3 Hati Dua Dunia Satu Cinta: Refleksi konflik identitas agama di era demokrasi

GHANESYA HARI MURTI

 

Seperti halnya karya sastra, Film juga berangkat dari suatu keberadaan dan bukan kekosongan. Film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta seolah berusaha menelanjangi isu identitas agama yang menjadi polemik pada Negara Indonesia yang mengadopsi paham demokrasi. Tidak hanya mencoba melihat polemic yang terjadi antaragama, film ini juga mencoba memperlihatkan bahwa masyarakat yang konon memiliki agama sama, atau katakanlah aliran yang serupa tidak menutup kemungkinan untuk terjadi konflik idnividu didalamnya. Terlebih film ini juga menyuguhkan bagaimana agama yang berusaha memberikan nilai baik ternyata tidak selalu bisa diterapkan secara aplikatif malah kadang cenderrung destruktif dengan bergerak secara massal dan menamakan diri dalam satu ormas agama tertentu, sehingga sosok pemuda bernama Rosyid mempertanyakan bagaimana agama itu diletakkan di era yang begitu demokratis, di mana suara seorang individu ternyata tidak selalu dapat diwakilkan oleh kelompok masyarakatnya. Rosyid yang mencintai Della, seorang gadis Kristen, tidak disetujui oleh orang tuanya yang berkultur arab fanatik, namun dalam ke khusyukannya beragama dia masih percaya klenik dan tradisi perjodohan.

Film ini dianggap memiliki tingkat kompleksitas yang cukup dan dimungkinkan untuk dikaji lebih lanjut terkait bagaimana upaya refleksi atas cita-cita identitas beragama secara nasional itu diletakkan di ruang demokratis. Karena sifatnya yang sangat relevan dengan situasi beragama dan bermasyarakat di Indonesia pada era ini, maka diperlukan analisis lebih lanjut untuk menjawab hal tersebut.

Demi menanggapi kasus serupa, Laclau-Moffe berusaha menjawab melalui tradisi Derridean dengan filsafat kecurigaan yaitu hubungan sosial dibentuk dari berbagai macam rangkaian praktik diskursif yang berbeda dan saling berjalin-kelindan secara antagonistik. Pada level ini Laclau dan Moffe lebih menekankan pada ruang kontestasi di mana self dan others saling berkompetisi demi meraih puncak, sehingga kategori kultural seperti wanita, kelas, masayarakat, kepentingan dan identitas tidak lagi dilihat sebagai objek yang utuh dan tetap (Barker, 2005:411).  Analaog dengan film yang hendak dikaji, isu konflik masyarakat sosial agama menjadi isu nasional yang layak untuk didiskusikan. Agama yang konon memberikan tawaran perdamaian pun ternyata dalam ruang lingkap praksis sangatlah antagonistik sehingga kelas, identitas, dan masyatarat dalam film yang ditampilkan merupakan citra realita beragama keseharian di Indonesia. Konflik menjadi hal yang tak bisa dilepaskan

For if all social conflict were, necessarily, to provoke a certain destructuration of social identities, and if a conflict-free situation were, now, incompatible with any form of society, it would follow that any social identity would necessarily entail, as one of its dimensions, construction, and not simply recognition. The key term for understanding this process of construction is the psychoanalytic category of identification y with its explicit assertion of a lack at the root of any identity: one needs to identify with something because there is an originary and insurmountable lack of identity. In a variety of ways, all the contributions to this volume address this process (Laclau,1994 :3)

Tak dapat dipungkiri, pemikiran Laclau dirasa lebih kontekstual dalam menghadapi isu sosial kekinian dengan menganggap bahwa konflik diwilayah sosial lebih mengarah pada proses provokasi dan destrukturasi atas segala identitas sosial. Hemat ini juga yang menjadi landasan bahwa identitas sebenarnya adalah usaha kompensasi dari kekurangan atau lack khas psikoanlisis. Bentuk antagonistik ini adalah usaha membayangkan diri kepada yang lain, identifikasi yang tidak berkesudahan. Dengan berpegang konsep- konsep kunci Laclau dan Moffee, maka ada ikhtiar untuk menjawab bagaimana konflik sosial terjadi dalam film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta digambarkan.

