Transformasi produktif kesenian lokal: Kreativitas para seniman sanggar dalam pengembangan tari garapan berbasis budaya Banyuwangi

Abstract

This article discusses a productive transformation of traditional arts with the focus on transformative creativities of Banyuwangian artists in developing contemporary dance based on Banyuwangi’s traditional cultures. In this regency, there are many local art groups, in which the artists—most of them choreographers and musicians—with their creative mind and cultural knowledge create many contemporary dances. Interestingly, they can stimulate and mobilize children, teenagers, and youths to participate in their groups’ courses from which these future generations can empower sense of local belongings in the midst of modernity. Considering such conditions, we—by using ethnographic data—will analyze the theme by applying postcolonial perspective. Based on my analysis, I found some interesting findings. Firstly, the Banyuwangi artists have great creative intelligence, particularly in producing contemporary dances without leaving traditional roots. It means that they can transform traditional cultures—namely traditional dances and sacred rituals—into dynamic and aesthetic works that are suitable with modern taste. Secondly, in persuading young generations to participate in aesthetic activities, they conduct interesting and attractive courses from which their students can find enjoyable atmosphere with cheap fee. Thirdly, their contemporary dances get wide appreciations in regional, national, and international performances. Finally, all these creative processes are the bases of traditional cultural transformation in the midst of modern cultural hegemony in local sphere.

Keywords: Banyuwangi artists, transformation, traditional cultures, contemporary dances.

Pendahuluan

Dalam kajian-kajian sosio-humaniora, paling tidak, terdapat beberapa ‘nada pesimis’ terkait pengaruh globalisasi. Pertama, tergusur atau punahnya keragaman budaya lokal oleh budaya modern berorientasi Barat yang semakin populer di tengah-tengah sistem dan praktik kapitalisme pasar saat ini (Kien, 2004; Gills, 2002; Sparks, 2007; Robertson & White, 2007; Wise, 2008). Kedua, kalaupun budaya lokal tidak punah, mereka akan disesuaikan dengan formula-formula budaya global sebagai ordinat dalam sebuah formasi kultural hegemonik (Banerjee, 2002). Tesis yang digunakan oleh kedua pemikiran tersebut adalah berlangsungnya imperialisme kultural yang digerakkan oleh industri budaya dan media, baik pada level internasional maupun nasional yang meniru pola Barat, sehingga masyarakat lokal di negara-negara dunia ketiga secara kultural tidak bisa untuk tidak meniru budaya global.

Dalam beberapa tahun terakhir ini industri kreatif di negeri ini telah tampil sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Bahkan pemerintah merespon fenomena industri kreatif dengan membentuk kementerian yang khusus menangani industri kreatif tersebut yaitu Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif. Hal ini mengisyaratkan bahwa industri kreatif akan semakin ditumbuhkembangkan di negeri ini. Dalam konteks industrialisasi inilah pertemuan budaya lokal dan global akan menemukan dinamikanya yang baru dan menarik diamati. Orang berkesenian lalu bukan sekadar sebagai ekspresi estetika melainkan memiliki makna-makna ekonomis. Sebaliknya, agar kreativitas berkeseniannya mendapatkan makna dalam konteks industri, seniman tentu akan mengelaborasi dan mengekplorasi basis keseniannya.

Banyuwangi merupakan sebuah wilayah geo-kultural yang bisa menjadi contoh bagaimana kekayaan budaya lokal bisa menjadi kekuatan yang mendinamisasi gerak kultural di tengah-tengah pengaruh diskursif globalisasi saat ini. Sudah cukup banyak penelitian dan karya akademis yang dihasilkan para peneliti dari wilayah di Brang Wetan Pulau Jawa tersebut, yang menginformasikan bahwa gerak dinamis budaya Banyuwangi tidak bisa dilepaskan dari kontribusi strategis budaya Using di tengah-tengah kompleksitas permasalahan yang berlangsung di dalamnya. Namun, budaya adalah sesuatu yang ‘dihidupkan’ oleh para aktor yang masih mempunyai kecintaan dan kepedulian sehingga masyarakat juga tetap memberikan apresiasi terhadap budaya Using. Persoalan aktor dan institusi kultural yang menggerakkan budaya Using selama ini yang jarang dieskpos oleh para peneliti. Padahal, kehadiran para aktor dan institusi itulah yang berkontribusi banyak terhadap dinamika dan usaha pengayaan budaya Using.

Melalui tulisan ini kami mencoba memahami bagaimana seniman sanggar di Banyuwangi berkreasi dengan melihat peran anak-anak muda dan seni tradisi Banyuwangi yang bukan hanya bermakna bagi keberlanjutan pengembangan seni tradisi sebagai bagian dari identias kultural masyarakat melainkan juga menjadi strategi pengembangan industri kreatif.

Budaya Using dan Kajian Pustaka

Masyarakat Using di Banyuwangi sejak dulu terkenal dengan kekayaan dan keragaman kesenian dan budayanya. Banyak peneliti yang telah mencurahkan perhatiannya pada budaya masyarakat di ujung timur Pulau Jawa ini. Anoegrajekti (2002; 2004), misalnya, secara intensif mengkaji persoalan gandrung dalam kaitannya dengan aset budaya daerah dan pariwisata Banyuwangi. Anoegrajekti fokus pada bentuk kebijakan negara dalam memposisikan gandrung sebagai identitas dan aset wisata Banyuwangi, termasuk di dalamnya pemaknaan kebijakan tersebut dalam kehidupan sehari-hari para perempuan tradisi dan masyarakat. Dalam kesempatan lain Anoegrajekti (2006) membahas relasi antara gandrung dengan perubahan orientasi kultural masyarakat Banyuwangi. Perubahan sosio-kultural yang disebabkan pertumbuhan dan mobilitas penduduk, modernisasi (kapitalisasi) pedesaan, meluasnya budaya pop, dan kehidupan politik memainkan peran penting dalam melahirkan dua hal yang saling berkaitan. Pertama, komunitas Using dan masyarakat Banyuwangi pada umumnya secara perlahan meninggalkan sebagian besar makna, nilai, norma, pemikiran, bahkan struktur kultural dari masa lampau yang berkaitan dengan gandrung dan menangkap atau merumuskan yang baru. Kedua, akibat dari itu, dapat dipastikan bahwa gandrung terhegemoni oleh pasar, menjadi murni hiburan yang komersial.

