Mengalir seperti Air: Keteguhan dan Eksplorasi Kreatif Sahuni

Angin semilir mengiringi perjalanan kami (penulis dan seorang mahasiswa yang menjadi fieldworker) menuju Singojuruh, tempat tinggal Sahuni. Di dampingi istri tercintanya, ia menyambut kedatangan kami dengan senyum ramah layaknya “seorang bapak kepada anak-anaknya”. Pria berkumis tebal berusia 65 tahun ini mempersilakan kami duduk di ruang tamu ditemani secangkir kopi dan teh. Meskipun baru pertama kali bertemu dengan pencipta tari Punjari, Kundaran, dan beberapa tari garapan lainnya ini, penulis bisa langsung menemukan keakraban serta mengikis semua stigma negatif tentang orang Banyuwangen yang diisukan dekat dengan ilmu sihir. Bersama Sahuni, kedekatan dan keakraban telah melahirkan sebuah pertemanan kultural yang menyambungkan hati di antara kami. Akibatnya, wawancara yang menjadi niatan awal kami menemuinya tidak lagi terkesan sebagai prosedur penelitian lapangan, tetapi obrolan penuh canda-tawa yang menghasilkan banyak masukan dan pelajaran dari seorang empu kesenian kepada para cantrik-nya yang sedang menimba ilmu, termasuk pandangan-pandangan kritisnya tentang kondisi kesenian dan kebudayaan Banyuwangen.

Pada diri seorang Sahuni, beragam julukan layak diberikan, meskipun ia sendiri tidak pernah mengharapkannya. Ia yang tumbuh di lingkungan Using Singojuruh, adalah contoh seniman yang langsung mengalami peristiwa-peristiwa sosio-kultural yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Persinggungannya dengan kebudayaan lokal Banyuwangi adalah laku sehari-hari yang dilakoninya sejak kecil. Pengalaman dan keterlibatan secara kreatif dan praksis itulah yang menjadi inspirasi terbesar dalam karya-karya estetiknya saat ini. Di samping itu, ia adalah intelektual kultural yang terlahir langsung dari Bumi Blambangan. Kegigihannya untuk mengobservasi dan melibatkan diri secara partisipatoris dalam gerak kultural Banyuwangi menjadikannya punya penilaian bahwa “yang dibutuhkan oleh kesenian Banyuwangen saat ini adalah orang-orang yang bisa memahami bentuk dan makna yang terkandung dalam karya estetik secara metodologis, tidak asal ngomong”. Karena menurutnya, “banyak mereka yang mengaku budayawan tetapi tidak mampu memahami hakekat tujuh unsur kebudayaan yang melekat dan dijalani oleh orang-orang Banyuwangi, termasuk keseniannya, sehingga saat ini belum ada metode yang jelas tentang pakem-pakem kesenian yang berkembang” (Wawancara, 23 Oktober 2009).

Persoalan metode pakem bagi para seniman tradisi-lokal memang bisa dikatakan “tidak penting” dan “penting”. Menjadi tidak penting karena para pelaku seni tradisi-lokal secara turun-temurun sudah mempraktikkan dan menularkan aturan-aturan permainan dan struktur estetik dari kesenian yang mereka geluti dari zaman dulu. Sebagai bentuk tradisi lisan (oral tradition) pakem memang bukan menjadi aturan yang dituliskan secara formal, tetapi ditularkan dari mulut ke mulut secara terus-menerus sehingga para praktisinya menjadi hafal di luar kepala. Selama ini, metode gethok-tular memang tidak pernah menimbulkan masalah karena cara penyampaian yang langsung melalui praktik. Namun, metode pakem menjadi penting mengingat semakin banyak pewaris aktif kesenian tradisi-lokal yang mangkat dan pada saat yang bersamaan banyak kaum muda yang sudah terbiasa dengan jagat kesenian modern menjadi malas untuk mendengarkan atau ikut berlatih kesenian tradisi-lokal. Dengan demikian, penyusunan metodologis menjadi penting karena dengan adanya tulisan-tulisan mengenai pakem, kaum muda yang lahir dari tradisi tulis (literacy) mendapatkan bahan yang bisa dipelajari untuk kemudian mempraktikkannya.

