Mengakrabi pascastrukturalisme dan neo-Marxisme

Dulu sewaktu saya kuliah S1 di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra 1996-2002 (kini, Fakultas Ilmu Budaya, selanjutnya disingkat FIB) kondisi yang sangat biasa ditemui adalah kuatnya pembelajaran dan pengkajian sastra berorientasi pada aspek tema, pesan moral, dan konflik psikologis dan sosial. Wacana tersebut yang dirasionalisasikan dengan kepentingan “untuk segera lulus kuliah” melalui varian diskursifnya, seperti “tidak usah ndakik-ndakik, kamu ndak mungkin bisa”, “tidak usah membahas yang abot-abot, otakmu ndak nutut”. Namun, perlahan-lahan kondisi dan wacana tersebut berubah dengan berkembangnya pemahaman para dosen terhadap teori-teori yang lebih baru. Tentu saja, pada awalnya, muncul ‘tegangan-tegangan kecil’ antara para dosen senior yang sudah mapan dengan teori-teori lama dengan para dosen yunior yang menginginkan perubahan paradigma teoretis dalam proses akademis. Dengan siasat ngakali kurikulum, pemahaman akan teori-teori baru dimasukkan ke dalam matakuliah yang sudah ada. Artinya, ketika ‘rezim kurikulum’ masih sulit menerima pergantian nama-nama matakuliah, pilihan untuk memasukkan pemikiran-pemikiran baru tanpa mengubah matakuliah lama adalah tindakan yang paling masuk akal. Akhirnya, mata kuliah seperti Prose, Drama, Poetry, Theory of Literature, Literary Research Methodology, dan Literary Criticism menjadi arena untuk memperkenalkan kepada mahasiswa pemikiran-pemikiran teoretis dan wacana-wacana baru.

Diakui atau tidak, perkembangan teori-teori sastra secara global tidak bisa dilepaskan dari pengaruh teori-teori sosial-humaniora yang tidak melulu berfokus pada kajian teks. Teori-teori pascastruktural dan neo-Marxisme serta banyak teori turunannya menjadi pilihan utama untuk diajarkan dan dikembangkan dalam proses akademis, termasuk penelitian para dosen. Tentu saja, mofidikasi teoretis tanpa menghilangkan substansi harus kami lakukan karena teori-teori tersebut memang tidak berangkat dari kajian teks murni. Modifikasi tersebut diusahakan untuk menemukan titik-hubung antara pemikiran-pemikiran kritis yang berangkat dari subjek multidimensi dengan analisis tekstual yang cenderung menekankan pada satu dimensi. Modifikasi juga dilakukan dalam proses pembelajaran di level S1 agar mahasiswa bisa memahami dan menerapkan teori-teori tersebut dalam skripsi mereka.

Tekstual, kontekstual, dan kepentingan

Dengan teori-teori tersebut, warna pembelajaran di Jurusan Sastra Inggris FIB UNEJ memang lebih menekankan pada relasi tekstual-kontekstual guna menelanjangi proses dan kepentingan ideologis yang dikonstruksi secara indah dalam teks sastra. Sementara teori struktural berorientasi kepada pemahaman makna sejati dalam relasi dan konstruksi tekstual sebuah peristiwa naratif, pascastruktural menekankan kepada pembongkaran hal-hal lain yang melampui struktur itu sendiri. Pemikiran-pemikiran Michel Foucault tentang wacana dan kuasa/pengetahuan (1980, 1981, 1984, 1989, 1998), misalnya, menjadi pintu masuk untuk memahami teks sastra sebagai “gugusan diskursif” yang di dalamnya berlangsung konstruksi-konstruksi wacana partikular yang tidak berdiri sendiri, tetapi berjalin-kelindan dengan wacana-wacana dari teks lain pada masa yang sama. Pemahaman terhadap praktik diskursif dalam teks serta kertuhubungannya dengan wacana-wacana lain akan mengantarkan pada keberlangsungan kuasa. Pemikiran dekonstruksi Derrida (1987, 1989) memberikan arahan untuk lebih detil lagi membaca teks karena selalu menyisakan penundaan dan penghancuran makna ideal seperti yang dibayangkan strukturalisme. Bahwa selalu ada “permainan bebas” dalam sebuah teks yang dengan sendirinya menggugurkan bangunan makna utuh-ideal, sehingga bisa menjadi pintu masuk untuk mengungkap makna-makna lain yang dimarjinalkan. Adapun kontribusi penting mitologis Roland Barthes (1983) terhadap kajian sastra adalah bagaimana mendudukan struktur teks sebagai struktur kepentingan yang meng-eks-nominasi ideologi dominan—menjadikannya tak bernama—guna menaturalisasikannya sebagai kewajaran yang tidak perlu diganggu-gugat. Adapun neo-Marxisme memberikan acuan bagaimana sebuah teks sastra bisa menjadi aparatus bagi kepentingan untuk menyebarluaskan gagasan-gagasan ekonomi, politik, kekuasaan dengan memainkan isu-isu kelas dan konflik sosial serta mengartikulasikan warna kelas subordinat dalam teks. Pemikiran hegemoni Antonio Gramsci dan interpelasi ideologis Louis Althusser menjadi kerangka teori yang bisa membantu para dosen dan mahasiswa untuk mengetahui bagaimana sebuah institusionaliasi ideologi dan kepentingan itu tidak harus dilakukan dengan dogma-dogma represif, tetapi mengalir dalam permainan moralitas dan kultural yang bisa menjadi acuan masyarakat kebanyakan (Gramsci, 1981; Althusser, 1971; Fontana, 2008). Maka, memosisikan teks sastra semata-mata sebagai teks dengan makna-makna yang terbebas dari konteks dan kepentingan, kami rasa sudah harus ditinggalkan.

