Festival Banyuwangi: Memainkan Identitas dalam Pasar Wisata

Konsistensi Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, dalam mengembangkan pariwisata kembali berbuah penghargaan. Kali ini, Banyuwangi menyabet gelar Travel Club Tourism Award (TCTA) 2013 untuk kategori ”The Most Creative” tingkat kabupaten. Ini merupakan kali kedua bagi kabupaten berjuluk ”The Sunrise of Java” itu menyabet Travel Club Tourism Award. Tahun lalu, Banyuwangi juga meraih penghargaan tersebut untuk kategori ”The Most Improved”. (Kompas.com, Minggu, 22 Desember 2013. http://travel.kompas.com/read/2013/12/22/0745289/Banyuwangi.Raih.Tourism.Award.2013)

Tentu bukan sebuah kebetulan kalau Kabupaten Banyuwangi mendapatkan penghargaan “The Most Creative” dari Travel Club Tourism Award (TCTA) pada tahun 2013 dan pada tahun sebelumnya (2012) menyabet gelar “The Most Improved”. Sejak terpilih pada tahun 2010, Bupati Abdullah Azwar Anas (selanjutnya disingkat AAA) memang sudah mencanangkan akan mengembangkan pariwisata Banyuwangi ke tingkat nasional dan internasional. Dengan menyematkan branding “The Sunrise of Java”, AAA mampu melakukan konsolidasi antarsektoral untuk menggairahkan sektor pariwisata yang menonjolkan atraksi budaya dan keindahan alam. Maka, di tangan kreatifnya, beberapa agenda wisata yang bisa dikatakan monumental digelar sejak tahun kedua kepemimpinannya (2011). Banyuwangi Ethno Carnival, Paju Gandrung Sewu, Banyuwangi Beach Jazz Festival, Ijen Jazz Festival, Festival Kuwung, dan Tour de Ijen hanyalah beberapa acara dari sekian banyak acara yang diselenggarakan Pemkab Banyuwangi selama kepemimpinan AAA. Bahkan, selama 4 tahun terakhir, terdapat kenaikan yang cukup signifikan dari jumlah acara yang dihelat dalam tagline “Banyuwangi Festival”. Tidak hanya terkait dengan kesenian dan ritual, festival ini juga menyasar aspek-aspek kebersihan, anak-yatim, santri, bahkan tradisi meminum kopi. Maka, “Banyuwangi Festival” tidak hanya menjadi agenda pariwisata, dalam beberapa kasus, acara ini juga meng-invensi tradisi baru yang dikembangkan dalam rangka meramaikan program tersebut.

Kebijakan meng-global-kan potensi pariwisata Banyuwangi ditopang oleh kenyataan bahwa selama Orde Baru hingga awal 2000-an, potensi ini masih belum digarap maksimal. Padahal kabupaten ini memiliki keindahan alam dan keunikan budaya yang tiada duanya di Jawa Timur. Maka, tahun 2011 dimulailah program-program wisata unggulan dengan mengusung branding “The Sunrise of Java”, matahari terbit di ujung timur Jawa. Salah satu program unggulannya adalah Banyuwangi Ethno Carnival, meniru kesuksesan Jember Fashion Carnival. Prinsip dasar dari pagelaran ini adalah menjadikan keunikan kesenian Osing sebagai bahan dasar untuk membuat fashion untuk keperluan karnaval. Dengan menggandeng Dynand Faris, Direktur JFC, BEC meraih sukses dalam segi pagelaran. Menariknya, sebagian seniman dan budayawan sempat melakukan penolakan keras terhadap acara ini. Bahkan, para aktivis kampus dari Universitas 17 Agustus Banyuwangi juga melakukan demonstrasi. Namun, AAA bersikeras tetap melanjutkan acara yang kabarnya menghabiskan biasa sekira 500 juta ini.

