Masturbasi spiritual teks “Ha…Ha…Ha…” Karya Djenar Maesa Ayu

HAT PUJIATI

 

Pendahuluan: Kapitalisme, sebuah pertemuan posmodernime dan dekonstruksi

Arus kapitalisme yang dimotori industrialisasi masa modern memberikan suntikan suplemen pada keglobalan masyarakat ini dan muncul istilah Anything Goes yang dikumandangkan Lyotard[2]. Semua jadi mungkin ketika ada uang. Uang dengan mudah merangkai serpihan-serpihan atau potongan-potongan budaya yang tercecer di dalam ruang publik dan menciptakan ekletisisme. Padu-padan fragmen-fragmen ini mewujud dalam wadah-wadah ekspresi dalam kehidupan, termasuk dunia sastra.

Roh posmodernisme bercirikan gerakan keluar dari pikiran modernisme dengan menerobos konsep-konsep  biner. Pemikiran dikotomis yang mapan di jaman modern menjadi target perlawanan pemikiran posmodernis. Kecenderungan ini mengangkat segala sesuatu yang selama ini telah dipinggirkan menjadi perlawanan khas terhadap modernisme. Minoritas dipaparkan sebagai sebuah keseluruhan tersendiri yang menarik, tidak lagi dibandingkan dengan mayoritas karena keduanya dianggap memiliki entitasnya sendiri-sendiri namun demikian masih bisa dibedakan karena masing-masing entitas memiliki keunikan sendiri. Karya sastra pun menjadi ajang penggembosan narasi-narasi besar, pembalikan wacana-wacana langgeng yang telah terbangun secara diskursif dan penghadirkan  keabsahan pluralitas pemaknaan dalam pemaknaan teks.

Mendekonstruksi teks karya sastra adalah salah satu cara untuk membuka simpul-simpul penyeragaman pemikiran yang coba dibekuk modernitas dalam satu kesatuan. Pembukaan simpul-simpul ini membawa keragaman dalam pemaknaan pikiran yang ada di dalam karya. Pikiran-pikiran dikotomis yang dipetakan modernisme menjadi titik berangkat dekonstruksi untuk kemudian diterobos dan merayakan pluralitas.

Konsep dekonstruksi Derrida adalah teori pembacaan yang memiliki kesejajaran dengan posmodernisme. Dekonstruksi anti logosentris, yaitu adanya keterpusatan kebenaran dan posmodernisme anti narasi besar.

Kerangka teoretis: Derrida dan mendekonstruksi teks

Jaques Derrida, seorang filusuf Perancis asal Aljazair, pertama kali mengenalkan teori dekonstruksinya untuk membongkar batasan-batasan dalam filsafat barat namun kemudian ini bisa diterapkan di dalam teks apa saja. Dia melawan opossisi biner yang dibawa Saussure dan dilestarikan Levi-Strauss. Dalam pandangan Derrida, oposisi biner mengindikasikan pusat, atas, asal, atau pun isi yang diangap lebih penting dari pinggiran, bawah, turunan, atau pun lampiran. Saussure menggap tulisan adalah representasi lisan yang presen (hadir) dan yang lisan merepresentasikan kehadiran subjek. Maka itu lisan dianggap lebih bernilai dari tulisan karena lisan memungkinkan auto-affection[3]. Derrida justru hendak mendekonstruksi hal tersebut. Substansi  atau esensi itu tidak ada, yang ada hanya bentuk.

Menurut Derrida, yang lisan itu sebenarnya tulisan, yang lisan itu meniru tulisan. Lisan itu bukan present tapi represent. Tulisan adalah sekunder, jadi tidak perlu diteliti, karena dia hanya representasi, yang penting adalah yang hadir sekarang, tulisan itu, bukan masalah tulisan sebagai tiruan bunyi maka itu bunyi dianggap lebih penting. Sedangkan yang hadir ini pun sebenarnya juga representasi dari bentuk lain. Semuanya hanya representasi, penundaan kehadiran subjek total yang terus menerus. Tulisan membedakan namun ternyata lisan juga membedakan keduanya tidak ada yang hadir tapi hanya sistem relasi yang bersifat formal. Bagi Derrida, kenyataan disusun seperti tulisan, dan tulisan adalah sistem perbedaan dan persamaan, itulah difference – defferance.

