ideologi-media

Mengungkap-kembali ‘yang ideologis’ dalam kajian media: Pemikiran Stuart Hall (bagian-1)

April 7, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini merupakan review dari tulisan Stuart Hall, “The rediscovery of ideology: return of the repressed in media studies” dalam Gurevitch, Michael, Tony Bennet, James Curran & Janet Woollacot (eds). Culture, Society, and Media (London: Metheun, 1982, hlm. 56-90). Pemikirannya mungkin dianggap klasik untuk saat ini, tetapi masih sangat kontekstual untuk membaca bermacam konstruksi ideologis dalam media hari ini.

saman-ayu-utami-rev1

SASTRA WANGI: Kontestasi wacana dalam sastra populer

April 7, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan berikut merupakan analisis kritis terhadap apa-apa yang sebenarnya diusung oleh perdebatan tentang sastra wangi akhir-akhir ini. Perspektif yang dipakai untuk melakukan analisis ini adalah (1) hegemoni yang diusung oleh Antonio Gramsci dan (2) power and knowledge yang dikemukakan oleh Michel Foucault. Dari Gramsci penulis akan menggunakan perspektifnya tentang bagaimana sebuah kelas/kelompok menegosiasikan ideologi dominan yang diusungnya dan bagaimana cara kelompok ini menguasai wacana dan kepentingan kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat dengan cara mengartikulasikan kepentingan-kepentingan kelompok tersebut dan juga bagaimana dalam budaya populer kekuatan subordinat melakukan resisteni terhadap kekuatan hegemonik.[1] Sedangkan dari Foucault penulis akan menggunakan perspektifnya tentang kuasa (power) yang ada di balik wacana-wacana pengetahuan (knowledge) yang terepresentasikan dalam formasi diskursif

darah-dan-doa

LAYAR BERKEMBANG BUDAYA MENGHADANG: Paradoks budaya bangsa dalam perkembangan film Indonesia

April 6, 2016 Ikwan Setiawan 0

Tulisan ini berusaha untuk menelusuri geneaologi kuasa budaya bangsa dalam perkembangan film Indonesia, dari masa Sukarno hingga “Orde Reformasi” saat ini. Asumsi kritis yang mendasari tulisan ini adalah bahwa pengetahuan tentang budaya bangsa yang dibangun oleh aparatus-aparatus hegemonik melalui penyebaran wacana ke dalam kesadaran dan imajinasi masyarakat telah melahirkan rejim kebenaran yang menjadi patokan untuk memberikan penilaian, mengatur, ataupun membicarakan film Indonesia, baik yang dilakukan oleh birokrat seni, budayawan, kritikus, maupun sineas film itu sendiri. Kondisi inilah yang memunculkan tegangan-tegangan diskursif di antara mereka yang mendukung hegemoni melalui budaya maupun yang menentangnya. Untuk bisa sampai ke dalam permasalahan tersebut, tulisan ini akan menggunakan analisis wacana kritis yang dikembangkan dari pikiran-pikiran Michel Foucault tentang wacana dan kuasa/pengetahuan.

kelisanan-640x480

KELISANAN DAN PSIKODINAMIKANYA

April 6, 2016 Ikwan Setiawan 0

Di sadari atau tidak, kelisanan merupakan bagian keseharian dari kehidupan manusia hingga saat ini. Meski tradisi tulis sudah diperkenalkan semenjak dulu melalui institusi sekolah dan buku-buku cetak, namun masyarakat ternyata tidak bisa lepas sepenuhnyan dari kecenderungan menggunakan tradisi lisan dalam banyak ekspresi kulturalnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari realitas bahwa dalam komunikasi manusia masih banyak tergantung pada bahasa bunyi untuk bisa mempercakapkan gagasannya dengan manusia lainnya. Akibatnya banyak karakteristik lisan yang masih terbawa hingga saat ini. Kelisanan dengan demikian telah menjadi bagian dari kultur manusia yang melahirkan keunikan tersendiri.

raja-jawa

BUDAYA DAN KUASA: Pandangan cultural studies

April 6, 2016 Ikwan Setiawan 2

Ketika budaya secara natural mampu ‘menyamarkan’ atau bahkan ‘meniadakan’ kepentingan-kepentingan kelas kuasa, maka budaya, sekali lagi, bukanlah entitas netral, tetapi memiliki kepentingan yang bersifat ideologis yang akan menegakkan dan memapankan kuasa dalam formasi sosial masyarakat. Tulisan ini berangkat dari asumsi kritis tersebut dan secara konseptual akan berusaha membedah persoalan ideologi dan kuasa yang ada dalam wacana dan praktik kultural masyarakat. Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mengatakan bahwa semua budaya yang hidup dalam masyarakat kita sebagai praktik yang jelek dan penuh kepentingan tendensius. Tulisan ini merupakan analisis dan refleksi kritis terhadap praktik kultural partikular yang di dalamnya terdapat kepentingan-kepentingan kuasa yang secara kasat mata tampak bukan sebagai kepentingan tetapi tradisi yang sudah biasa dijalani.

