KELISANAN DAN PSIKODINAMIKANYA

Kelisanan sebagai realitas kultural: awalan

Di sadari atau tidak, kelisanan merupakan bagian keseharian dari kehidupan manusia hingga saat ini. Meski tradisi tulis sudah diperkenalkan semenjak dulu melalui institusi sekolah dan buku-buku cetak, namun masyarakat ternyata tidak bisa lepas sepenuhnyan dari kecenderungan menggunakan tradisi lisan dalam banyak ekspresi kulturalnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari realitas bahwa dalam komunikasi manusia masih banyak tergantung pada bahasa bunyi untuk bisa mempercakapkan gagasannya dengan manusia lainnya. Akibatnya banyak karakteristik lisan yang masih terbawa hingga saat ini. Kelisanan dengan demikian telah menjadi bagian dari kultur manusia yang melahirkan keunikan tersendiri.

Sejak zaman purba hingga modern, kelisanan selalu muncul dan menjadi bagian dari praktik budaya masyarakat. Dengan tradisi lisan sebuah masyarakat kuno menciptakan cerita dalam wujud dongeng atau legenda yang menjadi epos tersendiri bagi mereka. Mereka begitu meyakini kehebatan cerita tersebut meskipun cerita tersebut hanya diceritakan sebagai pengantar tidur. Melalui tradisi lisan pula, mereka mampu mempertahankan mantra-mantra ritual yang dianggap sakral dan oleh banyak masyarakat masih dipertahankan hingga saat ini. Dalam masyarakat modern, kita juga banyak menemukan betapa para juru kampanye, misalnya, berusaha membius para calon pemilih dengan kata-kata lisan yang disertai dengan tindakan-tindakan gestural yang begitu memikat. Bahkan seorang akademisi—yang nota bene-nya merupakan representasi dari kultur tulis—seringkali berhasil meyakinkan para koleganya dalam seminar dengan bahasa lisan dan mimik yang memukau. Sepandai apapun seseorang dalam hal teori, ketika ia kurang berhasil dalam mensosialisasikannya, maka ia dianggap kurang berhasil sebagai seorang ilmuwan.

Kondisi tersebut tentu saja menyisakan satu pertanyaan, mengapa kelisanan—dalam hal ini adalah kelisanana pertama (primary orality)—menjadi begitu penting dalam masyarakat? Bisa ditebak, pasti terdapat karakteristik-karakteristik yang menjadikannya menjadi penting. Tulisan ini berusaha mendiskusikan beberapa karakteristik kelisanan sebagaimana yang dijelaskan Walter J. Ong dalam Orality and Literacy, The Technologizing Words (1982, Routledge). Dengan menemukan karakterisik-karakteristik tersebut—sekaligus memberikan contoh-contohnya—kita akan bisa memahami implikasi kultural kelisanan bagi masyarakat.

Bunyi sebagai kekuatan dan tindakan

Bayangkan kehidupan tanpa bunyi. Pastilah semua menjadi sangat sunyi, begitu senyap. Begitupula manusia ketika tidak punya kemampuan untuk membunyikan gagasannya dalam pikirannya, maka bisa dipastikan tidak akan ada relasi dan komunikasi sosial, dan tentu saja, tidak akan ada kehidupan. Bunyi, dengan demikian, menjadi penanda utama bagi berlangsungnya tradisi kelisanan dalam masyarakat.

Dengan bunyi atau suaralah, pada awalnya manusia yang belum mengenal keberaksaraan mengidentifikasi benda-benda ataupun manusia lainnya untuk kemudian memberikan mereka nama atau label. Misalnya manusia memberikan nama hewan berkaki empat dengan suara mengembik dengan nama kambing. Nama atau label tersebut hanya bermakna ketika ia disuarakan sehingga ketika tidak disuarakan ia menjadi nothing. Ia menjadi bermakna lagi ketika para anggota komunitas menyepakati secara mufakat bahwa untuk selanjutnya ia diberi nama kambing. Hal serupa juga dialami Nabi Adam ketika Tuhan mengajarinya nama benda-benda.

