SASTRA WANGI: Kontestasi wacana dalam sastra populer

Awalan: polemik-polemik yang terus berlangsung

Perkembangan dunia sastra di Indonesia rupa-rupanya ‘ditakdirkan’ untuk tidak bebas dari perdebatan diskursif antara beragam kekuatan yang merasa memiliki otoritas dalam mengkritisi karya-karya yang lahir dari perjuangan imajinatif anak negeri ini. Paling tidak perdebatan tersebut bisa dikategorikan secara historis ke dalam beberapa jenis polemik kebudayaan. Polemik kebudayaan mula-mula terjadi antara kubu Sutan Takdir Alisjhabana yang memandang budaya Indonesia—dalam hal ini juga mencakup konsep sastra—semestinya mengadaptasi pola dan model kebudayaan Barat dan kubu Armin Pane yang bersikukuh mempertahankan pola dan model budaya Nusantara. Selanjutnya polemik kebudayaan berlangsung antara kubu Manikebu (Manifestasi Kebudayaan)—dengan Surat Kepercayaan Gelanggang-nya—yang mengusung keyakinan beberapa sastrawan tentang hakekat universalitas dan terbebasnya kebudayaan Indonesia dari campur tangan politik aliran dengan kubu Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat)—berafiliasi ke Partai Komunis Indonesia—yang meyakini bahwa semua bentuk kebudayaan harus berperan aktif secara ideologis untuk mendukung kemenangan partai. Perdebatan berikutnya adalah polemik tentang sastra kontekstual yang memandang apakah penciptaan sebuah karya sastra harus didasarkan pada realitas sosial yang berlangsung dalam masyarakat—seperti ketimpangan sosial dan kemiskinan—atau terbebas dari tendensi-tendensi tersebut. Perdebatan kembali berlanjut ketika karya-karya Pramoedya Ananta Toer menarik perhatian banyak pembaca dan kritikus setali dua uang dengan berkembangnya iklim keterbukaan dalam kebudayaan.

Ternyata, saat ini, perdebatan dalam perkembangan sastra masih terus berlangsung. Salah satu perdebatan yang dalam beberapa tahun ini ‘menghangat’ adalah polemik sastra wangi. Polemik ini lahir ketika dunia sastra Indonesia diwarnai kehadiran karya-karya yang ditulis oleh para penulis perempuan yang banyak berbicara tentang masalah-masalah tubuh, seks, dan masalah-masalah sosial lainnya.

Yang menarik dari perdebatan tersebut adalah pertarungan antara kekuatan-kekuatan otoritas yang mengusung wacana dalam perspektif ‘kubu-kubuan’: kubu yang satu menyerang kubu yang lain. Dalam setiap polemik tersebut selalu hadir pertarungan wacana (discourse) yang selalu saja berada dalam perspektif ideologis sehingga seringkali melupakan kritik terhadap substansi yang ingin disampaikan pengarang.

Tulisan berikut merupakan analisis kritis terhadap apa-apa yang sebenarnya diusung oleh perdebatan tentang sastra wangi akhir-akhir ini. Perspektif yang dipakai untuk melakukan analisis ini adalah (1) hegemoni yang diusung oleh Antonio Gramsci dan (2) power and knowledge yang dikemukakan oleh Michel Foucault. Dari Gramsci penulis akan menggunakan perspektifnya tentang bagaimana sebuah kelas/kelompok menegosiasikan ideologi dominan yang diusungnya dan bagaimana cara kelompok ini menguasai wacana dan kepentingan kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat dengan cara mengartikulasikan kepentingan-kepentingan kelompok tersebut dan juga bagaimana dalam budaya populer kekuatan subordinat melakukan resisteni terhadap kekuatan hegemonik.[1] Sedangkan dari Foucault penulis akan menggunakan perspektifnya tentang kuasa (power) yang ada di balik wacana-wacana pengetahuan (knowledge) yang terepresentasikan dalam formasi diskursif (discursive formation).[2]

“Sastra wangi”: labelisasi yang (masih saja) diperdebatkan

Dunia sastra Indonesia selama 5-6 tahun terakhir dihebohkan dengan terbitnya karya-karya yang menampilkan persoalan-persoalan tubuh, seks, dan masalah-masalah sosial yang para penulisnya adalah para perempuan. Bisa dikatakan bahwa pioner perkembangan ini adalah Ayu Utami yang kemudian dilanjutkan oleh para perempuan pengarang lainnya.[3] Dengan semangat membongkar tabu seksualitas—yang cenderung berorientasi patriarkis—yang selama ini bersemayam dalam sistem masyarakat Indonesia karya-karya para penulis tersebut langsung mendapatkan respons luar biasa dari pembaca. Saman karya Ayu Utami, misalnya, sejak dicetak tahun 1997 sampai saat ini telah mengalami cetak ulang sebanyak 24 kali dengan jumlah penjualan 100.000 eksemplar.[4]

Tak pelak kenyataan tersebut membuat Sapardi Joko Damono harus berkata bahwa “masa depan novel Indonesia berada di tangan perempuan.”[5] Bahkan dalam sebuah kesempatan seminar ia mengatakan: ”Kita harus jujur bahwa karya-karya yang paling banyak dihebohkan akhir-akhir ini adalah milik perempuan. Dalam segi jumlah, mereka juga jauh lebih banyak. Menurut saya, kondisi ini akan semakin terteguhkan pada masa mendatang.”[6] Ungkapan Sapardi tersebut tentu saja merupakan hasil refleksi positif seorang akademis demi melihat perkembangan fantastis sastra yang dihasilkan perempuan pengarang, meskipun kita masih bisa mengkritisinya karena ia sendiri adalah salah seorang yang memberi catatan apresiatif di halaman belakang Saman. Dan, ia juga termasuk anggota dewan juri Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003 dimana pemenang pertamanya adalah Dee dengan novel Dadaisme.

