DI JALANAN (JUGA) ADA BUDAYA: Konsumsi kreatif dan kolektivitas dalam subkultur klub pengendara motor

Subkultur sebagai realitas kultural masyarakat (pos) modern: pengantar

Kebudayaan dalam pemahaman konvensional, selalu diidentikkan dengan satu kesatuan utuh antara nilai, benda, dan sistem kultural yang mewujud dalam satu tradisi besar yang memberikan arahan serta petunjuk bagi masyarakat untuk menjadi lebih baik dan bermartabat. Pemahaman tersebut, secara langsung tidak memberikan ruang kepada praktik-praktik partikular yang ada di dalam masyarakat dan berbeda dengan tradisi besar untuk dianggap sebagai bagian sah dari kebudayaan. Posisi mereka selalu berada dalam ruang marjinal dan tidak layak untuk dipahami dalam bingkai akademis. Dalam konteks tersebut, sebagaimana diutarakan Abdullah, kebudayaan telah menjadi suatu ideologi yang cenderung memarjinalkan kelompok yang memiliki ideologi berbeda (2006a: 187). Nilai atau praktik yang tidak sesuai dengan mainstream, menjadi liyan yang keberadaannya dianggap sekedar ekses dari perubahan jaman dan harus dijinakkan dengan beragam aturan yang berasal dari tradisi besar melalui pendidikan maupun agama. Lebih jauh lagi, esksistensi mereka kemudian diwacanakan sebagai “penyimpangan” (deviance) semata dan para aktornya adalah “para penyimpang” (deviant) yang tidak bisa mengikuti pola kultural yang telah tumbuh dalam tradisi besar.

Konservatisme budaya dalam realitasnya harus berhadapan dengan beragam perubahan jaman sebagai akibat dari kemajuan moda produksi dalam era kapitalisme lanjut (advanced capitalism) dan lalu-lintas budaya global yang masuk perusahaan-perusahaan transnasional (transnational corporations/TNCs) maupun media-media penyiaran, baik cetak maupun tulis. Ditambah lagi dengan kebijakan ekonmi politik ‘pintu terbuka’ yang diterapkan penguasa orde baru dengan orientasi pada pertumbuhan ekonomi, menjadikan wacana modernitas sebagai peta makna yang memunculkan subjek-subjek modern. Wacana modernitas kemudian diterjemahkan dalam pembangunan nasional yang ditandai dengan berdirinya perusahaan penyedia barang dan jasa dalam skala nasional maupun internasional, pusat-pusat perbelanjaan, serta kemelimpahan produk-produk industri budaya yang ditandai dengan massifikasi dan standarisasi dalam setiap level produksinya. Kondisi inilah yang oleh para pemikir kritis diasumsikan telah menyebabkan “pengelabuhan massa” (mass deception) karena masyarakat diarahkan pada konsumsi produk-produk industri budaya yang serba standar dan massif yang serba dangkal, tidak mengarah pada keseriusan pemikiran, dan mengganggu eksistensi budaya adiluhung (MacDonald, 1957: 59-74; Adorno & Horkheimer, 1993: 29-43; Adorno, 1997: 24-29). Dan, lebih jauh lagi, ‘kultur baru’ yang dihasilkan oleh dari popularitas dan konsumsi industri budaya dianggap oleh kelompok elit kebudayaan tinggi telah menciptakan kelompok masyarakat yang anarkis, anti-sosial, dan mengganggu kemapanan norma-norma yang ada dalam masyarakat (Ganz, 1974: 19-51).

Di tengah-tengah gencarnya kritik terhadap massifikasi produk dan pengelabuhan massa oleh produk-produk industri, realitas terkini menunjukkan praktik konsumsi dan gaya hidup yang mengedepankan nilai simbolis yang hadir sebagai pembedaan antara kelas sosial yang satu dengan yang lain. Dalam konteks perbedaan itulah, pilihan-pilihan konsumsi tidak lagi terfokus pada nilai guna dan fungsional barang, tetapi lebih pada bagaimana sebuah produk mampu menjadi tanda simbolis bagi kehadiran dan kedirian seorang konsumen. Para konsumen yang mempunyai kesamaan partikularitas dalam praktik konsumsi kemudian menyatukan diri mereka dalam ikatan-ikatan sosial baru yang mewujud dalam komunitas maupun klub yang anggotanya terdiri dari kelas menengah kota baru. Klub penggemar musik tertentu—dari jaz hingga punk, klub ngobrol, klub motor dan mobil merk tertentu, hingga klub pengemar makanan, bermunculan mengisi dan mewarnai ruang-ruang urban yang sehari-harinya dipenuhi lalu-lintas aktivitas modern. Kehadiran mereka di tengah-tengah hegemoni massifikasi budaya pasar dan ketatnya norma-norma tradisi besar telah melahirkan mozaik kultural masyarakat posmodern yang lebih beragam yang ditandai dengan kemandirian komunitas maupun klub dalam memaknai apa-apa yang mereka lihat dan terima dalam masyarakat terkini. Lebih jauh lagi, kehadiran klub atau komunitas menandakan betapa dalam arus besar kehidupan modern saat ini telah melahirkan kondisi posmodern yang dirayakan dengan banyaknya subkultur. Dengan aktivitas dan gerakan kolektif mereka melakukan ‘pemaknaan kreatif’ sebagai peta makna baru untuk bersikap beda terhadap kondisi sosial masyarakat.

Tulisan ini secara konseptual akan mendiskusikan subkultur pengendara motor dengan melihat partikularitas atribut, aktivitas, dan praktik-praktik kultural lainnya yang ditandai dengan kreativitas mereka dalam mengkonsumsi produk otomotif. Sebagai kajian deskriptif-eksploratif, tulisan ini menggunakan studi kasus klub-klub penggemar motor dengan merk tertentu yang informasinya diperoleh dari sumber sekunder, yakni internet. Informasi yang diperoleh dari internet, terutama berkaitan dengan aktivitas dan atribut yang dijalani oleh klub-klub motor yang ada di kotakota besar Indonesia, akan dijadikan pijakan untuk melakukan eksplorasi konseptual tentang partikularitas subkultur pengendara motor sebagai realitas pada masyarakat Indonesia saat ini. Pada akhirnya, kajian ini akan menelorkan refleksi konseptual betapa kebudayaan saat ini yang tidak bisa lagi dimaknai sebagai kesatuan utuh yang menyatukan masyarakat dan pendiktean oleh industri. Lebih dari itu, estetisasi dan stilisasi praktik konsumsi yang terjadi saat ini merupakan prakondisi bagi lahirnya subkultur yang merupakan bagian dari kebudayaan yang harus dibaca dalam konteks partikularitas dan perbedaan yang melekat padanya.