Setiawan (2007; 2009) dengan fokus kepada perkembangan musik Banyuwangen kontemporer (era 2000-an) mengkaji strategi para musisi Banyuwangi dalam mengemas kekayaan lagu daerah dengan nuansa musik modern sehingga menghasilkan produk bernuansa hibrid. Musik hibrid ini ternyata sangat digemari oleh masyarakat sehingga industri rekaman lokal berlomba-lomba merekam karya-karya kreatif para musisi Banyuwangi. Rekaman dalam format cakram digital (CD), di satu sisi, menjadi medium baru bagi para musisi untuk masuk ke dalam dalam jagat industri modern. Di sisi lain, format tersebut menjadi siasat para musisi Banyuwangi untuk terus menegosiasikan budaya lokal Banyuwangi di tengah-tengah transformasi modernitas masyarakat.

Sariono, Subaharianto, Sapurtra, & Setiawan (2009) melakukan penelitian terkait pemberdayaan seni tradisi-lokal Banyuwangen dalam perspektif industri kreatif dengan titik-tekan pada musik Banyuwangen. Para musisi lokal Banyuwangi selepas tragedi G 30 S 1965 sudah mengembangkan kreativitas dalam bidang musik yang berakar pada tradisi lokal masyarakat dan mendapatkan respons yang cukup baik. Peran pemodal industri rekaman sangat menentukan dalam perkembangan musik Banyuwangen yang banyak memadukan unsur-unsur musik tradisional dan modern. Meskipun mendapat keuntungan secara finansial, dalam desain industri tersebut, para musisi menjadi subordinat dari para pemodal yang sangat menentukan tema dan genre musik Banyuwangen kontemporer.

Subaharianto dan Setiawan (2012) mengkaji persoalan hibriditas budaya dalam masyarakat lokal, yang salah satu objek kajiannyaadalah masyarakat dan budaya Using. Dengan menggunakan perspektif poskolonial, disimpulkan bahwa meskipun budaya Using selama ini terkenal dengan kesan ketradisionalan, tetapi di dalamnya sebenarnya berlangsung hibriditas kultural dengan masuknya elemen-elemen modern ke dalam elemen-elemen tradisional. Dalam bentuk kontemporernya, hibriditas kultural tersebut berlangsung dalam produk-produk industri budaya—musik, tari, dan drama tradisional—berbasis budaya lokal di Banyuwangi.

Kajian-kajian tersebut telahmemberikan tilikan bahwa budaya Using mampu tumbuh dan berkembang bersama dinamika masyarakatnya yang kian menyerap budaya global (modern), tentu dengan segenap makna-makna baru. Namun, kaijan-kajian tersebut kurang memberikan perhatian kepada peran dan kontribusi para aktor dan sanggar seni Using.

Proses Kreatif dalam Sanggar Seni: Fenomena Alex Jokomulyo

Kegiatan di Sanggar Seni Jinggasaba, Wonosobo, Kecamatan Srono, Banyuwangiyang dipimpin seniman multitalenta Alex Jokomulyo dengan jelas menggambarkan transformasi produkstif kesenian tradisional. Dalam proses kreatifnya bersama para seniman/wati senior di sanggar yang ia pimpin, Alex selalu melibatkan anak-anak, kaum remaja, dan para pemuda untuk menghasilkan karya-karya tari garapan berbasis tari tradisional Banyuwangi, gandrung. Meskipun demikian, ia juga tidak anti kesenian atau budaya dari etnis lain, seperti budaya Madura, Mataraman, bahkan Melayu. Satu hal yang menarik dari proses berkesenian yang dijalankan oleh Alex melalui sanggarnya adalah banyaknya peserta didik yang berusia SD, SMP, dan SMA. Ketika kami menanyakan alasan ia memilih strategi tersebut, dengan lugas Alex menjawab:

“Sederhana saja, Mas, budaya Banyuwangi, khususnya kesenian itu harus dilestarikan di tengah-tengah gempuran budaya modern saat ini. Nah, anak-anak—khususnya, SD—itu adalah generasi belia yang masih bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan kesenian yang menyenangkan hati mereka. Kesenian yang saya ajarkan kepada mereka, adalah kesenian yang mudah, tari-tari sederhana yang saya ambilkan dari kesenian grandrung, tapi gerakannya yang sederhana saja. Jadi, yang penting mereka senang dan suka dulu. Dengan perasaan senang itulah mereka akan mau kembali mencintai kesenian tradisional mereka sendiri, selain menonton film kartun di teve. Ibarat rumah, anak-anak itu kan fondasinya, kalau fondasinya kita perkuat, maka rumah akan kuat dan bagus.”

Salah satu kegagalan pengembangan kesenian berbasis ketradisionalan di Indonesia selama ini adalah kegagalan regenerasi yang menyebabkan banyak kesenian tradisional mati suri ataupun gulung tikar. Alex sangat menyadari kondisi itu sehingga ia memilih merekrut anak-anak dari usia belia hingga remaja sebagai siswa didik. Itulah mengapa ia memilih mengenalkan dan mengajarkan gerakan-gerakan tari sederhana kepada para siswa sanggarnya. Dengan memosisikan anak-anak sebagai “fondasi” bagi proses berkesenian dan berkebudayaan, Alex berusaha membangun kesadaran kreatif untuk terus menginstitusionalisasikan pentingnya kesenian tradisional ke dalam benak generasi penerus. Ketika kesadaran itu sudah tertanam dalam benak anak-anak, kaum remaja, dan kaum muda, maka ketika diajak untuk berkarya, mereka akan lebih mudah diarahkan. Semakin banyak generasi penerus yang memiliki kesadaran dan kemauan untuk mengembangkan kesenian tradisional, maka budaya lokal dengan sendirinya akan terus bisa diberdayakan di tengah-tengah masyarakat yang semakin modern.

