Perempuan di balik kabut Bromo: Perempuan Tengger dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat

Pendahuluan

Sebagai sebuah wilayah adminitratif, wong Tengger merupakan orang-orang yang membentuk desa dan padukuhan (dusun) di sekitar wilayah pegunungan Bromo-Semeru serta termasuk dalam wilayah empat kabupaten, yakni Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang. Masyarakat Tengger di wilayah Kabupaten Probolinggo berdomisili di Kecamatan Sukapura dan Sumber. Di Kabupaten Pasuruan, mereka bertempat tinggal di Kecataman Tosari. Sementara di Malang mereka bermukim di Kecamatan Poncokusumo. Sedangkan di Kabupaten Lumajang wong Tengger menjalani kehidupannya di Kecamatan Senduro.

Meskipun berada dalam wilayah kehidupan berpencar, secara kultural mereka tetap mengaku sebagai saudara yang mana mempunyai kesamaan-kesamaan dalam hal bahasa, religi, adat-istiadat, dan tradisi. Dalam setiap selamatan Kasada (ritual persembahan) mereka akan berbondong-bondong dengan membawa sesaji dan hasil bumi menembus pekatnya kabut, dinginnya udara, dan batas-batas administratif kewilayahaan demi menuju satu tujuan suci, kawah Gunung Bromo. Semua masyarakat Tengger di empat kabupaten juga masih setia menjalankan selamatan Unan-unan, Entas-entas, ataupun Karo. Kebersatuan inilah yang menyebabkan ikatan di antara wong Tengger begitu kuat sehingga antarwilayah ataupun antarwarga jarang sekali atau bisa dibilang tidak pernah terjadi pertikaian dan konflik yang menjurus pada kekerasan fisik. Meskipun di sebagian wilayah Tengger, saat ini penduduknya sudah ada yang memeluk agama Islam ataupun Kristen, toleransi dalam bingkai persaudaraan mampu menjaga keharmonisan kehidupan mereka.

Dalam kehidupan bernegara, wong Tengger juga mempunyai keistimewaan yang mungkin oleh masyarakat lain “ditakuti”, yakni ketaatan dan ketepatan membayar pajak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ayu Sutarto (2003), masyarakat Tengger di empat kabupaten merupakan warga yang paling cepat dan taat dalam membayar pajak, apakah itu pajak bumi, bangunan, ataupun kendaraan. Padahal di masyarakat lainnya, pajak selalu dibayar pada masa akhir, bahkan dinas terkait sampai harus membuat banyak sepanduk himbauan di jalan-jalan protokol. Ketaatan untuk membayar pajak menurut Pak Mudjono, Kepala Dukun Tengger, berasal dari tradisi wong Tengger yang mempunyai kepatuhan total kepada pemimpin, baik pada masa lampu maupun pada masa kini. Di samping itu, di masyarakat Tengger juga terdapat satu kebiasaan zero crime, hampir tidak ada tindak kejahatan yang merugikan orang lain. Kalaupun ada tindakan kriminal, pasti dilakukan oleh orang lain yang berasal dari luar masyarakat Tengger.

Karakteristik lain yang dimiliki wong Tengger adalah kerjasama antara laki-laki dan perempuan dalam kerja-kerja di tegal (ladang). Di wilayah Tengger, perempuan juga ikut bekerja di tegal. Pekerjaan mereka bukan hanya sebatas ngirim (mengantarkan sarapan) suami, tetapi perempuan juga ikut melakukan kegiatan yang di wilayah lain hanya lazim dikerjakan oleh kaum laku-laki. Perempuan Tengger juga ikut mencangkul, menyiangi rumput, menanam sayur, bahkan ngobat (menyemprotkan pestisida ke sayuran). Tanpa rasa canggung dan malu kaum perempuan berkontestasi di ladang bersama-sama dengan suami tercinta.

Memang faktor ekonomi menjadi alasan yang kuat munculnya kerja pastisipatif tersebut, tetapi di balik itu semua ada sebuah “tabir” yang mesti disingkap dengan analisis yang teliti. Partisipasi di tegal bisa jadi hanyalah menjadi pintu masuk untuk menelaah lebih mendalam lagi apa, mengapa, dan bagaimana peran aktif perempuan Tengger dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam asumsi kritis, keberadaan peran di ladang tidak mungkin berdiri sendiri. Dengan kata lain peran di ladang sebenarnya sudah mempunyai akar dalam tradisi kuno Tengger sehingga bisa jadi menghadirkan peran-peran yang lain. Di samping itu tentu saat ini ada kondisi-kondisi partikular yang meyebabkan perempuan mempunyai peran dominan dalam menjalankan roda kehidupan keluarga dan masyarakat.

Metode dan lokasi penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang menekankan pada deskripsi dan analisis dari sudut pandang budaya dari informan di lapangan. Adapun pendekatan yang digunakan untuk menguraikan persoalan tersebut di lapangan adalah etnografi. Dengan menggunakan pendekatan etnografi peneliti ingin menguraikan bagaimana konstruksi peran aktif perempuan Tengger dalam masyarakat. Informasi diperoleh dengan cara wawancara (interview) dan observasi partisipatoris  (participatory observation) sehingga memungkinkan diperolehnya informasi yang lebih

Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo karena wilayah ini belum pernah dijadikan area kajian tentang Tengger. Di samping itu kehidupan sosial masyarakat sangat dinamis dan harmonis karena mereka bisa menciptakan kolaborasi antara nilai-nilai tradisi dan modernitas. Mereka masih sangat taat dalam menjalankan nilai dan adat tradisi yang mereka warisi dari para leluhur. Ketika pengaruh modernitas kota melalui media informasi dan komunikasi tak bisa dihindari, wong Tengger di desa ini sepertinya ingin berkata: “Kami tidak mungkin menolak televisi, handphone, ataupun kendaraan bermotor, tapi kami juga tidak bisa meninggalkan apa-apa yang sudah diwariskan nenek moyang.”

