Identitas Religi Tengger di Masa Kerajaan dan Kolonial

Dalam banyak kajian yang telah dilakukan oleh para akademisi dan peneliti, masyarakat dan budaya Tengger diposisikan sebagai contoh ideal pemertahanan budaya lokal warisan leluhur di tengah-tengah perubahan peradaban yang berlangsung secara massif sebagai akibat pembangunan nasional dan globalisasi. Meskipun setiap hari mereka bersinggungan dengan wisatawan mancanegara dan domestik yang memiliki budaya berbeda, sebagian besar masyarakat Tengger yang beragama Hindu masih meyakini dan menjalankan praktik religi warisan nenek moyang. Memang mereka sudah terbiasa dengan produk-produk budaya modern dalam kerja agraris, benda konsumsi, pendidikan dan kehidupan sehari-hari, wong Tengger belum mau meninggalkan sepenuhnya adat-istiadat. Semua kenyataan itu tentu saja bukan sekedar berasal dari kepatuhan mereka terhadap religi Tengger, tetapi hasil konstruksi dan aktivitas-aktivitas praksis yang dilakukan oleh para tokoh adat, tokoh pemerintahan desa, maupun warga kebanyakan. Dan, dalam prosesnya, identitas Tengger bukanlah sesuatu yang bersifat tetap sepanjang masa, tetapi sudah berdialektika dengan bermacam fakta perubahan dan permasalahan yang menyertainya.

Menjalani hidup sebagai wong Tengger bukanlah persoalan mudah. Dari dongeng asal-muasal, kehadiran kolonial, rezim pascakolonial, hingga rezim pasca Reformasi, wong Tengger harus mengalami banyak permasalahan eksistensial, khususnya terkait bagaimana menegaskan identitas komunal mereka. Masing-masing zaman menghadirkan tantangan dan ancaman yang mengharuskan komunitas ini harus terus bersiasat dan bernegosiasi untuk sekedar mempertahankan eksistensi mereka. Keyakinan mereka terhadap kekuasaan adikodrati yang bersemayam di Gunung Bromo, Gunung Semeru, dan Nirwana tidaklah cukup untuk meyakinkan kekuatan-kekuatan politis dan religi di luar komunitas mereka untuk sekedar membiarkan wong Tengger hidup dengan damai. Hingar-bingar pembangunan nasional di zaman kemerdekaan juga harus ‘didamaikan’ dengan kehendak untuk terus menggelar ritual warisan leluhur. Semua faktor eksternal, tak pelak lagi, menjadikan komunitas Tengger yang hidup di Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang terus memaknai subjektivitas mereka agar tidak sepenuhnya tergerus oleh kekuatan luar dan perubahan zaman.

Identitas Religi dari Zaman Kerajaan hingga Kolonial

Terlepas benar atau tidaknya, cerita perjuangan Rara Anteng dan Joko Seger sebagai moyang masyarakat Tengger merupakan konstruksi mitologis yang masih diceritakan dan diyakini hingga saat ini. Keteguhan hati dan kekuatan fisik kedua insan tersebut di alam mitos menjadi inspirasi bagi masyarakat Tengger untuk memperjuangkan hidup di Negeri Di Atas Awan, meminjam judul lagu Katon Bagaskara. Cerita Rara Anteng dan Joko Seger sebagai asal-muasal wong Tengger memang bukan kenyataan historis. Namun, dari cerita lisan—mengikuti pendapat Propp (1997)—kita bisa mendapatkan gambaran bagaimana sebuah komunitas mengkomunikasikan kedirian dan kebudayaan mereka dalam menghadapi kekuatan adikodrati yang tidak bisa diraba, tetapi bisa dirasakan kehadirannya. Melalui cerita lisan pula, sebuah komunitas mengkonstruksi nilai dan keyakinan ideal dalam menghadapi permasalahan-permasalahan geografis, alam, maupun sosial. Representasi perjuangan dan negosiasi untuk membentuk sebuah komunitas di lereng Bromo dalam cerita Rara Anteng dan Joko Seger merupakan usaha pendahulu Tengger untuk mengkomunikasikan kepada generasi penerus tentang identitas komunal mereka yang mempertemukan keharusan untuk meyakini kekuatan adikodrati dan perjuangan manusia.

