Representasi perempuan, film, dan kontra-hegemoni (bagian 2-habis)

“…perempuan bisa menjadi subjek yang tidak hanya bergerak dalam operasi pandangan berhasrat kaum laki-laki, tetapi sekaligus memberikan pandangan alternatif bahwa perempuan bisa menampilkan sosok tubuhnya untuk juga kepentingan politik perempuan itu sendiri”

 

C. “Yang Nge-Pop, Yang Subversif”: Film Populer sebagai Medan Kontestasi

Perdebatan seputar representasi dan penonton perempuan, pada akhirnya memunculkan wacana baru tentang bagaimana memaknai representasi perempuan dalam kontestasi medan budaya populer, yang memang bisa diperebutkan antara kekuatan politis laki-laki dan perempuan. Artinya perempuan dibayangkan sebagai subjek aktif yang juga bisa mencitrakan dirinya serta pembelaan-pembelaan gendernya dalam tradisi media kapitalis yang cenderung dekat dengan partriarki. Wacana tersebut pada dasarnya berasal dari satu pemikiran bahwa untuk melawan hegemoni laki-laki dalam media, para perempuan tidak harus menghindari media kapitalis mainstream, tetapi bagaimana sebisa mungkin menegosiasikan dan mengartikulasikan kepentingan mereka dalam representasi-representasi populer, baik melalui musik, iklan, acara televisi, maupun film. Hal inilah yang menandai popularitas kajian      posfeminisme[1] untuk membaca secara kritis representasi perempuan dalam budaya populer, terutama media, terkait dengan persoalan resistensi ideologis. Pemikiran posfeminisme sekaligus memberikan peluang untuk mengkritisi klaim-kliam generalis dan universalis dari para pemikir feminis yang cenderung melihat media sebagai situs untuk meneruskan hegemoni patriarki melalui representasi stereotip domestifikasi peran dan relasi gender perempuan serta tubuh skopopolik.[2]

Dengan pendekatan posfeminis, media, di satu sisi, diposisikan sebagai medium untuk terus meneguhkan hegemoni patriarki, tetapi, di sisi lain, ia juga bisa digunakan sebagai situs kontestasi demi memperjuangkan kepentingan ideologis perempuan untuk mengganggu hegemoni tersebut. Gagasan subversif tersebut misalnya bisa dijumpai dalam kajian tentang potensi politik representasi yang ditawarkan Madonna melalui video-video klipnya yang banyak menantang tradisi dalam pencitraan perempuan, pada khususnya, dan gender, pada umumnya, di media mainstream. Kaplan dalam kajiannya tentang beberapa videoklip Madonna, sebagaimana dikutip Brooks, menyatakan betapa Madonna telah berhasil memberikan pemikiran kepada pemirsa untuk mempertanyakan konstruksi gender.

Pakaian campuran di dalam video seperti Express Yourself, pelanggaran yang mengejutkan atas representasi seksual konvensional pada jam tayang utama televisi di dalam Justify My Love…parodi yang konstan melalui pernyataan yang berlebih-lebihan tentang simbol-simbol pornografi di dalam Open Your Heart, dan kemudian sepanjang pertunjukan Blond Ambition—ini hanyalah beberapa cara di mana Madonna telah semakin mensubversi kategori-kategori gender yang dominan.[3]

Pola pikir di atas menunjukkan satu makna posmodernis dimana makna dari satu realitas budaya, seperti gender, tidak bisa dianggap berada dalam satu kepastian, lebih dari itu, ia bisa diganggu dengan bahasa yang mengadopsi darinya, tentu dengan penekanan dan pemaknaan lain. Media populer menyediakan ruang untuk praktik tersebut.