patriarki

PATRIARKI: Masyarakat, budaya, dan negara dalam kuasa lelaki

April 5, 2016 Ikwan Setiawan 0

Bahwa persoalan kuasa patriarki tidak bisa dilepaskan dari konteks ruang dan waktu. Adalah sangat tidak bijak ketika melihat realitas patriarki di Barat untuk memandang persoalan di timur. Terdapat kondisi sosio-kultural yang jelas membedakan persoalan patriarki dalam masyarakat. Perbedaan inilah yang harus dilihat ketika hendak mengkaji persoalan patriarki ataupun gender. Ada ‘konteks kejadian’ yang harus selalu dibaca dengan kritis sesuai dengan kotekstualitasnya, bukan dari kacamata pemikir barat. Artinya, tidak cukup hanya dengan sebuah teori besar untuk ‘membedah’ struktur dan bentuk patriarki dalam masyarakat. Dibutuhkan kejelian dan kecemerlangan peneliti dalam membaca realitas di balik realitas yang terhampar di pelupuk mata, termasuk ke dalam ruang-ruang yang disucikan, yang dilindungi oleh doktrin agama (yang ‘diselewengkan’) dan budaya (yang ‘di-adi luhung-kan’) demi sebuah kepentingan kuasa.

perempuan-jawa

Membaca-kembali perempuan Jawa

April 5, 2016 Ikwan Setiawan 0

Dalam penelitian yang dilakukan di Solo dan Yogyakarta, Brenner menemukan realitas betapa di balik konsep perempuan Jawa sebagai ‘konco wingking’ (kawan di belakang) terdapat konteks historis dan kultural yang melingkupinya dan sampai saat ini menyisakan peran signifikan perempuan dalam ranah keluarga dan sosial, meskipun pengaruh tradisi keraton dan Islam dalam Jawa kontemporer masih kuat.

jaranan

MENULIS ARTIKEL TENTANG BUDAYA LOKAL: Kecenderungan tematik, teknik penulisan, dan kepentingan

April 5, 2016 Ikwan Setiawan 0

Terpengaruh oleh omongan para seniman jaranan, tema-tema kajian yang saya angkat tidak hanya seputar keunikan estetik dan nilai-nilai filosofis kesenian lokal bagi kehidupan masyarakat, tetapi juga sampai aspek-aspek lain yang dialami oleh para seniman jaranan. Misalnya, berapa honor yang mereka terima? Bagaimana sistem pembagian honor? Bagaimana pengaruh honor itu dalam kehidupan para seniman? Apa yang mereka lakukan ketika sepi tanggapan? Bagaimana siasat yang dilakukan para seniman di tengah-tengah trend budaya pop yang lebih ringkas dan penuh warna? Bagaimana tanggapan anak-anak di sekolah terhadap para jathil cilik? Bagaimana tanggapan alim-ulama terhadap jaranan yang diwarnai adegan kesurupan? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menggiring kajian kepada tema dinamika, kompleksitas, dan perubahan terkait eksistensi sebuah seni pertunjukan lokal. Membincang nilai-nilai adiluhung dalam sebuah kesenian memang penting, tetapi harus juga diperkuat dengan bagaimana transformasi atau perubahan dari nilai-nilai tersebut di tengah-tengah budaya pop yang semakin menggila saat ini.

sinema-pintu-taubat

ISLAM TELEVISI

April 4, 2016 Ikwan Setiawan 0

Mungkin, inilah saatnya kita harus menyaksikan bagaimana Islam sebagai agama yang sangat luwes dan adaptif dengan semangat perubahan zaman dicitrakan dalam kontradiksi komodifikasi televisi. Di satu sisi, Islam adalah ajaran yang damai, harmonis, modis, sekaligus formalis. Islam dalam tayangan-tayangan siraman rohani, jelas-jelas membawa semangat kapitalistik dengan mengusung mode-mode pakaian trendy yang diidentikkan dengan simbol-simbol Islam yang formalis. Para ustadz/ah dalam Islam televisi telah menjadi agen-agen kapitalis dengan ‘senyum imannya’ yang mampu membangkitkan relasi imajiner dari para penonton untuk meniru gaya berpakaian dan cara hidup seperti yang dilakukan para guru ngaji modis tersebut. Kutbah-kutbah yang mereka tak lebih dari sandiwara yang bisa dimainkan setiap saat tergantung pesanan dan honor yang mereka terima. Dan semua yang mereka omongkan memang belum tentu dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

honda-tiger

DI JALANAN (JUGA) ADA BUDAYA: Konsumsi kreatif dan kolektivitas dalam subkultur klub pengendara motor

April 2, 2016 Ikwan Setiawan 0

Jalanan telah menjadi sebuah arena baru bagi perayaan subkultur pengendara motor. Di jalananlah para pengendara motor melakukan ‘selebrasi kultural’ yang merepresentasikan satu semangat untuk berbeda namun tetap mentaati aturan lalulintas dalam bentuk safety reading. Jalanan juga telah menjadi arena untuk menyemaikan gaya hidup bermotor yang membedakan anggota klub dengan pengendara motor lain ataupun para pengendara mobil. Melalui touring maupun konvoi, para pengendara menunjukkan kepada publi bahwa mereka punya gaya bermotor yang berbeda tetapi tidak selalu dalam bentuk yang chaos. Apa yang lahir di jalanan adalah satu bentuk kultural baru yang harus dibaca sebagai partikularitas dan tidak selamanya yang hadir di jalanan adalah atribut dan praktik yang tidak berbudaya, tetapi sangat berbudaya karena di situlah lahir kreativitas-kreativitas dalam semangat keberbedaan yang produktif. Lebih jauh lagi, jalanan telah menjadi arena kultural baru yang mampu menciptakan solidaritas kolektif demi mencapai orientasi kultural yang dinamis dan kreatif.