Rara Anteng dan Joko Seger dalam cerita lisan ditafsir sebagai perpaduan ideal antara keturunan ningrat keraton dan keturunan pandita yang diberi tugas khusus untuk mendiami wilayah Bromo. Namun, Subaharianto dan Setiawan (2012) memiliki pendapat lain terkait tafsri terhadap kedua tokoh mitologis tersebut bedasarkan sikap hidup dan kekuatan religi masyarakat Tengger. Menurut mereka Rara Anteng merupakan representasi keteguhan dan kekuatan batiniah/spiritual dari manusia awal yang hidup di lereng Gunung Bromo dalam mengabdi kepada kekuatan Dewata serta memperjuangan cita-cita untuk membangun sebuah komunitas di tengah-tengah sulitnya hidup. Sementara, Jaka Seger adalah representasi kekuatan fisik yang harus dimiliki oleh manusia awal agar bisa survive di tengah-tengah dinginnya hawa gunung, bencana alam, dan sulitnya medan di wilayah Bromo, baik untuk tempat tinggal maupun lahan pertanian.

Keinginan untuk bisa membangun sebuah komunitas masa depan tersebut diimplementasikan dalam pertapaan kedua anak manusia tersebut di kawasan segara wedhi, lautan pasir Bromo, ketika mereka belum juga dikaruniai anak. Pertapaan merupakan wujud bhakti dan doa manusia dalam keheningan mutlak di tengah-tengah kesulitan, ancaman, dan godaan yang dihadirkan alam Bromo. Keikutsertaan Rara Anteng untuk bertapa merupakan simbol betapa kekuatan batin harus dipenuhi dan diperjuangkan sehingga bisa menyatu dalam kekuatan fisik dalam menghadapi semua tantangan. Kemenyatuan antara kekuatan spiritual dan kesungguhan berusaha itulah yang menjadikan Hong Pikulun, Tuhan Penguasa Semesta, mengabulkan doa mereka berdua dengan perjanjian bahwa anak terakhir akan dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.
Ketika kedua insan tersebut dikaruniai 25 anak, mereka masih harus berjuang untuk melawan kehendak Dewata yang ingin mengambil anak terakhir mereka, Raden Kusumo (Sutarto, 2002). Di tengah kemarahan Bromo—pijar lahar serta semburan debu karena meletus, Rara Anteng dan Joko Seger berusaha melindungi 25 anak mereka. Namun, sekuat apapun usaha Rara Anteng dan Jaka Seger untuk mempertahankan Kusumo, mereka tidak bisa mengelak dari perjanjian suci dengan Dewata. Kusumo akhirnya menceburkan dirinya ke kawah Bromo sebagai bentuk pengorbanan agar keluarganya selamat dari amukan bencana alam. Artinya, sejak awal kelahirannya, komunitas Tengger sudah harus bernegosiasi dengan kekuatan adikodrati yang mengendalikan kehidupan manusia. Negosiasi dan siasat terhadap kekuatan adikodrati itulah yang melahirkan bermacam ritual dalam kehidupan keluarga maupun komunal masyarakat Tengger, seperti Kasada, Unan-unan, Entas-entas, dan lain-lain.

Kalau kita dengan pendapat yang berkembang di kalangan akademis bawah para penghuni awal kawasan Bromo yang kemudian dikenal dengan sebutan Tengger ini adalah para pandita yang diberi tugas khusus oleh pihak Kerajaan—sejak zaman Mataram Jawa Timur di bawah Mpu Sindok, dan berlanjut hingga zaman Singasari dan Majapahit, maka cerita lisan tentang Rara Anteng dan Joko Seger bisa dikatakan memiliki kesamaan tematik dan wacana. Sejak zaman Mpu Sindok, wilayah ini merupakan kawasan swatantra yang dihuni oleh hulun hyang, para pandita yang mengabdikan hidupnya untuk memuja Dewata, khususnya Sang Hyang Swayambhuwa (Dewa Brahma). Peran ini terus dilaksanakan sampai zaman Singasari dan Majapahit sehingga komunitas yang tinggal di daerah suci/keramat (hila-hila) ini dibebaskan dari pajak, kawasan perdikan, karena status khususnya itu. Para pandita itu tentu harus bersiasat dan berjuang hidup di tengah-tengah liarnya alam Bromo, sehingga mereka bisa menjalankan tugas suci tersebut. Tidak mengherankan kalau kemudian cerita Rara Anteng dan Jaka Seger dihadirkan sebagai penggambaran sulitnya perjuangan untuk menjalankan tugas agama dari kerajaan. Cerita itu pula yang menjadi dasar bagi wong Tengger untuk menemukan identitas awal mereka serta membangun ikatan sak-keturunan (satu keturunan) yang mengikat mereka dalam konsep hubungan antarmanusia tanpa menimbang status ekonomi, sosial, dan religi.