Menariknya, isu yang dimainkan oleh para pelaku kultural yang bersikap anti hampir sama dengan isu yang mereka mainkan ketika melakukan resistensi diskursif terhadap kebijakan budaya RAL. Mereka beranggapan bahwa AAA tidak serius dalam mengembangkan kebudayaan Osing. Bahkan, di antara mereka ada yang mengatakan bahwa AAA perlahan-lahan akan meminggirkan dan mematikan budaya Osing. Isu ini perparah dengan digandengnya Dynand Faris yang notabene berasal dari Jember yang dimaknai memberikan rezeki kepada pelaku kultural dari luar Banyuwangi. Namun, semua isu itu akhirnya menguap bersama rancak musik tradisional dan lenggak-lenggok para model yang mengenakan pakaian hasil rancangan Dynand dan putra-putri Banyuwangi di atas catwalk jalanan. Para seniman yang semula menolak akhirnya mau terlibat dalam BEC. Ironisnya, keterlibatan mereka pada akhirnya dimaknai oleh beberapa aktivis sebagai bentuk kompromi terhadap kebijakan pendopo karena mereka mendapatkan honor dari kegiatan ini. Kasus serupa juga terjadi dalam BEC II (2012) yang mengambil tema RE_BARONG yang menjadikan Barong Kemiren sebagai bahan mentah untuk komodifikasi fashion. Beberapa budayawan yang selama ini dikenal kritis menyatakan ketidaksetujuan mereka karena warna fashion yang kurang sesuai dengan karakter Barong. Protes mereka akhirnya diterima dan panitia melakukan perubahan. Para pemrotes tersebut juga dijadikan dewan juri dalam BEC II dan mereka pun diam tidak menyuarakan protes lagi. Kenyataan ini merupakan kelanjutan dari ketidaktunggalan suara para pelaku kultural dalam menyikapi program budaya yang dianggap kurang pro terhadap pengembangan kesenian dan budaya Osing.

 

Paradigma yang dikembangkan oleh AAA dengan BEC-nya, dari pertama kali dilaksanakan hingga tahun ini, adalah mentransformasi secara lentur ke-eksotis-an budaya Osing dalam bingkai karnaval yang secara visual bisa menghadirkan kekaguman pengunjung. Dengan paradigma itu, semua keunikan kultural akan diinkorporasi dan dikomodifikasi sebagai bahan mentah untuk fashion dan diproduksi-ulang dalam bingkai yang lebih mengglobal sebagaimana fashion carnival di Jember atau di negara-negara lain. Dalam konteks ini, identitas bukan lagi diposisikan sebagai inti yang tidak bisa ditafsir atau dimaknai-ulang, tetapi sebagai entitas lentur yang bisa ‘dimainkan’ untuk mendukung kepentingan ekonomi sebuah rezim penguasa. Sebagai intelektual dan politisi yang lama mengenyam kehidupan metropolitan Jakarta, AAA sadar betul bahwa banyak orang-orang kota yang merasakan kerinduan terhadap hal-hal yang eksotis, primitif, etnis, dan tradisional di tengah-tengah ke-modern-an yang mereka alami. Peluang inilah yang dianggap sebagai kesempatan untuk mempromosikan potensi wisata dan budaya Banyuwangi ke ranah nasional dan internasional. BEC merupakan salah satu program yang tepat untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Tidak mengherankan kalau BEC mulai 2011 sampai 2015 menjadi ‘menu wajib’ dari Banyuwangi Festival, tentu dengan tema yang berbeda dari tahun ke tahun.

Selain transformasi lentur keunikan ritual adat dan kesenian lokal ke dalam format karnaval fashion, sejak tahun 2012, pemkab dalam arahan AAA juga menghadirkan ke-eksotis-an dan ketradisionalan secara massif. Adalah Parade Gandrung Sewu (selanjutnya disingkat PGS) yang menjadi suguhan kolosal tarian jejer gandrung yang melibatkan seribu pelajar tingkat SMP dan SMA se-kabupaten Banyuwangi. Dengan prinsip mewajibkan setiap perwakilan sekolah dari masing-masing kecamatan untuk mengirimkan perwakilannya, PGS yang digelar di Pantai Boom benar-benar menyajikan ke-eksotis-an tari pergaulan dari komunitas Osing ini. Ada sebagian pihak yang menyambut positif PGS dan Paju Gandrung Sewu (PjGS yang mulai digelar tahun 2013) dengan alasan bisa mengembalikan pamor gandrung yang mulai meredup. Ketika setiap sekolah SMP dan SMA terlibat, maka para siswa akan belajar tari gandrung, meskipun hanya adegan jejer dan paju. Namun, idealisasi tersebut sangat kontradiktif dengan kenyataan. Menurut Temu’, saat ini semakin sulit mencari bibit penari gandrung terob karena stigma terhadap kehidupan gandrung masih kuat di masyarakat (Wawancara, 25 Juli 2015). Kalaupun dibilang dampak positif dari PGS dan PjGS adalah semakin semaraknya selebrasi ke-Osing-an yang mampu melampaui identitas masing-masing etnis di Banyuwangi. Sekali lagi, itu hanya berupa selebrasi yang bisa memunculkan kebanggaan sesaat bagi para pelajar dan para guru yang terkadang merasa terpaksa terlibat di dalamnya. Identitas Osing memang semakin meluas di Banyuwangi, tetapi pemertahanan gandrung merupakan persoalan lain yang sampai sekarang belum disentu oleh kebijakan pemkab. Apalagi sejak 2011, acara Pelatihan Gandrung Profesional di Kemiren sudah dihapuskan oleh rezim Pendopo.

