Merah Berpendar di Brang Wetan: Musik Banyuwangen dalam Tegangan Politik 1965 dan Orba (Bagian II)

C. Pilihan Tematik yang ‘Mengancam’
Meletusnya G 30 S 1965 menjadikan para seniman dan sastrawan yang awalnya bergabung dengan Lekra karena kesamaan visi ideologis dalam memandang kesenian rakyat harus menanggung penderitaan hidup akibat kesalahan yang tidak pernah mereka lakukan. Beberapa permasalahan terkait proses kreatif dan kehidupan seniman anggota Lekra yang kami angkat dalam subbab ini adalah: pertanyaan kritis yang bisa diajukan antara lain: (1) pilihan tematik dalam lagu-lagu Banyuwangen yang diciptakan oleh para seniman anggota Lekra; (2) kehidupan mereka ketika lagu-lagu mereka dicap sebagai lagunya komunis pasca G 30 S 1965; (3) siasat yang dilakukan para seniman Banyuwangi lainnya untuk menyelamatkan mereka agar bisa berkarya lagi.

1. Ketika Lirik-lirik Kerakyatan Dipersalahkan: Pengalaman Andang C.Y

Andang Chatib Yusuf, salah satu sastrawan dan pencipta lirik lagu yang cukup terkenal di era 60-an, pernah merasakan kehidupan menyedihkan akibat stigmatisasi PKI dan Lekra. Kehilangan pekerjaan sebagai guru dan istri tercintanya adalah resiko politik dan kultural yang harus ia tanggung setelah meletusnya G 30 S 1965 karena ia adalah anggota sekaligus pengurus Lekra Banyuwangi. Alat untuk memperkuat justifikasi tersebut adalah lirik-lirik lagunya yang bernuansa alam, tetapi secara simbolis lebih dekat dengan persoalan kerakyatan. Lagu Kembang Galengan, Perawan Sunti, Luk-luk Lumbu, Kembang Pethetan, Kali Eluh, Kembang Peciring, dan lain-lain, memang tidak diplesetkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menstigmatisasinya sebagai komunis, tetapi kedekatan tematiknya dengan nasib rakyat jelata serta keterlibatannya di Lekra, menjadikannya harus berhadapan dengan mekanisme stigmatik rezim militer.

Andang yang sekarang usianya sudah 80 tahun lebih dan telah menunaikan ibadah haji adalah seniman yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan alam dan masyarakat Banyuwangi. Pengalaman masa kecil, pengaruh didikan di sekolah, dan kedekatan dengan para seniman senior ikut mempengaruhi kemampuan kreatifnya dalam menulis lirik-lirik lagu yang kaya akan metafor-metaror alam dengan makna-makna yang dekat dengan persoalan rakyat kecil. Dengan suara lirih tapi tetap energik, ia menuturkan:

