MBOK TEMU MISTI: IRONI SEORANG GANDRUNG DI TENGAH PESTA KARNAVAL

“Mak e mau diajak ke Jerman, Nang. Doakan ya, selamet.”
Ucapan itu disampaikan Mbok Temu, begitu biasa saya memanggilnya, secara tulus ketika saya dan seorang kawan bertamu di sebuah pagi di bulan Agustus 2015. Bukan untuk kepentingan penelitian, sekedar bersilaturahmi; sebuah kebiasaan yang beberapa tahun ini saya lakukan ketika dolan ke Banyuwangi. Ya, pergi ke luar negeri bukanlah hal yang baru buat Mbok Temu. Entah sudah berapa kali beliau melakoninya; sejak zaman Orde Baru sampai zaman Reformasi. Atas nama pengiriman duta kesenian atau apalah namanya, Mbok Temu dan banyak seniman gandrung dan musik sering melancong ke luar negeri.

Yang selalu membuat saya tersenyum setiap kali bertamu adalah Mbok Temu selalu penuh semangat ketika bertutur tentang kesenian gandrung; sebuah kesenian tari-musikal yang ia geluti sejak masa remaja. Entah, sudah berapa ratus kali ia menari dan nembang; tapi tidak terbersit rasa lelah. “Gandrung itu adalah hidup saya, tidur saya, dan mimpi saya”, katanya sambil tertawa lebar. Sebuah pengakuan eksistensial tentang kemenyatuan pikir dan batinnya terhadap kesenian yang masih dianggap oleh sebagian kaum santri sebagai maksiat ini.

Kecintaan itu pula yang mendorongnya mendirikan sebuah grup gandrung, Soponyono. “Siapa sangka Mak e bisa mendirikan grup gandrung. Itu maksunya Soponyono,” katanya menjelaskan maksud nama grup itu. Memang, secara informal ia sudah lama memiliki grup ganfrung, tetapi diformalkan dengan nama tersebut baru beberapa tahun ini. Bagi perempuan berusia sekira 64 tahun ini, memimpin sebuah grup gandrung bukanlah hal yang sulit karena beliau sudah berpengalaman puluhan tahun dari satu terob ke terob lain.

“Yang susah sekarang itu mencari calon penari gandrung terob. Kalau penari gandrung sanggar—penari yang belajar tari di sanggar untuk keperluan pentas festival atau kalau ada pagelaran yang disponsori aparatus negara, pen—jumlahnya ratusan. Tapi, yang mau jadi gadnrung terob, itu sangat sedikit”, ungkapnya sambil ngelus dada. Para budayawan boleh berkoar bahwa Banyuwangi tidak akan kehabisan stok penari gandrung. Kenyataan membuktikan, yang mau melayani para pemaju di terob memang tergolong langka. Pandangan negatif sebagian masyarakat terhadap gandrung adalah penyebab utamanya. Banyak orang tua yang tidak mengizinkan anak-anak perempuan mereka menjadi gandrung terob.

Apalagi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi menghentikan Pelatihan Gandrung Profesional yang diselenggarakan pada masa kepemimpinana Bupatai Samsul Hadi dan Ratna Ayu Lestari. Di masa kepemimpinan Abdullah Azwar Anas (AAA), kegiatan yang diharapkan bisa mencetak para penari terob tersebut dihentikan dengan alasan yang tidak jelas. Mbok Temu pernah mengusulkan agar Dinas memfasilitasi pelatihan dengan model nyantrik. Artinya, beliau akan melatih 2-5 anak di rumah sederhananya; dari gerakan tari sampai nembang. Namun, ide tersebut tidak bisa diterima oleh Dinas karena susah untuk membuat SPJ-nya. Toh, Mbok Temu tidak mau menyerah hanya gara-gara idenya ditolak. Beliau tetap melayani tanggapan dengan dibantu para panjak yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri, sembari terus berharap bahwa ia bisa mengajari anak-anak perempuan calon penerusnya.

Dalam gebyar Banyuwangi Festival dengan tagline The Sunrise of Java yang menampilkan banyak karnaval—dari Banyuwangi Ethno Carnival sampai dengan Festival Anak Yatim—apa yang dialami Mbok Temu adalah sebuah ironi. Berita-berita di media mainstream begitu luar biasa tentang geliat kebudayaan di ujung timur Jawa ini. Pemberitaan keberhasilan AAA menghadirkan banyak wisatawan—baik domestik maupun mancanegara—dengan menjual atraksi karnaval berbasis budaya Osing dan keindahan alam Banyuwangi, seperti air mengalir tiada hentinya. Namun, apakah semua keberhasilan itu mampu menyentuh permasalahan sebenarnya dari apa-apa yang dialami Mbok Temu dan seniman-seniman lainnya? Dengan tegas saya katakan tidak. Memang, Mbok Temu dan beberapa panjak diajak untuk mengisi Banyuwangi Beach Jazz Festival berkolaborasi dengan Saharani dan musisi jazz dari Jakarta, tetapi imbalan yang mereka peroleh sangat jauh dibandingkan dengan yang diterima para artis metropolitan itu.

Toh, lagi-lagi, Mbok Temu tidak mengeluh. Lagipula, apalah arti sebuah keluhan. Bahkan, ketika Mbok Temu harus menyewa gamelan setiap kali pentas, tidak ada bantuan sepeserpun dari birokrat kebudayaan di Banyuwangi. “Dulu Mak e memang punya, Nang. Tapi dijual karena butuh picis. Sekarang ya harus sewa”. Lalu, untuk apa semua karnaval dibuat? Untuk apa ada Gandrung Sewu ketika para pelaku gandrung sebenarnya harus bersusah payah untuk sekedar mencari makan? Mungkin benar omongan seorang kawan guru SMA di Banyuwangi, bahwa “karnaval-karnaval itu memang luar biasa beritanya di media, tetapi itu bukan untuk para pelaku sebenarnya dari budaya Banyuwangi. Tentu saja, untuk Pak Boss. Biar dia disanjung-sanjung sebagai pemimpin hebat, Mas. Biar proyek-proyek besarnya yang cenderung merusak lingkungan itu tidak dipertanyakan oleh masyarakat.” Hemm, bisa jadi benar apa yang diomongkan kawan tersebut.

Maka, sekali lagi, Mbok Temu dan banyak seniman rakyat lainnya adalah ironi dari pesta karnaval budaya yang mengagung-agungkan budaya Banyuwangi, tetapi tidak mampu menyentuh aspek pemberdayaan yang sesungguhnya.

Salam dari Brang Wetan

Share This:

About Ikwan Setiawan 162 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*