Memaknai-kembali sejarah dalam tari garapan Banyuwangi

Model tari garapan lain yang dikembangkan para seniman sanggar di Banyuwangi adalah mengambil inspirasi dari jejak-jejak historis yang masih bisa dijangkau secara pustaka maupun tuturan lisan turun-temurun. Hal itu berkaitan dengan kesenian tradisi—seperti gandrung dan barong—maupun peristiwa-peristiwa heroik yang melibatkan pahlawan lokal. Selain untuk memperkaya kasanah kesenian Banyuwangi, model garapan tersebut juga memunculkan rasa cinta terhadap masyarakat dan budaya Banyuwangi serta perjuangan para pahlawan lokal. Meskipun demikian, sebagian seniman juga bersikap terbuka, dalam artian tidak mau terjebak dalam semata-semata gerak gandrung, tetapi juga gerak-gerak tari lain, seperti balet maupun gerak tari Cina.

Subari Sofyan, sebagai seniman yang sudah kenyang pengalaman estetik—baik di tingkat lokal, regional, maupun internasional—sangat menyadari arti penting menelusuri akar historis dari tari garapannya. Sebagaimana kami singgung secara singkat sebelumnya, Subari pernah menggarap tari berjudul Gandrung Marsan yang menjadi juara umum dalam ajang Parade Tari Nusantara 2009, mewakili Provinsi Jawa Timur. Sebelum membuat garapan, Subari terelebih dahulu menelusuri siapa sebenarnya Marsan itu. Dalam proses penelusuran tersebut, ia menemukan realitas bahwa Marsan itu merupakan gandrung lanang yang menandakan fase keemasan tari gandrung dalam kehidupan masyarakat. Maka dari itu, dalam tari tersebut, Subari menggunakan penari lelaki, tidak ada yang perempuan.

 

Jaripah adalah tari garapan lain yang diangkat oleh Subari dari sejarah barong Kemiren yang sangat terkenal di Banyuwangi sebagai bagian ritual. Dari kajian yang ia lakukan, Subari menemukan tafsir bahwa sosok jaripah tidak bisa dilepaskan dari keyakinan religi masyarakat Osing.

“Jaripah itu gandrungnya barong. Sebetulnya jaripah, kalau kita telusuri dari perjalanan awal sampai akhir, berdekatan dengan perjalanan agama, yakni agama-agama jawa. Karena nama barong itu sendiri, sinar udara. Sinar udara itu ya, udara, angin, Allah, Tuhan. Sebetulnya bukan jaripah, Ja’ah makrifat. Coba kita telusuri mau kemana, mau kemana dari orang yang muda yang tua, terus sampai apa maksud itu. Ternyata itu tadi perjalanan islam itu. Makanya, dalam barong itu, nggak lah kamu menjadi jaripah karena jaripah yang menari di dalam barong itu bukan sosok seorang perempuan tapi seorang laki-laki. Kembali laki-laki itu tidak laki-laki tidak perempuan tidak beranak dan tidak diperanakkan. Makanya contoh didalamnya adalah jaripah itu menarikannya sosok seorang laki-laki tapi berdandan perempuan. Tetapi di sana peliharaan itu hilang. Jiwa kita itu seakan-akan hilang.” (Wawancara, 26 Oktober 2013)

Keteguhan untuk menelurusi akar historis dan makna-makna religi dalam tari garapannya menunjukkan bahwa dalam berkarya Subari tidak sekedar berusaha mencapai target estetik pertunjukan. Lebih dari itu, tari garapannya merupakan usaha untuk menemukan makna-makna hakekat manusia dalam kehidupan dan beragama. Dengan pemaknaan tersebut, ia sekaligus melaksanakan tanggung jawab dan peran profetik seniman yang harus menyampaikan makna-makna mendalam kepada para penontonnya, bukan sekedar hiburan.

Peristiwa heroik juga menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya tari-tari garapan. Sabar Harianto, misalnya, dalam Festival Kuwung 2013 (14 Desember), menggarap tari kolosal berjudul Agung Wilis. Tari ini menggambarkan sosok pahlawan dengan nama yang sama yang merupakan pejuang pada kerajaan Blambangan, yang tengah berkonfrontasi dengan kerajaan-kerajaan Bali. Dengan mengangkat cerita sejarah tersebut, ia ingin membangkitkan-kembali semangat heroisme masyarakat Banyuwangi, utamanya generasi muda. Kalau pada masa lampau para pahlawan lokal mampu menggelorakan perjuangan, maka pada masa kini generasi muda harus mampu menggelorakan kreativitas—baik akademis maupun kesenian—agar bisa dicatat oleh sejarah masyarakat dan memberikan sesuatu yang berharga kepada tanah kelahiran.

