosok seorang Harry Potter semakin dipertegas dalam kutipan diatas melalui pilihan frase tubuh mungil, jemari lentik dan kuku-kuku bersih dan pucat. Seperti halnya Confeito, HanariaBlack mendeskripsikan penampilan fisik Harry Potter melalui penonjolan sisi femininnya. Namun dari kutipan diatas dapat dilihat bahwa keduanya sedikit berbeda dalam mendeskripsikan penampilan fisik Harry. Jika Confeito juga merujuk pada tubuh ramping yang sehat, HanariaBlack hanya bertitik tekan pada penampilan fisik yang cantik, lembut dan mungil. Tubuh Harry Potter dalam fiksi HanariaBlack digambarkan seakan-akan lebih mirip tubuh seorang putri yang mungil, berkulit putih bersih, sangat bersih hingga terlihat urat nadinya karena selalu dipingit di dalam istana (jarang terkena sinar matahari). Penampilan fisik Harry yang terlihat ‘sangat perempuan’ bahkan cenderung ringkih diwakili oleh bahasa metaforiknya tentang porselen yang mudah pecah. HanariaBlack tidak mengacu pada idealisasi tubuh yang bugar karena cukup latihan fisik namun justru pada tubuh dengan postur kecil yang cenderung terlihat ringkih. Terlepas dari perbedaan Confeito dan HanariaBlack dalam deskripsi penampilan fisik Harry, keduanya mengacu pada penampilan fisik laki-laki yang tampak feminin dengan tubuh yang bersih terawat. Persoalan tentang tubuh laki-laki yang bersih dan terawat ini sangat lekat dengan citra ‘pria metroseksual’ (akronim dari metropolitan dan heteroseksual) yang acapkali diasumsikan secara stereotyping sebagai pria homoseksual meskipun sebenarnya ia seorang heteroseksual. Ini disebabkan karena pria metroseksual dianggap memiliki kemiripan perilaku dengan pria homoseksual, misalnya keperdulian yang besar terhadap penampilan fisiknya.

Ada satu komentar menarik terkait dengan tubuh karakter Harry yang disampaikan oleh penulis slash Mizore Kibishi dalam author’s note[vi] slash yang berjudul Another Time and Another Attitude. Dalam teks ini Mizore berkisah tentang Harry Potter yang berprofesi sebagai Auror (prajurit penyihir) dan mengomentari fisik Harry dalam author’s note sebagai berikut:

“Jreng-jreng! Ini dia! The new story tentang Auror kita! Semoga kalian suka, ya! Hmmmm, aku paling suka kalau Harry jadi Auror. Dia terlihat tampan dan gagah dengan jubah kremnya dan rambut cepak maskulin. Apalagi kalau sudah pakai t-shirt hitam yang biasa dipakai untuk latihan pagi Auror, wow… sixpacknya pasti membuat Draco drooling. *Hohohoho* ehem, hanya khayalan saya saja” (Mizore Kibishi, 2010)

Dari apa yang dikatakan oleh Mizore, dapat dilihat bahwa Mizore mengacu pada penampilan fisik yang terlihat lebih maskulin daripada ilustrasi HanariaBlack dan Confeito melalui penggunaan kata tampan, gagah, rambut cepak maskulin. Lebih spesifik lagi, tentang bentuk tubuh, Mizore mengatakan bahwa sixpack Harry akan membuat Draco drooling. Dengan ‘meminjam’ karakter Draco yang menurutnya akan meneteskan air liur karena ketakjubannya melihat sixpack Harry, dapat dilihat bahwa sejatinya Mizore sedang berfantasi akan tubuh laki-laki yang menurutnya ideal melalui karya fiksinya.

