MENULIS ARTIKEL TENTANG BUDAYA LOKAL: Kecenderungan tematik, teknik penulisan, dan kepentingan

Awalan

Pada tahun 2003, sewaktu masih menjadi dosen muda, saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan riset lapangan tentang jaranan di Balung, Jember. Sewaktu saya menonton jaranan di beberapa desa, sebagian besar dari para seniman bertanya-tanya: “Untuk apa, Mas, kok penelitian jaranan? Apanya yang menarik? Mosok orang kesurupan diteliti?” Jujur, saya juga sempat kaget dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Betapa para seniman tersebut tidak menyadari bahwa kesenian mereka telah lama menjadi objek penelitian para ilmuwan mancanegara maupun dalam negeri. Kemudian, mulai muncul pertanyaan dalam benak saya: “Jangan-jangan selama ini belum ada akademisi—baik dosen maupun guru—yang mau menulis dan menyebarluaskan potensi dan kompleksita kesenian jaranan di Balung kepada publik?” Berangkat dari pertanyaan sederhana itulah, dalam karir penelitian dan penulisan, saya mengarahkan fokus kepada dinamika yang berlangsung dalam kesenian dan budaya lokal, baik di Jember, Banyuwangi, Tengger (Bromo), Mojokerto, Lamongan, Tuban, Nganjuk, Solo, dan Yogyakarta.

Terpengaruh oleh omongan para seniman jaranan, tema-tema kajian yang saya angkat tidak hanya seputar keunikan estetik dan nilai-nilai filosofis kesenian lokal bagi kehidupan masyarakat, tetapi juga sampai aspek-aspek lain yang dialami oleh para seniman jaranan. Misalnya, berapa honor yang mereka terima? Bagaimana sistem pembagian honor? Bagaimana pengaruh honor itu dalam kehidupan para seniman? Apa yang mereka lakukan ketika sepi tanggapan? Bagaimana siasat yang dilakukan para seniman di tengah-tengah trend budaya pop yang lebih ringkas dan penuh warna? Bagaimana tanggapan anak-anak di sekolah terhadap para jathil cilik? Bagaimana tanggapan alim-ulama terhadap jaranan yang diwarnai adegan kesurupan? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menggiring kajian kepada tema dinamika, kompleksitas, dan perubahan terkait eksistensi sebuah seni pertunjukan lokal. Membincang nilai-nilai adiluhung dalam sebuah kesenian memang penting, tetapi harus juga diperkuat dengan bagaimana transformasi atau perubahan dari nilai-nilai tersebut di tengah-tengah budaya pop yang semakin menggila saat ini.

 

Kecenderungan Tematik  

Sebagai akibat dari kebijakan budaya nasional yang dimaknai sebagai kumpulan dari budaya-budaya daerah yang memiliki nilai-nilai adiluhung, keunikan, dan mampu menangkal budaya asing yang dianggap negatif, pemerintah Orde Baru membuat kebijakan terkait penulisan budaya lokal dengan fokus pada tema-tema konservasi dan pelestarian, integrasi nasional, dan pariwisata. Ini menjadikan tulisan tentang bahasa, kesenian, ritual, dan kearifan lokal lebih mengarah kepada aspek keadiluhungan budaya bangsa dan potensi pariwisata, tanpa melihat bagaimana permasalahan yang dihadapi para pelaku di tengah-tengah kompetisi dengan budaya pop yang mulai berkembang pesat di masa Orde Baru. Tidak ada yang salah dengan model tematik tersebut, karena masing-masing zaman memang akan membawa warna yang berbeda sesuai dengan kepentingan dominan.

Zaman Reformasi memunculkan kecenderungan tematik yang berbeda pula, meskipun tidak sepenuhnya menghapuskan kecenderungan di masa Orde Baru. Dibukanya sedikit kran kebebasan berpikir dan berpendapat bagi setiap warga negara, memberikan kesempatan kepada para akademisi—guru, dosen, dan peneliti—untuk meneliti dan menulis kajian-kajian terkait budaya lokal dengan bermacam tema. Semakin mudahnya akses terhadap buku dan jurnal terbitan luar negeri via internet juga menjadikan para peneliti dan penulis mendapatkan rujukan dan teori baru untuk digunakan membaca segala hal terkait budaya di masyarakat mereka. Berikut ini saya paparkan beberapa kecenderungan tematik tulisan tentang kesenian.

