Berteater sebagai sebuah jembatan: Membaca konsistensi dan keasyikan Rita Matu Mona dalam Persona

IKWAN SETIAWAN

 

Prolog

Ketika membicarakan teater pada era pertengahan 1990-an sampai awal 2000-an, saya dan banyak pegiat di Fakultas Sastra dan Universitas Jember selalu meyakini bahwa dunia panggung selalu menghadirkan ekstase yang “tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata”. Berlatih selama lebih dari 2 bulan hanya untuk satu pementasan, membuat properti sampai bermalam-malam, membuat proposal untuk sponsor, mengedarkan tiket pertunjukan yang seringkali ditentang oleh para pegiat senior karena dianggap sebagai komersialisasi, berdebat sampai bertengkar untuk membuat publikasi, mengusahakan konsumsi dengan uang pas-pasan, dan nglembur untuk membuat stage yang melelahkan tetapi menyenangkan merupakan aktivitas-aktivitas dunia teater yang benar-benar menguras tenaga dan pikiran, tetapi selalu menghadirkan kenikmatan tiada tara. Meskipun banyak dari kami yang tidak melanjutkan ‘keliaran’ dan ‘kenikmatan’ dunia itu setelah lulus, tapi ketika diajak membincang dunia panggung, kenangan-kenangan itulah yang akan selalu muncul, mewujud sebuah heroisme dari masa-masa penuh perjuangan.

Pengalaman-pengalaman itu pula yang muncul dalam benak ketika saya menonton Persona (George Arif, 2012), sebuah film dokumenter tentang Rita Matu Mona (selanjutnya disingkat RMM), seorang aktris senior di Teater Koma, yang dibuat selama 6 tahun, 2006-2012. Tentu ini merupakan sebuah kerja filmis yang harus kita apresiasi, karena melewati masa produksi yang cukup lama untuk ukuran Indonesia. Apalagi yang dibuat adalah seorang aktir teater, sesuatu yang terbilang ‘aneh’ dalam pikiran para produser dan sutradara arus utama. Maka, tulisan singkat ini akan mengupas bukan sesuatu yang ndakik-ndakik terkait film dokumenter maupun teater, alih-alih, konstruksi diskursif terkait pandangan-pandangan terkait teater yang diidealisasi RMM berdasarkan pengalamannya selama puluhan tahun berteater. Dalam pendekatan konstruksionis berbasis wacana Foucauldian, Hall (1997) menegaskan bahwa apapun bentuknya, teks linguistik sebenarnya menawarkan wacana-wacana partikular yang tidak bisa dilepaskan dari konteks sosio-kultural atau medan ideologis yang menjadi kebenaran dalam sebuah masyarakat atau komunitas. Dengan kerangka demikian, dalam struktur naratif Persona, kita bisa mendapatkan peristiwa-perisitiwa filmis yang memberikan wacana-wacana seputar prinsip-prinsip individual yang berkaitan erat dengan dunia teater.

Jembatan bernama teater

Salah satu pernyataan naratif RMM yang cukup asyik, meskipun sudah menjadi sesuatu yang klise dalam ruang kebudayaan, adalah bahwa teater merupakan sebuah jembatan untuk “mengerjakan sesuatu yang lebih besar buat bangsa ini”. Dalam menjelaskan klausa ini, ia tidak ndakik-ndakik dengan mengutip pendapat negarawan, budayawan, atau pakar ternama. Alih-alih, ia memasukkan pengalaman pribadinya sebagai seorang pegiat teater. RMM menuturkan bahwa ketika ia mengajar teater di kampus atau di komunitas lain, pada saat itu sebenarnya ia juga sedang mengkomunikasikan sesuatu kepada generasi muda yang sebagian besar berperilaku dan berpikir instan. Generasi instan tentu saja merujuk kepada anak-anak muda yang sudah terbiasa dengan budaya kecepatan—meminjam istilah Tomlinson (2007)—sebagai akibat revolusi teknologi yang memungkinkan manusia untuk melakukan tindakan-tindakan serba cepat, sehingga berpengaruh ke dalam kehidupan sehari-hari mereka. Instanisasi generasi muda merupakan gejala umum yang secara sosiologis mengkhawatirkan karena menjadikan penerus bangsa kurang berpikiran dan bertindak mendalam. Akibat lanjutnya adalah berkembangnya generasi rapuh yang kurang memiliki daya tahan dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang sedikit rumit dalam kehidupan mereka.

