Menjelalah jagat struktural mitos Levi-Strauss: Sebuah Critical Review

Awalan

Mitos dalam pandangan awal penulis selalu berkaitan dengan hal-hal yang berasal dari jagat legenda maupun dongeng yang banyak terdapat dalam masyarakat kita, dan juga masyarakat lain di belahan bumi ini. Ketika masih menempuh pendidikan dasar hingga S1, para guru dan juga dosen selalu bercerita betapa kayanya bangsa ini akan legenda maupun dongeng yang semuanya dikatakan memiliki nilai-nilai mitis dan bisa dijadikan pelajaran bagi masyarakat yang hidup di masa kini. Penulis masih ingat betapa legenda Banyuwangi, Bandung Bondowoso, Sangkuriang, dan lain-lain pernah menjadi pembicaraan yang menarik di kelas ataupun di luas kelas.

Penulis tidak pernah menyangka bahwa di balik sebuah mitos, ternyata mengandung ‘sesuatu’ yang menarik untuk dikaji secara akademis. Sampai akhirnya saya mendapatkan informasi dari seorang kolega dosen tentang analisis struktural mitos Levi-Strauss yang diperolehnya ketika menempuh pendidikan S2 Antropologi di Universitas Gadjah Mada. Sampai di situ, penulis belum paham sepenuhnya, bagaimana sebenarnya menggunakan analisis struktural pada mitos. Dan kesempatan untuk sedikit mendalami kajian tersebut akhirnya datang juga ketika penulis melanjutkan pendidikan di Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada yang salah satu dosennya adalah Heddy Shri Ahimsa-Putra, salah satu pemikir dalam kajian struktural mitos ala Levi Strauss di Indonesia.

Tulisan ini merupakan hasil pembacaan penulis terhadap pembacaan yang dilakukan Heddy terhadap pendekatan strukturalisme mitos Levi-Strauss. Penulis meyakini setiap hasil pembacaan harus dikomparasikan dengan bacaan lain sehingga bisa menjadi tulisan kritis yang mungkin berguna sebagai untuk menambah kasanah pemikiran yang ada.

Sekilas strukturalisme dalam pandangn Levi-Strauss

Titik keberangkatan Levi-Strauss dalam mengembangkan kajian struktural dalam kebudayaan—terutama mitos—pada dasarnya didasari keinginan untuk memberikan alternatif pendekatan dalam antropologi sehingga bidang ilmu ini bisa mencapai ‘derajat ilmiah’ seperti yang dilakukan para linguis. Levi-Strauss pada awalnya mendapatkan inspirasi dari para linguis yang mampu melakukan analisis-analsis ilmiah terhadap berbagai macam bahasa di dunia sehingga bisa merumuskan bermacam formula untuk memahami fenomena kebahasaan yang begitu kompleks. Atas dasar itulah ia kemudian mengembangkan analisis linguistik struktural sebagai model analisisnya. Inilah yang kemudian diperkenalkan olehnya kepada jagat akademis sebagai strukturalisme. Strukturalisme yang dibangun oleh Levi-Strauss sangat dipengaruhi oleh pemikiran linguistik struktural yang sudah dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure (darinya ia mengambil konsep petanda, tinanda, wadah, isi, langue, parole, sinkronik, diakronik, sintagmatik, dan paradigmatik), Roman Jakobson (tentang fonem), dan Nikolai Troubetszkoy (tentang analisis struktural).

Dalam pandangan Heddy, strukturalisme Levi-Strauss secara implisit memperlakukan tekas naratif, semisal mitos, sejajar atau mirip dengan kalimat berdasarkan dua hal. Pertama, teks tersebut adalah suatu kesatuan yang bermakna yang dapat dianggap mewujudkan dan mengeskpresikan keadaan pemikiran seorang pembicara. Kedua, teks tersebut memberikan bukti bahwa ia diartikulasikan dari bagian-bagian, sebagaimana kalimat-kalimat diartikulasikan oleh kata-kata yang membentuk kalimat tersebut.

Selanjutnya, dengan memahami berbagai pendapat para pemikir yang mengembangkan strukturalisme, seperti Lane, Heddy mengemukakan beberapa asumsi dasar dari strukturalisme.

Pertama, strukturalisme menganggap bahwa berbagai aktivitas sosial dan hasilnya, seperti dongeng, upacara, sistem kekerabatan, perkawinan, pola tempat tinggal, pakaian, makanan, dan sebagainya, secara formal semua dapat dikatakan sebagai bahasa. Atau lebih tepatnya merupakan perangkat tanda dan simbol yang menyampaikan pesan-pesan tertentu sehingga muncul ketertaatan (order) dan keterulangan (regularities) pada berbagai fenomena tersebut.

