Gandrung sebagai akar tari garapan di Banyuwangi

Salah satu karya yang banyak ditelorkan oleh sanggar seni di Banyuwangi adalah tari garapan berbasis tari tradisional, gandrung. Sebagai tari tradisional yang menjadi ikon kultural Banyuwangi, gandrung merupakan rujukan utama ketika para seniman/wati hendak membuat tari garapan. Apapun bentuk gerakannya, nuansa gandrung masih bisa ditemukan dalam tari garapan. Hal itu menjadi semacam konvensi bagi kalangan seniman/wati Banyuwangi. Meskipun demikian, mereka tidak menutup mata terhadap kekayaan seni dari etnis lain. Alex Jokomulyo menuturkan:

“Saya selama ini selalu menggarap tari yang akarnya dari tari Banyuwangi, ya gandrung itu dasarnya. Bagi kami para seniman tari memang tidak bisa lepas dari akar gandrung, seperti sudah menjadi jiwa kami. Cuma, ya itu tadi, kami kembangkan sendiri, gerak dasarnya gandrung, tapi kami kembangkan lagi, biar masyarakat tidak jenuh, dan anak-anak mendapatkan tari yang baru. Selain gandrung, kami juga menyerap dari kuntulan, kadang-kadang janger. Biar campur-campur, tapi orang begitu melihat, segera tahu bahwa ini khas Banyuwangi. Namun, saya dan kawan-kawan juga tidak menutup mata terhadap kekayaan budaya masyarakat lain. Bisa saja kami mengambil musik dan gerak tari Madura, musik dan gerak tari Ponorogo, Mataraman, bahkan Melayu. Misalnya, saya pernah menggarap tari Perawan Pandalungan, yang berarti campuran dari Jawa, Bali, Madura, atau Using. Musiknya saya ambil dari Using, Jawa, Madura, Ponorogo, bahkan ada Aceh-nya.” (Wawancara, 7 Oktober 2013)

Bisa dipastikan, tidak ada seniman tari di Banyuwangi yang tidak mendasarkan tari garapan mereka dari kelincahan gerak gandrung. Mereka seperti mempunyai tanggungjawab kolektif untuk terus mengembangkan tari gandrung dalam bentuk-bentuk yang lebih baru, baik untuk kepentingan festival, pagelaran, maupun industri. Gandrung merupakan “jiwa” yang menggerakkan kreativitas para seniman sanggar untuk terus berkarya.

Pendapat serupa diutarakan Sabar Harianto. Dalam setiap proses penciptaan tari garapan dengan iringan musik tradisional, ia tidak pernah melupakan kekayaan dan karakteristik tari tradisional Banyuwangi.

“Dalam garapan yang saya lakukan, saya paling dominan masih tradisinya, karena saya dulu pernah dipesani Pak Praminto (alm), kalau ingin menjadi seniman sejati, jangan sampai merubah pakem Banyuwangi. Ditambahi hal-hal baru ndak pa-pa. Misalnya, ditambahi musik patrol, kendang rampak, ndak masalah. Kalau ditambahi gerak lain, tidak sepenuhnya, asalkan tidak lepas dari pakem. Saya pertahankan misalnya gerak siku pakemnya gandrung. Kalau Sunar sudah mulai berani memasukkan balet, termasuk Bari (Subari Sofyan, pen) sudah memasukkan gerak China. Bari juga sangat pintar kalau urusan kostum. Dia berani membuat kostum-kostum yang wah. Kalau soal kostum saya sujud sama Bari. Kalau nggarap tari karakter, Bari ndak berani, seperti Minak Jinggo. Saya kaya akan gerak. Kalau diadu, satu minggu saya bisa menciptakan empat tari.” (Wawancara, 26 Oktober 2013)

Pilihan untuk tetap berpegang pada pakem tari tradisional, di satu sisi, bisa mempermudah tari garapan, meskipun sudah diberikan makna-makna dan gerakan-gerakan baru. Di sisi lain, pilihan tersebut bisa terus mempertahankan gerak tari tradisional sebagai patron estetik, sehingga para seniman tetap memiliki warna khas, apapun bentuk tari garapannya.

Gandrung selalu menjadi titik pijak bagi eksplorasi estetik untuk menciptakan tari garapan. Pilihan pertama, biasanya para seniman tetap menggunakan label gandrung sebagai judul tari garapan, tetapi sudah mendapatkan sentuhan gerak koreografis yang relatif baru. Tujuannya adalah memperkaya kasanah tari gandrung di Banyuwangi agar berkembang secara dinamis, tidak sebatas pada tari gandrung model terop. Tujuannya adalah untuk menghindari kejenuhan serta lebih bisa membawa gandrung ke dalam acara-acara non-terop, seperti festival ataupun parade. Dari proses kreatif yang dijalani Alex dan kawan-kawannya di Jinggosobo, terciptalah Keter Gandrung. Tari garapan ini, pada dasarnya, tidak jauh berbeda dengan gandrung. Apa yang membedakan adalah masuknya elemen-elemen kultural kontemporer seperti goyang yang sedikit erotis. Meskipun demikian, goyang tersebut sekedar sebagai ‘pemanis’ agar penonton tidak jenuh.