Pelibatan anak-anak, kaum remaja, dan kaum muda dalam proses kreatif sanggar merupakan respons kultural dari para seniman/wati senior terhadap hegemoni modernitas dan kapitalisme budaya dalam wujud budaya populer yang diproduksi di ibu kota. Di akui atau tidak, pengaruh budaya pop metropolitan, sejak era Orde Baru sudah merasuk ke dalam ruang-ruang lokal, termasuk Banyuwangi. Sejak masa itu, masyarakat, utamanya kaum remaja dan generasi muda, sudah dibiasakan untuk mengkonsumsi produk industri budaya metropolitan yang disebarluaskan melalui mekanisme distribusi secara massif serta pencitraan di media. Pada masa Reformasi, pergerakan produk-produk industri budaya metropolitan ke ruang-ruang lokal semakin cepat, apalagi dengan semakin banyaknya stasiun televisi swasta nasional yang bersiaran secara bebas. Setiap hari, anak-anak dan kaum remaja di ruang lokal terbiasa menikmati makna-makna menjadi modern dalam hal selera kultural, dari mengenakan pakaian pabrikan, menonton acara televisi, berkomunikasi dengan telepon seluler, menikmati makanan ringan, dan lain-lain.

Dalam kondisi demikian, kita tidak bisa menyalahkan ketika mereka lebih bisa menerima citarasa budaya modern dibandingkan citarasa budaya tradisional. Apalagi dalam hal kebijakan budaya, baik di level nasional maupun daerah (provinsi dan kabupaten/kota), pemerintah belum bisa menemukan formula strategis untuk terus mengembangkan dan memberdayakan budaya lokal. Sementara, dalam hal retorika untuk mempropagandakan keagungan dan keutamaan budaya bangsa, para pejabat negara—baik di pusat maupun daerah—selalu menekankan pentingnya bagi anak-anak, kaum remaja, dan generasi muda untuk ikut “melestarikan” budaya lokal sebagai bentuk kepribadian dan jatidiri bangsa. Hal itu merupakan kontradiksi karena negara juga mendukung perluasan ekonomi pasar bebas yang banyak memberikan keuntungan kepada para pemodal besar industri budaya. Inilah tantangan terbesar kerja-kerja peradaban di Indonesia, khususnya terkait pengembangan dan pemberdayaan budaya lokal di masing-masing wilayah.

Oleh karena itu, ketika para seniman/wati sanggar di Banyuwangi menemukan formula yang bisa melibatkan para siswa sekolah—SD hingga SMA—dalam setiap latihan, kita harus memposisikannya sebagai “keberhasilan kultural”. Ketika negara masih belum bisa berbuat apa-apa terhadap permasalahan budaya lokal, ternyata mereka—para seniman/wati sanggar—telah melakukan sebuah terobosan kultural untuk terus mengembangkan kekayaan budaya lokal dengan cara menyenangkan, bukannya dogmatis dan kaku. Negosiasi kekayaan budaya lokal dalam bentuk ekspresi maupun makna secara ajeg ke dalam benak generasi penerus, paling tidak, bisa mem-bekas-kan jejak-jejak kultural dalam memori individual dan kolektif mereka. Jadi, meskipun dalam kehidupan sehari-hari sudah terbiasa dengan pendidikan dan budaya modern, generasi penerus bisa tetap memahami betapa kekayaan budaya lokal bisa memberikan rasa senang dan kebanggaan bagi diri mereka.

Untuk semakin memperluas gerakan kesenian yang menjadi bagian dari gerakan kuultural untuk terus memberdayakan keragaman budaya lokal Banyuwangi, Alex dibantu kawan-kawannya membentuk sanggar seni baru di luar Wonosobo.

“Saya dibantu beberapa teman mendirikan sanggar serupa di Desa Sukamaju, masih kecamatan Srono. Sambutan masyarakat luar biasa. Banyak orang tua yang memasukkan anak-anak mereka yang rata-rata masih sekolah SD dan sebagian kecil TK ke sanggar. Ada 80 siswa didik yang berlatih di balai desa Sukamaju. Nama sanggarnya Sastra Budaya. Mereka cukup antusias. Selain itu, bekas siswa saya di Muncar juga membuat sanggar seni, saya juga sering ke sana. Bagi saya dan teman-teman seniman, semakin banyak anak-anak ataupun remaja yang mau belajar kesenian tradisional, khususnya tari garapan, akan menjadi sesuatu yang bersifat positif bagi pengembangan kesenian Banyuwangi di masa mendatang.”

Kesadaran untuk memperluas gerakan kultural merupakan usaha untuk “keluar dari kotak”, agar gerakan yang ia kembangkan bisa semakin meluas dan bisa berdampak positif. Dalam terma manajemen modern, apa yang dilakukan Alex bisa dikategorikan sebagai “perluasan atau diversifikasi usaha”, di mana dengan semakin banyaknya anggota sanggar dan semakin luasnya cakupan wilayah gerakan tersebut, ia secara pribadi akan mendapatkan kepuasan batin sebagai seniman dan sedikit keuntungan finansial untuk menutupi biaya transportasi. Sementara, keuntungan kultural bisa berupa semakin banyaknya warga masyarakat, khususnya orang tua, yang memiliki dan membangun kesadaran tentang pentingnya anak-anak belajar kesenian, khususnya tarian tradisional.

Untuk lebih memperkuat kecintaan dan pemahaman para siswa didik tentang kesenian tradisional, khususnya tari, para pengelola sanggar biasanya menjadwalkan rutin dan latihan menjelang pertunjukan, sebagaimana dituturkan Alex berikut.