Rumusan Masalah

Menilik kompleksitas permasalahan yang hadir dalam film, maka formulasi rumusan masalah digunakan demi memberikan batasan analisis sehingga masalah yng ingin dikaji adalah bagaimana identitas hegemonik direpresentasikan secara antagonistik dalam film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta  yang diperankan oleh Reza Rahardian dan Laura Basuki. Dalam hal ini penggunaan konsep – konsep lain seperti praktik artikulatoris, logika formasi sosial, dan subjek politik dianggap ikut membantu dalam menjelaskan permasalahan yang diangkat berkaitan dengan problem identitas dalam ruang demokrasi yang telah bergerak menjadi isu nasional di indonesia.

Metode, Propp dan Narasi Film

Narrative analysis still forms the basis for much analysis of traditional forms such as the novel, poetry and drama. There is no reason why you could not conduct a narrative analysis of any form. What you will be looking at is the underlying message of the text: `good overcomes evil’; `boy meets girl’; `the little guy triumphs over big business’. The precise nature of your analysis will depend on the object of analysis (Stokes, 2003:69).

Secara ideal Propp yang menilik kajian naratologi dapat digunakan dalam film karena film juga tidak mungkin lepas dari unsur naratif yang menggenarasi teks.  Menurut Stokes, ada mekanisme tersembunyi  yang perlu ditemukan dan dianalisis. Oleh karena itu, analisis naratif adalah cara untuk memberi jarak terhadap cerita dan teks. Langkah-langkah yang diperlukan adalah seperti membaca dekat, akrab dengan teks, membuat hipotesis, menetapkan kerangka teks, mendefinisikan rencana menguraikan, mengidentifikasi keseimbangan, fungsi karakter, dan yang terakhir penghubungan hipotesis (Stokes, 2003: 69-70). Usaha untuk menggunakan metode naratif disesuaikan dengan urutan konsep yang ditawarkan Laclau dan Moffe seperti identitas hegemonic, praktik artikulatoris, antagonism, subjek politis dan dislokasi. Konsep konsep lain yang dipinjam seperti undecidable, lack, the real, interpleasi, position adalah bukti konsep ekletik dan tradisi filsafat turunan dari para pemikir modern hingga postmo seperti gramsci, althusser, lacan dan derrida yang digunakan guna memberikan tahapan kronologis analisa yang mencerminkan hilangnya masyarakat an sich.

Dilema Cinta Beda Agama, Identitas Hegemonik dan Keterbelahan Subjek

Gramsci was well aware that, in spite of the extreme diversity of the social forces that had to enter into the construction of a hegemonic identity, no collective will and no sense of community could result from such a conception of negotiation and alliance (Laclau, 1996:32)

Keberangkatan Laclau tidak dapat dipisahkan dari pengaruh pengaruh pemikir – pemikir sebelumnya, salah satunya adalah gramsci. Bukan mengukuhkan pemikirannya tapi Laclau membawa konsep hegemonik Gramsci ke level yang lebih tinggi. Laclau melihat konsep hegemoni sebagai perekat, pembentuk dari kekuatan kekuatan sosial yang berbeda, dan tidak dapat disatukan. Keseriusan Laclau berlanjut pada wilayah bentuk hegemoni mencapai level krisis yaitu kepentingan individu tidaklah lagi dapat disatukan dalam wilayah kelas sosial masyrakat. Dengan begitu jelas sulit bagi kelas untuk mewakili kepentingan seluruh agen.