Massifikasi produk, transformasi proses konsumsi, dan lahirnya subkultur

Kehadiran secara massif produk-produk industri ke tengah-tengah masyarakat, memang melahirkan praktik konsumsi dan praktik-praktik kultural baru yang memperlihatkan ketergantungan mereka terhadap benda-benda tersebut. Namun, massifikasi tersebut sampai batas tertentu ternyata melahirkan sebuah praktik konsumsi baru yang ditandai dengan ‘perayaan perbedaan’ dalam mengkonsumsi dan memperlakukan benda-benda produksi yang dilakukan kelas menengah kota. Abdullah menjelaskan bahwa saat ini dalam kelas menengah kota tengah berlangsung proses konsumsi simbolis dan transformasi estetis yang menunjukkan betapa nilai-nilai simbolis dari produk dan praktik kultural yang menyertainya telah mendapatkan penekanan yang lebih besar dibandingkan dengan nilai-nilai kegunaan dan fungsional (2006b: 33-35). Proses konsumsi simbolis paling tidak menandakan (1) terjadinya pembedaan proses konsumsi yang membedakan kelas sosial yang satu dengan yang lain; (2) barang-barang yang dikonsumsi telah menjadi representasi dari kehadiran mereka; dan, (3) konsumsi citra telah menjadi proses konsumsi yang penting di mana citra yang dipancarkan suatu produk dan praktik merupakan alat ekspresi diri bagi kelompok (ibid). Sementara proses estetitasi yang terjadi dalam kehidupan kelas menengah kota bisa dilihat sebagai (1) terjadinya proses seni dalam konsumsi barang yang menegaskan nilai-nilai khusus; (2) terjadinya proses individualisasi dalam memaknai sebuah produk (ibid). Dalam kehidupan kota, kelompok dengan status sosial tertentu menggunakan pola konsumsi sebagai alat untuk memapankan tingkatan sosial mereka dan sebagai garis pembatas diri mereka dengan kelompok yang lain (Bocock, 1994: 183). Dengan kata lain, realitas konsumsi dalam masyarakat kota menunjukkan bahwa produk industri budaya tidak hanya dikonsumsi dalam kepasifan yang seragam, tetapi adanya partikularitas-partikularitas yang kemudian menjadi karakteristik. Menurut Lury, kondisi tersebut menunjukkan terjadinya pergeseran dari pola konsumsi dari producer-led—produsen yang menentukan dan membentuk pola konsumsi—menuju consumptionled—konsumen yang menentukan dan memberikan makna atas apa-apa yang mereka konsumsi (1996: 45). Dalam pola consumption-led, makna tidak semata-mata ditentukan oleh komoditas tetapi pada pemakaian secara aktual, yang menjadikan terjadinya “konsumsi kreatif” (Willis, 1990: 20). Dalam konteks itulah subkultur muncul.

Subkultur, dengan demikian, telah menjadi medium dan praktik untuk merayakan perbedaan orientasi dalam memaknai kondisi sosial sebagai akibat kuatnya pengaruh tradisi besar dan hegemoni budaya pasar dengan segala keseragamannya. Dari konteks tersebut, subkultur telah mewujud sebagai perilaku oposisional dengan menciptakan ‘peta makna’ dan gaya hidup bagi para anggota kelompok melalui atribut dan praktik yang berasal dari konsumsi kreatif produkproduk yang ada sehingga membedakannya dengan kondisi mainstream (Thornton, 1997: 5; Barker, 2004: 337). Konsumsi kreatif yang menghasilkan atribut dan praktik kultural tersebut berasal dari proses bricolage yang melibatkan penataan ulang dan rekontekstualisasi barang/objek untuk mengkomunikasikan makna yang lebih baru dan segar (Clarke, 1976: 177). Konsumsi kreatif merupakan bentuk partisipasi aktif dari para anggota sebuah subkultur. Dengan partisipasi aktif itulah terjadi proses menjadikan komoditas menjadi lebih bermakna untuk kepentingan identitas kolektif sesuai dengan kebutuhan mereka (Douglas & Isherwood, 1979: 75). Maka tidak mengherankan, di tengah-tengan arus besar musik pop yang ditandai dengan konsep romantisme, muncul kelompok-kelompok anak muda yang merekontekstualisasikan peralatan musik untuk menciptakan musik punk, misalnya, yang lirik-liriknya dipenuhi sumpah serapa sebagai bentuk oposisi terhadap kecarut-marutan kondisi sosial serta keseragaman selera masyarakat terhadap musik pop. Dan di tengah-tengah suasana hedonis mall dan plaza di Manila, terdapat sekelompok politisi dan intelektual yang dengan santai menikmati kopi dan makanan di kafe sembari memperbincangkan—lebih tepatnya “meng-gosipkan”—persoalan politis negara (Lopes, 1995: 103-108).

Kolektivitas dan kreativitas konsumtif yang terbentuk dalam praktik dan atribut dalam subkultur, kemudian, bisa dibaca dalam dua perspektif, yakni: (1) sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni tradisi besar serta massifikasi dan komodifikasi barang konsumsi; (2) sebagai pemaknaan kreatif atas komoditas yang dihasilkan industri demi kepentingan kelompok dan gerakan mereka. Realitas produksi beragam komoditas secara langsung telah memunculkan varian-varian subkultur yang sesuai dengan konteks konsumsi komoditas yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pendukungnya. Ragam subkultur tersebut pada akhirnya melahirkan perbedaan dalam orientasi kultural yang diacu, apakah bersikap oposisonal dengan tindakan politis, seperti yang terdapat dalam subkultur punk maupun skinhead, atau oposisional melalui pemaknaan kreatif, seperti yang terdapat dalam subkultur pengendara mobil/motor, subkultur ngobrol di kafe, dan lain-lain. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa meskipun subkultur terkesan ‘kurang formal’, dalam praktik-praktik yang diciptakan untuk menyemaikan identitas kolektif para anggota satu kelompok atau klub seringkali terdapat usaha-usaha formal, tidak hanya melalui atribut, tetapi juga melalui struktur keanggotaan, kepengurusan, hingga kegiatan-kegiatan bersama. Dalam konteks itulah pembacaan terhadap partikularitas yang ada dalam klub atau kelompok pendukung subkultur perlu dilakukan.

Atribut dan praktik kultural dalam klub motor: merayakan partikularitas

Dalam kajiannya tentang scooter di Inggris, Hebdige (2000) menjelaskan bahwa motor yang semula diciptakan untuk kaum perempuan aktif itu, ternyata, dalam perkembangannya mendapatkan ‘pemaknaan kreatif’ bagi kaum muda (baik laki-laki maupun perempuan) di Inggris. Pemaknaan kreatif tersebut berkaitan dengan bagaimana mereka memperlakukan scooter—yang nota-bene-nya sekedar alat transportasi yang feminin—sebagai objek yang mampu menciptakan identitas kolektif bagi para pengendaranya. Atribut dan praktik partikular yang dilekatkan dengan produk tersebut menjadi medium untuk menyemaikan identitas kolektif. Identitas kolektif tersebut semakin menemukan signifikansinya dengan lahirnya klub-klub scooter pada masing-masing kota di Inggris. Beragam kegiatan muncul dari kehadiran klub-klub tersebut. Kajian Hebdige menyiratkan betapa kehadiran scooter dalam masyarakat Inggris telah terjadi ‘pembongkaran’ dari nilai fungsional menuju nilai simbolik untuk merepresentasikan gaya hidup dan identitas para pengendaranya.

