darah-dan-doa

LAYAR BERKEMBANG BUDAYA MENGHADANG: Paradoks budaya bangsa dalam perkembangan film Indonesia

April 6, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini berusaha untuk menelusuri geneaologi kuasa budaya bangsa dalam perkembangan film Indonesia, dari masa Sukarno hingga “Orde Reformasi” saat ini. Asumsi kritis yang mendasari tulisan ini adalah bahwa pengetahuan tentang budaya bangsa yang dibangun oleh aparatus-aparatus hegemonik melalui penyebaran wacana ke dalam kesadaran dan imajinasi masyarakat telah melahirkan rejim kebenaran yang menjadi patokan untuk memberikan penilaian, mengatur, ataupun membicarakan film Indonesia, baik yang dilakukan oleh birokrat seni, budayawan, kritikus, maupun sineas film itu sendiri. Kondisi inilah yang memunculkan tegangan-tegangan diskursif di antara mereka yang mendukung hegemoni melalui budaya maupun yang menentangnya. Untuk bisa sampai ke dalam permasalahan tersebut, tulisan ini akan menggunakan analisis wacana kritis yang dikembangkan dari pikiran-pikiran Michel Foucault tentang wacana dan kuasa/pengetahuan.

kelisanan-640x480

KELISANAN DAN PSIKODINAMIKANYA

April 6, 2016 Ikwan Setiawan 0

Di sadari atau tidak, kelisanan merupakan bagian keseharian dari kehidupan manusia hingga saat ini. Meski tradisi tulis sudah diperkenalkan semenjak dulu melalui institusi sekolah dan buku-buku cetak, namun masyarakat ternyata tidak bisa lepas sepenuhnyan dari kecenderungan menggunakan tradisi lisan dalam banyak ekspresi kulturalnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari realitas bahwa dalam komunikasi manusia masih banyak tergantung pada bahasa bunyi untuk bisa mempercakapkan gagasannya dengan manusia lainnya. Akibatnya banyak karakteristik lisan yang masih terbawa hingga saat ini. Kelisanan dengan demikian telah menjadi bagian dari kultur manusia yang melahirkan keunikan tersendiri.

raja-jawa

BUDAYA DAN KUASA: Pandangan cultural studies

April 6, 2016 Ikwan Setiawan 2

Ketika budaya secara natural mampu ‘menyamarkan’ atau bahkan ‘meniadakan’ kepentingan-kepentingan kelas kuasa, maka budaya, sekali lagi, bukanlah entitas netral, tetapi memiliki kepentingan yang bersifat ideologis yang akan menegakkan dan memapankan kuasa dalam formasi sosial masyarakat. Tulisan ini berangkat dari asumsi kritis tersebut dan secara konseptual akan berusaha membedah persoalan ideologi dan kuasa yang ada dalam wacana dan praktik kultural masyarakat. Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mengatakan bahwa semua budaya yang hidup dalam masyarakat kita sebagai praktik yang jelek dan penuh kepentingan tendensius. Tulisan ini merupakan analisis dan refleksi kritis terhadap praktik kultural partikular yang di dalamnya terdapat kepentingan-kepentingan kuasa yang secara kasat mata tampak bukan sebagai kepentingan tetapi tradisi yang sudah biasa dijalani.