Popularitas yang diperoleh para perempuan penulis pengarang Indonesia inilah yang kemudian melahirkan polemik di antara para kritikus sastra di dalam media massa. Dari perdebatan-perdebatan itulah yang kemudian memunculkan istilah sastra wangi. Meskipun sampai saat ini belum ditemukan argumen yang jelas tentang pemunculan istilah tersebut dan siapa pula yang memunculkannya pertama kali, namun melalui media, sastra wangi sudah terlanjur menjadi sebuah diskursus yang layak untuk diperdebatkan keberadaannya. Sastra wangi, menurut Ibnu Wahyudi, melalui beberapa tulisan di media didefinisikan sebagai karya sastra yang ditulis oleh para perempuan pengarang muda yang cantik dan identik dengan gaya hidup metropolitan dan beraroma wangi (karena mungkin menggunakan parfum yang mahal harganya).[7] Selain itu pelabelan sastra wangi wacana turunan yang menganggap secara gebyah uya bahwa tema-tema yang diusung lebih banyak berkaitan dengan tubuh, seksualitas, dan juga semangat pembebasan perempuan perempuan dari penjara patriarki, sehingga menegasikan tema-tema lain yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat. Selanjutnya para perempuan pengarang itu juga sangat dekat dengan media massa nasional baik yang berbasis cetak, audio, maupun audio-visual sehingga popularitas yang diperolehnya lebih karena faktor campur tangan media.

Sementara para perempuan pengarang yang merupakan sasaran tembak dalam perdebatan merasa gerah dengan pelabelan sastra wangi. Manneke Budiman merefleksikan kegelisahan Nova Riyanti Yusuf, mengatakan:

Istilah sastra wangi membuat penulis-penulis perempuan yang digolongkan ke dalamnya seakan-akan merupakan sekumpulan orang idiot. Dengan demikian kata “wangi” punya konotasi negatif dan sengaja ditonjolkan untuk mengompensasikan absennya intelektualitas dalam otak para penulis perempuan.[8]

Dengan ungkapan senada Nukila Amal menjelaskan bahwa label sastra wangi telah menafikan segala semangat, pencapaian, dan keunggulan yang telah berhasil dibuktikan oleh banyak ‘penulis perempuan’ pada saat ini serta mereduksi semua itu dalam penampilan fisik dan seksualitas belaka.[9]

Tentu saja ungkapan keberatan tersebut merupakan ekspresi penggugatan terhadap wacana dominan yang menyudutkan capaian-capaian kreatif mereka dalam karya sastra. Capaian tersebut tentu saja merupakan kontribusi positif dalam memberikan ‘warna lain’ dalam kehidupan kebudayaan di tanah air, yakni sebuah fakta bahwa karya-karya para perempuan pengarang Indonesia diminati oleh publik pembaca dan dengan demikian menjadi kekuatan pendobrak tatanan yang dianggap tidak berpihak kepada perempuan.

“Sastra wangi”: medan pertarungan hegemonik dalam kuasa wacana

Introdusir wacana sastra wangi melalui media bisa dianggap sebagai sebuah ‘tindakan politis’ yang mempunyai tendensi tertentu. Artinya ada kekuatan-kekuatan hegemonik yang merasa terusik dengan popularitas karya-karya para perempuan pengarang. Popularitas yang diperoleh Saman, misalnya, bisa dianggap sebagai kekuatan destruktif yang akan menggoyahkan tatanan hegmonik, misalnya, nilai-nilai agama tertentu yang selama ini disosialisasikan dan diperjuangkan oleh kelompok-kelompok otoritasnya melalui media. Ketika karya-karya perempuan pengarang yang banyak ‘mengumbar’ terma-terma kebebasan tubuh dan seks mendapatkan sambutan hangat—terutama dari kalangan akademis/intelektual—maka ini dianggap sebagai virus yang bisa menyebarkan nilai-nilai kebebasan yang bermuara pada ‘kemerosotan moralitas’ sehingga bisa berujung pada memudarnya kesadaran beragama. Memudarnya kesadaran beragama merupakan ancaman serius bagi penegakan panji-panji agama tertentu dalam segala bidang kehidupan.

Dengan kata lain popularitas karya para pengarang perempuan dianggap bisa menjadi counter-hegemony bagi keberlangsungan hegemoni kelompok otoritas ini.[10] Melawan dengan frontal bukan merupakan pilihan yang tepat di era yang semakin terbuka ini. Salah satu alternatif yang dimunculkan adalah mereduksi substansi karya-karya tersebut ke dalam perdebatan wacana yang sengaja diintrodusir kepada publik, terutama kalangan kritikus sastra. Wacana sastra wangi yang terus digulirkan media dengan terma-terma yang sama antara inilah yang kemudian—meminjam istilah Foucault—membentuk formasi diskursif, yang selanjutnya mengasilkan representasi dalam bentuk sebuah pengetahuan. Kehadiran sastra wangi sebagai ‘pengetahuan baru’ yang menyertai karya para perempuan pengarang merupakan satu pengalihan kesadaran kritis pembaca terhadap substansi yang sebenarnya dari karya-karya tersebut. Tentu saja ini adalah sebuah kuasa dari pengetahuan sastra wangi yang menggiring pembaca hanya sebatas pada pemahaman bahwa ‘penulisnya cantik dan wangi’ serta ‘hanya tentang vagina dan penis’ sehingga mereka akan melupakan apa-apa sebenarnya yang lebih mendalam dari sebuah karya.

Yang kemudian terjadi adalah bergulirnya perdebatan sastra wangi dari wacana ‘istilah’ menuju perdebatan tentang homogenisasi tema yang menjual tubuh dan  seksualitas secara terbuka. Di sinilah peran media, lagi-lagi, menentukan arah wacana melalui perdebatan-perdebatan antara kubu yang pro dan kontra yang sebenarnya tetap saja bermuara pada satu tema dominan, “karya para perempuan pengarang hanyalah berorientasi pada eksploitas tubuh dan seksualitasnya”.

