HANTU-HANTU LOKAL BERGAYA HOLLYWOOD: Telaah kritis perkembangan film neo-horor Indonesia

“Nonton horor enggak perlu banyak mikir. Soalnya sehabis nonton rasanya seperti naik jet coaster.” —Novi Christina, produser Pocong 2[1]

 “Gua tau bakalan teriak pas di adegan yang ngagetin. Tetapi, tetep saja gue enggak bisa menahan rasa kaget setiap kali ngeliat kuntilanaknya muncul.” —Pendapat salah satu penonton Kuntilanak[2]

Awalan: titik keberangkatan

Tidak bisa disangkal lagi, industri film Indonesia saat ini lebih banyak ditandai oleh boooming dua jenre film, yakni: (a) film cerita remaja dan (b) horor. Semenjak bangkitnya industri film nasional pada era 2000-an kita bisa melihat betapa para sineas-sineas muda Indonesia lebih banyak menggarap kedua jenre tersebut. Booming Ada Apa Dengan Cinta? Ternyata menjadi inspirasi bagi para sineas untuk membuat film-film dengan tema serupa, semisal Eiffel I’m in Love, Bintang Jatuh, Brownies, Buruan Cium Gue, Virgin, Tentang Dia, Ungu Violet, Heart, Cinta Pertama, hingga Ekskul. Sedangkan kebangkitan film horor dimulai ketika Jaelangkung memperoleh respons yang cukup positif dari para penonton film Indonesia. Kesuksesan film-silm tersebut diikuti dengan dibuatnya film-film horor lain seperti Mirror, Tusuk Jaelangkung (sekuel dari Jaelangkung), The Soul, Missing, Bangsal 13, Gotcha, 12:AM, Di Sini Ada Setan, Bangku Kosong, Rumah Pondok Indah, Kuntilanak, Hantu Jeruk Purut, KM 14, dan yang terakhir Pocong 2.

Di luar booming kedua jenre tersebut, ada juga beberapa judul film yang mengangkat tema-tema sosial, seperti Cha Bau Kan, Kiamat Sudah Dekat, Biola Tak Berdawai, Pasir Berbisik, Ketika, Arisan, Opera Jawa, Berbagi Suami, dan Denias, Senandung Di Atas Awan. Film-film tersebut dianggap representasi karya yang concern pada persoalan-persoalan sosio-kultural dan mewakili semangat yang berkembang dalam masyarakat Indonesia kontemporer dengan kompleksitas problem yang dihadapi.

Yang menarik untuk dicermati adalah perkembangan film horor yang cukup signifikan, baik dari segi kuantitas maupun tema-tema cerita yang disuguhkan. Dengan menggunakan teknik-teknik pengambilan ala film horor Hollywood, film horor Indonesia ternyata mampu menjadi ‘tuan rumah’ di tengah-tengah serbuan film-film Hollywood, Hongkong, India, maupun Korea. Meskipun sering dianggap sebagai tontonan yang mengumbar dan menjual “ketakutan”, para sineas muda Indonesia ternyata tidak gentar dan tetap melanjutkan kesenangan mereka dalam mengeksplorasi tema-tema hantu dalam film-film mereka. Beberapa nama sutradara muda yang ‘ahli’ dalam menggarap film-film horor antara lain: Rizal Matovani, Rudy Sujarwo, dan Koya Pagato. Tentu saja dalam konteks industri, apa-apa yang dilakukan oleh para sineas muda tersebut merupakan sebuah prestasi meskipun dalam konteks keseriusan penggarapan masih banyak mendapat kritik.

Tulisan ini merupakan pembacaan kritis tentang perkembangan film neo-horor Indonesia. Asumsi dasar dari kajian ini adalah ada sesuatu yang sebenarnya menarik dalam film-film neo-horor—baik dari segi teknik-teknik pengambilan gambar maupun tema-tema cerita yang diangkat—sehingga selalu menyedot perhatian penonton. Ironisnya, popularitas film-film horor tersebut kurang mendapatkan perhatian dari ‘pihak-pihak yang berwenang’ dalam memberikan penilaian terhadap baik atau buruknya mutu sebuah film. Realitas tersebut juga akan didiskusikan dalam kajian ini karena berkaitan dengan arus kebudayaan yang berlangsung di Indonesia saat ini.

Idealisme populis dan komodifikasi hantu-hantu lokal

Adalah realitas yang tidak bisa dipungkiri bahwa film-film horor selalu saja menarik minat penonton, dari era Suzzana hingga era Jelangkung saat ini. Tentu popularitas film-film hantu itu tidak semata-mata karena citra-citra yang menakutkan, tetapi ada faktor-faktor yang menyebabkannya.

Bisa dibilang eksploitasi rasa takut yang dimiliki oleh setiap individu merupakan faktor penting yang mendukung popularitas film-film horor selama ini, baik yang berasal dari Hollywood maupun produksi dalam negeri. Setiap manusia pasti menyimpan rasa takut yang itu berada dalam alam bawah sadar. Dan rasa takut itu perlu diekspresikan dengan menyaksikan sesuatu yang menakutkan pula sehingga menonton film-film yang menakutkan merupakan pilihan yang cukup masuk akal.