“Satu minggu sekali kami berlatih. Pada tahap awal latihan kami fokuskan pada gerakan-gerakan tari dasar, biar tubuh mereka terbiasa. Setelah itu kami memasuki tari gerakan-gerakan tari garapan. Tentu saja kami membutuhkan kesabaran ekstra, karena para siswa didik masih berusia belia. Nah, kalau sudah lumayan matang kami mulai menggunakan iringan musik. Para panjak dan pengrawit biasanya kami libatkan. Kalau ada event, biasanya kami diundang oleh pihak kecamatan atau dinas kabupaten, latihan bisa kami lakukan 2-3 kali seminggu. Hal itu penting agar mereka segera menguasai tari garapan yang akan dipentaskan.”

Mendidik anak-anak dan kaum remaja yang sudah terbiasa dengan pendidikan sekolah formal tentu membutuhkan adaptasi dalam bentuk jadwal. Kejelasan jadwal menjadi penting karena mereka sudah terbiasa dengan jadwal sekolah. Selain itu, tidak mungkin mereka langsung diajari gerak tari garapan tanpa melalui proses pengenalan gerak-gerak dasar gandrung. Pengenalan gerak dasar gandrung menjadi penting agar mereka terbiasa dengan pakem tari tradisional yang menjadi dasar dari tari garapan. Penciptaan suasana gembira selama latihan menjadi penting karena para peserta didik adalah para pemula yang tidak bisa langsung dipaksa. Meskipun demikian, penambahan jadwal latihan—yang otomatis mengurangi waktu bermain para peserta didik—tetap diperlukan untuk mempercepat penguasaan tari garapan yang akan dipentaskan. Sebagai wahana untuk mengurangi tingkat ketegangan dan kejenuhan, terkadang latihan menjelang pertunjukan diakhiri dengan makan bersama.

Meskipun mendapatkan dukungan penuh dari para orang tua siswa didiknya, bukan berarti Alex tidak menjumpai masalah dalam pengembangan sanggarnya. Pada awalnya, ia dan kawan-kawannya menempati Balai Desa Wonosobo sebagai tempat latihan para siswa sanggar. Namun, dikarenakan sebuah masalah, ia terpaksa harus hengkang dari balai desa tersebut.

“Di Wonosobo kami memang ada sedikit masalah. Sebenarnya ada sedikit salah paham. Ada salah satu perangkat yang tidak senang karena kami berlatih di balai desa. Menurutnya, balai desa tidak seharusnya dijadikan tempat latihan kesenian. Karena balai desa itu untuk tempat kegiatan pertemuan dan birokrasi desa. Saya sendiri, awalnya, juga kaget dengan omongan itu. Kan kami selama ini secara tidak langsung ikut mempromosikan potensi desa Wonosobo dengan berlatih di balai desa. Kalau kami pentas dalam event-event kabupaten, provinsi, maupun nasional dan internasional, toh itu berarti ikut mengangkat nama desa. Namun, kalau dipikir-pikir ndak ada untungnya bertengkar dengan aparat desa.”

Cara pandang si perangkat desa terkait fungsi balai desa yang tidak seharusnya dijadikan tempat latihan kesenian menunjukkan bahwa si perangkat desa masih berparadigma kaku dalam memosisikan aset publik. Sebagai milik bersama, semestinya setiap warga berhak menggunakan atau memfungsikan balai desa untuk kegiatan-kegiatan kultural, bukan hanya untuk kegiatan birokrasi. Toh, sebenarnya Alex dan siswa didiknya tidak mengganggu kegiatan birokrasi desa karena mereka lebih memilih berlatih di hari libur, seperti hari Minggu, dan di sore hari ketika aktivitas pemerintahan sudah selesai. Bukankah, sebagai perangkat desa, ia juga harus mendukung kegiatan kultural yang bertujuan untuk mengembangkan kreativitas anak-anak, kaum remaja, dan kaum muda? Selain itu, apabila sanggar Jinggasaba berprestasi di tingkat regional, nasional, maupun internasional, tentu nama desa juga akan terangkat. Peristiwa tersebut tentu menjadi sebuah ironi di sebuah kabupaten yang katanya sangat kaya akan kesenian tradisional. Untungnya, di Sukamaju, Alex mendapatkan dukungan penuh dari perangkat desa.

Kurang responsifnya si perangkat desa terhadap pengembangan sanggar sebagai basis bagi pengembangan budaya Banyuwangi sejalan dengan ketidakjelasan kebijakan yang diambil oleh pemerintah kabupaten. Meskipun para pejabat pemkab selalu berkoar bahwa Banyuwangi merupakan gudang kesenian, dalam hal kebijakan, kami bisa pastikan, tidak ada program terpola dan terstruktur yang ditempuh aparat dinas terkait dalam mengembangkan sanggar seni. Yang paling sering dilakukan adalah menggelar lomba ataupun pertunjukan bersifat insidental. Itupun tidak melibatkan semua sanggar seni. Memang, dinas memberikan suntikan dana kepada sanggar-sanggar tertentu. Namun, mekanisme yang ditempuh tidak transparan dan seringkali melibatkan “para makelar proposal”. Sanggar seni yang tidak bisa membuat proposal pengajuan dana akan dibantu seorang oknum seniman untuk proses penyusunan dan pengajuan proposal. Sebagai imbalannya, si oknum akan mendapatkan prosentase dan dana yang diterima sanggar.

Celakanya lagi, antarseniman sanggar seringkali tidak satu suara dalam memperjuangkan kepentingan mereka. Sering terjadi, beberapa ketua sanggar yang pada awalnya sudah sepakat untuk melawan kebijakan dinas, pada akhirnya harus tercerai-berai karena salah satu di antara mereka bermain dua kaki. Artinya, ia mau menerima tawaran yang diberikan dinas terkait, khususnya yang berimplikasi pada kucuran dana. Akibatnya, kekompakan di antara ketua sanggar kurang terjaga. Masih untung, di antara para seniman/wati nya jarang yang terlibat konflik, sehingga hubungan di antara mereka masih baik.