Itulah mengapa dalam masyarakat bertradisi lisan, kata-kata yang disuarakan dianggap mempunyai kekuatan magis apalagi yang berkaitan dengan keberlangsungan ritual dimana kekuatan otoratif dipegang oleh para pemangku adat yang dianggap mempunyai kekuatan magis dengan mantra-mantranya. Hanya dengan bunyi yang disuarakan—dengan varian bentuknya seperti percakapan, nasehat, mantra, dan lain-lain—proses sosio-kultural dalam masyarakat berlangsung. Karakteristik yang akan kehilangan maknanya ketika dihentikan, pada akhirya menciptakan sebuah relasi yang dinamis dalam masyarakat bertradisi lisan.

Dengan karakteristik demikian, kebudayaan dalam masyarakat bertradisi lisan kemudian diajarkan pula dengan kekuatan bunyi. Seorang pemangku adat ketika mengajarkan mantra-mantra kepada murid-muridnya, melarang mereka untuk mencatat, karena dianggap akan menghilangkan kesakralan dan daya magis mantra-mantra yang akan diajarkan. Untuk bisa memperoleh pengetahuan mendalam tentang mantra, seorang murid harus menghafal dan mengucapkannya secara berulang-ulang. Ketika hal itu sudah dijalani, maka si murid akan dengan mudah memahami apa-apa yang diajarkan gurunya dan pada masa mendatang tidak akan mudah lupa mantra-mantra tersebut.

Ingatan sebagai kunci: ucapan-ucapan mnemonic dan formulaik

Karena kata yang dibunyikan merupakan bagian terpenting dalam masyarakat bertradisi lisan—yang tidak hanya mempengaruhi bentuk eskpresi tetapi juga pemikiran, maka ingatan menjadi kunci utama dalam relasi sosio-kultural. Karena tidak ada referensi tulis yang setiap saat bisa dibaca dan dipelajari, maka ketika akan melakukan sebuah tindakan atau menyelesaikan masalah tertentu mereka akan merujuk pada apa-apa yang dituturkan oleh para sesepuh untuk kemudian menggunakannya. Maka, ingatan menjadi kunci utama karena tanpa ingatan yang baik, keberlangsungan sistem tradisi dalam masyarakat akan terganggu.

Untuk mempermudah “proses mengingat” maka dalam masyarakat bertradisi lisan tuturan-tuturan dari para sesepuh harus mudah diingat. Untuk menjadi mudah diingat maka pikiran-pikiran yang akan disuarakan kembali lebih bersifat mnemonics, diciptakan untuk mudah diulang-ulang secara lisan. Untuk bisa menjadi mnomonics maka pikiran-pikiran kita harus bernuansa ritmik, mempunyai bentuk-bentuk yang serba seimbang, repetitif atau antitesis, alliteration dan assonance, epithetic serta ekspresi-ekspresi formulaik lainnya. Di samping itu, setting tematik yang diusung juga mesti standard, semisal tentang kepahlawanan maupun cerita-cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga masyarakat akan mudah mengingatnya. Dalam peribahasa, misalnya, kita bisa menemukan betapa teknik tuturan yang dipakai banyak yang mengedepankan model mnemonics sehingga anggota masyarakat akan mudah mengingatnya. Berakit-rakit kita ke hulu/berenang-renang ke tepian/bersakit-sakit dahulu/bersenang-senang kemudian.

Sifat mnemonics dalam kebudayaan lisan juga mensyaratkan penciptaan-penciptaan formula pemikiran dan tuturan yang biasanya bersifat ritmik, berirama. Maka tidak mengherankan bahwa dalam pantun, misalnya, kita akan banyak menemukan irama yang dibangun melalui struktur persajakan yang cukup sederhana dan sangat mudah untuk diingat. Suwe ora jamu, jamu godhong telo/Suwe ora ketemu, ketemu pisan ning ati gelo. Pantun seperti itu, dalam masyarakat Jawa tidak pernah disebarkan secara tulis, tetapi dari mulut ke mulut atau melalui tetembangan yang kemudian didengar banyak orang. Karena karakteristiknya yang cukup formulaik, maka pantun itu sampai sekarang masih diingat dan banyak digubah untuk lagu-lagu tradisional.