Tak kurang Taufik Ismail—sastrawan senior—harus membuat puisi yang isinya sangat ‘meremehkan’ apa-apa yang sudah ditulis para perempuan pengarang.

Penulis-penulis perempuan, muda usia, berlomba mencabul-cabulkan karya, asyik menggarap wilayah selangkang dan sekitarnya dalam Gerakan Syahwat Merdeka/Dari halaman-halaman buku mereka menyebar hawa lendir yang mirip anak tikus terlantar tiga hari di selokan pasar desa/Aku melihat orang-orang menutup hidung dan jijik karenanya.Jijik. Malu aku memikirkanya.[11]      

Apa yang ditulis Taufik ini paling tidak mensyiratkan posisi kesastraannya dalam kubu yang kontra (ia selama ini dianggap sebagai sastrawan yang relijius) terhadap apa yang ditulis oleh para perempuan pengarang. Mencabul-cabulkan bisa dipandang sebagai justifikasi sepihak dari mereka yang merasa memiliki otoritas dalam ‘moralitas sastra’ karena yang dilihat hanyalah wilayah selangkang dan sekitarnya. Bisa jadi bagi Taufik, wilayah selangkang adalah ‘teritorial keramat’ yang tidak boleh diumbar karena berkaitan dengan aurat yang sangat dijaga dalam ajaran agama. Apabila wilayah ini dibuka maka hawa lendir akan menyebar kemana-mana. Yang terjadi berikutnya adalah Gerakan Syahwat Merdeka, sebuah ungkapan hiperbolis yang ingin dikesankan sebagai sesuatu yang amoral—atau bahkan beraroma destruktif karena bisa menjadi kesadaran negatif yang berbabaya bagi tatanan mapan moralitas dan agama. Sangat jelas bahwa puisi Taufik ini merupakan warning ala penganjur moral—atau mungkin ustadz?—yang merasa bertanggung jawab kepada publik pembaca agar mereka jijik karena ia juga malu memikirkannya tanpa mempertimbangkan keseluruhan isi teks. Dengan kata lain, wacana yang dibangun dari puisi tersebut adalah wacana dari kelompok yang merasa terganggu dengan aroma keterbukaan yang ada dalam teks-teks karya para perempuan pengarang. Tapi, sebaliknya, Taufik ternyata melupakan kenyataan bahwa publik pembaca justru merasa rugi kalau tidak membaca karya-karya yang dikatakan menjijikkan tersebut.

Larung

Memang dalam karya para perempuan pengarang itu banyak dijumpai teks yang menggambarkan alat-alat kelamin dan hubungan seks secara transparan dan bisa membuat jijik bagi mereka yang selama ini sangat akrab dengan bahasa sastra yang sopan dan tidak vulgar. Tidak hanya Ayu Utami melalu Saman dan Larung-nya tetapi juga para pengarang lainnya. Berikut ini kutipan parsial dari beberapa karya yang dianggap mengumbar wilayah terlarang tubuh.

Sebab vagina adalah sejenis bunga karnivora sebagaimana kantong semar. Namun ia tidak mengundang serangga, melainkan binatang yang lebih besar, bodoh, dan tak bertulang belakang, dengan manipulasi aroma lendir sebagaimana yang dilakukan bunga bakung. Sesungguhnya, bunga karnivora bukan memakan daging melainkan menghisap cairan dari makhluk yang terjebak dalam rongga di balik kelopak-kelopaknya yang hangat. (Ayu Utami, Larung, hlm.153)

Aku lupa siapa yang pertama kali mengulum bibirku.

Aku lupa lelaki mana yang pertama melihat telanjang dadaku, juga dua payudaraku.

Entah siapa pula orang pertama yang berhasil menggigit halus dua gunung sintal di dada ini. Aku lupa. Sungguh aku tak bisa mengingatnya.

Aku lupa karena telah cukup banyak lelaki menyinggahi dermaga tubuhku.

Aku lupa karena aku terlalu menikmatinya. (Maya Wulan, Swastika, hlm.53)

“Penisku mereka gosok, buah zakarku mereka remas…Mereka menuang krim kocok di atasnya dan menjilatinya seperti kanak-kanak yang haus.” (Dinar Rahayu, Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch)

Kutipan-kutipan seperti di ataslah yang seringkali digunakan oleh kritikus yang kontra untuk menjustifikasi karya para perempuan pengarang sebagai karya yang mengumbar keterbukaan alat kelamin. Dan hal itu pula yang membuat Rosihan Anwar melontarkan tuduhan bahwa karya-karya mereka bukan lagi sebagai sastra wangi tetapi lebih jelek dari itu, ‘sastra mesum’ semata.[12] Lagi-lagi ungkapan sastra mesum jelas sangat tendensius dan penuh dengan pretensi kuasa dengan label moralitas. Rupa-rupanya Rosihan ingin menyamakan Saman dan juga karya-karya lainnya dengan karya-karya Fredy S maupun Eny Arrow yang pada masanya (tahun 80-90-an) sering dituduh sebagai sastra porno dan picisan. Dari ungkapan-ungkapan sarkastik dalam puisi Taufik dan tuduhan Rosihan kita bisa menemukan kesamaan formasi diskursif dengan tema-tema kritik yang menyebar di beberapa media nasional yang mengarah pada tuduhan bahwa karya-karya pengarang yang dikatakan ‘sastra wangi’ sebagai ‘karya haram’ dalam jagat sastra Indonesia yang tidak bermutu dan tidak bermoral.

