ISLAM TELEVISI

Awal(-an)

Bisnis media kemudian menjadi ajang baru bagi akumulasi modal yang cukup menggiurkan. Di Indonesia kita menyaksikan realitas, betapa media mampu menjadi industri baru yang berkembang pesat, mulai dari media cetak, radio hingga televisi. Kalau pada masa-masa revolusi kemerdekaan, media—terutama media cetak dan radio (dalam hal ini RRI)—menjadi salah satu kekuatan revolusioner yang menghubungkan person-person ataupun institusi-insitusi perjuangan kala itu, maka pada era industri budaya, media telah menjadi kekuatan kultural yang di satu sisi tetap memberikan informasi, tapi di sisi lain memberikan beragam hiburan (entertaintment) ke dalam ruang-ruang keluarga.

Televisi swasta nasional merupakan kekuatan yang bisa dikatakan paling dominan dalam industri media di Indonesia saat ini. Televisi bisa dibilang sebagai moda komunikasi massa yang dengan teknologinya mampu menghadirkan ‘tamasya citra’ bagi para penontonnya, di tengah-tengah problem akut yang dihadapi bangsa ini. Oleh karena televisi merupakan kekuatan kultural dominan yang mampu mendatangkan profit dari pemasangan iklan[1] sehingga saat ini kita menyaksikan betapa stasiun-stasiun televisi swasta Indonesia saling berlomba untuk menciptakan program-program yang mampu membuat penonton “duduk manis” di depan layar kaca. Sayang sekali, sampai saat ini, sebagian besar televisi swasta lebih banyak menawarkan program-program hiburan daripada menggagas sebuah acara yang bisa memberikan informasi yang mencerahkan bagi masyarakat, kecuali Metro TV dan TV One, meskipun keduanya juga semakin partisan selama 5 tahun terakhir.

Orientasi keuntungan modal telah menjadi ideologi yang mendasari semua program dalam televisi. Dan itu wajar dalam kontkes industri budaya di mana semua menjadi sah atas nama keuntungan. Demi mencari keuntungan itulah para kreator industri televisi selalu berusaha membuka peluang-peluang dengan membuat program-program baru yang diasumsikan akan digemari oleh audiens. Atau sebaliknya, mereka mengambil realitas-realitas yang ada dalam masyarakat untuk dijadikan tayangan televisi sehingga masyarakat merasa kepentingannya diakomodir dalam siaran. Realitas-realitas di masyarakat bisa berupa agama, seni-budaya, maupun masalah-masalah sosial. Dengan kata lain, semua aspek kehidupan bisa menjadi komoditas yang cukup menjanjikan bagi penumpukan modal.

Agama dalam industri media, misalnya, tidak bisa lagi dianggap sebagai sesuatu yang benar-benar private atau berhubungan dengan komunitas pemeluk tertentu, karena agama sudah menjadi komoditas baru yang bisa ‘dinikmati’ oleh siapa saja. Dan, lebih dari itu, agama bukan semata-mata menjadi nilai suci—terbebas dari campur tangan kekuatan-kekuatan di luar agama—karena dalam konteks media, agama sudah mengalami shooting, editing, producing, dan transmissing. Dengan kata lain agama telah menjadi milik kapital yang sah-sah saja untuk dieksploitasi dan dikomodifikasi asalkan mendatangkan keuntungan bagi pihak industri televisi.

Dalam konteks itulah tulisan ini berawal. Tulisan ini akan berangkat dari asumsi bahwa agama saat ini telah mengalami komodifikasi dalam media televisi. Adapun yang locus kajian ini adalah bagaimana nilai-nilai Islam dikomodifikasi oleh televisi sehingga sangat mungkin mengalami pergeseran-pergeseran orientasi dan nilai. Setelah mengalami komodifikasi, penulis berasumsi bahwa akan muncul representasi-representasi baru wajah Islam dalam televisi. Oleh karena itu, tulisan ini akan memperlakukan tayangan bernuansa Islam di televisi sebagai teks yang mempunyai makna tertentu. Untuk itulah teori representasi akan digunakan sebagai kerangka analisis guna mendapatkan deskripsi makna-makna tersebut.

Representasi dalam cultural studies bisa didefinisikan sebagai produksi makna yang mewujud melalui bahasa, termasuk di dalamnya bahasa visual. Banyak rangkaian citra visual, dalam majalah maupun televisi, bisa diasumsikan memunculkan representasi ideologis tertentu.[2] Teori representasi dengan demikan memperlakukan tayangan televisi sebagai teks visual yang mempunyai makna tertentu yang bisa ditemukan oleh seorang pengkaji. Makna-makna bisa berupa “pengetahuan”[3] yang cenderung mementingkan ideologi kelompok sosial tertentu. Dengan demikian, asumsi dasar dari tulisan ini menganggap bahwa dalam tayangan bernuansa Islami dalam televisi swasta nasional sebenarnya memunculkan mitos-mitos dan pengetahuan baru tentang Islam yang sangat mungkin menghasilkan implikasi-implikasi kultural dalam kehidupan masyarakat.