Dengan mengajarkan proses kreatif dalam berteater kepada mahasiswa atau generasi muda, RMM secara tidak langsung menghadirkan sebuah perjalanan dan perjuangan yang tidak mudah. Ada sebuah kedisiplinan dalam berlatih, berdiskusi, memformulasi ide, memecahkan masalah pendanaan ataupun panggung, dan peristiwa dan proses lain yang menjadi tanggung jawab personal maupun komunal dari masing pihak yang terlibat dalam proses berteater. Bahwa tidak ada sesuatu yang instan dalam berteater, tidak ada sesuatu yang ujug-ujug jadi; semuanya membutuhkan keseriusan dalam menjalani masing-masing tahapan dan peran. Menurut RMM, hanya dengan jalan itulah generasi muda bisa mendisiplinkan diri dan pikiran mereka dalam menghadapi permasalahan-permasalahan partikular.

Lebih dari itu, melalui proses berteater, generasi muda yang terlibat bisa diarahkan untuk peka terhadap persoalan sehari-hari yang mereka jumpai. Dalam gemerlap dunia dan kecepatan kultural, diakui atau tidak, semakin banyak kaum muda yang merayakan, menikmati, dan memuaskan kedirian mereka. Proses berteater tentu sangat peka terhadap permasalahan-permasalahan sosial dan kemanusiaan, karena itu semua bisa menjadi sumber kreatif lahirnya sebuah naskah. Dengan kata lain, dengan berteater mereka juga akan semakin sadar dan kritis terhadap kompleksitas permasalahan masyarakat. Apakah ini tidak terlalu idealias atau bahkan absurd? Menurut saya tidak. Karena mengalami teater adalah pengalaman nalariah dan batiniah yang akan menjadikan para pelakunya memiliki kesadaran ideologis akan permasalahan dalam masyarakat, meskipun, pasti ada saja mereka yang mengabaikan atau bahkan melupkan; khususnya mereka yang hanya main-main saja.

Dengan teater pula, RMM bisa terlibat dalam persoalan-persoalan pelik seperti pelacuran. Ia pernah dikontrak sebuah NGO internasional untuk memberikan pendampingan kreatif bagi para pelacur, khususnya yang masih berusia muda. NGO itu beranggapan bahwa dengan mengikuti pelatihan teater, para pelacur memiliki bekal kreatif untuk memandang kehidupan. Sekali lagi, ini membuktikan bahwa berteater bukan hanya semata soal panggung, tetapi juga berkaitan erat dengan tindakan praksis dalam proyek kemanusian berorientasi kreatif. Artinya, ada kesadaran untuk membawa kreativitas tekstual-panggung ke dalam tindakan kontekstual-praksis.

Konsistensi dan keasyikan dalam berteater

Berteater sejak usia 15 tahun, dimulai dari komunitas dan pertunjukan teater di Taman Ismail Marzuki hingga aktif di Teater Koma sejak era 1980-an dan juga di kelompok-kelompok teater yang lebih kecil menegaskan bahwa sosok RMM memiliki konsistensi dalam menikmati jagat teater. Konsistensi merupakan sebuah konsep yang sangat sulit dijaga oleh para pegiat seni, apalagi ketika sudah menemui permasalahan yang agak kompleks seperti “diancam cerai” oleh suami. Dan, itu pernah dialami oleh RMM ketika memutuskan menikah di usia muda di mana ayah dari dua anak lelakinya meninggalkannya. Hanya karena RMM sangat berat untuk berpisah dari panggung teater. Belum lagi permasalahan sulit seperti membesarkan dan membiayai pendidikan anak sampai tingkat perguruan tinggi. Menurut saya, pelajaran konsistensi ini merupakan sesuatu yang “sangat mahal” yang bisa kita dapatkan dari RMM.

