Mengungkap-kembali ‘yang ideologis’ dalam kajian media: Pemikiran Stuart Hall (bagian-1)

Kita tentu masih ingat kasus-kasus kekerasan yang dilakukan anak-anak atau kaum remaja terhadap rekan sebaya mereka. Banyak pihak—termasuk peneliti dan akademisi—yang mengatakan bahwa mereka meniru tindak kekerasan di televisi. Tentu, pemahaman tersebut tidak sepenuhnya salah, karena masih mengikuti paradigma klasik behavioristik dalam memahami pengaruh media terhadap audiences. Mewarisi metodologi dari ilmu pengetahuan empirik-positivis, pendekatan bihavioristik memang menitikberatkan pada pengaruh langsung—seperti peluruh yang dilesakkan—tayangan di televisi atau berita di media massa terhadap penonton atau pembaca. Namun demikian, pendekatan yang mulai populer sejak era 1940-an di Amerika Serikat ini sebenarnya masih bernada spekulatif dalam melihat efek peluru dari sebuah tayangan atau berita. Hal itu tidak bisa dilepaskan dari pandangan negatif terhadap budaya massa (mass culture) yang selain memporakporandakan tatanan budaya tinggi dan menimbulkan efek negatif bagi para penikmatnya.

Apa yang menjadi terlupakan dari tradisi penelitian pengaruh media adalah aspek-aspek naratif dalam media yang mengkonstruksi makna atau wacana partikular yang terhubung dengan kepentingan ideologis dalam masyarakat sebagai konteks dan kemampuan penonton/pembaca untuk memahami konstruksi tersebut bedasarakan ragam latar belakang mereka. Kondisi itu kemudian memunculkan ketidakpuasan dari para pemikir di CCCS (Center for Contemporary Cultural Studies) di Birmingham University. Salah satu pemikir yang menginisiasi paradigma kritis dalam kajian media adalah Stuart Hall. Dengan mendialogkan paradigma strukturalisme, diskursif, dekosntruktif, dan (neo)Marxizme, Hall menawarkan pemikiran-pemikiran yang memberikan cara baca baru terhadap konstruksi ideologis dalam beragam produk media, termasuk bagaimana kemungkinan-kemungkinan pemahaman dari penikmat tanpa harus selalu terjebak ke dalam model peluru. Tulisan ini merupakan review dari tulisan Stuart Hall, “The rediscovery of ideology: return of the repressed in media studies” dalam Gurevitch, Michael, Tony Bennet, James Curran & Janet Woollacot (eds). Culture, Society, and Media (London: Metheun, 1982, hlm. 56-90). Pemikirannya mungkin dianggap klasik untuk saat ini, tetapi masih sangat kontekstual untuk membaca bermacam konstruksi ideologis dalam media hari ini.

Beranjak dari pendekatan behavioristik

Pendekatan behavioristik sangat dipengaruhi oleh positivisme ilmu-ilmu sosial yang mengedepankan keterukuran dari sebuah empiri. Dalam kajian media, prinsip konseptual tersebut diarahkan kepada pengaruh media terhadap penonton yang bisa diukur dari perubahan mereka sebagai akibat dari isi tayangan. Namun, sekali lagi, dalil-dalil yang dikembangkan dalam pendekatan ini cenderung spekulatif, meskipun seringkali ditunjang data-data empiris. Apakah benar bahwa semua kekerasan anak dipengaruhi oleh tontontan televisi yang menayangkan adegan kekerasan? Dalam beberapa kasus, mungkin iya. Namun, dalam banyak kasus spekulasi tersebut kedodoran karena banyak anak yang tidak melakukan kekerasan meskipun mereka menonton adegan kekerasan dalam kartun Jepang, misalnya. Banyak pula ibu-ibu yang tidak menghabiskan uang belanja mereka untuk shopping baju-baju bagus di mall, meskipun mereka sering menonton sinetron yang menampilkan para bintang dengan model fashion terbaru.

