Dari Mak Yah hingga Juragan Dhemit: Membawa masalah rakyat jelata ke panggung ludruk Karya Budaya

Sudah menjadi kewajaran kiranya kalau pementasan ludruk selama ini banyak mengangkat cerita-cerita tentang perjuangan rakyat jelata menghadapi kolonial. Sebagaimana kami sampaikan pada penjelasan sebelumnya, bahwa populeritas lakon-lakon tersebut tidak terlepas dari hegemoni aparatus negara yang dikuasai oleh aparat militer pada masa Orde Baru. Rupa-rupanya, endapan-endapan ketertarikan terhadap para superhero lokal tersebut masih sulit untuk dilepaskan dari masyarakat, khususnya generasi tua yang dulu menonton ludruk di masa Orde Baru. Maka, ketika di masa Reformasi ini mereka berkesempatan nanggap ludruk, yang ada di benak mereka adalah para superhero lokal. Hegemoni lakon tersebut mematikan tradisi menciptakan lakon yang berasal dari kehidupan dan permasalahan sehari-hari masyarakat kecil. Akibatnya, ludruk menjadi jauh dari realitas sosial keseharian.

lawakan-slamet-memet-1

Menyikapi persoalan, Ludruk Karya Budaya Mojokerto (selanjutnya disingkat LKB) pimpinan Cak Edy Karya, berusaha mementaskan lakon-lakon baru yang mengangkat permasalahan sosial, ekonomi, dan kultural dalam masyarakat. Lakon-lakon tersebut bisa mengadopsi dari fiksi yang ditulis oleh penulis di luar kelompok ataupun bisa dari karya para anggota, termasuk Cak Edy Karya. Strategi ini dimaksudkan untuk tidak memperlebar jarak antara lakon dalam pertunjukan ludruk dengan komunitas pendukungnya. Salah satu lakon garapan yang pernah diangkat dan mendapatkan apresiasi luas adalah Warisan Mak Yah karya Hardjono WS, budayawan Jawa Timur yang tinggal di Jatih Dukuh Gondang Mojokerto (Wawancara, 12 November 2013). Lakon ini pernah dipentaskan dalam ajang Festival Ludruk se-Jawa Timur 2004, di Gedung Cak Durasim, Surabaya. Berikut ini sinopsis cerita Warisan Mak Yah.

Mak Yah adalah anak seorang metrous (angkatan laut Belanda) dengan seorang pelacur murahan asal Kupang Surabaya. Ayahnya sudah kembali ke Belanda, sedang ibunya mati muda. Prkatis, Mak Yah kecil diasuh teman-teman ibunya yang juga berprofesi sebagai pelacur. Hidup di tengah-tengah pelacur membuat Mak Yah desawa juga mengikuti profesi para pengasuhnya. Adanya darah blesteran Jawa-Belanda membuat wajah dan postur Mak Yah lebih istimewa dibandingkan pelacur lainnya. Mak Yah jadi primadona. Nah, dunia berputar. Memasuki usia tua, ia harus tinggal sendiri di kampung yang sepi. Dia sehari-hari bekerja sebagai pembuat cemara. Tubuhnya sudah digerogoti sakit sejak menjadi pelacur. Ia pun menjadi korban olok-olokan warga sekitar. Tak ada yang mau menjenguk apalagi berempati kepada wanita tua ini. Namun, apa yang terjadi? Di akhir hayatnya, Mak Yah berwasiat kepada perangkat desa yang menunggui detik-detik kematiannya agar rumah yang dan tanah yang dimilikinya dijual. Hasilnya, digunakan untuk memperbaiki gedung taman kanak-kanak milik warga kampung yang roboh. Sebagian lagi untuk membeli kereta jenazah. “Biarkan aku orang mati terakhir yang dipikul orang kampung. Setelah aku, semua sudah naik kereta,” katanya terus menutup mata. (Dikutip dari, “Persiapan Ludruk Karya Budaya Ikuti Festival Ludruk Jatim 2004, Siapkan Lakon Warisan Mak Yah”. Dalam Radar Mojokerto, 4 Oktober 2004)