Swastika

Menanggapi tuduhan-tuduhan pedas semacam ini, para perempuan pengarang sebenarnya tidak harus mengambil pusing karena ketika sampai ke pembaca—meminjam istilah Roland Barthes—maka ia sudah mati, tekslah yang berbicara dan membicarakan apa-apa yang sebenarnya ingin dibicarakan. Sayangnya, para perempuan pengarang itu terpancing juga untuk berbicara tentang ideologi yang mereka bawa sehingga secara tidak sadar sebenarnya mereka telah masuk ke dalam wacana hegemonik dari kelas dominan.

Djenar Maesa Ayu dalam sebuah wawancara[13] mengatakan bahwa keberanian perempuan menulis tentang seksualitasnya justru adalah sebuah revolusi penting yang membebaskan perempuan dari era ‘resep makan’. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sebagai perempuan ia melihat banyak kemunafikan yang pada ujungnya menempatkan perempuan pada posisi tidak menguntungkan.[14] Dalam kehidupan sehari-hari, memang kita bisa menemukan bagaimana konstruksi ideologi patriarki melalui bangunan wacana hegemonik. Semisal, lelaki yang berganti-ganti perempuan dan mempunyai banyak pacar seringkali dianggap playboy atau macho yang penuh dengan petualangan. Sedangkan ketika perempuan melakukan hal serupa, maka ia akan dicap sebagai perek, lonte, dan sebagainya. Dengan ungkapan serupa Nova Riyanti Yusuf mengatakan: “kreativitas saya…secara sederhana bersumber pada pengalaman kolektif perempuan-perempuan di masa lampau yang kemudian menjadi refleksi untuk mempertanyakan keabsahan keberlakukan sistem nilai yang diberlakukan laki-laki.”[15] Djenar dan Nova rupanya sangat menekankan proses menulis sebagai sebuah laku pembebasan di mana mereka bisa menegosiasikan wacana-wacana pemberontakan terhadap kekauan ideologi patriarki yang mengungkung perempuan dalam urusan domestik semata.

Sementara Ayu Utami dalam sebuah wawancara dengan wartawan media berbasis internet mengungkapkan:

I’m not very interested in writing sex scenes. But I am interested in sexuality, and how that plays out in the lives of a country of people — what it means. It’s not that I am against sex in books, but the urgency was not to arouse people but to make them think, to make them celebrate the idea of sexuality. I don’t want to be exotic about this, but I don’t want to write erotica either…You have to remember, people in Indonesia can talk about sex openly, just as long as it’s not through a formal medium. As long as it’s not printed. If you walk through Jakarta you will feel the difference between what is public and what is private. Officially, nothing bad happens, but everyone knows people get divorced in droves, people go to love hotels, but they have to keep up the façade of righteousness.[16]

Dengan statemen tersebut Ayu ingin menekankan bahwa sebenarnya ia tidak ingin membuat karya tentang seks—yang akan menjebaknya pada erotika bekaka—tetapi  seksualitas yang ada di Indonesia. Sebuah aktivitas seksual yang selama ini banyak berlangsung di hotel, motel, kamar kos, ataupun tempat wisata tetapi ditutupi dengan benteng moralitas. Dengan kata lain, lewat karya-karyanya, Ayu ingin membuka kedok moralitas yang selama ini diagung-agungkan sebagai jatidiri luhur bangsa sementara sebenarnya kebejatan moral terus berlangsung.

Ketiga pendapat di atas bisa dianggap sebagai peneguhan wacana perlawanan para perempuan pengarang terhadap tatanan hegemonik patriarki yang terlanjur mengakar secara ideologis dalam perilaku masyarakat. Sedangkan pintu masuk yang digunakan adalah penulisan tentang tubuh dan peristiwa-peristiwa seksualitas yang menyertai perjalanan para tokoh fiksinya. Seksualitas dianggap sebagai counter-discourse yang efektif karena selama ini terma tersebut termasuk wacana yang tabu untuk dibicarakan oleh para perempuan dalam ruang publik—termasuk ruang sastra—sehingga hanya lewat seksualitaslah tatanan hegemonik bisa ‘diganggu’.

Melani Budianta—kritikus sastra dari Universitas Indonesia yang selama ini dikenal dengan tulisan-tulisannya tentang gerakan feminis—cenderung mengamini apa-apa yang dilakukan oleh para perempuan pengarang Indonesia saat ini.

Dalam wacana-wacana lama, fungsi seksualitas perempuan dekat dengan melahirkan anak atau mereproduksi dan kemudian hidupnya diabadikan untuk membesarkan anak. Jadi perempuan cenderung tidak memiliki hak atas dirinya sendiri. Gerakan perempuan sudah menunjukkan bahwa semua orang berhak atas tubuhnya. Perempuan juga berhak atas kesehatan dan kenikmatan tubuhnya sendiri. Mungkin ini menjadi (hal) baru ketika biasanya sopan santun terjaga, sehingga sedikit mengejutkan, barangkali.[17]

Gadis Arivia juga menyepakati pendapat tersebut dengan menegaskan bahwa “para penulis perempuan dalam sastra Indonesia masa kini memang perlu digarisbawahi karena mereka berhasil mendobrak keterkungkungan ideologi patriarkis lewat ekspresi, bahasa, dan gaya mereka” (Prolog untuk Jurnal Perempuan no. 30, 2003). Pandangan Melani dan Gadis tersebut bisa dikatakan sebagai representasi dari kebersetujuan dan pembelaan kelompok gerakan feminis ibukota terhadap munculnya fenomena seksualitas dalam karya-karya para perempuan pengarang yang bisa menjadi wacana pengganggu hegemoni patriarki.