Sifat mnemonics dan formulaik, bisa dikatakan merupakan inti dari kebudayaan dalam masyarakat bertradisi lisan. Itulah mengapa pengulangan sebuah tradisi yang atau cerita dalam bentuk ritual-ritual tertentu masih tetap saja berlangsung hingga saat ini di masyarakat yang masih bertradisi lisan. Dengan ritual-ritual yang diulang-ulang itulah para sesepuh bisa melakukan transfer pengetahuan dan tradisi secara lisan kepada anggota masyarakat lainnya. Dalam masyarakat bertradisi lisan, pengalaman diintelektualkan secara berulang-ulang. Artinya melalui ritual-ritual itulah para sesepuh adat bisa melakukan transfer pengalaman yang mereka peroleh dari para pendahulu kepada generasi yang lebih muda. Melalui pengulangan-pengulangan itulah sebuah kebudayaan bisa tetap terjaga hingga saat ini, meskipun sebagian generasi muda sudah mengenyam pendidikan.

 

Karakteristik-karakteristik lain dari pikiran dan ungkapan berbasis lisan

Dengan menyadari sifat mnemonics dari pikiran dan ungkapan berbasis lisan, kita akan bisa memahami secara mendalam beberapa karateristik lain pikiran dan ungkapan berbasis lisan dalam masyarakat bertradisi lisan. Menariknya, sebenarnya beberapa karakteristik yang akan dibahas di sini juga bisa kita temui dalam tradisi tulis, terutama yang berhubungan dengan kitab suci dan karya sastra.

 

  1. Aditif daripada subordinatif

Ong memberikan contoh tentang karakteristik aditif ini berdasarkan struktur cerita tentang penciptaan dunia yang diperoleh dari Genesis. Salah satu unsur dari struktur cerita yang aditif adalah banyak digunakannya kata sambung ‘dan’ yang menunjukkan penambahan. “Pada awalnya, Tuhan menciptakan surga dan bumi. Dan bumi masih dalam keadaan tak berpenghuni, dan kegelapan melukis dalam kedalaman, dan ruh Tuhan bergerak di atas permukaan air. Dan Tuhan bersabda: Jadilah cahaya. Dan jadilah cahaya…”.

Dengan struktur aditif tersebut, cerita bisa mengalir dengan kontinyu dan lancar, sambung-menyambung. Dari peristiwa yang satu muncul peristiwa yang lain dan begitulah seterusnya. Masing-masing kalimat dalam cerita itu saling mempunyai posisi yang sejajar dan tidak bersifat subordinatif satu sama lain. Cerita dalam tradisi lisan lebih bersifat natural dan pragmatis sehingga orang yang mendengarkan akan mudah mengikuti dan seperti terbawa masuk serta menjadi bagian dari cerita tersebut.

 

  1. Agregatif daripada analitik

Karena tradisi lisan mendasarkan transformasi pengetahuannya berdarakan ingatan, maka karakteristik lain yang muncul adalah cara berpikir dan berujar secara agregatif. Artinya, tidak seperti budaya tulis yang lebih memilih untuk menuliskan sesuatu apa adanya untuk memenuhi standard ilmiahnya, budaya lisan seringkali menambahkan ungkapan lain ketika hendak mengatakan atau menunjukkan sesuatu. Kalau dalam budaya tulis cukup dikatakan ‘si pendekar’, maka dalam budaya lisan menjadi ‘si pendekar yang sakti mandraguna’. Dalam tradisi tulis mungkin ‘si pendekar’ tidak harus ditambahi penjelasan yang sepertinya terlalu berlebihan, melainkan penjelasan yang masuk kategori analitik, semisal si pendekar mempunyai ilmu beladiri yang bisa digunakan untuk mengalahkan musuh-musuhnya’. Namun, dalam tradisi lisan, ungkapan analitis seperti itu akan menyulitkan proses mengingat. Penggunaan ekspresi ‘yang sakti mandraguna’ ini tentu saja memberikan kesan bahwa hal itu tidak bisa dipisahkan dari ‘si pendekar’ dan sudah baku. Disamping itu juga memberikan kesan ‘lebih’ sehingga mudah untuk diingat dan lebih patriotis ketika diceritakan kembali kepada anggota masyarakat yang lain.