Pemahaman Sahuni tentang metode pakem kesenian tradisi-lokal memang tidak terlahir begitu saja. Ia mendapatkan inspirasi tersebut dari proses belajar panjangnya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo (sekarang ISI Solo). Bagaimanapun juga, endapan-endapan matakuliah yang ia dapatkan di bangku kuliah, tetaplah membekas dan menjadi impiannya ketika ia kembali ke Banyuwangi. Konsentrasi studinya dalam bidang etnomusikologi menjadikannya harus belajar banyak tentang ragam alat dan pola estetik musik Banyuwangen, baik yang berasal dari instrumen gandrung maupun angklung. Pilihan itulah yang kemudian menghasilkan komposisi untuk tugas akhirnya yang berjudul Banyu Mili. Konsep pertunjukan yang diusung dalam komposisi Banyu Mili adalah kolaborasi beberapa instrumen musik etnis Banyuwangen, seperti rebana, angklung, dan gamelan yang menjadi dasar instrumen dari lima jenis kesenian Banyuwangi, yakni gandrung, angklung, gandrung, hadrah, dan damarwulan, serta dipadu dengan lengkingan suara pesinden.
Tentang komposisi Banyu Mili, wartawan Suara Merdeka, Sarono Asikin, mencatatnya dalam ulasan pertunjukan ketika Sahuni dan Komunitas Udan Angin Sanggar Seni Sidopekso pentas untuk merayakan ulang tahun Yayasan Greget Semarang:

Pada air yang mengalir (banyu mili), ada kekuatan di luar yang dimiliki manusia. Dan, air yang mengalir itu adalah simbol dari kehidupan. Filsafat seperti itu diyakini Sahuni ketika suatu hari melihat air mengalir di sebuah sungai. Lalu, dari lelaki Osing itu lahir komposisi musikal ”banyu mili” yang mendasarkan kreativitas penciptaannya pada musik etnis daerahnya, Banyuwangi…Menyaksikan sajian musik dari Banyuwangi itu terasa ada pikatan dan pesona yang aneh. Keanehan atau mungkin keasingan serupa itu mungkin juga dirasakan sebagian besar penonton yang selama ini lebih akrab dengan musik tradisional Jawa. ”Banyu Mili” dibuka oleh tarikan vokal sinden Supinah yang berdinamika terus meninggi, lengkap dengan cengkok Banyuwangen yang mendayu-dayu serupa aliran air. ”Emak, Bapak, sun ngendhika nganggo tembang lan gendhing …,” jerit sinden dalam lagu pembukanya. Sebelum baris-baris lagu itu habis, timpukan bunyi rebana telah mengentak disusul pukulan pada bilah angklung yang lalu diserentaki dengan permainan gamelan. Lagu-lagu berikutnya pun tersaji dengan pola permainan musik serupa. Dan, dahsyatnya komposisi yang ditajuki ”Banyu Mili” itu dimainkan tanpa jeda sepanjang lebih kurang 25 menit. Akan tetapi memang tak mudah mencerna garapan Sahuni yang bersandar pada lima jenis musik khas Banyuwangi seperti angklung, grandrung, patrol, hadrah, dan damarulan. Dia memadukan semua unsur musik itu menjadi sebuah garapan. ”Saya bersandar pada suasana yang hendak saya bangun. Ambil contoh, kalau ingin suasana sedih, musik gandrung yang jadi pijakan. Untuk suasana yang tegang misalnya, saya ambil hadrah. Akan tetapi tetap semua itu lalu dipadukan,” jelas Sahuni. Pada tataran itu semakin sulit pula mencerna harmonisasi yang berusaha dilakukan penggarapnya. Singkatnya, betapa sulit memadukan keragaman jenis musik yang diusung yang notabene berbeda-beda aspek bunyinya, menjadi sebuah garapan yang harmonis. ”Harmonisasi tercipta lewat dramatika musikalnya,” tandas lelaki yang mengawali komposisi musik ”Banyu Mili” sebagai tugas akhir studinya di STSI Solo itu. Dramatika yang dimaksudkan tentu saja suasana yang dibangun dalam sebuah lagu. Sekadar analogi, konsep garapan serta cara memainkan intrumentasi yang bertumpu pada dramatika musikal itu mengingatkan orang pada mainstream jaz. Dan, dengan tertawa Sahuni mengakui hal itu. (Asikin, Sarono, “Sinden Supinah dan Alunan Banyu Mili”, dalam Harian Suara Merdeka, 4 Mei 2004)