Dengan memperhatikan tulisan Mizore dalam author’s note, dapat dilihat bahwa selain mengacu pada tubuh yang lebih maskulin,  Mizore juga mengacu pada idealisasi tubuh laki-laki yang saat ini menjadi tren; yaitu laki-laki dengan perut rata yang memiliki enam kotak atau dalam istilah sekarang disebut dengan sixpack. Sixpack menjadi idaman laki-laki yang ingin membangun pencitraan sebagai laki-laki yang pantas untuk diapresiasi karena memiliki pola hidup yang sehat. Melalui media, konstruksi sixpack sebagai citra tubuh maskulin yang ideal tidak hanya berhenti pada persoalan fisik saja, namun juga pada anggapan bahwa sixpack mencerminkan kepribadian si pemilik tubuh. Ini terlihat salah satunya dalam artikel di www.lokrantzconsulting.com (Pebruari 2012) yang mengatakan bahwa orang-orang dengan bentuk tubuh seperti ini dipandang sebagai orang yang sangat cerdas dan sehat. Meskipun tidak bisa digeneralisir, konstruksi media tentang citra tubuh ideal ini turut memicu rasa tidak percaya diri pada laki-laki dengan bentuk tubuh yang ‘tidak ideal karena tidak mengikuti tren’ dan makin menjadi magnet bagi mereka untuk menghabiskan waktu di pusat-pusat kebugaran untuk melakukan latihan rutin demi memiliki bentuk tubuh yang ‘ideal’ dan layak diapresiasi. Perbincangan tentang perut sixpack saat ini menjadi makin marak tidak hanya dikalangan para laki-laki yang mengidamkannya, namun juga perempuan yang menganggapnya sebagai salah satu daya tarik seksual laki-laki maskulin. Dapat dikatakan bahwa laki-laki dengan perut sixpack dianggap sebagai laki-laki yang sehat dan seksi.

Masih dalam More Than Words, tubuh laki-laki yang seksi dideskripsikan Confeito melalui atribut perempuan yang dipakai Harry. Dalam narasinya, Harry Potter menggoda kekasihnya Tom dengan mengenakan pakaian perempuan sebelum mereka berhubungan seks sebagaimana terlihat dalam cuplikan berikut:

“Di sana, di tempat tidurnya, terbaring Harry yang mengenakan pakaian French Maid – melekat ketat di tubuh, lengkap dengan bandana. Dalam posisi Tom sekarang, dia bisa melihat dibalik rok mini berenda itu, Harry mengenakan G-string hitam yang hanya menutupi sedikit bagian dari kejantanan dan pantat seksinya. Selain stocking putih yang menghiasi kaki, kedua tangan kekasihnya terikat erat oleh pita hijau dan silver begitu pula kakinya…” (Confeito: 2011)

Confeito mendeskripsikan daya tarik seksual Harry dengan merujuk pada atribut pakaian dengan sentuhan feminin melalui penggunaan kata pakaian French Maid, bandana, rok mini berenda, dan stocking putih. Atribut pakaian yang dikenakan Harry nampaknya tidak sekedar melengkapi kesan feminin pada cowok cantik bernama Harry Potter, namun juga merupakan erotisasi tubuh Harry yang dipertegas dengan penggunaan kata G-string dan pantat seksi. G-string (Genital String) adalah celana dalam perempuan yang terdiri dari secarik kain kecil untuk menutup alat vital saja dan selebihnya merupakan tali kecil yang melingkar disekitar pinggul dan terselip di pantat sehingga bagian pantat tetap terlihat jelas. Mengacu pada bentuknya, G-string sejatinya tidak dipakai untuk sekedar menutupi alat kelamin, namun juga untuk lebih menonjolkan daya tarik seksual atau dapat dikatakan sebagai atribut yang dipakai untuk menimbulkan kesan seksi dan erotis.

harry-potter-2

Yang menarik untuk dicermati disini adalah Confeito juga menggunakan kata kejantanan untuk menunjukkan daya tarik seksual Harry. Penggunaan kata kejantanan ini menunjukkan bahwa sekalipun tubuh Harry difemininkan oleh Confeito, Confeito masih mengacu pada konsep maskulin. Ini menunjukkan pula bahwa Confeito memiliki caranya tersendiri yang unik dan berbeda dari HanariaBlack dalam mendeskripsikan laki-laki cantik.

