Sastra dan kompleksitas masyarakat Jember: Memetakan ruang kontekstual sebagai basis penulisan sastrawi

Saya meyakini, sangat jarang para pegiat, mahasiswa, dan dosen sastra di Jember yang mengenal nama Jacob Vrendenbregt. Padahal, dia adalah seorang antropolog sekaligus salah satu pemilik perkebunan di Jember sampai menjelang nasionalisasi oleh pemerintah Republik Indonesia di bawah kepimpinan Sukarno. Kehidupan sehari-harinya di ruang perkebunan dengan segala permasalahan dan dinamikanya telah menghasilkan sebuah keterikatan yang bukan lagi berdasarkan relasi toean besar-buruh. Lebih dari itu, keterikatan itu telah memunculkan energi kreatif untuk menarasikan peristiwa sehari-hari yang tidak bisa lepas dari konteks sistem perkebunan dan konfigurasi sosio-kultural pada masa kolonial. Sebuah novel, As the Day Draws to an End, diterbitkan pada tahun 1990, setelah mengalami 3 kali cetak ulang dalam bahasa Belanda. Bisa dikatakan inilah karya fiksi pertama—paling tidak sampai dengan tulisan ini dibuat—yang menggunakan latar perkebunan Jember kolonial.

Dalam tulisan ini saya tidak hendak menganalisis atau menceritakan isi keseluruhan karya Jacob ini. Alih-alih, saya hanya ingin menjadikan karya prosaik ini sebagai pintu masuk untuk memikirkan lebih jauh relasi proses kreatif penciptaan dengan kompleksitas masyarakat dan budaya Jember yang perkembangannya tidak bisa dilepaskan begitu saja dari faktor historis; ruang kontekstual. Bahwa dari gunung hingga pesisir bukanlah sekedar entitas geografis nan indah dan mempesona. Lebih dari itu, frasa tersebut adalah sebuah metafor yang di dalamnya terdapat kehidupan manusia dari bermacam etnis yang berangkat dari faktor historis, bisa jadi bermasalah satu sama lain tapi bisa juga mengkonstruksi sebuah orkestra kultural yang sangat indah, atau bisa jadi muncul permasalahan terkait relasi sosial berbasis keagamaan, dan yang lain.

Kebun sebagai ruang kultural dan peristiwa sosial

Semua orang pasti tahu bahwa perkebunan di Jember, baik dari utara ke selatan atau dari barat ke timur, adalah produk ekonomi, politik, dan kultural warisan kolonial Belanda. Sebagai warisan kolonial, tentu kita bisa menemukan praktik ekonomi kapitalistik yang melibatkan pekebun/pemodal sebagai tuan/toean besar, jajaran administratif, mandor, dan buruh yang berasal dari kelas bawah. Tentu ada pula catatan-catatan tentang konflik sosial yang melibatkan kaum buruh. Namun, yang tidak bisa kita lupakan adalah bahwa peristiwa-peristiwa kultural sehari-hari yang menandai proses ekonomi maupun politik dalam jagat perkebunan berlangsung dalam suasana yang tidak selalu diliputi tegangan konfliktual, meskipun tidak bisa ditolak adanya tegangan tersebut. Ada percakapan sehari-hari antara toean besar dan mandor, toean besar dan pembantu rumah tangganya yang berlangsung dalam suasana cair. Ada impian untuk sejahtera secara ekonomi, baik dari para pekebun, mandor, maupun buruh. Ada pula gesekan-gesekan antarburuh. Semua itu berlangsung dalam ruang kultural perkebunan yang terus mengalami transformasi dari era kolonial hingga pascakolonial.