Horor adalah jenis film yang saya gemari. Ada berbagai teori tentang film horor, namun sebenarnya basic-nya sederhana saja: film horor harus berhasil membuat penonton ketakutan. Acuan yang simple ini disambungkan juga dengan prinsip bahwa film itu pada dasarnya harus mempunyai nilai hiburan. Oleh sebab itu, saya ingin membuat film Kuntilanak ini menjadi sebuah tontonan yang menyeramkan, tapi juga asyik untuk dinikmati. Seru, tegang, menyenangkan. Orang tahu bahwa naik rollercoaster itu mengerikan, tapi tetap saja mereka mengantri untuk menaikinya. Kenapa? Karena kita senang merasakan ketegangannya, lantas teriak-teriak dengan puas.[3]

Faktor kedua adalah setiap manusia pasti mempunyai memori kolektif (collective memory) tentang hantu, meskipun tidak setiap orang bisa melihat dengan mata telanjang makhluk yang sudah ada sebelum Nabi Adam AS diciptakan ini. Dan kita di Indonesia sudah sangat biasa dengan cerita-cerita hantu yang bergentayangan di seputar alam manusia, mulai kuntilanak, pocong, suster ngesot, wewe gombel, hingga hantu si muka rata. Mulai kecil hingga dewasa kita sudah sangat familiar dengan cerita-cerita menyeramkan seputar eksistensi mereka yang suka menakut-nakuti manusia sehingga ketika certia-cerita itu diangkat ke dalam layar perak, maka rasa penasaran membawa penonton untuk menyaksikannya. Maka sangat masuk akal kalau para sutradara muda seperti Rudy Sujarwo membuat film Pocong 2 (2006) yang merupakan kelanjutan Pocong 1 yang tidak sempat beredar karena dilarang oleh Lembaga Sensor Film. Begitu juga dengan Rizal Matovani yang membuat Jaelangkung (2003) dan Kuntilanak (2006).

Rupa-rupanya para sineas sadar betul tentang faktor rasa takut dan memori kolektif tentang eksistensi hantu dalam kehidupan manusia. Komodifikasi rasa takut dan rupa-rupa hantu lokal menjadi sumber inspirasi kreativitas yang sepertinya tidak pernah habis. Menariknya, dari beberapa cerita yang diangkat, ternyata pernah menjadi perbincangan di komunitas tertentu, bahkan dianggap sebagai kisah yang benar-benar ada atau nyata, terlepas benar atau tidaknya. Salah satu film yang diklaim berasal dari kisah nyata adalah Hantu Pondok Indah (Produksi Indika Entertainment, 2006).

Rumah setan di Pondok Indah yang heboh pada 1990-an di Jakarta itu sendiri adalah sebuah rumah mewah yang di pinggiran Jalan Arteri Pondok Indah No 87, berdiri kukuh di atas 800 meter bidang tanah, 2 lantai, dilengkapi pula dengan kolam renang. Konon setan-setan yang menghuni rumah itu sering mengganggu para pengguna jalan itu dan meminta korban nyawa manusia sehingga masyarakat kian geger. Apalagi, ketika pada November 2003 lalu, stasiun Antv lewat program Percaya Enggak Percaya episode Rumah Setan Pondok Indah, seakan-akan membenarkan dahsyatnya kekuatan setan-setan yang menetap di situ, dan sekitar dua tahun lalu, konon seorang tukang nasi goreng yang tengah melintasi rumah setan tersebut lenyap menjadi tumbal. Cerita mengenai asal-usul rumah setan itu sebetulnya hingga kini masih gelap. Dari waktu ke waktu, ada saja cerita versi baru, hingga masyarakat dibingungkan oleh kisah yang senyatanya.[4]

Kecenderungan mengangkat kisah-kisah hantu yang menjadi perbincangan di masyarakat, ternyata menjadi trend baru dalam film-film horor Indonesia. Bangku Kosong (Starvision, 2006) merupakan film yang diangkat dari kisah hantu yang menghuni sebuah bangku kosong di salah satu sekolah di Jawa Barat.[5] Di samping itu, Hantu Jeruk Purut (Indika Entertaintment, 2006) juga mengkomodifikasi cerita mitis pastur tanpa kepala di pemakaman Jeruk Purut Jakarta yang sering mengganggu pengguna jalan yang tengah melintas sendirian.[6]

Dan dalam iklim industri budaya, popularitas menjadi hal yang penting karena motivasi utama dalam produksi sebuah karya memang untuk memperoleh keuntangan sebanyak-banyaknya. Adorno menjelaskan:

Komoditas kultural dari industri dikendalikan, sebagaimana pernah diungkapkan Brecht dan Suhrkamp tigapuluh tahun lampau, oleh prinsip perwujudannya sebagai nilai, dan bukan oleh muatan-muatan spesifiknya ataupun formasi harmonisnya. Keseluruhan praktik industri budaya mentransfer motif keuntungan secara telanjang dalam bentuk-bentuk kulturalnya.[7]