Ketika yang illahiyah menjadi (sekedar) citra: komodifikasi ajaran dan simbol Islam dalam tayangan siraman rohani

Komodifikasi, standardisasi, dan massifikasi merupakan terminologi yang digunakan oleh para pemikir kritis Mazhab Frankfurt, terutama Theodor Adorno dan Max Hokheimer dalam menyoroti perkembangan industri budaya (culture industry) di Eropa dan Amerika. Memang Adorno dan Hokheimer tidak secara eksplisit menyebutkan istilah-istilah tersebut dalam kajian kritis mereka. Namun, secara implisit sebenarnya mereka berusaha mengkonsepsikan pemikiran kritis mereka tentang perkembangan industri budaya—yang memang lebih difokuskan pada industri media (hiburan)—dalam ketiga terminologi tersebut.

Paul Hirsch (1972) menggunakan istilah industri budaya untuk merujuk pada perusahaan-perusahaan yang mencari keuntungan dengan cara memproduksi produk budaya yang ditujukan untuk distribusi secara nasional (atau bahkan internasional). Industri budaya dengan demikian melibatkan ‘sistem industri budaya’ yang di dalamnya terdapat keseluruhan organisasi yang terlibat dalam proses penyaringan produk-produk dan ide-ide baru yang berasal dari personel kreatif yang berada dalam level subsistem.[4] Granham menjelaskan bahwa industri budaya merujuk pada institusi-institusi dalam masyarakat yang mengola moda khusus produksi dan organisasi korporasi guna memproduksi dan menyebarkan simbol-simbol dalam bentuk benda-benda dan jasa budaya sebagai satu komoditas.[5]

Dalam pembahasannya tentang karakteristik industri budaya, Adorno dan Hokheimer menjelaskan:

Film, radio, dan majalah membentuk sebuah sistem yang seragam dalam keseluruhan maupun tiap-tiap bagiannya. Bahkan aktivitas-aktivitas estetik dalam oposisi-oposisi politis dengan begitu antusias menuruti ritme sistem baja ini…Beberapa pihak yang berkepentingan menjelaskan industri budaya dalam terma teknologi. Dikatakan bahwa karena jutaan orang terlibat di dalamnya, proses reproduksi tertentu menjadi penting sehingga kebutuhan-kebutuhan identik yang diminta dari berbagai tempat harus dipenuhi dengan produk yang serupa pula. Kesenjangan teknis antara sedikitnya pusat produksi dan meluasnya titik-titik konsumsi diklaim membutuhkan pengorganisasian dan perencanaan oleh pihak manajemen. Lebih jauh lagi dikatakan bahwa standar didasarkan sepenuhnya pada kebutuhan konsumen sehingga alasan tersebut bisa diterima. Sebagai akibatnya adalah munculnya lingkaran manipulasi dan kebutuhan retroaktif di mana penyatuan sistem tumbuh lebih cepat.[6]

Sejalan dengan pemikiran Adorno dan Hokheimer di atas “komodifikasi” dalam konsepsi industri budaya bisa didefinisikan sebagai usaha dari pengelola media untuk menjadikan realitas-realitas sosial yang ada dalam masyarakat sebagai komoditas dalam media. “Standardisasi” mengacu pada bentuk produk-produk media yang serba seragam dan serupa satu sama lain, beda kulit sama isi. Sedangkan “massifikasi” lebih merujuk pada produksi produk-produk media dalam jumlah yang cukup massif dan ditujukan bagi konsumen yang massif pula. Ujung dari semua itu adalah orientasi keuntungan.

Prinsip yang sangat penting dalam komodifikasi media adalah penciptaan citra-citra (images) yang dikonstruksi sedemikian rupa untuk menimbulkan kesan seolah-olah nyata, bahkan melebihi realitas itu sendiri. Citra-citra inilah yang kemudian disebut hyperreality (realitas semua). Komunikasi massa mutakhir lebih banyak menggunakan realitas citra ini unutk menggambarkan sebuah “ciptaan fantasmis” (phantasmic creation) yang ‘lebih nyata’ dan ‘lebih otentik’ dari yang nyata itu sendiri.[7] Tentang hal ini Baudrillard mengatakan:

Realitas itu sendiri menemukan dirinya di dalam hiperrealisme, reduplikasi yang cukup detil dari yang nyata, yang lebih banyak ditemukan dalam medium lain, seperti fotografi. Dari medium ke medium, yang nyata menguap, menjadi alegori kematian. Namun, yang nyata juga terus di perkuat kembali, dalam makna, melalui kehancurannya sendiri. Yang nyata menjadi realitas demi dirinya sendiri, fetisisme objek yang hilang…..hiperriil.[8]