Untuk menjawab kritik tersebut, paragima behavioristik bergeser ke arah pluralistik, bahwa pngaruh media tidaklah tunggal: bisa mengubah dan tidak bisa mengubah perilaku pemirsa/masyarakat. Mengapa? Karena masyarakat demokratis memiliki keragaman cara pandang, orientasi, dan kepentingan individual. Namun demikian, media akan terikat oleh kekuasaan dengan nilai-nilai yang disebarluaskan ke dalam masyarakat, sehingga tetap ada usaha untuk mendesain konsensus secara luas di tengah-tengah partikularitas individual yang berlangsung. Keberagaman selera kultural dalam masyarakat, misalnya, tetap diperhatikan, tetapi nilai-nilai demokratis dan modernitas tetap dikedepankan dalam tayangan media, sehingga pemirsa tetap bisa berada dalam pengaruh kedua nilai tersebut.

Dalam hal ini, media bersifat reflektif atau ekspresif terhadap konsensus yang disepakati secara nasional. Bahwa pengaruh media tidak lagi dilihat pada bagaimana perubahan perilaku pemirsa, tetapi pada bagaimana media menyampaikan nilai, makna, atau wacana yang diharapkan bisa menghasilkan kesepakatan publik. Namun, Hall mengkritisinya.

…..apakah konsensus benar-benar muncul secara spontan ataukah ia merupakan hasil dari proses kompleks dari konstruksi dan legitimasi sosial. Sebuah masyarakat, yang demokratis dalam organisasi formalnya, dalam saat yang bersamaan terlibat dengan konsentrasi modal ekonomi dan kuasa politik untuk distribusi kekuasaan dan kesejahteraan yang tidak sama secara massif. Mereka harus memperoleh produksi kontinyu kesepakatan populer terhadap struktur yang eksis, nilai-nilai yang mendukung dan memperkuat, dan kontinyuitas eksistensi. Kenyataan itu menimbulkan pertanyaan tentang peran sosial media. Karena jika media tidak dengan mudah bersifat reflektif atau ‘ekspresif’ terhadap konsensus yang telah disepakati, tetapi memang cenderung mereproduksi definisi-definisi situasi yang menyukai dan melegitimasi struktur yang sedang eksis. Lalu, apa yang pertama-tama tampak hanyalah sebagai peran yang memperkuat kembali struktur tersebut yang saat ini direkonseptualisasikan dalam terma-terma media dalam proses untuk formasi kesepakatan. (1982: 63-64)

Dalam usaha penyebarluasan konsensus melalui media, terdapat kepentingan terkait wacana-wacana partikular yang dikonstruksi berdasarkan penggambaran-penggambaran tertentu dari sebuah permasalahan. Dalam masyarakat kapitalis, misalnya, kelompok pemodal membutuhkan dukungan-dukungan populer agar kepentingan mereka untuk produksi dan distribusi barang yang berujung pada akumulasi modal tetap bisa berlangsung secara ajeg. Ketika media bisa memainkan peran sosialnya secara kritis, maka mereka tidak dengan mudah memproduksi wacana-wacana yang melegitimasi struktur dan kepentingan yang sudah mapan. Masalahnya, kebanyakan media—karena keterhubungan mereka dengan kepentingan komersil perusahaan, misalnya—lebih suka menampilkan pemberitaan ataupun menayangkan program yang memperkuat legitimasi struktur dan kepentingan, sehingga akan terus menegosiasikan konsensus di tengah-tengah masyarakat yang plural. Dengan demikian, realitas dalam konstruksi media tidak bisa dipandang sebagai rangkaian fakta yang sudah begitu adanya. Ia merupakan hasil dari cara tertentu merekonstruksi realitas itu sendiri. Media mendefinisikan realitas dan tidak hanya mereproduksinya. Artinya, dengan konstruksi dan rekonstruksi yang dilakukan, media ikut menghadirkan definisi realitas tertentu dalam kehidupan masyarakat.

Definisi-definisi realitas di langsungkan dan diproduksi melalui semua praktik linguistik (dalam pengertian yang lebih luas); representasi. Namun, representasi berbeda dari refleksi. Representasi mengimplikasikan kerja aktif dari menyeleksi dan mempresentasikan, menstrukturkan dan membentuk: tidak hanya mentransmisikan makna yang sudah ada sebelumnya; sebuah kerja yang menjadikan makna bermakna. Representasi adalah praktik, sebuah kerja aktif, sebuah produksi makna: praktik penandaan. Media adalah agen penandaan. Analisis konten (content analysis) memang berusaha melihat proses strukturasi ideologi melalui representasi di media, namun menyisakan pertanyaan berikut: (a) bagaimana strukturisasi ideologi terpenuhi? (b) bagaimana relasinya dengan bagian lain dari struktur sosial yang dikonseptualisasikan? Apa sebenarnya kepentingan yang dibawa pemberitaan tertentu dalam media? Dengan adanya gerakan untuk mengkaji secara serius kuasa media untuk menandakan realitas dan untuk mendefinisikan ‘yang nyata’, maka tesis ‘matinya ideologi’ secara radikal dipermasalahkan. Bahwa ideologi belumlah mati, tapi menyebar dalam pluralitas bentuknya dalam kehidupan manusia yang termediasi.