Apa yang terjadi dengan para pengendara scooter di Inggris juga bisa digunakan untuk merefleksikan aktivitas serupa yang dilakukan para pendukung subkultur pengendara motor yang terdapat di negara-negara lain, termasuk di Indonesia. Motor pada era 70 hingga 80-an merupakan barang mewah yang hanya bisa dibeli oleh segelintir orang berduit. Seiring perkembangan ekonomi, semakin banyak pekerja/karyawan yang mempunyai kesempatan untuk membeli motor dengan beragam merk yang ada di pasaran. Pada awalnya kehadiran motor semata-mata digunakan untuk menunjang tingkat mobilitas mereka dalam bekerja. Namun ketika mereka bertemu dengan sesama pengendara motor dengan merk serupa, mulailah terjadi proses komunikasi tentang persoalan-persoalan teknik yang berkaitan dengan motor mereka. Ketika mereka membandingkan dengan kehadiran pengendara produk otomotif lain—katakanlah mobil, misalnya—dan merk motor lain, secara tidak langsung mereka merasa dalam satu ikatan identitas yang ditandai dengan merk. Sejalan dengan beban pekerjaan yang menumpuk, mereka membutuhkan sarana-saran pelepasan untuk refreshing, maka mulailah mereka melakukan aktivitas rekreasi menuju satu wilayah tertentu dengan menggunakan motor yang mereka punyai. Ketika mereka menemukan kenyataan bahwa identitas kolektif mereka semakin mewujud. Inilah awal terbentuknya klub-klub motor. Dalam perkembangannya, tidak hanya kelas menengah baru yang bergabung dalam klub motor, tetapi juga para pelajar yang merasa punya kesamaan identitas. Kelahiran subkultur pengendara motor dengan beragam klub yang ditandai dengan merk motor tertentu merefleksikan (1) munculnya kelas menengah baru dalam masyarakat kota yang ditandai dengan kemampuan membeli komoditas otomotif; (2) adanya keinginan untuk memunculkan identitas kolektif yang berbeda dengan apa-apa yang mereka jumpai dalam ranah pekerjaan dan konsumsi komoditas; dan, (3) adanya usaha untuk menciptakan partikularitas atribut dan praktik yang membedakan satu klub dengan klub lainnya.

Merk menjadi penanda simbolis pertama yang menyatukan para pengendara motor dalam satu klub. Merk menjadi pilihan karena inilah penanda paling menyolok yang membedakan satu pengendara motor yang satu dengan pengendara motor yang lain. Dalam konteks tersebut, merk dan model tampilan motor yang pada awalnya semata-mata menjadi kebutuhan produsen otomotif untuk mempengaruhi ketertarikan calon konsumen, dalam proses konsumsi berubah menjadi satu makna simbolis yang menunjukkan identitas kolektif dan mengikat seorang pengendara dengan pengendara lain dalam satu klub. Pemaknaan yang terjadi menandakan bahwa dalam konsumsi posmodern terjadi fragmentasi dari relasi produksi dan konsumsi, bahwa relasi yang terjadi tidak selalu linear. Fragmentasi tersebut ditandai dengan kemampuan dan kebebasan konsumen untuk “menandakan-kembali” dan “memaknai kembali” apa yang terdapat dalam komoditas untuk kemudian memunculkan identitas baru yang mereka butuhkan (Firat, 1995: 120).

Untuk memperkuat ‘peta makna’ yang muncul dari kesamaan merk, maka diciptakanlah atribut-atribut yang semakin mengikat kesatuan dan identitas kolektif di antara para anggota. Atribut biasanya berupa seragam ataupun pakaian-pakaian khas, logo, serta sticker yang menunjukkan identitas klub. Khusus untuk seragam dikenakan apabila klub melakukan kegiatan-kegiatan bersama. Sedangkan sticker biasanya ditempelkan pada salah satu bagian motor. Pemakaian seragam dalam klub motor menunjukkan betapa dalam proses konsumsi tidak hanya melibatkan produk yang berkaitan dengan urusan teknis otomotif, tetapi juga produk lain yang berkaitan dengan fashion, pakaian, yang distilisasi sedemikian rupa sehingga mewujud sebagai penanda simbolis yang menunjukkan identitas. Kondisi tersebut tentu saja bersifat kontradiktif tentang pemaknaan gaya dan model pakaian dalam konteks modernitas. Dalam kajian kritisnya tentang gaya Ewen menunjukkan bahwa gaya dan model pakaian merefleksikan kemampuan seseorang untuk merelasikan diri dengan kemajuan jagat modern (2000: 47-56). Dalam konteks partikular klub motor, gaya dan model pakaian menjadi atribut simbolis yang mengartikulasikan kepentingan identifikasi seseorang di dalam klub. Dengan menjadi atribut simbolis yang dipahami oleh para anggota klub, maka pakaian berpotensi untuk tidak sebagai sekedar penutup aurat, tetapi ia bisa dibaca sebagai kode bahasa yang mampun mengkomunikasikan kesamaan identitas dan orientasi kultural di antara para anggota serta prinsip dan kategori kultural yang mengikat mereka (McCracken, 1988: 59 & 68).

Seragam yang dikenakan para anggota klub biasanya berupa pakaian dengan corak casual—berupa jaket, baju lengan pendek, atau kaos—yang menyiratkan semangat dinamis para anggota klub sekaligus semangat untuk tidak terlalu ‘njlimet’ dalam menjalankan aktivitas. Kasualitas pakaian menjadi penting karena para anggota klub tidak ingin terbebani dengan persoalan yang bisa muncul ketika mereka mengenakan pakaian dengan gaya formal sehingga mereka tidak bisa menikmati kebebasan dan kenikmatan yang mereka peroleh ketika bersama-sama anggota lainnya melakukan satu aktivitas kolektif. Kasualitas tersebut juga menunjukkan “perayaan akan perbedaan” dengan pakaian yang dikenakan dalam aktivitas pekerjaan atau pendidikan yang banyak dipenuhi dengan nuansa pakaian yang formal dan sopan. Meskipun sama-sama mengusung semangat kasualitas dalam pakain, masing-masing klub memiliki karakteristik, terutama dalam hal desain dan model. Karakteristik itulah yang menjadi tanda pembeda antara satu klub dengan klub lainnya. Pakaian yang dikenakan klub pemilik Yamaha MX, tentu akan berbeda dengan klub pemilik Suzuki Shogun, maupun dengan klub pemilik Honda Tiger. Bahkan, meskipun sama-sama berasal dari klub dengan merk yang sama, semisal Honda Tiger, namun pakaian yang dikenakan anggota klub pemilik Honda Tiger di Malang akan berbeda dengan yang dikenakan anggota klub pemilik Honda Tiger di Depok.