Dalam rangka untuk memperoleh kuntungan sebanyak-banyaknya maka pilihan untuk melakukan komodifikasi terhadap cerita-cerita populis yang berkembang di masyarakat merupakan pilihan yang tepat. Tentu saja diangkatnya cerita tentang hantu-hantu lokal ke dalam layar perak merupakan sebuah strategi populis dari para sineasnya. Karena dengan mengusung cerita yang begitu terkenal di masyarakat, maka mereka sebenarnya sudah mendapatkan modal untuk popularitas film yang dibuat. Meskipun kebenaran kisahnya bisa jadi hanya menjadi cerita lisan yang menjadi menakutkan karena sering diperbincangkan. Ketika film semakin populer maka bisa dipastikan penghasilan yang akan didapatkan dari pemutaran di bioskop maupun dari penjualan VCD pun meningkat.

Motivasi untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya inilah yang kemudian dianggap menjadikan industri budaya kurang bermutu, remeh-temeh, dan hanya mengajak penonton menjadi subjek passif. Film, misalnya, dianggap hanya menghadirkan komodifikasi kehidupan yang tidak memberikan apa-apa selain kesenangan sesaat ataupun sekedar menggiring penonton menjadi subjek-subjek yang malas untuk berpikir secara mendalam karena semua sudah ditampilkan dengan sederhana dan mudah dalam film. Subjek menjadi terbelenggu dalam ruang-ruang sempit kultural yang hanya bersifat superfisial. Adorno menganggap keterbelengguan sebagai individu ini menjadi penghalang utama bagi lahirnya pencerahan pribadi sehingga individu-individu tidak memiliki kebebasan dalam menilai dan memutuskan secara sadar pilihan-pilihan bagi diri mereka sendiri. Kondisi inilah yang kemudian melahirkan penipuan massal (mass deception).[8]

Merujuk pada pandangan di atas, maka bisa dikatakan bahwa film horor—dan juga genre-genre film lain yang bergerak dalam lingkaran industri budaya—pada hakekatnya hanya menghadirkan kedangkalan pemikiran bagi audiens. Namun, ketika kita sebagai pengkaji hanya berhenti pada asumsi tersebut, maka tidak akan ada kajian ilmiah terhadap film sebagai bentuk budaya yang nyata-nyata sangat populer dewasa ini. Memang benar, semua produk industri budaya pada dasarnya bersifat artifisial, namun kita juga tidak harus berhenti sampai di situ. Masih ada sisi-sisi lain dari film yang bisa kita kritisi. Kita bisa saja melakukan kajian struktur cerita maupun muatan-muatan ideologis yang ada di dalam sebuah film. Di samping itu kita juga bisa menemukan negosiasi-negosiasi gagasan yang ada di balik sebuah tayangan. Sementara untuk tingkat konsumsi penonton kita juga bisa melakukan kajian resepsi yang bersifat etnografis. Artinya, dari film horor, misalnya, kita bisa menemukan banyak hal yang tetap kontekstual untuk dikaji.

Berkembangnya neo-horor: teknik Hollywood dan logika cerita yang melampaui mainstream

Hal lain yang menarik dari perkembangan film horor adalah penggunaan teknik-teknik baru penggarapan, baik dalam pengambilan gambar (shooting), pensuasanaan, setting, maupun ilustrasi musik. Dari judul-judul film yang disebutkan di atas, bisa dikatakan bahwa semuanya bergaya horor Hollywood. Gaya Hollywood sangat kentara dalam teknik pengambilan gambar hantu yang dimunculkan sekilas-sekilas dengan unsur-unsur kejut yang berlangsung sepanjang cerita. Ditambah musik suasana bernuansa seram yang mengiringi munculnya hantu-hantu semakin memperkuat pengaruh gaya Hollywood tersebut. Masuknya gaya horor Hollywood ke dalam horor baru Indonesia bisa dilihat sebagai usaha para sineas untuk lebih mendekatkan garapan mereka ke dalam selera generasi muda yang sudah biasa menikmti film-film Amerika itu.

Kondisi itulah yang menjadi cikal-bakal lahirnya genre neo-horor dalam industri film Indonesia. Sebuah genre yang menggabungkan teknik-teknik film horor Hollywood dengan cerita-cerita hantu lokal Indonesia. Bisa dikatakan bahwa semua produksi film horor Indonesia saat ini mengusung neo-horor ini. Inilah salah satu faktor penting kenapa film-film horor Indonesia masih banyak digemari oleh penonton.

Di samping itu, dalam film neo-horor saat ini terdapat kecenderungan untuk menggarap tema yang tetap berkaitan dengan hantu-hantu lokal tetapi dengan alur cerita yang berbeda dengan film-film horor sebelumnya. Pada era Suzzana, film horor selalu diwarnai dengan hantu-hantu gentayangan yang balas dendam terhadap orang-orang yang melukainya ketika mereka masih hidup (masih menjadi manusia), tetapi kemudian mereka dikalahkan oleh kekuatan sakti para pemuka agama (ulama maupun pendeta). Para ulama atau pendeta itu dengan kekuatan relijius ayat-ayat suci dan juga benda-benda suci (seperti tasbih, sorban, maupun salib) mampu mengalahkan para hantu dan mengembalikannya ke alam mereka. Pada film neo-horor, peran pemuka agama ditiadakan. Para hantu dalam neo-horor memang hampir sama dengan hantu pada film horor sebelumnya—meskipun visualitasnya lebih menyeramkan, tetapi kehadiran mereka digambarkan ‘lebih merdeka’ di mana mereka tidak diusik oleh kekuatan sakti para pemuka agama yang mampu mengalahkan atau membinasakannya.