Teori dekonstruksi Derrida akan digunakan sebagai pisau analisis untuk membedah cerpen Djenar yang berjudul Ha…ha…ha… ini, namun demikian dalam rangkaian analisis pembongkararan narasi ini tidak menutup kemungkinan penggunaan teori-teori pendukung lainnya. Pendekatan yang akan digunakan dalam meganalisis cerpen ini adalah dengan pendekatan semiotik[4]. Pendekatan semiotik dipilih dalam penulisan makalah ini untuk membantu memahami konstruksi makna yang ada di dalam teks. Pendekatan ini akan menyoroti teks dari aspek struktur teks tersebut. Konsep-konsep yang ditawarkan Mchale juga berperan dalam analisa fiksi pormodernis sehingga dalam tulisan ini pendapat Mchale juga akan mewarnai analisa cerpen.

Berkenaan dengan narasi, Belsey[5] dalam Critical Practice memberikan ulasan mengenai struktur narasi yang punya andil dalam mempengaruhi pembacanya. Akan tetapi, kompleksitas pengalaman dan pengetahuan pembaca mampu merombak arahan narator dalam memaknai cerita. Menurutnya, mendekonstruksi teks artinya mencari kontradiksi-kontradiksi yang ada di dalam teks dan melampaui batasan-batasan apa yang dibangun oleh teks, melepaskan ikatan-ikatan yang membatasi teks tersebut. Pelepasan ikatan-ikatan tersebut menghasilkan pluralitas yang terbuka dalam pembacaan kembali bahkan dalam konsep Barthes[6] ini juga menghasilkan penulisan kembali. Lebih dalam lagi, mendekonstruksi teks adalah membuka ketidakmungkinan yang mungkin ada dalam teks termasuk juga bagian-bagian ideologis yang terselip di dalam teks.

Medan semantik

Oposisi-oposisi yang dihadirkan dalam cerita diterobos dan dihancurkan dan kembali membangun  oposisi baru dan tindakan-tindakan penerobosan yang baru pula. Medan-medan semantik yang bisa saya tangkap dari cerpen ini adalah sebagai berikut;

Rumah

Luar rumah                  Rumah

setan (batin)                Sera (Ibu)

Kegelisahan                ketenangan

kenyataan                                Hati

fisik

yoga

Sebab              akibat

neraka              Surga

setan                Tuhan

doa

anak                 orangtua

ibu                   ayah

kekerasan                    kedamaian

kesalahan                     kebenaran

objek                           subjek

subjek’             subjek

kenyataan

uang

Luar rumah

Berangkat dari kontradiksi antara rumah dan luar-rumah yang ada dalam cerpen, ideologi yang tampak dari sisi ini adalah kekerasan. Dua dunia yang disadari narator ini membawa kegelisahan-kegelisahan yang berkepanjangan. Dia sebagai penghuni rumah mengamati orang-orang yang ada di dalam rumah dan mengidentifikasi dirinya untuk kemudian bisa bertindak sesuai dengan dunia yang didiaminya. Sera menyebutnya anak setan, Sera pun diartikan sebagai setan, identifikasi itu memunculkan kontradiksi antara Sera (ibu) dan Setan, setan juga bersuamikan setan maka itu mereka beranak setan.  Bapak yang punya kekuasaan di dalam rumah menjadi penentu suasana, bahkan nasib narator. Akses Bapak ke luar rumah kemudian menampakkan muasal kekerasan di dalam rumah. Kekerasan ini berasal dari luar rumah dan kemudian menimbulkan oposisi berikutnya yang berupa kegelisahan dan ketenangan. Seperti disebutkan di dalam sinopsis, narator gelisah degan perilaku Ibu dan Bapaknya yang berdampak pada dirinya, Sera gelisah dengan perilaku Bapak yang senang berjudi, main perempuan dan menghamburkan uang, bapak sendiri gelisah dengan uang yang diberikan Sera maka dia menghamburkannya dengan cara keluar rumah. Kenyataan yang mereka hadapi adalah kegelisahan tapi di dalam hati kegelisan-kegelisahan itu menemukan jalan keluar.

Sebab-akibat juga bisa dijadikan ruang oposisi dari hubungan Sera dan Bapak yang melahirkan masalah yang kompleks di dalam rumah. Sementara antara kenyataan dan hati, batin dan lahir, oposisi ini mengindikasikan oposisi pada lingkup yang lebih besar lagi yaitu neraka dan surga yang artinya oposisi tersebut juga menghadirkan kontradiksi antara setan dan Tuhan. Kehadiran setan-setan di dalam rumah menghadirkan oposisi kebenaran dan kesalahan.