Scooter 1

Logo klub juga menjadi atribut simbolis yang mengkodekan semangat dan orientasi yang diusung masing-masing klub kepada seluruh anggotanya. Dengan logo, para anggota merelasikan diri mereka dengan orientasi kultural yang hendak dicapai atau dicita-citakan klub. Inilah yang menjadikan logo masing-masing klub berbeda karena meskipun sama-sama sebagai pendukung subkultur pengendara motor, namun masing-masing klub mempunyai orientasi yang berbeda dalam menjalankan aktivitas-aktivitasnya. Salah satu klub yang sangat memperhatikan persoalan logo adalah Scooter Owners Group Indonesia (disingkat SOG). SOG memilih logo bergambar kalong (kelelawar besar) yang mencengkram kata SOG. Dalam situs SOG, dijelaskan makna kalong sebagai berikut: (1) kalong itu hitam dan merefleksikan kejantanan, kegagahan, dan kewibawaan, dan SOG diharapkan bisa menjadi klub motor yang menampilkan itu semua; (2) kalong itu hidupnya mandiri sehingga anggota SOG diharapkan bisa mandiri dan tidak tergantung kepada pihak lain; (3) kalong itu tahan terhadap berbagai kondisi, baik hujan, panas, sehingga anggota SOG tetap bisa melaksanakan kegiatannya dalam setiap kondisi; (4) kalong itu hidup berkelompok sehingga anggota SOG diharapkan untuk tetap kompak dan saling bekerjasama; dan, (5) kalong itu dapat memilih tempat yang baik serta mencari makanan yang manis untuk kepentingan diri dan kelompoknya sehingga anggota SOG diharapkan mampu memberikan kontribusi positif dalam menentukan kegiatan yang bermanfaat bagi anggota lain dan kelompok.[1] Apa yang dilakukan SOG bisa dibaca sebagai usaha untuk menyamakan pandangan para anggota terhadap orientasi klub melalui kesamaan pemaknaan dari logo kalong.

Atribut lain yang mampu menjadi perekat anggota klub maupun para pendukung subkultur pengendara motor adalah layanan dunia maya berupa website atau mailing-list (milis). Masing-masing klub biasanya mempunyai website yang bisa diakses oleh para anggotanya maupun anggota klub motor lain. Dengan website para anggota klub bisa semakin mempererat ikatan kolektif sekaligus mendapatkan informasi-informasi terkait dengan agenda klub. Melalui milis para anggota juga bisa bertukar informasi dan memberikan ide-ide kreatif untuk pengembangan klub khususnya, dan subkultur pengendara motor pada umumnya. Website klub motor yang sudah ada di internet antara lain: (1) SOG, http://scooterownersgroup.org; (2) Depok Tiger Club, http://detic.hondatiger. or.id; (3) Yahama Jupiter Owners Community,  http://www.yjoc.info; (4) Komunitas Honda Tiger Indonesia, http://www.honda-tiger.or.id; (5) Komunitas Yamaha MX Indonesia, http://www.ymci.web.id/, dan lain-lain. Di samping atribut-atribut kolektif, klub-klub motor juga mempunyai praktik-praktik kultural yang menandakan kolektivitas, kehadiran, dan keberbedaan mereka dengan aktivitas kultural lain yang dihasilkan dari tradisi besar maupun budaya pasar. Praktik kultural tersebut dieskspresikan dalam bentuk aktivitas yang melibatkan seluruh anggota, baik berupa aktivitas intraklub, antarklub, maupun yang menunjukkan keterlibatan sosial (social involvement) klub motor dengan masyarakat yang lebih luas. Aktivitas intrakelompok biasanya berupa touring dan rapat. Aktivitias antarkelompok berupa pertemuan atau jambore antarklub motor dari merk sama yang berasal dari kota-kota di Indonesia. Sementara aktivitas keterlibatan sosial, biasanya berupa bhakti sosial kepada komunitas tertentu yang membutuhkan bantuan.

Praktik ‘ritual’ kolektif: dari touring, rapat, hingga bhakti sosial

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa para anggota klub motor secara umum berasal dari kelas menengah baru, yakni para karyawan maupun pelajar/mahasiswa. Dalam keseharian, mereka mempunyai aktivitas-aktivitas yang keseriusan dan konsentrasi tinggi, sehingga dalam waktu-waktu libur mereka membutuhkan pelepasan rekreatif berupa aktivitas yang berbeda dari ruang keseharian untuk menemukan energi baru. Di samping bersama keluarga, mereka bisa menemukan semua itu dalam klub motor. Aktivitas klub motor yang menyediakan medium untuk itu semua adalah touring, bepergian bersama ke sebuah wilayah baru untuk mempererat semangat kolektif sembari berekreasi, dan juga konvoi, berkendara bersama pada malam hari atau pagi hari (biasanya malam minggu dan minggu pagi) di dalam kota untuk kemudian mencari tempat untuk nongkrong dan ngobrol. Kedua praktik ‘ritual’ tersebut, paling tidak, menandakan bahwa dalam mengkonsumsi produk otomotif, para pengendara motor dalam klub mampu melakukan aktivitas produktif untuk menemukan makna baru, menuju keguyuban dalam identitas kolektif.

Touring sepertinya sudah menjadi agenda rutin klub motor. Klub motor melakukan touring bersama-sama menuju sebuah lokasi (biasanya di luar kota). Adakalanya mereka mengajak anggota keluarga (bagi yang sudah berkeluarga). Dalam touring para anggota klub mengenakan pakaian seragam untuk menunjukkan identitas klub mereka. Meskipun mereka merefleksikan semangat dinamis, namun dalam perjalanan mereka tetap saja mematuhi peraturan-peraturan lalu-lintas dan mempraktikkan safety reading untuk menghindari kecelakaan yang bisa membahayakan keselataman mereka. Hal itu menunjukkan betapapun berbedanya subkultur pengendara motor dengan tradisi besar dalam masyarakat, para anggota klub motor tetap ‘menghargai’ tata-tertib demi keselamatan diri. Ketika sampai dilokasi mereka segera melakukan aktivitas bernuansa rekreatif-edukatif, berupa outbond—permainan bersama yang mengandalkan kerjasama tim. Dari aktivitas outbond itulah mereka bisa memupuk kolektivitas antaranggota sekaligus menemukan energi baru ketika kembali ke dunia pekerjaan atau pendidikan.