Image result for 3 hati dua dunia satu cinta

Sebenarnya masyarakat muslim memiliki sifat antagonistik dalam masyarakatnya yang dengan begitu jelas sulit bagi kelas untuk mewakili kepentingan seluruh agen. Rosyid seorang muslim yang dibesarkan lewat tradisi Islam yang kuat ternyata memiliki kecurigaan yang kuat atas kulturnya sendiri. Usaha relfeksi Rosyid tidak hanya berhenti dalam ruang makan, di mana dia menyoal hubungan tradisi dan ajaran keagaaman yang menubuh dalam keluaraganya. Resistensi kembali muncul, ketika Rosyid mencintai Delia seorang wanita Kristen yang rela memperjuangkan cintanya demi bersamanya walau harus berkonflik dengan keluarganya juga. Relasi sosial masyarakat muslim ternyata bukanlah masyarakat identitas yang innocent karena setiap agen membawa kepentingan yang sangat berbeda. Ayah Rosyid walau berhidung Arab dan konon Islam taat ternyata masih percaya dengan klenik sehingga berusaha menjampi–jampi Rosyid agar lebih mudah diatur dalam sikap beragama. Sementara Delia kesulitan dalam melihat apa yang disebut dengan resistensi dan apropriasi dalam memenuhi simbolik.

the pure negativity of the excluded, require the production of empty signifiers in order to signify itself? The answer is that we are trying to signify the limits of signification – the real, if you want, in the Lacanian sense – and I here is no direct way of doing so except through the subversion of the process of signification itself. We know, through psychoanalysis, how what is not directly representable – the unconscious – can only find as a means of representation the subversion of the signifying process (Laclau, 1996:39)

Jika merujuk pada kutipan Laclau yang mengacu pada tradisi Lacanian, terlihat jelas bhawa sulit sekali memenuhi simboli, dan menuju the real. Aspek diskursif bahasa membuat representasi selalu mengalami kekurangan pada level yang paling dasar yaitu subjek ketidaksadaran. Sehingga masyarakat atau dalam konteks mikro politik yaitu individu adalah aspek diskursif bahasa yang selalu menegasikan. Analog dengan Rosyid beserta masyarakat Islam tidak bisa mencapai the real, karena representasi masyarakat Islam yang an sich it terus berubah, apakah Islam ala ayahnya yang juga masih membawa tradisi klenik, atau Islam ke-Araban yang memakai sorban dan peci ala ustad, atau yang sangat keras dalam bertindak seperti golongan islam fundamentalis? Artinya masyarakat Islam an sich itu tidak ada. Pertanyaan selanjutnya lalu bagaimana identitas itu diberi nama pada konteks Rosyid, sehingga Rosyid masih bisa disebut Islam begitu pula ayahnya. Laclau menggunakan istilah penanda kosong atau nodal point.

This turning to another discursive universe is necessarily a turning to a new ‘nodal point’, a term which, in its centrifugal effects, tends to organize the meanings of all other terms distributed around itsell (Laclau, 1994:193)

Penanda kosong dapat diibaratkan seperti penanda yang tidak memiliki petanda, dalam hal ini spiritualitas.  Tingkat spiritualitas dapat dikatakan sebagai penanda kosong karena dia dapat mengacu pada apa saja, menyatukan tapi juga menyebar.  Spiritualitas sangat rentan dengan hadirnya religuisitas, tradisi, etnis, dan lain lain. Pengalaman spiritualitas sangat bisa menggabungkan dan mencangkup perbedaan, Rosyid dengan Islam moderat, ayahnya yang Islam kejawen, dan ustadz beserta ormas yang Islam- Arab sentris. Dalam hal ini tidak hanya pluralitas dalam aspek tradisi keislaman tapi juga tradisi berfikir yang melahirkan berbagai pemahaman da cara pandang, sehingga pusat hegemonic tidaklah tunggal tapi plural.