Sementara itu, peristiwa-peristiwa di dalam rumah ada kekerasan dan imajinasi kedamaian dan kenyataan memisahkan kutub-kutub tersebut. Usaha-usaha menembus batas pemisah akan dijelaskan dalam sub bab berikut ini.

Plot: Menembus batas biner

Seperti apa yang telah dikatakan Faruk, berlandaskan pemikiran Lotman, Plot adalah segala aktivitas fisik maupun mental yang dilakukan untuk menembus atau pun mempertahankan medan-medan semantik yang ada dalam sebuah cerita. Plot ini kemudian berkaitan dengan komposisi penceritaan yang terbaca oleh pembaca yang berkaitan dengan narator dan cerita yang dibawakannya. Dekonstruksi cerpen ini pun berdasarkan pembacaan penulis atas teks.

Ideologi kekerasan yang saya tangkap di dalam teks dalam lingkup yang cukup luas terlihat pada dikotomi luar rumah dan dalam rumah sebagai dua dunia yang harus disikapi oleh para tokoh dalam cerita.

Sera namanya. Setan, saya memanggilnya. (Ayu, 2006; 42)

…yang yang saya dapat adalah tamparan keras di pipi. Serasa terbakar. Serasa dalam neraka. Saya begitu ingin keluar dari neraka jahanam ini. Saya berdoa. Mencari kata yang begitu sering diucapkan di depan kelas oleh guru sekolah, “Bapa kami yang di surga.” Tuhan. Tapi di rumah, saya lebih sering mendengar kata anak setan. Maka saya berdoa mencari bapa saya. Setan. (Ayu, 2006; 42)

Pada saat Bapak pergi itulah nama saya diganti dengan anak setan. Tak begitu lama setelah ia berdoa. (Ayu, 2006; 43)

Satu-satunya pelecehan dan penganiayaan ada dan terjadi di rumah ini. Kenapa ia tidak pergi? (Ayu, 2006; 45)

Rumah dianggap sebagai tempat yang identik dengan neraka jahanam karena kekerasan yang dialami oleh narator adalah terjadi di dalam rumah. Sera dengan kemarahannya sering memanggilnya sebagai anak setan, Bapak yang dicintai Sera adalah ayah kandung narator dengan demikian Bapak juga setan. Sera yang emosinya meledak-ledak menghadapi narator disebutnya juga setan. Rangkaian hubungan tersebut membuat narator mulai menyadari bahwa memang dirinya adalah setan, demikian pula ibu dan bapaknya yang menghuni rumah tersebut. Rumah, dunia yang dihuni mereka adalah neraka maka perilaku mereka layaknya setan penghuni neraka. Keterpecahan sempat terjadi pada diri narator, dia bingung dengan identitasnya namun setelah mengenali dunianya, dia kenali dirinya dan bersikap sesuai dengan tuntutan dunianya tersebut, menjadi setan.

Sera berdoa pada Tuhan di dalam rumah, dia juga beryoga guna menyeberangi kegelisahannya dan mencapai ketenangan. Kondisi fisik menghalangi narator menerobos batas antara kegelisahan dan ketenangan. Narator yang tidak selangsing Sera menyulitkannya untuk berdoa atau pun beryoga. Kegagalan lah yang tercapai oleh narator dalam mencapai ketenangan tersebut.

Kegelisahan narator berlanjut pada pertentangan yang lahir dan batin. Dia setan kecil dan lemah dibandingkan Sera. Hubungan darah dirinya dan sang ibu yang mengikatnya secara normatif menjebaknya dalam kelemahan, posisinya lemah karena ibu tidak boleh dilawan, meski ia tidak percaya surga di telapak kaki ibu tetapi kenyataanya dia tidak kuasa menghancurkan batas antara yang lahir dan yang batin. Tidak ada keberanian yang menghinggapi dirinya, yang bisa membuatnya kuat menghancurkan batas itu adalah keberanian lahiriah, bukan batiniah. Narator terjebak di dalam lingkup batiniah.

Bisakah dikatakan bahwa narator kalah melawan keadaan karena terjebak di dalam ketakutan? Narator berani mengumpat Sera dan Bapak dalam hati. Ada kekuatan dan keberanian yang terbangun di dalam batinnya. Dia menerobos batas ketakutan itu melalui batin dengan berteriak di dalam hati, dalam batin. Pencapaian pada ketenangan atau kedamaian hati yang dilakukan narator adalah dengan hukum negatif x negatif = positif. Ketakutan, keresahan dan ketidaknyamanan yang dia dapatkan di dalam rumah juga ditembus melalui doa. Hanya saja doanya sebagai anak setan, di dunia para setan, dia mencari kekuatan pada setan. Dia bersekutu dengan setan.