Teori-teori turunan dari pascastrukturalisme dan neo-Marxisme yang sesuai untuk terus dikembangkan dalam kajian sastra—sebagaimana pengalaman kami di Sastra Inggris FIB UJ—adalah representasi ala cultural studies, orientalisme, posmodernisme, poskolonialisme, new historicism, materialisme kultural, dan jender berorientasi diskursif. Sementara, untuk pemikiran psikonalisis Lacan dan Zizek, kami di Jember belum mengembangkan, meskipun beberapa mahasiswa yang sedang S2 kami arahkan untuk mengkaji pemikiran mereka.

Berangkat dari teori semiotika mitos Barthesian dan wacana Foucauldian, Hall (1997) mengkonseptualisasikan representasi untuk memahami bagaimana proses produksi makna dan wacana dalam sebuah teks yang tidak pernah bisa dilepaskan dari konteks zaman dan kepentingan yang melingkupinya. Orientalisme—berbasis wacana Foucauldian dan hegemoni Gramscian—mengungkap bagaimana para sastrawan Barat atau yang menjadi subjek Barat mengkonstruksi perang biner antara subjek Oksidental dan Oriental untuk menegaskan superioritas yang pertama dan inferioritas yang kedua demi seabuh kekuasaan (Said, 1977). Pemahaman seperti ini alih-alih menunjukkan bahwa karya sastra Barat memiliki nilai-nilai adiluhung, orientalisme mengkritisi dan membongkar konstruksi diskursif superioritas dan hegemoni Barat dalam konfigurasi global, dari zaman kolonial hingga pascakolonial. Bahkan, dalam kajian terhadap karya-karya penulis Barat di era kontemporer masih tetap mengusung wacana-wacana orientalisme yang menjadi repetisi kolonialisme.

Posmodernisme mengajarkan bahwa tidak mungkin lagi membincang sastra dan budaya yang dibelenggu oleh narasi besar modernisme, karena sang liyan yang tidak rasional, magis, bodoh, mistis, kanibal, dan tribal juga punya hak untuk dinarasikan dalam alur cerita fiksional (McHale, 1987; Huntcheon, 1989). Dunia yang tumpang-tindih sebagai akibat globalisasi dan pertemuan banyak manusia dan banyak budaya serta munculnya kerinduan terhadap kehidupan non-rasional mendorong banyak sastrawan menulis karya yang tidak lagi menghadirkan narasi metropolitan Barat, tetapi juga narasi-narasi yang dulu ‘terlarang’ karena tidak masuk akal, magis, dan lain-lain. Menyikapi perkembangan tersebut, teori posmodern memberikan seperangkat analisis untuk membaca kompleksitas narasi karya yang memadukan “yang rasional” dan “yang tidak rasional”, “yang pinggiran” hadir di “yang pusat”.