“Saya masih ingat ketika kecil dimandikan ibu di sumber (mata air, pen) sambil dikudang (dinyanyikan lagu daerah, pen). Itu menjadi inspirasi saya. Saya buat lirik-lirik baru yang berisi harapan seorang ibu terhadap anak-anaknya. Kalau laki-laki berjuanglah untuk nusa dan bangsa. Laki-laki dan perempuan harus bergandeng tangan untuk kehidupan bangsa ini. Ada juga lagu Kali Eluh. Itu nama sungai yang membentang dari arah Barat. Kali Eluh itu seperti semangat dari warga Banyuwangi yang tidak pernah berhenti mengalir, pantang menyerah. Sebenarnya saya menciptakan lirik menjelang 1965, tepatnya 1963. Kebetulan rumah saya dekat dengan rumahnya Mohammad Arif, pencipta lagu Gendjer-gendjer. Kami bertetangga, saya malah sering omong-omongan seperti anak dan bapak. Saya memanggilnya Man Arif. Itu juga mempengaruhi, tetapi, sekali lagi, pengaruh paling dominan dalam menciptakan lirik adalah ketika ibu ngudang saya. Mengapa tahun 65 ketika saya sudah menjadi guru? Ini memang pengaruh dari teman-teman sebaya, seangkatan saya, seperti Pak Hasan Ali, Pak Hasnan, yang banyak berkecimpung dalam bidang kesenian. Ini mungkin bentukan dari guru saya, guru Bahasa Indonesia, Pak Poedjo Atmodjo, yang pintar dalam menerangkan Chairil Anwar dan karya-karyanya. Saya, meskipun agak terlambat, belajar menulis lirik dan sajak, khususnya dalam Bahasa Using. Karena sudah banyak yang menulis dalam Bahasa Indonesia saya lebih memilih menulis dalam Bahasa Daerah. Tapi, saya juga menulis sajak berbahasa Indonesia, saat menjelang 65. Memang lirik berbahasa Indonesia yang saya ciptakan juga pernah dilagukan seperti Selat Bali. Ada juga yang dilagukan oleh Mawar Merah. Sajak-sajak saya pernah dimuat di Terompet Masyarakat dan Harian Rakyat. Jadi, ya, dipengaruhi oleh Mohammad Arif itu.” (Wawancara, 1 Agustus 2009)

Kudangan sang ibu merupakan “pengalaman awal” yang menyemaikan ide-ide kreatifnya dalam menulis lirik. Perjumpaannya dengan sajak-sajak Chairil Anwar semakin memperkuat endapan-endapan kreatif dalam benaknya. Namun, kedekatannya dengan Mohammad Arif yang sangat konsisten mengusung tema-tema kerakyatan dalam lagu-lagu ciptaannya berperan membentuk kecenderungan pilihan tematik dan metafor dalam lirik-lirik berbahasa Using yang ia ciptakan. Andang memang memilih metafor alam, seperti Kali Eluh, untuk dijadikan lirik lagu yang secara filosofis menggambarkan semangat rakyat bumi Blambangan yang harus terus mengalir untuk mengisi dan menuju kehidupan yang lebih baik. Lalu, adakah yang salah dengan itu semua? Bukankah pilihan tematik tentang perjuangan hidup rakyat dan ajakan kepada kaum muda untuk berpartisipasi dalam memajukan Banyuwangi merupakan pesan positif yang semestinya dihargai? Apakah salah ketika pada masa 60-an ia memilih Lekra sebagai organisasi untuk memperjuangkan kebudayaan rakyat?

Pilihan tematik kerakyatan dan bergabung ke dalam Lekra tentu mempunyai argumentasinya masing-masing. Kedua hal tersebut dipengaruhi oleh pengalaman individual, keyakinan ideologis, maupun cita-cita dalam berkesenian yang dimiliki oleh masing-masing seniman. Andang seniman/sastrawan yang ingin mengekspresikan persoalan-persoalan sosio-kultural yang dihadapi rakyat secara kritis dan mendalam, bukan sekedar retorika di podium dan mimbar yang menghipnotis. Menjadi wajar, ketika Andang lebih memilih Lekra sebagai medium perjuangan dan kreativitasnya karena secara ideologis sesuai dengan pilihan kreatifnya. Menariknya lagi, Andang lebih menyukai penggunaan diksi dan tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga semakin mempertegas pembelaan dan rasa simpatinya terhadap perjuangan rakyat jelata yang memang harus terus diperjuangkan. Ketika orator-orator politik, wakil rakyat, dan pejabat birokrasi hanya sibuk menata kehidupan feudalistik mereka, maka seniman, sastrawan, dan budayawan memang berhak dan wajib mengambil peran untuk memberikan ‘cahaya’ kepada rakyat, bukannya janji-janji ilusif tentang kemakmuran negeri. Andang telah memilih memberikan cahaya itu melalui kerja kesastraan dan kesenian; lewat lirik-lirik lagu yang ia ciptakan dan, ternyata, disukai banyak orang.

