Jagongan Padhang (M)Bulan: Meretas-kembali keakraban dan kreativitas kultural

Tentu, kita yang terlahir pada era 80-an–apalagi yang terlahir pada era 70-an, 60-an, dan lebih-lebih sebelummya–masih ingat persis bagaimana anak-anak memhami dan menikmati padhang (m)bulan, terang bulan pada setiap bulan. Selalu ada permainan–dari jumpritan, beteng-betengan, pal-palan, gobak sodor, dll–yang membuat anak-anak berkumpul di tanah lapang atau halaman luas. Ada kegembiraan, ada canda tawa, ada kebersamaan, ada kompetisi; semua menyatu dalam terang cahaya bulan, menjelang atau ketika purnama dan beberapa hari sesudahnya.

1448005625649

Sejatinya, itulah ekspresi sederhana kekaguman atau keterpesonaan manusia terhadap kedahsyatan alam. Ya, manusia yang belum larut dalam gerak cepat modernitas dan kapitalisme; manusia yang masih mengusung prinsip kebersamaan dalam kesederhanaan; manusia-manusia dusun/desa yang serba terbatas akses terhadap teknologi dan budaya metropolitan di era 80-an. Dalam kondisi pesona dunia yang masih kuat itulah, prinsip-prinsip solidatiras dan komunalisme bersemi, sekaligus menjadi penanda kultural yang membedakan manusia dusun/desa dengan manusia kota.

Namun, ketika desa menjadi ajang bagi perluasan kapitalisme, ketika manusia-manusia desa menjadi semakin biasa dengan metropolitanisme, pesona dunia itu perlahan-lahan mulai ditinggalkan. Semakin sedikit anak-anak bermain di kala purnama. Semakin sedikit bapak-bapak dan ibu-ibu yang menggelar tikar di halaman. Mereka semakin biasa dengan sinetron, akademi-akademian, serta semakin biasa melupakan bahwa bulan yang bersinar; meskipun ia kini benar-benar sendirian.

Tentu, MATATIMOER tidak ingin beromantisme ketika menggelar acara JAGONGAN PADHANG (M)BULAN Edisi Perdana pada 27 November 2015 bekerjasama dengan Dewan Kesenian Kampus Fak. Sastra UNEJ (DKK). Kami sangat menyadari bahwa manusia-manusia kontemporer sudah semakin biasa dengan teknologi informasi, gadget. Ketimbang bermain petak-umpet yang menyita waktu, akan lebih menarik bermain game online. Apa yang kami usung adalah spiritualitas padhang (m)bulan, dalam artian kami hanya ingin mengajak mahasiswa, dosen, staf, atau masyarakat luas untuk sekedar berkumpul; sebuah jalan untuk memupuk keakraban lintas-profesi, lintas-keinginan.

Di tengah-tengah habitusiasi teknologi percepatan, kita ingin mengendurkan sejenak syaraf-syaraf untuk menikmati puisi sambil nyruput kopi dan ngemil gorengan. Begitu sederhana, begitu santai. Selain itu, kami juga berharap bahwa dari acara ini bisa dipupuk dan disebarluaskan pentingnya creative mind dalam menghasilkan karya sastra, musikal, tari, maupun drama.

 

Maka, pembacaan puisi karya Irana Astutiningsih dalam buku MONOLOG GERIMIS dan karya Hat Pujiati dalam buku SERIBU SATU MALAM, adalah pancingan untuk menumbuhkan kreativitas para jamaah Jagongan, baik yang berasal dari mahasiswa, dosen, staf, maupun masyarakat umum. Apa yang menarik adalah bahwa banyak mahasiswa umum–yang tidak tergabung dalam komunitas seni–ikut membaca puisi kedua dosen Sastra Inggris tersebut. Beberapa penulis muda juga tertarik agar karya mereka dibacakan dan diapresiasi dalam Jagongan edisi berikutnya. Tentu MATATIMOER sangat bergembira dengan respons positif tersebut.

Jadi, meskipun acara ini tidak dikemas secara wah dan dipublikasikan secara luas, paling tidak, ia bisa menjadi medium transformasi bagi semangat kebersamaan, keakraban, dan kreativitas yang harus terus kita bawa dalam kehidupan modern. Karena hanya dengan semangat itulah, kita tetap bisa bertarung dalam kerasnya hidup, tanpa melupakan bahwa kita punya tanggung jawab sosial untuk saling menyapa, saling mengapresiasi, saling berbagi ide dan gagasan. Akhirnya, mari terus kita ber-Jagongan secara sederhana, santai, akrab, dan kreatif.

SALAM PURNAMA

Share This:

About Ikwan Setiawan 160 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

3 Comments

  1. rindu dengan suasana ini.. semoga acara padhang (m)bulan bisa tetap lestari.. terimakasih untuk motivasinya pak Ikwan..

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*