 

  1. Redundan atau copious

Redundan secara sederhana bisa didefinisikan sebagai repetisi dari apa-apa yang baru saja diungkapkan. Hal ini menjadi kondisi penting bagi keberlangsungan transformasi pengetahuan dalam tradisi lisan. Kalau dalam tradisi tulis, untuk melihat kembali apa-apa yang sudah dibaca, kita bisa mengulangi pembacaan pada topik-topik yang disesuaikan dari bacaan sebelumnya, maka dalam tradisi lisan hal itu tidak mungkin dilakukan karena sebuah topik bahasan berlangsung dengan medium bunyi/suara. Agar proses transfer pengetahuan bisa berlangsung dengan lancar dan tepat, maka pengulangan dari apa-apa yang baru disampaikan menjadi sangat penting.

Yang harus dipahami adalah bahwa proses transformasi pengetahuan, pidato publik ataupun percakapan biasa berlangsung dalam situasi komunikasi langsung, face to face. Agar apa-apa yang disampaikan menjadi gampang diikuti dan dimengerti, maka mengulangi sebagian pembicaraan sebelumnya menjadi pilihan yang harus dilaksanakan. Redundansi juga sangat penting ketika si penyampai/orator takut kalau para pendengarnya kurang mengerti atau lupa apa-apa yang baru disampaikan. Ia bisa saja mengulang sebagian pembicaraan sebelumnya atau dengan menggunakan ungkapan lain yang bermakna sama, semisal ‘tidak hanya’ bisa diganti dengan ‘tetapi juga’.

 

  1. Konservatif atau tradisionalis

Realitas bahwa budaya kelisanana pertama mengkonseptualisasikan pengetahuan tidak langsung selesai dalam sekali kesempatan, maka masyarakat lisan harus menginvestasikan energi besar untuk terus mengatakan dan mengungkapkan secara terus-menerus apa-apa yang mereka pelajari sebelumnya. Untuk itulah masyarakat lisan menciptakan sebuah tatanan pemikiran yang tradisionalis atau konservatif yang dengan alasan-alasan tertentu menjadi mengembangkan eksperimen-eksperimen intelektual dengan cara mereka sendiri.

Dengan pola pikir semacam itu, maka masyarakat lisan cenderung menganggap pengetahuan tidak bisa muncul secara tiba-tiba dan sangat berharga. Maka dari itu para sesepuh, baik laki-laki maupun perempuan, yang mempunyai pengetahuan tentang apa-apa yang terjadi pada masa lampau, mendapat posisi terhormat dalam masyarakat. Tidak mengherankan mengapa dalam masyarakat lisan, para pemangku adat menjadi otoritas yang sangat berpengaruh sehingga anggota masyarakat seringkali menganggap apa-apa yang diomongkan menjadi ‘dalil-dalil’ yang harus dijalankan. Mereka juga sering meminta bantuan para pemangku adat ketika menghadapi masalah-masalah tertentu. Orang-orang yang bisa menuturkan cerita dan tradisi masa lampau seringkali dianggap sebagai orang sakti yang mengerti berbagai persoalan di dunia maupun nirwana.

Tidak hanya dalam hal adat dan tradisi, para pemuka agama yang berada dalam masyarakat bertradisi lisan, juga memperoleh posisi yang otoritatif. Seorang kyai, misalnya, dalam masyarakat Islam yang masih bertradisi lisan menempati posisi yang dalam banyak han melebihi posisi para tokoh formal, seperti kepala desa atau camat. Bahkan karena menganggap kyai sebagai orang yang banyak tahu tentang agama, adalah hal yang biasa kalau anggota masyarakat di Jember, misalnya, berebut untuk mencium tangannya karena dianggap akan mendatangkan berkah. Ketika seorang berkata ‘X’, maka anggota masyarakat akan melakukan ‘X’ pula. Kondisi inilah yang seringkali digunakan oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan politik tertentu untuk memuluskan ambisi-ambisi mereka. Mereka akan mendekati seorang kyai dengan memberikan fasilitias-fasilitas tertentu demi memperoleh legitimasi sehingga kepentingan politik mereka di dalam masyarakat bisa terpenuhi.

