Mengembangkan tari Banyuwangen dalam pola pikir modern: Sunar dan Blambangan Art School

“Melalui eksplorasi yang dilakoni Sunar dan para siswanya di BAS, mereka ingin memberi contoh bahwa berkesenian itu bukan semata-mata berorientasi komersil dengan mencari proyek ke pemkab, tetapi harus bisa menghasilkan karya eksploratif yang bersifat baru, meskipun tanpa harus meninggalkan karakteristik kesenian tradisional.”

Di antara para seniman muda yang mampu menunjukkan eksistensinya dalam jagat pertarian Banyuwangi melalui manajemen dan pola pikir modern adalah Sunardiyanto (41 tahun), pemimpin Blambangan Art School, yang bermarkas di dua tempat, Kalibaru dan Mangir, Rogojampi. Meskipun masih menggunakan konsep sanggar untuk menyelenggarakan pelatihan tari, pilihan untuk memakai nama Blambangan Art School (BAS) menandakan bahwa Sunar tengah mengidealisasi praktik dan pemikiran yang sangat modern dalam mengembangan seni tari Banyuwangi. Di sekretariat BAS Mangir, pada 27 Oktober 2013, sembari menyaksikan para peserta didik berlatih, kami ngobrol dengan Sunar seputar proses kreatif dan manajemen yang ia jalankan.

Keputusan Sunar untuk mendirikan BAS, selain untuk mengembangkan dan memberdayakan kesenian Banyuwangi, juga didasari beberapa pertimbangan lain. Pertama, ia ingin kesenian Banyuwangi, khususnya tari, berangkat dari pemahaman dan pengetahuan yang bersifat akademis, dalam artian bisa dikenali pakem estetiknya, karena selama ini masih bersifat hafalan. Kedua, ia ingin menyebarluaskan pengetahuan tari ke khalayak luas, bukan hanya masyarakat Osing, tetapi juga masyarakat dari etnis lain, semisal Jawa dan Madura. Itulah mengapa ia juga mendirikan BAS di Kalibaru yang mayoritas warganya dari etnis Madura. Ketiga, ia dilanda rasa prihatin karena banyak sanggar seni di Banyuwangi yang hanya berorientasi komersil, sehingga sulit mencari seniman yang bisa diajak untuk melakukan eksplorasi tari maupun musik. Keempat, dengan mendidik generasi muda, Sunar lebih mudah untuk melakukan eksperimen-eksperimen estetik yang tidak hanya berwarna konvensional, tetapi berwarna kontemporer, dalam artian bisa menyerap aspek-aspek baru. Kelima, dengan mendidik anak-anak SD hingga SMA, berarti Sunar tengah melakukan investasi kultural yang cukup berharga karena hal itu berarti bahwa ia menyiapkan generasi seniman yang akan meramaikan kehidupan budaya di Banyuwangi dalam jangka 10 hingga 20 tahun ke depan.

Dalam praktik pelatihan di sekolahnya, Sunar mengajarkan gerak-gerak dasar tari tradisional Banyuwangi, utamanya yang berakar dari gandrung. Gerak-gerak dasar menjadi prioritasnya bagi para siswa anak-anak karena dengan kemampuan tersebut mereka akan lebih mudah diajari gerak-gerak lanjut. Pelatihan gerak dasar memang membutuhkan ketelatenan dan kesabaran dari pelatih, apalagi yang dilatih adalah anak-anak usia SD hingga SMA. Keuntungannya, dengan menguasai gerak-gerak dasar, Sunar dan para asisten pelatihnya akan lebih mudah mengajarkan beragam tari tradisional Banyuwangi.
Menariknya, pemberian materi di sanggar ini juga mengikuti model di sekolah-sekolah modern, yakni perpaduan antara penjelasan lisan, pelatihan praktik, dan pencatatan oleh para siswa didik. Lalu, untuk mengukur tingkat pemahaman dan kemampuan masing-masing siswa, ujian juga dilakukan, sepertihalnya ujian di sekolah, dari tingkat dasar, tingkat lanjut dan tingkat atas. Selain itu, ujian ini menjadi sarana bagi para pelatih untuk mengevaluasi kekurangan-kekurangan yang masih ada dalam proses pelatihan, sehingga bisa dibenahi atau direvisi agar para peserta didik bisa mengikuti pelatihan dan menyerap pengetahuan yang diberikan secara maksimal.

Dengan membiasakan anak-anak dan kaum remaja dengan gerak-gerak dasar, maka untuk kepentingan eksplorasi secara ajeg, akan lebih mudah dilakukan. Melalui eksplorasi garapan tari dan musik tabuhan itulah, mereka tidak akan jenuh dengan tari dan musik yang mengikuti model konvensional, sebagaimana digelar oleh para seniman senior di Banyuwangi. Melalui eksplorasi yang dilakoni Sunar dan para siswanya di BAS, mereka ingin memberi contoh bahwa berkesenian itu bukan semata-mata berorientasi komersil dengan mencari proyek ke pemkab, tetapi harus bisa menghasilkan karya eksploratif yang bersifat baru, meskipun tanpa harus meninggalkan karakteristik kesenian tradisional. Untuk apa mendapatkan banyak job dari dinas terkait, tetapi hanya menjadi pelayan terhadap keinginan birokrat. Yang ada, para seniman menjadi kehilangan gairah untuk melakukan terobosan-terobosan kreatif karena sudah berada dalam zona mapan dengan aliran dana yang sebenarnya juga banyak dipangkas. Idealisme berkesenian menjadi korban dari hasrat untuk mendapatkan uang. Maka, tidak ada beda lagi antara seniman dengan para pemburu proyek.

Sistem pembukuan BAS—dari kartu SPP, formulir pendaftaran, biodata siswa, uang pendaftaran, hingga buku tamu—bisa dikatakan yang satu-satunya menerapkan model modern sebagaimana yang diterapkan di sekolah-sekolah. Dengan model tersebut, paling tidak, Sunar berusaha mendisiplinkan para siswa didiknya bukan hanya dalam hal pelatihan, tetapi juga dalam hal kesadaran terhadap hal-hal yang bersifat administratif. “Kalau kesenian tidak diatur secara modern, bisa dipastikan akan amburadul semua aspeknya, karena hanya biasa dengan pakem konvensional yang kurang berpikir maju. Makanya, sampai urusan kartu SPP kita buatkan yang bagus, biar para siswa terbiasa disiplin dari hal-hal kecil. Kalau sudah seperti itu, mereka akan lebih bisa menghargai proses latihan dan penciptaan di sini,” ujar Sunar menambahkan. Tentu saja pola pikir tersebut melampaui pola pikir para seniman tradisional yang terbiasa dengan pengaturan semaunya sendiri. Misalnya, dalam keanggotaan, sanggar kesenian tradisional masih banyak yang comot sana comot sini, dalam artian tidak memiliki banyak anggota tetap. Dengan menerapkan manajemen modern, para anggota BAS bisa diidentifikasi dengan jelas, sehingga Sunar tidak akan kesulitan ketika akan menggarap tari garapan.

Keterangan

Penelitian bersama: Andang Subaharianto – Albert Tallapessy – Ikwan Setiawan

Dicuplikan dari Laporan Penelitian “MENYERBUKKAN KREATIVITAS: Model Pengembangan Kreativitas Kaum Muda dalam Sanggar Seni Using sebagai Penopang Budaya Lokal dan Industri Kreatif di Banyuwangi”, Universitas Jember, 2013.

Share This:

About Ikwan Setiawan 179 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*