Permasalahan lain yang seringkali muncul adalah kesalahpahaman antarseniman senior dalam sanggar. Kesalahpahaman tersebut seringkali hanya dipicu oleh persoalan sepele yang sebenarnya bisa dimusyawarahkan secara baik-baik. Misalnya, salah satu anggota kurang puas dengan pembagian honor selepas pertunjukan. Yang terjadi berikutnya adalah munculnya pergunjingan di antara para anggota. Akibatnya bisa sangat fatal. Beberapa anggota yang merasakan hal serupa bisa saja keluar dari sanggar dan bergabung dengan sanggar lain yang dianggap lebih adil dalam membagi honor. Namun, apabila di sanggar yang baru mereka menemukan praktik serupa, bisa jadi mereka akan keluar lagi. Tentu saja kondisi ini bisa memperuncing konflik dalam sanggar dan bisa berimplikasi sampai dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun demikian, konflik yang terjadi antarsanggar maupun intrasanggar, bisa dipandang dari kacamata positif. Konflik tersebut bisa memunculkan semangat kompetisi yang ketat di antara sanggar kesenian, sehingga akan menghasilkan karya-karya kreatif yang menunjukkan keunggulan masing-masing sanggar. Kalau ditilik dari proses kreatif, memang kondisi kompetitif akan menghidupkan semangat untuk berkarya yang lebih baik. Namun, dalam konteks penguatan suara sanggar untuk bisa menuntut dinas, khususnya terkait pengembangan sanggar, konflik tersebut akan mengurangi kebersamaan di antara sanggar, sehingga suara mereka tidak akan didengar.

Model Tari Garapan: Mengembangkan Yang Tradisional dalam Sentuhan Baru

Salah satu karya yang banyak ditelorkan oleh sanggar seni di Banyuwangi adalah tari garapan berbasis tari tradisional, gandrung. Sebagai tari tradisional yang menjadi ikon kultural Banyuwangi, gandrung merupakan rujukan utama ketika para seniman/wati hendak membuat tari garapan. Apapun bentuk gerakannya, nuansa gandrung masih bisa ditemukan dalam tari garapan. Hal itu menjadi semacam konvensi bagi kalangan seniman/wati Banyuwangi. Meskipun demikian, mereka tidak menutup mata terhadap kekayaan seni dari etnis lain. Alex Jokomulyo menuturkan:

“Saya selama ini selalu menggarap tari yang akarnya dari tari Banyuwangi, ya gandrung itu dasarnya. Bagi kami para seniman tari memang tidak bisa lepas dari akar gandrung, seperti sudah menjadi jiwa kami. Cuma, ya itu tadi, kami kembangkan sendiri, gerak dasarnya gandrung, tapi kami kembangkan lagi, biar masyarakat tidak jenuh, dan anak-anak mendapatkan tari yang baru. Selain gandrung, kami juga menyerap dari kuntulan, kadang-kadang janger. Biar campur-campur, tapi orang begitu melihat, segera tahu bahwa ini khas Banyuwangi. Namun, saya dan kawan-kawan juga tidak menutup mata terhadap kekayaan budaya masyarakat lain. Bisa saja kami mengambil musik dan gerak tari Madura, musik dan gerak tari Ponorogo, Mataraman, bahkan Melayu. Misalnya, saya pernah menggarap tari PerawanPandalungan, yang berarti campuran dari Jawa, Bali, Madura, atau Using. Musiknya saya ambil dari Using, Jawa, Madura, Ponorogo, bahkan ada Aceh-nya.”

Bisa dipastikan, tidak ada seniman tari di Banyuwangi yang tidak mendasarkan tari garapan mereka dari kelincahan gerak gandrung. Mereka seperti mempunyai tanggungjawab kolektif untuk terus mengembangkan tari gandrung dalam bentuk-bentuk yang lebih baru, baik untuk kepentingan festival, pagelaran, maupun industri. Gandrung merupakan “jiwa” yang menggerakkan kreativitas para seniman sanggar untuk terus berkarya.

Gandrung selalu menjadi titik pijak bagi eksplorasi estetik untuk menciptakan tari garapan. Pilihan pertama, biasanya para seniman tetap menggunakan label gandrung sebagai judul tari garapan, tetapi sudah mendapatkan sentuhan gerak koreografis yang relatif baru. Tujuannya adalah memperkaya kasanah tari gandrung di Banyuwangi agar berkembang secara dinamis, tidak sebatas pada tari gandrung model terop. Lebih tujuannya adalah untuk menghindari kejenuhan serta lebih bisa membawa gandrung ke dalam acara-acara non-terop, seperti festival ataupun parade. Dari proses kreatif yang dijalani Alex dan kawan-kawannya di Jinggosobo, terciptalah Keter Gandrung. Tari garapan ini, pada dasarnya, tidak jauh berbeda dengan gandrung. Apa yang membedakan adalah masuknya elemen-elemen kultural kontemporer seperti goyang yang sedikit erotis. Meskipun demikian, goyang tersebut sekedar sebagai ‘pemanis’ agar penonton tidak jenuh.

Apa yang menarik dari pilihan estetik Alex dan kawan-kawan di sanggar adalah kesadaran untuk mengisi jiwa itu dengan beragam kekayaan estetik yang mereka kenal dan pahami. Kesadaran untuk memperkaya tari garapan dengan aspek musikal maupun koreografis yang berasal dari kekayaan budaya Jawa Mataraman, Bali, Ponorogo, maupun Melayu menegaskan bahwa para seniman sanggar di Banyuwangi mau melakukan terobosan-terobosan kreatif yang memungkinkan ‘percumbuan dan penyerbukan’ kultural di antara bermacam budaya. Penyerbukan itu berlangsung ketika para seniman seperti Alex secara sadar memahami gandrung tidak secara kaku, tetapi secara lentur sehingga memungkinkannya untuk memasukkan elemen-elemen estetik baru untuk kemudian menghasilkan karya baru. Karya baru tersebut memang lebih ‘ramai’ dalam hal performance, seperti gerak gandrung yang semakin beragam dengan musik yang berwarna-warni.