Di tengah-tengah dinamisasi tradisi dan modernitas, ternyata wong Tengger masih juga mempertahankan harmoni antara perempuan dan laki-laki. Perempuan yang dianggap gampang larut dalam ekstase modernitas, ternyata kurang berlaku bagi perempuan Tengger di Wonokerso. Mereka tetap saja aktif di keluarga, ladang, masyarakat, dan ritual. Itulah yang membedakan perempuan Tengger dengan perempuan-perempuan di wilayah lain. Tulisan ini akan membahasa bagaimana peran aktif perempuan Tengger serta faktor-faktor apa saja yang membentuknya.

Rara Anteng: Perjuangan di jagat legenda, inspirasi di jagat nyata

“Terlepas orang luar mau percaya atau tidak, kami, wong Tengger tetap yakin sepenuhnya kalau Rara Anteng dan Jaka Seger-lah yang menjadikan kami ada. Kami akan tetap menghargai dan menghormati mereka berdua. Bagi kami, mereka itu orang mulia yang harus dijaga dalam tindak dan tanduk sehari-hari.” (Wawancara, 12 Juli 2006)

Dalam kisah Rara Anteng-Jaka Seger, diceritakan bahwa bagaimana keteguhan hati seorang Rara Anteng yang berasal dari kalangan ningrat untuk menikah dengan seorang pemuda gunung bernama Jaka Seger.  Keputusan Rara Anteng ini tentu bisa dilihat sebagai sebuah lompatan besar dalam pemikiran sosial saat itu. Status ningrat yang disandangnya ternyata tidak menjadi penghalang baginya untuk menikah dengan Jaka Seger meskipun pilihan itu mengakibatkan ia harus rela menjalani kehidupan sebagai orang biasa dan tinggal di wilayah gunung yang cukup dingin serta serba minim fasilitas hidupnya. Sejak awal, sebagai dua insan pertama yang mendiami wilayah Tengger, mereka berdua harus bahu-membahu dalam menata kehidupan rumah tangganya. Bisa dibayangkan bahwa Rara Anteng tentu tidak saja menjadi pengatur ‘urusan dalam kamar’ karena ia juga harus membantu suami tercinta membuka lahan untuk menanam jagung.

Ketika ingin mempunyai keturunan sebagai pewaris dan penerus kehidupan di Tengger, Rara Anteng rela untuk turut bersemedi di Segara Wedi (lautan pasir di dasar Gunung Bromo) selama berhari-hari lamanya agar Dewata mengabulkan permohonan mereka dan memberikan keturunan yang baik dan berbudi. Setelah bersemedi dengan khusyuk akhirnya Dewata mengabulkan permohonan mereka berdua, dan memberikan mereka 25 anak. Namun di balik itu semua ada satu perjanjian sakral antara Rara Anteng-Jaka Seger bahwa kalau sudah tiba saatnya, Dewata akan meminta putra terakhir (anak ke-25) sebagai persembahan yang harus dikorbankan. Merek berdua akhirnya menyetujui perjanjian itu, karena mereka sungguh menginginkan kelahiran anak-anak yang akan meneruskan kehidupan di Tengger.

Ketika Dewata menagih janji untuk meminta anak terkhirnya, Raden Kusumo, sebagai persembahan di kawah Gunung Bromo, Rara Anteng dan Jaka Seger berusaha keras untuk melawan kehendak yang sudah ditakdirkan untuk terjadi itu. Naluri seorang ibu untuk menjaga keberlangsungan kehidupan menjadikan Rara Anteng berusaha keras agar Dewata membatalkan kehendak-Nya. Sekeras apapun usahanya, garis takdir yang tercipta dari perjanjian suci antara Rara Anteng dan Dewata ketika ia bersemedi di segara wedhi tidak bisa ditolak. Kusumo yang sudah mengetahui isi perjanjian itu, akhirnya dengan iklas dan pasrah meneceburkan diri ke kawah Gunung Bromo, sebagai jaminan tetap berlangsungnya kehidupan di wilayah Tengger.

Meskipun legenda kehidupan Rara Anteng dan Jaka Seger tidak tertulis rapi dalam epik layaknya cerita Yunani klasik, namun kisah yang tertransformasi secara turun-temurun itu tetap menjadi keyakinan dan tidak bisa dicerabut dari akar tradisi dan “kesejarahan” wong Tengger. Yang pasti melalui kisah tersebut, wong Tengger mampu menemukan dan memahami kesejatian dari “menjadi orang Tengger” yang berhasil memadukan kesetiaan terhadap tradisi, keharmonisan terhadap alam dan masyarakat, serta kepasrahan kepada Sang Hyang Widhi yang telah memberkahi kehidupan di wilyah ini. Dari kisah ini pula wong Tengger mampu menemukan perpaduan harmonis yang sejajar antara kaum laki-laki dan perempuan yang jauh dari persoalan hegemoni, dominasi, pelecehan, dan pengkerdilan hak-hak manusiawi.