Keyakinan sebagai keturunan Rara Anteng dan Jaka Seger merupakan ikatan pertama yang mempertemukan wong Tengger dari wilayah Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang dalam konsep sak keturunan, satu keturunan. Artinya, mereka membangun kesadaran eksistensial terkait asal-usul yang sama meskipun berada di wilayah geografis yang berbeda. Gunung Bromo menjadi pengikat geo-kultural yang mempertemukan orientasi religi Tengger sejak zaman Rara Anteng dan Joko Seger. Konsep sak keturunan juga mengembangkan ajaran solidaritas komunal sekaligus menjadi pendorong komunitas Tengger untuk menjalani ritual-ritual, baik yang bersifat privat/keluarga maupun komunal, yang serupa, meskipun terdapat beberapa ritual dan keyakinan yang sedikit berbeda satu sama lain. Setiap tahun, misalnya, mereka menggelar Yadnya Kasada sebagai bentuk penghormatan terhadap pengorbanan Raden Kusumo dan wujud pengorbanan mereka terhadap kekuatan adikodrati di kawah Bromo. Menjaga hubungan harmonis dengan Sang Pencipta, merupakan keyakinan sekaligus identitas religi masyarakat Tengger. Semua mantra ritual dalam tradisi Tengger, pertama-tama, ditujukan untuk mendapatkan perlindungan dari Hong Pikulun, Sang Maha Kuasa, yang mengendalikan kehidupan dan kehendak manusia di muka bumi.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Hindoe_priester_op_Tosari_Oost-Java_TMnr_60020316

Gambar 1. Seorang dhukun Tengger memimpin ritual keluarga di Tosari Pasuruan (Koleksi online Tropenmuseum Belanda)

Keyakinan religi kedua adalah membina hubungan harmonis dengan sesama makluk Tuhan di muka bumi. Makluk Tuhan ini adalah makluk hidup yang diciptakan Sang Pencipta untuk melengkapi kehidupan di muka bumi, seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, makluk ghaib, dan manusia. Keyakinan inilah yang menjadikan manusia Tengger memperlakukan makhluk secara terhormat. Tidak hanya hewan dan tumbuhan, bahkan makhluk ghaib pun mereka hormati. Sampai-sampai para penunggu pedhanyangan di masing-masing desa diberikan sesaji dalam ritual-ritual keluarga maupun komunal. Sikap menghormati sesama manusia juga diwujudkan dalam kearifan-kearifan lokal Tengger yang mengutamakan keharmonisan hubungan sosial tanpa kelas; bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama. Kenyataan sosial ini pula yang menjadikan mereka tidak menerapkan sistem kasta, berbeda dengan ajaran Hindu dari India yang sangat ketat dalam menerapkan sistem pembedaan kelas sosial tersebut.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Bruiloftspaar_en_genodigden_Tengger_Oost-Java_TMnr_60020313

Gambar 2. Sepasang pengantin Tengger dan warga undangan di masa kolonial. (Koleksi online Tropenmuseum Belanda)

Membina hubungan harmonis dengan alam menjadi keyakinan religi ketiga. Tidak mengherankan kalau wong Tengger selalu melakukan ritual Unan-unan, semacam bersih desa agar alam tempat mereka tinggal memberikan rezeki dan terhindar dari bencana. Dalam ritual ini mereka selalu mendoakan kebaikan dari panca mahabuta, yakni bumi, banyu, geni, angin, dan angkasa. Termasuk juga Kasada yang menunjukan penghormatan mereka terhadap Gunung Bromo yang diyakini menjadi tempat bersemayamnya para dewata yang berasal dari nenek moyang mereka. Apalagi Bromo juga bisa memberikan kemurkaan—meletus—sekaligus kesejahteraan—abu vulkanik pasca letusan yang menyuburkan. Terhadap pohon cemara besar yang menjadi tempat pedhanyangan desa, mereka juga tidak mau merusak karena di situlah diyakini bersemayam arwah leluhur yang ikut menjaga dan mengawasi kehidupan sehari-hari wong Tengger.

kasada masa kolonial 1

Gambar 3. Warga Tengger berkumpul di bawah Gunung Bathok untuk menuju Gunung Bromo dalam Ritual Kasada di zaman kolonial Belanda. (Koleksi online Tropenmuseum Belanda)