Yang lebih menarik, ternyata pilihan untuk memasukkan elemen estetik non-Using ke dalam tari garapan berbasis gandrung bukan semata-mata didorong oleh keinginan untuk melakukan inovasi dalam hal kreativitas. Lebih dari itu, para seniman memiliki kesadaran kultural di tengah-tengah kerberagaman etnis yang ada di Banyuwangi. Alex menjelaskan:

“Begini, Mas, kami yang hidup di Banyuwangi ini sebenarnya tidak bisa dikatakan Using saja. Di sini kami biasa bertemu dan bekerja dengan orang Jawa, Madura, Bugis, Mandar, Melayu, maupun Cina. Itu semua adalah ciri khas Banyuwangi, saya rasa Jember juga demikian. Nah, dalam hidup model seperti itu, kita dituntut mengembangkan sikap saling menghormati dan menghargai masing-masing budaya, biar tidak terjadi pertikaian. Bagi saya, kesenian itu bisa menjadi media yang cukup efektif untuk memberi pesan melalui gerakan-gerakan tari yang mencerminkan bermacam-macam budaya. Makanya, saya masukkan banyak elemen seni dalam Perawan Pandalungan. Selain itu, dengan menggabungkan bermacam budaya ke dalam tari garapan tersebut, saya berharap para penonton yang berasal dari bermacam suku akan lebih mudah memahami pesan-pesan yang kami sampaikan. Ya, paling tidak, saya dan kawan-kawan ikut menyumbang bagi terciptanya kerukunan dalam masyarakat, biar nggak terjadi tragedi berdarah lagi di Banyuwangi.”

Penjelasan Alex menegaskan bahwa kesadaran kultural yang dibangunnya dalam berkarya berimplikasi kepada kesadaran politis tentang pentingnya mengembangkan penghargaan dan penghormatan terhadap perbedaan etnis dalam masyarakat. Dengan meracik bermacam bentuk estetik etnis lain ke dalam karya estetik tari berbasis Using-Banyuwangi, seniman pada saat bersamaan berusaha memahami dan menanamkan kesadaran terhadap realitas perbedaan etnis. Pertama-tama, mereka menanamkan kesadaran itu kepada para siswa didik melalui proses latihan dan pagelaran. Dengan belajar gerakan selain gandrung atau menggerakkan tubuh dengan diiringi instrumen dari musik Madura, misalnya, para siswa berusaha melatih indera, batin, dan pikiran dengan perbedaan-perbedaan kultural. Kedua, dengan menampilkan karya “campur-aduk” tersebut ke depan penonton yang terdiri dari beragam etnis, maka para seniman sudah melakukan usaha kultural untuk memberikan pesan-pesan terkait pentingnya untuk menghormati perbedaan etnis. Ketika kesadaran tersebut semakin meluas, maka tragedi-tragedi kemanusiaan bisa dihindari.

Selain menampilkan makna dan pesan kultural, tari garapan para seniman/wati Banyuwangi juga diarahkan kepada garapan yang lebih populer secara tematik. Artinya, ada karya koreografi yang dikembangkan dari persoalan-persoalan yang populer di masyarakat. Misalnya, masyarakat Banyuwangi sangat familiar dengan mantra pengasihan jaran goyang. Mantra ini diyakini bisa memikat hati lawan jenis yang akan dijadikan kekasih, atau lebih tepatnya pasangan hidup. Popularitas itulah yang menjadikan para seniman tari Banyuwangi menciptakan karya koreografis dengan judul Jaran Goyang. Dasar dari gerakan tarinya adalah gandrung yang sudah dimodifikasi sesuai keperluan tematik.

Tidak jarang pula, seniman Banyuwangi memadukan rancak tari gandrung dengan kasanah kesenian lain, seperti kuntulan—sebuah seni tari-musik yang dipengaruhi oleh budaya Islam, berupa hadrah. Sahuni—seorang seniman senior multitalenta yang sekarang menjabat Kepala Desa Singojuruh Banyuwangi—berhasil menciptakan perpaduan gerak tari Banyuwangen dengan rancaknya musik kuntulan sebagai khasana budaya Islam-kultural di Bumi Blambangan. Rancak musik rebana dipadu dengan gamelan Banyuwangen yang terbuat dari baja, dipadukan dengan gerak tari rancak, sehingga menghasilkan jenis pertunjukan yang disebut Kundaran. Tari ini merupakan bentuk inovatif-transformatif dari kesenian hadrah (murni tabuhan rebana) yang berkembang menjadi kuntulan (gerak, musik, dan lagu), dan pada akhirnya mewujud Kundaran. Menurut Sahuni, pada hadrah dan kuntulan masih sangat jelas tujuan dakwah di dalam pertunjukan, tetapi ketika sampai pada Kundaran, nilai dakwah tersebut terkikis oleh aspek hiburan meskipun tetap bernafaskan Islam.

Sementara, eksplorasi yang dilakukan Sahuni terhadap tari gandrung berhasil menciptakan tari garapan, seperti Paju Gandrung, Gandrung Lukinto, Punjari, dan lain-lain. Eksplorasi tersebut mengimplikasikan beberapa hal menarik. Pertama, keseniain tradisional Banyuwangi bersifat terbuka terhadap pengaruh-pengaruh estetik dari kesenian lain. Kedua, para seniman/wati Banyuwangi berpandangan lentur dalam memposisikan kesenian tradisional, sehingga memungkinkan mereka untuk menemukan atau memasukkan gerakan-gerakan baru, tanpa meniadakan karakteristik kesenian tradisional yang sudah ada sebelumnya. Ketiga, pengayaan-pengayaan estetik yang berbasis pada kesenian tradisional menjadikan karya-karya baru-inovatif tetap diakui sebagai bagian dari budaya Banyuwangi. Tidak mengherankan kalau Punjari, Paju Gandrung, maupun Gandrung Lukinto banyak diajarkan di sanggar seni dan sekolah ataupun dilombakan dalam festival.