Konvoi pada malam minggu menjadi praktik ‘ritual’ kolektif lain bagi para anggota klub. Konvoi ini biasanya dilakukan malam minggu selepas Isya hingga tengah malam atau minggu pagi sampai siang, tergantung kesepatakan di antara para anggota. Para anggota klub motor biasanya memilih jalan-jalan protokol kota untuk dilintasi. Ketika melalui jalan-jalan tersebut, sesekali mereka membunyikan klakson secara bersama-sama. Hal itu bukan untuk menunjukkan kesombongan, tetapi sekedar menandakan kehadiran mereka di tengah-tengah lalu-lintas malam atau pagi kota. Selepas melintasi jalan-jalan protokol, biasanya mereka akan memilih tempat nongkrong untuk ngobrol tentang otomotif atau persoalanpersoalan lain yang ada dalam kehidupan sehari-hari, dari soal pekerjaan hingga persoalan politik tanah air. Tempat ngobrol yang dipilih biasanya di kafe, depan mall/plaza, atau warung tenda. Dari obrolan santai itulah, suasana guyub bisa hadir ke tengah-tengah para anggota klub. Ragil, salah satu anggota Piaggio Club Indonesia, mengatakan: “Beginilah, berkumpul bersama teman. Bisa menghilangkan rasa jenuh setelah sibuk ngurusin kerjaan. Di sini saya bisa ketemu banyak teman dan saling tukar informasi”.[2]

Scooter 2

Di samping aktivitas internal kelompok, ada juga pertemuan dalam bentuk jambore yang mempertemukan klub-klub motor merk sejenis. Adapun aktivitasaktivitas dalam jambore antara lain: unjuk kebolehan dalam hal modifikasi motor dan atraksi-atraksi kreatif freestyle (akan dibahas selanjutnya). Dalam jambore para anggota klub dari setiap kota bisa saling bertukar informasi tentang persoalan motor mereka dan juga persoalan-persoalan lainnya. Untuk memeriahkan jambore, biasanya diadakan pentas musik yang diisi musik pop, rock, hingga maupun dangdut. Namun, ajang jambore bisa juga digunakan kekuatan kapitalis untuk memperkuat dan mempromosikan citra motor merk tertentu kepada para konsumen.[3] Tidak mengherankan kalau dalam ajang jambore klub bisa ditemukan puluhan umbul-umbul sponsor dari perusahaan motor yang bersangkutan. Terlepas dari realitas tersebut, jambore tetap saja menjadi situs penting bagi perayaan rasa guyub antarklub motor merk sejenis. Di samping kegiatan jambore, satu klub di satu kota seringkali mengadakan kungjungan muhibah ke klub di kota lain. Selain sebagai aktivitas touring, juga sebagai medium pertukaran informasi dan kerukunan.

Untuk tetap menjaga roda organisasi klub dan mengembangkan ide-ide pengembangan, masing-masing klub motor juga mempunyai agenda kegiatan berupa rapat yang melibatkan anggota. Seperti organisasi-organisasi lainnya, rapat anggota diselenggarakan untuk (1) melakukan evaluasi kepengurusan periode sebelumnya; (2) memilih pengurus baru; (3) menetapkan program kerja ke depan; dan, (4) menampung ide-ide kreatif dari para anggota. Dana rapat diperoleh dari iuran wajib anggota yang dibayar tiap bulan dan sumbangan sukarela anggota, serta sumbangan-sumbangan dari pihak lain (seperti sponsor) yang bersifat tidak mengikat. Lokasi penyelenggaraan rapat anggota biasanya dipilih tempat yang menghadirkan suasana rileks, seperti di kafe-kafe yang berada luar kota sehingga mereka bisa bertukar pikiran dalam suasana yang akrab dan santai. Klub motor yang sudah mapan dan struktur organisasinya sudah tertata hingga tingkat nasional, seperti SOG, secara berkala melakukan Musyawarah Nasional (Munas) yang diselenggarakan di hotel: Munas I dilaksanakan di Hotel Provence Bandung, Munas II di Hotel Mega Mendung Puncak, dan Munas III di Hotel Augusta Cipanas.[4] Hal serupa juga dilakukan oleh Klub Harley Davidson Indonesia yang rata-rata pemiliknya adalah orang-orang kaya (the have).

Untuk menampung aspirasi dan melangsungkan komunikasi intensif antarklub dalam satu wilayah kota, dibentuk juga forum silaturahmi sebagai ajang bertemunya klub-klub motor. Selain untuk ajang silaturahmi, kehadiran forum antarklub juga bisa menjadi ‘senjata politis’ untuk memperjuangkan kepentingan dan aspirasi klub-klub motor. Di Jakarta, misalnya, dibentuk Forum Komunikasi Antar Club Community Jakarta. Salah satu agenda politis forum ini adalah memperjuangkan pembatalan pemberlakukan larangan bagi pengendara motor untuk melintas di jalan-jalan protokol ibu kota. Sebagai wujud penyampaian aspirasi, forum ini dalam pemilihan gubernur (Agustus 2007) akan memilih calon gubernur yang mau memperjuangkan pembatalan peraturan tersebut karena peraturan tersebut hanya akan merugikan kelas menengah ke bawah yang rata-rata menggunakan motor sebagai alat transportasi menuju tempat kerja.[5] Di satu sisi, gerakan politis tersebut bisa dibaca sebagai bentuk resistensi kritis para anggota klub terhadap pemerintah demi berpihak pada kepentingan para pengendara motor yang jumlah jutaan di ibu kota. Di sisi lain, gerakan itu—apabila tidak dikonsep dengan baik—bisa menjadi pintu masuk bagi para brokers politik untuk mempengaruhi pilihan politis para bikers dan mengarahkannya kepada salah satu calon sehingga bisa merugikan independensi dan semangat resistensi mereka sendiri.

Di samping aktivitas-aktivitas di atas, beberapa klub motor di Indonesia juga mempunyai kegiatan yang bisa disebut “keterlibatan sosial” (social involvement) yang beruwujud bhakti sosial kepada para korban bencana atau orang-orang yang membutuhkan bantuan. Bhakti sosial menjadi bukti betapa klub motor tidak hanya berkutat dengan persoalan teknik mesin maupun touring tetapi juga masih memperhatikan penderitaan sesama. Bantuan biasanya dikumpulkan dari para anggota, baik berupa uang maupun sembako, tergantung keperluan yang dibutuhkan oleh korban. Ketika bantuan sudah terkumpul, para anggota klub bersama-sama mendatangi lokasi. Seperti yang dilakukan Depok Tiger Club (Detic). Ketika terjadi bencana gempa bumi di Yogyakarta dan Klaten (2006), klub ini menggalang sumbangan dari para anggota dan juga para dermawan di Depok dan sekitarnya untuk kemudian dibawa dan dibagikan kepada korban di Klaten, tentu setelah terlebih dahulu berkoordinasi dengan klub motor Tiger yang ada di sana.[6] Ini menunjukkan betapa nilai-nilai sosial berupa rasa guyub dalam klub motor mampu mendorong lahirnya kepekaan sosial yang diaplikasikan kepada masyarakat luas.

