Mencetak Seniman dan Pelatih Tari: Sabar Harianto dan Sanggar Tari Lang-Lang Buana

Salah satu sanggar tari di Banyuwangi yang sangat terkenal dalam memproduksi tari-tari garapan dan mencetak para penari serta pelatih tari muda yang handal adalah sanggar Lang-lang Buana. Sanggar yang dipimpin oleh Drs. Sabar Harianto, M.Pd. ini didirikan pada tahun 1990. Nama “Lang-lang Buana” diambil karena Sabar—begitu ia biasa dipanggil—sudah lama malang-melintang dalam jagat per-tari-an Banyuwangi serta sudah melang-lang buana di tujuh negara untuk mengikuti pagelaran seni. Di rumah yang sekaligus dijadikan tempat berlatih para anggotanya, Sabar dibantu istri dan para anggota senior menggembleng para calon penari muda Banyuwangi. Nama besar Sabar sebagai penari profesional yang telah berpengalaman di dalam negeri maupun luar negeri menjadi daya-tarik tersendiri bagi para peserta didik untuk bergabung di sanggar ini. Selain itu, Sabar juga tidak memungut biaya mahal untuk para anggotanya. Dengan biaya pendaftaran sebesar Rp. 50.000,- dan biaya setiap kali latihan Rp. 5.000,- para anggota bisa menimba kemampuan dan pengetahuan tari.

Sabar menerapkan model manajemen pelatihan yang mengutamakan penguasaan gerak-gerak tari tradisional sebagai basis untuk membuat tari-tari garapan. Dengan bekal pengetahuan dan pengalaman yang ia peroleh sejak masa muda hingga masa berkarir sebagai seniman profesional, ia mengajari para peserta didik level-level tarian tradisional, dari level dasar sampai level lanjut. Para peserta didiknya juga sering dilibatkan dalam pertunjukan-pertunjukan yang melibatkan sanggarnya sehingga mereka mendapatkan pengalaman estetik secara langsung. Model pelatihan tersebut mampu menarik minat para peserta didik untuk bertahan di sanggarnya. Dampak positifnya adalah beberapa peserta didiknya berhasil menguasai baik gerak tari tradisional maupun tari garapan. Selain mendidik calon penari, ia juga mendidik calon musisi, utamanya laki-laki.

Untuk memberi pengalaman lebih kepada para peserta didik yang sudah dianggap mumpuni, Sabar mengirim mereka untuk melatih tari di beberapa SD maupun SMP:

“Mereka saya kirim untuk melatih di beberapa sekolah yang biasanya meminta. Ada yang sampai di Wongsorejo, ada yang di kota. Saya kirim mereka, supaya dapat pengalaman dan bisa bertambah wawasan, kalau soal honor pasti dapat. Tapi, yang penting mereka bisa menularkan ilmu tari mereka.” (Wawancara, 26 Oktober 2013).

Keputusan Sabar untuk mengirim para peserta didiknya sebagai pelatih di sekolah-sekolah tentu sudah didasari pertimbangan masak. Apalagi, ia biasa memantau langsung kegiatan latihan yang mereka lakoni. Dengan memberi kepercayaan kepada mereka untuk melatih, Sabar secara langsung membiasakan mereka untuk bertanggung jawab dan terus mengasah kemampuan kreatif sehingga tidak mengecewakan pihak sekolah. Melalui metode itulah, para peserta didik dengan skill mumpuni bisa mendapatkan honor—sesuatu yang sangat berharga buat mereka—serta pengetahuan tari bisa menyebar luas ke kalangan murid sekolah. Tujuan terakhir inilah yang sebenarnya bersifat strategis bagi sosialisasi dan penyerbarluasan pentingnya memupuk kemampuan dan pengetahuan tari kepada generasi muda di Banyuwangi.

Pelibatan langsung para siswa sanggar dalam event pertunjukan maupun pengiriman para siswa senior untuk melatih di sekolah terbukti mampu meningkatkan kecintaan mereka terhadap kesenian Banyuwangi. Lebih dari itu, pengalaman-pengalaman yang mereka dapat juga semakin mendewasakan mereka dalam berksenian. Dwi, mahasiswa semester akhir Universitas 17 Agustus Banyuwangi, salah satu anggota senior sanggar Lang-lang Buana, menjelaskan pengalamannya sebagai berikut.