Dalam hemat selanjutnya persoalan antogonisme akan ditekankan pada dilema kisah cinta Rosyid dan Delia. Antagonisme di sini tidak hanya dilihat sebgai unsur pemisah tapi terkadang dapat membuat totalitas identitas itu hadir dan mewujud.

Laclau melihat sifat antagonistik dalam diri subjek bukanlah hal yang selalu mebedakan tapi juga kadang memepersatukan. Secara tahapan naratif, penolakan pada Rosyid terjadi pada kelompok identitas hegemonik yang berbeda, atau luar kelas yaitu ayah dari Delia dan di sisi lain ada ormas yang juga menentang hubungan mereka secara tidak langsung. Walaupun penolakan terjadi atas dugaan perzinaan, tapi jelas adegan ini merepresentasikan posisi friksi dari kelompok Islam.

Where in the limits of every objectivity, are shown – in the sense in which Wittgenstem used to say that what cannot be said can be shown ‘….. Strictly speaklng, antagonisms are not internal but external society; or rather, they constitute the limit, the latter’s impossibility of fully constituting itself (Laclau and Moffe, 1985:125)

Secara sederhana, antagonism memperlihtakan batas-batas hubungan objektif, yang sering muncul pada tingkatan krisis, dia ada tapi tidak bisa terkatakan. Perbedaaan-perbedaan yang ada dalam lingkup karakter Rosyid dan Delia beserta lingkungan masyarakatnya tidak bisa terkatakan namun bisa diperlihatkan. Relasi ini yang tidak lagi bisa dicapai melalui consensus identitas masyarakat keislaman, dimana ambiguitas masyrakat Islam dipertontonkan batasan – batasannya hanya dalam pengalaman antagonistik.

Ada momen kontemplasi saaat krisis terjadi, dimana kepentinngan kepentingan akan didaftar ulang gara semua kepentingan subjek dapat terakomodir

(Laclau dan Moffee, 1985:6). Hemat ini membawa pada konsep bahwa Rosyid dan Delia adalah subjek politik karena dia mengidentifikasi ulang dirinya pada identitas yang terstruktur maka subjek juga harus mengambil posisi dan mengartikulasikannya, posisi ini hadir karena struktur tidak bisa menghadirkan kepentingan secara utuh, subjek mengalami keterbelahan dan terjadi lack (Laclau,1996:92). Keterbelahan diri Rosyid dan juga masyarakat lainnya dapat dijelaskan sebagai dislokasi, dimana subjek tidak mengalami bagian dari struktur secara sepenuhnya, ada distansi.

Secara sederhana, antagonism memperlihtakan batas batas hubungan objektif, yang sering muncul pada tingkatan krisis, dia ada tapi tidak bisa terkatakan. Perbedaaan perbedaan yang ada dalam lingkup karakter Rosyid dan Delia beserta lingkungan masyarkaynya tidak bisa terkatakan namun bisa diperlihatkan. Relasi ini yang tidak lagi bisa dicapai melalui consensus identitas masyarakat keislaman, dimana ambiguitas masyarakat muslim dipertontonkan batasan – batasannya hanya dalam pengalaman antagonistik.

the subject is the distance between the undecidability of the structure and the decision…. according to which dislocation is the trace of contingency….. There is dislocation, as deconstructionists well know, not as a result of an empirical imperfection but of something which is inscribed in the very logic of any structure (Laclau,1996:56)