Poskolonialisme mempopulerkan perjuangan intelektual dunia ketiga untuk menegaskan bahwa orang-orang terjajah/bekas terjajah dan diaspora memiliki kemampuan untuk terus mengartikulasikan dan menegosiasikan subjektivitas, budaya, dan kepentingan mereka di tengah-tengah budaya dominan Barat/metropolitan yang sangat sulit dilawan secara frontal sehingga terbentuklah konstruksi “keberantaraan”, “ambivalensi”, peniruan-sekaligus-pengejekan, dan hibriditas (Bhabha, 1994, Aschroft, 2001; Loomba, 2000). Implikasinya adalah bahwa karya-karya para sastrawan diasporik yang dicetak di metropolitan Amerika Serikat dan Eropa serta bercerita tentang perjuangan subjek yang berasal Afrika, Asia, Amerika Latin, Karibia, dan lain-lain semakin biasa dikaji oleh para mahasiswa.  Tentu saja, karya-karya klasik sastrawan Inggris, Amerika Serikat, dan Eropa lainnya tetap menjadi bahan kajian, bersama-sama dengan karya-karya kontemporer mereka. Perkembangan ini, perlahan tapi pasti, mampu mempromosikan pemahaman bahwa Sastra Inggris itu bisa menjangkau “teks-teks” yang dulu dilarang oleh garis demarkasi kanonik dalam kajian. Selain itu, popularitas kajian sastra disasporik dengan perspektif poskolonial juga mempromosikan kenyataan budaya kontemporer di mana logika dominasi-subordinasi mulai lentur dengan antarsubjek manusia dalam suasana kosmopolitan yang dipenuhi hibriditas kultural.

New historicism memosisikan teks sastra sebagai subjek yang bukan hanya berkorelasi dengan konteks historis partikular, tetapi ikut membentuk sejarah dengan memproduksi wacana-wacana yang terhubung dengan formasi diskursif pada masa tertentu untuk menegosiasikan kekuasaan yang berkembang (Gallagher & Greenblatt, 2000). Sementara, materialisme kultural berangkat dari pemikiran kultural Marx dan hegemoni Gramsci untuk membaca teks sastra sebagai situs untuk menegosiasikan kompleksitas kekuasaan sekaligus mengartikulasikan kepentingan subordinat dan perjuangan kelas serta resistensi yang berkembang (Brannigan, 1998; Sinfield, 1992, 2006). Adapun kajian jender juga kami arahkan untuk mempelajari dan menerpakan konstruksi pemikiran yang memosisikan teks sebagai medan penyemai untuk mewacanakan ketidakadilan lelaki-perempuan, mengkonstruksi dan mendekonstruksi kekuasaan berbasis jender, perjuangan dan resistensi, pos-feminisme, serta mengartikulasikan dan mengkontestasikan heteroseksualitas dan homoseksualitas. Salah satu yang sedang menjadi trend dalam kajian jender adalah konstruksi dan relasi kuasa lelaki-perempuan dalam karya-karya distopian seperti trilogi Hunger Games dan romantika-vampir. Mengajak mahasiswa untuk membaca secara kritis karya-karya yang mereka sukai bisa membuka jalan bagi lahirnya analisis-analisis kritis dalam ranah jender.

Men-cumbu-kan “yang lokal” dan “yang global”

Poskolonialisme dan posmodernisme menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana pertemuan budaya lokal dengan global dalam teks maupun kehidupan sehari-hari mampu memproduksi kontestasi sang Liyan yang pada masa lalu dimarjinalkan. Bahwa manusia-manusia diasporik dari Asia, Afrika, Karibia, maupun Amerika Latin di metropolitan AS dan Eropa mampu berjuang untuk bisa survive di tengah-tengah stigmatisasi yang masih mereka alami. Manusia-manusia yang berasal dari wilayah jauh di pedalaman ternyata mampu berkontestasi di ranah global yang bergerak begitu cepat. Pesan itulah yang ingin disampaikan oleh para sastrawan diasporik dan juga para pemikir poskolonial. Demikian pula dengan posmodernisme yang mengingatkan manusia-manusia metropolitan bahwa terdapat entitas yang harus diakui keberadaannya, bukan hanya superioritas sang rasional ala Barat. Dengan demikian, kajian-kajian terhadap sastra dan budaya lokal juga bisa menjadi bagian dari proses akademis di Sastra Inggris. Di Jember, kami memperkuatnya melalui matakuliah Comparative Literature yang tidak lagi diarahkan semata-mata membandingkan stuktur, tetapi pada negosiasi dan kepentingan seperti apa yang muncul dalam karya-karya yang dibandingkan. Kajian-kajian terhadap karya sastra diasporik dan posmo juga kami perkuat dengan kepentingan untuk menunjukkan bahwa karya-karya sastra saat ini tidak bisa hanya dikerangkai dengan semangat kemenangan mutlak realisme Barat karena tengah berkembang pula realisme magis yang sangat digemari oleh publik global. Dengan itu pula, pembelajaran sastra Inggris akan terlepas dari beban hegemonik sumbernya, yaitu kekuasaan Inggris, Amerika Serikat, dan negara-negara Barat lainnya.