Pembelaan-pembelaan di atas—baik dari para pengarang ataupun tokoh gerakan feminis—sekilas memang bisa dipandang sebagai peneguhan tentang betapa karya-karya para perempuan pengarang telah berhasil menjadi pendobrak kebekuan sistem. Tetapi kalau diperhatikan lagi, pemusatan statemen pada terma-terma tubuh dan seksualitas secara tidak langsung telah menjebak para perempuan pengarang dan karya-karyanya ke dalam perangkap diskursif yang dinegosiasikan oleh kelompok kontra (kelas hegemoni). Sebagimana dikatakan Gramsci bahwa artikulasi kepentingan-kepentingan kelompok penentang ke dalam kelompok hegemonik akan menghasilkan “kehendak bersama” yang mengarah pada kepatuhan terhadap kepentingan hegemonik.[18] Kelompok pro dan kontra, dengan kata lain, telah menggunakan wacana yang sama dan pada akhirnya menggiring kritik bukan lagi pada substansi utama karya tetapi pada topik parsial bernama tubuh dan seksualitas. Ini tentu merupakan keuntungan bagi kelompok hegemonik karena ketika substansi utama karya dikesampingkan maka wacana-wacana pengganggu semakin kehilangan signifikansinya. Atau jangan-jangan kesadaran akan jebakan diskursif inilah yang ternyata kurang dipahami oleh para perempuan pengarang dan para pembelanya. Atau sebaliknya, jangan-jangan para perempuan pengarang dan pembela-pembelanya sengaja menegosiasikan ‘pandangan-pandangan pelengkap’ bagi karya sebagai satu tindakan penciptaan hegemoni baru dalam kesastraan Indonesia, dan lebih jauh lagi, pada tatanan masyarakat Indonesia.

Sastra populer (yang penting)

Di samping justifikasi tematik pada persoalan tubuh dan seksualitas, popularitas sastra wangi juga dianggap berkaitan erat dengan beberapa asumsi reduksionis berikut: (1) karya-karya yang dianggap sastra wangi tidak bisa dilepaskan dari kedekatan para pengarangnya dengan media massa nasional yang gencar mempromosikannya melalui polemik yang menghebohkan[19] dan (2) karya-karya tersebut tidak akan meraih popularitas jika tidak ada campur tangan penerbit yang berhasil melakukan kerja-kerja marketing dan distribusi.

Anggapan-anggapan tersebut memang didukung oleh kenyataan bahwa sebagian besar para pengarangnya berdomisili di ibu kota—meskipun ada yang berdomisili di daerah seperti Oka Rusmini (Bali)—sebagai pusat media nasional. Di samping itu beberapa pengarang aktif dalam menulis karya mereka di koran-koran nasional. Djenar dan Oka, misalnya, sebelum mengeluarkan kumpulan cerpennya, beberapa karya mereka pernah dimuat di koran nasional sehingga sudah mempunyai dasar untuk menjadi populer. Bahkan untuk semakin menambah popularitasnya, Djenar mau menerima tawaran sebagai presenter sebuah acara di salah satu stasiun televisi nasional. Dan yang lebih menguntungkan karya-karya mereka diterbitkan oleh penerbit berskala nasional yang sudah mapan dengan jaringan distribusinya. Saman dan Larung (Ayu Utami) dan juga kumpulan cerpen Djenar serta Oka diterbitkan oleh Penerbit Gramedia yang sudah mempunyai jaringan toko di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Dee dengan Supernova-nya, meskipun diterbitkan secara independen, juga mampu membuat strategi marketing lewat mailing list—dan juga fakta bahwa ia adalah bekas personil grup band RSD—sehingga karyanya bisa terjual ribuan eksemplar.

Dalam kehidupan yang semakin termediasikan, kiranya, kedekatan dengan pihak media merupakan satu keniscayaan ketika sebuah produk budaya ingin dikenal banyak orang, baik melalui pemberitaan promosional maupun seputar polemik-polemik yang mengitarinya. Dan para perempuan pengarang sedari awal memang menyadari peran media karena mereka memang lahir dalam era media. Tapi apakah benar hanya karena media dan penerbit besar yang menjadikan karya mereka laku keras? Atau justru mungkin karena polemik di media? Pertanyaan-pertanyaan tersebut, lagi-lagi, bernada politis karena menegasikan mutu tulisan teks karya mereka. Di samping itu kedua pertanyaan tersebut sepertinya menjadikan pembaca sebagai pihak yang pasif terhadap pengaruh media padahal mereka mesti punya alasan-alasan sendiri ketika mengkonsumsi karya-karya tersebut sehingga menjadikan karya-karya itu sebagai sebuah produk budaya populer, atau lebih tepatnya sastra populer.

Bagi kalangan humanis-kritis dalam era industri budaya populer saat ini, karya-karya sastra yang diterbitkan secara massif oleh penerbit sering dianggap sebagai artefak kapitalis yang hanya mengabdi pada kepentingan rakyat kebanyakan yang dalam bentuk dan tema formulaik yang serba  standard dan ujung-ujungnya dimanfaatkan untuk memperoleh profit. Storey membaca fenomena tersebut sebagai usaha untuk menjadikan budaya populer sebagai kategori residual yang tidak akan pernah bisa dikategorikan sebagai budaya tinggi karena bentuknya formulaik yang hanya menciptkan fantasi publik tanpa kontemplasi sehingga publik menjadi pasif terhadap produk budaya tersebut (1983: 8). Rupa-rupanya kritik kubu kontra terhadap karya-karya perempuan pengarang dilandasi oleh tradisi humanis ini. Masalahnya, bukan hanya mereka saja yang menulis karya-karyanya dalam format massif, tetapi para laki-laki pengarang juga melakukan hal serupa—bahkan dengan terma-terma seksualitas[20], tapi mengapa karya-karya mereka tidak diperdebatkan secara ramai seperti karya para perempuan pengarang itu? Apakah karena karya-karya para perempuan pengarang tersebut lebih ‘diperhatikan’ media atau karena mereka mampu menyentuh satu kebutuhan sastra bagi generasi yang sedang berubah?