Kata dislokasi bisa dikatakan buah dari lack, dan mengacu pada subjek yang akhirnya tahu bahwa ada undecidable yang bekerja sehingga subjek harus mengambil keputusan guna mendapatkan apa yang diraih, bukan berarti setelah mengambil posisi kebutuhan itu selesai tapi tidak akan pernah selesai, karena pengalaman antagonis juga tidak bisa selesai. Pada wilayah ini Rosyid akhirnya lebih memilih untuk mengikuti petunjuk dari orang tuanya, batasan dirinya sebagai subjek muslim kembali mengalami keterbukaan, mengambil posisi dalam sruktur. Ini juga dapat disimpulkan bahwa antagonisme tidak selalu menyebabkan batasan objektif menjadi jurang pemisah tapi pada derajat tertentu juga dapat mempersatukan yang tidak utuh. Boucher menggambarkan ini sebagai an essemble of free floating subject of positions (2008:83). Subjek ini mengalami lack kemudian dislokasi dan decentered, lack karena tidak bisa memnuhi simbolik, dan dislokasi karena harus mengidentifikasi ulang self yang ternyata berjarak serta decentered karena subjek menyebar pada level wacana. Rosyid mengalami lack karena sulit mengapropriasi diri terhadap kebutuhan struktur masayarakat muslim yang tidak tetap, sehingga dia harus mengambil posisi sebgai subjek yang mengidentifikasi sehingga ada dislokasi yang sangat terlihat jelas pada pengalaman antagonistik, penolakan terhadap masyarakat muslim yang tersentral namun plural dan kekasihnya Delia yang mulai ragu pada dirinya karena tidak tegas, sehingga secara subjek dia decentered, pusat yang menyebar mengikuiti wacana di mana kadang mengikuti perilaku struktur Islam ala ayahnya yang menggunakan baju koko dan sarung namun di sisi lain ketika dia dihadapakan pada keputusan Delia yang mampu menolak untuk berpisah dengan Rosyid akhirnya dia kemabli pada posisi ingin menggagalkan sikapnya kepada subjek ayah, dan bahkan menolak untuk menikah dengan Nabila, anak gadis yang dijodohkan dengannnya.

Seolah semakin memperkuat diktum bahwa masyrakat itu tidak ada, dan dia hanya hadir pada saat munculnya nodal point dan identitas hegemonik, maka subjek Rosyid yang mengambil posisi pada saat melakukan keputusan maka dia telah bertransfromasi menajdi subjek politik.

 All struggles, whether those of workers or other political subjects, ‘ left to themsleves, have a partial character, and can be articulated to very different.discourses. It is this articulation which gives them their character, not the place from which they come. There is there- fore no subject – nor, further, any ‘necessity’ (Laclau and Moffe, 1985:169)

Dengan mengambil jarak pada keluarganya dia sekaligus mengambil jarak pada struktur dan identitas hegemonik, namun hal ini tidak berbuah pada kemabalinya di kepad Delia tapi justru membuat dia melakukakn hal yang tak dipikirkan sebelumnya. Dislokasi kembali terjadi.

Disini sebenarnya subjek Rosyid dan ayahnya bertemu dalam hubungan yang sangat memperlihatkan aspek bahasa. Di mana kekuasaan dipraksiskan, atau dalam bahasa Laclau dan Moffee diartikulasikan sehingga memunculkan identitas yang bukan hanya niscaya tapi juga selalu termodifikasi secara berulang.

we will call any articulation of practice establishing a relation among elements such as their identity is modified as a result of the articulatory practice. The structured totality from the artculatory practice, we will call discourse. The differential positions, in so far as they appear articulated within a discourse we will call moments. By contrast, we will call elements any difference that is not discursively articulated (Laclau and Moffee,1985:185)

Ayah Rosyid tetap tidak rela jika anaknya menikah beda agama, tapi dia tetap menghargai segala keputusan Rosyid kelas, karena dia tetap tidak ingin menghilangkan status Rosyid sebagai anaknya. Ada logika persamaan dan perbedaan yang sangat khas linguistik dalam adegan ini dimana Rosyid menempati siklus sintagmatica dan paradigmatik, dimana dia bisa masuk ketika dia mengambil posisi seleksi secara sintagmatic tapi juga bisa digantikan secara paradigmatic atau substitusi.