Namun, dalam konteks masyarakat lisan yang ingin tetap mempertahankan tradisi leluhurnya, peran seorang pemangku adat bisa dipandang dari sudut pandang yang positif. Pengetahuan dan otoritas mereka, merupakan modal bagi kontiyuitas tradisi leluhur karena seringkali dikatakan bahwa selama tradisi leluhur dijalankan, maka masyarakat akan selalu merasa aman dan terhindar dari bahaya-bahaya tertentu. Dalam masyarakat Tengger (masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah pegunungan Bromo), peran seorang dukun[1] menjadi penting dalam usaha untuk mempertahankan tradisi leluhur. Seorang dukunlah yang memimpin ritual-ritual yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang, seperti ritual Kasada. Pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat mengatakan bahwa selagi ritual ini masih dijalankan dan masyarakat Tengger masih memegang teguh tradisi nenek moyang, maka mereka akan tetap selamat dari ancaman bencana sehingga mereka akan tetap sejahtera. Bagi masyarakat Tengger, seorang dukun harus dihormati dan tidak boleh dilanggar petuah-petuahnya, karena dia adalah penjaga tradisi.

 

  1. Dekat dengan kehidupan manusia

Karena tidak mempunyai kategori analitik yang bisa menstrukturkan pengetahuan seperti dalam budaya tulis, maka budaya lisan mengkonseptualisasikan dan memverbalkan semua pengetahuan dengan referensi yang dekat dan berhubungan dengan kehidupan manusia serta apa-apa yang ada di dunia tempat mereka berdomisili. Dengan demikian tidak ada jarak antara pengetahuan dengan kehidupan masyarakat. Inilah yang menyebabkan sebuah pengetahuan lisan menjadi mudah diwariskan secara lisan karena para anggota masyarakat akan langsung bisa melihat langsung apa-apa yang diutarakan oleh si empunya pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari mereka sekaligus mempraktikkannya.

Pada jaman dahulu sebelum ditemukannya alat untuk mendeteksi cuaca, para petani akan menggunakan patokan bintang sebagai patokan datangnya musim hujan atau kemarau sehingga mereka sudah bisa menentukan kapan harus menanam padi ataupun kapan harus menanam jagung. Begitupula tentang pengetahuan bercocok tanam. Mungkin seorang anak akan menimba pengetahuan langsung dari orang tuanya sekaligus membantu mereka di sawah. Begitupula tentang pemberian nama pada jaman dahulu yang lebih dekat dengan nama-nama binatang, peralatan, ataupun hari. Maka tidak heran kalau orang-orang pada zaman dahulu ada yang bernama Rebo, Kliwon, Wage, Kebo Anabrang, Gadjah Mada, dan lain-lain. Bisa dikatakan bahwa kehidupan dunia dan segala isinya merupakan referensi bagi transformasi dan pembelajaran pengetahuan yang cukup efektif bagi masyarakat bertradisi lisan.

 

  1. Bernada agonistik

Karena melekat dalam kehidupan manusia, maka dalam masyarakat bertradisi lisan pengetahuan cenderung bernada agonistik. Artinya pengetahuan ditempatkan dalam konteks perjuangan atau pertarungan hidup. Peribahasa atau pantun tidak secara sederhana digunakan semata-mata untuk menyimpan dan menyampaikan pengetahuan, tetapi untuk mengikat orang lain dalam pertarungan verbal dan intelektual: ungkapan dari peribahasa atau tebakan yang dilontarkan seseorang menantang pendengar untuk membalasnya dengan peribahasa atau pantun yang lebih baik ataupun bertentangan. Meskipun konteks yang muncul dari peristiwa tersebut cenderung berlangsung damai, namun kita bisa menemukan bagaimana pertarungan mewujud dalam usaha untuk membuat peribahasa atau pantun yang baik. Bahkan dalam sense yang lebih negatif, kita bisa melihat betapa anak-anak saling berolok-olok tentang orang tua ataupun kekurangan mereka masing-masing ketika mereka terlibat sebuah perselisihan. Olok-olok melalui ungkapan verbal yang cenderung kasar ini memperlihatkan betapa prinsip pertarungan dalam masyarakat lisan sangat kental.