Para sineas neo-horor rupa-rupanya ingin memberikan alternatif tentang eksistensi hantu yang selama ini digambarkan selalu kalah oleh pemuka agama. Satu tawaran menarik dari alur cerita neo-horor adalah bahwa hantu tidak selamanya harus dikalahkan oleh pemuka agama dan tidak harus menghuni rumah-rumah angker. Para hantu itu bisa saja masuk ke dalam kehidupan manusia biasa dan menjelma sebagai ‘manusia’. Mereka bisa menjadi para siswi atau mahasiswi cantik yang tengah menjalani kuliah. Kadang mereka menjelma sebagai satpam atau ibu kantin sebuah SMA. Mereka juga bisa hadir di sekolah, rumah mewah, bioskop, diskotik, maupun apartemen kelas atas.

Film-film neo-horor Indonesia saat ini mempunyai struktur alur cerita yang cukup tipikal. Secara umum alur cerita film-film neo-horor Indonesia bisa digambarkan sebagai berikut.

Awal Konflik Klimaks dan antiklimaks Resolusi
Para aktor menjalani akitvitas sehari-hari. Ada yang sekolah, kuliah, atau bekerja. Hantu menjelma dalam kehidupan manusia atau mulai menampakkan kehadirannya di tengah-tengah aktivitas tersebut. Dan, awalnya hanya beberapa aktor yang mempercayai kehadiran mereka. Mereka mulai mengalami kejadian-kejadian aneh yang kemudian dianggap sebagai tanda-tanda adanya hantu di sekitar mereka. Mereka mulai mencari kebenarannya. Sementara para hantu mulai mengganggu kehidupan sehari-hari para aktor. Para hantu secara terbuka mulai beraksi dengan melukai atau menakuti para aktor. Beberapa aktor terbunuh akibat ulah para hantu tersebut. Keadaan semakin panik. Sementara sebagian aktor yang lain berusaha mencari jalan keluar dari masalah tersebut, meskipun masih tetap dihantui rasa takut. Datang aktor lain yang mengetahui penyebab kematian dari si hantu semasa hidupnya. Dengan bantuan si aktor tersebut para aktor yang masih hidup berusaha mengembalikan keberadaan hantu tersebut ke dunia mereka.

Dalam Lentera Merah, misalnya, hantu diceritakan menjadi mahasiswi cantik yang masuk ke dalam kehidupan kampus dengan menjelma sebagai aktivis pers mahasiswa. Dengan menjadi mahasiswi dan aktivis, ia berusaha balas dendam terhadap teman-teman seperjuangannya pada masa awal orde baru yang menyebabkan kematiannya hanya karena si hantu dulunya dianggap “terlalu kiri” dan berbahaya bagi eksistensi terbitan mereka, Lentera Merah. Dendam si hantu dilampiaskan juga kepada anak-anak temannya yang aktif di Lentera Merah. Satu per satu para aktivis muda dibunuh dengan cara yang bervariasi. Cerita berakhir ketika salah seorang temannya, yang juga mantan pacarnya waktu ia masih hidup dulu, datang ke kampus dengan membawa artikel yang ditulis si hantu. Artikel itulah yang menyebabkan ia dituduh kiri. Si hantu mengira bahwa pacarnya yang memasukkan artikel ke dalam terbitan Lentera Merah. Cerita berakhir ketika si hantu menangis setelah mendengar penjelasan mantan pacarnya, dan saat yang bersamaan para aktivis muda Lentera Merah menemukan tulang-belulang si hantu di sebuah kamar kecil dan mengumpulkannya untuk kemudian dibacakan doa. Alur cerita serupa juga bisa ditemukan dalam Jaelangkung, Tusuk Jaelangkung, Rumah Pondok Indah, Gotcha, 12:00 AM, Di Sini Ada Setan, Bangsal 13, dan film-film lainnya.

Tentu saja alur cerita tersebut bisa dianggap melawan mainstream cerita hantu yang beredar dalam masyarakat yang mengatakan bahwa hantu tidak akan pernah bisa menyentuh dan menyakiti manusia karena manusia lebih mulia dari pada golongan jin. Meskipun para hantu bisa menjelma dalam kehidupan manusia dan melukai mereka, penyelesaiannya dari masalah yang muncul lebih memprioritaskan pada kemampuan para aktor yang jauh dari kekuatan-kekuatan sakti. Ini bisa dibaca bahwa untuk menghadapi masalah-masalah yang muncul dari keberadaan hantu dan bangsanya, kita tidak harus selalu bergantung kepada para pemuka agama maupun mereka yang mengaku mampu menangkap hantu. Dengan menggunakan nalar sebenarnya para hantu itu bisa dikembalikan ke alam mereka, meskipun proses menuju itu harus memakan korban yang tidak sedikit.