Permasalahannya kemudian adalah bagaimana kuasa atau kepentingan dimainkan melalui kehadiran media? Dalam tradisi behavioristik, yang dinamakan kuasa adalah ketika sebuah informasi bisa mempengaruhi subjek. A mempengaruhi B untuk membuat keputusan X. Itu adalah salah satu bentuk kuasa. Namun, hal itu menjadi sangat deterministik dan bersifat satu-dimensi, seperti peluru. Hall lebih bersepakat dengan pendapat Lukes tentang model tiga dimensi yang menekankan kuasa sebagai sesuatu yang muncul melalui pembentukan persepsi, kognisi, dan kesukaan dengan cara yang mana mereka (semisal agen sosial) menerima peran mereka dalam aturan hal-hal yang eksis karena mereka bisa melihat atau mengimajinasikan tidak ada alternatif lain selain itu, atau karena mereka melihatnya sebagai sesuatu yang natural dan tidak bisa berubah, atau karena mereka menilainya sebagai sesuatu yang sedari awal menguntungkan (1975: 24). Inilah yang disebut model kuasa ideologis, atau apapun orang menyebutnya. Dari sudut pandang media, apa-apa yang menjadi isu tidak lagi merupakan ‘persimpangan-pesan’ (message-injucntion): oleh A kepada B, untuk melakukan ini atau itu, tetapi dengan membentuk lingkungan ideologis secara menyeluruh; sebuah cara untuk merepresentasikan sesuatu dengan memberikan perspektif terbatasnya sehingga tampak natural atau tertakdirkan yang membuat mereka seolah-olah berlaku universal dan berjalin dengan realitas itu sendiri. Perubahan perspektif inilah yang memunculkan paradigma kritis dalam kajian media.

Paradigma kritis

Kajian media dalam paradigma kritis bergerak pada seputar penemuan kembali dimensi ideologis yang dulunya tenggelam oleh dimensi behavioristik. Dua permasalahan yang terlibat dalam paradigma tersebut adalah (1) bagaimana proses ideologis bekerja dan apa mekanismenya? dan (2) bagaimana ‘yang bersifat ideologis’ dicitrakan dalam hubungan dengan praktik lain dalam formasi sosial? Secara simultan, debat berkembang pada dua tesis berikut. Pertama, yang berkaitan dengan produksi dan transformasi wacana ideologis, dibentuk oleh teori-teori yang berkaitan dengan karakter simbolik dan linguistik wacana ideologis. Dalil yang begitu terkenal adalah bahwa elaborasi ideologi ditemukan dalam bahasa (secara luas dicitrakan), sebuah ruang artikulasi yang halus dan menguntungkan. Kedua, yang berkaitan dengan bagaimana mengkonseptualisasikan contoh ideologis di dalam formasi sosial, yang juga menjadi medan pengembangan empiris dan teoretis yang meluas. Terkait dua kutub tersebut, Hall lebih memilih untuk memfokuskan kajian pada identifikasi acuan-acuan umum untuk merekonseptualisasi ideologis dan integrasi elemen teoretis penting tertentu ke dalam kerangka umum dari paradigma tersebut.

Inventori kultural

Pertama-tama, perlu kiranya untuk menguji bagaimana ideologi bekerja. Hall memualianya dengan membincang pengaruh hipotesis Shapir-Whorf dalam antropologi linguistik yang mengatakan bahwa sebuah ide, meskipun tidak pernah dicantumkan secara detil, menyarankan beberapa keberlangsungan penting antara paradigma baru dan beberapa karya sebelumnya, khususnya dalam antropologi sosial. Hipotesis tersebut menyarankan bahwa masing–masing budaya mempunyai cara berbeda dalam mengklasifikasi dunia. Skema tersebut akan direfleksikan dalam struktur linguistik dan semantik masyarakat yang berbeda-beda. Artinya, masing-masing masyarakat memiliki kekhususan dalam mengekspresikan pandangan mereka terkait dunia melalui bahasan-bahasa yang berbeda pula.