Sinopsis lakon di atas secara gamblang menegaskan kepekaan para seniman LKB terhadap realitas dan kompleksitas jagat ke-pelacur-an yang biasa ditemui dalam kehidupan masyarakat. Selain menyuguhkan lakon baru, penggarapan di lakon Warisan Mak Yah menegaskan kritik terhadap stereotipisasi yang dilakukan masyarakat terhadap kedirian dan kehidupan seorang pelacur, tanpa mau tahu penyebab dan kondisi sosial yang menyebabkan seorang perempuan menjadi pelacur. Stereotipisasi yang menjurus pada stigmatisasi perempuan pelacur sebagai “penyakit masyarakat” yang harus diasingkan ataupun dijauhi hanya menyebabkan proses peliyanan individu yang punya hak untuk hidup dan bersosialisasi dalam masyarakat. Sebagai titik puncak kritik tersebut, lakon ini memosisikan Mak Yah yang diliyankan menjelma sebagai individu berhati-nurani dan berpikiran visioner, melebihi warga yang mengolok-oloknya. Dengan sukarelah ia meminta perangkat untuk menjual rumah dan tanahnya. Hasil penjualannya diminta untuk digunakan membangun gedung taman kanak-kanak dan membeli kereta jenasah; dua kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan aspek kemajuan dan akhirat. Dengan kata lain, melalui lakon ini, para seniman LKB ingin menegaskan bahwa “di dalam yang hitam masih ada yang putih”; di balik sejarah kepelacuran seorang perempuan, ia masih menyimpan sebuah niatan luhur yang memikirkan kepentingan komunal masyarakat.

Model lakon seperti Mak Yah merupakan bentuk dekonstruksi dari makna dan wacana yang sudah mapan dan dianggap sebagai kebenaran yang bersifat stigmatik. Oposisi biner antara “yang baik” dan “yang buruk”, “yang bermoral” dan “yang tidak bermoral”, serta “yang mulia” dan “yang hina” dilampaui demi menemukan pemahaman baru yang bisa digunakan sebagai pijakan untuk memosisikan individu atau kelompok subordinat dan liyan dalam sistem dan struktur sosial berbasis kode-kode moralitas yang dikonstruksi secara dogmatis. Sebenarnya, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat bawah, persoalan moralitas tidaklah diposisikan secara hitam-putih. Mereka yang sudah terbiasa dengan kompleksitas dan dinamika permasalahan tidak biasa men-judge seorang individu atau kelompok sebagai ‘pendosa’ yang layak dikucilkan dan diolok-olok. Mereka lebih lentur dalam memahami persoalan moralitas karena kekakuan hanya memunculkan “perasaan paling benar” yang mengarah kepada fanatisme akut. Rumus yang biasanya dipercaya oleh masyarakat adalah bahwa asalkan individu yang oleh kacamata penjaga gawang moral dan agama tidak menyakiti hati komunal atau melanggar kesepakatan sosial, biasanya masyarakat masih bisa menerimanya.

Perubahan terjadi ketika dakwah agama dijalankan secara massif di mana moralitas hitam-putih menjadi rezim kebenaran yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Akibatnya, sebagian masyarakat kurang bisa mentolerir pekerjaan dan tindakan yang dianggap menyimpang dari kebenaran moral. Melalui lakon Mak Yah, LKB, dengan demikian, melakukan ikhtiar tematik untuk memproduksi wacana tanding atau wacana dekonstruktif yang bisa memperkuat berseminya nilai-nilai toleran ketika rezim agama dan rezim negara tidak bisa memberikan perlindungan eksistensi terhadap seorang individu atau kelompok yang secara sosial dan kultural ‘tidak berhak berbicara’.

Lakon lain yang pernah digarap oleh LKB di beberapa tempat pertunjukan adalah Juragan Dhemit. Lakon ini menceritakan nasib tragis para pembantu rumah tangga (PRT), baik di dalam negeri maupun luar negeri. Karena lemahnya posisi tawar PRT, mereka seringkali mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari para juragan, sebagaimana banyak diberitakan oleh media. Bahkan, kita sering mendengar pula cerita PRT yang diperkosa oleh juragan laki-lakinya, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Lakon Juragan Dhemit mengangkat kisah seorang PRT yang diperkosa oleh juragannya hingga hamil dan melahirkan anak.