Kesetaraan laki-laki dan perempuan Tengger dalam pandangan tradisi

Keyakinan akan kisah perjuangan Rara Anteng dan Jaka Seger dalam awal-awal kehidupan bisa jadi membawa implikasi luas dalam konstruksi sosio-kultural laki-laki dan perempuan dalam pandangan tradisi yang berlaku di masyarakat Tengger. Dalam tradisi Tengger, seorang laki-laki dan perempuan harus manjalani setya laksana di mana ia diharuskan untuk bertanggung dalam melaksanakan kewajiban yang telah dibebankan oleh adat (Ayu Sutarto, 2003: 40). Tradisi Tengger menganggap laki-laki dan perempuan mempunyai posisi yang sederajat, sama-sama berperan baik dalam kehidupan keluarga ataupun masyarakat.

Ketika seorang laki-laki telah menjadi suami dan seorang perempuan telah menjadi istri, maka mereka dituntut untuk mengabdi secara total untuk kepentingan keluarga sehingga bisa menemukan kesejahteraan dan kententraman dalam menjalani hidup. Ketika sebuah keluarga sudah memperoleh kententraman, tentu akan mempermudah dalam memperoleh walima, yakni “waras” (sehat jasmani dan rohani), “wareg” (cukup makan), “wastra” (cukup sandang), “wasis” (cukup ilmu pengetahuan), dan “wisma” (tempat tinggal yang layak).

Konsepsi walima di atas menyiratkan sebuah tanggung jawab yang besar seorang suami dan istri Tengger dalam hal “materi” maupun “rohani”. Untuk bisa mencapai tahapan wareg, wastra, dan wisma, misalnya, mereka berdua harus bekerja keras di ladang agar hasil panen sayur-mayur bisa melimpah sehingga mereka  bisa membeli beras, pakaian maupun material bangunan, baik dari Pasar Sumber maupun Bantaran. Begitupula untuk mencapai tahapan waras dan wasis. Harga sebuah kesehatan jasmani memang sangat mahal, sehingga mereka harus punya cukup tabungan yang akan digunakan untuk berobat ketika mereka sakit. Kesehatan rohani juga tidak kalah mahalnya, karena hal itu berkaitan erat dengan kondisi mental dan spiritual yang harus tetap seimbang. Salah satu cara untuk memperoleh kondisi mental dan spiritual yang sehat, keluraga Tengger dituntut tetap setia mengasah rohaninya dengan melakukan ritual-ritual tradisi yang membutuhkan biaya cukup besar. Untuk memperoleh ilmu yang mumpuni bagi anak-anaknya sehingga bisa mencapai tahapan wasis, keluarga Tengger harus pandai-pandai mengatur keuangan. Bagi yang ingin menyekolahkan anaknya hingga pendidikan yang lebih tinggi tentu tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan karena mereka harus bersekolah di luar wilayah Tengger. Tentu saja butuh biaya banyak baik untuk SPP, buku, ataupun tempat kos.

Perempuan Tengger 3

Sumber foto: https://archopodho.wordpress.com/2011/05/19/masyarakat-tengger-berbakti-pada-bumi/

Seorang suami dan istri harus terlibat total dalam mewujudkan konsepsi walima di atas. Apabila salah satu dari mereka melenceng atau melanggar komitmen tersebut maka mereka bisa terkena walat, yakni balasan berat dari Hong Pikulun (Yang Maha Kuasa) atas tindakan jahat yang dilakukan manusia. Misalnya, ketika seorang suami berselingkuh dengan perempuan lain, maka ada balasan berat yang akan ia terima karena ketidaksetiaannya dan pelanggarannya terhadap komitmen hidup yang harus dibangun bersama. Di Wonokerso, kasus-kasus perselingkuhan bisa dibilang tidak ada hingga penelitian ini dilaksanakan. Nihilnya angka perselingkuhan sangat dipengaruhi oleh keyakinan masyarakat Tengger Wonokerso terhadap walat yang dikenal dengan istilah persikan (terjadi apabila ada ada seorang gadis atau istri berhubungan badan dengan seorang perjaka atau suami perempuan lain, maka ketika ada anak kecil yang dekat dengan lokasi terjadinya hubungan atau rumah salah satu dari mereka, ia akan kena “persik”, yakni tiba-tiba sakit keras. Apabila tidak segera ditolong oleh dukun, nyawa si anak dipastikan akan melayang).

Konsep kesetaraan juga berlaku bagi pembagian warisan. Baik perempuan ataupun laki-laki mendapatkan bagian yang sama. Misalnya, ketika orang tua mempunyai lahan 10 petak dan mempunyai dua orang anak, laki-laki dan perempuan, maka masing-masing anak akan mendapatkan warisan 5 petak. Fakta tersebut tentu berbeda dengan tradisi hukum waris di masyarakat lain (selain komunitas Tengger) yang memberi anak laki-laki jumlah yang lebih banyak. Dalam tradisi Tengger berlaku prinsip podho-podho anake. Artinya baik anak laki-laki atau perempuan sama-sama anugrah Sing Kuasa (Yang Maha Kuasa) yang harus sama-sama disayangi dan tidak boleh dibeda-bedaka satu sama lain, bahkan dalam hal warisan tidak boleh beda (Wawancara, Pak Sumartam, 17 Juli 2003). Dalam hal pendidikan, wong Tengger tetap berlaku terhadap anak-anaknya. Ketika si anak laki-laki kuliah maka si anak perempuan juga diperbolehkan kuliah.