Dari analisis teks slash diatas dapat diketahui bahwa deskripsi tentang idealisasi tubuh laki-laki dalam teks-teks tersebut tidak mengacu pada konsep yang seragam. Masing-masing  perempuan penulis slash memiliki keunikan dalam mengkonstruksi ekspektasi mereka tentang konsep tubuh maskulin. Ini menunjukkan bahwa persoalan maskulinitas tidak bersifat monolitik dan ajeg seperti yang dikatakan Connel bahwa masculinity had to be a complex, and in some ways precarious, construction (1995: 9).

Perbincangan tentang tubuh maskulin sejatinya tidak akan pernah menghasilkan satu keseragaman konsep tentang citra tubuh yang ideal. Konsep tentang tubuh yang maskulin bersifat sangat ambigu karena ketergantungannya pada beragam konteks yang melatarbelakangi konstruksi tubuh maskulin tersebut, baik secara kultural, sosial maupun historis. Di Indonesia misalnya, isu maskulinitas terkait erat dengan konteks sosiokultural yang menempatkan masyarakat Indonesia sebagai bagian dari kultur Asia; namun ini tidak serta merta berarti konstruksi maskulinitas di Indonesia bersifat steril dari pengaruh kultur lain di luar wilayah Asia. Ini dapat dipahami sebagai konsekuensi era global dimana media memainkan perannya tidak sekedar sebagai alat akselerasi persebaran informasi di seluruh belahan dunia, namun juga turut menjadi agen konstruksi ideologi-ideologi tak terkecuali persoalan gender. Makin besarnya peran media ini menyebabkan aspek historis dan sosiokultural yang bersifat lokal tak lagi menjadi satu-satunya rujukan dalam konstruksi ideologi apapun, termasuk persoalan gender dalam konteks ini isu maskulinitas. Merujuk pada konsep kajian audiens yang mendasari penelitian ini, meskipun perempuan penggemar Harry Potter dipandang sebagai pihak yang aktif memaknai teks media yang mereka konsumsi sehingga mereka ‘berbicara kembali’ melalui karya fiksi, ini tidak berarti mereka sama sekali bebas dari pengaruh luar. Karenanya, sangat penting untuk melihat keterkaitan isu maskulinitas dalam teks slash perempuan dengan maskulinitas di teks-teks lain sebagai produk media.

Seperti disebutkan sebelumnya, penampilan fisik laki-laki yang cenderung ‘feminin’ dan ‘cantik’ dalam beberapa teks slash diatas memiliki kemiripan dengan apa yang disebut Sun Jung sebagai soft masculinity. Menurut Jung, soft masculinity ini banyak direpresentasikan oleh bintang laki-laki dalam budaya pop Asia Timur. Dalam The Shared Imagination of Bishōnen; Pan-East Asian Soft Masculinity: Reading DBSK, Youtube.com and Transcultural New Media Consumption (2009) Jung menulis tentang apresiasi penggemar boyband Korea Dong Bang Shin Ki (DBSK), sebuah grup boyband yang dengan gemilang berhasil meraih popularitasnya melalui album Mirotic  pada tahun 2008, dan menerima banyak penghargaan dari pihak industri musik. Setelah versi lengkap album Mirotic direlease pada 21 September 2008, salah satu video klip DBSK yang diunggah di youtube.com meraih jumlah angka penonton sebanyak lebih dari 550,000 dalam satu bulan dan mengundang lebih dari 4,500 komentar. Komentar-komentar tentang video klip DBSK ini tidak hanya berasal dari pengguna youtube di wilayah Asia namun juga dari negara-negara non Asia seperti Australia, Inggris, Amerika Serikat, Mexico, Swiss dan Spanyol. Menurut Jung, para pengguna youtube yang menonton video klip DBSK ini terlibat perdebatan tentang fisik personel boyband DBSK. Sebagian memberi komentar positif dan menganggap personel boyband DBSK sebagai ‘cowok cantik’ yang seksi, sebagian lainnya mengomentari mereka sebagai laki-laki yang berperilaku seperti laki-laki homoseksual.