Pernyataan Baudrillard tersebut secara implisit bahwa di dalam media sebenarnya tidak terdapat “yang nyata” karena ia telah dihancurkan oleh realitas baru yang bernama hiperiil—sebagai produk dari perkembangan teknologi komunikasi massa—yang seolah-olah lebih detil dan lebih mempesona dibandingkan yang nyata. Dengan kata lain, produk media pada dasarnya tidak lebih dari realitas semu yang dikonstruksikan sebagai “yang nyata”. Nilai-nilai agama Islam merupakan objek komodifikasi yang bisa dikatakan paling laris. Mengapa demikian? Tidak bisa dipungkiri bahwa ada beberapa alasan kenapa nilai-nilai Islam menjadi komodifikasi yang cukup digemari oleh kalangan industri televisi. Islam adalah agama dengan pemeluk mayoritas di Indonesia. Dengan kata lain, umat Islam merupakan audiens televisi yang paling banyak dibandingkan para pemeluk agama lain. Mayoritas jumlah pemeluk dan penonton itulah yang kemudian menjadi asumsi bahwa tayangan-tayangan yang menyuguhkan simbol dan nilai Islam pasti akan menarik minat dari penonton untuk melihatnya sehingga lebih mudah untuk meyakinkan pemasang iklan.

Konsekuensi dari komodifikasi nilai-nilai Islam ini adalah umat disuguhi sebuah citra visual (visual image) dari apa-apa yang mereka pahami dari para ahli agama, baik ustadz maupun kyai.  Memang dalam komodifikasi tidak selalu merubah dari nilai ajaran agama Islam. Misalnya, agama Islam mensyaratkan adanya ketaatan untuk sholat, zakat, dan puasa. Dalam setiap acara siraman rohani[9] yang disampaikan para ustadz di televisi bisa dikatakan tidak ada perubahan ajaran. Namun komodifikasi yang berlangsung di sini adalah ajaran-ajaran tersebut ditampilkan dalam bahasa yang gaul dan yang menyampaikan bukanlah ustadz atau kyai desa yang tampilannya jauh dari kesan modis. Sebenarnya audiens muslim hanya mendapatkan ‘sesuatu yang kosong’ dari tayangan siraman rohani atau pengajian via televisi karena pada dasarnya mereka hanya mengkonsumsi citra dari para ustadz yang ganteng, modis, dan parlente itu.

Seorang ustadz A’a Gym, Jeffry Al Buchori (sudah alm), Yusuf Mansyur, Arifin, misalnya, dalam setiap acara pengajian di RCTI dicitrakan dengan ustadz muda yang berwajah ramah, murah senyum, serta selalu menaburkan nilai-nilai humanis dalam praktik sosial dan ibadah Islam. Tidak lupa simbol-simbol formal Islam, seperti surban dan baju muslim melekat dalam setiap penampilannya. Padahal ang didakwahkan oleh A’a Gym sebenarnya hanya retorika bahasa agama yang lebih dikontekstualkan dengan kondisi masyarakat. Tentu sangat berbeda dengan apa-apa yang diajarkan oleh para kyai di pesantren-pesantren tradisional.

Begitupula yang dicitrakan pada diri seorang Ustadz Jeffry (Uje). Penonton sebenarnya tidak pernah tahu latarbelakang ke-da’i-annya, ia tiba-tiba muncul di televisi dengan performa ustadz gaul, pakaian trendy—dari songkok, baju, hingga celana. Dalam setiap tampilannya di SCTV, biasanya menjelang adzan Maghrib, Uje selalu dicitrakan berada dalam sebuah taman, danau, atau gubug yang terasa menedukan. Dalam konteks itulah sebenarnya telah berlangsung negosiasi yang sinergis antara media televisi dengan para ustadz dalam tayangan-tayangan siraman rohani yang mengkomodifikasi ajaran Islam. Kenyataan ini bisa dibaca sebagai (1) penegasan secara terus-menerus ajaran-ajaran Islam—cenderung mengulangi—dalam televisi melalui tampilan-tampilan trendy dan modis para ustadznya; (2) mengalirnya keuntungan kapital bagi para ustadz dan juga pihak stasiun televisi karena membanjirnya para pemasang iklan; dan, (3) terciptanya representasi baru wajah Islam dalam konteks media yang lebih banyak mengarah menjadi gaya hidup yang dipenuhi dengan simbol-simbol Islam yang lebih bernuansa kapitalistik.