 

Kesenian/Seni Pertunjukan

Tema Fokus
Regenerasi kesenian lokal 1.   Usaha-usaha seniman senior dan anggota kelompok/sanggar untuk mencari dan mendidik pewaris aktif dari generasi muda;

2.   Tantangan dan permasalahan yang muncul;

3.   Sikap generasi muda;

4.   Model pelatihan dan dampaknya

Kesenian lokal di tengah-tengah trend budaya pop 1.   Mulai terpinggirkannya kesenian lokal;

2.   Trend budaya pop di masyarakat;

3.   Siasat yang dilakukan para seniman;

4.   Respons masyarakat

Kesenian lokal dan character building 1.   Nilai-nilai solidaritas dalam kelompok dan pertunjukan seni;

2.   Semangat kreatif bagi generasi penerus;

3.   Keuletan dalam proses berlatih;

4.   Kecintaan terhadap budaya sendiri;

5.   Nilai-nilai religi dalam kesenian bernuansa Islam

Kesenian lokal dan industri kreatif 1.   Aspek-aspek pertunjukan yang berpotensi ekonomi;

2.   Ketersediaan sumberdaya manusia yang berpikiran kreatif dalam kelompok;

3.   Adopsi sistem industri kreatif untuk penyebarluasan pertunjukan;

4.   Kesiapan dan respons masyarakat

Biografi seniman dan karya kreatif mereka 1.   Sejarah kehidupan seorang seniman;

2.   Usaha-usahanya untuk merintis sebuah kelompok seni;

3.   Permasalahan dan tantangan yang ia hadapi;

4.   Karya-karya yang ia telorkan.

Komposisi estetik dan nilai-nilai filosofis kesenian 1.   Struktur pertunjukan sebuah kesenian, dari awal hingga akhir; aspek gerak, lagu, dramatik, dll.;

2.   Durasi pertunjukan;

3.   Bagian-bagian penting pertunjukan;

4.   Nilai-nilai filosofis yang mencerminkan karakter masyarakat dan berguna bagi pemupukan identitas lokal.

 

Ritual/Slametan dan Kearifan lokal

Tema Fokus
Nilai-nilai kultural sebuah ritual 1.    Nilai-nilai apa yang ada dalam praktik ritual; termasuk makna-makna simbolik sesajennya;

2.    Bagaimana masyarakat mengkonstruksi identitas mereka melalui ritual;

3.    Bagaimana pemahaman masyarakat terhadap ritual; setuju, tidak setuju, atau setuju dengan catatan tertentu.

Perkembangan ritual di tengah-tengah modernitas 1.   Aspek-aspek apa saja yang berubah; apa penyebabnya;

2.   Kehidupan masyarakat di tengah-tengah modernitas;

3.   Perubahan makna dan nilai ritual;

4.   Strategi untuk melestarikan ritual

Ritual dan pariwisata 1.   Aspek-aspek ritual yang bisa dimasukkan ke dalam agenda pariwisata;

2.   Kebijakan dan perhatian pemerintah;

3.   Pengaruh pariwisata terhadap kesakralan ritual;

4.   Kontribusi pariwisata ritual terhadap budaya dan ekonomi masyarakat

 

Tentu saja, kecenderungan tematik dan fokus kajian/tulisan bisa disesuaikan dengan kondisi dan karakter sosio-kultural masing-masing masyarakat yang dijadikan objek penelitian oleh penulis. Artinya, penulis memiliki kebebasan tematik dan fokus sesuai dengan keberadaan aspek-aspek kultural di masyarakat.

 

Teknik-teknik Penulisan

Sebelum Menulis

Semua orang, apalagi guru dan dosen, pasti bisa menulis. Maka, menulis budaya lokal—apapun aspek yang dipilih—bukanlah pekerjaan susah. Namun, sebelum memulai menulis, tentu kita semua harus melakukan penelitian, baik pustaka maupun lapangan. Idealnya, dibutuhkan waktu beberapa bulan untuk meneliti sebuah budaya dalam masyarakat. Namun, tentu kita harus bisa bersiasat di tengah-tengah tugas akademik serta kesibukan rumah tangga yang menumpuk. Melakukan observasi dengan cara menonton pertunjukan seni atau ritual, datang pada waktu sekelompok anak muda berlatih hadrah atau jaranan, serta melakukan wawancara kecil dengan seniman senior, anggota sanggar, atau masyarakat penikmat, merupakan praktik penelitian yang bisa kita lakukan di tengah-tengah kesibukan kita. Semua catatan penting terkait tema dan permasalahan merupakan data primer yang bisa kita lengkapi dengan data sekunder dari hasil bacaan maupun dari sumber internet. Setelah data kita pilah-pilah lagi (validasi), maka huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf siap untuk kita ‘ramu’ dan ‘olah’ dengan bumbu teori-teori tertentu serta mengikuti sistematika yang lazim sehingga bisa menjadi sebuah artikel.