Saya berdoa. Mencari kata yang begitu sering diucapkan di depan kelas oleh guru sekolah, “Bapa kami yang di surga.” Tuhan. Tapi di rumah, saya lebih sering mendengar kata anak setan. Maka saya berdoa mencari bapa saya. Setan. (Ayu, 2006; 42)

Saya berdoa dalam hati. Tapi tidak dengan posisi seperti Sera. Saya berdoa sambil berguling-guling di lantai sambil diinjak-injak oleh Sera. Jadi saya tidak beraniberdoa memohon kepada bapa kami yang ada di surga. Tuhan. Saya berdoa memohon kepada bapa saya. Setan. Semoga ia segera pulang. Dan doa saya terkabul. Kemarin Bapak pulang dengan riang dan membawa uang. Bapak menang.Sera senang. Setan dengan setan sama-sama girang. Saya tenang. (Ayu, 2006; 46)

Bapak sebagai pemegang kekuasaan tertingi di dalam rumah mempunyai kekuatan untuk menyelamatkan narator. Bapak adalah setan, narator adalah setan, maka yang tercipta adalah kekuatan super setan yang tentunya bisa menghentikan setan yang lebih lemah. Kutub negatif pada dirinya dan pada diri Bapak yang berkolaborasi melahirkah sebuah kutup yang positif.

Di masa yang sama, ketika narator mengumpat Sera dia juga sebenarnya meninggikan posisi Sera sebagai Ibu, dia mengagumi kelebihan-kelebihan Sera baik dari sisi fisik, yang secara diskursif tidak menarik namun menguntungkan bagi perempuan, mau pun Sera secara spiritual. Dia iri dengan kekuatan spiritual Sera yang walau pun mendapatkan perlakuan yang tidak buruk dari suaminya tapi tetap bertahan dan mengadukan semua pada Tuhan. Bapak yang juga dianggapnya sebagai setan penyebab kekacauan di dalam rumah, pada kenyataannya diperlakukannya sebagai penyelamat, dan dianggap makhluk yang punya kekuasaan besar yang patut disembahnya.

Rupture[7] dalam pendobrakan batas-batas biner ini terus berlanjut, meski pun Sera rajin berdoa, bukan pula berarti bahwa dia adalah orang yang saleh. Sera adalah pelacur yang sangat mencintai penis Bapak karena sekeras tiang. Batin Sera sebenarnya juga memuja setan, setan Bapak. Sera membuat bapak jadi setan. Setan lanang menjadi setan karena setan jalang. Oposisi-oposisi yang ini ada dalam medan sebab-akibat. Sera jadi setan karena penis sekeras tiang. Kekerasan Sera adalah karena kekerasan penis Bapak. Sera adalah pemuja kekerasan yang ada pada Bapak maka ia hanya bisa ditaklukkan oleh pemilik kekuasaan[8] atau kekerasan. Sekali lagi rapture dalam hal ini adalah pembalikan medan sebab-akibat tersebut, yang semula tampak sebagai sebab tetapi juga bisa hadir sebagai akibat dan sebaliknya. Dalam rangkaian peristiwa berikut ini bisa kita lihat siklus yang mengaburkan sebab akibat ini.

Penis bapak keras—Sera Cinta—karena cinta, Bapak dimanja dengan uang—uang membawa kehancuran karena dihamburkan—Sera kecewa—anak disiksa – anak meninggalkan rumah meninggalkan neraka kekerasan—luar rumah juga sumber kekerasan, anak memasuki kekerasan.

Bapak juga memilih pulang ketika menang atau pun kalah, ia pulang pada Sera. Kelemahan Sera, yang bisa dipukul, ditelanjangi dan bisa dirampas uangnya, ternyata juga mengikat bapak yang kuat dan pemilik kuasa tersebut.