Kesederajatan itulah yang kemudian melahirkan konsep peran strategis perempuan Tengger dalam pandangan tradisi masyarakat. Sebuah pandangan yang selangkah lebih maju dalam pemikiran kemasyarakatan ala tardisi, ketika para pemikir di kota masih berkutat tentang cara bagaimana memberdayakan perempuan.

Berawal dari dapur: Peran aktif perempuan Tengger di rumah

Dapur merupakan ruang yang punya peran siginifikan dalam kosntruksi peran seorang perempuan Tengger. Di sinilah aktivitas memasak berada. Dapur keluarga Tengger biasanya terdiri dari dua tungku yang juga terbuat dari batu bata dan lepoh. Di samping berfungsi sebagai tempat memasak dapur bagi keluarga Tengger seringkali digunakan untuk mengobrol dengn kerabat dekat atau tetangga yang datang, terutama kerabat perempuan. Tamu, baik kerabat ataupun tetangga, yang datang akan dipersilahan duduk di depan tungku yang menyala sehingga mereka tidak merasa kedinginan. Bahkan tidak jarang suami bermusyawarah dengan istri apabila ada permasalahan-permasalahan yang membutuhkan pemikiran bersama.

“Sering, Mas, Bapaknya anak-anak kalau ada masalah-masalah tertentu di ladang ngobrolnya ya di dapur, atau di kamar tidur sebelum tidur. Suasananya lebih enak dan santai.” (Wawancara, Bu Srimulat, 2 Juni 2006)

Di dapur pula para istri Tengger memulai aktivitas harian untuk memberi warna pada kehidupan. Ketika bangun pagi, sekitar pukul 04.00 WIB, penulis mengira bahwa keluarga Pak Kades masih terlelap karena capek berkativitas seharian. Ketika menuju kamar mandi di samping rumah dan harus lewat dapur, penulis melihat Bu Srimulat yang sudah memulai aktivitas memasak dengan mengenakan sarung untuk menutupi dada dan punggung sekedar untuk mengusir dingin. Dengan begitu sabar dan telaten Bu Srimulat memulai aktivitas memasak dengan memanaskan air dilanjutkan dengan menanak nasi yang diperuntukkan untuk sarapan suami dan anak-anak tercinta.

Ketika saya menanyakan perihal tersebut kepada perempuan Tengger lainnya, ternyata mereka juga melakukan aktivitas serupa.

“Pagi-pagi sekitar pukul 03.30 saya sudah bangun duluan, meski suami dan anak-anak belum bangun. Saya mempersiapkan makanan untuk kelurga, setelah itu saya bersih-bersih dalam rumah dan halaman biar tidak kelihatan kotor karena harus ditinggal seharian di ladang.” (Wawancara, Bu Supiarsih, 2 Juni 2006)

Dengan demikian, tugas di rumah bagi seorang perempuan Tengger sudah sangat banyak dan menyita energi. Tetapi, mereka tidak pernah mengeluh karena itu semua dilakukan demi kebahagiaan keluarga. Mereka tidak pernah teralienasi—meminjam terminologi feminis Marxis—dalam menjalankan itu semua, karena ada sesuatu yang mulia dari itu semua: kesejahteraan keluarga.

Di samping urusan memasak, di dapur pulalah para ibu Tengger seringkali memberikan wejangan tentang adat-istiadat dan budi pekerti kepada anak-anaknya. Di Wonokerso, dan juga wilayah-wilayah Tengger lainnya, tugas untuk mendidik anak memang menjadi tanggung jawab ibu karena seorang ibu diyakini lebih mumpuni dan lembut dalam menyampaikan nasehat-nasehat kehidupan yang dijalani anak-anaknya ketika mereka beranjak remaja dan dewasa.

Dapur bagi perempuan Tengger adalah “awal dari lahirnya kehidupan” dalam waktu sehari-hari, kalau dapur mati berarti menandakan “sesuatu yang buruk bagi keluarga” dn kehidupan itu sendiri. Sepertihalnya ketika Rara Anteng tidak berhenti bersemedi sebelum Dewata mengabulkan doanya untuk mempunyai keturunan.

“Kami juga nyangkul dan ngubat”: Peran aktif perempuan Tengger di ladang

Ketika aktivitas memasak dan membersihkan rumah telah selesai para perempuan Tengger segera menyusul suami ke ladang sembari membawakan sarapan untuk dimakan bersama-sama di ladang. Di ladanglah terjadi kerjasama yang cukup bijak dalam mengolah pertanian sebagai sumber ekonomi dan kesejahteraan bagi keluarga, karena ketika mereka telaten dalam mengolah ladang maka hasil panen yang melimpah (kecuali kalau terjadi serangan hama) sudah bisa dipastikan akan melimpah. Itu berarti selama beberapa bulan ke depan ekonomi keluarga akan aman. Segala kebutuhan, mulai dari dapur hingga uang sekolah anak-anak tercinta, tidak akan terganggu. Sebaliknya, ketika hasil panen buruk karena kurang perawatan ataupun terkena serangan hama, maka bisa dipastikan kondisi ekonomi keluarga akan mengalami kendala.