Kalau memang karya-karya perempuan pengarang itu mampu memenuhi kebutuhan generasi yang sedang berubah sehingga laku manis di pasaran, maka bisa dikatakan bahwa para pengarang itu berhasil memproduksi karya-karya sastra yang populer, bukan sekedar budaya massa. John Fiske mengatakan bahwa budaya populer memang terikat pada produk dan teknologi budaya massa, namun aktivitas kreatifnya terletak dalam cara-cara penggunaanya, bukan pada teknologi dan proses produksinya[21]. Artinya proses penyerapan oleh masyarakatlah yang akan menentukan lahirnya sebuah produk budaya populer. Meskipun karya-karya para perempuan pengarang itu bisa dikatakan ‘populer’ bukan karena diproduksi oleh penerbit secara massif atau karena dikomunikasikan oleh media, namun karena karya-karya tersebut dimaknai sebagai sesuatu yang menarik dan penting untuk dibaca—apakah karena muatan maupun bahasanya[22].

Dari pemahaman seperti itulah maka karya-karya yang dikategorikan secara gegabah ke dalam sastra wangi sebenarnya merupakan ruang diskursif baru yang memunculkan ‘medan pertarungan’ (site of struggle) ketika dimaknai oleh pembaca. Menurut Storey pertarungan yang berlangsung dalam budaya populer melibatkan kekuatan resistensi kelompok subordinat dalam masyarakat dengan kekuatan dominan yang eksis (Ibid.hlm.13). Dari perspektif inilah, karya para perempuan pengarang tersebut bisa dianggap memberikan wacana baru ke dalam kesadaran masyarakat tentang pentingnya melihat kenyataan hegemonik kelas dominan—baik  dalam relasi gender ataupun relasi sosial lainnya—dengan cara melakukan resistensi. Tubuh dan seksualitas, dengan demikian, bisa dianggap sebagai ‘sebuah pemantik’  atau ‘bumbu’ untuk memberikan efek kejut sehingga masyarakat tertarik untuk membaca dan menyadari maknanya secara utuh, meskipun belum bisa diketahui seberapa jauh efektivitas karya-karya tersebut dalam memberikan ‘pencerahan’ kepada pembaca. Minimal, karya-karya tersebut sudah berusaha melakukan kontestasi dalam struktur hegemonik masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, Saman, Larung, Mereka Bilang Saya Monyet, Kuda Terbang Mario Pinto, dan karya-karya lainnya merupakan ‘sastra populer penting’ (bukan sekedar serius[23]) karena berani mengungkapkan keberanian generasi baru perempuan pengarang terhadap tatanan kelas hegemonik serta mendapatkan respon positif dari pembaca.

Akhirnya, setelah ini mau apa?

Terlepas seberapa jauh para pembaca memaknai karya-karya yang dihasilkan oleh para perempuan pengarang Indonesia saat ini, beberapa catatan perlu diungkapkan dalam tulisan ini.

Pertama, kenyataan tentang perdebatan sastra wangi bisa dibaca sebagai sebuah praktik diskursif yang mengarah pada beberapa kemungkinan pembacaan: (a) kelompok hegemonik ingin menegasikan muatan sebenarnya dari karya para perempuan pengarang dan mereduksinya semata-mata ke dalam urusan ‘wajah yang cantik, parfum wangi, dan keterkenalan’; (b) popularitas akan mengiringi karya para perempuan pengarang karena semakin sering diekspos media, semakin terkenal karya-karya tersebut sehingga orang tertarik untuk membeli dan membaca; dan, (c) penerbit akan menikmati keuntungan luar biasa dari angka penjualan yang tinggi sebagai hasil dari polemik di media.

Kedua, semakin gencarnya polemik sastra wangi pada seputar tubuh dan seksualitas, sebenarnya semakin membuka jalan bagi para perempuan pengarang—dan juga aktivis gerakan feminisme—untuk menegosiasikan tentang pembongkaran tabu seks, dan lebih jauh ketimpangan sistem sosial yang menyertainya, kepada masyarakat yang lebih luas. Dengan kata lain, mereka bisa jadi juga membutuhkan perdebatan-perdebatan diskursif tersebut.

Ketiga, pemusatan isu karya hanya sebatas persoalan tubuh dan seksualitas bisa menjadi sebuah wacana yang kurang baik. Artinya pembaca hanya tertarik untuk menemukan isu-isu tersebut dan menegasikan isu-isu lain yang ditawarkan melalui pintu masuk tubuh dan seksualitas.[24] Inilah yang harus disadari sebagai jebakan diskursif yang merugikan bagi keberlangsungan kreatif mereka di masa depan karena label tubuh dan seksualitas sudah melekat pada karya mereka. Dan bisa jadi kalau ini sudah menjadi trend dan pembaca mengalami kejenuhan, maka ke depan mereka akan enggan untuk membaca karya-karya mereka.

Keempat, ke depan para perempuan pengarang Indonesia ada baiknya menemukan ‘bumbu lain’, di samping tubuh dan seksualitas, sebagai strategi populer untuk menarik pembaca. Fira Basuki melalui trilogi Jendela-jendela sudah berusaha memberikan tema tentang orang-orang Indonesia yang hidup dari negara satu ke negara lain. Dee dengan Supernova-nya menyuguhkan pencarian spiritual generasi kontemporer saat ini. Keragaman ini perlu diusahakan agar karya mereka tidak lagi dijebak dalam ‘sekedar tubuh’ oleh kekuatan hegemonik. Dan, dengan keragaman tersebut karya-karya perempuan pengarang akan menjadi multi-wacana sehingga bisa saling melengkapi satu sama lain.