Jika hatinya dirundung senang, biasanya ia langsung tertidur di bawah ketiak Sera. Jika hatinya setengah senang, biasanya ia menelanjangi Sera. Jika hatinya sama sekali tidak senang, biasanya ia menelanjangi, memukuli, merampas uang baik dari dalam dompet maupun celengan Sera. Lalu ia pergi lagi, dan baru pulang keesokan pagi. (Ayu, 2006; 43)

Jika hati bapak dirundung senang, ia akan menyodorkan ketiaknya dan membiarkan bapak di sana sampai lelap tertidur. Jika hati Bapak setengah senang, ia akan menyerahkan tubuhnya ditelanjangi dan dibolak-balik oleh Bapak seperti adonan martabak telur. Jika hati Bapak sama sekali tidak senang, ia akan merelakan dirinya ditelanjangi, dipukuli, dan membiarkan Bapak merampas semua uang baik dari dalam dompetnya mau pun celengan lantas pergi lagi, baru pulang keesokan harinya. Kalau Bapak pergi lagi, ia pasti akan menangis meraung-raung di depan pintu ruang tamu, lalu…(Ayu, 2006; 46)

Dua kutipan di atas, oposisi Sera (Ibu) dan bapak, memposisikan subjek dan objek. Pada kutipan pertama Sera adalah objek Bapak namun pada kutipan kedua, ketika membicarakan konteks yang sama bahkan sekedar pengulangan dari yang pertama, Sera ternyata selain objek dia juga subjek, dia bukan korban Bapak. Dominasi subjek-objek ini dituturkan narator guna menunjukkan penundaan pada jejak-jejak yang terbaca di awal. Ada dualitas dalam sesuatu yang tampak tunggal, dibalik yang tampak natural, biasa, dalam common sense ternyata ada kemungkinan-kemungkinan lain, ada pluralitas di balik kesatuan. Teks ini mengusiknya dengan penundaan-penundaan seperti subjek adalah yang menentukan namun perlu ditengok lagi. Subjek diayomi, dilayani objek, subjek butuh objek, objek sekaligus subjek, seperti yang dilakukan Sera. Dia membiarkan suaminya menjadikannya objek, artinya kendali juga ada pada dirinya yang diposisikan sebagai objek. Objek menjadi subjek’ tanpa menjadikan subjek (subjek pertama/suami/bapak) sebagai objek. Kadang juga ada sintesis antara objek-subjek atau subjek’-subjek, menghilangkan border oposisi yang terbangun pada awalnya.

tubuh-di-taman-2

Rentetan kegelisahan yang terjadi dalam cerita ternyata terbayarkan dengan uang. Kegelisahan dalam batin tokoh-tokoh dalam cerita terbeli dengan uang. Uang menjadi kekuatan yang mampu melampaui batas pemisah antara kegelisahan dan ketenangan. Uang membuat bapak senang pulang dengan kemenangan, memberikan kenyamanan pada Sera. Sera senang uang, uang bisa mengantarnya berbelanja dan melupakan semua kepenatannya. Jika Sera senang, narator senang karena bebas dari siksaan Sera. Uang mempertemukan setan dengan setan di dalam rumah itu dan menghasilkan energi positif. Uang di sini sama dengan penis sekeras tiang, dengan keberanian dan kekuatan fisik yang mempertahankan kekuasaan Bapak. Uang hasil judi menjadikan Bapak sebagai pembawa energi positif, membawa kedamaian.

Uang dari Sera, yang juga untuk memanjakan Bapak, membahagiakan Bapak, sebagai ungkapan cinta Sera pada Bapak, adalah berbeda dengan uang hasil judi Bapak. Uang Sera justru menjadi pembawa kehancuran. Bapak menggunakan uang itu untuk berjudi, mabuk dan bermain perempuan di luar rumah. Sera kecewa karenanya dan melampiaskan hal itu dengan menyiksa anaknya, anak itu pun tidak tahan dan meninggalkan rumah yang menjadi tempat kekerasan. Jika kita runut lagi pada premis cerpen ini yang pertama, Bapak sebagai pemilik akses ke luar-rumah adalah penyebab semua kekerasan di dalam rumah. Ketika narator (anak) ini pada akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah untuk melepaskan diri dari kekerasan, sebenarnya dia justru menceburkan dirinya ke dalam kekerasan, bahkan sumber kekerasan itu sendiri. Ideologi kekerasan dalam cerita ternyata tidak terpisah dari dunia rumah dan dunia luar-rumah. Antara rumah dan luar rumah adalah berbeda atau dalam konsep Derrida bisa dikatakan difference tetapi sebenarnya juga sama, differance. Dunia rumah merupakan sumber kekerasan yang berasal dari akses Bapak dari luar rumah. Kekuasaan Bapak dalam rumah yang dominan menjadikannya penyebab kekerasan di dalam rumah. Sedangkan di dunia luar rumah Bapak bukan pemegang kekuasaan. Rumah merupakan tempat Bapak kembali dari kekalahan mau pun kemenangan di dunia luar rumah. Di luar rumah Bapak juga menjadi objek kekerasan. Rumah dan luar rumah sebenarnya juga memiliki kesamaan. Dua dunia itu sama-sama merupakan sumber kekerasan namun keduanya dapat dibedakan dan harus disikapi berbeda.