Kedua, strukturalisme menganggap bahwa dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar (inherent capacity) yang diwariskan secara genetik, yakni kemampuan structuring guna menstrukturkan, menyusun suatu struktur, atau ‘menempelkan’ suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapinya. Mengikuti logika tersebut, masing-masing gejala dianggap memiliki strukturnya sendiri-sendiri yang kemudian disebut sebagai struktur luar/permukaan (surface structure). Sedangkan struktur yang ada di balik struktur permukaan atau struktur dari struktur kemudian disebut “struktur dalam” (deep structure). Struktur permukaan sangat mungkin disadari oleh para pelaku budaya, struktur dalam berada dalam tataran yang tidak disadari, nirsadar, seperti yang ada dalam bahasa. Struktur dalam ini sebenarnya melekat dalam praktik-praktik budaya yang sudah biasa dijalani oleh anggota masyarakat, namun dalam kenyataannya mereka tidak pernah menyadari kehadiranyannya.

Ketiga, para ahli strukturalisme berpendapat bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut. Pandangan ini kemudian menyebabkan para pemikir strukturalisme dalam menjelaskan gejala tertentu tidak mengacu pada sebab-sebab karena relasi sebab-akibat merupakan relasi diakronis. Mereka lebih mengacu pada hukum-hukum transformasi, yang mana menekankan pada keterulangan-keterulangan yang tampak, melalui mana konfigurasi struktural berganti menjadi konfigurasi yang lain. Dengan menggunakan asumsi ini, sebuah struktur yang ada bisa dilihat selalu beralih-rupa dengan cara-cara tertentu.

Keempat, relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan menjadi oposisi berpasangan (binary oposition). Terdapat 2 macam oposisi biner, yakni (1) eksklusif, semisal menikah dan tidak menikah dan (2) tidak eksklusif, semisal matahari-rembulan, siang-malam, gagak-elang, dan lain-lain. Sebagai sebuah rangkaian tanda dan simbol, fenomena budaya, mitos misalnya, juga dapat dianalisis dengan cara seperti di atas.

Menjelalah strukturalisme mitos

Mitos dalam konteks strukturalisme Levi-Strauss tidak lain adalah dongeng. Begitulah Heddy memberikan pernyataan ‘provokatif’ tentang mitos. Lebih jauh Heddy menjelaskan bahwa dongeng adalah sebuah kisah atau cerita yang lahir dari hasil imajinasi manusia, dari khayalan manusia, walaupun unsur-unsur khayalan tersebut berasal dari apa yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Melalui dongeng inilah manusia memperoleh kebebasannya yang mutlak, karena di situ tidak ada larangan bagi manusia untuk menciptakan dongeng apapun. Sehingga seringkali dalam dongeng kita menemukan peristiwa-peristiwa yang terkadang tidak masuk akal secara nalar. Misalnya ada kancil yang bisa berbicara, ada perahu yang ditendang dan menjadi gunung, dan lain-lain. Dan seringkali antara dongeng yang berkembang pada sebuah suku bangsa tertentu mempunyai kemiripan dengan dongeng yang ada pada suku bangsa lain. Cerita Oedipus yang menikahi ibunya sendiri, Jocasta, yang berkembang di Yunani Kuno, ternyata bisa kita temui dalam dongeng tentang Sangkuriang yang berusaha menikahi ibunya sendiri, Dewi Sumbing.

Kenyataan itulah yang menjadikan Levi-Strauss tertarik untuk lebih mendalami eksistensi dongeng dalam kajian strukturalnya karena ia berkaitan dengan imajinasi manusia yang berusaha mengekspresikan keinginan-keinginan tertentu lewat jalur-jalur struktural. Heddy—mengutip Leach—kemudian  mendefinisikan dongeng sebagai ekspresi dari keinginan-keinginan nirsadar yang sedikit banyak tidak konsisten, tidak sesuai, dengan kenyataan sehari-hari.

Pengaruh pemikiran linguistik struktural yang kemudian menjadikan Levi-Strauss menggunakan analisis struktural untuk mengkaji bermacam-macam mitos. Untuk melakukan kajian struktural terhadap mitos, seorang peneliti tidak lagi harus menemukan makna pada tokoh-tokoh tertentu ataupun perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan, tetapi mencari makna tersebut pada kombinasi dari berbagai tokoh dan perbuatan mereka serta posisi mereka masing-masing dalam kombinasi tersebut.

