Seni ekologis: Beberapa konsep dan kemungkinan pengembangannya di Tapal Kuda

IKWAN SETIAWAN

 

Awal(-an)

Tidak bisa dipungkiri, salah satu kerakusan nalar dan tindakan modern adalah keinginan manusia untuk mengekspansi dan mengeksplorasi alam untuk memenuhi kebutuhan mereka. Celakanya, para pemodal besar—baik dalam bidang pertambangan, perkebunan, maritim, maupun pertanian—seringkali tidak menimbang faktor keberlanjutan ekologis dalam menjalankan agenda industrial dan ekonomi mereka. Akibatnya, krisis ekologis seperti pemanasan global, semakin berkurangnya lahan hutan, semakin berkurangnya sumber air, pencemaran oleh limbah tambang, dan lain-lain menjadi permasalah umat manusia di seluruh planet bumi. Berbagai macam usahapun dilakukan para ilmuwan untuk mencegah krisis yang berkelanjutan. Berbagai macam pertemuan tingkat tinggi antarpemerintah dilakukan. Namun, krisis ekologis masih saja berlangsung. Dalam kondisi itulah, para seniman mulai mengambil peran kultural untuk terlibat dalam mengurangi krisis ekologis.

Beberapa konsep

Konsep “seni ekologis” (ecological art/eco-art) atau sebagian pihak menyebut “seni lingkungan” (environmental art) mulai berkembang di akhir 1960-an dengan pemahaman yang sangat luas. Lipton dan Watts (2004) menjelaskan bahwa seni ekologis pada awalnya merupakan istilah abstrak yang ditujukan kepada karya yang selalu mengangkat isu-isu saintifik dalam hal permasalahan alam. Dalam perkembangannya, seni ini lebih diarahkan kepada proses kreatif sebagai respons terhadap kerusakan tempat-tempat tertentu, mendidik masyarakat terkait isu-isu lingkungan dan alternatif solusinya, menumbuhkan respek terhadap lingkungan alam. Seni ekologis bisa mengambil bermacam bentuk, seperti seni fotografi, lanskap alam, multimedia, video, pertunjukan, musik, dan lain-lain.  Keterlibatan dengan komunitas merupakan salah satu ciri kerja-kerja kreatf dari para seniman ekologis di mana mereka bisa bahu-membahu dengan anggota komunitas atau masyarakat.

Mańczak (2002) mencatat bahwa salah satu trend yang banyak berkembang sampai dengan akhir abad ke-20 adalah seni instalasi (seni yang menggabungkan bermacam genre, seperti lukis, patung, pahat, dan lain-lain) untuk merespons isu-isu ekologis. Sebagian besar instalasi ekologis digelar di galeri, museum, ataupun langsung ke wilayah yang dilanda permasalahan seperti pencemaran. Kehadiran seni instalasi ini bertujuan memberikan edukasi kepada publik tentang pentingnya peran alam dalam kehidupan manusia, termasuk dalam kreativitas estetik. Terlepas dari pilihan bentuk yang dipilih seniman, seni ekologis, menurut Wallen (2003), berusaha untuk terus mengkomunikasikan prinsip-prinsip lingkungan yang bisa hadir dalam bermacam media dengan tujuan memberikan pesan bahwa lingkungan tempat manusia tinggal beserta isinya tengah mengalami krisis.

Seni ekologis merupakan karya kreatif yang melibatkan tidak hanya seniman tetapi juga komunitas. Song (2009) menjelaskan bahwa keterlibatan komunitas masyarakat dalam seni ekologis bisa membawa implikasi positif. Pertama, para seniman bisa menyebarluaskan gagasan edukatif tentang pentingnya keberlanjutan alam, khususnya di tengah-tengah perubahan iklim dan permasalahan ekologis lainnya. Kedua, aktivitas seni bisa mempromosikan kesadaran lingkungan kepada anggota komunitas. Ketiga, karya seni ekologis akan menanamkan nilai-nilai konsevasi kepada generasi penerus melalui aktivitas yang menyenangkan di mana hubungan interaktif antara karya dan penikmat akan menjadi pintu masuk fungsi edukatif.

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Jacobson, Mcduff, dan Monroe (2007), seni memiliki beberapa peran strategis dalam mempromosikan konservasi. Pertama, seni pertunjukan—termasuk drama dan musik—bisa meningkatkan respons emosional peserta didik terhadap permasalahan partikular, sehingga sangat sesuai digunakan untuk mengkampanyekan kesadaran ekologis bagi kalangan terpelajar. Kedua, karya sastra tentang lingkungan alam bisa membangkitkan perasaan dan kekaguman terhadap sebuah tempat yang secara psikis akan memunculkan sikap empati pembaca terhadap alam. Ketiga, seni rupa bisa memancing minat penikmat baru, khususnya untuk memberikan tafsir estetik dan makna dari objek lukisan yang darinya akan terbangun dialog dengan objek lukisan. Dari proses dialog inilah akan muncul sikap dan pandangan konstruktif terhadap pentingnya keberlanjutan alam. Pengaruh psikis ini akan menjadikan penonton dalam kehidupan sehari-hari mereka berkomitmen untuk membuat perubahan yang berkontribusi terhadap permasalahan lingkungan (Wilson, 2010; Bullot, 2014).