Pesan-pesan perjuangan rakyat kecil dengan mudah bisa ditemukan dalam lirik-lirik lagu yang ditulis Andang dan digubah lagunya oleh Basir Noerdian maupun Mahfud. Dengan kesederhanaan lirik, ia mampu menghadirkan realitas perjuangan dan persoalan hidup yang dihadapi oleh rakyat kebanyakan.

“Ada juga lagu saya yang berasal dari kehidupan sehari-hari, seperti Prawan Sunti, lirik lagu pertama saya yang dilagukan Pak Mahfud. Saya membuat gambaran bagaimana wanita Banyuwangi mencintai kerja, harus berhati-hati di jalan, kalau ada godaan di jalan, misalnya lare angon ngajaki guyon, esemono (kalau ada gembala mengajak bercanda, berilah senyum, pen), cintailah mereka dengan kerja bagi nusa-bangsa. Pernah juga saudara istri datang ke rumah mau meminjam pakaian untuk acara pesta perkawinan, saya tulis menjadi lagu yang intinya meskipun sobek-sobek yang penting kepunyaan sendiri. Yang tentang sejarah juga ada, Umbul-umbul Blambangan yang pernah dimuat di majalah lokal, terus Pak Basir membacanya dan menjadikannya lagu. Begitupula dengan lagu Kembang Galengan, Pak Basir juga yang membuat lagunya, malah ia tidak tahu awalnya karangan siapa lirik itu, karena saya memakai nama samaran Manadon. Terus dia saya kasih tahu, dan jadilah lagu Kembang Galengan, bahkan sempat naik daun. Lagu itu nilai filosofisnya ada. Kembang leng-galengan meletik sing gawa aran/diidek eman-eman, dipetik sing ana doyan. Kembang di pematang itu kan indah dan cantik meskipun tidak bernama, kalau diinjak eman-eman, tetapi kalau dipetik tidak ada yang mau, berbeda dengan mawar dan melati. Jadi seperti orang kecil. Tapi, kembang galengan itu juga memandang langit dan pepohonan. Orang kecil itu juga melihat tingkahnya orang di atas. Kritis, sekarang kan perkembangannya begitu, orangnya kritis. Yang terakhir dalam kesimpulannya, kembang galengan iming-imingono emas berlian/alung mituhu nunggu pedhotan..Jadi meskipun hujan emas di negeri orang, memilih hidup di negeri sendiri. Itulah, orang kecil selalu mencintai tanah air…Saya banyak menggunakan istilah kembang, seperti Kembang Galengan, Kembang Peciring, Kembang Pethetan, karena memang mudah dikenang dan disenangi orang. Ada juga Kembang Kamboja, agar manusia berbuat kebaikan karena semuanya akan berakhir di bawah pohon kamboja…Artinya kembang bukan kembang secara harafiah. Seperti Mawar Kapuranta. Lagu ini saya tujukan kepada anak gadis, agar jangan setengah-setengah.” (Wawancara, 1 Agustus 2009)

Kesadaran kritis sebagai seorang seniman yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang sedang mengalami masa-masa sulit, menjadikan Andang dekat dengan persoalan-persoalan rakyat kebanyakan. Lagu Perawan Sunti, yang sampai saat ini masih digemari, adalah salah satu yang memotret persoalan perempuan yang digambarkan akan selalu berjuang menghadapi kehidupan, betapapun sulitnya. Pun demikian dengan Kembang Galengan yang secara simbolis memberikan pesan kepada rakyat jelata bahwa meskipun hidup mereka diinjak-injak dan tidak dimasukkan ‘hitungan’ oleh mereka yang berkuasa, mereka harus tetap mencintai tanah air sembari terus bersikap kritis.

Bagi Andang, lagu-lagu yang menceritakan kehidupan rakyat jelata adalah pilihan ideologis dan filosofis dalam berkarya.