Kekuatan eksploratif para seniman tari Banyuwangi juga mampu mendorong mereka untuk menggarap tari yang bersifat tematik, dalam artian sesuai dengan kondisi dan permasalahan kontemporer dalam masyarakat. Untuk kreativitas tersebut, para seniman dituntut untuk mampu memahami dan menyelami kondisi batin masyarakat ketika dihadapkan pada permasalahan-permasalahan kehidupan yang membelit mereka. Alex menjelaskan:

“Terus terang saya jujur, banyak karya saya yang akhir-akhir ini tercipta karena perasaan emosional. Contohnya Mungging Cangklakan, maksud dari tari ini adalah satru (musuh) yang tidak bisa akur…karena saya olah dengan seni, maka perwatakan dari perseteruan itu saya gambarkan melalui hewan kucing dan tikus. Kalau tikus sama kucing itu ndak mungkin bisa guyon, mesti tikusnya dimongso (dimakan). Nah, pada umumnya si tikus kalah. Tapi di karya saya ini, tikusnya yang menang karena mereka menggalang persatuan. Kucingnya cuma satu, sekuat apapun dia, kalau tikusnya banyak, pasti tidak akan menang. Makanya, sekuat apapun, setinggi apapun pangkat seseorang, kalau ia tidak mau mengerti dengan orang kecil, maka ia akan sirna…Sementara, dari khasana budaya Using, saya mengembangkan dari Kuntulan, yakni Kuntul Kemesut…terinspirasi dari banyaknya bencana di Indonesia, mulai tsunami Aceh, Gempa Yogya, dan lain-lain. Nah, waktu itu banyak orang Muncar (wilayah pelabuhan nelayan di Banyuwangi, pen) yang risau dan resah karena diisukan akan terjadi tsunami juga. Kemesut itu artinya kaget, seperti orang-orang itu yang pada bingung dan resah. Kebetulan pula, secara nyata, sekarang banyak burung bangau yang bingung karena ulah para penembak.”

Kepekaan terhadap permasalahan masyarakat, baik yang berlangsung di lingkup regional maupun nasional, yang ditransformasikan ke dalam karya koreografis merupakan bentuk respons sosio-kultural para seniman Banyuwangi dalam bentuk bahasa seni tari. Tentu bukan hanya Alex Jokomulyo yang melakukan proses kreatif tersebut, tetapi juga para seniman/wati tari lainnya. Artinya, sebagai manusia kreatif yang mewarisi tradisi berkesenian secara turun-temurun melalui proses pembelajaran dari para seniman/wati senior, para seniman/wati tari Banyuwangi bukan hanya memiliki kelihaian dalam berkarya, tetapi juga memiliki tanggungjawab sosio-kultural melalui pesan-pesan yang mereka sampaikan dalam karya. Perpaduan antara kemampuan kreatif dan tanggung-jawab sosio-kultural inilah yang menjadikan para seniman/wati sanggar bukan hanya mengejar kepuasan materi, tetapi juga menegosiasikan nilai dan makna terkait bagaimana masyarakat seyogyanya memahami persoalan yang mereka hadapi.

Yang tidak kalah menariknya adalah model tari garapan yang diperuntukkan untuk anak-anak. Dunia anak yang masih membutuhkan ruang dan waktu bermain, tentu tidak bisa dipaksakan dengan tari garapan yang njlimet dan membutuhkan skill individual yang terlalu tinggi. Untuk para siswa didik yang masih duduk di bangku SD, para seniman/wati sanggar biasanya akan memilih gerakan-gerakan yang tidak jauh dari dunia mereka sehari-hari. Selain itu mereka juga dibiasakan dengan gerakan-gerakan yang mengedepankan sifat komunal atau kebersamaan. Hal itu tidak berarti tari garapan yang melibatkan anak-anak tidak mengandung pesan kultural. Sebaliknya, melalui tari-tari garapan itulah mereka sejak awal akan belajar tentang kebersamaan serta nilai-nilai positif lainnya, seperti perjuangan kolektif untuk berhasil dalam kehidupan, dan lain-lain.

Kalau ditilik lebih jauh lagi, pilihan tari garapan yang relatif mudah dan dekat dengan dunia anak-anak menghasilkan beberapa cara pandang dalam hal kreativitas berbasis ketradisionalan. Pertama, pengenalan semangat kreatif sejak usia dini akan memberikan keuntungan kultural bagi aktivitas pengembangan kesenian tradisional dengan menyiapkan generasi penerus. Kedua, pengenalan gerakan-gerakan tari tradisional yang mengedepankan keguyuban/komunalisme menjadikan para siswa didik menemukan keasyikan layaknya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kebersamaan selama proses latihan dan pagelaran yang didukung oleh karya koreografis yang menyampaikan pesan komunalisme akan memberikan pemahaman secara dini tentang keutamaan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan sosial. Ketiga, penanaman kedisiplinan dalam proses latihan dan pageralaran akan melatih anak-anak tentang etos kreativitas serta menyiapkan pikiran dan mental mereka dalam mengimajinasikan karya-karya kreatif di masa mendatang.

Untuk menciptakan sebuah tari garapan, seorang seniman tari memang tidak bisa mengerjakannya sendiri. Biasanya, setelah menemukan sebuah ide garapan, ia akan berkonsultasi dengan seniman/wati lain yang sama-sama berasal dari satu sanggar. Atau, ia bisa berdiskusi dengan seniman/wati yang lebih senior tentang kemungkinan untuk mengembangkan ide tersebut ke dalam sebuah tari garapan. Hal itu penting dilakukan karena bisa jadi si seniman membutuhkan masukan-masukan untuk lebih menyempurnakan gerakan-gerakan tari yang akan ia kembangkan. Setelah beberapa gerakan memungkinkan untuk digarap, si seniman akan berdiskusi dengan para tukang panjak/pengrawit tentang ilustrasi musik yang bisa digunakan untuk mengiringi tari garapan tersebut. Tidak jarang, dari proses diskusi dan latihan dengan para pengrawit, ada masukan-masukan baru dari mereka terkait gerakan-gerakan tari yang akan digarap. Keguyuban dalam proses kreatif inilah yang menjadikan sebuah tari garapan dari Banyuwangi sangat dinamis, baik dalam aspek rancak gerak maupun musiknya.