Levi Strauss awalnya bekerja dalam ide serupa, meskipun secara perlahan menjadi kurang begitu tertarik pada kekhususan kultural dari masing-masing sistem klasifikasi masyarakat dan lebih senang membuat garis besar ‘hukum’ universal penandaan (tata-bahasa kultural transformasional yang berlaku universal, yang umum untuk semua sistem kultural) yang berkaitan dengan fungsi kognitif (hukum pikiran) dan dengan pemikiran. Ia mengemukakan analisis sistem kultural dan mitos dari yang biasa disebut masyarakat-masyarakat primitif (‘masyarakat tanpa sejarah’). Temuan Strauss memang menekankan universalisme karena sistem kultural mereka sangatlah repetitif, seringkali terdiri atas kesatuan dari transformasi yang berbeda-beda tentang ‘rangkaian’ klasifikatori yang sangat terbatas. Artinya, masyarakat di planet ini sebenarnya memiliki struktur berpikir dalam memformulasi dan mentransformasi kebudayaan dalam keterbatasan skema biner. Meskipun pendekatan itu tidak dengan jelas mengikat untuk masyarakat dengan transformasi historis yang lebih luas dan kontinyu, ide umumnya membutktikan sesuatu yang sangat penting. Ia menunjukkan bagaimana kontruksi yang tampak ‘bebas’ dari wacana ideologis partikular bisa dilihat sebagai transformasi yang bekerja pada jejaring ideologis yang sama dan mendasar. Levi Strauss, mengikuti Saussure, menyerukan pentingnya pengembangan ilmu tanda secara umum, yakni semiologi: sebuah kajian kehidupan tanda-tanda pada jantung kehidupan sosial. Secara potensial, pendekatan tersebut bisa diterapkan untuk semua masyarakat dan beragam sistem budaya. Nama lain yang berada dalam ranah tersebut adalah Roland Barthes, pemikir yang mempopulerkan semiologi. Dalam karyanya Myhtologies, ia banyak mengkaji titik pertemuan antara mitos, bahasa, dan ideologi. Kajiannya—yang mengatakan bahwa keseluruhan masyarakat dan tindakan sosial tidak terpisah dari bahasa juga bisa dianalisis dengan ‘model bahasa’—selanjutnya banyak dikembangkan, khususnya dalam strukturalisme Marxis, meskipun asal-usul dari ide tersebut sudah ditemukan dalam karya Levi-Strauss yang menganalisis relasi kekerabatan dalam masyarakat primitif dengan cara tersebut (semisal, tentang model komunikatif—pertukaran barang, pesan, dan perempuan).

Kecenderungan strukturalis dalam perkembangannya menjadi yang paling signifikan secara teoretis. Dalam pendekatan strukturalis, isu mengarah pada masalah penandaan. Hal ini mengimplikasikan bahwa benda-benda dan peristiwa-peristiwa dalam jagat nyata tidak memuat atau menawarkan makna mereka sendiri yang integral, tunggal, dan intrinsik, yang kemudian hanya ditransfer melalui bahasa. Makan merupakan produksi sosial, sebuah tindakan. Jagat harus dibuat bermakna. Bahasa dan simbolisasi merupakan alat yang mana makna diproduksi. Pendekatan ini menggusur dalil referensial bahasa, yang berlangsung dalam analisis konten, di mana makna dari terma-terma partikular atau kalimat bisa divalidasikan secara sederhana dengan melihat pada apa yang menjadi referensi dalam jagat nyata. Sebaliknya, bahasa dilihat sebagai medium di mana makna spesifik diproduksi.

Apa yang kemudian menjadi isu adalah jenis makna apa yang dikonstruksi secara sistematis dan reguler di seputar peristiwa-peristiwa partikular. Karena makna tidak langsung ada tetapi diproduksi, dan jenis-jenis makna yang berbeda bisa diarahkan pada peristiwa yang sama. Jadi agar satu makna diproduksi secara reguler, ia harus tampak kredibel dan legitimate atau bisa diterima apa adanya untuk dirinya sendiri. Dalam skema demikian, makna-makna yang lebih disukai dalam masyarakat bisa dikonstruksi secara lebih dominan dibandingkan makna-makna alternatif yang bertentangan dengan pandangan umum. Akibatnya, akan memunculkan marjinalisasi, penurunan-derajat atau delegitimasi makna alternatif.