Perempuan Tengger 4

Sumber foto: http://wkwk.lecture.ub.ac.id/2015/10/masyarakat-dan-budaya-tengger/

“Tiap hari, setelah memasak, saya menyusul Bapaknya ke tegal, kecuali kalau ada acara PKK di balai desa, berangkat agak siang. Meskipun saya ini istrinya perangkat desa, tapi saya tidak pernah merasa malu untuk ke tegal, kalau saya malu itu berarti saya tidak memenuhi kewajiban saya untuk menghidupi keluarga karena jadi perangkat itu bayarannya cuma kecil. Di tegal inilah saya dan Bapaknya bekerja bareng-bareng. Kalau musim persiapan saya juga ikut nyangkul tanah. Kalau saatnya nanem benih kentang saya juga ikut nanem. Kalau waktunya nyiangi rumput saya juga ikut. Ngubat saya juga ikut. Itung-itung untuk ngirit biaya. Kami biasanya di tegal sampai jam 4 sore. Kalau semua diserahkan ke buruh tani, pasti habis uang banyak. Bahkan ketika Bapaknya ada acara ke kantor kecamatan, saya biasanya ke ladang sendiri, karena di rumah juga tidak ada pekerjaan.  Perempuan Tengger itu malu sendiri kalau tidak ikut bekerja di ladang, karena di sini perempuan dan laki-laki itu posisinya sama.” (Wawancara, Bu Soponyono, 5 Juni 2006)

Bu Soponyono menambahkan ketika musim panen tiba seringkali yang mengatur urusan yang berkaitan dengan buruh tani dan juga tawar-menawar harga dengan pedagang adalah istri. Mulai dari mencari buruh untuk memanen hingga memastikan harga kentang dan sayur-mayur lainnya bergantung semua pada kelihaian seorang istri. Kalau sudah seperti itu, suami jarang sekali campur tangan.

Dari bersih-bersih desa, arisan, hingga Pertemuan PKK: Peran aktif perempuan Tengger dalam kehidupan sosial masyarakat

Selain kegiatan yang bernuansa keluarga, para perempuan Tengger di Wonokerso juga mempunyai kegiatan yang bernuansa kemasyarakatan. Kegiatan kemasyarakatan awalnya memang berasal dari program aparat kecamatan, yakni pertemuan PKK. Namun dalam perkembangannya, para perempuan Tengger mempunyai kreatifitas lebih sehingga terciptalah program-program lainnya.

Meskipun kegiatan-kegiatan yang terwadahi dalam PKK terkesan sebagai program pemerintah, para perempuan Tengger dengan rela dan suka hati berpartisipasi. Dalam wadah seperti penyuluhan, arisan, ataupun posyandu mereka bisa bertemu dengan ibu-ibu lainnya untuk saling memberikan informasi tentang kondisi anak dan keluarga masing-masing sehingga kerukunan akan tetap terjaga. Dengan kata lain, kegiatan-kegiatan tersebut akhirnya bisa menjadi sebuah ruang publik di mana para perempuan Tengger mampu memunculkan gagasan tentang bagaimana cara menciptakan kesejahteraan kelurga dan memberikan sumbangsih bagi kesejahteraan masyarakat.

Perempuan Tengger 5

Sumber foto: http://ngadiwana.blogspot.co.id/2012/12/sarung-sebagai-ciri-khas-pakaian.html

Kalau ada kegiatan PKK, maka ibu-ibu Tengger akan menunda kepergiannya ke ladang karena mereka tidak ingin ketinggalan informasi-informasi baru. Biasanya yang memberikan penyuluhan adalah pegawai dari kecamatan ataupun puskesmas. Di samping di isi acara penyuluhan tentang KB dan bagaimana kiat-kiat menciptakan keluarga yang sejahtera, acara juga diisi dengan penyuluhan kesehatan keluarga dan anak. Sedangkan untuk posyandu ibu-ibu Tengger sudah bisa melaksankan sendiri setelah sebelumnya memperoleh arahan dari petugas puskesmas. Biasanya para remaja putri yang paham tulis-menulis membantu ibu-ibu untuk melakukan pencatatan tentang data perkembangan balita. Sedangkan arisan sebesar Rp. 5.000,- per kepala lebih berfungsi sebagai tabungan bagi keluarga Tengger.

Kalau ada kegiatan PKK, seorang istri Tengger akan lebih pagi menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Ini tentu sebuah gambaran bagaimana seorang perempuan Tengger mampu membuat mekanisme keseimbangan antara kepentingan keluarga dan masyarakat.

Kerja bakti membersihkan jalan desa merupakan kegiatan yang cukup menyita tenaga, dan mungkin apa yang dilakukan perempuan Tengger merupakan contoh betapa mereka bisa berbuat lebih bagi masyarakat dan lingkungan. Kerja bakti merupakan kreativitas para perempuan Tengger dalam merespons kondisi jalan-jalan desa yang sering tampak kotor karena sampah plastik ataupun sampah sisa hasil panen

Kegiatan PKK dalam segala bentuknya ternyata mampu menjadi ruang publik bagi perempuan Tengger untuk mengaktualisasikan pemikiran dan sumbangsih mereka dalam upaya menata masyarakat dan keluarga. Tentu ini memberikan gambaran positif betapa sebuah acara yang berasal dari pemerintah bukan hanya menjadi seremonial yang menjemukan. Para perempuan Tengger tidak hanya mampu berkata-kata tentang peran perempuan dalam masyarakat. Lebih dari itu mereka berhasil mewujudkan sebuah praktik sederhana yang apabila dilakukan dengan perasaan senang dan dihayati mampu menjadi sebuah gerakan sosial sebagai fondasi bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera dan harmonis.

