KETIKA ANAK-ANAK MENABUH GAMELAN BANYUWANGEN

Suasana Balai Dusun Sumberagung, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, Banyuwangi, sangat semarak sore ini (6 Desember 2015). Sekira 10 anak berlatih gamelan Banyuwangen dengan arahan dua maestro muda, Mas Ridwan (Rumah Produk Gamelan) dan Mas Dwi Agus Cahyono. Dengan penuh semangat mereka menabuh seperangkat gamelan. Tanpa partitur, kedua seniman itu mengarahkan anak-anak cara menabuh dan memainkan nada. “Tidak ada metode pakem untuk pembelajaran gamelan Banyuwangen. Kami main dengan rasa. Kalau rasa sudah menyatu, anak-anak akan mudah diarahkan,” begitu kata Mas Ridwan yang diiyakan Mas Dwi. Ya, latihan sore ini adalah bagian dari rangkaian proses kreatif yang dijalani anak-anak siswa SD tersebut.

Ihwal dilaksanakannya pelatihan rutin ini berasal dari rembugan kecil di rumah Mas L Lang. Ada satu permasalahan yang kerap dialami oleh para seniman sanggar, yakni sering bentroknya jadwal pertunjukan, sehingga panjak berada dalam posisi sulit, ditarik sana-sini. Untuk itulah dibutuhkan sebuah desain pelatihan yang ditujukan untuk menyiapkan para seniman panjak sejak usia dini. Memang, di beberapa sekolah SD, SMP, dan SMA, sudah ada ekstrakurikuler gamelan. Namun, itu belum cukup karena hanya sebatas kegiatan di sekolah. Di sanggar-sanggar seni, kebanyakan panjaknya adalah para seniman senior. Maka, kami memutuskan untuk membuat sanggar yang khusus melatih panjak kecil.

 

Ikhtiar ini, paling tidak, bisa memberikan satu kesempatan bagi anak-anak usia SD untuk mengenal cara menabuh dan cara memainkan gamelan Banyuwangen, sehingga membentuk instrumen lagu. Para seniman selama ini memang mengharapkan perhatian pemerintah kabupaten, tetapi sangat sulit terwujud. Kebanyakan seniman hanya diminta untuk menjadi duta Banyuwangi dalam event-event yang diselenggarakan pemerintah, baik tingkat provinsi maupun pusat. Aspek regenerasi kurang diperhatikan, sehingga semua ikhtiar kultural lebih bersifat personal dan komunal sanggar.

 

Setelah membeli seperangkat alat gamelan senilai 20 juta (bantuan dana hibah pengabdian beberapa dosen Fakultas Sastra Universitas Jember), dimulailah pelatihan sejak 3 bulan yang lalu. Dalam naungan Sanggar KUWUNG WETAN (Pelangi dari Timur), anak-anak berlatih. Tidak muluk-muluk, yang terpenting bisa mengenal dan memainkan gamelan. Apakah usaha ini bisa dikategorikan sebagai usaha untuk mengembangkan budaya Banyuwangen? Tidak usah labelisasi itu. Yang terpenting adalah anak-anak dan para seniman yang terlibat dalam pelatihan ini sudah melakukan “ikhtiar kultural” untuk menunjukkan bahwa masih ada yang mau menghidupkan kesenian di ujung timur Jawa ini.

 

Di tengah-tengah keterbatasan fasilitas, semisal tempat permanen untuk latihan, mereka terus menjalankan latihan secara rutin. Untungnya, perangkat dusun mengizinkan Balai Dusun sebagai tempat latihan mereka. Tentu, mereka juga ingin memiliki tempat latihan permanen. Namun, mereka juga sadar, bahwa jalan untuk itu masih panjang. Dan, tidak perlu menunggu uluran fasilitas dari Dinas terkait untuk latihan. Itu sama saja dengan menunggu Godot yang tidak jelas kapan datangnya.

Ketika uang milyaran digunakan untuk Kongres Kesenian atau Kongres Kebudayaan yang seringkali tidak menghasilkan apa-apa selain rekomendasi tanpa gaung dan makan malam di hotel mewah, anak-anak SD dan para seniman yang terlibat dalam pelatihan ini langsung bergerak; menjalankan usaha untuk terus menegosiasikan budaya Banyuwangen di tengah-tengah perubahan sosial masyarakat. Meskipun belum hafal UUD 1945, mereka sudah berusaha untuk menjalankan amanah konstitusi tentang budaya bangsa.

Salam dari Brang Wetan
Ikwan Setiawan
MATATIMOER

Share This:

About Ikwan Setiawan 148 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*