Konteks perjuangan juga bisa kita temukan dalam legenda-legenda kepahlawanan pada tiap-tiap masyarakat di jagat ini. Dalam legenda kepahlawanan kita seringkali menemukan cerita tentang perjuangan fisik seorang pahlawan dalam menaklukkan musuh-musuh manusianya maupun monster, jin, serta ganasnya alam liar. Dalam dongeng Yunani, misalnya, sosok Hercules maupun Odesius selalu digambarkan manusia super yang berhasil mengalahkan musuh-musuhnya dengan kesaktian yang tidak dimiliki setiap orang. Bahkan cerita film-film laga Hollywood masa kini masih saja menemukan bagaimana seorang Superman, Batman, ataupun Spiderman berhasil mengalahkan musuh-musuhnya dan menyelamatkan masyarakatnya. Sekali lagi, hal itu menunjukkan betapa sifat agonistik selalu mewarnai setiap kebudayaan manusia, baik pada level kelisanan pertama maupun kelisanan kedua yang sudah bercampur dengan tradisi tulis.

 

  1. Empatetik dan partisipatori

Dalam budaya lisan proses belajar ataupun mengetahui berarti menjalani identifikasi yang begitu dekat, empatetik, dan komunal dengan yang perlu diketahui (the known), bersama-sama dengannya. Sementara budaya tulis cenderung memisahkan para pencari tahu (the knower) dengan yang perlu diketahui sehingga membentuk syarat-syarat bagi ‘objektivikasi’, dalam hal ketidakterikatan atau keberjarakan personal. Dalam budaya lisan kedetakatan, pengalaman merasakan, serta partisipasi menjadi syarat mutlak bagi mereka yang ingin mendapatkan pengetahuan tertentu.

Dalam budaya lisan, antara seorang pencerita/pendongeng dengan para pendengarnya bisa dikatakan tidak ada jarak. Si pendongeng dengan ungkapan-ungkapan formulaiknya dan mimiknya yang khas bisa dengan berapi-api menceritakan dongeng tentang Kancil, misalnya. Sementara para penonton atau pendengarnya dengan asyik membayangkan diri mereka terlibat di dalamnya. Dalam kesenian-kesenian rakyat, jarakpun menjadi hilang dengan sendirinya. Ketika para pemain Jathilan/Jaranan beratraksi, misalnya, penonton biasanya mengerumuni mereka dan membentuk lingkaran manusia. Dalam model transformasi pengetahuan tradisi, dalam masyarakat tertentu juga mensyaratkan keterlibatan langsung si cantrik dengan apa-apa yang dilakukan gurunya. Di masyarakat Tengger, misalnya, seseorang yang ingin belajar mantra serta tata cara ritual agar mereka bisa berkesempatan menjadi dukun, ia akan mengikuti kemanapun si dukun pergi sambil membantunya dalam mempersiapkan ritual. Dengan partisipasi seperti ini, si cantrik akan bisa menimba secara langsung kepada si dukun, di samping ia juga bisa mendapatkan pelajaran tentang mantra di rumah si dukun.

  1. Homeostatik

Karakteristik lain dari tradisi lisan adalah homeostatik. Artinya, masyarakat lisan hidup dalam masa kini dengan menjada dirinya dalam keseimbangan atau homeostatik dengan membuang memori-memori yang sudah tidak relevan lagi di masa kini. Hal itu tentu berbeda dengan budaya tulis yang mempunyai kamus di mana dengannya kata-kata dengan maknanya bisa tersimpan dalam sebuah database lengkap yang setiap saat bisa dibuka dan digunakan kembali dalam konteks kekinian. Dalam budaya lisan, makna kata dikendalikan oleh ratifikasi semantik secara langsung, yang mana kata digunakan dalam situasi langsung, pada suatu tempat dan waktu masa kini.