Latar waktu yang menyeratai pergerakan alur hadir dalam tulisan ini dengan melingkar tapi juga acak. Cerita dimulai dari kejadian terkini, yaitu ketika narator melihat Sera berdoa kemudian cerita bergulir dengan mengulas kejadian-kejadian sebelumnya, masa lalu. Selanjutnya latar waktu yang disebutkan secara eksplisit di dalam teks adalah kemarin dan kemarinnya lagi dan kembali pada kemarin yang kemudian diakhiri pada hari ini dan sekarang.

Setan!Ia berdoa lagi. Bersimpul kanan kiri jari. Bertekuk lutut kaki.

Begitu jengah saya melihatnya dalam posisi seperti itu. Pernah satu kali saya mencoba mengikutingerakan yoga yang saling ditayangkan dalam program salah satu stasiun televisi. Namun keesokan harinya lutut saya memar. Biru keunguan. Saya malah jadi gusar. Padahal tadinya saya mencari ketenangan. (Ayu, 2006; 41)

Kemarin Bapak pulang. Terhuyung-huyung dengan rambut kucai masai tapi wajah riang. Bapak membawa uang. Ia baru saja menang. Sera senang. (Ayu, 2006; 43)

Kemarinnya lagi Bapak tidak pulang. Terhuyung-huyung dengan rambut kucai masai, ia pergi meninggalkan Sera yang terduduk di depan pintu ruang tamu degan air mata berlinang. (Ayu, 2006; 44)

Hari ini mungkin bapak pulang. (Ayu, 2006; 46)

Tapi saya tahu, saya tak akan kembali ke neraka jahanam. Saya tak mau kembali ke setan-setan. Saya tak mau pulang supaya…(Ayu, 2006; 46)

‘Tahu’ narator dan keputusannya untuk tidak pulang adalah indikasi bahwa itu merupakan saat terkini, kembali pada awal cerita dimana Sera sedang berdoa. Rentetan kejadian alasan Sera berdoa disisipkan dalam alur penceritaan yang berputar pada masa lampau, mengingat kejadian lampau. Cerita itu hanya berputar di dalam benak narator, awal cerita dan akhir cerita ada dalam satu latar waktu, jeda antara awal dan akhir diisi oleh rangkaian cerita pendek ini. Awal dan akhir sama saja, walau akhir menegaskan awal.

Semesta Semantik

Cerita yang dihadirkan cerpen ini melukiskan keterpecahan yang dialami subjek-subjek di dalam cerita, mereka ada di dua kutub antagonis sekaligus protagonis.  Tokoh-tokoh tersebut juga menyadari ada dunia-dunia di luar dunia mereka dan berusaha menyesuaikan dengan dunia-dunia itu namun sering muncul kebingungan[9] pada diri mereka untuk membedakan dunia yang manakah itu. Kebingungan mereka membawa masalah. Masalah-masalah muncul dalam kutub-kutub biner, seperti  yang telah diuraikan di dalam sub bab Plot, kemudian dihancurkan atau dilampaui, kadang juga dipertahankan dengan usaha-usaha yang dilakukan tokoh. Kutub-kutub biner itu sebenarnya tidak saling terpisah, akan tetapi keduanya bisa dibedakan. Ada ekuivalensi dari medan-medan semantik yang terbangun, kemudian diterobos, atau pun yang dipertahankan dalam alur cerita yang melahirkan makna yang  spesifik dalam keseluruhan dunia pemaknaan cerita yang melingkupinya.

