Pengantar postmodernisme: Kemunculan dan perkembangannya

YONGKY GIGIH PRASISKO

 

Postmodernisme adalah aliran pemikiran yang lahir atas kebutuhan teori untuk menjelaskan kondisi masyarakat kontemporer. Kondisi masyarakat kontemporer banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, khususnya informasi, dan industri budaya. Postmodernisme juga lahir sebagai respon terhadap persoalan-persoalan modernisme.

Kita tidak bisa memahami postmodernisme tanpa terlebih dahulu mengerti tentang modernisme. ‘Modern’ merupakan ide tentang kesadaran akansebuah masa yang dihubungkan dengan masa lalu untuk melihat dirinya sebagai hasil dari transisi dari yang lama menuju yang baru.[1]Secara kontekstual, setidaknya ada dua hal yang membentuk zaman modern: pertama revolusi industri, kedua revolusi politik-demokrasi. Dalam ranah filsafat, modernisme memiliki beberapa karakteristik seperti: rasional, progresif, avant-garde, universal. Dengan ciri tersebut, modernisme dikenal sebagai suatu ideologi yang tertutup. Modernisme mendewakan rasionalitas sebagai satu-satunya cara dalam mendapatkan pengetahuan. Modernisme juga menuntut tahap-tahap kemajuan tertentu untuk mencapai sesuatu yang diidealkan. Nilai yang diidealkan tersebut bersifat total/menyeluruh.

Modernisme membawa konsekuensi-konsekuensi akibat dari karakternya. Pertama: dehumanisasi akibat revolusi, kedua kolonialisme, ketiga pemiskinan moral. Revolusi telah memakan korban jutaan umat manusia beserta perang dunia yang menyertainya. Semuanya demi suatu kemajuan yang dicita-citakan. Kolonialisme juga merupakan proyek modernisme untuk misi pemberadaban negara jajahan (mission sacre). Serta konsekuensi pemiskinan moral akibat pola pikir yang terlalu instrumental.

Postmodernisme hadir sebagai sikap ketidakpercayaan terhadap proyek/pemikiran modernisme. Postmodernisme sebenarnya bukan anti-modernisme. Jika ia menjadi anti maka ia menjadi modernisme baru. Postmodernisme bersikap curiga, skeptis dan mempertanyakan segala hal yang mapan dan stabil.

Lahirnya postmodernisme

Kelahiran postmodernisme masih menjadi perdebatan. Perry Anderson menyebut ide postmodernisme mulai muncul pada tahun 1930an di Hispanik-Amerika, daerah newSpain. Postmodernismo disebut sebagai ide yang digunakan untuk menandailunturnya budaya konservatif. Ia menjadi label bagi kecenderungan estetika yang ingin keluar dari standar baku: seperti bahasa liris. Istilah ini pada mulannya merupakan kategori estetika. Pada tahun-tahun tersebut, istilah postmodernismo tidak begitu populer. Ia mulai muncul kembali 20 tahun kemudian di Anglophone, daerah newEngland. Tentu ia kembali muncul dalam konteks yang berbeda. Arnold Toynbee, pada tahun 1954 melalui bukunya Study of History vol 8, memunculkan istilah  postmodern sebagai suatu era babak sejarah yang ditandai oleh dua perkembangan yakni bangkitnya gerakan para pekerja industri di Barat dan kaum pelajar di luar Barat yang menentang modernisme Barat.[2]

Tahun 1971, seorang kritikus Amerika-keturunan Mesir, Ihab Hassan mempopulerkan istilah postmodern. Ia menyebut postmodern sebagai bentuk penolakan terhadap karakter-karakter yang menjadi standar modernisme, khususnya dalam ranah artistik.Ia menggunakan postmodern di ranah yang lebih luas seperti seni rupa, musik dan produk teknologi. Secara garis besar Hassan memberikan ciri postmodernisme sebagai permainan ketidakpastian yang terus-menerus, terpecah-pecah dan berada di-antara.[3]