Konsistensi itu bisa menjadi keyakinan ideologis karena ia sebagai pelaku teater menemukan keasyikan dan kenikmatan yang bersifat “misterius”. Ia mengatakan bahwa ada “misteri” yang membuatnya ingin selalu kembali ke panggung. Dan misteri itu menurutnya tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Ada keasyikan dan kenikmatan yang membuncah ketika ia bersama-sama dengan para pegiat teater lainnya—baik dari Koma maupun kelompok-kelompok teater yang lebih kecil—berproses kreatif, dari latihan sampai pementasan. Bahkan, ketika ada kelompok selain Koma sedang pentas, ia pun sangat ingin ikut pentas. Keasyikan dan kenikmatan ini, sebenarnya bukanlah sesuatu yang aneh ataupun misterius. Karena secara psikis sesuatu yang dilakoni secara serius, ajeg, dan dengan kegembiraan akan menjadi energi positif yang direkam di alam bawah sadar sehingga tanpa diminta pun panggilan untuk ‘manggung’ itu selalu ada. Kalaupun RMM mengatakan itu semacam misteri, saya menduga, itu lebih dikarenakan ia sedang merefleksikan periode panjangnya dalam berteater yang tidak semua bisa dijelaskan dengan alasan kualitatif maupun statistik dan tidak banyak seniman yang bisa seperti itu. Prinsip keasyikan dan kenikmatan itu pula yang menjadikannya mau terlibat dalam pertunjukan teater dari komunitas lain seperti  Satu Merah Panggung, besutan Ratna Sarumpaet, dalam garapan Jamilah dan Sang Presiden.

Epilog (yang sebenarnya belum terakhir)

Di panggung teaterlah, RMM bisa menemukan dan mencapai mimpi-mimpinya untuk terus berekspresi. Tidak hanya di kelompok besar seperti Koma, tetapi juga di kelompok-kelompok kecil. Dengan terus teater pula RMM membuktikan bahwa ia tetap bisa menjadi super mom bagi kedua buah hatinya. Kedua anaknya tumbuh menjadi lelaki kreatif yang begitu membanggakan Mama-nya. Apalagi kebahagian orang tua tunggal seperti RMM selain rasa bangga kedua anaknya. Yang lebih menarik lagi, ia masih belum mau mengakhiri karir berteaternya, karena ia masih “ingin terus mencapai puncak yang ia sendiri tidak tahu di mana itu berada”. RMM hanya ingin berjalan dan mengalir, tanpa harus buru-buru menemukan puncak itu. Kalaupun nanti ia tidak sampai pada puncak itu, paling tidak ia telah berkontribusi bagi dunia teater, kebudayaan, dan kemanusian.

Bagi saya pribadi, pesan diskursif RMM itu bisa kita baca sebagai interpelasi  ideologi—mengikuti pemikiran Althusser (197..)—terhadap para pegiat teater dan seniman agar selalu konsisten dalam menemukan keasyikan dan kenikmatan dalam berekspresi. Berteater adalah sebuah proses yang tidak harus buru-buru diakhiri hanya karena kita menemukan sebuah permasalahan. Berteater adalah sebuah laku diskursif dan praksis sekaligus keyakinan ideologis yang tidak hanya sekedar mencari nilai A. Berteater adalah sebuah pilihan yang akan membawa kita masuk ke dalam sebuah dunia yang begitu kompleks tetapi akan menghadirkan keasyikan dan keindahan jika kita mampu menjalani proses kreatif dengan serius dan gembira. Pertanyaan sederhananya adalah “apakah kita yang katanya bergiat dalam teater atau kesenian lainnya sudah berani meyakini proses kreatif itu sebagai laku diskursif dan praksis?”

 

Keterangan

* Artikel ini merupakan makalah dalam “Diskusi Film” dalam rangka Pekan Raya IMASIND, Fakultas Ilmu Budaya, 2 November 2016.

* IKWAN adalah peneliti di Matatimoer Institute dan Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember

* Cover diunduh dari: http://female.kompas.com/read/2015/11/20/091100720/Memahami.Gaya.Make.Up.Teater.dari.Penata.Rias.Film.Pengkhianatan.G.30.S.PKI.

 

Rujukan

Althusser, Louis. 1971. Lenin and Philosophy. New York: Monthly Review Press

Hall, Stuart. 1997. “The Work of Representation”, dalam Stuart Hall (ed). Representation, Cultural Representation and Signifying Practices. London: Sage Publication in association with The Open University.

Tomlinson, John. 2007. The Culture of Speed, The Coming of Immediacy. London: Sage Publications.

Film

Arif, George. 2012. Persona. Jakarta: Spin Production.

Share This:

About Ikwan Setiawan 123 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*