Meskipun para seniman tetap memegang pakem tari Banyuwangi serta mengembangkan kesadaran historis, sebagian dari mereka tetap mengembangkan paradigma terbuka dalam memandang pengaruh kesenian lain dari luar. Pertimbangan untuk memperkaya garapan serta melayani permintaan konsumen menjadi alasan utama mereka. Tentang hal itu, Subari menjelaskan:

“Kadang-kadang kita harus menerima begini pak, rejeki itu tidak bisa ditolak. Bar, besok ada kawinan lho yok opo tari Cino? Ya latihan tari Cina. Bar besok lho di gereja, ya latian dance. Tetap terbuka. Dan kembali, konteks yang utama. Kita akan menerima hal itu, seperti lagu yang berlima berenam dan bertuju itu. Mereka bervokal kan. Itulah sebuah garapan yang tidak bisa dihitung dengan nilai, dia nyanyi, dia nari. Komposisinya dahsyat kan. Karya yang diterima sekarang itu yang semacam itu. Apalagi dalam satu tatatan karya itu ada satu, dua, tiga dan empat orang yang bisa bervokal gitu. Nilai itu tinggal nambah tinggal nambah. Lek nari-nari tok nggak ada cerita. Makanya, kemasan luar itu, bukannya kita tidak menerima. Aspirasi orang itu kita tampung, tetapi yang kita tidak tampung itu adalah tata cara pergaulan mereka, tata cara kehidupan mereka. Saya tidak menerima perjalanan itu. Tetapi kalau kekaryaan yang ada hubungannya dengan kesenian, ya kita terima.” (Wawancara, 26 Oktober 2013)

Kesadaran untuk menyerap aspek-aspek budaya asing, bukanlah berarti menerima nilai-nilai kebebasan yang dikandung. Tata cara kehidupan yang bertentangan dengan kode-kode moralitas maupun agama, bukanlah nilai yang harus dijalani dalam berkesenian. Pilihan sikap dan laku tersebut menegaskan bahwa Subari dan para anggota sanggarnya berusaha mengembangkan paradigma hibrid, dalam artian terbuka dalam meniru dan mengapropriasi elemen-elemen budaya asing, tetapi bukan nilai-nilai kebebasan individual secara mutlak. Dengan paradigma itu, mereka tidak akan terlepas dari sikap komunal yang beretika, meskipun mereka terbiasa menjalankan estetika asing.

Paradigma tersebut juga berlaku untuk nilai-nilai lokal yang ia anggap mengumbar kekuatan magis. Yang ia maksudkan adalah usaha para seniman tradisional untuk menggunakan kekuatan magis agar mereka laris, mendapatkan job pertunjukan sebanyak-banyaknya. Bagi Subari, praktik semacam itu memang sah-sah saja dilakukan, tetapi menurutnya kurang pas karena menjadikan rezeki yang diterima tidak bisa menjadi berkah bagi kehidupan para seniman. Ia lebih suka meminta petunjuk langsung kepada Sang Pencipta, ketika menemui kebuntuan dalam penggarapan. Dari komunikasinya dengan Sang Pencipta itulah, ia menemukan pikiran-pikiran jernih, sehingga bisa menelorkan karya-karya baru yang mendapatkan apresiasi publik.

Keterangan

Penelitian bersama: Andang Subaharianto – Albert Tallapessy – Ikwan Setiawan

Dicuplikkan dari Laporan Penelitian “MENYERBUKKAN KREATIVITAS: Model Pengembangan Kreativitas Kaum Muda dalam Sanggar Seni Using sebagai Penopang Budaya Lokal dan Industri Kreatif di Banyuwangi”, Universitas Jember 2013.

Sumber foto: http://www.indonesiakaya.com/kanal/foto-detail/gemulainya-para-penari-gandrung-marsan#6803

Share This:

About Ikwan Setiawan 160 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*