Dengan menggunakan model simulasi teknologi media, Madonna berhasil merepresentasikan subjek perempuan dalam semangat yang berbeda, menampilkan aspek erotis yang dimaknai kembali, untuk membicarakan diri dan ‘gangguan-gangguan subversifnya’ terhadap kemapanan hegemoni patriarki melalui media.[4] Dengan demikian, perempuan bisa menjadi subjek yang tidak hanya bergerak dalam operasi pandangan berhasrat kaum laki-laki, tetapi sekaligus memberikan pandangan alternatif bahwa perempuan bisa menampilkan sosok tubuhnya untuk juga kepentingan politik perempuan itu sendiri. Para pekerja film yang menyadari representasi sebagai medan kontestasi sangat mungkin menggunakan film untuk mengganggu hegemoni ideologi patriarki dan praktik-praktik sosial yang menyertainya, tentu saja, dengan modifikasi-modifikasi makna tubuh dan tidak sepenuhnya terjebak dalam sisi erotis belaka.

Di samping persoalan tubuh perempuan, wacana posfeminisme dalam media dan budaya populer juga memunculkan pembacaan kritis mengenai, profesionalisme dalam karir, kemandirian, maupun hasrat seksual yang dirayakan secara tekstual dalam film maupun serial televisi. Banyak film yang bergenre action-crime menampilkan tokoh-tokoh perempuan kuat dan bertalenta sebagai polisi, detektif, maupun penyelidik yang selalu mengedepankan profesionalisme, meskipun karir tersebut secara konsensual dianggap sebagai ranah laki-laki.[5] Sementara dalam perspektif kemandirian dan perayaan hasrat seksual perempuan, contoh yang menarik untuk diketengahkan adalah tokoh perempuan berkontestasi serta menimbulkan potensi ‘gangguan’ terhadap pemaknaan gender patriarkal melalui beberapa film serial di televisi, semisal Ally McBeal (Fox Television) dan Sex and The City (HBO). Di mana para tokohnya mempunyai kemandirian dan profesionalisme dalam menjalani pekerjaannya. Lebih-lebih dalam Sex and The City, di mana para tokoh perempuan merayakan kemerdekaan dalam hubungan seksual dengan beragam partikularitasnya sembari menikmati kesuksesan sebagai perempuan modern.[6]

sex the city

Pandangan media populer sebagai medan kontestasi yang memungkinkan perempuan untuk mengganggu hegemoni patriarki, tentu saja, berbeda dari penjelasan awal representasi. Ketika membicarakan film dalam perspektif mitos dan wacana, sebenarnya film diposisikan sebagai aparatus yang menaturalisasi kepentingan ideologi kelompok penguasa dalam rentang sejarah partikular. Perspektif tersebut bisa akan memperoleh pembenaran karena dalam konteks hegemoni kelompok kuasa akan selalu melakukan negosiasi kepentingan mereka sembari terus berusaha mengartikulasikan kepentingan kelompok subordinat sehingga kekuasaan mereka tetap berlangsung, terutama melalui aparatus yang bernama media, film dalam konteks ini. Transformasi ideologi inilah yang kemudian akan berlanjut dalam representasi film dalam rentang sejarah yang berbeda pula. Kasus film pada masa penjajahan hingga orde baru (periode 70-90-an), misalnya, bisa dijadikan referensi betapa representasi perempuan berada dalam status domestik yang selalu berkutat dalam permainan keluarga dan permainan laki-laki.

Namun demikian, yang harus pula dicatat adalah bahwa hegemoni tidak pernah berada dalam situasi yang stabil dan mandeg. Hegemoni adalah relasi yang terus beroperasi dalam segala medan wacana di masyarakat dan ketika pada saat tertentu relasi tersebut cenderung menjurus kepada bentuk koersif, maka di situlah akan memunmunculkan peluang lahirnya kontra-hegemoni terhadap kekuatan yang sudah mapan. Gramsci mengisyaratkan kemungkinan itu sebagai berikut:

Jika kelas pemimpin telah kehilangan konsensusnya, dalam kasus misalnya, tidak lagi ‘mengendalikan/mengarahkan’ tetapi sekedar ‘dominan’, dengan mempraktikkan tindakan koersif; hal ini berarti bahwa massa telah benar-benar tercerabut dari ideologi tradisionalnya (yang dihasilkan dari hegemoni awal, pen) sehingga tidak lagi mempercayai apa-apa yang mereka percayai sebelumnya. Krisis benar-benar terjadi dalam fakta bahwa (kuasa hegemonik, pen) yang lama sekarat dan yang baru belum bisa lahir; dalam argumen ini beragam gejala kesuraman muncul.[7]

Isyarat tersebut menegaskan bahwa dalam kondisi hegemoni lama yang sudah sekarat karena kelas kuasa sekedar dominan dan kehilangan konsensus dari kelas subordinat, maka akan sangat mungkin lahir kekuatan blok historis baru—aliansi strategis dari kaum proletar, intelektual, budayawan, agamawan, maupun praktisi media—yang bisa membentuk kontra-hegemoni dan bersikap subversif terhadap hegemoni lama. Hal itu sejalan pula dengan pemikiran Foucault bahwa resistensi terhadap kuasa yang disebarkan melalui wacana dan pengetahuan sangat mungkin dilakukan dengan melalui re-groupings poin-poin resistensi yang ada dan usaha kodifikasi strategis terhadap segala kemungkinan resisten yang ada. Film sebenarnya mampu mengambil peran dan fungsi resistensi tersebut melalui narasi-narasi filmis yang secara simultan mampu merepesentasikan perjuangan maupun kontestasi perempuan dalam ruang dan lingkungan yang dihegemoni oleh kuasa patriarki.

Paparan pemikiran-pemikiran di atas, baik dalam konteks hegemoni patriarki maupun kontra-hegemoni terhadapnya, sudah semestinya dicermati lagi secara kritis karena konteks lokasi dan budaya yang mendasarinya adalah masyarakat Barat (baca: Amerika Serikat maupun Eropa). Konteks partikular pemikiran tersebut tentu saja lahir dari kondisi sosio-kultural, ekonomi, dan politik yang mempunyai karakteristik dalam rentang historis dan transformasi yang terus-menerus terjadi dalam masyarakat, apalagi pemikiran-pemikiran tersebut lahir di negara-negara yang secara historis tidak pernah atau kurang merasakan pahitnya pengalaman kolonial dalam kehidupan sosio-kultural, ekonomi, dan politiknya. Realitas tersebut tentu sangat berbeda apa-apa yang dialami oleh masyarakat Asia maupun Afrika yang selama ratusan tahun harus mengalami penjajahan dengan segala konseskuensinya dalam kehidupan yang lalu maupun yang kini, terlebih lagi para perempuan yang harus bergulat dengan kuasa patriarki bangsanya sendiri maupun bangsa imperalis dan masih menyisakan jejak-jejak kuasa diskursifnya hingga saat ini.

Oleh karena itu, untuk menerapkan kerangka pemikiran tersebut dalam analisis film-film Indonesia, diperlukan kehati-hatian, terutama dalam membaca secara kritis representasi perempuan dan konseskuensi ideologis yang ada. Apa yang perlu dilakukan adalah melakukan modifikasi teori sesuai dengan konteks keindonesiaan itu sendiri karena, bagaimanapun juga, perempuan Indonesia adalah subjek-subjek yang pernah mengalami proses sosio-kultural dalam masa-masa panjang kuasa patriarki, baik yang berasal dari laki-laki sebangsa maupun laki-laki kolonial. Proses tersebut, bisa diasumsikan, tetap menjadi pergulatan hingga saat ini, meskipun bangsa ini sudah merdeka sejak 1945. Satu realitas yang harus disadari adalah bahwa perempuan Indonesia di antara kepungan tradisi patriarki, baik yang berasal dari lokal maupun kolonial, bukanlah subjek beku, tetapi subjek dinamis yang mengalami persinggungan-persinggungan secara kontinyu dengan wacana baru sehingga bisa memunculkan pembacaan kritis, baik terhadap kuasa patriarki lokal maupun Barat saat ini. Pembacaan melalui perspektif “kajian poskolonial” (postcolonial studies) bisa digunakan untuk semakin melengkapi analisis tentang representasi perempuan dan pertarungan ideologi dalam film Indonesia era 2000-an.