Kejelian melakukan pengamatan terlibat menjadikan Jacob mampu menarasikan peristiwa sehari-hari yang berlangsung di perkebunan, sehingga semua tampak biasa dalam sebuah relasi sosial yang wajar. Apa yang harus diingat adalah bahwa relasi master-labor yang terjadi dalam narasi As the Day…merupakan relasi profesional antara pihak yang mempekerjakan dengan pihak yang bekerja. Meskipun demikian, bukan berarti tidak terjadi permasalahan.  Para buruh dalam kesempatan tertentu ketika merasakan ketidakberesan pembayaran uang mingguan melakukan pemogokan kerja; bukan karena penderitaan yang dikarenakan tindakan toean besar, tetapi karena tindakan tenaga administratif perkebunan yang berasal dari elit pribumi dan dilindungi oleh tenaga administratif Eropa serta serikat buruh perkebunan dan aparat kecamatan yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya (Vrendenbregt, 1990: 31-33). Artinya, Jacob mencoba sedekat mungkin dengan kenyataan untuk menunjukkan bahwa ada proses kompleks di balik sebuah peristiwa di perkebunan, sembari menghindari perspektif stereotip.

Dia tidak ingin terjebak sekedar menyalahkan pihak buruh, juga menyalahkan tenaga administratif pribumi karena ada pihak dari pekebun Eropa dan birokrasi Indonesia pasca-kemerdekaan yang memungkinkan permasalahan itu terjadi. Pilihan tersebut merupakan bentuk politik narasi—kesadaran untuk memilih sudut pandang penulisan cerita sesuai dengan kepentingan yang ia negosiasikan—yang bisa dimainkan oleh seorang penulis dalam menyikapi kompleksitas kultural masyarakat perkebunan. Ia tidak harus meneruskan ke dalam pola-pola naratif bergaya orientalis dalam menyuguhkan kisah hidup masyarakat lokal yang menempatkan mereka dalam posisi inferior (Said, 1978). Meskipun demikian, latar perkebunan yang ada adalah pasca-kemerdekaan sebelum nasionalisasi, sehingga sangat mungkin para pekebun sudah mulai mengubah relasi dan perialaku mereka.

Satu yang pasti, sampai dengan hari ini relasi master-labor masih saja berlangsung dalam kehidupan perkebunan di bawah kendali perusahaan negara, perusahaan daerah, maupun perusahaan swasta nasional. Repetisi operasi kuasa ini menjadi karakteristik tipikal dari masyarakat perkebunan. Tentu saja, dinamika dan permasalahan yang terjadi saat ini lebih kompleks karena tidak lagi berasal dari relasi Eropa-Pribumi, tetapi “sama-sama pribumi, tetapi berbeda nasib”. Dan, bukan berarti efek yang terjadi karena relasi dan operasi kuasa tersebut lebih sederhana. Karena dari beberapa kasus seperti kasus Jenggawah, Ketajek, Curah Nongko, rakyat pemilik sah lahan harus berhadap-hadapan dengan aparatus dan birokrasi negara yang menjalankan prinsip “semua serba negara” untuk meguasai lahan-lahan yang kepemilikiannya dianggap belum jelas, bahkan dengan melakukan tindak kekerasan, teror, dan kriminalisasi (Aprianto, 2009). Artinya, justru di masa kemerdekaan, ruang perkebunan menjadi sebuah medan tempat tumbuhnya ketidakadilan yang menumbuhkan gerakan perlawanan dari rakyat kecil. Masalahnya adalah wilayah perkebunan saat ini menjadi ruang yang sangat sulit ditembus, bahkan untuk sekedar penelitian atau observasi terlibat untuk mendapatkan struktur perasaan para buruh kebun atau tentang konflik-konflik tanah yang mereka hadapi. Beruntung kiranya, sudah ada beberapa pegiat LSM yang serius melakukan pendampingan terhadap mereka yang berkonflik. Dari para pegiat itulah, paling tidak, para penulis bisa mendapatkan informasi berharga, meskipun untuk mendapatkan kisah sehari-hari memang tetap butuh melakukan interaksi sosial dengan rakyat di perkebunan. Selain itu, karya tulis berupa buku dan jurnal tentang perkebunan Jember merupakan sumber literer yang sangat berharga bagi proses penciptaan sastrawi.