“Ini mungkin semacam pilihan, jadi pilihan filosofi hidup…Saya, bagaimanapun juga, tidak pernah meninggalkan hidup dari kondisi seperti itu. Dan, saya kebetulan pada zaman Bung Karno, pernah melaksanakan riset, riset 3 Sama: kerja bersama, tinggal bersama, dan makan bersama. Itu saya lakukan di sebuah daerah nelayan. Setiap penciptaan kalau didasari riset seperti itu, pasti sudah, hasilnya lain daripada yang lain. Bayangkan kalau kita membuat syair panjang itu seperti apa adanya, ini hanya sampai di kerut-kerut mukanya saja. Tapi kalau kita mau menyelam lebih dalam harus tahu. Misalnya, petani mencangkul, ya kita menggambarkan ada petani mencangkul, keringatnya mengalir, otot-otot tangannya itu saja, itu hanya pemotretan. Tapi, kalau kita masuk lebih dalam, waktu mencangkul apa yang dipikirkan oleh petani itu, mungkin anak-anaknya yang lagi butuh uang sekolah, beli buku dan sebagainya, dalam angannya. Mungkin juga tentang dandange (kuali, pen) istrinya. Menjelang 65 saya juga pernah membuat drama berjudul Janda Orang Buangan, pernah dipentaskan di 510 (salah satu markas angkatan darat di Banyuwangi, pen). Makanya, dalam berkarya itu harus benar-benar mendalam, jangan hanya di kerut-kerutnya. Itulah, saya tidak bermaksud untuk sombong, tapi itulah karya saya, terserah pembaca yang merasakannya.”                                           (Wawancara, 1 Agustus 2009)

Andang, sebagai seniman Lekra, tidak hanya mau menjadi pegiat di menara gading yang hanya berkarya dengan bantuan ‘teropong’, tanpa merasakan nyanyian batin rakyat yang sebenarnya. Riset partisipatoris 3 Sama menjadi gambaran riil bahwa untuk bisa menghasilkan karya berbobot dan berpihak, para seniman harus masuk ke kompleksitas jagat nyata dan jagat batin rakyat kecil agar karya yang dibuat tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi kontemplatif, mendalam, dan memperlihatkan keberpihakan kepada persoalan rakyat. Pengalaman dan pengembaraan observatif itulah yang menjadikan karya-karya Andang digemari sampai sekarang.

Pilihan tema dan sikap ideologis tersebut menyiratkan harapan besar dari Andang agar masyarakat Banyuwangi, khususnya, dan Indonesia, umumnya, selalu memprioritaskan kecintaan tanah air dengan melakukan perjuangan-perjuangan yang bisa mengantarkan mereka pada masa depan yang lebih baik. Pilihan tematik itulah yang akhirnya oleh rezim militer dianggap menumbuhkembangkan ideologi komunis. Stigmatisasi terhadap para seniman dan sastrawan Lekra Banyuwangi sebagai pendukung PKI, secara diskursif menjadikan mereka sebagai liyan yang harus ditertibkan, dipenjarakan, atau bahkan dieksekusi tanpa pengadilan yang jelas. Andang bersama ratusan tokoh PKI dan organisasi underbow-nya ‘diculik’ tentara dan dipenjarakan di penjara Lowokwaru, Malang, selama 19 bulan. Karena masuk dalam Kategori B level terbawah, Andang dipulangkan dan dipenjara di Kalibaru dan terakhir mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Banyuwangi.[1] Beruntung kiranya Andang masih selamat, meskipun ia harus menanggung beban dan penderitaan politik dan kultural.

Ternyata, lirik dan pesan tematik lagu-lagunya serta keterlibatannya di Lekra, menjadikannya berurusan kembali dengan rezim militer, ketika selepas dari penjara ia menulis lirik lagu lagi. Lagu-lagunya dianggap membela komunisme, utamanya lagu Perawan Sunti dan Kembang Pethetan.