the unity of the class is not determined by an a priori consideration about the priority of either the political struggle or the economic struggle, but by tbe accumulated effects of the internal split of all partial mobilizations. In relation to our subject, her argument amounts to approximately the following: in a climate of extreme repression any mobilization for a partial objective will be perceived not only as related to the concrete demand or objectives of that struggle, but also as an act of opposition against the system (Laclau, 1996:40)

Penyatuan kelas hanya bisa dirasakan saat terjadi perjuangan politik, karena unsur yang membedakan akan terlihat walau akan membuka keterbelahan subjek masing masing yang tidak mungkin lepas dari medan antagonis atau konstestasi. Keputusan Rosyid yang kahirnya menolka untuk bersama Delia di ujung cerita juga membuktikan identitas hegemonic islam yang disatukan dalam nodal point sebagai religiusitas dapat bekerja dan membentuk kesatuan kelas. Rosyid akhirnya hanya mampu menari disatu panggung sambil menertawakan keterbelahan masaing – masing, sebuah pengakuan adanya dislokasi, dan decentered dalam diri.

Image result for 3 hati dua dunia satu cinta

Tarian akhir ini akhirnya menjadi penentu, keberpihakan atas identitas hegemonik, yang berkuasa dan mewujud dalam idelogi. Kali ini Laclau meminjam konsep interpelasi dari Althusser ketika manusia rela untuk tersembelih oleh ideologi dan bahasa pada Lacan. Rosyid tidak menikah dengan Nabila dan tidak menikah dengan Delia, dia melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia dan akhirnya menikah dengan Cut Sara, dari namanya yang khas kira kira dapat ditebak dia berasal dari daerah Aceh yang dominan islam dan juga gelasr “Cut” adalah gelar bangsawan. Tanpa merujuk pada perkawainannya dengan Cut Sara pun yang hadir pada barit teks akhir, film ini sudah memberikan posisi bahwa identitas hegemonik, Islam menjadi kekuatan yang sangat sulit ditolak sehingga subjek harus tetap masuk dalam ideologi ini.

the category of the subject is constitutive of all ideology, but  at the same time and immediately I add that the category of subject is only constitutive of all ideology insofar as all ideology has the function (which defines it) of “constituting” concrete individuals as subjects’…. The mechanism of this characteristic inversion is interpellation.  Althusser writes: ‘Ideology “acts” or “functions” in such a way that it “recruits” subjects among the individuals (it recruits them all), or “transforms” the individuals into subjects (Laclau, 1977:100)

Interpelasi menjawab bahwa subjeksi bisa terjadi pada level makro dan mikro politik di mana subjek individu harus terjebak pada praktik artikulasi yang berkelindan, atau dalam hal ini wacana telah mensubjeksi sehingga individu yang terpisah merekat kembali menajdi subjek–subjek. Film ini secara politis telah membuka tabir demokrasi yang ternyata tidak mewujud secara penuh dan tidak akan pernah penuh. Laclau melihat sebagai political imaginary, atau cita politik yang yang harus digapai namun karena ada logika kekurangan maka cita cita itu harus terus diusahakan, karena sebenarnya dalam film ini dapat terlihat ternyata pusat kuasa itu adalah ruang  kosong, the locus of power has become an empty space (Laclau, 2005:164). Rosyid adalah subjek yang harus bertarung melepas dan merenggut identitas, mengakui dislokasi dan decentered dalam diri. Masyarakat adalah menjadi, mengada dan hanya pada hegemoni kepentingan itu bisa disatukan. Secara pemaknaan, Rosyid dan Delia adalah usaha pembuatan pusat baru walau harus kalah dalam medan artikulasi dan hegemonik.