Terdapat dua implikasi penting terhadap metode analisis yang dipilih Levi-Strauss tersebut. Pertama, mitos terbentuk dari constituent units. Unit-unit tersebut sepertihalnya unit-unit dalam bahasa ketika dianalisis pada tingkat-tingkat yang berbeda, seperti fonem, morfem, dan semem. Kedua, meskipun unit-unit dalam mitos sama seperti unit-unit dalam bahasa, tetapi mereka juga berbeda, sebagaimana halnya unit-unit tersebut berbeda satu sama lain.

Unit atau satuan dalam mitos berada dalam tataran yang lebih kompleks yang selanjutnya disebut “miteme-miteme” (mythemes). Heddy mendefinisikan miteme sebagai kalimat-kalimat atau kata-kata yang menunjukkan relasi tertentu atau mempunyai makna tertentu. Analisis miteme ini penting dilakukan sebelum kita mencari makna sebuah mitos secara keseluruhan. Ketika melakukan analisis struktural mitos, kita mesti memperhatikan miteme-miteme yang ada di dalamnya dan memperlakukannya sebagai simbol dan tanda.

Terdapat beberapa landasan dalam analisis struktural mitos. Pertama, kalau memang mitos dipandang sebagai sesuatu yang bermakna, maka makna ini tidaklah terdapat pada unsur-unsurnya yang berdiri sendiri—yang terpisah satu dengan yang lain, tetapi pada cara unsur-unsur tersebut dikombinasikan satu dengan yang lain. Cara-cara mengkombinasikan mitos inilah yang menjadi tempat bersemayamnya makna. Kedua, meskipun mitos termasuk dalam kategori ‘bahasa’, namun mitos bukanlah sekedar bahasa, namun yang harus diingat bahwa hanya ciri-ciri tertentu saja yang bertemu dengan ciri-ciri bahasa. Dengan kata lain, ‘bahasa’ mitos memperlihatkan ciri-ciri tertentu yang lain. Ketiga, ciri-ciri tersebut dapat ditemukan bukan pada tingkat bahasa itu sendiri tapi di atasnya. Ciri-ciri tersebut lebih kompleks dan rumit dibandingkan dengan ciri-ciri bahasa ataupun ciri-ciri yang ada pada wujud kebahasaan lainnya. Heddy menambahkan bahwa mitos sebagai ‘bahasa’ mempunyai ‘tatabahasa’ sendiri, dan Levi-Strauss rupanya berupaya mengungkapkan tatabahasa tersebut dengan menganalisis unsur terkecil dari bahasa mitos, yakni miteme.

Miteme, menurut Levi-Strauss, merupakan unsur-unsur dalam konstruksi wacana mitis (mythical discourse), yang juga merupakan satuan-satuan yang bersifat kosokbali, relatif, dan negatif. Maka, dalam menganalisis suatu mitos atau cerita, makna dari kata yang ada dalam cerita harus dipisahkan dengan makna miteme yang juga berupa kalimat atau rangkaian kata-kata dalam cerita tersebut. Heddy memberi contoh makna dari miteme “matahari” dalam sebuah mitos perlu dibedakan dengan makna miteme-miteme tersebut dalam dongeng-dongeng lainnya, yang terkait satu sama lain sehingga membentuk satu rangkaian. Makna “matahari” bisa lahir ketika ada relasi kosokbali dan korelatifnya dengan mitime-mitime lainnya. Makna lebih baik tidak hanya dicari dari satu ceritera saja, tetapi dari kombinasi-kombinasi ceritera yang ada. Dengan kata lain suatu ceritera tidak pernah memberikan makna tertentu yang sudah pasti dan mapan pada pendengarnya. Sebuah dongeng, dengan demikian, hanya memberikan sebuah kisi (grid). Kisi ini hanya dapat ditentukan dengan melihat pada aturan-aturan yang mendasari konstruksinya. Bagi warga masyarakat pendukung sebuah mitos, kisi tidak memberikan makna mitos itu sendiri, melainkan menunjukkan sesuatu yang lain, yakni pandangan mengenai dunia, masyarakat dan sejarahnya, yang sedikit banyak diketahui oleh warga pemilik mitos tersebut.