 

Memahami Sistemaktika

Secara umum, sistematika sebuah artikel ilmiah terdiri dari judul dan identitas penulis, abstrak, pengantar/pendahuluan, kerangka teori dan metodologi, pembahasan, simpulan, dan daftar pustaka. Setiap penulis tentu bisa memenuhi syarat formal sistematika tersebut. Namun demikian, tidak semua penulis bisa menjadikan tulisan mereka menarik untuk dibaca dan memberikan inspirasi bagi para pembaca, karena hal itu lebih berkaitan dengan seni menulis (the art of writing) yang memang harus dilatih secara terus-menerus. Selain itu, penulis bisa memahami beberapa kualifikasi akademis terkait bagian-bagian dalam sebuah artikel ilmiah.

 

Bagian Artikel Kuaifikasi
Judul Jelas dan padat; tidak terlalu luas; menunjukkan isi artikel; menarik, tidak umum (tidak banyak dipakai penulis lain)
Identitas Nama; institusi; e-mail
Abstrak 1.   Jelas dan padat sebagai informasi awal; biasanya tidak lebih dari 150 kata;

2.   Memuat tujuan dan permasalahan yang akan dibahas;

3.   Kerangka teori dan metode yang digunakan;

4.   Hasil kajian

5.   Simpulan

Pendahuluan 1.   Memuat latar belakang tulisan; peristiwa kecil, konteks masyarakat;

2.   Permasalahan yang akan dibahas;

3.   Asumsi dasar atau hipotesis (kalau ada)

Kerangka Teori dan Metodologi (Metode Analisis) 1.    Teori yang digunakan untuk menjawab atau membahas permasalahan;

2.    Metode pengumpulan data;

3.    Metode analisis dengan teori yang ada

Hasil dan Pembahasan 1.    Paparan tentang hasil analisis data;

2.    Tidak perlu bertele-tele, fokus kepada paparan analisis secara efektif;

3.    Fokus kepada temuan-temuan utama dalam penelitian

Simpulan 1.   Penekanan kembali hasil atau temuan penting dari kajian yang dilakukan;

2.   Ringkas; 2 – 3 paragraf saja;

3.   Sebisa mungkin menggunakan ekspresi kalimat yang berbeda dari hasil dan pembahasan.

Daftar Pustaka 1.   Mengacu kepada buku, jurnal, majalah, sumber internet yang dirujuk dalam tulisan;

2.   Diutamakan jurnal hasil penelitian;

3.   Diusahakan berasal dari tahun terbitan yang terbaru atau, paling tidak, sekira 10 tahun dari tulisan yang dibuat.

 

Judul yang Menarik

Masih banyak judul artikel terkait budaya lokal yang dibuat pada masa pasca Reformasi ditulis dengan mengikuti standar yang sangat baku; kurang berani ‘nakal’. Artinya, masih banyak penulis yang menggunakan gaya tulis terlalu baku, sementara pembaca atau tim penilai berasal dari generasi yang menginginkan sesuatu yang menarik sejak awal. Judul akan sangat berpengaruh kepada layak atau tidaknya sebuah artikel dibaca secara lengkap oleh pembaca atau penilai.

Bandingkan dua judul artikel berikut:

  • Studi Etnografi tentang Peran Perempuan Tengger dalam Kehidupan Keluarga dan Ritual di Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo Jawa Timur
  • Perempuan di Balik Kabut Bromo: Peran Perempuan Tengger dalam Kehidupan Keluarga dan Ritual

Judul (1) sudah cukup baik dan sesuai dengan kaidah penulisan judul artikel karena langsung memberikan informasi terkait isi tulisan. Namun, model ini terlalu detil sebagai sebuah judul dan terlalu baku, sehingga pembaca bisa kurang tertarik untuk meneruskan membaca. Sementara, judul (2) tidak terlalu detil tapi sudah cukup memberikan informasi tentang isi artikel. Kelebihan dari judul (2) adalah judul utama Perempuan di Balik Kabut Bromo, yang memberikan kesan menarik bagi pembaca, karena dibuat seperti judul sebuah novel.

 

Menulis Kalimat

Kalimat dalam pemahaman paling sederhana adalah tentang aktor dan tindakannya. Subjek adalah aktor, sedangkan kata kerja adalah tindakan yang diikuti keterangan atau objek yang dibutuhkan untuk menjelaskan tindakan tersebut. Dengan pemahaman ini, mengawali menulis sebuah kalimat ataupun banyak kalimat sebenarnya tidak sulit, asalkan kita selalu berpegang pada prinisp aktor dan tindakannya. Banyak penulis pemula ataupun penulis bagaimana membuat sebuah kalimat yang efektif dan efisien serta memberikan kemudahan makna bagi pembacanya.