Epilog, Menyoal Identitas (Nasional) dan Kisah Kasih Tak Sampai

Menjawab rumusan masalah, tentang identitas hegemonik dan cara naya direpresentasikan dalam menunujkkan bahwa sifat masyarakat adalah antagonistik, hal ini terjadi tidak hanya pada level makro politik tapi juga mikro politik. Sehingga indibidu tidak mungkin memiliki identitas Islam yang tetap seperti yang dihadirkan oleh tokoh Rosyid, seolah Islam adalah wujud yang stabil tidak ada kategorisasi didalamnya. Dengan kata lain jika masyarakat itu ada dan takluk pada logika substitusi dan seleksi dalam konteks medan artikulasi dan hegemonik maka identitas pun sifatnya sangat tumpang tindih dan cair. Secara posisi subjek juga mengalami keterbleahn sehingga harus ada yang merekatkan yaitu ideologi dan hegemoni, namun bukan dianggap sebagai penutup dan final tapi terus mengada karena logika ini hadir dalam penanda kosong, nodal point. Secara posisi, pemaknaan film tidak hanya merepresentasikan tapi juga mengukuhkan identitas hegemonik, karena Rosyid memilih keluarganya dan bukan Delia. Secara kultural walau bersifat terbuka, medan pertarungan yang dijadikan wialyah negosiasi kemabli mengukuhkan posisi identitas agam islam, sebagai identitas nasional. Setidaknya secara kuantitatif, masyarakat beragama Islam masih dominan, walaupun subjek berulang kali berusaha lepas dari stigma ini.

 

Daftar bacaan

Barker, Chris. 2005. Cultural Studies: Theory and Practice, New Delhi. Sage Publication

Boucher, Geoff.2008 The Charmed  Circle of Ideology : A Critique of Laclau & Moffe,Butle &  Zizek, Melbourne. Repress

Laclau, Ernesto. 1977. Politics and Ideology in Marxist Theory of Capitalism- Fascism- Populism. London.NLB

Laclau, E dan Moffee, C. 1985. Hegemony and Socialist Strategy. Towards A Radical Democratic Politics. London, New York , Verso

Laclau, Ernesto. 1994. The Making of Political Identities, London, New York , Verso

Laclau, Ernesto. 1996. Emancipations. Radical Thinkers, London, New York , Verso

Moffe, Chantal.1996. Decontrustion and Pragmatism. New York and London: Routledge.

Laclau, Ernesto.2005. On Populist Reason. Radical Thinkers, London, New York , Verso

Stokes, Jane. 2003. How to Do Media & Cultural studies. London: SAGE Publications.

Info Film

 http://www.imdb.com/title/tt1692957/ (diakses pada tanggal, 25/6/2015)

 

Share This:

About Ghanesya Murti 9 Articles
Peneliti di Matatimoer Institute yang mendalami isu-isu psikoanalisis dalam bidang kebudayaan. Juga, mengajar sebagai dosen kontrak di Politeknik Jember.

2 Comments

  1. Pemeran Rasyid dalam film tersebut telah banyak menginspirasi kita untuk berfikir cerdas tentang hakikat Islam dan bagaimana kita menempatkan islam itu sendiri. Maka kemudian dengan pola pikirnya yang dianggap liar tentang Islam diapun tidak terlepas dari tuduhan sesat seperti yang sering kita tahu saat sekarang ini, padahal pada kenyataannya Islam tidak pernah memberatkan pada setiap pemenluknya “Laa ikraha fiddin…” mereka bebas melakukan apapun asalkan tidak melanggar batasan-batasan yang termaktub dalam Al-Quran dan Hadits. salah satu contohnya adalah menggunakan pikiran yang Tuhan berikan hanya kepada kita manusia dengan tujuan menemukan kebenaran Islam secara mutlak tidak hanya dari katanya dan katanya saja. hal ini telah dilakukan oleh sosok Rasyid.

    Rasyid juga telah membangunkan kesadaran kita tentang Islam yang melekat pada diri sejak lahir, kita beragama islam karena orang tua kita juga islam jika hal sebaliknya apa yang terjadi pada kita? (Mari Berfikir)

    Salam!

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*