Setelah menemukan miteme-miteme, Heddy menerangkan, kita mesti menuliskan pada sebuah “kartu indeks” yang masing-masing telah diberi nomer dengan urutannya dalam ceritera. Setiap kartu ini akhirnya akan memperlihatkan pada kita suatu subjek yang melakukan fungsi tertentu, dan inilah yang dinamakan relasi. Selanjutnya, miteme-miteme harus disusun secara sinkronis dan diakronis, paradigmatis dan sintagmatis pula. Dengan menyusun miteme-miteme dalam aturan tersebut, kita akan mendapatkan susunan miteme dalam dua dimensi berikut:

 

1    2                      4          5                                  8

2          3          4                      6          7

1                3          4          5                      7          8

1    2                                  5          6          7

3          4          5          6                      8

 

Lebih jauh Heddy menjelaskan bahwa untuk dapat memahami mitos yang dianalisis kita harus membaca teks baru yang muncul di hadapan kita dari kiri ke kanan, dan dari atas ke bawah, kolom demi kolom, seperti halnya kalau kita membaca partitur orkestra. Hal tersebut perlu dilakukan karena nenek moyang sebuah komunitas atau suku bangsa secara tidak sadar menyampaikan sebuah pesan pokok kepada generasi muda lewat keseluruhan mitos, bukan lewat mitos khusus.

Membaca Heddy (yang) membaca mitos

Dengan mengambil contoh analisis mitos yang dilakukan oleh Levi-Strauss terhadap kisah Oedipus, Asdiwal, dan mitos-mitos Indian Amerika, Heddy memberikan contoh-contoh yang sederhana tentang analisis struktural mitos pada dongeng Bajo dan Saweri Gading. Kedua tulisan tentang, lebih jauh lagi, memberikan satu ‘pisau analisis’ dalam kerangka strukturalis terhadap mitos-mitos yang begitu banyaknya dalam tradisi Indonesia. Analisis yang dilakukan oleh Heddy ini bisa dilihat sebagai “tanggung jawab” seorang akademisi yang selama ini banyak berkutat dengan pemikiran struktural Levi-Strauss untuk memberikan ‘pencerahan sederhana’ bagi mereka yang tengah belajar strukturalisme dan sekaligus sebagai usaha untuk menumbuhkan minat dalam mengkaji ribuan atau bahkan jutaan mitos yang ada di Indonesia.

Menariknya, dalam menganalisis kedua dongeng tersebut, Heddy berhasil melakukan pembacaan yang melampaui konsep mitos yang ditawarkan oleh Levi-Strauss. Mengapa demikian? Dalam analisisnya Heddy ‘berani’ menggunakan istilah yang tidak dipakai Levi-Strauss, yakni ceriteme. Ceriteme bisa dianggap sebagao ijtihad teoritik Heddy ketika menghadapi kendala dalam menggunakan miteme dalam analisis kedua dongeng tersebut. Menurut Heddy, ceriteme merupakan sebuah unit yang mengandung pengertian tertentu—sepertihalnya miteme—yang bisa diketahui maknanya atau ‘pengertiannya’ setelah ditempatkan dalam hubungan dengan ceriteme-ceriteme lainnya. Kalau miteme adalah kalimat-kalimat, maka cireteme adalah rangkaian kalimat. Kumpulan cireteme inilah yang membentuk episode-episode. Makna episode-episode baru bisa diketahui setelah dihubungankan dengan episode-episode lainnya.

Analisis ceriteme-ceriteme dalam episode-episode juga digunakan Heddy dalam menganalisis karya sastra, dalam hal ini 3 karya Umar Kayam, Sri Sumarah, Bawuk, dan Para Priyayi. Tentu analisis ini merupakan sumbangan yang cukup berarti dalam kajian struktural sastra, apalagi yang menganalisis adalah seorang ahli antropologi. Degan rinci menyuguhkan satu analisis struktural karya sastra yang dianggapnya sebagai dongeng. Kenapa karya sastra dianggap dongeng oleh Heddy? Hal ini tidak lain karena karya sastra pada hakekatnya merupakan satu produk imajinatif manusia yang mampu mengatasi dan membicarakan keterbatasan-keterbatasan yang melingkupinya.

Yang juga menarik adalah analisis yang dilakukan Heddy terhadap sinkretisme antara budaya Jawa dan ajaran-ajaran Islam berdasarkan kitab Babad Tanah Jawa. Dalam analisis itu Heddy mampu menunjukkan betapa orang Jawa berhasil membangun relasi-relasi simbolis antara kebudayaan pra-Islam dan Islam dalam kerangka budaya Jawa. Dengan relasi-relasi simbolis tersebut kita bisa melihat betapa dalam pandangan Jawa sebenarnya tidak ada lagi keterpisahan antara kebudayaan pra-Islam dan Islam, keduanya dianggap sebagai satu kesatuan dan menyatu dalam apa yang disebut budaya Jawa.