Ketiga keyakinan religi tersebut, apabila ditelisik lagi merupakan karakteristik dari ajaran Syiwa dan Sugata atau Syiwa-Sugata yang diyakini oleh para dhukun pandita sebagai agama awal wong Tengger. Perpaduan antara ajaran Hindu dan Budha ini merupakan ciri khas dari zaman Singasari sampai Majapahit. Dalam setiap mantra ritual, perpaduan antara ajaran Hindu dan Budha selalu ada dan dibacakan para dhukun pandita. Artinya, sejak awal, masyarakat Tengger memiliki kecerdasan untuk membaca dan mensinkretiskan dua agama besar, Hindu dan Budha, untuk dijadikan identitas religi mereka dalam kehidupan. Itulah mengapa, sampai sebelum Orde Baru, warga Tengger tidak pernah mengidentifikasi diri mereka sebagai pemeluk Hindu ataupun Budha, tetapi mereka memiliki karakteristik religi: memberi penghormatan kepada para Dewata dan memuliahkan Gunung Bromo.

Keyakinan terhadap nilai-nilai religi tersebut menjadikan manusia dan masyarakat Tengger figur-figur istimewa. Catatan yang dimiliki Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java menegaskan bahwa wong Tengger menjalani kehidupan mereka dengan prinsip-prinsip yang mengedepankan keharmonisan, seperti jujur, rajin, tertib dan teratur, damai, serta riang-gembira. Mereka juga tidak mengenal candu dan judi. Selain itu, wong Tengger tidak menyukai perzinahan, perselingkuhan, pencurian, dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya. Orang boleh saja berpendapat bahwa keteguhan prinsip tersebut tidak bisa dipisahkan dari posisi geografis mereka yang hidup di wilayah pegunungan sehingga jarang berinteraksi dengan masyarakat luar. Menurut kami, kualitas pribadi yang dihasilkan dari keturunan pandita dengan beragam habitus religi-lah yang menjadikan manusia Tengger pribadi-pribadi unggul yang taat dalam beribadah dan kuat dalam bekerja.

Perihal kesakralan dan pemujaan terhadap Gunung Bromo diyakini sudah berlangsung sejak zaman Mataram Mataram Jawa Timur. Posisi sakral tersebut diperkuat di zaman Singasari dan Majapahit, sehingga para pandhita, sebagaimana kami jelaskan secara singkat sebelumnya, mendapatkan tugas khusus untuk menjaga dan menghormati Bromo. Kabar tentang Bromo dan komunitas Tengger rupa-rupanya tidak pernah pudar, meskipun Majapahit sudah hancur. Di masa kolonial Bromo dan keunikan religi masyarakat Tengger menjadi objek foto para fotografer dan pelancong serta objek kajian para peneliti, selain menjadi tempat wisata. Bahkan, Raja Siam (Thailand), Koning Cholalongkorn, pernah berziarah ke Bromo pada masa kolonial Belanda. Kenyataan tersebut mempertegas bahwa selain memiliki keunikan alam, kawasan Tengger juga memiliki daya spiritual yang sudah tersiar ke mana-mana.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Ruiters_in_de_Zandzee_tijdens_een_bezoek_van_Koning_Chulalongkorn_van_Siam_TMnr_60027259

Gambar 4. Rombongan Raja Siam Koning Cholalongkorn ketika berziarah ke Gunung Bromo di masa kolonial Belanda. (Foto koleksi online Tropenmuseum Belanda)

Tentu saja, kedatangan Raja Siam ke Gunung Bromo bukan sekedar untuk berwisata. Bisa diduga, ia sebagai raja mendapatkan informasi penting terkait gunung ini dalam kosmologi Majapahit. Sebagaimana kita ketahui, meskipun Siam tidak pernah dijajah Majapahit, tetapi kerajaan ini juga menjalin komunikasi, sehingga sangat mungkin terdapat literatur atau informasi tentang kawasan Bromo dan masyarakat Tengger yang sampai ke kalangan istana. Terlepas dari benar atau salahnya dugaan tersebut, Raja Koning Cholalongkorn mungkin memiliki perhatian atau tujuan khusus ketika berziarah ke Bromo. Dan, pastinya, itu berkaitan dengan keyakinan religinya sebagai pemeluk Budha.