Saodah pulang kampung dengan pernampilan aneh. Orang tuanya mendapati Saodah lebih tertutup. Tiga tahuan sebelumnya, ia biasa mengirim uang dari hasil bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Tuan Brojo Utoyo. Tidak butuh waktu lama, bapaknya sadar apa yang terjadi pada Saodah. Ia pulang dengan mengandung jabang bayi. Sebelum Saodah pulang kampung, dua kawannya, Supali dan Trubus, sudah berusaha membantunya dengan mendesak juragan Broto Utoyo mengakui janin di kandungan Saodah sebagai anak juragan. Lantaran terdesak, si juragan berjanji menikahi Saodah. Namun, janji tinggal janji. Hingga anak Saodah menjadi pemuda, Brojo Utoyo tidak pernah memenuhi janjinya. Juragan apa yang pantas bagi kelakuan semacam itu? Di atas panggung ludruk di Taman Krida Budaya Jawa Timur [TKBJ] Malang…para pemain menerikkan “Juragan Dhemit”. Sebutan itu bersama-sama diteriakkan bersamaan dengan layar panggung menutup panggung. Judul lakon itu sekaligus kunci yang mengikat pertunjukan hingga rampung. (Dikutip dari, “Saodah, Nasibmu Mirip Nasibku”. Dalam Kompas Jawa Timur, 18 Maret 2006)

Dari laporan Kompas, lakon tersebut mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari penonton, warga Malang. Bahkan, penonton yang berasal dari kelas menengah ke bawah larut dan seperti menemukan subjektivitas mereka melalui lakon tersebut. Kondisi tersebut menandakan bahwa para penonton sangat apresiatif ketika menyaksikan lakon ludruk yang sangat dekat dengan kehidupan nyata dan permasalahan yang mereka hadapi. Artinya, lakon-lakon bertema pertentangan kelas, antara si kaya dan si miskin, menjadi sebuah letupan ekspresif yang bisa membangkitkan kesadaran para penonton, meskipun tidak berarti bisa membantu mereka menyelesaikan permasalahan tersebut. Apalagi dalam berita sehari-hari di media, mereka seringkali mendengar, membaca, dan melihat kasus serupa.

Dalam pandangan Henricus Supriyanto, peneliti ludruk, lakon tersebut menegaskan posisi ludruk sebagai ekspresi aspirasi budaya partisipannya (penonton ludruk) yang sesungguhnya tidak beranjak dari situasi pertunjukan ludruk pada masa lalu. Pendapat Henri ini menunjukkan bahwa sejak awal kelahirannya, ludruk memang sudah menasbihkan diri sebagai kesenian yang berasal dan diperuntukkan untuk rakyat dari kelas menengah ke bawah; masyarakat yang banyak dijadikan bahan propaganda rezim negara dan partai politik, tetapi nasib mereka seolah berjalan di tempat, bahkan mengalami banyak penderitaan. Henri menambahkan,

“Melalui ludruk orang mengidentifikasi dirinya dengan isi tontonan. Melalui ludruk, penonton menemukan dirinya sebagai Saodah, yang lemah dan tidak berdaya, serta berpotensi menjadi korban. Situasi ini memang sangat relevan dengan situasi sehari-hari para penonton.” (Kompas, ibid).

Dengan kata lain, medan garap para seniman ludruk dalam mengeksplorasi lakon-lakon kontemporer sebenarnya terpapar luas karena permasalahan sosial, ekonomi, kultural, dan politik rakyat kecil masih menggunung. Memang, bagi warga masyarakat dari kelas menengah ke atas, apa-apa yang dikatakan Henri tampak tidak masuk akal, apalagi dengan cepatnya informasi menyebar di tengah-tengah masyarakat. Namun, kompleksitas permasalahan rakyat jelata membenarkan sinyalemen tersebut. Paling tidak, dari aspek industri kreatif, kemauan dan kemampuan menggarap lakon-lakon yang sangat dekat dengan kehidupan dan permasalahan sehari-hari rakyat kecil, tetap menjadikan LKB dicintai oleh para penggemarnya, di manapun mereka berada.

Keterangan

Dicuplik dari Laporan Penelitian Strategis Nasional berjudul “Pengembangan Seni Pertunjukan Ludruk dan Tayub Jawa Timur-an dalam Perspektif Industri Kreatif”, didanai oleh DP2M Dikti Kemendikbud, 2013. Penelitian ini melibatkan Prof. Dr. Sutarto dan Drs. Albert Tallapessy, M.A., Ph.D.

Share This:

About Ikwan Setiawan 148 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*