Istilah postmodern semakin populer ketika pada tahun 1979 seorang filsuf Jean-François Lyotard menerbitkan bukunya berjudul La Condition Postmoderne: Rapport sur le Savoir.[4] Lyotard mendapat inspirasi istilah postmodern dari Ihab Hassan dan menggunakannya dalam konteks masyarakat kontemporer. Ia menyebut masyarakat kontemporer sebagai masyarakat yang terkomputerisasi (computerized society) yang diandaikan sebagai jejaring komunikasi linguistik. Masyarakat terhubung satu sama lain melalui jejaring informasi yang silang sengkarut, yang berakibat pada status pengetahuan. Postmodern adalah kondisi di mana pengetahuan terus bergerak mengalir bebas di antara permainan-permainan bahasa, ada kemungkinan ia melakukan gerakan tak terduga, sanggup mengubah permainan lama dan menciptakan aturan baru.Postmodern juga merupakan paradigma yang menekankan ketidakpastian, ketidakstabilan, paradoks dan disensus. Postmodern menuntut adanya delegitimasi terhadap pengetahuan, artinya pengetahuan memiliki permainannya sendiri, ia tidak bisa melegitimasi permainan yang lain, juga tidak mampu melegitimasi dirinya sendiri, yang ada hanyalah gerakan destabilisasi. Maka dari itu, sains postmodern merupakan pencarian terhadap ketakstabilan yang menaruh perhatian pada hal-hal yang tak menentu, lepas kontrol, konfliktual, puing-puing, porak-poranda dan paradoks pragmatik, yang kemudian memproduksi sesuatu yang baru, yang belum ada sebelumnya (the unknown).[5]

Perkembangan kekinian

Setelah Lyotard, pada abad ke 20 akhir, postmodern menjadi istilah yang populer digunakan di kalangan para pemikir kontemporer. Jean Baudrillard punya istilah masyarakat postmodern yang merujuk pada masyarakat yang dideterminasi oleh tanda-tanda. Masyarakat berperilaku berdasarkan tanda-tanda tertentu yang banyak diproduksi oleh sistem kapitalisme (lanjut). Tanda-tanda itu pada titik ekstrim menjadi simulacra, yakni tanda yang tidak memiliki rujukan kecuali dirinya sendiri, ia mendahului realitas, lahir sebelum realitas dan menjadi realitas baru.[6]

Postmodernisme kemudian sangat populer di Amerika. Kita tahu bahwa Amerika menganut sistem ekonomi kapitalisme dan kebudayaan liberalisme. Masyarakat Amerika dianggap sebagai contoh masyarakat paling kontemporer. Maka dari itu postmodernisme banyak berkembang di kalangan para teoritisi Amerika antara lain Brian McHale, Linda Hutcheon dan Frederic Jameson. Brian Mc Hale secara eksplisit menggunakan istilah fiksi postmodern. Postmodernisme merupakan sebuah konstruksi wacana yang membentuk objek tertentu. Postmodernisme merupakan penerus, ataupun reaksi terhadap, karya sastra modernisme awal abad 20. Postmodernisme tidak sesederhana sebuah bentuk diskursif setelah atau kelanjutan dari modernisme, tetapiia adalah konsekuensi historis dari modernisme yang bisa dilihat perbedaan konstruksi diskursif diantara keduanya. Perbedaan sederhananya yakni dominan karya sastra modern adalah epistemologis: bagaimana manusia menginterpretasi dunia, sebagaimana manusia merupakan bagian di dalamnya. Sedangkan dominan postmodern adalah ontologis: mempertanyakan perihal eksistensi (di balik) dunia, apa itu dunia? bagaimana ia terbentuk? Apa batas-batas yang mebedakan antara dunia-dunia tersebut?[7]