Transformasi geokultural gunung

Tidak dipungkiri lagi, gunung-gunung di Jember merupakan gugusan geografis yang menghadirkan banyak keuntungan bagi masyarakat Jember ataupun pihak-pihak yang menanamkan modalnya di Jember. Kesuburan tanah serta beragam flora dan fauna jelas menjadi berkah yang tak terbantahkan dari proses vulkanis gunung-gunung di wilayah ini. Namun, gunung dan gumuk, merupakan ruang geokultural yang bisa menjadi landasan kreatif untuk mengeksplorasi beragam narasi, puisis, dan drama. Tentu bukan hanya isu-isu perkebunan seperti dilakukan Jacob, tetapi isu-isu lain yang menjadikan gunung dan gumuk sebuah kompleks sosio-kultural. Bisa diawali dari memahami cerita-cerita rakyat yang berkembang di masing-masing wilayah gunung dan gumuk, untuk kemudian membawanya ke masa kini. Strategi penulisan posmodernisme, misalnya, bisa digunakan untuk membawa kembali dongeng atau legenda ke dalam peristiwa masa kini modern, tanpa harus terjebak ke dalam serba masa lalu dan perang-perangan seperti dalam sinetron televisi. Semangatnya adalah bahwa yang dulu ditundukkan oleh narasi dan pengetahuan modernisme juga berhak ada di tengah-tengah peristiwa modern tanpa harus diberikan eksplorasi epistemologis, karena kehadiran mereka pada dasarnya ada bersama-sama dalam kehidupan (McHale, 1987).

Memasukkan permasalahan ekologis dengan mendasarkan pada gunung dan gumuk juga sangat mungkin dilakukan. Pengalaman kawan-kawan pecinta kelestarian alam dalam melakukan pemetaan permasalahan ekologis atau dalam melawan “pemusnahan gumuk” di Jember bisa menjadi sumber kreatif. Puisi, drama, dan prosa tentang gunung dan gumuk bisa menjadi kekuatan diskursif untuk menyuarakan kepentingan ekologis yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat kebanyakan. Tegangan antara hasrat ideal-romantik untuk membiarkan keliaran alam dengan hasrat kapitalistik masyarakat modern bisa dimainkan dalam jalinan alur cerita yang menarik. Ketika era industri berkembang pesat di Inggris, para penulis melakukan gerakan Romantisisme yang mengedepankan pandangan tentang keluarbiasaan dan misteri alam, kehidupan orang-orang biasa, dan eksplorasi masa lalu ideal sebagai kekuatan diskursif untuk melakukan perlawanan terhadap hegemoni pikiran modern dan industri (Day, 1996). Tentu, para penulis bisa menggunakan kekayaan geokultural gunung, gumuk, dan bentang alam lainnya sebagai basis untuk menggerakkan narasi yang berorientasi kepada kritik dan resistensi diskursif terhadap persekongkolan jahat antara penguasa dan pemodal untuk menguras habis kekayaan alam.

Pesantren yang masih menghegemoni

Entahlah sejak kapan julukan kabupaten dengan 1000 pesantren diberikan ke Jember. Yang pasti, di wilayah ini memang tidak terlalu susah untuk menemukan pesantren; dari yang besar, sedang, sampai kecil; dari kota hingga pelosok dusun. Dan, meskipun awalnya identik dengan masyarakat Madura, pesantren kini juga mulai menjadi orientasi bagi sebagian kecil keluarga Jawa. Apa yang menarik adalah, sebagaimana sudah diketahui, pesantren menciptakan budaya patron kepada kyai yang diyakini sebagai figur dengan ilmu agama linuwih sehingga harus dihormati, dalam kondisi apapun. Banyak peristiwa sosio-kultural yang oleh nalar modern diangap sebagai aneh, tetapi memiliki landasan religius yang diyakini sebagai kebenaran. Wajar kirannya ketika di tengah-tengah kehidupan modern yang mereka alami, banyak jama’ah atau santri yang berusaha mencari berkah dari kehebatan kyai tertentu di Jember. Menjadi wajar kalau acara manakiban setiap malam Jum’at Legi di salah satu pesantren ternama dihadiri ribuan jama’ah yang meyakini bahwa air yang sudah didokan dalam ritual tersebut manjur untuk segala keperluan; dari mengobati tanaman, mendapatkan undian, sampai agar rumah mereka tidak kemalingan. Tentu, keunikan-keunikan kultural itu bisa diolah untuk penulisan sastrawi dengan dengan mengungkap aspek-aspek personal dari mereka yang terlibat di dalam tradisi tersebut. Misalnya, seorang perempuan tua yang rela menabung sedikit demi sedikit agar bisa ikut ‘melemparkan’ uang ke atas ‘surban raksasa’. Atau, kemelimpahan harta dari figur yang ditokohkan karena ritual tersebut.