Komodifikasi yang dalam format massif dan standard bagaimanapun juga akan menghasilkan satu tayangan yang terus menegaskan ajaran Islam bagi para audiens muslim sehingga secara implisit para pelaku yang terlibat di dalamnya berusaha menjadikan ajaran Islam sebagai tampilan hegemonik di media. Dan inilah karakter komodifikasi media dalam konteks industri budaya. Tentang realitas tersebut Thompson menerangkan:

Kebanyakan industri budaya kurang berhasil menciptakan pretensi karya seni. Karena rata-rata produknya berupa konstruksi simbol yang dibentuk berdasarkan formula yang dibangun sebelumnya dan diisi dengan stereotip setting, karakter, dan tema tertentu. Ia tidak berlawanan dengan norma sosial yang ada, tetapi sebagai penegasan kembali norma itu dan mengecam tindakan dan perilaku yang dianggap menyimpang dari norma tersebut. Produk industri budaya menghadirkan dirinya sebagai refleksi langsung dan pengembangan terhadap realitas empiris, dan melalui pseudo-realisme produk-produk tersebut menormalisasikan status quo.[10]

Merujuk pada logika di atas, disampaikannya ajaran Islam oleh para ustadz modis bisa dibaca sabagai salah satu usaha negosiasi ‘kelompok-kelompok Islam sadar media’ terhadap kehidupan modern yang sudah semakin termediasi melalui citra-citra modis dewasa ini. Dengan usaha kreatif yang sebenarnya pseudo-realis tersebut ajaran-ajaran Islam tetap menjadi kekuatan hegemonik dalam kehidupan para pemeluknya yang semakin dipengaruhi kultur media sehingga mereka akan tetap taat dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan. Ketika kekuatan hegemonik Islam yang disiarkan oleh ustadz modis ini terus berlangsung maka sebenarnya umat digiring untuk terus-menerus mengkonsumsi realitas semu yang tidak pernah mereka sadari dari mana asalusulnya.

Dan tiba-tiba mereka sudah masuk ke dalam permainan komodifikasi yang menjual ajaran agama dan juga simbol-simbol Islam yang sangat modis, berupa tampilan-tampilan simulasi hiperealitas televisi. Yasraf—mengadopsi pemikiran Baudrillard—mengatakan bahwa:

Penciptaan kebudayaan dewasa ini mengikuti satu model produksi simulasi—penciptaan model yang nyata, tetapi tanpa asal-usul atau realitas, hiperealitas. Melalui model simulasi manusia dijebak di dalam satu ruang yang disadarinya sebagai nyata, meskipun sesungguhnya semu belaka…………….Di dalam wacana simulasi, manusia mendiami satu ruang realitas, di mana perbedaan antara yang nyata dan fantasi atau yang benar dan yang palsu menjadi sangat tipis—manusia hidup di ruang khayali yang nyata. Televisi atau dunia fantasi, pada kenyataannya, sama nyatanya dengan pelajaran sejarah atau etika di sekolah, sebab ia sama-sama menawarkan informasi dan membentuk sikap dan gaya hidup.[11]

Tampilan simulatif siraman ruhani, di satu sisi tetap memberikan informasi tentang ajaran Islam yang berwajah humanis dengan gaya penyampaian yang sangat cair dan santun jauh dari unsur kekerasan sebagaimana yang selama ini distereotipkan oleh televisi-televisi Amerika dan Eropa. Di sisi lain, siraman spiritual dari para ustadz itu—yang kemudian juga diperluas melalui pengajianpengajian ibu-ibu dan para profesional di kawasan elit metropolitan—cenderung menggiring umat pada relasi ideologis imajiner dimana mereka secara nirsadar melakukan proses identifikasi dengan subjek-subjek ustadz dan segala simbol-simbol yang dikenakannya, di samping ajaran-ajaran Islam hegemonik yang cenderung formalistik.

Para audiens mengidentifikasi gaya tuturan para ustadz tentang Islam sebagai sesuatu yang dianggap sebagai sesuatu yang perlu didengarkan dan selanjutnya dipraktikkan. Termasuk dalam identifikasi ini adalah bagaimana mengenakan simbol-simbol pakaian Islam yang serba modis dan up to date, sebagai hasil kreasi dari butik-butik ternama. Bahkan di pasar-pasar tradisional model pakaian ustadz/ustadzah sangat muda dijumpai, tentu dengan harga yang lebih murah. Maka tidak mengherankan bahwa model baju muslim yang dikenakan para ustadz maupun ustadzah—yang cukup terkenal adalah Hj.Latifah Sungkar—menjadi sangat populer di kalangan umat Islam, terutama ketika lebaran tiba.

Realitas itulah yang kemudian menjadikan ajaran Islam sebagai gaya hidup.[12] Dan televisi telah berhasil menjadi aparatus yang dengan beragam citra-citra simulatifnya berhasil menggiring umat Islam, terutama yang tinggal di perkotaan untuk mempraktikkannya. Dengan kata lain, Islam yang disiarkan dalam tayangan siraman rohani telah menciptakan satu pemahaman Islam sebagai gaya hidup umat yang cenderung memperkokoh ideologi kapitalis. Ideologi kapitalis ini bisa dibaca dari dua perspektif, yakni (1) perspektif stasiun televisi dan (2) perspektif para ustadz/ustadza dan juga perusahaan garmen atau butik yang memproduksi pakaian-pakaian muslim/muslimah yang modis. Dari perspektif pihak televisi, keuntungan kapitalnya sudah sangat jelas, yakni meningkatkan pendapatan dari pemasangan iklan. Sementara dari pihak ustadz/ustadzah, mereka akan memperoleh keuntungan dari kontrak dengan pihak televisi serta dibanjirinya pengajian mereka oleh para jamaah yang menganggap kehadiran pada pengajian yang diasuh oleh para ustadz/ustadza sebagai praktik gaya hidup Islami, meskipun mereka harus membayar untuk datang. Sementara bagi pihak garmen ataupun butik, jelas mereka akan memperoleh keuntungan melimpah dari trend pakaian muslim/muslimah yang dikonsumsi oleh umat Islam yang ingin mengidentikkan diri mereka dengan para ustadz/ustadzah yang menjadi idola.