Dari konsep tersebut, kita bisa memunculkan beberapa pertanyaan: (1) bagaimana wacana dominan menjamin dirinya sebagai penjelasan, dan memberikan batasan, melarang definisi-definisi alternatif atau yang bertentangan?; (2) bagaimana institusi-institusi yang bertanggung jawab untuk mendeskripsikan dan menjelaskan peristiwa-peristiwa di jagat ini—masyarakat modern, media massa—berhasil dalam melangsungkan tingatakan makna yang disukai dan terbatas dalam sistem dominan komunikasi? Bagaimana kerja aktif dari mengutamakan rasa suka terpenuhi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengarahkan perhatian pada banyak aspek praktik media yang sebelumnya sudah dianalisis dengan cara-cara teknis. Pendekatan konvensional pada konten media mengasumsikan bahwa masalah seleksi dan eksklusi hanyalah masalah teknis. Misalnya, editing penjelasan-penjelasan secara bersamaan, mengembangkan penjelasan tersebut menjadi sebuah cerita, penggunaan tipe narasi partikular ekposisi, serta cara wacana verbal dan visual (semisal televisi) yang diartikulasikan bersama-sama untuk menciptakan jenis pengertian tertentu. Sejauh ini kajian konten menyentuh masalah pengaruh sosial media hanya sebatas ‘editing yang jelek’ atau mode kompleks narasi yang mungkin mengarahkan kesalahpahaman pada penonton sehingga mencegah (a) makna yang sudah ada dari sebuah peristiwa, atau (b) tujuan broadcaster untuk berkomunikasi secara jelas, dengan melewati jalan yang tanpa interupsi dan transparan menuju penerima. Namun, dari sudut pandang penandaan, itu semua merupakan elemen atau elemen dasar dari tindakan sosial. Semua itu merupakan alat di mana penjelasan-penjelasan dikonstruksi. Penandaan merupakan tindakan sosial, karena dalam institusi media bentuk partikular organisasi sosial berkembang pemahaman bagaimana broadcaster menjalankan alat produksi makna melalui penggunaan praktis tertentu dari alat-alat tersebut (kombinasi elemen penandaan sebagaimana yang diidentifikasi di atas) agar menghasilkan produk (makna spesifik).

Kekhususan media terletak pada bagaimana cara praktik sosial diorganisir sedemikain rupa untuk memproduksi produk simbolik. Untuk mengkonstruksi makna mensyaratkan pilihan spesifik dari alat-alat tertentu dan peristiwa-peristiwa tertentu (seleksi) serta artikulasi mereka secara bersamaan (kombinasi). Linguis struktural, seperti Saussure dan Jakobson, secara dini, sudah mengidentifikasi seleksi dan kombinasi sebagai dua mekanisme esensial dari produksi makna atau pengertian. Beberapa peneliti kritis kemudian mengasumsikan bahwa deskripsi yang ditawarkan tersebut—produser, mengkombinasikan secara bersama-sama cara-cara spesifik, dengan menggunakan alat-alat yang menentukan, untuk mengola material kasar menjadi sebuah produk—menjustifikasi penandaan yang digambarkan serupa dengan proses kerja media lainnya. Yang harus diperhatikan, penandaan berbeda dengan proses kerja teknik modern (media) karena produk yang dihasilkan oleh praktik sosial merupakan objek diskursif. Apa yang kemudian membedakannya dalam praktik adalah artikulasi secara bersamaan dari elemen sosial dan simbolik. Mobil, mempunyai nilai simbolik dalam budaya kita, sebagai tambahan pada nilai tukar dan gunanya. Namun, dalam proses konstruksi makna, nilai tukar dan guna tergantung pada nilai simbolik yang dibawa pesan. Karakter simbolik dari tindakan merupakan elemen dominan meskipun bukan satu-satunya. Pemikir kritis yang berargumen bahwa sebuah pesan bisa dianalisis hanya sebagai bentuk lain komoditas melupakan pembedaan krusial tersebut. (bersambung)

Share This:

About Ikwan Setiawan 161 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*