Strukturalisme Levi-Strauss dalam kajian budaya populer

Dari pembacaan penulis terhadap strukturalisme Levi-Strauss sebagaimana yang dibaca Heddy dan dengan membandingkan dengan beberapa bacaan lainnya, sebenarnya Heddy telah ‘membuka jalan baru’ bagi kajian struktural mitos terhadap produk-produk budaya populer, seperti lagu, film, maupun sinetron dalam televisi. Dalam konteks kajian budaya dan media, pendekatakan Levi-Strauss bisa menjadi alternatif untuk lebih memperluas kajian. Mengapa demikian?

Tidak bisa dipungkiri di dalam film, misalnya, terdapat mitos-mitos yang terbentuk dari pandangan-pandangan si penciptanya dalam memaknai dunia yang ada di sekitarnya. Seorang pencipta tidak mungkin terbebas dari relasi-relasi kultural yang ada di masyarakatnya. Lewat film itulah, ia sebenarnya mengekspresikan ‘keliaran imajinasinya’ untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasannya dalam memandang dunia dan masyarakatnya.

Hampir sama dengan analisis yang dilakukan Heddy, dalam film juga terdapat ceriteme-ceriteme yang membentuk episode-episode dalam satu alur cerita (plot). Dan semua itu juga terbangun dalam relasi-relasi oposisi biner. Dari analisis itulah kita bisa menemukan deep structure dari sebuah film, lagu, ataupun sinetron.

Salah satu pemikir budaya populer yang menggunakan analisis struktural mitos Levi-Strauss dalam kajian film adalah Will Wright. Ia banyak mengkaji tentang Hollywood Western. Ia berargumen bahwa kekuatan narasi film-film Hollywood berasal dari struktur-struktur oposisi biner.[1] Yang membedakannhya adalah kalau Levi-Strauss lebih menekankan pada struktur mental, Wright lebih menekankan pada bagaimana  film-film Western menyuguhkan simbolisasi yang sederhana tapi cukup mewakili konseptualisasi keyakinan sosial warga Amerika.[2] Lebih jauh Wright membuat skema rangkaian dasar dari struktur oposisi biner sebagai dair berbagai tipe jenre film Hollywood sebagai berikut:

Dari dalam masyarakat

Baik

Kuat

Peradaban/beradab

Dari luar masyarakat

Jahat/jelek

Lemah

Keliaran/tidak beradab

Struktur oposisi biner di atas merupakan karakteristik dari film-film Hollywood baik yang berasal dari era klasik (1930-an), transisi (1940-1950-an), profesional (1970-an). Wright juga menekankan bahwa untuk memahami secara menyeluruh makna sosial dari mitos, penting kiranya untuk menganalisis bukan hanya struktur biner-nya, tetapi juga struktur naratifnya—yang berupa perkembangan peristiwa-peristiwa dan resolusi konfliknya.[3]

Apa yang dilakukan Wright pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan apa-apa yang dilakukan oleh Heddy ketika membaca karya-karya Umar Kayam dalam kajian struktural. Paling tidak, dari komparasi sederhana tersebut bisa memberikan inspirasi bagi para pengkaji sastra dan budaya untuk juga memperhatikan sastra dan produk-produk budaya populer karena keduanya lebih berkaitan dengan masyarakat saat ini.

Sekali lagi, Heddy telah membuka satu jalan yang sangat memungkinkan bagi para pengkaji mitos, pada khususnya, dan pengkaji budaya/populer, pada umumnya, untuk satu tabir mitis yang melingkupi masyarakat Indonesia. Selanjutnya, adalah tugas para pengkaji yang lebih muda untuk berani menelusuri lebih dalam ruang-ruang yang ‘tak terbahasakan’ sebelumnya.

Gejayan, sore mendung menghaturkan romansa, Medio Desember 2006

Catatan akhir

[1] Dalam John Storey.1993.An Introductory Guide to Cultural Theory and Popular Culture.Hertfordshire: Harvester.hlm.73-77.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

Bacaan acuan

Shri Ahimsa-Putra, Heddy.2006. Strukturalisme Levi Strauss, Mitos dan Karya Sastra.Yogyakarta: Kepel Press.

Storey, John.1993.An Introductory Guide to Cultural Theory and Popular Culture.Hertfordshire: Harvester.

 

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 161 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*