 

Realitas di atas merupakan tanda kultural pertama dari apa yang disebut “Islam televisi” dimana televisi telah menjadi ‘penuntun’ bagi lahirnya sebuah praktik baru dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam.[13] Sebagai sebuah praktik beragama yang sangat modern dan modis, Islam televisi ‘memberikan’ keluasaan untuk menjelajah ruang-ruang hedon kota asalkan tetap mau hadir dalam pengajian-pengajian dan tidak lupa mengenakan pakaian-pakaian muslim/muslimah dalam kesempatan ritual agama, semisal lebaran Idul Fitri. Islam televisi sebagai gaya hidup telah ‘mengembangkan’ dan ‘membudidayakan’ proses simbolik dan sosial citra dan nilai terhadap ajaran-ajaran permukaan (superficial doctrine) dari Islam modis dan cenderung menjebak mereka dalam praktik-praktik model formalistik dalam hegemoni senyum para pendakwah.

Ketika siksaan dan hidayah menjadi citra: komodifikasi dan representasi ajaran dan simbol Islam dalam tayangan sinema reliji

Selain tayangan siraman rohani yang berperan membentuk Islam televisi, tayangan berjenre sinema reliji juga turut memberikan pemahaman-pemahaman baru tentang ajaran Islam. Sinema reliji merupakan tayangan sejenis film televisi berdurasi 60 menit (sudah termasuk iklan) yang menceritakan orang-orang yang mendapatkan balasan dari Tuhan akibat dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan di dunia ini. Tentu balasan di sini bisa baik atau buruk tergantung dengan perbuatan yang dilakukan. Beberapa tayangan yang berjenre sinema reliji antara lain: Sinema Hidayah (Trans TV), Kuasa Illahi, Rahmat Illahi, dan Kusebut Nama-Mu (TPI, dulunya ditayangkan RCTI), dan Pintu Hidayah dan Maha Kasih (RCTI).

Dalam setiap sinema reliji juga berlangsung komodifikasi yang cukup menarik untuk dikaji, yakni ketika ajaran Islam dijadikan ide cerita dari sebuah sinema di televisi. Ajaran Islam yang dikomodifikasi oleh pihak production house adalah (1) bahwa Tuhan akan selalu memberikan balasan duniawi yang “kejam” kepada ummat-Nya yang berbuat kejam dan dzalim, (2) Tuhan akan memberikan hidayah kepada ummat-Nya yang tabah dalam menjalani setiap cobaan yang dihadapinya, dan (3) Tuhan akan memberikan balasan yang “lumayan kejam” kepada ummat-Nya yang berbuat kejam untuk kemudian memberikan hidayah kepadanya. Sinema Hidayah dan Kuasa Illahi mewakili ajaran pertama. Kusebut Nama-Mu merupakan representasi dari ajaran kedua. Sedangkan Pintu Hidayah adalah representasi dari ajaran ketiga.

Untuk memperjelas bagaimana cerita dalam masing-masing tayangan dikonstruksikan oleh para kreatornya, berikut ini disajikan perbandingan dari masing-masing tayangan.

Judul program

 

Awal cerita Konflik Anti-klimaks
Sinema Hidayah dan Kuasa Illahi Tokoh antagonis digambarkan sebagai orang yang mempunyai tabiat yang kurang baik dalam kehidupan sosialnya. Ada tokoh yang terlalu kikir, sombong, maupun dzalim. Ada juga tokoh yang mencari pesugihan untuk mendapatkan kekayaan ataupun menjadi rentenir dan perbuatan-perbuatan  non-agamis lainnya Karena suatu hak, terjadi pertentangan dengan tokoh lain (protagonis) yang bisa saja berasal dari keluarga atau kerabat maupun tokoh-tokoh lain.

 

Si antagonis Melakukan perbuatan yang kejidan kejam kepada si protagonis. Karena perbuatannya itu, ia lalu mendapat balasan yang kejampula dari Tuhan. Ia mati, dan sebelum dikubur mengalami kejadian-kejadian aneh, seperti tubuhdipenuhi ulat,mayat terbakar, dll. Kejadian itu berakhir ketika si protagonis memohonkan ampun atas segala perbuatan yang dilakukan siantagonis sepanjang hidupnya.