“Bang-bang wetan, srengenge metu donyane abang (sepenggal lirik Perawan Sunti, “merah bersinar di ujung Timur, sang surya terbit dunia benderang”, pen). Lagu Prawan Sunti memang ideal, saat pertama saya menciptakan lagu, tahun 66, saat suasana Banyuwangi mencekam karena peristiwa 65. Ini yang menafsirkan yang keliru. Suruh wanci kinangan, suruh itu kan macem-macem tetapi kalau dikunyah itu ‘merah’. Saya dituduh dan ditahan karena lagu ini, karena warna merah suruh itu. Saya ditahan sampai ½ bulan di Koramil, dikira saya mau mendatangkan PKI lagi. Pernah terjadi seperti itu. Waktu itu Komandan Koramil-nya Pak Supriadi. Dia bilang, “Kamu kan mau mendatangkan PKI lagi?” Saya jawab, “Lho, Pak, jangan salah tafsir. Kalau wanita Banyuwangi, jangankan nginang, Pak, dekat saja sama wanci itu gatel.” Ini kan lagu tentang wanita yang milih-milih bekerja berat, yang memilih jodoh ditimbang-timbang. Jadi cita-citanya nggayuh lintang (menggait bintang, pen), supaya masa depannya lebih cerah. Itulah, lagu ini dianggap lagunya PKI. Lagu Kembang Pethetan juga demikian, dituduh simbolisasi komunis. Itu gara-gara Sun tandur ring buju petamanan (aku tanam di sudut taman, pen). Itu tuduhannya apa? Di sudut bendera RRT (Republik Rakyat Tjina, Pen) itu kan ada palu arit-nya, jadi kembang pethetan itu disamakan dengan benderanya komunis. Sampai ndak masuk akal tuduhannya. Sampai-sampai Pak Hasan Ali pernah ngamuk. Dia kan dari PNI, dia itu yang ikut membela saya, dia bilang “Indonesia Raya itu bisa saya tafsirkan sebagai PKI”. Pak Hasan Ali sampai bilang begitu. Jadi, memang tuduhan itu terlalu mengada-ada.” (Wawancara, 1 Agustus 2009)

Tuduhan-tuduhan itu tentu saja hanya didasari tafsir sepihak rezim militer yang tidak ingin seniman dan sastrawan merepresentasikan rakyat di dalamnya karya-karya mereka. Tafsir militer tersebut menunjukkan kebodohan dan sifat ahistoris militer yang sudah dikuasai sikap antipati terhadap komunis. Adalah sebuah kekonyolan ketika seseorang yang menulis lirik tentang nasib dan perjuangan rakyat harus dipenjara kembali. Padahal, revolusi kemerdekaan tidak akan pernah lahir ketika rakyat tidak memberikan dukungan seluas-luasnya, termasuk menyediakan logistik untuk laskar pejuang. Namun, rezim militer memang tidak mau tahu-menahu persoalan tersebut, karena bagi mereka segala hal yang berbau “rakyat” adalah kiri dan komunis. Dan, komunis pada waktu itu adalah musuh bersama yang harus diberangus atas nama kesaktian Pancasila ataupun penyelamatan negara.

Selamatnya Andang dari ancaman penjara kedua kalinya, memang tidak bisa dilepaskan dari peran seniman dan budayawan, seperti Hasan Ali (LKN) dan Hasnan Singodimayan (HSBI). Kegigihan Hasan Ali ketika mengatakan “Indonesia Raya itu bisa saya tafsirkan PKI” menunjukkan keberaniannya dalam berargumentasi guna meyakinkan aparat tentang ketidakbersalahan Andang dalam menciptakan lagu-lagu Banyuwangen. Lebih lanjut, Hasnan menuturkan bagaimana ‘penyelamatan’ yang dilakukannya bersama Hasan:

“Nah, dalam perkembangannya, ada kelompok kecil yang hanya berteriak. Gendingnya Andang dan Basir, itu kan gending yang betul-betul kita akan merasakan. Seperti ada lirik yang menyatakan, kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, air kalau dipecah akan menyatu kembali. Mereka bilang itu ideologi PKI. Saya saja tidak sampai ke sana. Itukan tentang menyatunya jiwa dan rasa yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Diartikan masih satu dengan ideologi komunis. Kembang Pethetan, Andang menciptakan itu, karena “saya PKI, istri saya diambil orang”.[2] Diartikan juga ideologi komunis. Terus Perawan Sunti, waduh ngeri itu. Kasihan Andang, sampai nangis-nangis karena Andang terancam dipenjara lagi. Tapi Hasan Ali pinter, kalau ada pertanyaan dari militer tentang lagu ini, saya yang disuruh maju. Ndak mungkin dia milih orang-orang LKN ataupun Lesbumi. Jadi kalau ada panggilan tentang lagu-lagunya Andang, saya yang diminta ngadep.” (Wawancara, 31 Juli 2009)

Apa yang dilakukan oleh Hasnan dan Hasan adalah sebuah perjuangan untuk menyelamatkan kemanusiaan dan kebudayaan. Mengapa? Dengan selamatnya Andang dan Basir, mereka berdua akan tetap bisa berkiprah dalam pengembangan kesastraan, kesenian, dan kebudayaan Banyuwangen. Mereka berdua adalah aset berharga bumi Blambangan yang kelak di kemudian hari akan ikut mewarnai kehidupan rakyat dan budaya di Banyuwangi. Keberanian Hasnan dan Hasan adalah bentuk keberanian dalam membangun solidaritas antarseniman yang tidak lagi dipisahkan oleh sekat-sekat ideologi partai yang terbukti hanya dimanfaatkan oleh kepentingan elite dan rezim. Apa yang menyatukan mereka adalah kebutuhan dan keinginan untuk mengembangkan dinamika kebudayaan Banyuwangen yang mampu memberikan hiburan sekaligus ‘cahaya’ bagi rakyat kebanyakan. Memang, kerakyatan dalam berkesenian, pada akhirnya, bukan hanya monopoli PKI, tetapi menjadi tanggung jawab bersama para seniman yang merasa punya hati nurani demi melihat persoalan-persoalan sosial-kultural yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kerakyatan, kesenian, dan hati nurani memang menjelma sebagai “air yang terus mengalir, pun dipecah akan kembali utuh”.

Ketika Patriotisme Dihadapi Pistol: Pengalaman Basir Noerdian

Seperti dijelaskan sebelumnya, mitra Andang dalam menciptakan lagu adalah Basir Noerdian dan Mahfud. Sebagai pemain biola yang juga menguasai alat musik tradisional seperti angklung dan gamelan, Basir pernah mengalami masa-masa menyedihkan akibat perisitiwa 65; sebuah peristiwa yang tidak pernah ia duga akan membunuh banyak orang tak berdosa, termasuk para seniman yang dulu ikut berjuang dan berkarya dengannya. Ia juga harus menderita karena statusnya sebagai pegawai koperasi dicopot gara-gara bergabung dengan Lekra. Sampai sekarang, di usianya yang mendekati 80 tahun, ia menjalani kehidupan yang sangat sederhana (untuk tidak mengatakannya miskin) bersama istri tercinta yang sudah mendampinginya mengarungi pahit kehidupan sebagai korban rezim yang memberangus Lekra dan PKI. Berdua mereka menempati sebuah rumah petak yang sangat sederhana (untuk tidak mengatakannya reyot) di sebuah kampung di Kota Banyuwangi.