  • Muncul ketidakpastian dalam pikiran Pak Mujono terkait nasib kesenian jaranan yang mulai terpinggirkan karena kalah bersaing dengan dangdut koplo.
  • Pak Mujono mulai bimbang dengan nasib kesenian jaranan yang mulai terpinggirkan karena kalah bersaing dengan dangdut koplo.

Kalimat (a) tidak memposisikan Pak Mujono sebagai subjek sehingga secara semantik ‘memunculkan jarak’ terkait permasalahan yang dialami Pak Mujono dari tangkapan langsung pembaca. Sementara, kalimat (b) langsung menghadapkan pembaca dengan aktor yang mengalami permasalahan.

Penggunaan kalimat pasif yang berlebihan juga bisa mengindikasikan ketidakaktifan dari subjek-subjek yang terlibat dalam sebuah persoalan. Padahal, makna yang berbeda akan muncul ketika kita menggunakan kalimat aktif.

  • Kesenian ludruk mulai ditinggalkan karena durasi waktu yang dibutuhkan terlalu lama dalam setiap pertunjukan dan lakon yang monoton. Sementara, sinetron semakin digemari karena variasi lakon dan waktu tayang yang singkat.
  • Sebagian besar masyarakat desa mulai meninggalkan ludruk karena durasi pertunjukan yang terlalu lama dan lakon yang monoton. Mereka semakin menggemari sinetron karena variasi lakon dan waktu tayang yang singkat.

Kalimat (b) menekankan pada pergeseran selera kultural dalam masyarakat desa yang semakin biasa dengan budaya pop dan mulai meninggalkan kesenian lokal mereka. Artinya, kita mengetengahkan ide marjinalisasi kesenian lokal dari sudut pandang warga sebagai pewaris pasif yang mendapatkan budaya pop sebagai idola baru yang lebih menarik, baik dalam hal durasi dan variaso lakon, sehingga mereka mulai kurang menggemari ludruk. Sementara, kalimat (a) memfokuskan pada kekurangmenarikan kesenian lokal sebagai pertunjukan.

Berpikir ringkas dan efektif juga penting dalam menulis kalimat. Kita sering ingin menghadirkan banyak hal dalam menulis kalimat, padahal ide pentingnya hanya satu.

  • Jember adalah kabupaten yang kaya akan kesenian lokal seperti reog, jaranan, hadrah, can-macanan kaduk, dan wayang kulit yang berkontribusi pada terciptanya masyarakat dan budaya multikultural di wilayah penghasil tembakau dan kopi ini.
  • Kabupaten Jember kaya akan kesenian lokal seperti reog, jaranan, hadrah, can-macanan kaduk, dan wayang kulit, sehingga membentuk masyarakat dan budaya multikultural.

Semua orang tahu bahwa Jember merupakan penghasil tembakau dan kopi, sehingga informasi itu tidak perlu dimasukkan dalam kalimat yang sebenarnya memfokuskan kepada kekayaan kesenian lokal dan multikulturalisme di kabupaten ini.

 

Mengembangkan paragraf

Kita perlu memperhatikan kalimat topik atau ide utama, kohesi, dan koherensi dalam sebuah paragraf. Agar ide tulisan bisa ‘mengalir’ dengan enak, biasakan menempatkan kalimat pertama sebagai kalimat topik. Kalimat-kalimat berikutnya adalah penjelasan dari ide utama. Prinsip kohesi akan menjadikan pembaca bisa menikmati kemenyatuan atau keterhubungan antarkalimat dalam sebuah paragraf. Kondisi tersebut bisa dicapai ketika kita bisa menghadirkan koherensi antarkalimat, yang di mana ide utama dihubungkan dengan ide-ide penjelas sehingga semua terasa mengalir.

Kita juga bisa membuat variasi pola paragraf dalam sebuah artikel untuk menghindari kemonotonan tulisan. Terdapat beberapa pola yang lazim digunakan secara internasional, yakni narasi, deskripsi, argumentasi, definisi, contoh dan ilustrasi, pemilahan dan klasifikasi, pembandingan dan pembedaan.