 

Kusebut Nama-Mu dan Rahmat Illahi Tokoh protagonis digambarkan sebagai orang yang hidupnya susah dan selalu menjadi bahan cemoohan tokoh-tokoh lain (antagonis)

 

Karena ketabahannya, si protagonis mulai mendapatkan rejeki yang lumayan. Namun si antagonistidak suka melihat itu semua sehingga ia  melakukan  tindakan-tindakan yang merugikan si protagonis Si antagonis semakin menggila dalam meneror dan memfitnah si protagonis sehingga masyarakat terpengaruh. Namun si protagonis tetap tabah dan terus memanjatkan doa kepada Tuhan. Dan, kebenaran terbukti, si protagonis mendapatkan kembali kepercayaan masyarakat dan ia mendapatkan rezeki berlimpah dari Tuhan. Ia memaafkan si antagonis.
 Pintu Hidayah Tokoh antagonis digambarkan sebagai orang-orang yang mempunyai tabiat yang kurang baik dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat Ia mulai mengalamikonflik dengan tokoh-tokoh lain di lingkungan sekitarnya. Ia melakukan  perbuatan aniaya kepada mereka Ia mengalami musibah/kecelakaanyang tragis. Lalu, ia menyadari semuakesalahannya dan meminta maafkepada orang-orangyang pernah disakitinya.Selanjutnya ia memohon ampunan kepada Tuhan

Menilik model alur cerita dari masing-masing tayangan di atas, bisa dilihat adanya kemiripan atau bahkan kesamaan. Yang membedakan hanyalah bentuk balasan dari Tuhan kepada masing-masing tokoh antagonis. Tidak bisa dipungkiri bahwa kecenderungan tampilan yang homogen merupakan karakteristik dari televisi swasta Indonesia ketika menjadi entitas komersil. Mengenai realitas tersebut Agus Sudibyo menyatakan:

Para pengelola televisi tampaknya kerepotan memenuhi tuntutan-tuntutan produksi ketika televisi telah menjadi entitas komersil. Mereka harus mempersiapkan banyak acara untuk mengisi jam siaran yang semakin hari semakin panjang. Padahal produktivitas industri-industri pendukung televisi (production house) belum bisa banyak diharapkan terutama karena keterbatasan SDM dan teknologi …Tanpa banyak disadari pemirsa, sinetron, komedi, dan acara televisi lainnya sebenarnya “serupa tapi tak sama”. Judul boleh berbeda, aktor boleh berganti, namun format cerita, logika kisah, plot, penokohan, dan setting cerita sesungguhnya serupa.[14]

Tidak mengherankan ketika semua tayangan sinema reliji mempunyai kesamaan satu sama lain. Di samping keterbatasan SDM teknologi, keseragaman format acara tersebut juga dipengaruhi oleh trend tayangan yang sedang berkembang. Sinema reliji sebenarnya ditayangkan pertama kali oleh TPI dengan Kuasa Illahi-nya dan mendapatkan respons cukup baik dari para pemasang iklan. Trend positif itulah yang kemudian ditiru oleh stasiun-stasiun lainnya dengan harapan mereka juga akan mendapatkan ‘kue iklan’. Dengan kata lain, dari sisi ideologi kapitalis, penayangan sinema reliji merupakan alat dominasi dari pengelola industri televisi untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menarik perhatian ummat Islam untuk menaikkan rating.

Dari sisi ideologi Islam, alur cerita sinema reliji dan tampilan-tampilan visual yang cenderung bombastis—dalam hal ini adalah Kuasa Illahi dan Sinema Hidayah—telah menghadirkan pemahaman-pemahaman baru tentang ajaran Islam, terutama tentang balasan Tuhan kepada umat-Nya, yang sangat distortif sifatnya. Tuhan, misalnya, lebih banyak digambarkan sebagai Dia yang berkehendak dan bertindak kejam, bahkan Mahakejam, kepada umat-Nya yang bersalah. Dia bisa mengutuk dan menyiksa si ummat yang berbuat dosa dengan peristiwa tragis hingga ia meninggal. Bahkan sebelum meninggal ia harus mengalami siksa yang memalukan bagi pihak keluarga berupa tubuh yang dipenuhi ulat atau belatung, misalnya.[15] Ini adalah sebuah hiperrealitas yang terlalu distortif dan bombastis karena pada dasarnya siksaan seperti itu tidak pernah terjadi di kehidupan nyata. Dan ironisnya, peristiwa seperti itu selalu mendapat legalitas dari para ustadz yang biasanya bertugas menutup cerita dengan wejangan-wejangan Islami tentang adegan visual yang ditayangkan.