Dalam pengamatan Jung, karakter fisik anggota BoyBand Korea ini berawal dari karakter Bishounen dalam Shojo Manga Jepang yang memiliki pangsa pasar luas di ranah Asia. Shojo Manga dibuat dengan menyasar pembaca perempuan dan sukses merebut hati mereka. Dalam Manga, karakterisasi laki-laki selalu digambarkan memiliki senyum manis, berperawakan tinggi, berwajah cenderung runcing dan feminin, serta berambut agak panjang. Jung mengatakan bahwa para perempuan Asia pengguna Youtube sebagaimana terlihat dalam kasus DBSK dapat menerima boyband Korea karena memiliki kemiripan dengan citra Bishounen (2009).

Dalam perkembangannya, citra fisik laki-laki feminin ini  makin mewarnai industri hiburan tidak hanya di Korea saja, namun juga di Indonesia yang ditandai dengan makin menjamurnya grup boyband yang juga memiliki karakteristik fisik seperti boyband Korea. Perempuan penggemar boyband ini pada umumnya begitu terpesona dengan penampilan para personilnya yang berwajah imut dan bergaya fashionable, sebagaimana terlihat dalam berbagai aksi panggung mereka yang selalu mengundang teriakan histeris penggemar. Ini menunjukkan bahwa di Indonesia idealisasi penampilan fisik laki-laki tidak terlepas dari pengaruh industri hiburan dengan media sebagai alat konstruksi identitasnya, dalam kasus ini laki-laki cantik ala Bishonen. Bisa dikatakan bahwa di Indonesia terdapat kecenderungan baru untuk mengidealisasi nilai maskulinitas dengan acuan ketampanan oriental yang lembut dan feminin. Sebagaimana terlihat dalam fenomena industri musik, serial televisi pun tak luput dari pembentukan diskursus tentang laki-laki feminin yang makin banyak digemari. Misalnya, menurur Pravitta, Meteor Garden (serial drama Taiwan) disukai penonton Indonesia karena ciri-ciri laki-laki yang trendy, manis, tidak kasar, tanpa tato, tidak merokok, dan memiliki fisik ideal. Figur pria Asia yang juga berawal dari karakter Bishounen Meteor Garden ini menjadi menarik karena menampilkan sesuatu yang berbeda dari bintang-bintang Barat (Pravitta 2004: 7).

Apa yang dikatakan oleh Sun Jung dan Pravitta di atas menjadi menarik jika mengacu kembali pada idealisasi fisik laki-laki dalam slash menurut Confeito, HanariaBlack dan Mizore. Hasil kuesioner via email menunjukkan bahwa Mizore dan Confeito sangat menggemari manga Jepang. Selain itu, profil mereka di situs www.fanfiction.net menunjukkan bahwa mereka juga aktif di situs www.deviantart.com sebagai penggambar anime, animasi khas Jepang yang jelas tidak terlepas dari karakteristik fisik laki-laki ala Bishonen. Menariknya, meskipun secara fisik karakteristik tokoh anime mereka mendapatkan pengaruh kental dari karakteristik Bishonen, tokoh-tokoh dalam anime mereka tidak seluruhnya bersumber dari karakter di manga, namun juga bersumber dari karakter teks Harry Potter yang sering mereka pasangkan dalam slash. Berdasarkan penjelasan ini, saya beranggapan bahwa jika deskripsi maskulinitas oleh perempuan penulis slash dikatakan hanya merujuk pada soft masculinity Asia Timur, ini akan menjadi simplifikasi terhadap diskursus maskulinitas itu sendiri, terlebih jika mengacu pada pernyataan Pravitta bahwa figur pria Asia yang berawal dari Bishounen menyajikan hal yang berbeda dari bintang barat. Ini berimplikasi terhadap dikotomi antara maskulintas ‘timur’ dan ‘barat’, sehingga menjadi tidak relevan dalam kasus maskulinitas teks slash Harry Potter, yang bersumber dari teks barat. Mengingat teks slash tidak serta merta hadir tanpa adanya teks sumber, dapat dikatakan bahwa ide-ide maskulinitas dalam teks slash tidak akan benar-benar bebas dari pengaruh teks sumbernya. Meski penelitian ini berfokus pada perempuan penggemar novel Harry Potter, hasil kuesioner via email menunjukkan bahwa mereka juga menggemari film Harry Potter; sehingga dapat dikatakan bahwa perempuan penggemar ini merujuk pula pada teks film Harry Potter.