Kata-kata memperoleh maknanya hanya dari habitat aktual mereka yang berlangsung saat ini yang mana mensyaratkan gesture, infleksi vokal, ekspresi fasial, dan keseluruhan manusia, sebuah setting eksistensial di mana kata-kata yang diucapkan berlangsung. Dengan demikian kata-kata yang tidak memenuhi kriteria tersebut—meskipun makna masa lampaunya selalu dibentuk dalam kehidupan masa kini dengan berbagai cara—tidak akan lagi digunakan. Maka tidak mengherankan ketika generasi muda saat ini gampang sekali meninggalkan tradisi-tradisi kuno yang ditransformasikan secara kaku dan tidak sesuai dengan konteks kekinian. Mereka lebih memilih atraksi-atraksi yang membawa semangat kekinian meskipun pada dasarnya berupa transformasi wujud kelisanan pertama menjadi kelisanan kedua, seperti banyak disuguhkan televisi saat ini. Legenda Sangkuriang, bagi generasi muda, mungkin lebih menarik ketika digarap dalam bentuk sinema televisi yang disesuaikan dengan kehidupan anak muda masa kini, daripada harus mendengarkan seorang pendongeng bercerita.

 

  1. Situasional

Budaya lisan cenderung menggunakan konsep-konsep pengetahuan dalam kerangka referensi yang situasional dan bersifat operatif sehingga meminimalkan abstraksi—berkebalikan dengan budaya tulis—dan lebih mendekatkan konsep dengan kehidupan manusia yang sebenarnya. Dalam budaya lisan, pemikiran tentang sebuah konsep tidaklah bersifat abstrak, tetapi lebih banyak mengambil rujukan langsung dari pada apa-apa yang dikenal dan biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Implikasi dari pemikiran seperti itu adalah tidak adanya klasifikasi yang terlalu abstrak dalam masyarakat lisan. Klasifikasi lebih didasarkan pada nilai kegunaannya bagi masyarakat yang bersangkutan.

Ketika seorang warga masyarakat bertradisi lisan disuruh menjelaskan apa itu ‘pohon’, maka tidak akan bisa menjelaskan apa definisi pohon secara abstrak, tetapi ia akan lebih memilih menunjuk langsung pada pohon yang biasa mereka temui. Pohon ya pohon, tidak perlu dijelaskan lagi.

 

Budaya ‘verbomotor’, interioritas bunyi, komunalitas, dan kesakralan

Dari penjelasan tentang karakteristik kelisanan di atas, kita bisa melihat betapa masyarakat bertradisi lisan sangat bergantung sepenuhnya pada peran tuturan lisan dalam membangun sistem sosial dan struktur masyarakatnya. Kondisi itulah yang kemudian melahirkan konsep budaya verbomotor. Budaya verbomotor merupakan budaya dimana praktik tindakan dan sikap terhadap isu-isu tertentu secara signifikan lebih bergantung pada penggunaan efektif kata-kata sehingga pada interaksi manusia lebih didasarkan pada pernjumpaan dan komunikasi verbal.

Berlangsungnya budaya verbomotor dalam masyarakat lisan berpengaruh pada pola masyarakat yang lebih bersifat komunal. Masyarakat dengan budaya lisan merasa menjadi satu kesatuan yang mengikat mereka secara psikis melalui interaksi dan komunikasi lisan. Dari percakapan lisanlah mereka mendapatkan informasi dan pengetahuan dari orang-orang lain dalam satu komunitas sehingga sistem yang berkembang adalah keterbukaan, berbeda dengan budaya tulis yang cenderung mengembangkan sistem tertutup dan menghilangkan partisipasi langsung. Apa-apa yang menjadi isu atau persoalan dalam masyarakat lisan akan dengan cepat menyebar kepada anggota masyarakat lain, melalui ungkapan-ungkapan verbal. Itulah mengapa ketika ada berita tentang seorang pemuda warga dusun yang dikeroyok oleh pemuda dusun lain akan segera mendapat reaksi cepat dari warga kampung tersebut yang diikuti dengan rasa solidaritas untuk membalas dendam sehingga terjadilah tawuran antarkampung. Tradisi ‘amuk’ yang merupakan bagian dari berlangsungnya budaya verbomotor dalam masyarakat lisan. Selain itu, budaya verbomotor juga menghasilkan tradisi gotong-royong untuk membantu pihak lain yang membutuhkan atau untuk memperbaiki fasilitas-fasilitas umum karena mereka merasa terikat dalam komunalitas secara psikis.

