Kekuatan Sastra Jember ada pada Karakter Alam dan Masyarakatnya.

Jika kita ingin melihat sastra Jember, kita mesti mengurai kembali bagaimana orientasi kesusastraan yang dominan selama ini. Hal ini berkaitan dengan apa yang selama ini kita namakan Sastra Indonesia. Hegemoni sastra Indonesia membuat banyak pegiat sastra sulit melepaskan diri dari orientasi/kiblat Yogyakarta dan Jakarta, baik itu para penyairnya, kajiannya, bahkan sampai perdebatannya. Jika diurai lagi hegemoni ini tumbuh subur di lingkungan akademik. Nama-nama penyair seperti Chairil Anwar, Taufiq Ismail, W.S. Rendra, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Colzoum Bachri, terus menerus menjadi bahan ajar ataupun bahan kajian di dunia akademik sastra. Inilah yang membuat kita kurang mengenal ataupun menggali potensi-potensi sastra yang ada di sekitar kita. Untuk mulai membicarakan sastra Jember, maka untuk sementara kita mesti melihat keluar, melampaui dunia kampus, untuk mulai melihat realitas di Jember.

Ada beberapa hal yang bisa dilihat dan dikembangkan dari potensi Jember, dalam konteks kesusastraan, antara lain:

  • Potensi geografis

Potensi geografis Jember, dalam hal ini area kabupaten Jember, terdiri dari alam gunung, daratan – perkebunan dan pertanian – dan pesisir. Di wilayah gunung kita akan menemukan mitos-mitos yang masih diyakini masyarakat, yang diantaranya berupa cerita atau narasi. Narasi yang berkembang di sana, bisa dikatakan, merupakan bentuk pemaknaan masyarakat terhadap alam di sekitarnya. Ada lagi realitas kehidupan masyarakat di daratan, dalam hal ini perkebunan dan pertanian. Sistem perkebunan di Jember melahirkan masyarakat feodalistik yang masih belum banyak diolah menjadi karya sastra. Begitu juga dengan realitas masyarakat agraris/pertanian di Jember beserta dengan permasalahan sosialnya yang potensial untuk diangkat dalam karya sastra. Potensi pesisir di Jember juga jika ditelisik memiliki gaya tersendiri dalam hal kesusastraan. Jika dikembangkan sangat mungkin akan melahirkan karakter sastra pesisiran.

  • Potensi demografis

Demografis dalam hal ini bermakna masyarakat yang bermukim di Jember. Secara kuantitas, masyarakat Jember didominasi oleh masyarakat berkultur Jawa dan Madura. Selain itu ada juga masyarakat osing, cina dan arab. Pertemuan dari kultur-kultur tersebut memberikan satu pemahaman akan kebudayaan yang kerap disebut dengan nama pendalungan. Kultur pendalungan masih minim dikaji. Apakah kultur tersebut hanya ada di masyarakat kota atau juga di masyarakat pedesaan?  Fenomena kebudayaan ini bisa diadikan bahan proses kreatif, yang memungkinkan untuk memunculkan karya sastra Jember berkarakter hibrid.

Karya sastra kerap muncul dari ruang-ruang kontekstual. Ruang kontekstual bermakna dinamika sosial, budaya, politik dan sejarah di masyarakat. Dalam konteks Jember, ruang-ruang kontekstual tersebut bisa dibagi menjadi:

  • Ruang kontekstual perkebunan

Salah satu karya yang pernah lahir dari ruang kontekstual perkebunan adalah novel etografis karya Jacob Vrendenbregt berjudul As the Day Draws to an End (1990). Dalam novel tersebut digambarkan bagaiaman realitas masyarakat di perkebunan Kali Bajing, Tempurejo Jember, pada tahun 1950an menjelang nasionalisasi perkebunan. Di novel tersebut, relasi mandor-buruh tidak hanya berjalan satu arah/instruktif, tetapi buruh juga memiliki kekuatan perlawanan terhadap atasannya. Sistem feodalistik tidak serta merta membawa buruh pada posisi subordinat, tetapi ada ruang dinamis, tawar-menawar posisi, yang menarik untuk diulas. Dalam novel tersebut, juga digambarkan konteks politik Islam, komunis dan nasionalis yang saling bergesekan dalam ruang perkebunan, serta persoalan kultur Madura yang tidak bisa dikesampingkan peranannya dalam politik kolonial perkebunan.

  • Ruang kontekstual geokultural gunung

Geokultural gunung merupakan cara masyarakat di gunung dalam memaknai alam, yang antara lain melahirkan produk-produk kebudayaan sastrawi, seperti mitos, legenda ataupun sastra lisan. Di Sukma Elang, Jember ada cerita tentang Raja Elang yang dulunya berkuasa di daerah tersebut.

  • Ruang kontekstual pesantren

Pondok pesantren juga merupakan potensi ruang kontekstual yang penting diperhatikan dalam konteks masyarakat Jember. Bagaimana sosok Kyai dijadikan mitos yang dipercaya membawa keberkahan. Di sisi lain, juga ada fenomena Kyai yang “meggauli” anak didiknya. Jika karya sastra diyakini sebagai sarana dalam membangun kesadaran kritis, maka ruang kontekstual pesantren adalah pilihan yang tepat.

  • Ruang kontekstual pesisir

Dalam novel karya Pramoedya Ananta Toer, berjudul Gadis Pantai, pesisir menjadi ruang kontekstual yang dianggap lebih terbuka daripada masyarakat kota yang feodalistik. Dalam konteks hari ini, kepercayaan Indonesia menjadi poros maritim secara implisit membawa pesan bahwa pesisir adalah potensi kekuatan yang cukup besar. Sastra Jember, dalam hal ini, bisa diolah dalam membangun kekuatan kebudayaan, khususnya di pesisir Puger dan Ambulu.

Banyak yang meyakini bahwa Jember memiliki potensi kebudayaan yang minim untuk dikembangkan. Pernyataan ini bisa dianggap benar sejauh masih minimnya penggalian potensi Jember, dari sisi historis, politik, sosial maupun budaya. Salah satu contohnya, banyak sekali naskah kuno/manuskrip yang tersebar di beberapa tempat di Jember, yang masih belum banyak dilirik. Serta banyak juga sastra lisan/tutur yang dituturkan secara turun-temurun, yang belum bertransformasi menjadi sastra tulis. Cerita-cerita lisan tersebut, dalam konteks masyarakat Jember, kerap menjadi bahan cerita dalam pementasan ludruk. Orang-orang ludruk-an kaya akan narasi-narasi tentang Jember, seperti cerita tentang Putri Mangli, Dewi Rengganis dan Pangeran Arjasa. Salah satu kelompok ludruk di Jember bahkan pernah merangkum narasi-narasi tersebut dalam pertunjukan bertema Babad Jember.

Proses penggalian potensi kesusastraan di Jember merupakan usaha dalam memperluas khasanah sastra di Jember. Jika usaha ini digiatkan, sangat mungkin, akan melahirkan karakter-karakter narasi Jember. Karakter tersebut merupakan bahan kekuatan kebudayaan Jember, yang diharapkan mampu bersaing secara kultural dengan kebudayaan-kebudayaan lain di Indonesia.

Keterangan

Tulisan ini merupakan diktat rangkuman dari Diskusi Sastra Jember yang diselenggarakan oleh Bidang Sastra Dewan Kesenian Jember bekerjasama dengan Matatimoer Institute, 4 November 2016.

 

Share This:

1 Comment

  1. Thank you for the good writeup. It in fact was a amusement account it.
    Look advanced to more added agreeable from you! However, how can we communicate?

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*