Selain itu, pemahaman para santri terhadap budaya—dalam artian aturan, suasana, tradisi—dalam pesantren dan spiritualitas yang dipengaruhi kehidupan beragama merupakan sumber kreatif untuk karya fiksional. Dalam antologi yang disunting oleh Pujiati & Astutiningsih (2016a), misalnya, beberapa santriwati Al-Falah, Silo, menulis puisi yang menceritakan penderitaan yang bertumpang-tindih dengan orientasi pengetahuan agama yang menjanjikan kebahagiaan. Ini menunjukkan bahwa dunia mereka yang tinggal pesantren merupakan dunia dengan warna dan peristiwa kompleks. Spiritualitas juga menjadi karakteristik diskursif lokal di Tapal Kuda, termasuk Jember, yang sudah diolah oleh para penulis, tentu dengan bermacam peristiwa dan diksi (Pujiati & Astutiningsih, 2016b). Tentu saja, masih banyak peristiwa-peristiwa atau permasalahan sosial dan psikologis yang bisa dieksplorasi oleh para penulis. Permasalahannya adalah pada keberanian para penulis untuk memasuki “isu-isu sensitif”, seperti bagaimana tingkah para kyai menjamu calon bupati atau calon legislatif, bagaimana (kemungkinan) kehidupan seksual di antara para santri, perilaku kyai tertentu yang menodai santriwatinya atau membuat proposal fiktif untuk mendapatkan dana dari pemerintah. Selagi pesantren masih menjadi hegemoni di masyarakat, pada saat itulah sebenarnya berlangsung beragam peristiwa dan permasalahan.

Dunia pesisir penuh warna

Jagat maritim adalah jagat yang penuh warna dan dinamis. Ada keberanian para nelayan demi melanjutkan kehidupan keluarganya di rumah. Ada doa istri dan anak-anak yang ditinggal melaut. Ada kesulitan ekonomi ketika musim paceklik sehingga harus menjual kendaraan ataupun perabot rumah tangga.  Ada rentenir yang mencekik kehidupan ekonomi keluarga nelayan. Ada konflik dengan negara. Ada lagu-lagu Banyuwangian, campursari, dan dangdut koplo yang menemani para nelayan di tengah-tengah laut. Ada sejarah ramainya jalur laut selatan Jember ketika zaman kolonial. Ada pula keyakinan terhadap Nyai Roro Kidul yang ikut ‘menentukan’ nasib dan rezeki para nelayan di tengah-tengah hasrat mereka untuk menjadi modern. Kompleksitas pesisir itu tentu bisa menjadi sumber fiksional, puitik, maupun dramatik yang bisa diceritakan oleh para penulis.