Pendidikan seni ekologis merupakan alternatif lain yang bisa dilakukan dalam memberikan penyadaran akan pentingnya posisi manusia di tengah-tengah krisis lingkungan global saat ini. Tentu saja, pendidikan tidak hanya diselenggarakan oleh institusi formal, tetapi juga non-formal seperti komunitas atau kelompok seni yang berada langsung di tengah masyarakat. Yang terpenting, menurut Inwood (2008), adalah bahwa pendidikan seni ekologis harus mengintegrasikan aspek edukasi dengan pendidikan lingkungan sebagai sarana untuk mengembangkan dan memperkuat kesadaran dan hubungan dengan konsep dan isu lingkungan. Di sinilah dituntut adanya inovasi-inovasi pembelajaran yang tidak hanya berada di ruang kelas. Lebih dari itu, para seniman dalam komunitas melalui penciptaan karya yang mereka lakukan bisa terlibat langsung dengan pendidikan ekologis. Komunitas seni, misalnya, bisa membuat karya-karya inovatif yang menarik perhatian warga, khususnya generasi muda, sembari mengangkat isu-isu lingkungan dalam karya mereka.

Untuk memperkuat peran para seniman dan karya-karya mereka dalam aktivitas ekologis, di beberapa negara maju Eropa seperti Inggris, integrasi dengan program dan kebijakan pemerintah juga dilakukan, selain meminta pendapat publik melalui survei atau kuisioner (Hartley, 2009). Bahkan, selama dua tahun terakhir, kesadaran untuk melibatkan kesenian dalam mengkampanyekan kesadaran ekologis juga sudah dilakukan di banyak negara Asia, Afrika, Amerika Latin, Eropa, dan Amerika Serikat (Moore & Tickle, 2014). Semua ini menunjukkan bahwa keterlibatan seniman dalam dimensi yang lebih luas, khususnya krisis ekologis, bukanlah sesuatu yang aneh. Kesadaran global ini merupakan sebuah spirit untuk terus mengintegrasikan kehidupan dan kebudayaan dengan kesadaran akan kekuatan alam.

Wilayah Tapal Kuda dalam tatapan seni ekologis

Dari kerangka teoretis di atas, kita bisa melihat betapa pentingnya kehadiran para seniman atau komunitas seni yang berkonsentrasi pada isu-isu ekologis. Tidak bisa dipungkiri bahwa di wilayah Tapal Kuda tengah mengalami masalah-masalah ekologis akibat kerakusan manusia. Sejak era kolonial banyak wilayah di Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi yang di-ekspansi oleh para pekebun untuk perluasan usaha komersil mereka melalui tanaman-tanaman yang laris di tingkat internasional, seperti kopi, kakao, karet, gula, tembakau. Zaman pascakemerdekaan, khususnya era Suharto, ekspansi dan perusakan terhadap alam semakin meningkat. Contoh sederhana adalah kerakusan pabrik kertas di Banyuwangi yang banyak menghabiskan hutan bambu untuk bahan baku bubur kertas. Akibatnya, hutan bambu semakin sedikit. Perluasan lahan perkebunan dari perusahaan pemerintah yang berakibat pada rusaknya struktur ekologis hutan di beberapa wilayah. Gairah akan peradaban ekonomi kapitalis yang disebarluaskan oleh pemerintah mendorong banyak individu untuk membuka lahan hutan sebagai lahan bercocok tanam. Celakanya, mereka juga seringkali mendapatkan ‘izin’ dari pemangku kehutanan.

banjir-tumpang-pitu

Yang tidak kalah mirisnya adalah selama 10 tahun terakhir, hasrat untuk menambang di Banyuwangi dan Jember begitu membuncah. Sampai-sampai para pemodal harus ‘berselingkuh’ dengan aparat pemerintah dari tingkat regional sampai nasional. Alasan untuk mempertinggi pemasukan daerah dan mensejahterakan rakyat. Pertanyaannya adalah apakah kemudian semua pemasukan itu digunakan untuk kepentingan mensejahterakan rakyat? Tentu, kita sudah tahu jawabannya. Satu yang pasti, akibat “perselingkuhan melalui kebijakan legal” antara pemerintah dan pengusaha, persoalan lingkungan segera menyeruak. Banjir lumpur di Pulau Merah, terendamnya lahan jagung dan buah naga milik warga, terpaparnya ikan di Banyuwangi Selatan oleh limbah, dan kemungkinan tragedi akibat tsunami, hanyalah sedikit contoh dari bencana ekologis akibat pertambangan di Tumpang Pitu. Hal serupa juga akan terjadi di Silo yang sudah direncanakan untuk ditambang oleh perusahaan besar, Paseban yang sudah mulai ditambang, serta pasir besi di Pasirian Lumajang. Yang tidak kalah pentingnya adalah rusaknya hutan di beberapa wilayah dataran tinggi karena ekspansi lahan perkebunan ataupun pembukaan lahan oleh para petani.