Dari kasanah gandrung pula, Sabar menciptakan tari berjudul Kembang Goyang. Tari ini terinspirasi dari “kembang yang menthul di atas omprok gandrung,” apabila digerakkan pemakainya kembang itu akan goyang-goyang. Tari ini melambangkan seorang gadis yang kelincahannya luar biasa. Dengan kelincahan tersebut, si gadis akan eksis dalam kehidupan, disukai teman-teman sebayanya ataupun digandrungi para lelaki muda. Kadang-kadang, karena saking lincah dan aktifnya, si gadis juga sulit diatur karena ingin mendapatkan banyak pengalaman dalam hidup. Di sinilah dibutuhkan kesabaran orang tua agar tidak membunuh kelincahan tersebut, tetapi mengembangkannya sebagai basis untuk semakin kreatif dalam kehidupan mereka.

Sementara, Subari mengeksplorasi sejarah awal pertumbuhan gandrung Banyuwangi yang diyakini ditarikan oleh penari laki-laki. Ia dibantu oleh beberapa rekan seniman menciptakan tari Gandrung Marsan yang ditarikan secara berkelompok. Tari tersebut pada tahun 2009 menyabet juara umum dalam Parade Tari Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Hal itu menunjukkan bahwa eksplorasi tanpa harus melupakan fungsi transformatif kesenian tradisional akan tetap mendapatkan apresiasi dari publik, apalagi kalau didukug oleh kekuatan koreografis dan musikal yang bersifat kontemporer.

Bahkan, pesona gandrung memikat koreografer ibukota, seperti Dedy Luthan. Dibantu beberapa seniman Banyuwangi seperti Subari, Praminto, dan Supinah, pada tahun 1990-an, Luthan mengeksplorasi kekayaan dan dinamika gerak gandrung untuk membuat komposisi baru berjudul Kadung Dadi Gandrung, Wis (Terlanjur Jadi Gandrung, Sudahlah). Edy Sedyawati, pakar seni pertunjukan Nusantara, memberikan apresiasinya sebagai berikut.

Tari ini memakai kerangka alur yang sekaligus mengacu pada dua hal. Pertama, riwayat pertunjukan gandrung yang semula ditarikan laki-laki saja — kemudian gandrungnya wanita, dan kemudian lagi gandrung bisa disusun dalam paket baru. Kedua, susunan pertunjukan gandrung yang terdiri dari atas jejer, paju, dan seblang-seblang. Dengan demikian, penata tari telah menyiapkan lahan untuk menampilkan kualitas kepenarian dari masing-masing penarinya. Agus Jolly, dari IKJ, menggelegak dengan gaya reognya, dengan gerak-gerak yang kadang pelan kadang dibuat kasar, memainkan topeng-topeng besar bergaya grostek. Sebagai gandrung lanang (gandrung lelaki), Subari memukau dengan gerak-geraknya yang halus dan pasti, berseling dengan lontaran-lontaran selendang secara tajam, baik ke depan atas maupun seperti menabur, horisontal pada ketinggian lutut. Mbah Suanah menari dengan kedua kipas di tangan, menggeletar, tangannya sangat terampil dan lentur, dan ritme yang cepat dirasukinya dengan kekuatan gaib. Empat gandrung asal Banyuwangi menari bersama-sama, namun dalam gaya dan tafsiran masing-masing atas ritme musiknya. Lima gandrung asal IKJ dan empat yang asli berpadu dalam komposisi yang enak karena tidak terasa terlalu mengada-ada. Kemudian khusus kelima gandrung IKJ menari di latar depan dalam gerak yang rampak, sementara di atas ketinggian di latar belakang, Supinah memadani dengan susunan gerak yang sama, tapi dalam gaya perseorangannya yang khas. Apa yang dilakukan D. Luthan ini sangat memikat sebagai sajian tontonan, dan tampaknya juga membahagiakan buat yang empunya bahan dasar, rakyat Banyuwangi. (Tempo, 17 Maret 1990)

Tari Kadung Dadi Gandrung, Wis, menunjukkan keterbukan tari gandrung bagi eksplorasi-eksplorasi baru yang bisa saja dilakukan oleh koreografer dari luar Banyuwangi. Eksplorasi yang tidak meninggalkan kekuatan tradisi memungkinkan tetap kuatnya irama dan gerak tradisi dalam tari garapan, sehingga tidak sekedar menjadi gerak-gerak kontemporer yang diinspirasi dari tradisi, seperti kebanyakan karya-karya garapan lainnya.
Kemauan para seniman Banyuwangi untuk menerima dan bekerjasama secara kreatif dengan seniman non-Banyuwangi menegaskan bahwa mereka terbuka terhadap pengaruh dan individu-individu dari luar yang berusaha menafsir-ulang kekayaan tradisi dengan tampilan-tampilan baru. Selain itu, mereka juga bisa menimba pengetahuan-pengetahuan baru dalam penggarapan tari berbasis pada gandrung. Dengan demikian, gandrung tetap menjadi kekuatan tradisi dan sumber inspirasi bagi lahirnya banyak tari garapan. Bersama para seniman Banyuwangi, Luthan pada tahun-tahun berikutnya hingga era 2000-an, Luthan menggarap Gandrung Salatun, Iki Buru Ganrung (Ini Baru Gandrung), dan Gandrung Eng Tay.

Keterangan

Penelitian bersama: Andang Subaharianto – Albert Tallapessy – Ikwan Setiawan

Dicuplikkan dari Laporan Penelitian “MENYERBUKKAN KREATIVITAS: Model Pengembangan Kreativitas Kaum Muda dalam Sanggar Seni Using sebagai Penopang Budaya Lokal dan Industri Kreatif di Banyuwangi”, Universitas Jember, 2013.

Share This:

About Ikwan Setiawan 179 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*