Kesadaran filosofis dan kesadaran kultural jelas menjadi landasan utama bagi proses kreatif yang dijalani oleh Sahuni. Kesadaran seorang filosofis bagi seorang seniman yang lahir dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan budayanya bisa lahir dari inspirasi dalam kehidupan sehari-hari. Banyu mili (air mengalir), misalnya, tidak akan bisa dibendung secara total, karena ia akan terus mencari celah untuk mengalir. Air itu akan terus mengalir mencari celah. Air itu bisa menghidupkan sekaligus menghancurkan. Begitupula dengan kemerdekaan kreatif bagi seorang seniman yang selalu mengalir, menembus ruang-ruang kreativitas yang bersumber dari banyak inspirasi, tidak bisa dipaksa dan tidak bisa dikekang. Kesadaran akan potensi yang dimiliki oleh musik lokal, menjadikannya sadar bahwa ramuan kolaboratif akan menjadikan suguhan yang inovatif tetapi tetap bersandar pada keragaman dan kekayaan budaya lokal Banyuwangen. Prinsip itulah yang menjadi landasan proses kreatif yang bagi Sahuni dan para anggota sanggar seninya.

Dengan kesadaran filosofis dan kesadaran kultural, Sahuni juga berhasil menciptakan komposisi tari yang diolah dari khasana tari tradisi-lokal, seperti Punjari, Paju Gandrung, dan Gandrung Lukinto. Menurut Sahuni, tari Banyuwangen secara spesifik memiliki fondasinya pada Gandrung, sehingga ia dan juga para koreografer lainnya menciptakan variasi-variasi gandrung dengan banyak label baru. Di samping beragam tarian, Sahuni juga berhasil menciptakan perpaduan gerak tari Banyuwangen dengan rancaknya musik kuntulan sebagai khasana budaya Islam-kultural di Bumi Blambangan. Rancak musik rebana dipadu dengan gamelan Banyuwangen yang terbuat dari baja, dipadukan dengan gerak tari rancak, sehingga menghasilkan jenis pertunjukan yang disebut Kundaran. Tari ini merupakan bentuk inovatif-transformatif dari kesenian hadrah (murni tabuhan rebana) yang berkembang menjadi kuntulan (gerak, musik, dan lagu), dan pada akhirnya mewujud Kundaran. Menurut Sahuni, pada Hadrah dan Kuntulan masih sangat jelas tujuan dakwah di dalam pertunjukan, tetapi ketika sampai pada Kundaran, nilai dakwah tersebut terkikis oleh aspek hiburan meskipun tetap bernafaskan Islam (Wawancara, 23 Oktober 2009).

Kecintaannya pada keragaman musik Banyuwangen membuatnya terus bereksplorasi dan tidak sebatas berhenti pada tugas akhir skripsi. Salah satu komposisi garapannya yang sangat menarik adalah Udan Angin, sesuai dengan nama komunitasnya. Komposisi ini pernah ditampilkan dalam ajang G-Walk Festival 2008 di Surabaya. Wartawan Kompas memberikan ulasannya sebagai berikut:

Komunitas Musik Udan Angin Pimpinan Sahuni yang dikenal sebagai komposer etnik Banyuwangi ini dalam suguhannya menghadirkan kolaborasi empat unsur rasa musikal khas tanah Osing meliputi, musik Kuntulan, Damar Wulan, Gandrung dan Klutuk. Dalam gubahan musik Udan Angin terinspirasi dari banyaknya bencana alam yang ditimbulkan, di antaranya, bencana angin puting beliung, banjir bandang dan terpaan gelombang dan angin laut yang menenggelamkan nelayan. “Sebulan saya mempersiapkan Udan Angin ini dan G-Walk Festival menjadi tempat pertama kami tampil,” kata Sahuni. Keunikan musik Udan Angin yang dipersembahkan oleh Komunitas Udan Angin Sanggar Seni Sido Pakso Banyuwangi ini, terletak pada gubahan musiknya yang menggabungkan unsur musik tari Gandrung, unsur musik teater rakyat Damar Wulan, unsur musik Kuntulan dan unsur Klutuk (klintingan terbuat dari kayu yang dipakai kalung untuk sapi- red). “Instrument musik yang kami gunakanan meliputi Rebana, Patrol, Klutuk, Kendang Rampak, Suling, Terompet, Jidor Bang, Pantus atau Lencengan, Kecrek, Bende dan Gong Kempul,” kata Sahuni. Dalam aksi pangggungnya, kelompok musik Udan Angin yang melibatkan 20 orang seniman/pemusik asal Desa Singojuruk, ini menghadirkan dua repertoar berjudul Rampak Terbang-Kendang dan Karapan Sapi. Puncak dari pergelaran pamungkas G-Walk Festival 2008 ini menyuguhkan aksi tarung alias jam session kedu a komunitas musik asal Jembrana dan Banyuwangi itu dalam aktraksi tetabuhan rancak nan rampak penuh energi dan gairah.(“Jegog dan Udan Angin Pungkasi G-Walk Festival 2008”, 27 Juli 2008, dalam http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/27/19470794/function.simplexml-load-file, diakses 28 Juli 2009).