Meriahnya pagelaran BEC dan PGS serta ramainya pemberitaan media terkait event-event pariwisata di Banyuwangi, mendorong AAA dan jajarannya semakin bergairah untuk memperbanyak event dalam Banyuwangi Festival. Kenaikan jumlah kunjungan wisatawan domestik dan wisatawan asing ke Banyuwangi yang cukup signifikan semakin memperkuat hasrat tersebut. Tahun 2013, jumlah wisatawan domestik yang mengunjungi tempat-tempat wisata di Banyuwangi mencapai 1,057 juta, meningkat 22% dibanding 2012 sebesar 860.831 orang. Untuk wisatawan asing, tahun 2013 kunjungannya sebesar 10.462 orang, naik 90,14% dibanding 2012 sebesar 5.502 orang. Berdasarkan survei independen, belanja wisatawan asing di Banyuwangi sebesar Rp 2 juta per hari per orang, sehingga dari wisatawan asing ada devisa yang masuk sekitar Rp 52 miliar.13 Berdasarkan kenaikan signifikan itulah, pada tahun 2014 menaikkan jumlah agenda kegiatan yang memadukan karnaval fashion, pagelaran musikal, ritual adat, kegiatan sosial, dan kompetisi olah raga internasional sebanyak 23 item pada tahun 2014 dan 36 item pada tahun 2015. Ramainya agenda kegiatan dalam Banyuwangi Festival inilah yang menjadikan kabupaten ini mendapatkan julukan baru “Kabupaten Festival”.

Kesadaran rezim AAA akan potensi yang bisa dikembangkan dari keunikan budaya dan alam Banyuwangi untuk mendukung pertumbuhan sektor-sektor strategis lain, seperti ekonomi kreatif dan industri, merupakan acuan untuk menciptakan item-item kegiatan lain yang menarik. Banyuwangi Jazz Festival (2012) yang digantikan dengan Banyuwangi Beach Jazz Festival di Pantai Boom (sejak 2013-sekarang) dan sebagai tambahan Ijen Jazz Festival (2014) merupakan kegiatan-kegiatan musikal yang diharapkan mampu mengangkat aspek promosi kekayaan kultural dan alam kabupaten ini. Dengan mengusung konsep harmoni antarperadaban, Banyuwangi Jazz diidealisasi sebagai sebuah jembatan untuk menggali kearifan lokal melalui dialog musikal. Beberapa nama tenar diundang, seperti Syahrini dan Trio Lestari. Dan, benar saja, media-media nasional memberitakan gelaran tersebut dengan pembesaran wacana yang luar biasa. Sayangnya, dalam setiap gelaran tersebut, para seniman lokal—musisi dan panjak gandrung—terkesan hanya menjadi tempelan atau pelengkap kegiatan karena peran mereka hanya bersifat minor. Apalagi dalam hal honor, mereka juga kalah telak dibandingkan yang diterima para musisi jazz ibukota. Temu’, misalnya, hanya mendapatkan Rp. 500 ribu dalam gelaran Banyuwangi Beach Jazz Festival pada tahun 2014. Sekali lagi, para pelaku seni di tingkat bawah tidak begitu mendapatkan perhatian dari panitia penyelenggara setiap event dalam Banyuwangi Festival.

Pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal dijadikan pula landasan untuk menggelar kegiatan-kegiatan tambahan yang semakin meramaikan Banyuwangi Festival. Sebut saja Festival Kuliner yang dimulai sejak tahun 2013 hingga sekarang dengan tema yang berbeda-beda, Banyuwangi Batik Festival (BBF) yang dimulai sejak tahun 2013 hingga sekarang, dan Festival Buah Lokal. Kuliner Osing yang bernuansa hibrid seperti rujak-soto menjadi tema Festival Kuliner 2014 dan pada tahun 2015 tema yang diangkat adalah nasi tempong. Sementara, Festival Buah Lokal mengangat potensi buah Banyuwangi, seperti jeruk, buah naga, manggis, durian, durian merah, dan lain-lain. Durian merah merupakan salah satu varietas durian dari Kemiren yang menjadi primadona serta dikampanyekan secara nasional dan internasional.