Keliaran-keliaran yang dinamis: dari modifikasi hingga freestyle

Di samping praktik ‘ritual’ kolektif melalui aktivitas-aktivitas klub motor, subkultur pengendara motor juga ditandai dengan maraknya modifikasi dan freestyle. Modifikasi yang dilakukan berhubungan dengan usaha untuk mempercantik tampilan luar motor dengan menambahkan aksesoris-aksesoris dan juga dengan merombak atau membongkar model motor sehingga tampak tidak asli pabrikan lagi. Sementara freestyle merupakan gaya liar mengendarai motor yang ditunjukkan dengan kemampuan pengendara untuk melakukan atraksi akrobatik yang terlihat ekstrim dan berbahaya.

Dengan modifikasi, motor yang secara teknik-mesin sudah ketinggalan jaman bisa terlihat modis dan up to date. Bahkan modifikasi juga dilakukan kepada motor-motor keluaran terbaru sehingga menimbulkan kesan adanya estetitasi yang berkaitan dengan selera individual si pemilik. Tidak heran kalau dalam satu klub motor bermerk dan bertipe sama, bisa terjadi keanekaragaman modifikasi. Semua itu menandakan betapa dalam satu identitas klub masih bisa ditemukan keberagaman selera estetis yang menandai perbedaan antara satu pemilik dengan pemilik lainnya. Seorang anggota klub yang motornya dimodifikasi semenarik mungkin dan berbeda dengan motor lainnya biasanya akan mendapatkan pujian dari anggota lainnya. Dengan begitu, secara simbolis ia akan mendapatkan penghargaan dan pengakuan. Meminjam istilah Bordieu, motor modifikasi mampu menjadi modal simbolik (symbolic capital) yang mampu mengangkat derajat si pemilik dalam posisi terhormat. Modifikasi saat ini menjadi trend bagi para pengendara motor dan sekaligus menandakan adanya kebebasan dan independensi konsumen untuk memperlakukan produk pabrikan sesuai dengan keinginan dan selera estetis mereka. Dengan modifikasi, para pengendara telah melakukan proses dekonstruksi model dan juga melakukan perilaku oposisional untuk tidak mengikuti ‘seragamisasi’ yang dilakukan produsen otomotif: sebuah resistensi semiotik.

Freestyle juga menjadi penanda simbolis tersendiri bagi kehadiran ‘atmosfer keliaran’ subkultur pengendara motor. Mereka yang berani melakukan atraksiatraksi freestyle rata-rata masih berusia muda. Atraksi akrobatik yang ekstrim menandakan semangat kebebasan dan keliaran yang mengalir dalam diri mereka. Aturan-aturan ketertiban dan keamanan dalam berkendara (safety reading) memang mereka patuhi, terutama ketika mereka berkendara di jalanan umum maupun dalam kegiatan touring dan konvoi. Namun demikian, jiwa muda mereka menuntut adanya ruang dan aktivitas pembebasan yang bisa digunakan untuk mengekspresikan keberanian dan semangat dinamis yang mereka miliki. Para freestyler mempunyai semangat untuk berbeda dan berperilaku oposisional dari kelaziman bermotor di jalan. Di samping itu, adegan ekstrim juga menyiratkan satu nilai resistensi terhadap aturan-aturan tradisi besar yang membayangkan ketertiban dalam menjalankan norma-norma sosial.

Untuk menampung hasrat tersebut, pengurus klub menyediakan ruang bagi freestyle dalam tempat khusus sehingga tidak mengganggu aktivitas lalu-lintas jalan raya. Freestyle bisa berbentuk atraksi berkendara sambil tiduran, menyetir dengan kaki, jumping, berkendara dengan empat hingga lima orang, dan lain-lain. Bahkan freestyle sudah memperoleh pemaknaan yang meluas, tidak hanya keliaran berkendara, tetapi juga berupa keberanian melampaui batas kemampuan sebuah motor. Semisal motor metic—Mio, Spin, Vario, dan lain-lain—yang pada awalnya ditujukan untuk konsumsi jalan-jalan perkotaan, dalam perkembangannya digunakan oleh para freestyler untuk berkendara di medan-medan berat yang terjal, baik yang berlumpur maupun berbatu. Keberagaman dan popularitas freestyler di antara para pengendar motor melahirkan inspirasi bagi lomba-lomba freestyle yang mempertemukan bakat-bakat keliaran dalam kompetisi yang sangat dinamis. Para pemenang akan mendapatkan posisi terhormat dan patut dihargai oleh sesamanya.

Di jalanan juga ada budaya

Subkultur pengendara motor dan subkultur lainnya, bagaimanapun juga, telah, sedang, dan akan menjadi satu realitas budaya dalam masyarakat (pos) modern Indonesia yang ditandai dengan perayaan gaya hidup dalam praktik konsumsi yang beragam makna. Eksistensi subkultur tidak bisa dianggap sekedar pelengkap bagi penyebaran budaya konsumen dan juga bukan semata-mata penyimpangan dari tradisi besar yang berkembang dalam masyarakat. Apa yang dilakukan oleh para pendukung subkultur hendaknya dibaca sebagai satu tanda bagi dinamisasi yang sedang berkembang dalam masyarakat. Bahwa kebudayaan tidak bisa lagi dibaca sebagai tradisi besar yang mengusung satu kesatuan utuh antara cita-cita ideasional dan praktik yang dijalankan para pendukungnya. Realitas yang hadir dalam masyarakat modern Indonesia menghadirkan kondisi posmodern yang menciptakan partikularitas-partikularitas dalam praktik berbudaya. Partikularitas-partikularitas tersebut bukanlah realitas remeh-temeh (trivial) yang tidak harus diperhatikan dalam kajian akademis karena mungkin kurangnya bobot kebudayaan yang ada di dalamnya. Sebaliknya, dari partikularitas itulah bisa dilihat munculnya maknamakna simbolis baru yang hadir dan menjadi peta makna bersama bagi para pendukungnya. Dengan kata lain, partikularitas subkultur telah hadir sebagai makna yang dijalani para pendukungnya dalam praktik dan atribut kolektif telah memenuhi syarat untuk dipahami sebagai kebudayaan.