“Begitu asap mengepul, para perempuan pun berkumpul”: Peran aktif perempuan Tengger dalam ritual tradisi 

Upacara adat—dalam bahasa Tengger disebut slametan—merupakan ritual yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi wong Tengger, di manapun tempatnya. Di Wonokerso, sama dengan wilayah Tengger lainnya, upacara ritual berkaitan erat dengan situs kehidupan manusia, mulai dari kelahiran, pernikahan, dan kematian dan juga upacara-upacara keagamaan dan tradisi. Tulisan ini tidak hendak membahas detil upacara-upacara tersebut karena bukan merupakan fokus kajian. Tulisan ini akan lebih banyak mengupas tentang peran perempuan Tengger dalam persiapan dan pelaksanaan upacara.

Perempuan Tengger ritual

Sumber foto: http://madib.blog.unair.ac.id/2013/10/

Dalam tradisi Tengger ada beberapa slametan yang bisa dikategorikan dalam ritual besar, yakni: slametan untuk Hari Raya Karo (semacam Idul Fitri), Kasada (mengirim persembahan ke kawah Gunung Bromo), Unan-unan (seperti tradisi bersih desa), Walagara (upacara pernikahan), dan Entas-entas (slametan terakhir untuk kematian). Dari beragam slametan tersebut, yang paling banyak membutuhkan tenaga adalah Walagara, Unan-unan, dan Entas-entas. Banyaknya tenaga yang dibutuhkan, membuat wong Tengger saling bekerjasam untuk mensukseskan acara slametan. Solidaritas sosial masyarakat terlihat jelas ketika persiapan maupun pelaksanaan upacara, tak peduli apakah kerabat atau tetangga. Baik laki-laki maupun perempuan, generasi muda, dan anak-anak tampak membaur dalam sebuah orkestra budaya yang begitu indah, sejak dari persiapan hingg pelaksanaan.

“Sebenarnya persiapan untuk Entas-entas itu sudah jauh hari, bahkan sekitar 1-2 bulan sebelumnya. Saya dan suami jauh hari sudah ngrembuk untuk ngentas kedua orang tua kami yang sudah meninggal 2 tahun yang lalu, tapi karena baru punya ada rezeki lebih sekarang, maka baru saat ini kami laksanakan. Setelah rembugan, kami berdua bermusyawarah dengan kerabat lainnya untuk meminta nasehat, bahkan keluarga lainnya ternyata akan ikut juga ngentas orang tua mereka. Memang istilahnya keluarga saya yang menjadi ‘panitia’, tapi keluarga yang lain juga ikut mbantu biaya pelaksanaan, baik berupa uang maupun bahan-bahan dapur. Pada dasarnya tetap keluarga kami yang membiayai paling banyak. Begitu sepakat, Bapaknya anak-anak pergi ke dukun untuk meminta ‘hari baik’ agar acaranya berjalan lancar. Setelah ketemu hari baiknya, kami berdua segera memberitahukan kepada kerabat yang berada di luar desa. Satu minggu sebelumnya, saya ditemani beberapa kerabat wedok lainnya pergi ke pasar Bantaran untuk berbelanja keperluan slametan, semisal bahan-bahan makanan yang kering, seperti gula, beras, kopi, beras ketan, teh, dan lain-lain. Sampai-sampai biasanya saya nyarter ‘taksi’ (angkutan umum) untuk membawanya pulang. 1 minggu sebelum pelaksanaan saya bersama kerabat wedok lainnya mulai membuat kue-kue kering. Tiga hari sebelumnya kami membuat bumbu-bumbu masak, ya rawon ya soto, untuk dipakai pada besok malam (1 hari sebelumnya, pen.) karena sapi dan ayam akan disembeli besok sore. Mulai besoklah, kami dibantu ibu-ibu lain, tetangga kanan-kiri, akan memasak bersama di balai desa. Pokoke rame banget.” (Wawancara, Bu Tomo, 1 Juli 2006)

Paparan yang diberikan Bu Tomo dengan jelas menggambarkan betapa perempuan Tengger mempunyai peran dominan sebelum pelaksanaan slametan Entas-entas. Meskipun terkesan bahwa tugas mereka berkaitan dengan persoalan dapur, aktivitas yang mereka lakukan sebenarnya menyiratkan sebuah kesadaran kultural demi mensukseskan slametan. Tanpa kesadaran tersebut, slametan entas-entas tentu tidak bisa dilaksanakan, karena urusan dapur menjadi kunci utama dalam acara tersebut.

Tidak ada kesan terpaksa dari wajah para perempuan yang bekerja di dapur. Dengan perasaan gembira mereka melaksanakan tugas masing-masing diselingi guyonan di antara mereka, samahalnya ketika mereka bekerja di ladang. Bu Sumarni, salah seorang nenek yang masih termasuk kerabat Bu Tomo sembari menunggui dapur agar apinya tetap menyala menuturkan aktivitas tersebut sebagai berikut.