http://img2.bisnis.com/jatim/posts/2015/10/07/83780/batik-banyuwangi.jpg

Banyuwangi Batik Festival 2015. Sumber foto: http://img2.bisnis.com/jatim/posts/2015/10/07/83780/batik-banyuwangi.jpg

Adapun untuk BBF setiap tahunnya dilaksanakan dengan tema yang berbeda-beda pula dengan tujuan untuk mempromosikan aneka motif batik yang dikembangkan di kabupaten ini, seperti Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Alas Kobong, Blarak Semplak, Gringsing, Semanggian, Sisik Papak, Kawung, Ukel, Moto Pitik, Sembruk Cacing, Umah Tawon, Kopi Pecah, Gedheg’an, Gajah Mungkung, Paras Gempal, Srimpet, Wader Kesit, Lakaran, Juwono, Garuda Mungkur, Sekar Jagad serta beberapa motif lainnya. Untuk meramaikan Batik Festival, panitia membuat peragaan busana yang digelar di trotoar, fashion on pedestrian, yang melibatkan ratusan model dan pelajar SMA di trotoar Taman Blambangan dan malam harinya dilanjutkan fashion show di Gesibu. Mendatangkan Miss Indonesia 2014, Elvira Devinamira, dan desainer kondang, Priscilla Saputro, merupakan salah satu cara untuk meramaikan event ini, khususnya memancing pemberitaan di media-media nasional sehingga para pengunjung dari daerah lain tertarik untuk membelinya ketika berkunjung ke Banyuwangi. Semakin banyaknya wisatawan yang membeli batik atau menjadikannya oleh-oleh untuk kerabat di rumah, maka semakin berkembang pula industri batik yang berarti menghidupkan ekonomi kreatif berbasis identitas lokal, batik.

Penyelenggaraan BBF, paling tidak, menunjukkan betapa rezim AAA tengah membawa makna-makna kultural yang selama ini dilekatkan ke motif batik Osing ke dalam—meminjam istilah Bella Dick (2008)—culture on display, “budaya sebagai pajangan”. Konsep ini bertujuan untuk memudahkan akses terhadap keunikan-keunikan kultural komunitas Osing bukan lagi pada makna filosofis, tetapi makna ke-eksotis-an yang memuaskan mata para pengunjung, mata kamera fotografer dan wartawan, serta menarik hasrat para pembaca media atau penonton televisi di seluruh tanah air. Bolehlah tokoh adat Osing menerangkan bahwa motif Gajah Oling memiliki tuah dan nilai mistis, khususnya pada masa lampau di mana para ibu menggendong bayi dengan jarit bermotif ketika terpaksa keluar rumah di saat samarwulu—waktu pergantian antara sore dan malam—untuk melindungi bayi mereka dari gangguan makhluk ghaib. Demikian pula dengan motif Kangkung Setingkes yang dimaknai sebagai wujud kebersamaan komunitas Osing yang terikat dalam satu budaya meskipun mereka hidup terpencar. Keunikan makna filososis tersebut tidaklah cukup untuk mendongkrak penjualan batik Osing, sehingga rezim menggelar BBF dengan tujuan akhir, tentu saja, memajukan industri batik. Perpaduan mobilisasi makna-makna filosofis batik dengan praktik budaya sebagai pajangan merupakan bentuk investasi rezim AAA untuk menjadikan identitas tidak lagi semata-mata sebagai bentuk kebanggaan komunal, tetapi sebagai penopang industri identitas.

Apa yang menarik dicermati dan seringkali luput dari perhatian publik adalah kemampuan AAA untuk mengakomodir etnis-etnis lain di Banyuwangi di tengah-tengah usahanya untuk ‘memainkan’ identitas Osing untuk kepentingan industri parwisata dan industri kreatif. Dalam Banyuwangi Festival, prinsip akomodasi tersebut diwujudkan dalam beberapa kegiatan, seperti Festival Wayang Kulit dengan mendatangkan dalang kondang dari wilayah Mataraman. Acara yang dipusatkan di Genteng ini memberikan hiburan khusus untuk komunitas etnis Jawa-Mataraman sehingga mereka bisa merasakan senang dengan kepemimpinan AAA. Sementara, untuk kalangan santri sebagai basis pendukung politiknya, AAA mulai tahun 2015 menggelar Festival Santri di Genteng dan Banyuwangi Islamic Fashion Week di Muncar. Festival ini sekaligus juga untuk merangkul komunitas etnis Madura yang identik dengan tradisi santri dan pesantren. Selain itu, pemkab juga membuat kegiatan baru pada tahun 2015, yakni Festival Barong Nusantara yang menyuguhkan aneka kesenian barong di tanah air, seperti Barongsai dan Reog Ponorogo.