 

Pola Paragraf            Karakteristik Tulisan
Narasi Menggunakan cerita; terkadang dilengkapi dengan sebuah kejadian; memunculkan empati
Deskripsi Menjelaskan secara detil sebuah ide atau gagasan; bisa juga untuk mendiskripsikan sebuah persoalan
Argumentasi Memuat argumen atau alasan penulis terkait sikap setuju atau tidak setuju terhadap sebuah peristiwa atau persoalan
Definisi Berisi penjelasan detil tentang istilah atau konsep kunci dalam tulisan; biasa digunakan untuk menjelaskan teori
Contoh dan Ilustrasi Mengilustrasikan sebuah gagasan atau pendapat dengan lebih dari satu contoh
Pemilahan dan klasifikasi Memilah sebuah poin ke dalam beberapa bagian berdasarkan prinsip-prinsip tertentu; mengkategorikan poin-poin penting ke dalam kelompok-kelompok dengan prinsip tertentu.
Pembandingan dan pembedaan Membandingkan persamaan-persamaan di antara item yang berbeda; membedakan item-item yang ada; seringkali secara bersama-sama dilakukan pembandingan sekaligus pembedaan

 

Berikut contoh-contoh dari pola paragraf di atas.

Pak Karto, Ketua Kelompok Jaranan Y, mengalami sebuah peristiwa menyedihkan ketika berurusan dengan birokrasi. Seorang pegawai kecamatan X pernah menjanjikan uang 1,5 juta untuk tampil dalam karnaval 17 Agustus 2013. Begitu selesai acara, ia hanya mendapatkan 500 ribu. Pak Karto ingin sekali memaki dan memarahi pegawai itu, tetapi ia tidak kuasa karena posisinya sebagai rakyat biasa. (Narasi)

Perilaku birokrasi seperti di atas, tentu tidak sejalan dengan kampanye pelestarian budaya lokal yang digembar-gemborkan pemerintah. Semestinya, aparat birokrasi memberikan empati dengan melakukan pembinaan dan pendampingan serta memberikan insentif untuk proses regenerasi dan kelengkapan kebutuhan kelompok. Bukannya menipu seniman rakyat. Dalam konsep pelestarian, perilaku birokrat tersebut sangat kontradiktif karena hanya memunculkan masalah baru bagi pengembangan kelompok jaranan. (Argumentasi)

Tentu kita bisa memilih atau meramu pola paragraf sesuai dengan warna dan arah tulisan kita; tidak harus semua kita pakai. Jangan sampai kita ingin menyampaikan sebuah argumentasi tentang permasalahan yang dihadapi seniman, tetapi menulis terlalu banyak paragraf narasi atau ilustrasi. Ilustrasi dibutuhkan hanya untuk memberikan contoh terkait pentingnya argumen yang kita sampaikan.

Kepentingan Peradaban: Simpulan

Setiap guru dan dosen pasti punya kepentingan praktis untuk menulis artikel, yakni melengkapi cum untuk jenjang kepangkatan tertentu yang bisa berimplikasi pada rezeki ekonomi, meskipun sangat kurang. Setelah kepentingan itu terpenuhi, sebagai akademisi kita memiliki kepentingan yang jauh lebih besar dan luas. Mengapa saya katakan demikian? Kita adalah pendidik yang tidak hanya bertanggung jawab terhadap kecerdasan dan kelulusan peserta didik, tetapi juga bertanggung jawab menyiapkan generasi yang melek budaya. Artinya, para peserta didik kita arahkan untuk mengenali, memahami, dan menjalankan budaya lokal sebagai karakteristik dan identitas di tengah-tengah modernitas dan globalitas sehari-hari.

Paling tidak, tulisan-tulisan kita akan menjadi rekaman sebuah peradaban yang bergerak dan berubah. Kalau kita tidak mau mencatat dan menulis budaya lokal yang sedang berubah tersebut, jangan salahkan kalau generasi mendatang harus pergi ke Belanda, Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat untuk sekedar tahu jejak-jejak budaya nenek moyangnya. Sesederhana apapun tulisan yang kita buat—apakah dalam bentuk artikel jurnal, majalah, atau esai di blog, pasti akan memberikan informasi berharga kepada para peserta didik, kolega, dan masyarakat umum yang tertarik untuk membacanya. Maka, memiliki dan menjalankan nyali untuk menulis adalah sebuah usaha untuk membuat rekaman sebuah peradaban; mengingat masa lalu, membaca hari ini, dan memperkirakan masa depan.

 

Catatan khusus

  • Makalah disampaikan dalam Pelatihan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya Wilayah Timur Kabupaten Jember tentang Pembuatan Artikel, SMP Negeri 1 Mumbulsari, 19 November 2015.
  • Tulisan ini tidak menggunakan rujukan pustaka, karena saya tulis berdasarkan pengalaman personal selama meniti karir sebagai dosen dan peneliti.

Share This:

About Ikwan Setiawan 126 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*