Keberanian mengusung tema dan alur cerita seperti di atas di satu sisi memang semakin memperkaya kasanah film horor di Indonesia sekaligus memberikan peluang bagi penonton untuk berpikir lebih realistis dalam menghadapi problem-problem yang timbul akibat keberadaan hantu yang mengganggu. Namun, di sisi lain, film-film neo-horor bisa menjadi situs yang terus menyuburkan persoalan-persoalan hantu dan bangsanya dalam alam rasionalitas manusia.

 

Keseragaman tema, alur cerita, dan teknik penggarapan: sebuah stagnansi?

Salah satu realitas yang tidak bisa dihindarkan dari industri budaya adalah munculnya homogenitas dan keseragaman produk. Dalam banyak produk industri budaya kita bisa menemukan banyak kemiripan semisal dalam hal tema, alur cerita, maupun teknik penggarapan. Kondisi tersebut memang tidak bisa dilepaskan dari trend yang sedang berkembang dalam masyarakat. Ketika sebuah produk sinetron bertema remaja, misalnya, dengan cerita dan teknik penggarapan tertentu booming di masyarakat sehingga menghasilkan keuntungan finansial yang cukuk besar, maka production house lainnya berusaha untuk membuat produk sinetron serupa, tentu dengan harapan untuk ikut merasakan keuntungan finansial. Maka, tidak heran kalau dalam televisi Indonesia saat ini kita bisa menjumpai betapa banyak tayangan-tayangan yang sebenarnya serupa tapi tak sama.

Dalam industri film realitas tersebut juga berlangsung. Ketika Ada Apa Dengan Cinta? meledak di pasaran, maka beberapa ruma produksi membuat film-film dengan tema percintaan remaja. Eiffel I’m in Love, Buruan Cium Gue, Tentang Dia, Ungu Violet, Brownies, Heart, Cinta Pertama, dan lain-lain, merupakan contoh betapa sebuah trend selalu menghadirkan keseragaman yang tidak bisa dielakkan dalam industri film. Hal serupa juga terjadi dalam film neo-horor Indonesia saat ini. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, sebagian besar film neo-horor banyak mengambil cerita tentang hantu-hantu lokal yang banyak menjadi cerita lisan di masyarakat dengan teknik penggarapan ala Hollywood.

Keseragaman tersebut bisa menjadi preseden buruk bagi perkembangan ke dapan film-film neo-horor Indonesia. Ketika semua judul film neo-horor mengambil tema cerita dan teknik penggarapan yang sama maka penonton akan mudah sekali merasa jenuh karena secara psikis mereka tidak mungkin selamanya tertarik dengan hal-hal yang sama. Kejenuhan inilah yang akan menimbulkan rasa malas untuk menonton film-film neo-horor. Yang harus diperhatikan bagi para kreator film neo-horor adalah prinsip kebaruan (novelty) yang menjadi salah satu dasar bagi suksesnya sebuah produk industri budaya di pasaran. Masing-masing rumah produksi sebisa mungkin harus menciptakan film neo-horor yang berbeda satu dengan yang lain karena hal itu akan menciptakan kebaruan dalam keberagaman.

Lebih dari itu, keseragaman bisa dibaca sebagai sebuah stagnansi, kemandegan kreativitas. Dengan hanya membuat film yang serupa satu dan yang lain, maka kita bisa melihat betapa para sineas neo-horor Indonesia saat ini kurang bisa memunculkan ide-ide kreatif yang cerdas dan brilian. Kurangnya kreativitas tersebut merupakan pertanda bahwa pada benak para sineas bercokol pragmatisme dengan hanya bisa mengekor kesuksesan film lain. Akan sangat menarik ketika para sineas itu bisa membuat sesuatu yang berbeda sehingga tingkat kreativitas dan kecerdasan mereka bisa selalu terasah dengan kerja dan karya yang mampu memberikan atmosfer dinamis.

Di samping itu kecenderungan untuk mengikuti gaya Hollywood tak ayal lagi menciptakan kesan betapa tidak inovatifnya para sineas neo-horor Indonesia. Kemajuan teknologi multimedia mestinya bisa disikapi dengan menciptakan teknik-teknik penggarapan yang berkarakteristik Indonesia sehingga ketika menonton film-film neo-horor kita bisa menemukan sebuah visualitas ala Indonesia. Dengan kata lain, visualitas ala Indonesia semestinya bisa kita temukan tidak hanya pada wujud pocong, kuntilanak, ataupun suster ngesot. Lebih, dari itu kita seharusnya bisa juga menikmati teknik-teknik pengambilan gambar atau ilustrasi musik yang lebih Indonesia. Atau mungkin para sineas lebih suka memanjakan pikirannya hanya dengan sekedar mengekor Hollywood? Mungkin saja.