Dengan membuat agenda-agenda yang bisa memberikan hiburan kepada komunitas-komunitas Jawa-Mataraman, Cina, Jawa-Panaragan, Madura, dan santri, AAA sebenarnya tengah memainkan diplomasi budaya untuk menghindari kecemburuan terhadap komunitas Osing yang memang lebih dominan dalam hajatan Banyuwangi Festival. Dalam konteks ini, bisa dikatakan AAA lebih cerdas dibandingkan Samsul Hadi dan RAL dalam memainkan isu-isu identitas etnis. Dia memang lebih menonjolkan keunikan kultural Osing, tetapi tidak melupakan membuatkan event-event kultural yang merepresentasikan identitas komunitas etnis lain. Meskipun secara ekonomis acara-acara tersebut kurang bisa menghasilkan devisa—bila dibandingkan, misalnya, dengan BBF dan Festival Buah Lokal—dan kurang bisa menarik minat wisatawan dari luar daerah, namun keberadaan mereka sangat penting untuk memperkuat dukungan politik bagi kepemimpinan AAA.

Selain agenda-agenda ritual yang semakin dimeriahkan dengan promosi besar-besaran, seperti Seblang Olehsari, Seblang Bakungan, Kebo-keboan, Endhog-endhogan, Barong Ider Bumi, dan Tumpeng Sewu, rezim AAA juga menciptakan festival berwarna ritual baru yang sebelumnya tidak ada dalam bentuk ritual, seperti Acara-acara tersebut antara lain Festival Kopi Sepuluh Ewu. Sepertihalnya Tumpeng Sewu, acara minum kopi ini menjadi unik karena saking banyaknya cangkir dan gelas kopi yang disajikan oleh warga Kemiren. Gagasan festival ini sebenarnya tidak berasal dari warga Kemiren, tetapi dari salah satu pengusaha dan pemilik perkebunan kopi di lereng Ijen. Dialah yang menyediakan kopi untuk di-sangrai oleh perempuan Kemiren dan disuguhkan kepada para tamu yang hadir. Maka, untuk melekatkan sense of communalism, festival ini dikatakan sebagai penyambung persaudaraan karena sejak dulu setiap orang bertamu di rumah warga selalu disuguhkan kopi.

Di bawah kepemimpinan AAA, identitas Osing tetaplah menjadi kekuatan kultural yang diunggulkan dan dikembangkan. Warga komunitas Osing merasakan kebanggaan karena ritual dan kesenian mereka tetap diperhatikan oleh pemerintah, meskipun kebanggaan itu seringkali hanya menjadi kebanggaan semu, khususnya bagi para pelaku kesenian yang tidak banyak diuntungkan dari festivalisasi atau karnavalisasi budaya Osing. Namun, AAA sangat jeli dalam memainkan isu identitas, karena ia tidak hanya berhenti pada aspek kebudayaan, tetapi menggunakannya untuk mempromosikan potensi Banyuwangi, baik dari sektor industri, ekonomi perkebunan, ekonomi pertanian, maupun ekonomi kreatif. Dalam hal ini, bolehlah masyarakat Osing berbangga karena di kepemimpinan AAA identitas mereka semakin dikenal luas, baik secara nasional maupun internasional. Apalagi dengan pertumbuhan ekonomi kreatif seperti batik Osing yang semakin populer di kalangan wisatawan. AAA terbukti mampu menjadikan ke-Osing-an melampaui batas-batas kaku sebuah identitas yang seringkali dimaknai secara membabi-buta menuju pemahaman yang lebih lentur di tengah-tengah ekonomi pasar berbasis keunikan kultural dan pengetahuan kreatif masyarakat.

Keterangan

Penelitian bersama: Ikwan Setiawan – Albert Tallapessy – Andang Subaharianto

*Tulisan ini disarikan dari sebagian kecil hasil penelitian fundamental berjudul “Politik Identitas Etnis Pasca Reformasi: Studi Kasus pada Masyarakat Tengger dan Osing” Tahun Pertama yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemenristek Dikti tahun 2015-2016.

 

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 160 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*