Merujuk pada penjelasan diatas, dapat dikatakan bahwa persoalan maskulintas dalam teks slash tidak terhenti pada persoalan soft masculinity ‘yang timur’ dan dengan demikian dikatakan sebagai ‘maskulinitas yang bukan barat’, namun lebih pada maskulinitas yang bertitik tekan pada keperdulian laki-laki akan tampilan fisiknya, baik dari wajah maupun postur tubuh. Saat ini penampilan fisik laki-laki yang ‘ideal’ diidentikkan dengan tubuh yang memiliki nilai estetis; wajah manis dan feminin, mengikuti tren, bersih dan terawat. Ini tentunya tak lepas dari peran media yang ikut mengkonstruksi pencitraan fisik ideal tersebut. Melalui berbagai tayangan iklan di media cetak, audiovisual, internet serta beragam artikel tentang tubuh laki-laki yang ‘ideal’, media memainkan perannya sebagai agen yang turut mengkonstruksi ideologi dominan, yang bertujuan agar laki-laki mengikuti tren dengan mengkonsumsi produk-produk kapitalis yang pada akhirnya juga membawa keuntungan bagi pihak media.

Pada umumnya media mengkonstruksi sosok laki-laki yang memperdulikan penampilan fisik ini melalui bintang-bintang (iklan, film, televisi, musik dan olahraga) yang dikategorikan sebagai laki-laki metroseksual. Laki-laki metroseksual mempunyai perhatian lebih terhadap penampilan fisik mereka baik wajah maupun postur tubuh. Kata metroseksual ini berakar dari metropolitan dan heteroseksual, namun pada kenyataannya laki-laki metroseksual secara stereotyping diasumsikan sebagai laki-laki yang memiliki perilaku seperti homoseksual karena perhatian mereka yang besar terhadap penampilan fisik mereka. Mark Simpson mengatakan bahwa laki-laki metroseksual merupakan a dandyish narcissist in love with not only himself, but also his urban lifestyle (1994). Kecintaan laki-laki metroseksual terhadap gaya hidup urban ini terlihat melalui kegandrungan mereka untuk mengkonsumsi produk-produk kecantikan dan perawatan tubuh berlabel For Men. Kini makin marak dijumpai berbagai jasa perawatan khsusus laki-laki yang menawarkan perawatan tubuh, wajah, rambut bahkan kuku. Pusat-pusat kebugaran juga makin menjamur dan menawarkan pembentukan otot tubuh yang kini dianggap ideal, seperti halnya perut rata dengan enam kotak atau sixpack. Pemilihan ikon ‘pria L-Men’ yang dihelat setiap tahun merupakan satu contoh bagaimana tubuh laki-laki dengan perut sixpack diidealisasi melalui produk kapitalis dengan media sebagai agennya. Fenomena perut sixpack ini pada kenyataannya telah menjadi idealisasi postur tubuh tidak hanya di kalangan kaum laki-laki, namun juga perempuan yang menganggapnya sebagai daya tarik laki-laki, sebagaimana terlihat jelas dalam kutipan author’s note slash Another Time and Another Attitude yang ditulis Mizore.

Dari  penjelasan diatas, dapat dipahami bahwa studi sastra tak hanya dapat dilakukan secara eksklusif atau hanya bertitik tekan pada sastra sebagai satu karya otonom. Terlebih dalam konteks sastra cyber, sastra dan media telah menjalin satu kelindan yang sangat erat. Studi tentang sastra cyber menuntut pula studi tentang ruang cyber, sebuah ruang maya yang tercipta oleh teknologi berbasis komputer. Studi tentang sastra cyber menuntut pula studi tentang media.