“Wong Tengger itu rukun-rukun, baik wong wedoknya ataupun wong lanang. Kalau ada slametan, mereka pasti akan saling membantu, sepertinya kami ini sudah menjadi ‘keluarga besar’. Ibu-ibu dengan sukarela akan datang membantu, meskipun tidak dibayar, semuanya gratis, soalnya kalau giliran mereka punya hajat kami juga akan membantunya, ikut mbecek, ya di dapur ya di ruang tamu. Meski hanya sebatas memasak, tetapi bantuan ibu-ibu itu sungguh berarti karena tanpa mereka mungkin kami tidak bisa bekerja dengan cepat. Istilahnya pokoke ono beluk ngepul (asap mengepul), wong wedok podo ngumpul (Begitu di dapur ada asap mengepul, maka para perempuan akan berkumpul).” (Wawancara, 2 Juli 2006)

Keterangan Bu Sumarmi tersebut menegaskan betapa para perempuan Tengger melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan slametan dengan keiklasan demi tercapainya tujuan upacara, mengentas arwah. Imbalan uang tidak pernah ada ketika slametan berlangsung, karena imbalan yang sebenarnya adalah ketika keluarga yang punya hajatan pada suatu ketika akan ikut membantu keluarga lain yang akan punya hajatan serupa. Sebuah contoh gotong-royong yang sangat konstruktif sebagai modal sosial (social capital) di tengah alam modern yang mereka rasakan saat ini.

Pada pagi harinya sekitar, pukul 03.00 dinihari, para perempuan sudah bangun dari tidur untuk mempersiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang akan terlibat dalam ritual Entas-entas. Sambil masih mengenakan sarung untuk menutupi badan, mereka memulai aktivitas pagi hari dengan pasti. Pukul 05.30 WIB, dukun dan para pembantunya datang untuk melaksanakan acara ritual. Tidak ada dalam tradisi Tengger seorang perempuan yang menjadi dukun ataupun pembantu dukun, tetapi istri dukun ikut membantu dalam memberikan sesajen kepada dukun ritual dimulai. Istri dukun pula yang menyalakan kemenyan dan juga memilah-milah sesajen yang hendak dijadikan prasyarat berlangsungnya Entas-entas. Hal ini mengingatkan pada peran Rara Anteng ketika ia juga ikut berpartisipasi dalam memulai kehidupan baru di wilayah Tengger dengan cara bersemedi untuk meminta keturunan kepada Hong Pikulun.

Dalam pelaksanaannya, ada salah satu ritual yang mengharuskan keikutsertaan keluarga perempuan dan laki-laki dari jenasah yang hendak di-entas, yakni ketika mereka harus duduk melingkar bersama. Ketika mereka sudah melingkar sembari dilingkari kain putih yang membalut punggung mereka, maka dukun segera membaca mantra dan menaburkan beras di atas kepala mereka. Tentu ini mengandung makna filosofis tertentu.

“Kehadiran kerabat perempuan dan laki-laki dari jenasah yang mau di-entas itu melambangkan bahwa pihak keluarga harus ikhlas untuk merelakan kepergian arwah mereka dalam menempuh perjalanan di segara wedhi, untuk selanjutnya digodok kesalahan-kesalahannya sementara di kawah Gunung Bromo, kemudian menuju puncak Gunung Semeru guna disucikan sebelum akhirnya mereka mencapai nirwana. Selain itu, melingkarnya perempuan dan laki-laki dalam lingkaran yang dibalut kain putih dan ditaburi beras itu bermakna agar perempuan dan laki-laki selalu rukun dalam menjalani ikatan suci keluarga sehingga Hong Pikulun akan melimpahkan kemakmuran kepada mereka, sepertihalnya ikatan suci antara Rara Anteng dan Joko Seger, panutan kami itu.” (Wawancara, Pak Sumartam, 3 Juli 2006)

Apa yang diutarakan oleh Pak Sumartam semakin menegaskan bahwa prinsip kerjasama dan keseimbangan antara perempuan dan laki-laki Tengger menjadi paugeran (pedoman) yang harus dilaksanakan dalam setiap sendi kehidupan. Kalau prinsip keseimbangan dan kesamaan peran itu bisa diwujudkan maka setiap keluarga Tengger akan memperoleh kesejahteraan sebagai karunia dari Sang Penguasa alam semesta.

Bagian terakhir dari ritual Entas-entas adalah prosesi pembakaran petra (boneka dari rerumputan lambang dari jenasah yang mana dikenakan pakaian kepunyaan almarhum semasa hidup) di pedanyangan desa. Baik laki-laki maupun perempuan yang masih ada ikatan keluarga ikut berpartisipasi dalam prosesi tersebut. Begitu prosesi ini berakhir, maka mereka akan kembali ke balai desa untuk membersihkan dan merampungkan sisa-sisa pekerjaan, mulai dari membersihkan dapur, alat-alat masak, hingga menyapu. Ketika para perempuan yang membantu pelaksanaan ritual tersebut hendak pulang maka tuan rumah dan kerabatnya memberikan bungkusan yang terdiri dari nasi, lauk-pauk, dan jajan sebagai ungkapan terima kasih. Bu Tomo dan kerabat perempuannya menyalami mereka sembari mengucapkan terima kasih. Setelah sampai di rumah, laki-laki dan perempuan Tengger ada yang langsung ke ladang untuk menengok sayur-mayur yang tidak dirawat sehari karena harus membantu di slametan. Tapi kebanyakan mereka memilih untuk beristirahat karena bagaimanapun juga energi mereka telah terkuras dalam slametan yang baru dilaksanakan.