Menurut saya, ruang kultural pesisir dan samudra belum diekspos secara maksimal oleh para penulis Jember. Padahal dalam kasanah sastra Indonesia kita mengenal novel Gadis Pantai (cetak ulang 2005), karya Pramoedya Ananta Toer. Meskipun bertutur tentang kehidupan feodal ningrat Jawa, novel ini pertama-tama mengambil latar kemiskinan masyarakat pesisir Jawa. Selain itu, melalui novel ini Pram juga ingin membandingkan keluasan perspektif masyarakat pantai dibandingkan masyarakat ningrat yang tinggal di kota, meskipun mereka harus hidup dalam keterbatasan. Pada tahun 1851 Herman Melville menerbitkan Moby Dick yang menceritakan perburuan ikan paus. Melalui novel ini Herman menarasikan hasrat berpetualang manusia untuk menaklukkan, bahkan keliaran dan kemisteriusan alam, dengan ukuran-ukuran rasionalnya. Semangat transendental dikonstruksi dengan kematian para pemburu yang tidak bisa menaklukkan kekuatan alam itu sendiri. Maka, belajar dari dua karya itu, para penulis Jember memiliki kesempatan luas untuk menghadirkan kehidupan sehari-hari para nelayan dan keluarga mereka dengan beragam permasalahan, impian, dan harapan.

Simpulan

Saya sengaja tidak membicarkan ruang kontekstual di kampus, pinggiran kampus, ataupun kota. Karena ruang itulah tempat hidup dan meng-ada bagi para penulis muda di Jember, sudah semestinya mereka menyadari kompleksitas permasalahan; soal gaya hidup mahasiswa atau kaum muda, ruang publik yang sangat terbatas, warga pinggir kampus yang sangat jarang kuliah, asyiknya menikmati ketan di Jembatan Jompo, para tukang becak yang mulai menghilang dari pandangan visual kota dan kampus, pergaulan yang semakin bebas, para gadis karaoke dengan beragam kepentingan dan keinginannya, dan masih banyak lagi persoalan. Bagi saya, para penulis sudah sangat biasa dengan ruang kontekstual itu, tinggal bagaimana mau menyelami lebih mendalam persoalan-persoalan yang ada sehingga tidak sekedar menggunakan sudut pandang teropong. Ruang kontekstual gunung, perkebunan, masyarakat desa dalam keberantaraan kultural, pesisir dan laut, serta jagat pesantren tetap menjadi sumber kreatif yang bisa menghadirkan karakteristik sastrawi dari Jember. Tentu saya tidak harus mengajari bagaimana strategi dan teknik untuk menuliskan permasalahan-permasalahan tersebut. Yang dibutuhkan, menurut saya, adalah kemauan untuk “turun ke bawah” (turba) meminjam istilah Lekra, agar bisa mendapatkan kejernihan dalam memandang persoalan-persoalan itu sebagai basis untuk menuliskan karya, apapun bentuknya.

Keterangan

Makalah disampaikan Diskusi Sastra Jember yang diselenggarakan oleh Bidang Sastra Dewan Kesenian Jember bekerjasama dengan Matatimoer Institute, 4 November 2016.

Daftar bacaan

Aprianto, Tri Chandra. 2009. “Manakalah Konflik Berkepanjangan Harus Diselesaikan: Kasus Konflik Perkebunan Ketajek, Jember”, dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Politik, Vol. 13, No. 1, hlm. 71-90.

Day, Aidan. 1997. Romanticism. London: Routledge.

McHale, Brian. 1987. Postmodernist Fiction. London: Routledge.

Merville, Herman. 1851. Moby Dick. New York: Harper & Brothers Publishers.

Pujiati, Hat & Irana Astutiningsih (ed). 2016a.  Mengejar Tuhan, Antologi Puisi dan Cerpen Komunitas Sastra Wilayah Tapal Kuda. Jember: Visart Global Media bekerjasama dengan Matatimoer Institute.

Pujiati, Hat & Irana Astutiningsih. 2016b. Spiritualitas sebagai Localpoeic dari Komunitas Sastra di Daerah Tapal Kuda; Jember-Situbondo-Banyuwangi JawaTimur. Yogyakarta: Ladang Kata bekerjasama dengan Matatimoer Institute.

Said, Edward. 1978. Orientalism. New York: Pantheon Books.

Toer, Pramoedya Ananta. 2005. Gadis Pantai. Jakarta: Lentera Dipantara.

Vredenbregt, Jacob. 1990. As the Day Draws to an End. Jakarta: Djambatan.

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 123 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*