Mengingat bahwa para perempuan penulis slash berbicara tentang tubuh laki-laki  melalui fiksi mereka di ruang cyber, perbincangan tentang idealisasi tubuh maskulin ini tentunya tak bisa dilepaskan dari peran ruang cyber itu sendiri. Terkait dengan persoalan tubuh, saya melihat keterkaitan antara maskulinitas dan ruang cyber dalam dua konteks. Pertama, ruang cyber sebagai media berbasis teknologi komputer mempunyai andil yang sama dengan media non cyber sebagai agen yang turut mengkonstruksi konsep tubuh maskulin melalui iklan dan artikel-artikel online. Kedua, ruang cyber sebagai ruang yang menawarkan anonimitas memberi peluang besar pada mereka untuk mengoptimalisasi fantasi mereka tentang tubuh maskulin. Dengan kata lain, ruang cyber merupakan arena yang lebih ‘luas’ (meski bukan tanpa batas) bagi mereka untuk mengkonstruksi tubuh laki-laki yang ideal dalam pandangan mereka sebagai perempuan. Terkait dengan wacana relasi gender dan sastra, khususnya tentang persoalan tubuh, perspektif feminis acapkali mencurigai sastra sebagai media yang mengeksploitasi perempuan. Ini sejalan pula dengan yang diungkapkan oleh Mulvey tentang male gaze seperti yang dikatakannya dalam “Visual Pleasure and Narrative Cinema”. Dalam pengamatan Mulvey, visualisasi perempuan dalam film cenderung berlawanan dengan alur cerita, sebagaimana terlihat dari adegan lambat yang melibatkan bintang perempuan. Menurut Mulvey, adegan lambat ini mengubah alur action menjadi sebuah momen kontemplasi erotik (1975). Namun jika kembali merujuk pada analisis slash fiction tentang persoalan tubuh, sangat menarik untuk diperhatikan bagaimana para perempuan penggemar Harry Potter ini melakukan aktivitas di ruang cyber. Terkait dengan aktivitas mereka ini, apa yang dikatakan Mulvey male gaze tidak terlalu relevan. Dalam kasus slash fiction, tubuh yang dipandang adalah tubuh laki-laki, yang tidak sekedar dikonstruksi oleh perempuan penulis slash namun sekaligus juga dikonsumsi dan dinikmati oleh para perempuan pembaca slash. Ini menunjukkan bahwa laki-laki berbalik menjadi objek tatapan khalayak perempuan melalui sastra cyber.

Penutup

Sastra cyber yang memiliki corak unik dan berbeda dari sastra tradisional (sastra non cyber di dunia riil) tak dapat lepas dari karakteristik media internet yang mewadahinya. Sebagai ruang yang menawarkan anonimitas serta kontrol yang lebih lentur dibandingkan dunia riil, ruang ini memungkinkan siapapun untuk menjadi subjek dan berbicara sesuai yang mereka inginkan, termasuk menawarkan ide-ide subversif terhadap ideologi dominan yang heteronormatif sebagaimana tergambar dalam slash fiction.

Para perempuan penulis sastra cyber, khususnya slash fiction dalam konteks ini berupaya untuk beranjak dari kerangka heteronormativitas dan mengkonstruksi ekspektasi mereka tentang tubuh laki-laki melalui karakter utama. Dari analisis teks slash yang diambil sebagai contoh dalam artikel ini, dapat dikatakan bahwa konsep tubuh ideal dalam pandangan perempuan lebih mengacu pada tubuh laki-laki yang terawat, memiliki aura kecantikan dan mengikuti tren.Wacana tentang tubuh laki-laki cantik yang mengikuti tren ini tak lepas pula dari pengaruh media yang memiliki andil cukup besar dalam konstruksi ideologi terkait persoalan tubuh dan maskulinitas.