Ada juga pengaruh berantai (chain-effect) dari popularitas sastra wangi yang dianggap ‘berideologi tubuh’ ini. Pengaruh itu adalah munculnya komunitas-komunitas sastra baru dengan tema-tema tulisan yang berbeda. Komunitas itu antara lain Forum Lingkar Pena (FLP) yang mengusung tema-tema Islam populis dalam jagat modern ini. FLP seakan ingin ‘menandingi’ popularitas sastra wangi melalui jaringan komunitas yang menyerupai multi-level-marketing (MLM) dengan ribuan anggota. Kelahiran FLP bisa dibaca sebagai sebuah usaha para penulis muda Islam untuk menghadirkan tawaran alternatif yang populis kepada para remaja agar tidak melulu membaca tubuh dan seksualitas dalam karya sastra. Inilah sisi menarik dari medan pertarungan hegemonik dalam dunia sastra.

Dengan asumsi yang sedikit liar bisa dikatakan bahwa kekuatan hegemoni A yang sudah mengakar dalam sendi-sendi kehidupan bangsa ini dilawan dengan kekuatan counter-hegemony B melalui karya-karya sastra. Karena tidak mampu lagi mengendalikan kekuatan B, maka dimunculkanlah kekuatan counter-counter-hegemony C untuk mengurangi popularitas B. Di masa depan formasi diskursif semacam ini bisa jadi berulang karena hegemoni pada dasarnya adalah sebuah proses dinamis melalui wacana dan kuasa yang terus diproduksi oleh kekuatan-kekuatan dalam masyarakat.

Akhirnya, terlepas dari sisi negatif dan positif polemik sastra wangi bagi pihak-pihak yang terlibat, kehadiran karya-karya dari para perempuan pengarang Indonesia bisa direfleksikan sebagai peristiswa penting dalam perkembangan kesastraan Indonesia karena mampu menghadirkan wacana tentang pentignya mengkaji karya-karya sastra populer melalui bermacam perspektif. Apakah karya-karya mereka di masa mendatang akan tetap laku? Semua berpulang pada proses pemaknaan kritis para pembaca. Masalahnya, apakah pembaca kita sudah cukup kritis untuk melakukan proses pemaknaan? Semua kembali pada penciptaan kesadaran kritis yang bukan hanya menjadi tanggung jawab guru dan dosen sastra, tetapi juga kritikus, media, pengarang, dan juga pembaca itu sendiri.

Gejayan, pada beberapa malam di bulan November 2006.

Keterangan

* Artikel ini merupakan tugas matakuliah SASTRA POPULER sewaktu S2 di Kajian BUDAYA dan MEDIA UGM, 2006.

Catatan akhir

[*] Artikel ini merupakan tugas mid-semester matakuliah “Sastra Populer” ketika penulis menempuh S-2 di Program Studi Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.

[1] Untuk perspektif ini penulis banyak menggunakan konsep hegemoni Gramsci yang digagas oleh para pemikir cultural studies dalam beberapa kajian mereka. Antara lain: Tony Bennet, Colin Mercer, and Janet Woollacot.1986. Popular Culture and Social Relations. Philadelphia: Open University Press.hlm.xi-xviii. dan John Storey.1993.An Introductory Guide to Cultural Theory and Popular Culture. Hertordshire: Harvester Wheatshef.hlm.13-16.

[2] Perspektif ini merujuk pada kajian Stuart Hall.1997. Representation, Cultural Representation, and Signifying Practices.London: Sage Publication in association with The Open University.hlm.41-51.

[3] Ayu Utami dengan Saman-nya memang disebut-sebut sebagai pemberi inspirasi bagi kemunculan para penulis perempuan lainnya di Indonesia. Mereka antara lain: Dee dengan karya monumentalnya Supernova dan Dadaisme, Djenar Maesa Ayu dengan kumpulan cerpennya Mereka Bilang Saya Monyet dan Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), Dorothea Rosa Damayanti, Dinar Rahayu dengan novelnya Ode untuk Leopold van Sacher Masoch, Fira Basuki dengan trilogi Jendela-nya, Herlinatiens dengan novel Garis Tepi Seorang Lesbian, Linda Christanty dengan kumpulan cerpen Kuda Terbang Mario Pinto, Maya Wulan dengan kumpulan cerpen Membaca Perempuanku, Nova Riyanti Yusuf dengan novelnya Mahadewa Mahadewi, Oka Rusmini dengan novelnya Tarian Bumi, dan Stefani Hid dengan novelnya Bukan Saya, tapi Mereka yang Gila. Baca Ibnu Wahyudi, “Kiprah Perempuan Pengarah di Indonesia Pasca-Saman”, dalam Srinthil!, 8.2005.hlm.98.

[4] Fenomena serupa juga dialami Dee dengan novelnya Supernova yang dalam kurun 4 bulan (Pebruari-Mei 2006) terjual sebanyak 32.000 eksemplar. Ibid.hlm.97.

[5] “Bayang-bayang Perempuan Pengarang”, Kompas, 7 Maret 2004.

[6] Ia mengatakan ini dalam sebuah seminar di Universitas Diponegoro. Suara Merdeka, Kamis, 02 Maret 2006 dalam http://www.suaramerdeka.com/harian/0603/02/nas04.htm, diakses pada tanggal 20 Oktober, pukul 20.10 WIB.

[7] Op.cit.hlm.100.

[8] Manneke Budiman.2005. “Ketika Perempuan Menulis”, dalam Srinthil!, 8.2005.hlm.20.

[9] Ibid.

[10] Bandingkan fenomenan ini dengan goyang ngebor Inul Daratista yang berhasil menjungkirbalikkan tatanan nilai dan hegemoni raja dangdut Rhoma Irama dan penyanyi-penyanyi ibukota sehingga style Inul berhasil menjadi trend yang berlangsung hingga saat ini di wilayah Jawa Timur.