Keacakan ide-ide yang ditawarkan cerita tersebut menggambarkan kehidupan manusia yang sering kali bingung menghadapi dualitas semesta. Padahal keduanya menyatu pada titik tertentu, namun masih terbedakan. Teriakan teks mengenai hubungan anak dan ibu, ibu dan bapak, anak dan orangtua, dan manusia dan Tuhan, yang semuanya bergerak meninggalkan nilai-nilai yang telah terbentuk secara diskursif dalam masyarakat, ternyata bergerak kearah yang tak jauh dari realitas common sense. Ada harapan akan kedamaian, ketentraman yang diwakili hati atau batin, hanya saja cara yang ditempuh dalam menggapainya adalah dari kutub berlawanan dari jalur tersebut. Ketentraman dalam cerpen ini bisa dimiliki jika digapai dengan kekerasan. Kekerasan harus dilawan dengan kekerasan pula. Jika tidak bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam batin maka kekerasan lah yag didapat. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa narator yang hanya mampu memaki di dalam hati membuatnya disiksa, tak kuasa melawan, maka dia menerima kekerasan. Dia berdoa pada Bapaknya, setan, agar segera menyelamatkannya dari kekerasan itu. Bapaknya adalah pemilik kekerasan, pengendali kekerasan dan kekerasan Sera pun dilawan dengan persekutuannya dengan setan sehingga menghasilkan energi positif di dalam kutub-kutub negatif tersebut.

Kekerasan di dalam rumah yang tak lagi dapat ditolerir narator, juga dilawan dengan menyongsong kekerasan lain yang ada di luar rumah, meskipun kerasan di luar rumah itu belum pasti lebih ringan dari pada yang ada di rumah. Keluar rumah artinya mencari bebas tetapi bukan kebebasan. Kekerasan di luar rumah mungkin saja menariknya ke dalam siklus kekerasan baru.

Apa yang diungkapkan secara eksplisit di dalam teks juga bergerak ke arah yang berlawanan dari konsep-konsep keagamaan, teriakan tokoh terkesan garang menyerang konsep tersebut. Akan tetapi, agama, ketuhanan itu ada dalam diri tokoh hanya saja hal tersebut tertutup kekerasan. Kekerasan itu membuat hati atau batin tokoh palsu dan kenyataan yang ditampilkan hanyalah kepalsuan belaka. Meskipun teks berbicara kepalsuan diri tokoh, di balik itu teks juga mengungkapkan sisi kebenaran hanya saja tersembunyi. Kedamaian itu ada sebagai imajinasi, kenyataannya tidak ada.

Simpulan

Pikiran-pikiran yang terdapat di dalam cerpen ini sangat berantakan sehingga ide-ide yang ada di dalamnya sulit direduksi ke dalam medan-medan semantiknya. Medan-medan semantik itu saling berhadapan kemudian ditentang kembali oleh teks itu sendiri, yang tersisa kemudian adalah sebuah lingkaran yang saling menjerat. Pada tataran ide, dikaitkan dengan konsep posmodernisme yang pro-keacakan, cerpen ini telah mengambarkan keacakan tersebut.

Eklektisisme muncul dalam oposisi-oposisi biner yang berbenturan, beragam dan menggembosi namun demikian bentuk tulisan yang cukup ekstrim ini ternyata juga bermain-main di jalur-jalur konvensional. Teriakan teksnya akan kebebasan, kutukan pada Tuhan, sumpah serapah pada orangtua dan sebaliknya kutukan pada anak yang digambarkan dalam cerpen ini juga mengandung hal yang sebaliknya. Ada perjalanan ulang-alik norma-norma mapan yang sudah mengakar di masyarakat, melepaskan diri dari dan kembali pada kemapanan tersebut terus menerus. Narasi besar tentang Tuhan, orangtua, bakti anak pada orang tua tersebut(dimana narator tak berani meneriaki ibunya sebagai pelacur atau pun setan secara lisan) ditarik ulur di dalam teks sehingga menciptakan pluralitas dan partikularitas tersendiri di dalam teks. Penceritaan berputar-putar mencoba lepas landas dari konvensi norma namun masih tinggal di ruang yang sama, apa yang diceritakan seperti ungkapan masturbasi spiritual. Kepuasan memaki, mengutuk, usaha membalik dan melepaskan diri dari jeratan norma hanyalah kepuasan imajinatif dan sesaat karena akhirnya teks ini menghasilkan kekosongan. Kekosongan ini juga bukan berarti sebuah kemubaziran, teriakan-teriakan yang sekeras teks ini memberikan keragaman pemahaman, pemikiran ‘yang lain’ tersampaikan sebagai renungan dalam ruang-ruang kosong tersebut. Sesuai dengan konsep posmodernisme yang hendak menciptakan sesuatu yang baru namun yang terjadi hanya pengrusakan yang lama, kali ini teks cerpen Djenar ini menambal sulam perusakan-perusakan yang telah dibuat. Terobosannya pada yang konvensional menghasilkan produk tambal sulam, yang tak benar-benar baru,  yang nantinya bisa menjadi konvensi sebagai gaya baru, gaya tambal sulam.