Adalah satu kenaifan ketika mengasumsikan apa yang terjadi dalam subkultur sebagai keremeh-temehan yang tidak perlu dibesar-besarkan secara akademis. Persoalannya bukan pada hiperbolasisasi subkultur, tetapi tergantung pada kemauan dan kejujuran akademis untuk berkenan membaca struktur tanda dan praktikpraktik simbolis partikular dalam subkultur sebagai realitas kultural yang harus diungkapkan. Tentu saja pemikiran tersebut mensyaratkan satu kemauan dekonstruktif dari para peneliti untuk keluar dari konservatisme dan fanatisme akademis dan mulai memandang keragaman potensi kultural yang ada dalam masyarakat, bukan sekedar berpikir tentang keagungan budaya adiluhung atau kekakuan tradisi besar. Di samping itu, klaim-klaim kritis tentang pendangkalan massa akibat massifikasi dan standarisasi produk industri, sudah semestinya dikoreksi lagi karena cenderung meciptakan dalil-dalil general dan mengasumsikan konsumen sebagai makhluk pasif yang hanya bisa menerima. Hal itu bukan berarti menggiring akademisi untuk tidak berpikir kritis. Lebih dari itu, konteks kritis harus terus dibangun, tetapi tidak dengan dogma-dogma kaku yang terkesan meremehkan potensi kreatif massa konsumen.

Subkultur pengendara motor telah memberikan pemahaman baru betapa dalam praktik konsumsi telah terjadi perayaan kultural yang begitu beragam demi menandakan keberbedaan dan semangat kolektif di antara para pendukungnya. Motor, pengendara motor, dan jalanan yang selama ini dikesampingkan dalam kajian-kajian akademis ternyata mampu mewujud dalam subkultur yang ditandai dengan semangat dan perilaku dinamis yang mengarah sifat kreatif-konstruktif. Motor yang menjadi tanda modernitas dan kemajuan teknologi transportasi bagi bangsa ini dan diasumsikan sebagai representasi kepentingan kapitalis, telah menemukan makna simbolis baru yang lebih kreatif melalui resistensi semiotik yang dilakukan oleh para pengendaranya. Motor, dengan kata lain, bukan semata-mata menjadi barang konsumsi yang digerakkan oleh kepentingan produsennya, tetapi telah menjadi medan pertarungan semiotik dimana para konsumennya melakukan pemaknaan-pemakanaan baru yang sesuai dengan kepentingan dan selera estetis mereka. Dengan demikian, motor sebagai barang konsumsi memiliki sejarah kehidupan sosial yang maknanya bisa mengalami perubahan-perubahan seiring perkembangan kultur dan transformasi pola konsumsi dalam masyarakat (Appadurai dalam Lury, op.cit.hlm.19).

Para pengendara motor yang selama ini diasumsikan sebagai pencipta polusi udara dan suara serta penyebab kemacetan di jalan-jalan protokol, dalam konteks subkultur, telah ‘lahir’ sebagai makhluk-makhluk kreatif yang mereproduksi dan merekontekstualisasikan makna sebuah barang konsumsi dalam praktik estetisasi dan stilisasi melalui modifikasi-modifikasi kreatif. Model dan makna sebuah motor tidak lagi terletak pada imposisi yang dilakukan oleh industri, tetapi pada bagaimana konsumen membongkar dan merekonstruksinya dalam praktik konsumsi. Melalui klub-klub motor, para mengendara mampu mewujudkan satu tatanan sosial baru yang direprensentasikan melalui kolektivitas identitas dan praktik yang mengikat mereka layaknya satu komunitas sosial. Dengan keguyuban, mereka membangun dan mengembangkan eksistensi klub dengan semangat solidaritas, sesuatu yang saat ini dikatakan mulai memudar dalam masyarakat. Melalui solidaritas pula mereka berhasil mempraktikkan nilai sosial, ‘tolong-menolong’, sebagai modal sosial yang signifikan dalam berinteraksi dengan masyarakat luar, terutama mereka yang membutuhkan pertolongan. Dalam klub pula, para pengendara motor bisa melakukan gerakan-gerakan perlawanan terhadap kebijakan yang merugikan masyarakat. Dalam klub pula, mereka bisa merayakan semangat pembebasan dari keterkungkungan dan kekangan beragam persoalan ideologis, dari kekakuan tradisi besar, rutinitas pekerjaan, hingga ketimpangan sosial.

Jalanan telah menjadi sebuah arena baru bagi perayaan subkultur pengendara motor. Di jalananlah para pengendara motor melakukan ‘selebrasi kultural’ yang merepresentasikan satu semangat untuk berbeda namun tetap mentaati aturan lalulintas dalam bentuk safety reading. Jalanan juga telah menjadi arena untuk menyemaikan gaya hidup bermotor yang membedakan anggota klub dengan pengendara motor lain ataupun para pengendara mobil. Melalui touring maupun konvoi, para pengendara menunjukkan kepada publi bahwa mereka punya gaya bermotor yang berbeda tetapi tidak selalu dalam bentuk yang chaos. Apa yang lahir di jalanan adalah satu bentuk kultural baru yang harus dibaca sebagai partikularitas dan tidak selamanya yang hadir di jalanan adalah atribut dan praktik yang tidak berbudaya, tetapi sangat berbudaya karena di situlah lahir kreativitas-kreativitas dalam semangat keberbedaan yang produktif. Lebih jauh lagi, jalanan telah menjadi arena kultural baru yang mampu menciptakan solidaritas kolektif demi mencapai orientasi kultural yang dinamis dan kreatif.

Terus kritis membaca subkultur pengendara motor: simpulan

Kehadiran subkultur pengendara motor dengan beragam klub atau komunitasnya, telah melahirkan satu kajian baru dalam disiplin ilmu-ilmu humaniora, seperti antropologi, sosiologi, maupun cultural studies. Dengan memberikan perhatian kepada ragam subkultur yang ada dalam masyarakat saat ini, para pengkaji humaniora akan mendapatkan kajian yang bergerak dinamis serta tidak sematamata menganggap konsep dan praktik kebudayaan sebagai sesuatu yang mapan. Kebudayaan masyarakat adalah mozaik yang dipenuhi beragam warna, corak, pola, dan makna simbolis yang diyakini oleh para pendukungnya. Kebudayaan adalah wujud keberagaman yang eksis dan saling mengisi dalam sebuah masyarakat besar.

Dengan mengambil posisi tersebut pengkaji akan lebih bisa memberikan penekanan kritis yang berlandaskan pada pendalaman akan partikularitas, tanpa terburu-buru mengasumsikan generalisasi yang seringkali memunculkan stereotipisasi negatif terhadap praktik yang terkesan menyimpang.