Samahalnya dengan Andang, Basir sebenarnya tidak pernah punya mimpi untuk membuat lagu-lagu yang ditujukan untuk propaganda komunis di Banyuwangi. Keterlibatannya di Lekra-lah yang menjadikan ia dituduh menciptakan lagu-lagu untuk kepentingan komunis. Padahal, lagu-lagu yang ia ciptakan, baik dari lirik sendiri ataupun lirik yang diberikan Andang, mempunyai pesan-pesan untuk menumbuhkan perjuangan dan patriotisme di dada rakyat Banyuwangi; jauh dari kesan agitatif seperti yang dicurigakan pihak-pihak yang membenci komunis, seperti tentara. Seniman yang pada tahun 45-an sudah lulus SR (Sekolah Rakyat) ini, memang sudah mengalami getirnya kehidupan serta tragedi kemanusiaan sebagai akibat penjajahan dan revolusi fisik. Kondisi itulah yang memanggil naluri kreatifnya untuk membuat lagu-lagu yang mengumandangkan semangat perjuangan dan patriotisme.

“…saya mengalami banyak peristiwa. Zaman Jepang sekolah pakai karung goni. Saya pernah juga dikampleng (ditempeleng, pen) waktu sekolah..waduhh… Cuma yang paling berkesan bagi saya, sesudah 45 itu, yakni waktu pemindahan jenasah pejuang Sulaiman. Waktu itu saya aktif di pandu. Jadi, ikut menggali kuburnya pakai tongkat, tidak pakai alat lainnya. Saya ikut juga mengantarkannya. Saya ingat, waktu Bung Karno memberikan hormat kepada para pahlawan, saya ada di sampingnya. Sungguh berkesan sekali. Dari situ, saya terinspirasi untuk membuat lagu, Kembang Kirim. Lagu itu saya maksudkan untuk menghargai usaha batalyon 0032, menceritakan pertahanan Banteng waktu Agresi Militer I. Sulaiman meninggal di tepi pantai. Jadi, sebenarnya lagu itu tentang pembelaan terhadap tanah air tercinta.”                                                       (Wawancara, 1 Agustus 2009)

Pengalaman langsung ketika ikut memindah jenasah Sulaiman telah melahirkan kesadaran mendalam dalam diri Basir untuk menciptakan lagu sehingga rakyat akan memahami bahwa perjuangan terkadang harus ditebus dengan nyawa. Lagu itu sekaligus menunjukkan komitmen estetis dan kreatif Basir yang tidak hanya berhenti pada seni untuk seni, tetapi seni untuk terlibat dalam urusan-urusan perjuangan. Sebuah komtemplasi mendalam terhadap apa yang ia saksikan, telah memunculkan lagu yang menjadi inspirasi dan semangat yang ia harapkan akan diwarisi oleh generasi-generasi berikutnya.

Pengalaman menyedihkan yang dialami keluarga kecilnya selama tahun 66 juga menjadi inspirasi penciptaannya. Tahun 66 adalah sebuah periode dimana rakyat diselimuti ketakutan dan ketidakmenentuan akibat peristiwa G 30 S.

“Ada lagu saya judulnya Dalu-dalu. Ceritanya begini, waktu itu tahun 66. Pada suatu malam anak semata-wayang saya menangis, tidak mau diam. Saya bingung, ada apa dengan anak ini? Akhirnya saya kemuli (selimuti, pen) dia dengan sarung saya. Anehnya, setelah itu ia diam. Dengan peristiwa itu saya membuat lagu yang sebenarnya menceritakan keadaan gawat di negeri ini. Meskipun demikian, saya tetap berdoa dan berharap, kalau sudah besar anak saya tetap menjadi patriot bagi tanah air. Jadi, lagu-lagu saya itu tentang cinta, tepatnya cinta kepada tanah air. Tidak seperti lagu sekarang yang vulgar.” (Wawancara, 1 Agustus 2009)

Meskipun Basir adalah salah satu korban dari kondisi politik yang kacau-balau akibat peristiwa G 30 S, dia tetap mempunyai harapan besar agar anaknya dan juga rakyat tetap mengembangkan rasa cinta kepada tanah air. Cinta jenis ini adalah sebuah harapan kolektif di antara rakyat karena sebagai negara yang sedang menghadapi tragedi, cinta tersebut mungkin bisa menumbuhkan kembali kekuatan-kekuatan internal dari diri rakyat agar bisa bangkit. Apakah lagu seperti itu salah? Tentu tidak. Basir telah berusaha mengingatkan secara luas kepada masyarakat bahwa mencintai tanah air adalah sebuah kewajiban yang harus diperjuangkan bersama-sama.