Keterangan

Tulisan ini dimuat di Jurnal JENTERA, Vol. 2 No. 2 Desember 2013.

Catatan akhir

[i] Fanfiction adalah sebuah karya fiksi yang ditulis oleh penggemar satu teks sumber tertentu. Sebagai karya penggemar, fanfiction meminjam karakter atau setting dari satu teks sumber yang dapat berwujud novel, film, maupun serial televisi.

[ii] Fanfiction.net adalah situs fanfiction terbesar yang memuat jutaan cerita fanfiction dalam puluhan bahasa.

[iii] Slash adalah: satu genre fanfiction yang berfokus pada hubungan homoseksual antarkarakter  laki-laki yang dalam teks sumbernya merupakan karakter heteroseksual.

[iv] Alternate universe : satu genre fanfiction yang mengubah setting cerita menjadi sama sekali berbeda bahkan berlawanan dengan setting di teks sumbernya.

[v] Crossover: satu genre fanfiction yang menggabungkan karakter-karakter dari dua teks sumber yang berbeda. Misalnya: karakter Harry dalam novel Harry Potter dipertemukan dengan karakter Bella dari novel Twilight.

[vi] Author’s note: catatan penulis yang adakalanya dijumpai di akhir sebuah karya fanfiction. Catatan ini dapat berwujud komentar penulis tentang karakter dalam fiksinya atau sekedar menyapa pembaca fanficton.

Daftar bacaan

Brahmanto, B. 1986. Sastra Komputer dalam Basis, Januari 1986. Yogyakarta: Yayasan Basis.

Connel, R.W. 2005. Masculinities. Los Angeles : University of California Press.Fiske, John. 1997. Television Culture. London: Routledge.

Cumberland, Sharon. 1999. Private Use of Cyberspace: Women, Desire and Fan Culture. http://web.mit.edu/comm-forum/papers/cumberland.html (akses September 2011).

Gibson, William. 2010. Neuromancer. Yogyakarta: Jalasutra.

Hinerman, Stephen. 1992. “I’ll Be Here With You’: Fans, Fantasy and the Figure of Elvis”. The Adoring Audience Fans Culture and Popular Media. Ed Lisa A Lewis. London: Routledge.

Jenkins, Henry. 1992. Textual Poachers Television Fans and Participatory Culture. New York: Routledge.

Mulvey, Laura. 1975. Visual Pleasure and Narrative Cinema. Screen 16.3, Autumn 1975, pp. 6-18.

Pravitta, G. M. M. 2004. Menonton Perempuan Penonton Meteor Garden. Clea (6): 1–29.

Confeito. 2011. More Than Words. http://www.fanfiction.net/s/7691604/1/More_Than_Words  (akses Agustus 2011)

Cumberland, Sharon. 1999. Private Use of Cyberspace: Women, Desire and Fan Culture. http://web.mit.edu/comm-forum/papers/cumberland.html (akses September 2011).

Hanaria Black. 2012. Hidden Obsession. http://www.fanfiction.net/s/7810773/1/Hidden_Obsession (akses Januari 2012)

Jung, Sun. 2009. The Shared Imagination of Bishonen, Pan-East Asian Soft Masculinity. Reading DBSK, Youtube.com. http://intersections.anu.edu.au/issue20/jung.htm (akses Januari 2012)

Mizore Kibishi. 2010. Another Time and Another Attitude. http://www.fanfiction.net/s/6600192/1/Another_Time_and_Another_Attitude (akses Agustus 2011).

Simpson, Mark. 1994. Here Come The Mirror Men. http://www.marksimpson.com/pages/journalism/mirror_men.html (akses Maret 2012)

Viires, Piret. 2005. Literature in Cyberspace. http://www.folklore.ee/folklore/29/cyberlit.pdf (diakses Agustus 2012)

Share This:

About Irana Astutiningsih 5 Articles
IRANA ASTUTININGSIH adalah peneliti di Matatimoer Institute dan pengajar di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*