Tokoh lain, Linda Hutcheon, membahas postmodern dengan lebih kompleks. Postmodernisme adalah sebuah praktik budaya yang bisa dipahami melalui bentuk seni dan pemikiran kontemporer yang secara fundamental kontradiktif, secara tegas historis dan tentunya bersifat politis.[8]Ia banyak membahas perihal gaya seni dan pemikiran yang muncul di era kapitalisme lanjut, antara lain arsitektur, karya sastra, seni lukis, seni pahat, film, video, tari, TV, musik, filsafat, teori estetika, psikoanalisa, linguistik atau historiografi/narasi sejarah. Model konsep tentang postmodern dalam karya tersebut bersifat teoretis dan praktis, yang menggunakan parodi untuk merekontekstualisasi dan menghubungkan kembali estetika dalam dan dengan masyarakat, sejarah dan politik. Hubungan tersebut membentuk dua karakteristik yakni ironi – efek nostalgia, rekontekstualisasi bentuk masa lalu akan membuat pernyataan ideologis – dan parodi – hubungan paradoks dengan objeknya, dalam hal ini masa lalu historis dan estetis.[9] Pemikiran Hutcheon tentang postmodern ini ujungnya akan mengarah pada model-model gaya, sebagai praktik budaya, atau bisa dikatakan estetika dari karya seni maupun pemikiran yang muncul dalam era kontemporer. Pembahasan Hutcheon tak jauh beda dengan apa yang diajukan Frederic Jameson. Jameson mengaitkan postmodernisme dengan kebudayaan kapitalisme lanjut, seperti seni dan budaya massa, yang memiliki kecenderungan estetika tertentu.

Postmodernisme: Kontribusinya bagi kajian sastra dan budaya

Postmodernisme merupakan teori canggih yang mampu menjelaskan fenomena kebudayaan kontemporer. Dalam bidang sastra, konteks kekinian turut mempengaruhi bagaimana karya sastra dimaknai. Jika dulu sastra memiliki standar atau patokan berdasarkan penilaian kritikus atau lembaga tertentu, maka di era kekinian sastra memiliki pola standar yang plural. Postmodernisme memberikan kerangka pemikiran untuk melihat sesuatu secara lebih emansipatif. Postmodernisme mampu menghapus logika hirarkis seperti sastra baik dan buruk. Semua sastra dianggap sebagai sastra baik berdasaarkan standarnya masing-masing, dan standar satu tidak bisa digunakan untuk menilai standar yang lain. Dengan begitu kita bisa melihat fenomena sastra seperti teenlit atausastra populer sebagai karya sastra yang memiliki nilai estetikanya sendiri yang tidak bisa dibandingkan secara hirarkis dengan karya sastra seperti terbitan balai pustaka.

Dalam bidang kajian budaya,[10] postmodernisme menyediakan perangkat analisis yang mampu menggoyahkan status yang mapan. Relativitasnya turut mendukung proyek emansipatif kajian budaya. Namun di sisi lain relativitasnya juga mampu mengikis semangat politik dan perlawanan kajian budaya terhadap sistem yang hegemonik. Jika kadar postmodernisme dalam kajian budaya terlalu besar, kajian budaya bisa kehilangan dimensi historis dan materialitasnya menjadi tenggelam dalam keasyikan permainan bahasa dan wacana, serta kehilangan relevansinya dengan dunia nyata.

Terakhir, kritik

Postmodernisme mempromosikan relaitivisme pengetahuan. Ia memandang realitas sebagai konstruksi wacana yang berisiko mencerabutnya dari dunia nyata/materi menjadi melulu abstrak. Seorang kritikus Marxis, Terry Eagleton, menyebut para pemikir postmo sebagai kaum liberal yang menggunakan postmodernisme dan poststrukturalisme sebagai strategi untuk membungkam daya kritis. Postmodernisme tidak memberikan jalan keluar bagi kebuntuan relasi antara pengetahuan/kebenaran dan realitas. Para penganut postmo secara diam-diam berniat mematikan semangat perlawanan dengan dalih bahwa sistem yang hendak dilawan sesungguhnya hanya seolah-olah sebuah sistem namun tak benar-benar ada. Kritik Eagleton mengarah pada pandangan bahwa postmodernisme dan poststrukturalisme adalah perwujudan dari liberalisme.[11]