Akar dari berlangsungya budaya di atas adalah interioritas bunyi, kedalaman makna dari bunyi yang ditransfer lewat ucapan. Dalam masyarakat lisan yang tidak mengenal tradisi tulis visual, bunyi yang mereka dengar dari ucapan orang lain, merupakan sarana penting yang menjadikan manusia sadar akan posisinya dalam kosmos. Pengetahuan yang didapatkan dari kata yang dibunyikan mengarahkan manusia untuk menyatu dengannya sehingga ia akan merasa menjadi bagian dari kosmos lahirnya pengetahuan tersebut. Bunyi dengan demikian mampu menciptakan kedalaman psikis dari manusia yang berpengaruh pada terciptanya harmoni dalam masyarakat.

Perasaan menyatu dalam komunalitas inilah yang menjadikan ritual-ritual tradisi maupun ritual-ritual agama selalu dilaksanakan dalam konteks kelisanan pertama. Ketika seorang dukun Tengger membacakan mantra dalam ritual Kasada, misalnya, maka masyarakat Tengger dengan hikmat mendengarkannya sambil menghayatinya karena dengan demikian mereka bisa merasa menyatu dengan konteks mantra yang dibacakan si dukun. Demikian pula para jamaah sholat ataupun peribadatan di gereja yang dengan khusuk mendengarkan doa dari imam atau pastur demi memperoleh derajat kesakralan tertentu sehingga mereka bisa menyatu dengan nilai-nilai doa yang sedang dibacakan. Dengan kata lain, kelisanan merupakan sarana yang sangat efektif untuk tetap menjaga kesakralan ritual dalam sebuah masyarakat karena ia tidak lagi menimbulkan jarak tetapi menyatukan warga masyarakat dalam kekhusukan mantra atau doa.

Komunalitas dalam kesakralan, pada perkembangannya, sering digunakan oleh pihak-pihak yang punya kepentingan politis untuk melaksanakan ambisi-ambisi politiknya di masyarakat target. Hal itu dilakukan dengan ‘mendekati’ pihak otoritas dalam masyarakat tersebut. Hal ini pernah terjadi di masyarakat Tengger pada era 70-90-an. Partai Golkar mendekati kepala dukun dan menawarinya posisi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Probolinggo serta janji-janji untuk memberikan fasilitas yang lebih baik kepada masyarakat Tengger di wilayah Kabupaten Probolinggo. Hasilnya, sebagian besar masyarakat Tengger di wilayah Probolinggo mencoblos Golkar karena si kepala dukun sebagai orang yang dituakan menyarankan kepada mereka untuk masuk Golkar. Tentu saja peristiwa tersebut adalah pengaruh dari kuatnya tradisi lisan yang sekedar dimanfaatkan oleh pihak-pihak politis. Dan, rupa-rupanya kecenderungan tersebut masih kuat hingga saat ini.

[1] Dukun menurut adat Tengger merupakan pemangku adat yang bertugas mempimpin ritual-ritual yang ada dalam masyarakat. Masing-masing desa di wilayah Tengger—baik di Probolinggo, Pasuruan, Malang, maupun Lumajang—mempunyai satu seorang dukun. Sementara keseluruhan wilayah Tengger yang meliputi keempat kabupaten itu dipimpin oleh seorang Kepala Dukun yang diangkat berdasarkan rapat keseluruhan dukun Tengger. Beberapa calon Kepala Dukun diuji terlebih dahulu tentang penguasaannya terhadap mantra dan tata cara ritual Tengger. Calon yang dianggap paling mumpuni kemudian akan diangat menjadi Kepala Dukun. Penjelasan ini diperoleh penulis ketika melakukan penelitian etnografi Tengger pada tahun 2003-2004.

Share This:

About Ikwan Setiawan 161 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*