Kreativitas eksploratif Sahuni dan komunitasnya, terbukti mampu melahirkan karya-karya musikal yang mendapatkan apresiasi cukup bagus, meskipun masih sebatas pada penonton festival dan belum menjangkau penonton awam. Kegigihan dan keyakinan dalam mengeksplorasi musik-musik etnis Banyuwangen, telah mengantarkannya keliling beberapa negara, seperti Eropa (selama 3 bulan), Amerika Serikat (1 bulan), Australia (1 minggu), dan beberapa negara Asia. Pengalaman-pengalaman internasional inilah yang semakin memperkokoh keyakinan Sahuni untuk tetap menekuni eksplorasi musik etnis Banyuwangen sampai sekarang.

Kekayaan musik etnis Banyuwangen bagi Sahuni memang menjadi lahan dan sumber kreativitas yang akan terus berkembang secara dinamis, asalkan para seniman musik tetap sadar untuk terus mengeksplorasinya. Namun, dalam pandangan Sahuni, para seniman musik Banyuwangi saat ini lebih mengarah pada genre musik yang dipengaruhi musik modern sehingga tidak kurang menggali kekayaan tradisi-lokal Banyuwangen.

“Para musisi Banyuwangen sekarang itu sudah kehilangan spesifikasi tradisinya. Mereka lebih banyak dipengaruhi oleh musik ‘internasional’ karena lebih banyak menggunakan nada diatonis dalam penciptaannya. Sementara, musik Banyuwangen itu kan landasannya pentatonis. Nah, kalau mereka sekarang pakai diatonis, berarti kan ada kres ada mol. Itu tidak sesuai dengan nada-nada Banyuwangen. Jadi memang, lagu-lagu Banyuwangen sekarang itu belum jelas konsep metodiknya, karena rata-rata masih menuruti selera pasar. Selera pasar itu dituruti karena masih merasakan lapar. Kalau mereka terus berkarya dalam nada diatonis, maka mereka itu sudah kehilangan spesifikasi Banyuwangen-nya. Saya tidak mau seperti itu. Saya tetap mau menggali kekayaan budaya lokal.” (Wawancara, 23 Oktober 2009)

Pernyataan Sahuni di atas tentu bukan dimaksudkan sebagai usaha untuk menyalahkan para seniman musik pop etnis di Banyuwangi. Baginya, itu semua tidak menjadi masalah karena itu terkait dengan selera dan pilihan untuk masuk ke dalam industri rekaman. Pernyataan tersebut lebih diarahkan sebagai kritik konstruktif agar para seniman musik Banyuwangen tidak melupakan akar tradisinya, sehingga karya-karya mereka tetap menjejakkan pada kekayaan tradisi-lokal.

Pilihan sikap kreatif dan keyakinan untuk menghidupkan kekayaan budaya lokal Banyuwangen melalui karya-karya eksploratif, menjadikan Sahuni sampai sekarang tidak mau masuk ke dalam ranah industri, tetapi tetap bergerak dalam ranah industri kreatif pertunjukan, bukan digital. Melalui pertunjukan-pertunjukan musik dan koreografisnya, Sahuni berhasil mengumpulkan SDM-SDM kreatif di sanggarnya. Dengan konsep sanggar dan pertunjukan tersebut, Sahuni bisa menghadirkan keuntungan finansial kepada para anggotanya dan juga para seniman lain yang direkrutnya ketika hendak menampilkan komposisi-komposisi kreatif. Dengan demikian, meskipun Sahuni tidak masuk ke dalam industri rekaman yang sangat kapitalistik, ia tetap mampu menggerakkan kretivitas dalam konteks pertunjukan dan sanggar sehingga ia sekaligus mempersiapkan insan-insan kreatif yang mempunyai pengetahuan inovatif-estetik sebagai landasan utama industri kreatif.