Perdebatan kontemporer perihal pandangan ini bisa dilihat dari perselisihan antara Derrida dan Fukuyama. Postmodern dan poststrukturalisme lahir dari kebutuhan ideologi yang tidak menerima dua ekstrim ideologi perang dingin, antara Kapitalisme pro-Amerika dan blok Stalinis-Marxisme Soviet. Petentangan ekstrim kiri dan kanan ini mengalami sintesanya dalam wujud demokrasi liberal dengan postmodernisme serta postsrukturalisme sebagai perangkat justifikasinya. Derrida dalam hal ini merasa cukup menyesal dan mulai membangktkan kembali semangat perlawanan  Marxian atau elemen Marxis dalam dekonstruksi, agar tidak jatuh menjadi pendukung liberalisme.

Bagaimanapun juga postmodernisme memberikan sumbangsih sigifikan, khususnya terhadap teori-teori sosio-humaniora. Ia memberikan suatu terobosan terhadap kebakuan disiplin ilmu dan pola pikir. Tentu saja, postmodernisme perlu didampingi dengan teori lain supaya tidak terlalu ekstrim bergerak dalam relativitasnya.

 

Keterangan:

* Artikel ini merupakan makalah yang disampaikan dalam Workshop “Teori-teori Sastra Pascastruktural dan Penerapannya”, yang diselenggarakan oleh MATATIMOER Institute bekerjasama dengan HISKI Komisariat Jember didukung oleh Jurusan Sastra Inggris FIB dan EDSA FIB UNEJ, 8 Oktober 2016.

* Yongky adalah alumnus S2 Kajian Budaya dan Media serta Kajian Filsafat UGM, pengurus Bidang Sastra Dewan Kesenian Jember, dan peneliti di Matatimoer Institute.

* Cover diunduh dari: http://kalu.info/famous-postmodern-paintings/modern-concept-famous-postmodern-paintings-with-art-paintings-abstract-paintings-chiriac-space/

 

Catatan akhir

[1]Jürgen Habermas,“Modernity versus Postmodernity”, diterjemahkan oleh Seyla ben-Habib, dalam Jurnal New German Critique 22 (Winter, 1981) hlm. 3.

[2] Perry Anderson, The Origin of Postmodernity, (London:Verso,1998) hlm. 3-6.

[3]Ibid, hlm. 17-18.

[4]Versi bahasa Inggris, The Postmodern Condition:A Report on Knowledge, terbit lima tahun kemudian, pada tahun 1984.

[5]Lyotard., The Postmodern Condition:A Report on Knowledge, translated by Geoff Bennington and Brian Massumi, (Manchester:Manchester University Press:1984). hlm. 60.

[6] Jean Baudrillard, Simulacra and Simulation, translated by Sheila Faria Glaser (Michigan:University of Michigan Press, 1994).

[7]Brian McHale, Postmodernist Fiction, (New YorkRoutledge, 1987), hlm 5-9.

[8] Linda Hutcheon, A Poetics of Postmodernism, (New York:Routledge, 1988) hlm 4.

[9] Chris Luebbe, ‘Review: A Poetic of Postmodernism’ MLN, Vol. 105, No. 5, Comparative Literature (Dec., 1990), pp. 1113-1117, hlm 1114.

[10] Kajian budaya (cultural studies)di sini merujuk pada aliran pemikiran yang lahir dari tradisi Marxis di Inggris pada tahun 1960an. Kajian budaya meyakini bahwa budaya mengandung muatan politis yang mengandaikan relasi kuasa dengan yang hegemonik.

[11]Terry Eagleton dalam sebuah kuliah umum pada musim panas 1993 di Nortwestern University, Chicago, Illionis, USA. Lihat Manneke Budiman, “Postmodernisme dan Masa Depan Humaniora”, hlm. 3, makalah disampaikan dalam Kuliah Umum Dosen Tamu S2 Ilmu Sastra FIB UGM, Kamis, 17 September 2015.

Share This:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*