Keterarangan:

* Tulisan ini dipublikasikan di Jurnal Ilmiah Kesusasteraan/Alayasastra Volume 4, Oktober 2008 (ISSN: 1412-2294). Juga dimuat di: http://heartpujiati.blogspot.co.id/2011/11/masturbasi-spirital-teks-hahaha-karya.html

Catatan akhir

[1] Hat Pujiati, SS adalah staf pengajar pada jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Jember.

[2] Malpas, Simon.2005. The Posmodern.London and New York:Routledge Taylor & Francais Group. Halaman:2

[3] auto-affection merupakan kehadiran diri subjek dalam wacana yang dilontarkannya secara terus-menerus sehingga subjek menjadi pusat yang dalam komunikasi lisan kehadiran subjek menjadi absolut. Subjek bisa mengendalikan dan mengarahkan komunikasi seperti yang dikehendakinya. Antara pembicara dan pendengar ada hubungan timbal balik, yang diragukan bisa ditanyakan langsung pada pembicara sehingga ada kepastian, interpretasi menjadi tunggal dan dikebirikan. Al-Fayyadl, Muhammad.2005.Derrida. Yogyakarta: Pt. LKis Yogyakarta. Hal.58-59.

[4] Semiotik di sini yang akan dipakai adalah konsep Jurij Lotman dalam The Structure of The Artistic Text.

[5] Catherine Belsey dalam (1980) Critical Practice. London : Routledge. Hal 103-124

[6] ibid. hal106-107.Barthes dalam Belsey ini juga menegaskan bahwa mendekonstruksi karya bukan berarti mendekonstruksi pengarang yang memang punya kekuasaan mengarahkan jalannya cerita sebagai pemegang keputusan mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya. Walau pun keputusan itu sendiri ditentukan oleh kecenderungan cerita.

[7] Istilah Derrida yang berarti peretakan gambaran makna lambang-lambang kebahasaan di dalam teks. Dengan re-trace, penelusuran kembali jejak penggambaran makna lambang-lambang kebahasaan di dalam teks sehingga mengalami penundaan pemaknaan, artinya makna menjadi tidak jelas karena lambang-lambang kebahasaan tersebut meretakkan makna yang tadinya tertangkap penikmat/pembaca. Ini biasanya dilakukan dengan membaca kembali sebagai proses trace.

[8] kuasa di sini adalah konsep Freudian dimana phallus diangap sebagai lambang kuasa, pemilik phallus adalah penguasa.

[9] di dalam Mchale, Brian.1987.Postmodernist Fiction.London and New York : Routhledge. halaman 10 menurut Mchale, cirri fiksi posmodenis adalah berbeda dari fiksi-fiksi modernis yang epistemologis, posmodernis lebih menyiratkan pertanyaan-pertanyaan ontologism di dalamya, yang oleh Dick Higgins disebut pertanyaan post-cognitive. Prtanyaan-pertanyaan itu adalah dunia yang manakah ini, apa yang harus dikerjakan di dalamnya, apa yang harus aku kerjakan di dalam dunia itu ada dunia macam apa saja dan bagaimana mereka berbeda-beda? Kesadaran akan diri juga dipertanyakan seperti diriku yang manakah ini? Diriku yang mana yang harus melakukan sesuatu di dunia itu.

Daftar bacaan

Ayu, Djenar Maesa. 2006.Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Al-Fayyadl, Muhammad. 2005.Derrida. Yogyakarta: Pt. LKis Yogyakarta. Hal.58-59

“Derrida”, diunduh dari: http://www.marxists.org/reference/subject/philosophy/works/fr/derrida.htm, diunduh tanggal 2 November 2007 pukul 14:15 wib.

Faruk. 2001.Beyond Imajination: Sastra Mutakhir dan Ideologi.Yogjakarta: Gama Media.

Lotman, Jurij. 1977.The structure of The Artistic Text. Michigan: the Universty of Michigan Press.

Belsey,Catherine. 1980.Critical Practice. London : Routledge.

Malpas, Simon. 2005.The Posmodern.London and New York:Routledge Taylor & Francais Group

Mchale, Brian. 1989.Postmodernist Fiction.London and New York : Routhledge.

Gambar cover diunduh dari: http://susiniin.blogspot.co.id/

Gambar isi diunduh dari: http://dunialukisan-javadesindo.blogspot.co.id/2016_04_01_archive.html

Share This:

About Hat Pujiati 6 Articles
Hat Pujiati adalah peneliti di Matatimoer Institute, juga pengajar di Jurusan Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya Universitas Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*