Selain sebagai objek foto dan penelitian, kawasan Bromo sejak zaman kolonial telah menjadi obyek wisata yang digemari para wisatawan Eropa, baik lelaki maupun perempuan. Memang secara administratif Belanda menjajah kawasan ini, tetapi para pegawai kolonial juga ingin memanjakan mata, pikiran, dan batin mereka dengan aktivitas melancong ke kawasan Bromo yang berhawa dingin, meskipun medan yang harus mereka lalui sangat sulit. Eksotisme Bromo dan masyarakat Tengger menjadi sarana untuk melakukan relaksasi dari aktivitas perkebunan atau administratif di kota. Selain itu, sangat mungkin, mereka juga berusaha mendapatkan wilayah-wilayah perkebunan baru sembari melakukan rekreasi. Karena sulitnya medan menuju kawasan Bromo, para pelancong dan pekebun Eropa biasanya menggunakan jasa tandu (draagstoel) yang dipikul empat penduduk pribumi. Sesampai di kaki kawasan segara wedhi biasanya mereka akan menyewa jasa ojek kuda untuk menuju tangga Bromo. Dengan demikian, sejak era kolonial, masyarakat Tengger sudah terbiasa dengan aktivitas pariwisata yang dilakukan oleh warga Eropa.

Kedatangan manusia-manusia Eropa, pada akhirnya, memang menjadikan kehidupan warga Tengger berubah karena sebagian besar kawasan subur di lereng bawah Bromo yang yang semula mereka diami dikonversi menjadi area perkebunan kopi, kakao, dan cengkeh. Pembukaan lahan ini diikuti pula dengan migrasi yang dilakukan oleh pihak VOC dengan mendatangkan para pekerja dari Madura dan orang-orang Jawa yang mayoritas beragam Islam. Sebagian mereka mendiami lereng bawah bagian Barat, Timur, Selatan, dan Utara. Kedatangan para pekerja perkebunan ini sedikit banyak menghadirkan permasalahan sosio-kultural bagi masyarakat Tengger karena keyakinan religi yang berbeda. Sebagian besar wong Tengger memilih untuk pindah ke lereng atas dan sebagian kecil bertahan dengan melakukan adaptasi terhadap masyarakat dan budaya baru. Kawasan Nongkojajar di Singosari Malang perlahan-lahan berubah menjadi komunitas Jawa dan sebagian warga Tengger yang bertahan akhirnya beradaptasi dengan budaya Jawa. Sementara, kawasan Puspo di Pasuruan dan Sukapura di Probolinggo dihuni mayoritas Madura-Muslim. Demikian pula di kawasan Senduro Lumajang yang mayoritas penduduknya adalah Madura dan Jawa.

Pilihan sebagian besar wong Tengger untuk menyusul saudara-saudara sak-keturunan mereka yang menetap di lereng atas Bromo merupakan pilihan strategis dalam menghadapi pengaruh masyarakat dan budaya baru yang berbeda dengan budaya mereka. Kita bisa memahami bahwa wong Tengger pra-kolonial dan pra-kedatangan buruh Madura dan Jawa adalah komunitas yang sudah memiliki keyakinan religi yang sangat mapan dan kuat serta sama sekali berbeda dengan religi yang dibawa para pendatang. Keyakinan terhadap posisi mereka sebagai penjaga hila-hila yang harus menjalankan peribadatan tertentu menjadikan mereka merasa takut terkena kutukan, sebagaimana dititahkan para raja, sejak Singasari sampai dengan Majapahit. Kekuatan terhadap keyakinan ini menjadi salah satu faktor untuk pindah ke lereng atas. Dengan berpindah ke sana, mereka tidak akan terusik atau dijadikan sasaran konversi oleh para pendatang maupun warga Eropa, sehingga masih bisa menjalankan peribadatan sesuai dengan ajaran leluhur. Selain itu, sense of solidarity dan sense of belonging mereka akan berubah ketika bertahan di lereng bawah dengan membaur bersama warga pendatang karena akan memunculkan sistem dan praktik sosial yang berbeda. Dhukun pandita atau Sang Makedur, misalnya, akan kehilangan posisi religi-nya karena dalam agama Islam tidak mengenal tokoh agama ini, tetapi kyai. Ritual-ritual dan mantra-mantra juga akan mengalami perubahan. Maka, pilihan untuk pindah merupakan pilihan eksistensial untuk terus mengembangkan dan memperkuat ikatan solidaritas komunal berbasis identitas religi dan budaya warisan leluhur Tengger. Inilah babak awal politik identitas yang mereka mainkan di masa kolonial.

Keterangan

*Penelitian bersama: Ikwan Setiawan – Albert Tallapessy – Andang Subaharianto –

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 148 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*