Ke depan, kajian subkultur bisa semakin diperluas dengan perspektif-perspektif kritis, selain aspek konsumsi kreatif, kolektivitas, serta semangat oposisional yang ada di dalamnya. Subkultur pengendara motor, misalnya, bisa dibaca tidak hanya dari modifikasi, freestyle, dan pemaknaan kreatif lainnya, tetapi juga pada relasi-relasi kuasa yang ada di dalamnya. Dalam klub, misalnya, bagaimana posisi pengurus dalam mengarahkan dan menggiring penciptaan atribut dan praktik ‘ritual’ yang diikuti para anggotanya, apakah mewujud dalam bentuk hegemoni atau terdapat praktik dialogis di antara mereka. Dan labih jauh lagi, relasi kuasa bisa diterapkan untuk melihat pilihan-pilihan politis terkait dengan agenda-agenda politik praktis, semisal pemilihan bupati/walikota, gubernur, anggota DPR/DPRD, maupun presiden sehingga bisa dilihat bagaimana kebijakan yang diambil pengurus serta implikasinya terhadap para anggota. Kajian tersebut penting karena klub-klub motor sangat mungkin dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan politik untuk mensukeskan kepentingan dan agenda mereka. Di samping itu, kajian juga bisa diarahkan pada (1) usaha-usaha hegemonik penguasa untuk menertibkan keberadaan klub-klub motor melalui peraturan-peraturan yang seakan-akan memberikan kelonggaran tetapi sebenarnya tetap mengekang mereka; (2) usaha-usaha produsen untuk memanfaatkan keberadaan klub motor serta praktik-praktik kreatif yang ada sebagai medium untuk terus mempromosikan produk-produk mereka; dan, (3) respons masing-masing klub terhadap kuasa hegemonik kelas penguasa dan produsen tersebut.

Ketika subkultur selalu dibaca dalam paradigma kritis yang mendasarkan pada keterlibatan pengkaji dalam praktik yang terjadi di dalamnya, maka sangat mungkin akan ditemukan informasi-informasi faktual dan kontekstual yang terkadang tidak terbayangkan sebelumnya. Dengan demikian, keberadaan subkultur dalam masyarakat akan menjadi sebuah ruang kajian yang menarik dan mampu memberikan kontribusi pada cara pandang masyarakat tentang keliaran-keliaran yang terjadi di dalamnya. Bahwa selalu ada kemungkinan-kemungkinan partikular, baik berupa konsumsi kreatif, sikap oposisional dan resistensi, maupun relasi-relasi kuasa yang muncul dari internal maupun eksternal subkultur.

Bacaan pendukung

Abdullah, Irwan.2006a. “Kultur dan Subkultur Kaum Muda: Suatu Refleksi Pemahaman Antropologi, dalam Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

______________ .2006b. “Transformasi Ruang, Globalisas, dan Pembentukan Gaya Hidup Kota”, dalam Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

______________ .2006c. “Budaya Jalanan: Persoalan Konsep, Makna, dan Implikasi Sosial, dalam Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Adorno, Theodor W. & Max Horkheimer.1993. “The culture industry: enlightment as mass deception”, dalam Simon During (ed). The Cultural Studies Reader. New York: Routledge.

Adorno, Theodor W.1997. “Culture Industry Reconsidered”, dalam Paul Marris & Sue Thornham. Media Studies: A Reader. Edinburgh: Edinburgh University Press.

Barker, Chris.2004. Cultural Studies, Teori dan Praktik. (terj. Nurhadi). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Bocock, Robert.1994. “The Emergence of the Consumer Society”, dalam The Polity Reader in Cultural Theory. Cambridge: Polity Press.

Clarke, J.1976. “Style”, dalam Stuart Hall & T. Jefferson (eds). Resistence through Rituals: Youth Subcultures in Post-War Britain. London: Hutchinson.

Douglas, Mary & Isherwood, Mary.1979. The World of Goods, Toward an Anthropology of Consumption. New York: Routledge.

Ewen, Stuart.2000. “….Images without Bottom….,dalam Juliet B. Schor & Douglas B. Holt. The Consumer Reader. London: The New Press.

Fuat, Firat.1995. “Consumer Culture or Culture Consumed?”, dalam Janeen A. Costa & Gary J. Bamossy (eds). Marketing in Multicultural World, Ethnicity,Nationalism, and Cultural Identity. London: Sage Publication.

Gans, Herbert J.1974. Popular Culture and High Culture. New York: Basic Books Inc.

Hebdige, Dick.2000. “Object as Image: The Italian Scooter Style”, dalam Juliet B. Schor & Douglas B. Holt. The Consumer Reader. London: The New Press.

Lopes, Antonio.1995. “Coffee Shop Culture: Days in the Life of Manila’s Gossip Mill”, dalam John A. Lent (ed). Asian Popular Culture. Westview Press.

Lury, Celia.1996. “Material Culture and Consumer Culture” dalam Consumer Culture. Cambridge: Polity Press.

MacDonald, Dwight.1957. “A Theory of Mass Culture”, dalam Bernard Rosenberg & David Manning White. Mass Culture, The Popular Arts in America. Illionis: The Free Press.

McCracken, Grant.1988. “Clothing as Language: An Object Lesson in the Study of the Expressive Properties of Material Culture”, dalam Culture and Consumption, New Approaches to the Symbolic Character of Consumer Goods and Acitivities. Indiana: Indiana University Press.

Thornton, S.1995. Club Cultures: Music, Media, and Subcultural Capital. Cambridge: Polity Press.

Willis, Paul.1900. Common Culture. Keynes: The Open University Press.

Sumber Internet

“Logo SOG”, diakses dari http://scooterownersgroup.org/logo.html, 5 Juni 2007.

“Munas SOG”, diakses dari http://scooterownersgroup.org/munas.html, 5 Juni 2007.

“Dinamika Klub Mobil”, diakses dari http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=4&id=236506&kat_id=105&kat_id1=148, 5 Juni 2007.

“Berakhir Pekan dengan Motor Keren”, diakses dari: http://www.suarapembaruan.com/News/2006/04/13/Urban/urb01.htm, 5 Juni 2007.

“Bikers ingin Cagub Pro-Rakyat”, diakses dari: http://www.beritajakarta.com/V_Ind/berita_detail.asp?idwil=0&nNewsId=24 183, 6 Juni 2007.

“Bhakti Sosial ke Klaten”, diakses dari http://detic.hondatiger.or.id/index.php?name=coppermine&file=displayimage&album=68&pos=8, 6 Juni 2007.

[1] “Logo SOG”, diakses dari http://scooterownersgroup.org/logo.html

[2] “Berakhir Pekan dengan Motor Keren”, diakses dari http://www.suarapembaruan.com/News/2006/04/13/Urban/urb01.htm.

[3] “Dinamika Klub Motor dan Mobil”, diakses dari: http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=4&id=236506&kat_id=105&kat_id1=148

[4] “Munas SOG”, diakses dari: http://scooterownersgroup.org/munas.html

[5] “Bikers ingin Cagub Pro-Rakyat”, diakses dari: http://www.beritajakarta.com/V_Ind/berita_detail.asp?idwil=0&nNewsId=24183

[6] “Bhakti Sosial ke Klaten”, diakses dari http://detic.hondatiger.or.id/index.php?name=coppermine&file=displayimage&album=68&pos=8

Share This:

About Ikwan Setiawan 126 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*