[11] Italic oleh penulis. Dikutip dari Ridwan Juniarso. “Sastra Mesum dan Arsitektur Tubuh” dalam www.pikiran-rakyat.com/cetak/0104/08/0804.htm.

[12] Ibid.

[13] Djenar Maesa Ayu.2004. Wawancara: “Seks, Sastra, dan Perempuan”, dalam Jurnal Prosa, no. 4. Yang Jelita Yang Menulis. Jakarta: Metafor.hlm.190-196.

[14] Ibid.

[15] Nova Riyanti Yusuf.2004. Wawancara: “Seks, Sastra, Perempuan”, dalam Jurnal Prosa, no.4 Yang Jelita Yang Cerita. Jakarta: Metafor.hlm.213.

[16] “Rebel Girl Ayu Utami”, wawancara John Freeman dengan Ayu Utami ketika ia menghadiri PEN Festival di New York, dalam http://www.nerve.com/screeningroom/books/interview_ayuutami/

[17] Manneke Budiman.Op.cit.hlm.20.

[18] Chartal Mouffe.1981. “Hegemony and Ideology in Gramsci”, dalam Tony Bennet (eds). Culture, Ideology,and Social Process. Bastford: The Open University Press.hlm.224.

[19] Sitok Srengenge lebih jauh menambahkan bahwa “kemunculan perempuan sastrawan, tak lebih sebagai sebuah tren belaka. Menurutnya, heboh yang terjadi kebanyakan bukan oleh kualitas yang mereka tunjukkan. Melainkan oleh faktor-faktor lain yang berada di luar kesusastraan.” Ia menjelaskan hal ini dalam http://www.suaramerdeka.com/harian/0603/02/nas04.htm

[20] Dalam catatan Manneke, Beni Setia, misalnya, pernah menggunakan kata memek sebagai nama tokoh dalam cerpennya Sapi yang masuk dalam kumpulan terbaik Kompas. Op.cit.hlm.29.

[21] John Fiske.1995. “Popular Culture”, dalam Lentricchia & Thomas McLaughlin (Eds).Critical Terms for Literary Study. Chicago: University of Chicago Press.hlm.325-326.

[22] Ibnu Wahyudi melalui kajiannya mengungkapkan bahwa bahasa yang digunakan oleh para perempuan pengarang tidak melulu berbau tubuh dan seksualitas. Lebih dari itu, banyak dari mereka yang menggunakan bahasa yang cukup puitis. Op.cit.hlm.106-107.

[23] Saya tidak menggunakan terma ‘serius’ karena bernuansa politis dan cenderung meremehkan karya sastra populer. Terma serius lebih berkaitan dengan cita rasa elit untuk meneguhkan derajat sosial mereka dalam masyarakat.

[24] Menurut Jason Tedjakusuma, Ayu Utami melalui Saman, misalnya, sebenarnya ingin mengungkapkan dan mengkritisi kebrutalan oleh negara sebagai akibat penerapan strategi militeristik selama rezin Orba yang ditandai dengan penyerobtan tanah serta penyiksaan-penyiksaan kepada rakyat yang membangkang. Selanjutnya baca “A Whiff of Truth Utami brought ‘Fragrant Lit’ to Indonesia” dalam Nov. 28, 2005 issue of TIME Asia magazine http://www.time.com/time/asia/magazine/article/0,13673,501051128-1132865,00.html

Daftar Bacaan

Ayu, Djenar Maesa. 2004. Wawancara: “Seks, Sastra, dan Perempuan”, dalam Jurnal Prosa, no. 4. Yang Jelita Yang Menulis. Jakarta: Metafor.

Bennet, Tony, Colin Mercer, and Janet Woollacot.1986. Popular Culture and Social Relations. Philadelphia: Open University Press.

Budiman, Manneke.2005. “Ketika Perempuan Menulis”, dalam Srinthil!, 8.2005.

Chartal, Mouffe.1981. “Hegemony and Ideology in Gramsci”, dalam Tony Bennet (eds). Culture, Ideology,and Social Process. Bastford: The Open University Press.

Damono, Sapardi Joko.2004. “Bayang-bayang Perempuan Pengarang”, Kompas, 7 Maret.

Fiske, John. 1995. “Popular Culture”, dalam Lentricchia & Thomas McLaughlin (Eds).Critical Terms for Literary Study. Chicago: University of Chicago Press.

Hall, Stuart.1997. Representation, Cultural Representation, and Signifying Practices.London: Sage Publication in association with The Open University.

Storey, John.1993.An Introductory Guide to Cultural Theory and Popular Culture. Hertordshire: Harvester Wheatshef.

Wahyudi, Ibnu.2005. “Kiprah Perempuan Pengarah di Indonesia Pasca-Saman”, dalam Srinthil!, 8.2005.

Yusuf, Nova Riyanti.2004. Wawancara: “Seks, Sastra, Perempuan”, dalam Jurnal Prosa, no.4 Yang Jelita Yang Cerita. Jakarta: Metafor.

Sumber internet

“Perempuan Sastrawan” http://www.suaramerdeka.com/harian/0603/02/nas04.htm, diakses pada 20 Oktober 2006, pukul 20.00 WIB.

Juniarso, Ridwan “Sastra Mesum dan Arsitektur Tubuh” dalam www.pikiran-rakyat.com/cetak/0104/08/0804.htm, diakses pada 20 Oktober, pukul 22.00 WIB.

Tedjakusuma, Jason. “A Whiff of Truth Utami brought ‘Fragrant Lit’ to Indonesiahttp://www.time.com/time/asia/magazine/article/0,13673,501051128-1132865,00.html diakses pada 21 Oktober 2006, pukul 16.00 WIB.

John Freeman (wawancara) Rebel Girl Ayu Utami http://www.nerve.com/screeningroom/books/interview_ayuutami/ diakses pada 20 Oktober 2006, pukul 20.00 WIB.

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 161 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*