Keterangan

Tulisan ini merupakan sebagian kecil dari Kerangka Pemikiran dalam Tesis S2 saya yang berjudu: “PEREMPUAN DALAM LAYAR BERGERAK: Representasi Perempuan dan Pertarungan Ideologis dala Film Indonesia Era 2000-1n”, Prodi Kajian Budaya dan Media, UGM, 2008

[1] Posfeminisme, secara sederhana, merupakan satu gerakan pemikiran yang berusaha melampaui pemikiran feminis terdahulu dengan proyek utama menolak esensialisme dan universalisme pengetahuan tentang penindasan perempuan. Gerakan ini pada awalnya muncul pada era 70-an dan menemukan popularitasnya pada era 90-an hingga saat ini. Dalam perjalanan pemikiran dan gerakannya, posfeminisme lebih banyak mengambil inspirasi dari pemikiran postrukturalis, psikoanalisis, dan semiologis Perancis—terutama yang berasal dari Foucault, Derrida, Kristeva, Lacan, maupun Barthes—sembari memberikan kritik-kritik konstruktif terhadap pandangan mereka. Pemikiran posfeminis bukannya tidak membongkar situs dan praktik subordinasi perempuan oleh laki-laki. Ia mencoba membongkarnya, tetapi dengan tetap memperhatikan konteks historis, kultural, dan eksistensi subjek perempuan plural dalam masyarakat partikular, sembari memberikan alternatif kontestasi yang bisa dilakukan perempuan dalam praktik resistensi dan subversif, melalui aspek-aspek keperempuanan (feminity) yang mereka miliki. Lihat Ann Brooks.2004. Posfeminisme & Cultural Studies (terj. S. Kunto Adi Wibowo). Yogyakarta: Penerbit Jalasutra.

[2] Kim melihat posfeminisme, yang lebih marak dalam kajian media dan budaya populer semenjak era 90-an hingga saat ini, sebagai sebuah “serangan balik” (backlash) terhadap feminisme. Hal itu ditandai dengan maraknya perempuan dan, utamanya, perempuan muda yang berperan pesat dalam kontestasi budaya populer, sembari mendeklarasikan perayaan mereka dan menganggap feminisme sudah tidak penting lagi karena perempuan saat ini sudah banyak mendapatkan kesamaan dengan laki-laki. Lihat L.S. Kim, “Sex and Single Girl in Postfeminism: The F Word in Television”, dalam Jurnal Television and New Media, Vol.2, No. 4, November 2001. London: Sage Publication.hlm.321. Versi on line di akses dari: http://tvn.sagepub.com, 28 November 2007.

[3] Lebih jauh, Kaplan menggunakan konsep topeng untuk menjelaskan betapa Madonna berhasil mengadopsi satu per satu topeng untuk menyingkap fakta bahwa tidak ada diri yang esensial, dan karenanya, tidak ada feminin yang esensial, selain hanya konstruksi budaya—sehingga topeng sebagai penguasaan, sebagai permainan dengan sistem tanda gender yang ada, sebagaimana istilah Freud, penyebaran dan penyingkapan tentang proses pemujaan yang menindas yang tersimpan pada rasa takut akan pengkebirian. Juga terdapat teori bahwa citra Madonna yang sadar diri menggunakan topeng tersebut untuk memproduksi cara-cara dan fantasi-fantasi patriarkal—topeng sebagai muslihat. Yang tidak kalah menariknya adalah bahwa Madonna menawarkan suatu model peran yang positif bagi perempuan muda dalam menolak feminin patriarkal yang pasif, membuka kedoknya dan menggantikannya dengan citra perempuan yang kuat dan otonom. Ibid.hlm.226-227.