“Dari segi pelatihan, kami dididik sebagai tenaga pendidik untuk pengembangan tari di Banyuwangi. Jadi, selain diajari sebagai penari kami diajari untuk menjadi pendidik. Selain itu, di sanggar ini kami diajari tanggung jawab tingkat tinggi. Kami juga merasakan nilai-nilai sosial dan kebersamaan yang tinggi di sanggar binaan Pak Sabar ini. Selain itu, kami tidak diajari untuk komersial. Misalkan kita melatih di SD atau SMP, kita harus mengoptimalkan kerja, tidak semata-mata demi uang, tetapi untuk mengembangkan kreativitas yang kita miliki. Yang menyenangkan juga adalah kami diajak pentas ke mana-mana oleh Pak Sabar. Untuk Indonesia, cuma Papua dan Aceh yang belum. Pulau-pulau lainnya sudah semua. Dari pentas-pentas di luar kota itulah saya dan kawan-kawan anggota sanggar mendapatkan pengalaman berharga; belajar bekerjasama dengan para senior; belajar mengatasi permasalahan; dan, tentunya, belajar semakin kreatif. Itu semua membentuk jiwa dan pikiran kami untuk semakin kreatif ke depannya.” (Wawancara, 26 Oktober 2013)

Dari penjelasan Dwi, bisa dielaborasi beberapa konsep manajemen pelatihan yang dilakukan sanggar Lang-lang Buana dan implikasinya terhadap kreativitas para anggota mudanya. Pertama, orientasi pelatihan dalam sanggar yang bervisi jangka panjang, yakni menjadikan siswa didik bukan hanya bisa menguasai tari tradisional dan garapan, tetapi juga bisa menjadi tenaga pendidik. Kesadaran visioner ini merupakan langkah besar untuk mencetak tenaga-tenaga pelatih tari profesional di Banyuwangi, sehingga penyebarluasan pengetahuan tari bisa menjangkau para siswa SD dan SMP. Artinya, Sabar memiliki pandangan jauh ke depan tentang bagaimana mencetak pelatih-pelatih tari yang bisa diharapkan melanjutkan tongkat estafet untuk mengembangkan dan memberdayakan tari Banyuwangi. Kedua, meskipun tidak menampik pemberian honor, para peserta didik diarahkan agar tidak semata-mata memiliki motivasi komersial, tetapi motivasi untuk mengembangkan tari di Banyuwangi. Hal ini sangat masuk akal karena kalau hanya semata-mata mengejar keuntungan material, mereka tidak akan memiliki keyakinan dan daya untuk terus mengembangkan, meningkatkan, dan menyebarluaskan pengetahuan tari.
Ketiga, dalam kehidupan sanggar mereka juga diajari prinsip komunalisme, dari menyiapkan dan menata alat baik untuk latihan maupun pentas sampai mensinergiskan kemampuan kreatif dalam bentuk tari garapan. Keempat, dengan pelibatan anggota muda sanggar Lang-lang Buana dalam pertunjukan baik pada level regional (kabupaten/provinsi), nasional, maupun internasional, mereka akan mendapatkan pengalaman berharga. Dari pentas-pentas itu, mereka akan terus belajar tentang kebersamaan, mengatasi permasalahan, dan memupuk kreativitas. Dan, yang pasti, mereka akan mendapatkan kebanggaan karena mendapatkan apresiasi baik dari para penonton Indonesia maupun mancanegara. Dwi, misalnya, mendapatkan pengalaman yang cukup berharga karena pernah dilibatkan dalam pertunjukan di tiga kota besar Australia, yakni Darwin, Perth, dan Melbourne. Menurutnya, pengalaman berharga itu berasal dari misi pertunjukan yang membawa nama Indonesia di mancanegara, serta tuntutan untuk mengatasi keterbatasan pemain dan pemusik. Di tengah-tengah keterbatasan tersebut, mereka dituntut untuk memberikan suguhan terbaik kepada para penonton. Berkat kerjasama anggota tim, mereka bisa menghibur para penonton yang sebagian besar masih pertama kali menikmati rancak gerak seni Banyuwangi.

Menariknya, Sabar juga memberi kepercayaan kepada para peserta didik seniornya untuk ikut menata aspek koreografis tari-tari garapan dan aspek musikal. Hal itu dimaksudkan agar mereka mendapatkan kesempatan untuk mengekspresikan pengetahuan dan kreativitas yang didapatkan dari sanggar. Selain itu, juga untuk memupuk kemampuan dan keberanian para anggota dalam menciptakan tari garapan. Perihal pilihan tersebut, Sabar menjelaskan:

“Karena motivasi awal saya mendirikan Lang-lang Buana adalah untuk mendidik para peserta didik sampai mereka bisa melatih, maka saya harus berani membuat terobosan. Kalau biasanya di Banyuwangi, para ketua sanggar-lah yang selalu menggarap tari dan musik, saya mencoba hal yang beda. Bagi para anggota yang saya lihat mempunyai kemampuan dan pengetahuan di atas rata-rata, dan sudah berpengalaman mengikuti beberapa pagelaran, saya berikan mereka kepercayaan untuk menciptakan tari garapan ataupun musik yang mengiringi tari tersebut. Kepada publik juga saya umumkan kalau anak buah saya yang menata koreografi atau musiknya, saya hanya bersifat mengarahkan yang perlu-perlu saja. Artinya, saya tidak mengklaim garapan mereka sebagai garapan saya. Istilahnya, saya berusaha memberikan kesempatan kepada mereka untuk show of force, biar lebih dikenal publik.” (Wawancara, 26 Oktober 2013)