Kesadarannya untuk terus menularkan kesadaran dan pengetahuan kreatif bagi kaum muda Banyuwangi dibuktikannya dengan melakukan pelatihan-pelatihan dan pemberian wawasan serta wacana tentang teknik dan keutamaan kesenian tradisi-lokal. Bagi Sahuni, memberikan pendidikan tari sejak dini kepada generasi muda, utamanya anak-anak dan pelajar, menjadi sangat penting bagi perkembangan kebudayaan Banyuwangen sekaligus memberikan manfaat bagi para pelakunya. Dalam sebuah kesempatan silaturahmi keluarga besar Sanggar Seni Jinggo Saba, Wonosobo, Banyuwangi, 24 Oktober 2009, ia memberikan beberapa wejangan sebagai berikut:

“Tunas-tunas kita ini perlu mendapatkan bentuk ketrampilan, antara lain ketrampilan tari. Mengapa saya harus menandaskan ini? Karena tari di Banyuwangi belum punya metode tari yang khusus, sehingga apapun yang terjadi ini diterima saja dulu. Nanti mudah-mudahan usaha kita akan berhasil agar Banyuwangi punya metode khusus untuk tarinya, termasuk musik, lagu dan sebagainya. Saya percaya, adik-adik ini punya bakat, tetapi kalau bakat ini tidak didorong oleh orang tua, akan terpendam, kasihan nanti…Tari adalah ketrampilan yang harus diterima adik-adik, diajari, dilakukan. Saya setuju sekali bahwa bukan hanya dewasa, tari itu lebih luwes, lebih afdol karena secara gerakan lebih maton. Apabila sang guru memberikan gerak A, maka anak-anak melakukan gerak A. Nah itu akan dibawa sampai dewasa. Ini ciri khasnya tari. Kalau sudah terjadi begitu, apa kontribusinya tari terhadap individu? Kalau tari sudah berhasil dipahami, dilaksanakan, dan dicermati, punya satu jiwa dalam bentuk gerakan, kalau itu dikuasai tidak gampang dan tidak mudah hilang. Dan kontribusinya akan membangun individunya. Seperti saya, umpamanya, dari kecil menari sampai tua menari. Kontribusinya besar. Jadi, pertama, saya bisa tahu bagaimana situasinya luar negeri dan dalam negeri. Terus kemudian, tingkat finansialnya ada imbangannya juga. Bukan hanya artis yang bisa menerima penghasilan besar, tetapi penari juga bisa. Itulah kontribusi tari bagi individu. Mudah-mudahan bisa dipahami adik-adik. Dan, jangan putus, artinya kalau orang tua mendorong, sikap mental kita harus sesuai dengan kebijakan kita sebagai seorang penari…Insyaalloh, kalau saya masih panjang umur, adik-adik akan tetap saya angkat, baik di forum, lokal, nasional, maupun internasional. Saya tidak mau kalau adik-adik sudah menari tidak sekolah. Saya tidak mau itu. Artinya, sekolah itu adalah bekal pengetahuan yang harus diserap, tari itu adalah bekal ketrampilan yang harus dipahami dan dicermati. Sehingga dasar tari itu adalah latar belakang pendidikannya cukup.”

Wejangan di atas diberikan kepada para siswa sanggar yang rata-rata masih duduk di SD, SMP, dan SMA. Tampak jelas bahwa Sahuni terus berusaha mendorong dan mendongkrak spirit berkesenian, khususnya tari, bagi generasi muda Banyuwangi karena bisa memberikan banyak keuntungan, termasuk finansial maupun kesempatan untuk tampil dalam even-even lokal, nasioanl, dan internasional. Usaha ini adalah bentuk ‘kampanye’ untuk peningkatan kreativitas yang menjadi bekal utama dalam industri kreatif.

Keteguhan, keyakinan, dan kemauan Sahuni untuk terus belajar menggali kekayaan tradisi-lokal Banyuwangen serta usaha untuk terus memberikan pendidikan kepada generasi muda harus diapresiasi sebagai bentuk perjuangan bagi pemberdayaan budaya lokal agar terus bisa bertahan dan berkembang di tengah-tengah transformasi sosio-kultural masyarakat. Nilai penting dari apa-apa yang dilakukan Sahuni dan juga para seniman yang seide dengannya adalah pengyebarluasan pengetahuan kreativitas yang menjadi modal utama bagi pengembangan dan pemberdayaan industri kreatif berbasis kekayaan tradisi-lokal yang begitu beragam, sehingga kreativitas menjadi langkah awal untuk bisa mengolanya menjadi karya-karya baru yang eksploratif, inovatif, dan sesuai dengan semangat dan transformasi zaman. Sungguh sangat disayangkan ketika para penentu kebijakan tidak bisa membingkai kegigihan para seniman pertunjukan dalam bentuk program-program pemberdayaan yang terarah dan terkonsep dengan baik.

Share This:

About Ikwan Setiawan 160 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*