Kesimpulan

Beberapa kesimpulan bisa diformulasikan sebagai berikut. Pertama, sanggar seni di Banyuwangi merupakan institusi yang berusaha menegosiasikan secara ajeg kekayaan budaya lokal kepada generasi muda melalui model-model latihan yang menyenangkan. Dengan berlatih di sanggar melalui bimbingan para seniman/wati senior, mereka perlahan tapi pasti bisa mengenal, memahami, dan menikmati kesenian tradisional, baik yang berbasis tari maupun musik.

Kedua, para seniman/wati Banyuwangi yang berkiprah melalui sanggar mampu melakukan terobosan kultural-inovatif dengan memproduksi karya-karya garapan berbasis kesenian tradisional. Ketiga, dalam melakukan terobosan kultural-inovatif, para seniman/wati tetap berpegang teguh kepada kekayaan gerak tari Banyuwangi, sembari mengeksplorasinya untuk menghadirkan karya-karya besar dengan pesan-pesan kultural yang sesuai dengan kondisi zaman. Keempat, melalui sanggar dan karya-karya kontemporer itulah para seniman/wati berhasil menjadi aktor kultural yang terus menegosiasikan kekuatan budaya lokal di tengah-tengah modernitas saat ini. Dengan kata lain, mereka mampu “menyerbukkan kreativitas seni” dengan tetap mengeksplorasi kekayaan budaya lokal serta memberikan makna-makna baru yang relevan dengan kondisi dan permasalahan terkini.

Keterangan

Penelitian bersama: Albert Tallapessy – Andang Subaharianti – Ikwan Setiawan

Tulisan ini merupakan hasil adaptasi dari sebagian penelitian yang berjudul “Menyerbukkan Kreativitas: Model Pengembangan Kreativitas Kaum Muda dalam Sanggar Seni Using sebagai Penopang Budaya Lokal dan IndustriKreatif di Banyuwangi”. Terima kasih diucapkan kepada Ditlitabmas Dikti yang telah memberikan pendanaan atas penelitian tersebut. Tulisan ini dipresentasikan pada Konferensi dan Seminar Internasional IKADBUDI IV di Universitas Jember, 8-9 Oktober 2014.

Daftar Pustaka

Anoegrajekti, Novi. “Nyanyian Gandrung: Membaca Lokalitas dalam Keindonesiaan.Makalah disajikan dalam Seminar Internasional HISKI, Jakarta, 7-10 Agustus 2006.

_______________. 2004. “Pengembangan Gandrung Banyuwangi dalam Rangka Penguatan Aset Budaya dan Industri Wisata”. Laporan Hasil Penelitian Hibah BersaingDP2M-DIKTI Tahun II. Jember: Lembaga Penelitian Universitas Jember.

_______________. 2002. “Pengembangan Gandrung Banyuwangi dalam Rangka Penguatan Aset Budaya dan Industri Wisata”. Laporan Hasil Penelitian Hibah BersaingDP2M-DIKTI Tahun I. Jember: Lembaga Penelitian Universitas Jember.

Banerjee, Indrajit, “The Local Strikes Back?: Media Globalization and Localization in the New Asian Television Landscape”, dalam Gazette: The International Journal for Communication Studies, Vol. 64, No. 6, 2002.

Gills, Barry K. “Democratizing Globalization and Globalizing Democracy”, dalam Jurnal ANNALS of the American Academy of Political and Social Science, May 2002.

Kien, Grant, “Culture, State, Globalization: The Articulation of Global Capitalism”, dalam Jurnal Cultural Studies <->Critical Methodologies, Vol. 4, No. 4, 2004.

Robertson, Roland & Kathleen E. White.2007. “What Is Globalization?”, dalam George Ritzer (et.al). The Blackwell Companion to Globalization. Malden (USA): Blackwell Publishing.

Sariono, Agus, Andang Subaharianto, Heru SP. Saputra, & Ikwan Setiawan. 2009. Rancak Tradisi dalam Gerak Industri: Pemberdayaan Kesenian Tradisi-Lokal dalam Perspektif Industri Kreatif(Belajar dari Banyuwangi). Laporan Penelitian Hibah Strategis Nasional (belum dipublikasikan). Jember: Fakutas Sastra Universitas Jember.

Setiawan, Ikwan. “Contesting the Global: Global Culture, Hybridity, and Strategic Contestation of Local Cultures”, dalam Jurnal, Bulak, 2009. Pusat Studi Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

_____________. “Transformasi Masa Lalu dalam Nyanyian Masa Kini: Hibridasi dan Negosiasi Lokalitas dalam Musik Populer Using”, dalam Jurnal Kultur, Vol. 1, No. 2, September 2007.

Sparks, Collin, “What’s Wrong with Globalization?”, dalam Jurnal Global Media and Communication, Vol. 3, No. 2, 2007.

Subaharianto, Andang & Ikwan Setiawan. 2012. Menjadi Sang Hibrid: Hibriditas Budaya di Masyarakat Lokal. Laporan Penelitian Hibah Fundamental Tahun II (proses publikasi di jurnal). Fakultas Sastra Universitas Jember.

Turner, Victor.1974. Dramas, Field and Metaphors. Itacha: Cornell University Press.

Wise, J. Macgregor.2008. Cultural Globalization: A User’s Guide. Victoria: Blackwell Publishing.

Sumber foto: http://jinggo-sobo.blogspot.co.id/

Share This:

About Ikwan Setiawan 160 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*