Kebijakan yang diterapkan Sabar, tentu saja, bisa dipandang sebagai langkah berani. Mengapa? Karena kalau garapan para anggotanya baik dan mendapatkan apresiasi publik, maka mereka bisa menandingi capaian-capaian Sabar selama ini. Namun, kalau kita kembalikan pada prinsip pendidikan, bahwa keberhasilan seorang peserta didik akan membawa nama harum pendidiknya. Dan, karena motivasi awal Sabar memang ingin menelorkan para pelatih tari handal, tentu saja, keberhasilan peserta didiknya menegaskan kualitas par exellence dari seorang Sabar di tengah-tengah kanca kesenian dan kebudayaan Banyuwangi. Selain itu, ketidakmauannya untuk mengklaim hasil karya anggotanya menunjukkan kedewasaannya dalam proses kreatif. Keputusan tersebut membuahkan hasil. Dwi pernah menyabet penata tari terbaik dalam sebuah festival tari di Surabaya pada 2010. Ia juga pernah menyabet penata musik terbaik pada ajang festival tari nasional di Jakarta.

Selain manajemen pelatihan, Sabar juga menerapkan manajemen keuangan secara transparan, khususnya terkait pembagian honor. Hal ini dia lakukan demi menjaga kekompakan para anggotanya. Bahkan, para anggota muda yang terlibat dalam penggarapan tari dalam sebuah acara, juga mendapatkan honor. Ketika ada sebuah tanggapan yang belum dibayar oleh pihak penanggap, baik intansi pemerintahan, swasta, maupun perorangan, Sabar biasanya menggunakan uang tabungannya untuk memberi honor para pemain. Maka dari itu, untuk mendapatkan penghasilan tambahan, Sabar biasanya menyewakan pakaian tari untuk keperluan karnaval, pagelaran di sekolah atau instansi swasta. Selain itu, ia juga melayani tata rias, baik untuk kepentingan pagelaran, karnaval, atau bahkan keperluan wisuda para mahasiswa di Banyuwangi.

Menggarap tari pesanan dari pemerintah kabupaten lain atau instansi swasta menjadi kegiatan kreatif lain yang dijalani sanggar Lang-lang Buana. Dari pesanan itulah Sabar bisa memperbanyak tabungannya untuk keperluan sanggar dan para anggotanya. Meskipun berorientasi komersil, bukan berarti ia melupakan penggarapan aspek estetik pertunjukan karena hal itu bisa berakibat pada mengendurnya kepercayaan pemesan terhadap dirinya dan sanggar.

“Pernah saya diminta oleh pemkab Situbondo untuk membuat tari garapan plus musiknya. Mereka meminta saya karena mau berpartisipasi dalam sebuah festival tingkat Jawa Timur. Saya sanggupi. Lalu, saya dibantuk kawan-kawan sanggar menggali kasanah kultural Situbondo yang khas Madura. Saya bilang ke pihak dinas di sana, saya siap mengawal dari proses awal hingga paripurna di festival. Dan, saya berani memberi jaminan bahwa mereka akan masuk nominasi. Akhirnya, dalam festival Situbondo mendapatkan nominasi penampil terbaik. Pihak Pemkab senangnya minta ampun, karena baru pertama itu bisa menyabet juara. Untuk keseluruhan kerja, saya mendapatkan honor Rp. 15.000.000. Honor itu lalu saya bagi kepada kawan-kawan yang terlibat, dan sisanya masuk kas sanggar. Pernah juga saya dikontrak Pemkab Probolinggo untuk nggarap tari Glipang dipadukan dengan Banyuwangen untuk sebuah event di Jembrana Bali. Dan, hasilnya mendapatkan sambutan yang cukup antusias.” (Wawancara, 26 Oktober 2012)

Tentu honor Rp. 15.000.000 bukanlah jumlah besar bagi para koreografer tingkat nasional, tetapi bagi Sabar jumlah itu sudah cukup untuk menyenangkan hati para anggotanya yang terlibat dan cukup untuk mengisi kas sanggar. Apa yang menarik dicermati adalah dengan menerima kontrak dari pemkab lain, Sahar sekaligus berperan baik sebagai duta budaya maupun penyebarluas budaya Banyuwangi. Lebih dari itu, dia bisa menumbuhkan semangat generasi muda di kabupaten-kabupaten lain untuk terus mengembangkan dan memupuk kreativitas berbekal kekayaan budaya lokal masyarakat yang sekiranya masih eksis. Dengan cara itupula, ia sebenarnya telah membuka jaringan buat para siswa didiknya yang sudah mumpuni, sehingga ke depan merekalah yang bisa melanjutkan kerjasama kreatif tersebut.

Keterangan

Penelitian bersama: Andang Subaharianto – Albert Tallapessy – Ikwan Setiawan

Dicuplikkan dari Laporan Penelitian “MENYERBUKKAN KREATIVITAS: Model Pengembangan Kreativitas Kaum Muda dalam Sanggar Seni Using sebagai Penopang Budaya Lokal dan Industri Kreatif di Banyuwangi”, Universitas Jember, 2013.

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 179 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*