Tentu, semua kondisi dan permasalahan ekologis itu bisa menjadi bahan bagi para seniman di Tapal Kuda untuk menghasilkan karya-karya kreatif untuk kepentingan kampanye dan edukasi publik sekaligus kritik terhadap kebijakan negara. Dalam kerangka kesenian lokal, Banyuwangi memiliki musik angklung yang berbahan bambu dan memiliki semangat ekologi-agraris. Sangat mungkin para seniman yang memiliki kesadaran ekologis menciptakan alat musik bambu baru dan komposisi musikal yang mengangkat isu-isu lingkungan. Para pencipta lagu pop-etnis bisa menjadikan kasus Tumpang Pitu sebagai latar untuk menciptakan karya musikal menarik. Para seniman tari yang seabreg jumlahnya bisa menggarap komposisi koreografi yang mengambil permasalahan lokal sebagai basis untuk menawarkan permasalahan ekologis. Para seniman rupa dan instalasi di Tapal Kuda juga bisa membuat karya lukis maupun instalasi di tempat terbuka terkait masalah tambang, misalnya, agar publik sekaligus mendapatkan edukasi terkait bencana akibat industri tambang. Para pegiat teater bisa membuat pertunjukan yang diperuntukkan untuk dinikmati masyarakat dengan tema-tema ekologis. Tidak lupa, para sastrawan bisa menjadikan masalah pertambangan sebagai ruang kontekstual dalam narasi-narasi yang mereka tulis, baik melalui sudut pandang individual maupun komunal.

Maka, semua berpulang kepada kesadaran para pelaku seni untuk mau atau tidak terlibat dalam isu-isu ekologis. Yang pasti sebagai pegiat seni mereka terikat tidak hanya oleh orientasi estetika untuk membuat karya, tetapi oleh ruang kontekstual yang selalu berkembang dan bergerak dinamis. Kalau kita menyepakati bahwa para pegiat seni memiliki tanggung jawab sosio-kultural, maka keterlibatan terhadap permasalahan ekologis merupakan perwujudan tanggung jawab itu. Para pelaku seni merupakan intelektual yang memiliki potensi untuk terlibat dan mengajak publik berpikir kritis terhadap penyebab dan kondisi menyedihkan dari rusaknya lingkungan hidup. Tentu, semua tetap dibingkai dengan keunikan estetik yang menarik perhatian masyarakat kebanyakan. Keterlibatan itu juga menegaskan posisi mereka yang tidak hanya bisa bergembira dalam festival atau karnaval yang diadakan oleh rezim negara atau mengikuti semata-mata aturan pemodal industri budaya.

 

Keterangan

* Cover diunduh dari: http://www.majalahdetektif.com/

* Gambar banjir di pantai Pulau Merah diunduh dari: http://kbr.id/berita/08-2016/terdampak_banjir_lumpur_tumpang_pitu__nelayan_pencer_banyuwangi__tak__melaut/84419.html

 

Daftar bacaan

Bullot, Nicolas J. 2014. “The Functions of Environmental Art”. Dalam Jurnal LEONARDO, Vol. 47, No. 5, hlm. 511–512.

Carruthers, Beth. 2006. Art in Ecology: A Think Tank on Arts and Sustainability. Canada: The Canadian Commission for UNESCO.

Hartley, J. 2009. “Arts and ecological sustainability’, D’Art Topics in Arts Policy, No. 34. Sydney: International Federation of Arts Councils and Culture Agencies.

Inwood, Hilary. 2008. “Mapping Eco-Art Education”. Dalam Canadian Review of Art Education, Vol. 35, hlm. 57-72.

Jacobson, Susan K., Mallory D. Mcduff, and Martha C. Monroe. 2007. “Promoting Conservation through the Arts: Outreach for Hearts and Minds”. Dalam Jurnal Conservation Biology, Vol. 21, No. 1, hlm. 7-10.

Lipton, Amy and Tricia Watts. 2004. Ecological Aesthetics, Art in Environmental Design: Theory and Practice. Basel: Birkhäuser Publishers.

Mańczak, Aleksandra. 2002. “The Ecological Imperative: Elements of Nature in Late Twentieth-Century Art”. Dalam Jurnal LEONARDO, Vol. 35, No. 2, hlm. 131–136.

Moore, S & Tickell, A 2014 ‘The arts and environmental sustainability: an international overview”, D’Art Topics in Arts Policy, No. 34b. Sydney: Julie’s Bicycle and the International Federation of Arts Councils and Culture Agencies.

Wallen, Ruth. 2003. “Of Story and Place: Communicating Ecological Principles through Art”. Dalam Jurnal LEONARDO, Vol. 36, No. 3, hlm. 179–185.

Wilson, Claire (ed). 2010. Arts. Environment. Sustainability. How Can Culture Make a Difference?. Singapura: Asia-Europe Foundation.

Song, Young Imm Kang. 2009. “Community Participatory Ecological Art and Education”. Dalam Jurnal JADE, Vol. 28, No. 1, hlm. 4-13.

Share This:

About Ikwan Setiawan 148 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*