SInema PIntu Taubat 3

Dengan demikian, tayangan-tayangan sinema tersebut sebenarnya telah menghadirkan representasi pengetahuan baru tentang perilaku Islam yang serba ketat dan kejam sehingga setiap ummat harus sudah semestinya mau mengikutinya ketika ingin selamat, baik di dunia maupun di akhirat. Kalau tidak mengikutinya maka balasan Tuhan sangatlah kejam. Implikasi kultural dari pengetahuan ini adalah lahirnya pemahaman bahwa Islam itu sebuah agama yang hitam-putih dan kejam sehingga semua ummat harus tunduk dan sebisa mungkin menjalankan praktik-praktik hidup yang baik dan Islami. Di samping pesan ideologis di atas, dari model alur cerita dalam Kusebut Nama-Mu, sinema reliji secara implisit menyampaikan betapa ketika seseorang ingin mendapatkan berkah dari Tuhan ia harus tabah dalam menjalani segala bentuk penderitaan di muka bumi. Seorang tukang bakso, misalnya, yang selalu menderita dan mendapatkan aniaya dari orang lain harus tetap sabar dan berdoa kepada Tuhan sehingga ia bisa mengalami sebuah peristiwa—semisal ditolong oleh orang kaya—yang bisa mengubah nasib hidupnya menjadi lebih baik, bahkan sampai naik haji. Pesan tersebut secara moralitas memang terkesan cukup bagus. Namun, tampilan yang hanya berdurasi sekitar 60 menit + commercial break ini terkesan terlalu menyederhanakan persoalan, jauh dari realitas kehidupan nyata. Bahwa memang banyak orang sukses yang berangkat dari bawah, namun seringkali mereka butuh waktu yang cukup lama untuk mewujudkannya. Dan, seringkali keberhasilan mereka bukan berasal dari orang kaya yang berperan sebagai Robbin Hood, tetapi karena memang mereka benarbenar berusaha dengan gigih. Bahkan, banyak pula orang yang tekun menjalankan ibadah dan berusaha tetapi belum juga mendapatkan rezeki berlimpah dari Tuhan.

Dari paparan di atas, jelas kiranya, bahwa tayangan sinema reliji dalam televisi-televisi swasta mengusung representasi pengetahuan tentang Islam yang dimaknai secara hitam-putih. Kehidupan digambarkan sebagai relasi yang harus dipenuhi dengan hukum-hukum illahiyah yang begitu kaku dan formal. Dengan kata lain, wajah Islam dan kehidupan yang islami yang digambarkan adalah Islam dan kehidupan yang begitu formal, kaku, atau seolah-olah sesuai dengan syariat. Padahal tidak selamanya hukum Islam harus dimaknai secara kaku dan hitam-putih.

Simpulan: Islam televisi yang modis sekaligus kaku

Mungkin, inilah saatnya kita harus menyaksikan bagaimana Islam sebagai agama yang sangat luwes dan adaptif dengan semangat perubahan zaman dicitrakan dalam kontradiksi komodifikasi televisi. Di satu sisi, Islam adalah ajaran yang damai, harmonis, modis, sekaligus formalis. Islam dalam tayangan-tayangan siraman rohani, jelas-jelas membawa semangat kapitalistik dengan mengusung mode-mode pakaian trendy yang diidentikkan dengan simbol-simbol Islam yang formalis. Para ustadz/ah dalam Islam televisi telah menjadi agen-agen kapitalis dengan ‘senyum imannya’ yang mampu membangkitkan relasi imajiner dari para penonton untuk meniru gaya berpakaian dan cara hidup seperti yang dilakukan para guru ngaji modis tersebut. Kutbah-kutbah yang mereka tak lebih dari sandiwara yang bisa dimainkan setiap saat tergantung pesanan dan honor yang mereka terima. Dan semua yang mereka omongkan memang belum tentu dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kasus poligami A’a Gym menjadi bukti, betapa ia telah mengingkari ‘kutbah-kutbah suci’ tentang keharmonisan rumah tangga dengan satu istri. Betapa ia hanya mencari popularitas melalui tampilan islami yang dicitrakan sedemikian rupa oleh televisi untuk selanjutnya mengeruk keuntungan dari semua pencitraan tersebut. Dengan kata lain, Islam televisi adalah Islam yang kapitalistik karena motivasi ekonomi dari para ustadz/ah.

Di sisi lain, Islam televisi adalah Islam yang sangat kejam karena Tuhan memberikan hukuman akan kejahatan seseorang dengan sangat vulgar dan mengerikan. Tentu ini secara ideologis bisa menjadi pesan yang bisa membuat orang takut dan selalu patuh dalam menjalankan ajaran agama. Dengan demikian bisa diasumsikan bahwa seseorang menjalankan agama semata-mata karena takut akan balasan kejam Tuhan, bukan karena keyakinan akan Tuhan itu sendiri. Atau mungkin Tuhan, memang hanya dijadikan simbol bagi kepentingan-kepentingan duniawi kelompok-kelompok yang menggunakan televisi sebagai media untuk meraih keuntungan ideologis maupun finansial.