Film Horor tetap menjadi anak tiri

Perkembangan film-film neo-horor dalam industri perfilman nasional serta sambutan yang luar biasa dari penonton, ternyata tidak memberikan peluang bagi para sineasnya untuk menempati ‘posisi terhormat’ dalam ajang penilaian film, yang di Indonesia dikenal dengan Festival Film Indonesia yang memperebutkan Piala Citra. Dari sekian judul film horor yang diproduksi pada tahun 2006, hanya Lentera Merah-lah yang memperoleh beberapa nominasi, yakni nominasi untuk Penata Musik dan Penata Artistik—meskipun pada akhirnya penghargaan untuk kedua kategori tersebut diperoleh oleh film lain. Perkembangan cukup signifikan dari film-film neo-horor Indonesia ternyata tetap kurang menarik bagi para dewan juri yang terdiri dari para budayawan senior dan para pakar film itu.[1]

Realitas ini tentu menyisakan satu pertanyaan tentang kriteria penilaian yang dianut oleh dewan juri. Noorca M. Massardi, salah satu anggota dewan juri, menerangkan bahwa salah satu kriteria penilaian lebih ditekankan pada aspek seni terutama yang berkaitan dengan kualitas dan daya ungkap gagasannya.[2] Sementara Rendra menambahkan bahwa:

“Secara teknis, film Indonesia saat ini lebih maju. Namun, secara gagasan masih kurang berkembang. Cara menyikapi kesulitan kurang intelektual, tetapi teknokratis, dan kurang memahami sosial budaya. Dan memang, hal itu pula yang terjadi dalam masyarakat. Analisis-analisis dalam masyarakat cenderung mengedepankan subjektivitas kelompok. Film Indonesia kurang bisa memahami kehidupan kesenian secara cerdas. Di bidang seni rupa dan sastra sudah banyak yang cerdas. Namun, di bidang film dan sinetron, kecerdasan ini belum berkembang. Dengan artian bahwa film-film Indonesia hanya sebagai hiburan dan klangenan. Maka dari itu, jangan hanya mengukur keberhasilan film dari jumlah penonton.”[3]

Dari penjelasan kedua anggota dewan juri tersebut bisa dilihat betapa ukuran seni dan budaya bangsa tetap menjadi prioritas dalam penilaian film-film yang layak dinominasikan untuk mendapatkan penghargaan Piala Citra. Namun, ukuran film yang nyeni dan berbudaya seperti dijelaskan di atas juga masih terkesan dipaksakan untuk mengikuti aturan main “budaya tinggi” (high culture) yang mengedepankan intelektualitas menurut citarasa mereka. Akibatnya film-film yang dianggap tidak memenuhi kriteria nyeni tersebut tidak lolos dari nominasi. Masalahnya, ternyata film-film yang oleh banyak kritikus dianggap merepresentasikan budaya Indonesia, seperti Opera Jawa, ternyata tidak juga dinominasikan untuk memperoleh penghargaan. Bahkan akhirnya film Ekskul yang sama sekali tidak merepresentasikan budaya Indonesia dan hanya mengadopsi cerita ala Hollywood, malah mendapat predikat film terbaik.[4] Inilah ambiguitas yang terjadi dalam penjurian FFI.

Kalau film sekelas Opera Jawa saja tidak lolos nominasi, berarti film-film neo-horor tentu saja dianggap oleh para dewan juri ‘lebih tidak pantas lagi’ untuk disebut judulnya dalam nominasi. Film-film neo-horor, dari segi cerita, bisa jadi dianggap sangat tidak memenuhi kriteria nyeni dan berbudaya serta sama sekali tidak merepresentasikan jatidiri budaya bangsa. Film horor hanya mengumbar hantu dan cerita-cerita menyeramkan yang dianggap tidak punya potensi mencerahkan bagi kehidupan bangsa. Sementara film Indonesia, sebagaimana diharapkan oleh Jero Wacik—Menteri Budaya dan Pariwisata, harus menunjukkan identitas budaya bangsa yang adiluhung dan luhur. Betapapun sempurnanya teknik penggarapan dan gagasan yang ditampilkan oleh film-film neo-horor, kalau paradigma yang dikembangkan dewan juri tetap absurd, bisa dipastikan para sineas neo-horor itu tidak akan pernah mendapatkan Piala Citra.

Perspektif seni dan budaya yang dikembangkan oleh dewan juri bisa dibaca sebagai representasi kalangan elit kebudayaan Indonesia yang memposisikan diri mereka sebagai para wakil dari budaya yang intelek sehingga film-film horor dianggap sebagai representasi dari “budaya rendah” (low culture) atau “budaya populer” (popular culture). Budaya rendah dalam perspetif kebudayaan adiluhung selalu saja diposisikan sebagai budaya yang tidak mendidik, kasar, remeh-temeh, tidak cerdas, dan semata-mata massif serta komersil.[5] Film-film neo-horor dengan demikian dianggap hanya mencari keuntungan dengan mengkomodifikasikan kengerian masyarakat terhadap sosok hantu yang dianggap gentayangan di sekitar mereka. Film-film neo-horor tidak pernah memberikan pendidikan moralitas yang baik dan hanya melakukan pembodohan kepada penonton serta bisa merusak moral generasi muda karena menjebak mereka dalam jagat ghaib yang bertentangan dengan semangat rasionalitas ilmu pengetahuan.