Memang, Basir juga membuat lagu-lagu yang bernuansa percintaan tetapi dibungkus dengan lirik simbolis. Lagu-lagu tersebut terutama dibuat berdasarkan lirik-lirik yang diberikan Andang CY. Celakanya, lagu-lagu itulah yang menyebabkannya berghadapan dengan pistol. Basir menuturkan:

“Ada juga yang bercerita tentang cinta, seperti Kembang Peciring, yang liriknya dibuat Pak Andang, samahalnya dengan Kembang Pethetan. Pak Andang itu penyair hebat yang belum ada tandingannya. Lagu-lagunya yang membuat saya dan Pak Mahfud. Gara-gara Kembang Pethetan saya pernah dibawa ke Kodim. Ada pihak-pihak yang mempolitisir lagu itu sebagai lagunya PKI. Saya sampai ditodongi pistol. Saya berusaha menjelaskan bahwa lagu itu dibuat oleh Pak Andang, ceritanya seperti cerita saya dan istri. Mereka masih tidak percaya. Akhirnya, lurah dan camat dipanggil. Mereka membenarkan pendapat saya. Akhirnya saya dibebaskan.” (Wawancara, 1 Agustus 2009)

Memang Basir tidak sampai dipenjara, tetapi melihat peristiwa penodongan pistol oleh salah satu anggota tentara, bisa dibayangkan suasana ngeri yang terjadi. Sebagaimana dijelaskan oleh Andang, bahwa lagu itu memang tidak berkorelasi langsung dengan PKI, meskipun menurut Hasnan lagu itu memang diciptakan ketika Andang dipenjara dan istrinya diambil orang. Lagi-lagi, ini adalah sebuah ironi dari kesalahkaprahan sejarah yang dibuat oleh tentara dalam menstigmatisasi mereka yang diindikasikan terlibat Lekra sebagai pihak yang selalu dicurigai dan dipersalahkan. Padahal, Basir adalah seniman pejuang yang mempersembahkan karya-karyanya bagi tumbuhnya semangat perjuangan dan patriotisme yang mesti dijunjung tinggi oleh rakyat Indonesia.

 

[1] Dalam penuturannya kepada Ikaning, Andang menceritakan bahwa salah satu saudaranya, Imam Ghazali, anggota BTI mati dibunuh. Di kampung Tumenggungan, Banyuwangi, rumah para anggota Lekra dibakar massa. Dia juga menuturkan, waktu di penjara Lowokwaru, tentara menghukum anggota PKI berdasarkan kategori keterlibatan. Kategori A dikenakan kepada tokoh-tokoh elit/pengurus PKI dan organisasi underbow-nya yang terlibat langsung dengan sanksi hukuman mati. Kategori B dikenakan kepada anggota yang tidak terlibat langsung dan masih dibagi lagi dalam beberapa kriteria. Andang termasuk dalam kategori B kriteria terbawah, sehingga ia dipulangkan dan di penjara di wilayah Banyuwangi. Lihat, Ikaning. Loc.cit.

[2] Tentang ‘diambilnya’ istri Andang oleh aparat keamanan (?) ketika dia harus menghadapi maut di penjara, ada beberapa versi cerita yang beredar di kalangan budayawan pelaku sejarah dan tetangganya. Namun, kami sengaja tidak menampilkan beberapa versi cerita tersebut dalam tulisan ini. Mengapa? Karena waktu kami memberikan pertanyaan tentang persoalan tersebut, Andang hanya diam saja, tidak (kuasa) memberikan penjelasan. Mungkin peristiwa tersebut terlalu menyedihkan sebagai sejarah kelam kehidupannya.

Share This:

About Ikwan Setiawan 161 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*