Pembelajaran teori-teori pascastruktural dan neo-Marxisme juga beimplikasi kepada penelitian yang dilakukan para dosen Sastra Inggris, FIB UJ. Tentu saja, selain kajian teks, kami juga melakukan penelitian yang didanai oleh Kementerian Ristek Dikti serta dana-dana lain. Tantangannya adalah bagaimana memahami dan membawa seperangkat teori tekstual ke dalam kehidupan kontekstual. Nah, memosisikan peristiwa sosial, kultural, ekonomi, dan politik sebagai “narasi kompleks” yang kudu diuraikan secara detil merupakan pintu masuk yang bisa mengantarkan kita kepada titik-temu tekstual-kontekstual. Dengan demikian, teori-teori poskolonial, posmodern, jender, cultural studies, dengan mudah—tentu setelah melalui modifikasi—ke dalam dunia nyata yang begitu kompleks. Bagi kami, wilayah Tapal Kuda merupakan sebuah situs sastra dan kultural yang begitu kompleks. Using, Tengger, Madura Pandalungan, Jawa Pandalungan, Cina, Arab, perkebunan, pesantren, pariwisata, dan lain-lain merupakan entitas-entitas yang menarik untuk dijelaskan secara akademis serta didiseminasikan dalam bentuk makalah seminar dan jurnal. Artinya, proses kultural yang berlangsung di wilayah ini bisa dibaca dengan teori-teori yang dipinjam dari ruang kelas untuk kemudian dituliskan dalam bahasa internasional, sehingga bisa dipahami oleh akademisi-akademisi lain.

Daftar bacaan

Althusser, Louis. 1971. Lenin and Philosophy. New York: Monthly Review Press.

Aschroft, Bill. 2001. Post-colonial Future: Transformation of Postcolonial Culture. London: Continuum.

Barthes, Roland. 1983. Mythologies. New York: Hill and Wang.

Bhabha, Hommi K. 1994. The Location of Culture. London: Routledge.

Brannigan, John. 1998. New Historicism and Cultural Materialism. London: MacMilian Press Ltd.

Derrida, Jacques. 1997. Of Grammatology, Corrected Edition (Terj. Inggris Gayatri C. Spivak). Baltimore (USA): The John Hopkins University Press.

Derrida, Jacques. 1989. “Structure, Sign, and Play in the Discourse of the Human Science”. Dalam Davis Robert Con & Ronald Schleifer (eds). Contemporary Literary Criticism: Literary and Cultural Studies. New York: Longman.

Fontana, Benedetto. 2008. “Hegemony and Power in Gramsci”. Dalam Richard Howson & Kylie Smith. Hegemony: Studies in Consensus and Coercion. London: Routledge.

Foucault, Michel. 1998. The Will to Knowledge, The History of Sexualities Volume 1 (English trans. Robert Hurley). London: Penguin Books.

Foucault, Michel. 1989. The Archaeology of Knowledge (Terj. Inggris A.M. Sheridan Smith). London: Routledge.

Foucault, Michel. 1984. “Truth and Power”. Dalam Paul Rainbow (ed). Foucault Reader. New York: Panthean Books.

Foucault, Michel. 1981. “The Order of Discourse”, Inaugural Lecture at the College de France, 2 Desember 1976, dipublikasikan kembali dalam Robert Young (ed). Untying the Text: A Post-Structuralist Reader. Boston: Routledge & Kegan Paul Ltd.

Foucault, Michel. 1980. Power/Knowledge. Brighton: Harvester.

Gallagher, Catherine & Stephen Greenblatt. 2000. Practicing New Historicism. Chicago: The University of Chicago Press.

Gramsci, Antonio. 1981. “Class, Culture, and Hegemony”. Dalam Tony Bennett, Graham Martin, Collin Mercer, & Janet Woolacott (eds). Culture, Ideology, and Social Process. Batsford: The Open University Press.

Hall, Stuart. 1997. “The Work of Representation”. Dalam Stuart Hall (ed). Representation, Cultural Representation and Signifying Practices. London: Sage Publication in association with The Open University.

Hutcheon, Linda. 1989. The Politics of Postmodernism. London: Routledge.

Loomba, Ani. 2000. Colonialism/Postcolonialism. London: Routledge.

McHale, Brian. 1987. Postmodernist Fiction. London: Routledge.

Said, Edward. 1977. Orientalism. London: Penguin.

Sinfield, Alan. 2006. Shakespeare, Authority, and Sexuality: Unfinished Business in Cultural Materialism. London: Routledge.

Sinfield, Alan. 1992. Faultlines: Cultural Materialism and Politics of Dissident Reading. Oxford: Oxford University Press.

Keterangan

Disampaikan dalam Forum Komunikasi Prodi Sastra Inggris se-Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Prodi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universtas Brawijaya, 30 Juli 2016. (Versi pdf klik link ini Mengakrabi pascastrukturalisme dan neo Marxisme)

Share This:

About Ikwan Setiawan 126 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*