[4] Bordo, sebagaimana dikutip Brooks, menjelaskan bahwa tubuh perempuan yang benar-benar melawan bukanlah tubuh yang berperan melawan seksualitas dan objektifikasi feminin, melainkan tubuh yang menggunakan simulasi secara strategis dalam cara-cara yang menantang gagasan stabil tentang gender sebagai bangunan besar perbedaan seksual. Suatu politik erotik yang di dalamnya tubuh dapat diubah kembali dalam perubahan identitas yang terus-menerus dalam gaya yang plural.Ibid.hlm.235.

[5] Dalam pandangan Hermes, mengutip pendapat beberapa peneliti, representasi perempuan dalam film-film atau serial televisi bergenre action-crime, mampu menyerang balik stereotipisasi perempuan sebagai subjek yang tidak berdaya, yang selama banyak berkembang dalam film maupun serial televisi. Perempuan muncul dalam ragam variasi representasinya. Terkadang muncul sebagai perempuan detektif single hingga berkelompok, seperti Charlie’s Angel; terkadang sebagai ahli atau guru yang mampu menentukan tatanan dan kebenaran; terkadang muncul sebagai seorang tom boy. Memang, perempuan dengan kehadiran yang begitu kuat bisa jadi menyerupai jagat laki-laki. Tetapi, mereka masih mempunyai keperempuanan yang terkadang bia menjadi aset. Meskipun demikian selalu dikombinasikan dengan kecerdasan, dan seringkali dengan teknik perkelahian yang efektif. Apa yang menarik dari contoh tersebut adalah sebenarnya adalah persoalan profesionalisme dalam kerja, yang bisa jadi melampaui batas-batas gender, sehingga pun perempuan pada hakikatnya mempunyai kesamaan dan kesetaraan dengan laki-laki. Lihat Joke Hermes, “Media Representations of Social Structure: Gender”, dalam Eoin Devereux.2007. Media Studies, Key Issues and Debates. London: Sage Publications.hlm.201-202.

[6] Dalam serial Ally McBeal (Fox), tokoh protagonisnya, Ally, adalah seorang pengacara perempuan dengan karakter yang begitu kuat, cerdas, dan seolah-olah tidak membutuhkan laki-laki dalam pekerjaannya, tetapi ia hanya ‘menginginkan’ mereka. Dalam pandangan Kim, hal tersebut belum cukup untuk menunjukkan wacana feminis, tetapi, memang cenderung ke arah wacana posfeminis. Sementara dalam Sex and The City (HBO) para tokoh di dalamnya, Carrie, Miranda, Charlotte, Samantha, memiliki keunikan masing-masing, baik dalam pilihan karir maupun pilihan untuk berhubungan seksual. Masing-masing dari mereka sadar akan pilihan dan kenikmatan yang dihasilkannya. Dan inilah yang sebenarnya ingin ditekankan oleh serial ini. Mereka bisa bebas menikmati ruang-ruang kota, dari diksotik, bar, hingga kantor, serta menembus batas-batas kenormalan patriarkal yang masih ada dalam masyarakat Amerika. Di samping itu, realitas persahabatan merupakan pesan ideologis yang dirayakan. Bahwa di balik semua konflik kehidupan yang mereka alami, mereka tetap mampu menyatukan persahabatan untuk kebaikan masing-masing. Lihat Kim. Op.cit.hlm.326-329.

[7] Lihat Gramsci, Antonio, “Class, Culture, and Hegemony”, dalam Tony Bennett, Graham Martin, Collin Mercer, and Janet Woolacott (eds).1981. Culture, Ideology, and Social Process. Batsford: The Open University Press.hlm. 193.

Share This:

About Ikwan Setiawan 126 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*