Dengan tidak mempertimbangkan jumlah penonton sebagai salah satu kriteria, berarti dewan juri jelas-jelas menegasikan besarnya ketertarikan penonton terhadap genre film neo-horor saat ini. Kalau kerangka yang dikembangkan dalam penilaian FFI hanya semata-mata berparadigma budaya tinggi, tentu hal itu bukanlah pertimbangan yang cukup bijak karena film saat ini memang tidak bisa dilepaskan dari dunia industri yang mempertimbangkan penerimaan penonton. Ada baiknya juga kalau ke depan dewan juri juga mengakomodir pencapaian-pencapaian yang diraih para sineas neo-horor, baik pencapaian teknik penggarapan maupun tema dan alur cerita. Bagaimanapun juga film-film neo-horor merupakan entitas budaya populer yang kini tengah berkembang di dalam masyarakat.

Kalau dewan juri tetap memaksakan paradigma budaya elit/tinggi dan tetap menegasikan potensi kreatif sineas neo-horor, bisa jadi mereka ikut serta dalam memelihara pembedaan cita rasa kultural yang semakin memperlebar jarak antara kelas elit dan kelas massa. Inilah yang menimbulkan perbedaan selera estetik yang mengarah pada intoleransi estetik. Pierre Bourdieu, sebagaimana dikutip oleh Storey, menjelaskan bahwa dalam relasi estetik sebenarnya terselip sebuah relasi kuasa:

Intoleransi estetik bisa jadi kekerasan yang menakutkan……..Sesuatu yang paling tidak toleran bagi mereka yang merasa sebagai pemilik kebudayaan yang legitimate adalah penyatuan kembali cita rasa yang ’tidak suci’ di mana cita rasa didikte untuk terpisah. Hal ini berarti bahwa permainan seniman dan estetikus serta perjuangan mereka bagi monopoli legitimasi artistik bukanlah tanpa maksud, seperti yang ditampakkan. Pada dasarnya, dalam setiap perjuangan seni terdapat juga imposisi bagi seni kehidupan, yakni transmutasi cara manasuka hidup menjadi cara hidup yang legitimate yang mana menganggap setiap cara hidup lain sebagai sesuatu cara yang manasuka.[6]

Film-film neo-horor mempunyai hak untuk digemari oleh para penontonnya. Dan mereka juga punya hak untuk hidup dalam jagat budaya Indonesia. Kalau kemudian popularitas mereka dianggap sebagai sesuatu yang ‘tidak patut dilirik’, betapa naif mereka yang mengatasnamakan memahami konstruksi kebudayaan Indonesia. Cita rasa terhadap film-film neo-horor merupakan realitas budaya yang berlangsung dalam masyarakat yang tidak bisa disepelekan karena ketika hal itu terjadi berarti kelompok elit kebudayaan secara langsung telah memelihara kekerasan simbolik (symbolic violence) dalam masyarakat. Kalau memang faktor ketidakmendidikkan film neo-horor menjadi pertimbangan, kiranya itu juga perlu dikaji lebih lanjut karena sampai saat ini belum ada data yang menunjukkan bahwa kehadiran mereka bisa menimbulkan ekses-ekses yang merusak generasi muda.

Catatan akhir

Kalau memang film-film neo-horor sudah menjadi bagian dari industri film Indonesia, maka sudah selayaknya semua pihak yang merasa berkepentingan dengannya bersama-sama turut memikirkan strategi-strategi inovatif untuk pengembangan mereka. Film-film neo-horor—dan juga genre film lainnya, bagaimanapun juga harus terus dikritisi demi pencapaian-pencapaian yang lebih baik di masa mendatang.

Sudah sepantasnya pada masa mendatang, para sineas neo-horor terus melakukan upaya-upaya kreatif untuk menciptakan ‘warna Indonesia’ dalam setiap karya mereka. Sehebat-hebatnya teknik penggarapan sebuah karya, tetapi kalau tidak berhasil menghadirkan warna Indonesia, sungguh sangat naif. Alangkah indahnya kalau beragamnya cerita horor yang ada di Indonesia kemudian diolah dengan kreativitas penggarapan yang bisa memunculkan karakteristik yang membuatnya berbeda dengan film-film horor Hollywood.

Logika cerita juga sudah saatnya mendapatkan perhatian lebih sehingga tidak terkesan hanya mengambil mentah-mentah apa-apa yang ada dalam masyarakat, meskipun kecenderungan industri budaya tidak bisa lepas dari prinsip tersebut. Namun, ketika logika cerita yang disuguhkan—sesederhana apapun—mampu mengajak para penonton untuk sejenak berpikir, maka itu merupakan kondisi yang cukup menggembirakan serta mampu menepis asumsi bahwa film neo-horor tetap saja menjual ketakutan. Ketika ketakutan yang disajikan mampu memberikan renungan-renungan alternatif dan kritis bagi penonton, maka film-film neo-horor akan menjadi ‘situs pencerah’ di tengah-tengah ketakutan terhadap

Bacaan pendukung

Adorno, Theodor W. “Culture Industry Reconsidered”, dalam Paul Marris and Sue Tornhman (Eds).1997. Media Studies: A Reader.Edinburgh: Edinburgh University Press.