Begitulah, sebuah orkestra kultural yang menyatukan kesamaan antara laki-laki dan perempuan Tengger dalam sebuah ritual tradisi digelar. Perbedaan bentuk peran, tentu bukan menjadi pembeda dan penegas adanya relasi hegemonik, melainkan sebagai sebuah pemahaman atas kebersamaan yang saling mengisi satu sama lain. Memang laki-laki adalah pemimpin, tetapi mereka adalah pemimpin yang membutuhkan partner yang berperan seimbang di dalam keluarga, dan itu adalah istri. Lebih dari itu, ritual bagi perempuan dan laki-laki Tengger telah menjadi sebuah ruang publik untuk terus memperteguh keharmonisan dalam kehidupan keluarga atapun masyarakat demi tercapainya berkah dan karunia agung dari Hong Pikulun.

Simpulan: Bertemunya kepentingan ekonomi dan tradisi dalam peran aktif perempuan Tengger

Berlakunya konsep tanggung jawab dalam keluarga demi terwujudnya walima, seperti dijelaskan di atas, secara langsung telah melahirkan pandangan-pandangan yang berlaku bagi perempuan Tengger tentang bagaimana mereka harus bertindak dalam kehidupan, baik di ranah keluarga (family domain) ataupun ranah sosial (social domain). Pada titik inilah telah terjadi pertemuan antara kepentingan ekonomi dan tanggung jawab tradisi yang dengan ikhlas dijalani oleh perempuan Tengger.

Kewajiban untuk mensejahterakan anggota keluarga, misalnya, menjadikan mereka siap untuk bekerja bersama suami tercinta di ladang. Kesejahteraan secara batin maupun materi jelas menjadi motivasi utama. Bagi perempuan Tengger Wonokerso, di ladanglah mereka bisa mewujudkan tanggung jawab ekonomi keluarga karena bertani sayur-mayur merupakan pekerjaan utama di sini. Tidak ada paksaan (opression) bagi mereka ketika harus berjalan menyusuri pematang terjal di balik selimut kabut menuju ladang yang sudah menanti sentuhan tangan mereka. Mereka, tentu saja, bukan perempuan lemah-gemulai yang hanya bisa berdandan di depan cermin. Bagi perempuan Tengger, sejahterannya keluarga berarti tanggung jawab tradisi sudah terpenuhi dan akan berimplikasi pada hubungan harmonis dengan sesama anggota keluarga, masyarakat ataupun alam serta Sang Pencipta.

Senyum dan tangis anak-anak menyambut kedatangan mereka dari ladang seperti menjadi satu kebahagiaan yang luar biasa di samping kesetiaan sang suami. Tentu saja mereka tidak pernah merasa teralienasi dengan jiwanya sendiri karena semua pekerjaan, baik di rumah dan ladang, dijalani dengan hati gembira, ikhlas, dan penuh dedikasi. Tidak ada protes, tidak ada teriakan, tidak ada perlawanan sepertihalnya yang disuarakan banyak kalangan yang mengatasnamakan aktivis feminis Indonesia dewasa ini. Bagi perempuan Tengger, laku hidup samahalnya dengan laku batin yang diarahkan untuk menemukan keseimbangan dan kedamaian rumah tangga dan masyarakat.

Keterangan

*Versi jurnal artikel ini dimuat dalam Jurnal Humaniora, vol. 20, no 2, 2008. Untuk artikel jurnal bisa diunduh di link ini http://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/931

DAFTAR PUSTAKA

Beauvoir , Simone de. 1974. The Second Sex. New York: Vintage Books.

Budianta, Melani. 2004. “Tragedi yang Menuai Berkah: Munculnya Aktivisme Perempuan dalam Masa Reformasi”, dalam Ariel Haryanto dan Sumit K. Mandal (et.als). Menggugar Otoriterisme di Asia Tenggara, Perbandingan dan Pertautan antara Indonesia dan Malaysia. Jakarta: Kepustakaan Polpuler Gramedia.

Foreman, Ann. 1977. Feminity as Alienation Women and the Family in Marxism and Psychoanalysis. London: Pluto Press.

Hole, Judith and Ellen Levine. 1971. Rebirth Feminism. New York: Quadrangle Books.

Mary Daly. 1973. Beyond God the Father: Toward a Philosophy of Women’s Liberation. Boston: Ebacon Press.

Rubin, Gayle.1975. “The Traffic in Women”, dalam Rayne Relter (et.al).Toward an Anthropology of Women.New York: Monthly Review Press.[1] Untuk memperdalam masalah ini baca Hester Eisentein. 1983. Contemporary Feminist Thought. Boston: G.K.Hall. French, Marylin. 1985. Beyond Power: On Women, Men, and Morals. New York: Summits Books.

Spradley, James P. 1997. Metode Etnografi. Terj. Indonesia oleh Mizbah Zulfa Elizabeth. Yogyakarta: Penerbit Tiara wacana

Sutarto, Ayu. “Perempuan Tengger: Sosok yang Setia kepada Tradisi”, dalam majalah Bende Taman Budaya Provinsi Jawa Timur , 1, 2003.

Sutarto, Ayu. 2001. Di Balik Mitos Gunung Bromo. Surabaya: Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur.hlm.66.

Tong, Rosemarie Putnam.1998.Feminist Thought.(penterjemah Aquarini Priyatna Prabasmoro).Yogyakarta: Jalasutra.

Share This:

About Ikwan Setiawan 126 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*