Kalau sudah seperti itu, maka apa-apa yang ditampilkan Islam televisi tentu tak lebih dari sebuah hegemoni visual-ideologis yang akan mengkooptasi kesadaran reliji ummat Islam dalam sebuah absurditas citra dan cerita. Citra dan cerita yang disuguhkan adalah konstruksi yang sengaja dihadirkan sebagai pengetahuan yang diharapkan untuk diikuti oleh ummat. Namun, semuanya kembali ke ummat, apakah mereka akan menerima atau menolak citra dan cerita tersebut. Maka, ke depan, kiranya sangat penting untuk melakukan kajian resepsi audiens terhadap nilai-nilai Islam televisi sehingga akan diperoleh kajian yang lebih komperhensif. Dan, kajian ini memang hanya sebuah awal dari eksplorasi panjang terhadap kultur media.

Keterangan

* Artikel ini saya buat pada tahun 2007 sebagai tugas matakuliah sewaktu kuliah S2 di Prodi Kajian Budaya dan Media UGM

Catatan akhir

[1] Data dari Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) tahun 2002 menunjukkan porsi iklan televisi mencapai 60,3% dari total pendapatan iklan nasional yang mencapai Rp. 13,41 triliun (sekitar Rp. 8,09 triliun). Porsi iklan itu tetap didominasi oleh 3 stasiun besar, yakni RCTI (Rp. 1,58 triliun), Indosiar (Rp. 1,54 triliun), dan SCTV (Rp. 1,32 triliun). Sisanya diperebutkan oleh stasiun-stasiun televisi swasta lainnya dan juga TVRI. Lebih jauh tentang hal ini, baca Agus Sudibyo.2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta: LKiS bekerjasama dengan ISAI.hlm.58.

[2] Lebih jauh tentang hal ini baca Stuart Hall. “Work of Representation”, dalam Stuart Hall (ed). 1997. Representation, Cultural Representations and Signifying Practice. London: Sage Publication in assosiation with The Open University Press.hlm.15.

[3] Pengetahuan dalam perspektif Foucault merupakan hasil dari praktik diskursif dari penyebaran wacana-wacana (discourses) tertentu ke dalam masyarakat. Wacana kemudian sangat menentukan objek-objek pengetahuan kita. Wacana pulalah yang mengarahkan topik-topik yang dibicarakan dan mempengaruhi bagaimana ide-ide ditempatkan dalam praktik serta digunakan untuk mengatur semua pembicaraan dan praktik sesuai dengan topik wacana tersebut sehingga mewujud dalam sebuah pengetahuan. Pengetahuan ini ketika sudah menjadi regime of truth dalam masyarakat akan melahirkan relasi-relasi kuasa sehingga orang yang perilaku dan pendapatnya bertentangan dengan pengetahuan tersebut dianggap sebagai “liyan” (the other). Ibid.hlm.126-127.

[4] Dikutip dalam Howard. S. Backer. 1982. Art World. Barkeley: University of California Press.hlm.122-129.

[5] Nicholas Granham.”On the Cultural Industries”, dalam Paul Marris & Sue Torham (eds).1997. Media Studies: A Reader. Edinburg: Edinburg University Press.hlm.78.

[6] Theodor Adorno and Max Hokheimer, The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception, tersedia di www.marxist.org.

[7] Mikhail Epstein. “The Dialectics of Transition from Modernism to Postmodernism”, diakses dari http://www.reconstruction, diakses pada 1 Agustus 2004.

[8] Jean Baudrillard.1988. Jean Baudrillard, Selected Writing (ed. Mark Posnter). Stanford: Stanford University Press. hlm.144-145.

[9] Jenre siraman rohani biasanya banyak ditampilkan oleh semua stasiun televisi pada bulan ramadhan, yakni menjelang buka puasa dan selepas subuh.

[10] Thompson.Op.cit.hlm.155.

[11] Yasraf Amir Piliang.2004. Dunia yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Yograkarta: Penerbit Jalasutra.hlm.199-200.

[12] Gaya hidup bisa didefinisikan sebagai (1) suatu cara yang terpola dalam penggunaan, pemahaman, atau penghargaan terhadap artefak-artefak budaya material untuk menegosiasikan permainan kriteria status dalam konteks sosial dan (2) cara-cara terpola dalam menginvestasikan aspek-aspek tertentu kehidupan sehari-hari dengan nilai sosial atau simbolik. Selengkapnya tentang penjelasan gaya hidup bisa dibaca dalam David Chaney.2003. Life Styles, Sebuah Pengantar Komperhensif (terj. Nuraeni). Yogyakarta: Penerbit Jalasutra.hlm.91-108.

[13] Saya mengucapkan terima kasih kepada Dr. Faruk yang memberikan istilah tersebut ketika memberikan paparannya tentang perkembangan budaya populer, dalam matakuliah Sastra Populer, di Program Studi Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada.

[14] Agus Sudibyo.Op.cit.hlm.62-63.

[15] Saya mengucapkan terima kasih kepada Drs. Ashadi Siregar yang telah mengutarakan pandangan ini dalam matakuliah Teori-teori Media di Program Studi Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 160 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*