Gans, Herbert J.1974. Popular Culture and High Culture.New York: Basic Books Inc.

Storey, John.1993. An Introductory Guide to Cultural Theory and Popular Culture.Hertfordshire: Harvester Wheatsheaf.

Strinati, Dominic.2004. Popular Culture Pengantar Menuju Teori Budaya Populer (alih bahasa Abdul Mukhid). Yogyakarta: Penerbit Bentang.

Syaifullah, Chavchay dan Eri Anugerah. “Tafsir Baru Rumah Horor Pondok Indah”, dalam Resensi Film Meida Indonesia, 26 Pebruari 2006, diakses dari http://www.media-indonesia.com/resensi/details.asp?id=331

“Booming Film Horor Lokal, Kelar Cinta Remaja Dikejar Jadi Pilihan”, dalam Kompas, Minggu, 15 Desember 2006.

“Seperti Naik Roller Coaster”, Interview Rizal Mantovani (Sutradara Kuntilanak), dalam http://filmkuntilanak.com/interview_01_rizal.html

“Film Bangku Kosong Berangkat dari Peristiwa Nyata”, dalam Pikiran Rakyat, 12 November 2006, diakses dari http://pikiran-rakyat.com/cetak/2006/112006/12/0403.htm

“Hantu Jeruk Purut, Tak Sehoror Cerita Yang Beredar” dalam Info Sinema, 29 Nov 2006, diakses dari http://www.kafegaul.com/sinema/article.php?cat=3&id=27462

Catatan akhir

[1] Anggota dewan juri FFI 2006 untuk kategori film cerita bioskop adalah: Rima Melati (Ketua, merangkap anggota), Noorca M Massardi (Sekretaris, merangkap anggota), Chaerul Umam (Anggota), Eddy D Iskandar (Anggota), Embi C Noer (Anggota), dan W.S Rendra (Anggota). “Film Indonesia Didominasi Kecengengan dan Haru”, Kompas, Sabtu, 18 November 2006.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Dalam perkembangannya, para peraih penghargaan Piala Citra periode 2004-2005 yang tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia, mengembalikan 22 piala kepada panitia penyelenggara FFI sebagai protes atas dimenangkannya Ekskul sebagai Film Bioskop Terbaik. Forum yang terdiri dari para aktor dan sineas muda Indonesia ini juga menuntut perbaikan dalam FFI dan juga kebijakan industri film nasional secara menyeluruh. Baca “Mereka Mengembalikan Piala Citra”, Kompas, Kamis, 4 Januari 2007.

[5] Gans menjelaskan bahwa budaya rendah—atau biasa juga disebut budaya populer, budaya massa, ataupun industri budaya—selama ini sering dituduh sebagai bentuk budaya yang mengedepankan prinsip-prinsip komersil, berbahaya bagi eksistensi budaya tinggi/elit, berdampak buruk bagi audiens, dan merusak tatanan moral dan nilai-nilai luhur masyarakat. Lebih jauh baca Herbert J.Gans.1974. Popular Culture and High Culture.New York: Basic Books Inc.hlm.20-64.

[6] John Storey.1993. An Introductory Guide to Cultural Theory and Popular Culture.Hertfordshire: Harvester Wheatsheaf.hlm.192.

[1] Dikutip dari “Booming Film Horor Lokal, Kelar Cinta Remaja Dikejar Jadi Pilihan”, dalam Kompas, Minggu, 15 Desember 2006.

[2] Ibid.

[3] “Seperti Naik Roller Coaster”, Interview Rizal Mantovani (Sutradara Kuntilanak), dalam http://filmkuntilanak.com/interview_01_rizal.html

[4] Chavchay Syaifullah dan Eri Anugerah. “Tafsir Baru Rumah Horor Pondok Indah”, dalam Resensi Film Meida Indonesia, 26 Pebruari 2006, diakses dari http://www.media-indonesia.com/resensi/details.asp?id=331

[5] “Film Bangku Kosong Berangkat dari Peristiwa Nyata”, dalam Pikiran Rakyat, 12 November 2006, diakses dari http://pikiran-rakyat.com/cetak/2006/112006/12/0403.htm

[6] “Hantu Jeruk Purut, Tak Sehoror Cerita Yang Beredar” dalam Info Sinema, 29 Nov 2006, diakses dari http://www.kafegaul.com/sinema/article.php?cat=3&id=27462

[7] Theodor W. Adorno. “Culture Industry Reconsidered”, dalam Paul Marris and Sue Tornhman (Eds).1997. Media Studies: A Reader.Edinburgh: Edinburgh University Press.hlm.25. (terj. oleh penulis).

[8] Lebih jauh tentang hal ini baca Dominic Strinati.2004. Popular Culture Pengantar Menuju Teori Budaya Populer (alih bahasa Abdul Mukhid). Yogyakarta: Penerbit Bentang.hlm.61.

Share This:

About Ikwan Setiawan 126 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*